Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Haji Wada’

 

Gambar hanyalah ilustrasi, diambil dari Freepik

ketakketikmustopa.com,   Nothing Last Forever kalau diterjemahkan kurang lebihnya "Tidak Ada Yang Abadi" . Segala sesuatu yang ada di bumi ini tidak akan selamanya pasti akan mengalami sirna. Begitu juga kita sebagai manusia biasa pasti akan mengalami tiada dan berpisah. Perpisahan hendaklah meniadi sebuah pelajaran yang berharga bukan tangisan dan kesedihan.

Nabi Besar Muhammad SAW adalah Rasul terakhir sebagai penyempurna agama-agama samawi sebelumnya. Kanjeng Nabi adalah satu-satunya manusia yang diutus oleh Allah SWT dengan kesempurnaan akhlaknya. Pada saat Nabi telah menunjukan tanda-tanda perpisahan ketika beliau sedang melaksanakan Haji Wada’.

Kata "Wada" sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya perpisahan. Disebut demikian karena ibadah haji ini merupakan ibadah pertama sekaligus terakhir Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat. Peristiwa Haji Wada’ tidak saja menjadi momen bahagia umat Muslim karena dikenal sebagai simbol prestasi dakwah Rasulullah saw yang ditandai dengan animo masyarakat Arab untuk menjadi mualaf, tetapi juga sekaligus hari duka karena menjadi pertanda usia Nabi tidak lama lagi berdasarkan gelagat yang ditangkap sejumlah sahabat.

Yang ikut haji wada’ pada saat itu sekitar 90.000 jamaah haji, mereka sengaja datang ke kota Madinah karena Rasulullah mengumumkan  niatnya akan melaksanakan haji yang mabrur karena Rasulullah SAW mengumumkan niatnya untuk melakukan haji yang mabrur. (dikutip dari buku Dua Pedang Pembela Nabi SAW oleh Rizem Aizid).

Dalam perjalanan menuju ke Mekkah, tidak sedikit kaum muslim yang bergabung. Total jamaah haji yang mengikuti Haji Wada mencapai 114.000 orang. Disebutkan bahwa sebelum berangkat, Rasulullah mempercayakan pemerintahan kota Madinah kepada Abu Dujanah As-Sa'idi. Ada pula yang mengatakan kepada Siba' bin Urfujah Al-Ghifari.

Nabi memasuki kota Makkah pada hari Senin, 4 Dzulqa’dah tahun 10 H dengan menghabiskan perjalanan selama delapan hari. Waktu tempuh perjalanan yang lebih lama dari biasanya ini menggambarkan betapa Rasulullah menikmati proses ibadah tersebut. Mengingat ini adalah momen haji pertama sekaligus terakhir baginya sebagaimana dituturkan sebagian sejarawan. (Ibnul Atsir, Al-Kâmil fit Târîkh, 2010: juz 2, h. 170)

Momen Haji Wada’ ini juga menunjukkan animo manusia untuk memeluk agama Islam begitu besar. Syekh Mushtafa as-Siba’i dalam As-Sîrah an-Nabawiyah Durus wa ‘Ibar saja melaporkan sebanyak 114.00 umat Muslim dari Jazirah Arab dan sekitarnya turut serta menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Sementara Safyurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Raḫîqul Makhtûm melaporkan jumlah jamaah haji sebanyak 124.000 atau 140.000.

Di tengah lautan umat Muslim itulah kemudian Rasulullah menyampaikan pidato yang cukup mengharukan. Pesan-pesannya mengisyaratkan bahwa usia beliau tidak lama lagi. Berikut adalah potongan pembuka pesan yang beliau sampaikan saat itu,

Artinya, “Wahai sekalian manusia, dengarkanlah perkataanku! Aku belum tahun secara pasti, boleh jadi aku tidak akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini.”

Belum lagi setelah pidato selesai turun ayat Al-Qur’an yang semakin memperkuat bahwa tidak lama lagi Nabi akan tutup usia.

Artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Ayat ini menjelaskan bahwa ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah telah tuntas dan sudah sempurna. Dengan demikian misi risalah Nabi juga telah rampung. Artinya, tidak lama lagi Nabi akan tutup usia.

Setelah melakukan Haji Wada, kesehatan Nabi Muhammad berangsur-angsur menurun. Nabi Muhammad meninggal hanya beberapa bulan setelah Haji Wada, yakni pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau 8 Juni 632 Masehi.

 

Wallohu a’lam

Batal Berangkat Haji, Tapi Dapat Predikat Haji Mabrur (Bagian 2)

 


ketakketikmustopa.com,  Tidak ada satupun umat Islam yang berkeinginan berangkat haji ke Makah menunaikan rukun Islam ke-5 tiba-tiba batal atau tidak jadi  berangkat karena. Berkunjung ke Baitullah adalah cita-cita semua orang sekaligus ziarah ke makam Rasulullah mengerjakan napak tilas situs sejarah Islam lainnya.

Pada tulisan bagian ke-2 kali ini menceritakan kisah perjalanan ibadah haji sang Waliyullah Sunan Kalijaga tapi tiba-tiba mengurungkan diri atau membatalkan perjalanan ibadah haji karena dapat perintah dari Sunan Maulana Maghribi.

Secara kebetulan saat penuls sedang mengerjakan  tulisan  ini bersamaan pula dengan sedang diputar film “Sunan Kalijaga” di MNC TV. Dalam film itu Sunan Kalijaga atau Raden Mas Sahid putera sulung Tumenggung Wilarikta dibawah kerajaan Majapahit yang berkuasa di wilayah Tuban. Melihat di sekelilingnya rakyat kelaparan, perampokan di mana-mana. Ia merasa sangat perihatin tergugah untuk membantu dan menolong.

Sunan Kalijaga Batal Pergi Haji

Alkisah, suatu ketika Sunan Kalijaga sudah berada di Malaka atau Aceh sekarang. Ia berniat menjalankan ibadah haji. namun, seorang ulama sekaligus waliullah pada saat itu yaitu Maulana Maghribi meminta Sunan Kalijaga untuk kembali ke tanah Jawa. Maulana Maghribi bukan tanpa alasan kenapa ia melarang melanjutkan perjalanan haji dan memerintahkan kembali ke Jawa.

Karena kalau Sunan Kalijaga tetap terus melanjutkan perjalanan haji maka masyarakat penduduk Jawa dipastikan akan kembali ke agama semula, karena pada saat itu kerajaan Demak dalam kondisi masih transisi dari runtuhnya kerajaan Majapahit menyebabkan kekacauan dan kerusuhan di mana-mana. Lebih dari itu, Maulana Maghribi juga berkata kepada Sunan Kalijaga kalau Ka’bah yang asli itu ada di dalam hati diri sendiri. Sementara, Ka’bah yang ada di Makkah itu hanyalah ‘batu peninggalan Nabi Ibrahim.’ Dengan demikian, ibadah haji buka hanya sekedar perjalanan fisik ke Makkah. Akan tetapi, ibadah haji adalah ibadah metafisik-spiritual, setiap saat menghadirkan Allah di dalam hati.

seseorang akan sampai di Makah manakala mereka sanggup menjalani kematian dalam kehidupan atau yang disebut “Mati Sajeroning Urip” dan bisa membebaskan diri dari belenggu keduniawian dan belenggu hawa nafsu angkara mungkar. Sebagaimana ditulis “Suluk Wijil” dalam buku Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat.

Yang  melarang Sunan Kalijaga berangkat haji selain  Maulana Maghribi adalah Nabi Khidir AS ketika itu Sunan Kalijaga sudah berada di tengah laut menuju Makah, tiba-tiba Nabi Khidir As menghentikannya dan memberi nasihat agar tidak usah melanjutkan perjalanan haji. Segera saja Nabi Khidir as. memberikan nasihat kepada Sunan Kalijaga agar tidak usah melanjutkan perjalanannya ke Makkah jika tidak mengetahui apa yang akan dilaksanakannya selama tinggal di sana.

Kisah Sunan Kalijaga di atas memberikan banyak pengajaran bagi kita. Salah satunya adalah lebih memprioritaskan problematika umat. Sunan Kalijaga dilarang berhaji karena pada saat itu iman masyarakat Jawa –yang menjadi medan dakwah Sunan Kalijaga- masih rapuh.

Tampak ironi mana kala kita menyaksikan mereka yang memaksakan diri haji dan umrah berkali-kali sementara tetangga dan saudaranya masih dalam kelaparan dan  keterbelakangan ekonomi. Bukankah ada banyak cerita yang mengisahkan bahwa seseorang mendapat status haji mabrur meski tidak menjalankan ibadah haji di Makkah seperti dalam tulisan kemarin.

Wallohu a’lam

Batal Berangkat Haji tapi dapat Predikat Haji Mabrur (Bagian I)



ketakketikmustopa.com, Silang pendapat perbedaan hari raya berdasarkan sudut pandang masing-masing dan tentunya memiliki alasan-alasan dari kedua pendapat tersebut.  Ada sebuah  tulisan berjudul “Wukuf itu di Arafah bukan di Nusantara” yang di tulis oleh Nasrudin Joha. Kemudian dibantah oleh Dr. Tohirin, Lc, M. Ag. dengan tulisan berjudul “Islam Rahmatan Lil’alamin”. Dari sini, kadang menimbulkan perdebatan diantara umat akhirnya melupakan substansi dari makna haji itu sendiri, lebih-lebih haji yang mabrur.

Antrian panjang di saat tertunda dua tahun karena covid untuk bisa berangkat haji membuat penderitaan bagi yang tidak bisa berangkat haji. Dari sisi lain banyak warga masyarakat  dengan berbagai cara agar bisa berangkat tanpa antrian melalui Haji Plus dan Haji Furoda, tapi kenyataannya setelah di tanah suci banyak juga yang menggunakan visa bukan haji akhirnya di tangkap oleh Askar Arab Saudi.

Pada tulisan kali ini ingin mengangkat kisah seorang hamba ingin menunaikan ibadah haji tapi gagal berangkat karena melihat masih ada masyarakat yang kelaparan. Alkisah, seorang ulama besar bernama Abdullah bin Mubarak berbaring di pelataran Masjidil Haram. Ia baru saja melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci. Dalam hatinya ia berdoa dan berharap agar hajinya mabrur dan diterima oleh Allah SWT.

Tukang Sol Sepatu Batal Naik Haji

Karena kecapaian dia tertidur dan bermimpi bermimpi dua malaikat yang sedang dialog “Berapa banyak orang berhaji tahun ini?” tanya salah satu malaikat. “Ada 600.000,” jawab malaikat lainnya.

 

“Ada berapa yang hajinya diterima?”  tanya malaikat yang pertama. “Sama sekali tidak ada” jawab malaikat yang kedua. Seketika malaikat yang bertanya itu pun termenung. Membayangkan betapa sedihnya nasib jamaah haji tahun itu. Ibadah haji yang mereka lakukan dengan khusyknya, ternyata di mata Allah tak ada nilainya.

 

Setelah itu, malaikat kedua segera melanjutkan perkataannya, “Namun, ada seorang lelaki tukang sol sepatu di Damsyiq bernama Ali bin Al-Muwaffaq yang tidak berhaji, tetapi Allah menghitungnya sebagai haji mabrur. Dan bahkan karena dia, Allah memabrurkan haji 600.000 orang ini”.

 

Abdullah bin Mubarak kaget mendengar percakapan dua malaikat itu hingga terbangun dari tidurnya. Ia pun penasaran ingin bertemu dengan seorang tukang sol sepatu yang beruntung itu. Setelah menunaikan haji, ia pergi ke Damsyiq untuk mencari Al-Muwaffaq.

 

Setelah bertemu, ia menceritakan mimpinya dan bertanya tentang amalan yang dikerjakan Al-Muwaffaq. Kemudian, Al-Muwaffaq berkisah bahwa selama 30 tahun ia menabung dari hasil kerja sebagai tukang sol sepatu untuk berhaji.

 

Beberapa bulan menjelang musim haji tahun itu, ia pun berhasil mengumpukan uang 350 dirham. Ia yakin tahun itu akan genap terkumpul 400 dirham untuk berangkat haji. Namun, ia gagal berangkat haji karena di sekitar kampungnya ada seorang janda yang mempunyai beberapa anak yang kelaparan. Janda tersebut sangat fakir. Akibatnya, janda dan anak-anaknya sudah berhari-hari tidak makan terancam mati kelaparan.

 

Suatu ketika, sang janda tengah menyusuri jalan. Ia melihat bangkai keledai kaku terkapar di pinggiran. Kemudian ia pun mengambilnya dan memasaknya untuk keluarganya. Melihat hal tersebut, Al-Muwafaq merasa iba. Tanpa pikir panjang, ia segera berbalik arah menuju ke rumahnya. Ia ambil sekantong uang dirham yang tadinya ia rencanakan sebagai dana perjalanan ibadah hajinya.

 

Al-Muwafiq tidak peduli gagal berangkat haji. Baginya membatalkan berangkat haji demi menolong kehidupan si janda beserta anaknya lebih penting ketimbang impiannya untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima.

 

Al-Muwaffaq kembali ke rumah sang janda dan menginfakkan 350 dirham tabungannya untuk makan dan kesejahteraan janda itu beserta anak-anak yatimnya. Dia hanya berharap ridha dari Allah SWT.

 

Kisah ini menujukkan bahwa ridha Allah tidak hanya bisa didapat di Ka’bah. Tapi juga bisa di gubuk-gubuk orang miskin dan tangisan anak-anak yatim.

 

Ketika seseorang ingin bertemu Allah, seseorang bisa menemukan di hatinya. Dan Allah SWT itu ada di mana-mana. Allah SWT berfirman:: “Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat. Maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 115).

 

Ali bin Al-Muwaffaq yang gagal berangkat haji bisa jadi i’tibar untuk kita,  menyadarkan kita semakin sadar bahwa batalnya pemberangkatan haji menyimpan hikmah yang begitu besar. Kita bisa menolong orang-orang yang sangat membutuhkan, dia tidak peduli dengan gelar haji.

 

Wallohu a’lam

Meneladani Pengorbanan Keluarga Nabi Ibrahim AS

ketakketikmustopa.com., Nabi Ibrahim AS sebelum mendapat ujian dari Allah terlebih dahulu memantapkan ketauhidan dengan cara mencari Allah.  Beliau menyaksikan peredaran, bintang dan  bulan kemudian lenyap di siang hari, lalu menyaksikan matahari yang menyinari alam semesta kemudian lenyap di malam hari, berarti ini bukan Tuhan, karena bintang, bulan dan matahari ternyata memiliki keterbatasan

Diantara peristiwa penting Nabi Ibrahim lagi, beliau pernah meminta kepada Allah bagaimana menghidupkan orang yang telah mati, Allah menegur Nabi Ibrahim, apakah kamu belum meyakini dan percaya kepada Tuhanmu? Saya percaya tetapi hanya untuk ketentraman jiwa, lalu Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih empat ekor burung dagingnya dicampur dan diletakkan pada empat gunung lalu panggil maka keempat burung tersebut kembali.

Berikutnya adalah pengorbanan Nabi Ibrahim yang patut diteladani adalah, Pertama, dibakar dalam api. Karena tidak mendengar ajakan Nabi Ibrahim dan tetap menyembah patung, akhirnya Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung hanya menyisakan satu patung besar dengan kampak dilehernya. Beliau di sidang.

Ketika hakim bertanya, “Apakah engkau yang menghancurkan patung-patung Tuhan kami“?.

“Patung besar yang memakai kalung kampak besar itulah pelakunya“. Jawab Nabi Ibrahim.

“Coba Tanya saja pada patung yang besar itu siapa yang terlibat dalam penghancuran patung-patung kecil“. jawab Nabi Ibrahim lagi

Hakim tercengang dan berbisik-bisik, lalu berkata, ”Engkau tahu patung tidak dapat bicara kenapa harus saya bertanya padanya.

“Alangkah bodohnya kalian, telah tahu patung tidak dapat bicara apalagi menolong kalian, kenapa disembah dijadikan sebagai Tuhan! Kenapa kalian tidak menyembah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menguasai hari pembalasan.“ tegas Nabi Ibrahimlagi.

Hakim memutuskan Ibrahim dibakar hidup-hidup karena telah menghina Tuhan mereka. Diperintahkan penduduk untuk mengumpulkan kayu sehingga menumpuk seperti gunung lalu dilemparlah Ibrahim kedalam api yang menyala. Dengan izin Allah api berubah menjadi dingin dan tidak membakar tubuh Ibrahim. Hal ini diceritakan dalam Al-Quran surah Al-Anbiya:69)

 

“Kami berfirman, hai api menjadi dinginlah, dan selamatlah Ibrahim”. (Al-Quran surah Al-Anbiya:69)

 

Penduduk Babylon terkejut ketika melihat Nabi Ibrahim bangun hidup-hidup dari tumpukan bara api. Sebahagian mereka mulai percaya dengan agama yang dibawa Ibrahim bahkan putrid raja Namrud berteriak membenarkan agama yang dibawa Ibrahim. Karena tidak mendengar dakwah Ibrahim Raja Namrud dan penduduk Babylon diberi bencana oleh Allah dengan topan dan nyamuk.

Nabi Ibrahim AS Diuji meninggalkan keluarga di gurun pasir, ketika Ibrahim meninggalkan Ismail yang masih bayi dan Siti Hajar yang masih menyusui, istrinya bertanya,

“Apakah Tuan akan meninggalkan kami ditempat yang gersang dan tandus, tanpa bekal“? Ibrahim terus berjalan.

Siti Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah“?

“Ya” jawab Nabi Ibrahim.

“Kalau ini memang perintah Allah, maka Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami”. tanya Siti Hajar

Ibrahim berdoa kepada Allah, “(Rabbij’al hadza baladan aminan warzuqahlahu minatsamarati walardh”.

Ketika persediaan bekal makanan berkurang, Siti Hajar mulai gundah. Dia melihat padang pasir yang terik dibakar matahari seperti gelombang air lalu berlari, ternyata hanya fota morgana. Setelah tujuh kali pulang pergi berlari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Marwah. Sampai akhirnya ia mendengar seperti ada suara air mengalir di bawah kaki putranya Ismail.

Siti Hajar segera mendekati Ismail dan melihat ada air deras dan jernih yang keluar dari dalam tanah yang tandus. Ia segera membasahi tanah dengan sedikit air untuk dijadikan mangkuk atau wadah air.

Peristiwa berikutnya pada suatu malam Nabi Ibrahim bermimpi agar mengorbankan Ismail. Beliau ragu dengan mimpi tersebut apakah datang dari Allah ataupun bukan, malam berikutnya Beliau bermimpi lagi hingga Beliau yakin dan mantap bahwasanya benar mimpi itu dari Allah.

Di suatu hari Ibrahim mengajak putranya untuk bermain dan menceritakan mimpinya kepada putra tersayang sebagaimana disebut dalam Al-Quran.

“Manakalah usianya telah mampu berusaha dengan ayahnya Ibrahim mengatakan wahai Anakku, tadi malam ayah bermimpi bahwasanya Allah memerintahkan untuk menyembelih dirimu, ayah ingin tahu bagaimana pendapatmu. Ismail menjwab, “Wahai ayahku jika itu memang perintah Allah, maka tunaikanlah, insya Allah engkau akan melihat saya menjadi anak yang sabar”. Nabi Ibrahim sangat terharu dengan jawaban Ismail dan menjalankan perintah Allah dengan penuh kesabaran yang akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas. (Al-Qur’an surat al-Shaffat ayat 101)

Momentum Idul Adha adalah waktu yang tepat untuk merenung sejenak hendaknya kita semakin mendekatkan diri pada Allah SWT, karena sangat mungkin perjalanan hidup kita sudah semakin jauh bahkan mungkin berada dalam luuran dosa.

Tidak sedikit orang tua sekarang yang telah menjadikan anaknya sebagai korban ketidak sanggupan mereka dalam mendidik, sehingga anaknya terjerumus dalam Narkoba, pola pikir materialis dan perkembangan media sosial yang merusak

Meneladani pengorbanan Nabi Ibrah im ASyang telah mampu menjalankan perintah Allah dan membangun rumah tangga atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT

 

Wallohu a'lam

 

Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1445 Hijriah / 17 Juni 2024


Uzbekistan Negeri Para Ulama, Indonesia Juga Negara Para Ulama

 

Gambar hanyalah pemanis saja diambil dari IDN Times

ketakketikmustopa.com, Jelang pertandingan  semi pinal Piala Asia U-23 disambut antusias oleh masyarakat Indonesia di dalam negeri maupun di luar negeri. Di dalam negeri hampir di alun-alun pusat pemerintahan hingga di tingkat RT mengadakan nobar semi pinal demi membela tim Garuda kesayangan asuhan pelatih Shin Tae-yong asal Korea.

Stadion Abdullah bin Khalifa menjadi sejarah bagi tim Garuda Indonesia melawan tim Uzbekistan (29/4/2024). Uzbekistan U-23 memenangkan pertandingan semi pinal dengan skor 2 – 0.

Sebenarnya banyak kesempatan emas di awal pertandingan namun, Shen Yinhao memilih untuk mengecek video assistant referee (VAR) terkait kemungkinan penalti. Dia justru membatalkan tendangan bebas untuk Timnas Indonesia U-23 karena menganggap bersih tekel Khusanov kepada Witan.

Kesempatan berikutnya menit ke-61, Timnas Indonesia U-23 mencetak gol lewat Muhammad Ferarri. Namun, Shen Yinhao menganulirnya. Dia meninjau VAR dan menilai Ramadhan Sananta berada di posisi offside. Hingga akhirnya Tim Garuda Indonesia  kalah 2 – 0 dari Uzbekistan. Itulah permainan, kita tidak bisa memprediksi akan menang atau kalah karena sebagus apapun permainan keputusan ada di tangan wasit.

Uzbekistan Negeri Kaya Ulama

Dari pertandingan dua negara ini sebenarnya ada yang harus kita cermati bersama tidak semata-mata soal bola sebagai penguat Nasionalisme di masing-masing dua negara tersebut. Dua negara tersebut sama-sama mayoritas muslim juga dua negara yang melahirkan banyak tokoh ulama yang berkontribusi pada dunia Islam.

Dunia Islam berutang jasa kepada para Ulama yang lahir di tanah Uzbekistan. Lebih dari 50 ulama besar dalam berbagai bidang keilmuan lahir di kota-kota pusat peradaban Islam masa lalu, seperti Bukhara, Samarkhan, Tashkent, Tirmiz, Khiva, dan beberapa kota lainnya. Sebut saja Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, Imam ad-Darimi, Imam Al-Hakim yang terkenal dalam bidang Hadist. Ada pula az-Zamakhsyari, an-Nasafi yang mahsyur dalam bidang tafsir Alquran.

Berikut para ulama mashur dari negeri Uzbekistan

1. Imam Al-Bukhari (Ulama Ahli Hadis)

Imam Al-Bukhari dikenal sebagai ulama besar ahli Hadis yang sangat masyhur. Nama lengkapnya Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Ju'fi Al-Bukhari. Biasa dipanggil dengan sebutan Abu Abdillah. Nama Bukhari di belakang namanya dinisbahkan kepada kota kelahirannya yaitu Bukhara, salah satu provinsi di Uzbekistan.

2. Imam at-Tirmidzi (Ulama Ahli Hadis) 

Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa as-Sulami at-Tirmidzi atau lebih dikenal dengan Imam at-Tirmidzi. Imam ahli hadis ini lahir pada Tahun 209 Hijriyah di Kota Tirmidz (Termez) Uzbekistan dekat perbatasan dengan Afganistan.

3. Imam Bahauddin An-Naqsyabandi (Pendiri Tariqah Naqsyabandiyah)

Sayyid Bahauddin an-Naqsyabandi bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Husaini Al-Uwaisi Al-Bukhari. Beliau lebih dikenal panggilan Imam Bahauddin an-Naqsyabandi, pendiri tariqat Naqsyabandi yang merupakan salah satu tariqah cukup besar di kalangan Islam. Beliau merupakan sosok ualama keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husain.

4. Abu Manshur Al-Maturidi (Ulama Ahli Kalam)

Nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin Mahmud atau dijuluki Abu Manshur Al-Maturidi. Beliau dilahirkan di Desa Matrid di daerah Samarkand Uzbekistan sekitar Tahun 238 H. Beliau dikenal sebagai sebagai tokoh Aswaja paling berpengaruh di Asia Tengah. Sosok beliau disandingkan dengan Abul Hasan al-Asy'ari, tokoh besar manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah. Beliau juga dikenal sebagai Ulama ahli kalam. Abu Manshur al-Maturidi wafat pada Tahun 333 H (994 M) pada usia 100 tahun dan dimakamkan di daerah Samarkand.

5. Abu Laits As-Samarqandy (Ulama Ahli Fiqih)

Beliau dikenal ulama ahli fikih dan pakar hadis, penulis tafsir Bahrul Ulum atau tafsir al-Samarqandy. Nama lengkapnya Abu Laits Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim as-Samarqandi al-Balkhi atau yang lebih akrab disapa Abu Laits as-Samarqandy. Imam As-Samarkandi adalah ulama yang berkecimpung dalam Fiqih Hanafi. Salah satu kitabnya yang populer adalah "Tanbihul Ghafilin"

6. Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (Bapak Aljabar, Ahli Matematika)

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Seorang ilmuwan muslim ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Beliau lahir Tahun 780 di Khwarezmia (sekarang Khiva, Uzbekistan). Buku pertamanya, Al-Kitaab al Muhtasar fii Hisaab al jabr wa'l Muqabaala adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari persamaan linear dan persamaan kuadrat. Sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Aljabar.

7. Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern)

Sosok cendekiawan berikutnya adalah Ibnus Sina bernama lengkap Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina. Beliau lahir Tahun 980 M di Afsyahnah, dekat Bukhara, Uzbekistan.

Indonesia Juga Banyak melahirkan Ulama  Kelas Dunia

Di Indonesia melahirkan banyak ulama yang perannya tidak bisa dipandang sebelah mata.  Berikut 5 ulama Indonesia yang hingga kini nama dan karyanya dikenal dunia.

1. Syekh Nawawi al-Bantani

Nama lengkapnya adalah Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Lahir di Tanara, Serang, Banten pada 1813 dan wafat di Mekah pada 1897.

Hingga akhir hayatnya, Syekh Nawawi berhasil menulis ratusan judul kitab yang menjadi rujukan ulama-ulama di Jazirah Arab dan Asia Tenggara. Di Indonesia, karya-karya itu menjadi kurikulum wajib di pesantren dan madrasah. Seperti kitab al-Tafsir al-Munir li al-Mualim al-Tanzil al-Mufassiran wujuh mahasin al-Ta’wil musamma Murah Labid li Kasyafi Ma’na Qur’an Majid, Kasyifah al-Saja syarah Safinah al-Naja, Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, atau Nashaih al-‘Ibad.

2. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Nama lengkapnya adalah al Allamah asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin Abdul Lathif bin Abdurrahman. Ia lahir di Koto Tuo – Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Sumatera Barat pada 1860 dan wafat di Mekkah 1916.

Ia tercatat sejarah sebagai orang Indonesia yang dipercaya menjadi imam besar di Masjidil Haram, Mekkah.

Dari pikirannya, lahir ratusan karya. Beberapa judul yang sering dijadikan rujukan oleh ulama dunia ialah Hasyiyah an Nafahat ala Syarhil Waraqat lil Mahalli Al Jawahirun Naqiyyah fil Amalil Jaibiyyah, ad Da’il Masmu ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Maa Wujudil Ushul wal Furu, serta Raudhatul Hussab.

3. Syekh Muhammad Yasin al-Fadani

Syekh Yasin memiliki nama lengkap Abu al Faydl Alam al Din Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al Fadani. Ulama berdarah Padang, Sumatera Barat ini dilahirkan 17 Juni 1915 dan wafat di Mekkah pada 20 Juli 1990.

Sepanjang hidupnya, Syekh Yasin menulis 97 kitab. Yang paling dikenal berjudul Al-Fawaid al-Janiyyah. Buku ini menjadi materi silabus dalam mata kuliah ushul fiqih di Fakultas Syariah Al-Azhar Kairo, Mesir.

4. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir di Desa Lok Gabang Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada 17 Maret 1710. Ia wafat di Dalam Pagar, Martapura Timur, Banjar, pada pada usia 102, yakni 3 Oktober 1812.

Dari kecerdasannya, lahir banyak karya, salah satunya adalah kitab berjudul Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amriddin. Kitab tersebut dianggap banyak tokoh sebagai buku paling monumental. Kitab yang memuat penjelasan hukum fikih itu bahkan dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam.

5. Syekh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi

Syekh Sulaiman atau yang dikenal dengan Inyiak Canduang lahir di Candung, Sumatera Barat pada 1871 dan wafat pada 1 Agustus 1970. Ia menempuh pendidikan agama di Mekkah bersama KH Hasyim Asyari, Syekh Hasan Maksum, Syekh Khatib, Syekh Zain Simabur, dan lainnya.

Karya Syekh Sulaiman banyak menjadi sumber inspirasi bagi ulama di Asia Tenggara dan Jazirah Arab. Beberapa judul yang dikenal antara lain Dhiyaus Siraj fil Isra’ Walmi’raj, Tsamaratul Ihsan fi Wiladah Sayyidil Insan, Dawaul Qulub fi Qishshah Yusuf wa Ya’qub, Risalah al-Aqwal al-Wasithah fi Dzikri Warrabithah, al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Quran, serta al-Jawahirul Kalamiyyah. Syekh Sulaiman dianggap sebagai tokoh yang menyebarluaskan gagasan keterpaduan adat Minangkabau dan syariat lewat ungkapan Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

 

Wallohu a’lam

Tiga Nama Surat Dalam Al-Qur’an Diambil dari Tiga Nama Binatang Kecil

 

Gambar foto perpisahan KKM STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon di Desa Parakan Kecamata Leuwimunding, tampak hadir KH. Aminudin mengisi ceramah Nuzulul Qur'an

ketakketikmustopa.com, Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Biruni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon merupakan kegiatan lapangan bagi mahasiswa yang sudah semester akhir. Program ini mendorong empati dan simpati mahasiswa terhadap permasalahan masyarakat, juga dapat memberikan sumbangan bagi penyelesaian persoalan yang ada di masyarakat. Kegiatan KKM sendiriterbagi di beberapa desa Kabupaten Majalengka hingga ada yang di Kabupaten Brebes.

Hari Kamis kemarin (28/03/2024) kegiatan KKM yang di Desa Parakan Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka telah berakhir dan ditutup oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Bapak Dr. Zamaksari, M. Ag. Prosesi penutupan diakhiri dengan Pengajian Umum yang disampaikan oleh KH. Aminudin dari PondokPesantren Hidayatullah Rimbo Desa Leuwikujang Kecamatan Leuwimunding Majalengka.

Dalam isi ceramahnya Kyai Amin memaparkan sejarah Nuzulul Qur’an diturunkan dalam tiga tahap. Pertama, All-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh , yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S. al-Buruj (85) ayat 21–22, “Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam lauh al-mahfuzh”.Diisyaratkan pula oleh firman Allah surat al-Waqi`ah (56) ayat 77—80, “Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.”Tahap kedua, al-Qur’an diturunkan dari lauh al-mahfuzh itu ke bait al-izzah (tempat yang berada di langit dunia).

Tahap kedua, diisyaratkan Allah dalam surat al-Qadar [97] ayat 1, “sungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malan kemuliaan.”Juga diisyaratkan dalam Q.S. Surat ad-Dukhan [44] ayat 3, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”

Tahap ketiga, diturunkan secara berangsur-angsur yang diisyaratkan dalam Q.S. asy-Syu`ara’ [26] ayat 193–195, “……Dia dibawa turun oleh ar-ruh al-`amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas”. Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, tidak secara sekaligus melainkan turun sesuai dengan kebutuhan. Bahkan sering wahyu turun karena untuk menjawab pertanyaan para sahabat yang dilontarkan kepada Nabi atau untuk membenarkan tindakan Nabi saw.

Selanjutnya Kyai Amin menyampaikan bahwa nama-nama surat di dalam Al-Qur’an ada yang diambil dari nama-nama binatang seperti Surat Al-Baqoroh (artinya sapi), Surat Al-Fiil (artinya gajah). Namun ada juga surat-surat dalam Al-Qur’an yang diambil dari nama-nama binatang kecil seperti Surat Annahl (artinya tawon), Surat Al-‘Ankabut (artinya laba-laba) dan Surat Anaml (artinya semut.)

Ketiga surah tersebut secara harfiah mempunyai beberapa persamaan, yaitu sama-sama hewan spesies serangga, dan sama-sama bertubuh mungil. Namun sebenarnya, dari ketiga hewan tersebut mempunyai hikmah tersendiri, yang apabila dikorelasikan perilaku umat manusia sangatlah relevan.

Surah An-Naml (Semut)

Dimulai dari surah yang pertama an-Naml, yang berarti semut. Ada apa dengan semut? Apa yang istimewa dari semut sehingga Allah Swt. menjadikannya sebagai nama surah dalam al-Quran? Ternyata semut mempunyai hikmah yang sangat unik, jikakita amati seksama, karakter semut itu pada dasarnya adalah suka menghimpun makanan sedikit demi sedikit dan tanpa henti. Bahkan menurut suatu penelitian makanan tersebut dapat menjadi persediaan atau cadangan hingga bertahun-tahun, sedangkan faktanya mengatakan bahwa usia semut rata-rata tidak lebih dari 1 tahun. Bahkan, semut itu bisa mengangkat benda apapun yang sedemikian besarnya secara bersama-sama, dan seringkali berhasil. Padahal benda yang dibawanya pun kadangkala tidak berguna bagi kelangsungan hidupnya.

Dari semut kita dapat mengambil hikmah yang tersirat, yaitu sifat dasar semut yang ‘suka menghimpun’ jangan dijadikan pedoman hidup. Kalau kita korelasikan kepada umat manusia, bisa dicontohkan bahwa umat manusia tidak boleh menghimpun harta, benda dan segala macam materi yang bersifat duniawi.

Surah al-’Ankabut (Laba-laba)

Selanjutnya ada surah al-’Ankabut yang bermakna laba-laba. Tentunya kita semua pernah mendengar cerita bahwa dulu laba-laba pernah menyelamatkan Nabi Saw.` dari kejaran kaum kafir Quraisy dengan cara membuat sarang yang begitu banyak sehingga menutupi pintu masuk goa.

Sehingga dengan adanya kejadian tersebut maka sudah wajar bahwasanya Allah Swt. mengistimewakan laba-laba sebagai salah satu nama surah dalam al-Quran. Namun sebenarnya ada filosofi tersendiri tentang laba-laba yang perlu kita ketahui. Apa itu? Jadi laba-laba itu mempunyai sarang yang sangat rapuh. Sarang laba-laba bukanlah tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana akan binasa. Jangankan serangga yang lain jenis, jantannya pun setelah kawin akan disergap untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan sehingga dapat saling memusnahkan.

“Perumpamaan orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba”.( Q.S. al-Ankabut [29]: 41)

Namun, laba- laba bukan berarti hanya menghasilkan sesuatu yang negatif. Yang perlu diketahui laba-laba juga memiliki sisi positif yaitu mempunyai sumber dayanya sendiri. Hanya laba-labalah satu-satunya makhluk di dunia yang bisa mengeluarkan sesuatu dari dalam dirinya yang sangat bermanfaat bagi kehidupannya, sehingga untuk membuat rumah atau sarang ia tak membutuhkan benda lain dari yang ia punyai sendiri. Dari sini kita seharusnya bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga ini, kita harus bisa menemukan dan menggali potensi yang ada pada diri kita, sehingga dengan potensi itu kita akan bisa meraih kesuksesan tanpa harus bergantung pada orang lain.

Surah An-Nahl (Lebah)

Surat An-Nahl yang bermakna lebah. Lebah sebagaimana kita ketahui memiliki manfaat dari apapun tindakan yang dilakukannya. Perlu teman-teman ketahui bahwa Nabi Muhammad Saw.  ` mengibaratkan perilaku umat Islam yang paling ideal adalah dengan mencontoh filosofi lebah. Sebagaimana sabdanya,

“Perumpamaan seorang mukmin yang baik ialah seperti lebah. Ia tidak makan kecuali yang baik dan tidak memberi kecuali yang baik” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Lebah setidaknya memiliki tiga keistimewaan yang dapat menjadi analogi tentang karakter ideal manusia.

Pertama, lebah tak merusak ranting yang ia hinggapi, sekecil apa pun pohon tersebut. Hal ini memberi pelajaran manusia agar menghindari berlaku yang menimbulkan mudharat atau kerugian terhadap orang lain. Lebah memang datang untuk makan, tapi ia tak ingin merusak untuk kepentingannya pribadinya itu. Bahkan kerap kali lebah justru berjasa dalam proses penyerbukan sebuah bunga yang ia hinggapi.

Kedua, lebah makan sesuatu yang baik-baik, yakni saripati bunga. Sama halnya dengan seorang muslim yang diperintahkan untuk hanya memakan makanan yang halalan thayyiban.

Ketiga lebah hanya mengeluarkan sesuatu yang baik yaitu madu. Ini yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim sejati. Dengan memakan makanan yang halal, makasetiap perbuatan akan dihitung sebagai ibadah yang bernilai berkah. Wallâhu a’lam bis shawâb.

Ketiga lebah hanya mengeluarkan sesuatu yang baik yaitu madu. Ini yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim sejati. Dengan memakan makanan yang halal, makasetiap perbuatan akan dihitung sebagai ibadah yang bernilai berkah.

Wallohu a'lam

Dua Sayap Kehidupan

 

Gambar : ilustrasi burung sedang terbang

ketakketikmustopa.com, Manusia laksana burung yang memiliki dua sayap, jika kedua sayapnya sama kuatnya maka terbanglah burung itu ke langit yang tinggi. Tapi, jika salah satu sayapnya ada yang rapuh atau patah. Maka burung itu tidak akan bisa terbang tentunya.

Di dalam dunia Islam dikenal ada dua sayap kehidupan yang bisa menerbangkan seseorang sampai tinggi hingga akhirnya sampai pada Tuhannya. Kedua sayap itu yaitu sayap sabar dan sayap syukur. Sayap sabar terbentuk mana kala seseorang tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan berat seperti musibah, penyakit kronis, diputus cinta, kalah dalam pemilu dan lain-lain. Jika orang tersebut sabar dalam menjalani cobaan ini.  Maka orang tersebut mampu mengepakkan sayap-sayap mengangkat dirinya menuju Allah SWT.

Sayap yang kedua adalah syukur. Syukur bisa terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia pemberian nikmat dari Allah SWT. Seperti orang tersebut mendapatkan rezeki melimpah, naik jabatan, kesehatan prima, menang dalam pemilu dan lain-lain.

Sayap sabar dan sayap syukur sama-sama bisa mengangkat seseorang terbang ke langit hingga dekat dengan Allah SWT, tetapi pada umumnya hentakkan sayap sabar lebih kencang dibanding dengan sayap syukur.

Sayap sabar memiliki kekuatan ekstra yang bisa melejitkan seseorang. Energi ekstra itu tidak lain adalah rasa butuh yang sangat terhadap Allah SWT., penyerahan diri secara total kepada Allah SWT  (tawakal), dan olah bathin yang amat dalam (mujahadah).

Energi ekstra ini biasanya sulit terwujud di dalam diri orang yang berkecukupan. Bagaimana mungkin seseorang merasa butuh terhadap Allah sementara semua kebutuhan hidup serba berkecukupan. Bagaimana mungkin seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sementara ia terperangkap di dalam kilauan dunia. Bagaimana mungkin khusyuk beribadah sementara perutnya kekenyangan.

Rasa optimisme dan kebesaran jiwa seseorang di dalam menempuh perjalanan hidupnya karena yakin Allah Swt lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih (al-Rahman) lagi Penyayang (al-Rahim) ketimbang Tuhan Maha Keras (al-Syadid) lagi Pendendam (al-Muntaqim). Ia yakin Allah Swt lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pemberi Petunjuk (al-Hadi) ketimbang Tuhan Maha Menyesatkan (al-Mudhil). Sedangkan mujahadah ialah semangat orang untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan melakukan intensitas kontemplasi dan melakukan berbagai amalan suci lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling indah dan tepat untuk melakukan dua sikap ini. Orang yang meragukan diri, pesimistik, dan cemas (khauf) di dalam bulan Ramadhan seolah menuduh Allah  tidak Maha Pengasih, tidak Maha Penyayang, tidak Maha Pencinta, dan tidak Maha Pengampun. Sejatinya orang tersebut sedang patah sayapnya.

Seseorang dalam menghadapi kehidupan dunianya dengan melakukan halwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Rasulullah di Goa Hira ketika ia sedang hidup berkecukupan bersama isterinya Khadijah yang kaya, bangsawan dan serba berkecukupan.

Cara berhalwat dan bertahannus yang tepat di era sekarang ini tidak perlu pergi ke gunung atau bukit-bukit  mencari goa, cukup datangi dan makmurkanlah masjid, tadarrus Al-Qur’an, tafakkur dan berzikir. Niatkan bahwa mesjid ini adalah Goa Hira atau Goa Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Khidhir, melejit ke atas dan mendapatkan derajat kemulyaan.


Wallohu a’lam

Sujud Mengetuk Pintu Langit



ketakketikmustopa.com, Semua orang berharap dan berdo’a agar amalan-amalan di bulan Ramadlan bisa diterima oleh Allah SWT. Dengan sekuat hati dan sekuat tenaga do’a-do’a dipanjatkan siang dan malam.  Mengingat bulan puasa merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan penghambaan terhadap Tuhannya dengan cara taqorrub mendekatkan diri pada Allah SWT hingga melakukan muhasabah introspeksi sekaligus memohon ampunan.

Permohonan ampunan kepada Allah SWT biasanya dilakukan dengan pertaubatan tidak akan mengulanginya lagi, bertaubat sering dilakukan saat kita sholat dan di dalam sholat ada yang namanya sujud. Sujud bisa diyakini sebagai upaya kita mengetuk pintu langit, karena dalam bersujud hampir tidak ada hijab yang menghalangi komunikasi kita dengan Allah SWT.

Sujud merupakan kondisi yang paling dekat antara hamba dengan Allah. Posisi orang bersujud dengan tulus, ikhlas menempelkan wajahnya pada permukaan bumi di tempat yang paling terendah. Artinya, siapapun yang sedang bersujud sejatinya sedang menghancurkan kesombongan, logika dan akal pikirannya, dan sedang meninggikan kebenaran mutlak Rabbnya.

Mengapa Kita Harus Bersujud

Sayidina Ali mengingatkan kita bahwa filosofi dua sujud. Sujud pertama mengingatkan kita bahwa manusia memiliki asal-usul dari tanah. Dari tanah ia diciptakan dan tumbuhkan menjadi makhluk hidup yang diberi kepercayaan sebagai khalifah di bumi dengan segala aktivitasnya. Meski demikian, setiap manusia mempunyai ajal dan pada akhirnya juga ia kembali ke tanah, masuk ke liang lahat, dan kembali menjadi tanah.

Semua manusia, meskipun sudah kembali menjadi tanah, akan dibangkitkan kembali pada hari kebangkitan (yaum al-bi'ts) untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatan yang pernah dilakukan ketika berada "Di Antara Dua Sujud", yaitu di alam fana atau alam dunia ini. Kebangkitan dari sujud kedua disebut juga sujud terakhir karena tidak ada lagi sujud ketiga. Pada hari kebangkitan, "Bumi Sudah Digulung." Selanjutnya manusia akan hidup di dalam keabadian hari akhirat.

Dalam kitab Futuhat al-Makkiyyah, karya Ibn 'Arabi, diceritakan panjang lebar tentang makna spiritual sujud. Bagi Ibn 'Arabi, sujud adalah simbolisasi penghayatan kita terhadap asal-usul peciptaan kita berasal dari tanah. Dikatakan juga, berdiri dalam shalat adalah simbol alam syahadah, sujud adalah simbol puncak rahasia (Sir al-Asrar), dan rukuk dianggap simbol alam barzakh karena berada antara alam syahadah dan gaib mutlak.

Orang-orang yang sujud sesungguhnya orang yang diberi kesempatan Tuhan untuk mengikis kesombongan dan keangkuhan. Sehebat apa pun manusia akan kembali ke tanah. Ketika kembali menyatu dengan tanah, tidak bisa lagi dibedakan antara jenis tanah raja dan tanah budak, tanah laki-laki dan tanah perempuan, tanah orang yang kulit putih dan tanah kulit hitam.

Orang yang menghayati hakikat sujud ia akan merasakan sujudnya terlalu pendek. Tidak heran jika Sayidatina 'Aisyah RA pernah menggambarkan lama sujudnya Nabi di dalam shalat malamnya seperti panjangnya orang yang membaca surah al-Baqarah. Hal itu bisa dimaklumi karena jika dalam rukuknya saja bisa menyaksikan pemandangan 'Arasy, apalagi dalam sujud. Rukuk biasa disebut sebagai fana pendahuluan (Al-Fana' Al-Awwal), sedangkan sujud disebut fana utama (Al-Fana' Al-Kamil).

Mungkin dari sinilah mengapa Nabi mengingatkan sahabatnya membaca dan menghayati ayat: Fasabbih Bi ismi Rabbik Al-'Adhim (bertasbihlah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahabesar/QS al-Waqi'ah [56]:96), dan ketika sujud  memerintahkan untuk membaca dan menghayati  ayat: Sabbih ism Rabbik al-A'la (bertasbihlah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahatinggi/QS al-Haqqah [69]:52).

Dari ayat-ayat tersebut di atas maka bentuk bacaan dalam rukuk ialah: Subhana Rabbiy al-'Adhim wa bihamdih dan dalam sujud: Subhana Rabbiy al-A'la wa bihamdih. Jika kita mampu menghayati makna dan hakikat sujud sebagaimana digambarkan di atas, nisacaya shalat kita sudah menjadi "shalat langit", bukan lagi "shalat bumi", sebagaimana ilustrasi disampaikan Nabi: Ada dua umatku mengerjakan shalat. Sama-sama berdiri, rukuk, dan sujud, tetapi perbedaan kualitas shalatnya antara bumi dan langit.

Wallohu a’lam


Tradisi Bilal Dalam Sholat Tarawih di Nusantara

Gambar : ilustrasi jama'ah kaum muslimin di masjid Istiqlal

ketakketikmustopa.com, Ada kebiasaan tradisi unik di Nusantara dalam Sholat Trawih yaitu mendengar ucapan dari petugas yang menjadi Bilal. Kita mendengar suara dari petugas yang menjadi Bilal mengumandangkan lafal ajakan sholat Tarawih dan bacaan sholawat untuk 2 rakaat sholat Tarawih salam pertama, “Assholatu Sunnatattarawihi rok’ataini Jami’atan Rohimakumullah, Shollu ‘alannabi Muhammad...” selanjutnya dijawab oleh Jama’ah “Shollu ‘alaihi, shollu ‘alaihi, shollu ‘alaih...”. Untuk salam kedua, Bilal membacakan kembali kepada para Jama’ah akan keberadaan anugerah (fadilah), nikmat dari Allah SWT, “Fadlam Minallahi Ta’ala Wanni’mah” dan dijawab oleh Jama’ah “Shollu ‘alaihi, shollu ‘alaihi, shollu ‘alaih...”.

Selanjutnya untuk 2 rakaat Sholat Tarawih salam ke-3 Bilal mengucapkan “Al-Kholifatul Ula Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq ’Alaihis Salam, Shollu ‘Alannabi Muhammad...” dijawab oleh Jama’ah “Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaih...”.

Untuk 2 rakaat salam ke-5 Bilal mengucapkan “Al-Kholifatus Tsaniyah Sayyidina Umar bin Khattab ’alaihis salam, Shollu ‘Alannabi Muhammad...” dijawab oleh Jama’ah “Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaih...”. ,

Untuk 2 rokaat salam ke-7 Bilal mengucapkan “Al-Kholifatul Tsalitsah Sayyidina Utsman bin Affan ’Alaihis Salam, Shollu ‘Alannabi Muhammad...” dijawab oleh Jama’ah “Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaih...”

Dan untuk 2 rakaat salam ke-9 Bilal mengucapkan “Al-Kholifatul Rabi’ah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ’Alaihis Salam, Shollu ‘Alannabi Muhammad...” dijawab oleh Jama’ah “Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaihi, Shollu ‘Alaih...”.

Dilansir dari banyak sumber diantaranya nu.online, republika online dan lain-lain bahwa penyebutan Kholifatur Rosyidin oleh Bilal ini hanya di kalangan santri. Mengingat dakwah pada saat itu yaitu agar ajaran Syi’ah tidak masuk di kalangan kita. Ungkapan ini disampaikan oleh Ustaz Salim A Fillah, seorang da’i yang juga pegiat budaya Islam. Menurut dia, tradisi tersebut berasal dari para ulama Kesultanan Mataraman Yogyakarta yang melaksanakan Sholat Tarawih.

Para Ulama Kerajaan Mataram saat itu mengkreasi satu bacaan untuk menjaga masjid-masjidnya tidak dipengaruhi faham Syiah. Salah satu tokoh Syiah saat itu yang ikut berdakwah ke tanah Jawa adalah Syekh Siti Jenar. Nama Siti Jenar sendiri kalau diterjemahkan Siti berarti tanah dan Jenar berarti merah.  Siti Jenar  memiliki arti tanah merah alias Tanah Karbala.

Salah satu murid dari Syekh Siti Jenar  yang terkenal pada saat itu adalah Ki Ageng Pengging. Saat itu, dakwah mereka terbilang gencar. Ki Ageng Pengging bahkan tercatat sebagai tokoh yang memberontak kepada Kesultanan Demak.

Kerajaan Demak juga menganggap ajaran yang disampaikan oleh Syeh Siti Jenar dipandang sesat. Agar kesesatan itu tidak sampai meluas, maka Syeh Siti Jenar harus dihukum mati. Hukuman yang sama juga diterapkan pada para pengikut sang wali atau muridnya Ki Ageng Pengging, bila tidak segera bertobat.

Untuk melawan itu semua, para ulama dulu membentengi umat dengan bacaan-bacaan yang mengandung nama Khulafaurrasyidin. Jadi orang Syi’ah yang tadinya ikut tarawih disitu akhirnya  keluar tidak ikut Sholat Tarawih.


Wallohu a’lam

 

Abu Said Abu Khair Seorang Sufi Yang dilupakan

 


ketakketikmustopa.com, Di era sekarang ini sudah agak jarang orang mempelajari dan mendalami Ilmu Tasawuf dan Ilmu Sastera, alasannya kedua ilmu ini bisa mengakibatkan keterbelakangan dan kelambanan peradaban dan kemajuan manusia Padahal kalau kita mau berkaca pada sejarah bahwa Ilmu Tasawuf itu memiliki banyak manfaat, salah satunya dapat menjadi alat untuk menghadapi kehidupan ini.

Pada abad kedua hijriyah, Tasawuf hanya terkenal di Kufah dan Bashrah. Baru pada permulaan abad ketiga, Tasawuf mulai tumbuh dan berkembang secara luas ke kota-kota lain, bahkan hingga ke kota Baghdad. Pada masa itu, esensi Tasawuf terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Ilmu Jiwa, Ilmu Akhlak, dan Ilmu Metafisika atau ilmu tentang hal yang gaib.

Kalau kita mau ngintip sedikit saja lobang-lobang pemikiran dan ide-ide dasar para para sufi, pemikiran mereka justeru membuka cakrawala ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa ibarat tambang yang tidak lengkung oleh waktu. Kita hanya perlu menggalinya lebih dalam lagi syukur bisa mengelaborasikannya dengan situasi saat ini.

Sejak kecil Abu Said Abu Khair menyenangi karya sastera klasik. Dia menyatakan sebagaimana diungkapkan dalam kitab Asrorut Tauhid yang ditulis salah seorang cucunya bernama Mohammad Ibn Monavvar, sekitar 130 tahun setelah kematiannya, dimana disebutkan dia hafal 30.000 bait syair-syair era jahiliyah. Selain buku Asrorut Tauhid ada lagi buku tentang Abu Said Abu Khair yaitu buku “Ceshidan-e Tam-e Wakt” kira-kira kalau diterjemahkan menjadi “Menyesap Aroma Waktu“ karya Muhammad Ridlo Syafi’i Kadkani.

Buku karya  Ridlo Syafi’i Kadkani ini menceritakan bahwa waktu memiliki arti dan pemahaman personal bagi setiap orang begitu juga bagi perjalanan spiritual. Berbeda dengan para tokoh sufi lainnya Abu Said Abu Khair menjadi seorang sufi setelah mengalami titik  balik dan bertaubat karena masa mudanya yang kelam.

Abu Said justeru sebaliknya ia menempa diri dengan latihan spiritual yang sangat berat di masa belia dengan berkhalwat di tanah yang gersang selama 7 tahun, sehari-hari ia hanya makan seadanya. Bahkan ia bergelantungan dalam sumur gelap sambil mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali. Sampai-sampai banyak orang yang mengiranya gila karena makan rumput liar kering.

Abu Said Abu Khair mengalami titik balik normal setelah mendapatkan pencerahan, makan dan tidur seperti layaknya manusia biasa tidak lagi terlihat seperti sewaktu kehidupan sufi. Siatu hari sewaktu menikmati potongan semangka yang manis seorang bertanya.

“Syekh bagaimana rasa semangka ini dibandingkan dengan rumput liar yang anda makan di gurun?”.

Abu Said Abu Khair  menjawab:

“Tergantung bagaimana kamu memaknai waktu. Jika bisa menyesap aroma waktu dengan sebenarnya. Rumput liar akan lebih nikmat dari semangka ini”.

Dalam kisah yang lain ada seorang pemuda yang hendak berguru kepada Abu said Abu Khair, Ketika lelaki muda itu sampai di rumahnya, Syaikh Abul Khair kedapatan tengah mengaji. Tatkala Syaikh Abul Khair membaca Surat Al-Fatihah, Ada bacaan yang menurut pemuda  ini keliru dalam makhraj huruf. Sehingga ia menilai bahwa Syaikh tersebut kurang fasih dalam membaca ayat al-Qur’an. Sehingga muncullah keraguan dalam dirinya untuk berguru, sebab ia menilai bahwa bagaimana mungkin ia berguru kepada seseorang yang bacaan surat al-Fatihah-nya saja keliru.

Pemuda  itu pergi saja tanpa permisi. Namun, tidak begitu jauh setelah ia keluar dari pekarangan rumah Sang Syaikh, ia langsung dihadang  oleh seekor singa padang pasir yang besar dan buas. Karena disergap oleh rasa takut yang hebat, lelaki muda itu mundur beberapa langkah.

Akan tetapi rupanya di belakang juga sudah hadir seekor singa padang pasir lain yang menghalanginya. Sadar dirinya dalam bahaya yang akut dengan jalan pikiran yang sudah buntu akhirnya lelaki muda tersebut menjerit sekeras-kerasnya.

Sontak Abu Sa’id yang tengah mengaji mendengar teriakan tersebut langsung berlari keluar. Ia menatap kedua ekor singa padang pasir yang buas itu dan berkata pada keduanya:

“Wahai singa, bukankah sudah aku bilang pada kalian jangan pernah kalian mengganggu para tamuku?!.”

Mendengar kata-kata Abu Sa’id Abu Khair kedua singa yang semula terlihat buas itu lalu duduk bersimpuh di hadapan Sang Syaikh.

Sang Sufi Abu Sa’id Abu Khair lalu memberikan elusan-elusan pada telinga kedua singa itu dan menyuruhnya untuk pergi. Melihat kejadian yang demikian lelaki muda itu merasa begitu keheranan.

“Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar itu Syaikh?”, tanyanya.

“Anak muda, aku selama ini sibuk memperhatikan urusan hatiku. Bertahun-tahun aku berupaya menata hati sampai aku tidak sempat menaruh prasangka buruk kepada orang lain. Untuk kesibukan yang ku jalani dalam menaklukkan hati ini, Allah SWT telah menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Termasuk semua binatang buas yang ada di sini dan singa padang pasir yang buas tadi kau lihat, semua tunduk kepadaku,” jelas Abul Khair.

Lelaki muda itu hanya termangu dengan penuh rasa malu. Namun, di sisi yang lain ia begitu terkagum-kagum karomah yang diberikan Allah SWT kepada Syaikh Abu Sa’id.

“Engkau tahu kekuranganmu, wahai anak muda?” kata Abul Khair.

“Tidak wahai guru,” jawab lelaki muda itu.

“Selama ini engkau terlalu disibukan memperhatikan hal-hal yang lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu sendiri, karena itu engkau takut kepada seluruh alam semesta,” jelas Abu Sa’id. Lelaki muda itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia memantapkan hati untuk menjadi murid Syaikh Abul Khair.

Karomah Itu Melayani Sesama

Salah satu cerita populer yang dapat menjadi ajaran inspiratif Abu Said Abu Khair bagi kita adalah bagaimana ia memaknai kata “Karomah”. Suatu hari para muridnya sedang membincangkan para tokoh yang punya kekuatan supra natural.

“Si fulan bisa berjalan di atas air dan si fulan itu bahkan bisa terbang, ada juga yang bisa berada di dua tempat pada satu waktu” Abu Said Abu Khair lalu menjawab:

“Itu biasa. Katak saja bisa berjalan di atas air, lalat dan burung bisa terbang, dan setan bisa berada di hati setiap manusia dalam satu waktu” Kata Abu Said lagi:

“Orang yang memiliki karomah sejati adalah ia yang berkhidmat kepada sesama. Ia hadir dan membantu kaum papa di saat dibutuhkan”

Jadi, apakah ajaran tasawuf bertentangan dengan kondisi kemajuan sekarang ini? Ternyata ajaran-ajaran Tasawuf masih sangat relevan kalau diangkat kembali, tentu saja dengan metode dan tafsir yang lebih segar.dan semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah sufi di atas.


Wallohu a'lam