ketakketikmustopa.com, Setelah sukses buku novel dengan judul “Bidadari di Kampus Biru” kisah percintaan di Kampus Al-Biruni, kini kita hadir dengan buku novel baru berjudul “Sedia Aku Sebelum Hujan: Kisah romantic, religious, reflektif di Kampus STID Al-Biruni” buku ini memuat 35 episode.
Buku “Sedia Aku Sebelum Hujan” ini disusun sebagai novel romantis–reflektif, memadukan kisah cinta kampus, perjuangan akademik, jarak, kesetiaan, dan kedewasaan emosional. Alurnya bertahap dari pertemuan, konflik, hampir bubar, hingga pendewasaan cinta.
Berikut cuplikannya, jangan diskip ya…
Langit Babakan Ciwaringin sore itu menggantung kelabu. Angin berembus pelan melewati deretan pohon ketapang di halaman Kampus STID Al-Biruni. Dari lantai dua gedung perkuliahan, Helena Helwa—yang biasa dipanggil Helwa—berdiri memandangi awan yang semakin menebal.
Di tangannya ada buku catatan Tafsir Dakwah, tapi tak satu pun kalimat ia baca.
“Helwa!” suara Nisa memanggil dari belakang. “Kamu bengong lagi lihat langit. Nunggu siapa?”
Helwa tersenyum tipis. “Nunggu hujan.”
Nisa mengangkat alis. “Atau nunggu Andre?”
Helwa menoleh cepat. “Ih, kamu ini.”
Di lapangan kecil dekat parkiran motor, Andrea Fadli Sadama—Andre—sedang berbincang dengan sahabatnya, Rizky.
“Bro, kamu jadi berangkat ke Jakarta minggu depan?” tanya Rizky.
Andre mengangguk pelan. “Iya. Ada program magang dakwah digital tiga bulan.”
“Helwa tahu?”
Andre diam. Pandangannya naik ke balkon lantai dua. Sosok Helwa berdiri di sana, diterpa angin sore.
“Belum,” jawabnya lirih.
---
Helwa dan Andre bukan pasangan yang diumbar dengan foto dan status. Mereka tumbuh dalam percakapan-percakapan sunyi: di perpustakaan, di sela diskusi kelas, di bangku panjang dekat masjid kampus.
Semua bermula dari tugas presentasi bersama tentang komunikasi dakwah generasi milenial.
“Kamu terlalu serius,” kata Helwa waktu itu, sambil menutup laptop Andre.
“Kalau dakwah mau maju, harus serius,” balas Andre.
“Serius boleh, tapi jangan kaku,” Helwa tersenyum. “Dakwah itu menyentuh hati, bukan cuma logika.”
Andre menatapnya beberapa detik terlalu lama.
Sejak saat itu, percakapan mereka tak pernah benar-benar berhenti.
---
Sore ini, sebelum hujan turun, Andre akhirnya naik ke lantai dua.
“Helwa.”
Helwa menoleh. Ada sesuatu di mata Andre yang berbeda—lebih berat dari biasanya.
“Kamu mau ke mana minggu depan?” tanya Helwa, mencoba terdengar biasa.
Andre menarik napas panjang. “Jakarta.”
Helwa terdiam.
“Tiga bulan,” lanjut Andre. “Program magang. Kesempatan bagus.”
Angin bertiup lebih kencang. Langit semakin gelap.
“Kamu baru kasih tahu sekarang?” suara Helwa lembut, tapi jelas menyimpan getar.
“Aku takut kamu kecewa.”
Helwa tersenyum samar. “Kamu pikir aku nggak kuat?”
“Bukan begitu.”
“Hujan nggak bisa dicegah, Andre,” katanya pelan. “Kalau memang harus turun, ya turun saja.”
Andre mengernyit. “Maksud kamu?”
“Aku sudah sedia sebelum hujan.”
Rintik pertama jatuh, menimpa pagar balkon.
Andre menatapnya dalam. “Helwa, aku pergi bukan untuk menjauh. Aku pergi supaya bisa kembali dengan lebih layak.”
“Lebih layak?”
“Aku nggak mau cuma jadi mahasiswa biasa yang banyak wacana. Aku mau pulang dengan bekal. Biar kalau nanti…” Ia terdiam.
“Kalau nanti apa?” Helwa menantang dengan tatapan lembut.
“Kalau nanti aku melamarmu, aku sudah siap.”
Hujan turun lebih deras. Helwa menunduk, menyembunyikan senyum dan air mata yang hampir jatuh bersamaan.
“Kamu ini terlalu jauh berpikirnya,” katanya pelan.
“Aku serius.”
Helwa mengangkat wajahnya. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Andre. Aku cuma butuh kamu jujur dan pulang.”
Andre melangkah mendekat. “Kamu mau nunggu?”
Helwa terdiam beberapa detik. Lalu berkata, “Aku nggak menunggu dengan gelisah. Aku akan tetap belajar, tetap bertumbuh. Kalau kamu kembali, kita bertemu sebagai dua orang yang sama-sama kuat.”
“Dan kalau aku gagal?”
Helwa tersenyum, menatap hujan yang mengguyur halaman kampus. “Setidaknya kita pernah berjuang. Cinta yang baik nggak lahir dari ketakutan.”
---
Di sisi lain kampus, Nisa dan Rizky berteduh di bawah kanopi parkiran.
“Mereka ngobrol serius banget,” kata Nisa.
Rizky tertawa kecil. “Andre memang begitu kalau sudah soal Helwa.”
“Kamu sendiri gimana?” Nisa menatapnya usil.
Rizky terdiam, lalu menjawab pelan, “Aku juga lagi belajar sedia sebelum hujan.”
Nisa pura-pura tidak mengerti, tapi pipinya memerah.
---
Hujan perlahan mereda. Andre dan Helwa masih berdiri berdampingan.
“Jangan lupa kabari aku,” kata Helwa.
“Setiap hari.”
“Jangan janji berlebihan.”
Andre tersenyum. “Baik. Aku janji secukupnya.”
Helwa tertawa kecil. “Itu lebih realistis.”
Sebelum turun ke tangga, Andre berhenti. “Helwa.”
“Iya?”
“Terima kasih sudah nggak mempersulit.”
Helwa menggeleng. “Cinta bukan soal mempersulit. Cinta itu mempersiapkan.”
Andre menatapnya sekali lagi, lalu berjalan menuruni tangga. Helwa berdiri memandangnya sampai sosok itu menghilang di balik gerimis yang tersisa.
Langit mulai cerah di ufuk barat.
Helwa menarik napas panjang.
Ia sadar, kesetiaan bukan tentang menahan seseorang agar tetap di samping kita. Kesetiaan adalah keberanian untuk tetap percaya, bahkan ketika jarak dan waktu menjadi ujian.
Dan di Kampus STID Al-Biruni sore itu, sebelum hujan benar-benar pergi, Helwa tahu satu hal—Ia sudah sedia.







