Gugatan Rindu di Ruang Dakwah

 

ketakketikmustopa.com, Di lantai dua kampus , bangku baris kedua dekat jendela bukan hanya tempat diskusi strategi dakwah atau presentasi teori komunikasi Islam. Di sanalah Zaki dan Ghania pertama kali duduk berdampingan, berbagi buku, berbagi catatan… lalu tanpa sadar berbagi hati.

Awalnya hanya tugas kelompok.
Lalu obrolan tentang ayat-ayat perjuangan.
Lalu pesan singkat tengah malam membahas materi kuliah.
Lalu, entah sejak kapan, ada kalimat “jangan lupa makan” yang terasa lebih hangat dari sekadar perhatian biasa.

Pacaran itu tumbuh pelan. Tidak heboh. Tidak diumbar.
Tapi dalam.

Mereka saling menyebut satu sama lain sebagai “teman seperjuangan.” Namun di balik itu, ada janji-janji kecil yang mereka rajut sendiri.

“Ana ingin kita sama-sama lulus tepat waktu,” kata Ghania suatu sore, menatap langit Babakan Ciwaringin dari jendela ruang dakwah.

“Lalu?” tanya Zaki.

“Lalu kita perjuangkan restu.”

Zaki tersenyum. “Dan kalau restu itu sulit?”

Ghania menoleh, matanya bening.
“Kita bukan hanya belajar dakwah, Zaki. Kita juga belajar sabar.”

Hubungan mereka berjalan lama. Dua tahun lebih.
Mereka tumbuh bersama—melewati ujian, KKN, rapat organisasi, hingga malam-malam penuh cemburu yang kadang tak terucap.

Tapi cinta, bahkan yang tumbuh di kampus dakwah, tak selalu berjalan lurus.


Masalah datang bukan karena mereka tak saling mencintai. Justru karena mereka terlalu mencintai.

Zaki mulai sibuk dengan aktivitas luar kampus. Undangan ceramah kecil-kecilan membuatnya sering pergi. Ghania merasa ditinggal, tapi memilih diam.

Suatu malam di ruang dakwah yang sepi, Ghania berkata pelan:

“Zaki, menurut antum… apa cinta bisa mengganggu cita-cita?”

Zaki terdiam.
“Kenapa tanya begitu?”

“Karena akhir-akhir ini ana merasa… kita lebih sering memperjuangkan perasaan daripada masa depan.”

Kalimat itu seperti pisau halus—tidak melukai kulit, tapi menembus dada.

“Ana melakukan semua ini untuk masa depan kita,” jawab Zaki, suaranya mulai meninggi.

“Tapi ana merasa berjalan sendiri.”

Hening.

Ruang dakwah yang dulu menjadi tempat mereka tertawa kini terasa seperti ruang sidang. Cinta mereka seakan diadili oleh kenyataan.

“Abi sudah menjodohkan ana,” ucap Ghania akhirnya.

Dunia Zaki runtuh dalam satu kalimat.

“Apa…?”

“Beliau ingin ana menikah setelah lulus. Dengan pilihan keluarga.”

“Dan antum diam saja?”

“Ana sudah berusaha menjelaskan tentang kita.”

Tentang kita.

Dua kata yang dulu hangat, kini terdengar seperti perpisahan.

“Lalu keputusan antum?” tanya Zaki dengan suara serak.

Ghania menunduk.
“Cinta kita panjang, Zaki. Tapi restu orang tua lebih panjang lagi.”

Zaki tertawa kecil—tawa yang lebih mirip luka.
“Jadi dua tahun ini apa? Hanya latihan kehilangan?”

Air mata Ghania jatuh.
“Jangan buat ana merasa bersalah karena memilih berbakti.”

“Dan jangan buat ana merasa tak pernah diperjuangkan.”

Hujan turun di luar. Deras. Seperti emosi yang tak lagi bisa dibendung.


Hari-hari berikutnya menjadi asing.

Mereka masih bertemu di kampus. Masih duduk di ruang dakwah yang sama. Tapi jarak di antara mereka lebih jauh dari sebelumnya.

Tak ada lagi pesan “sudah makan?”
Tak ada lagi panggilan larut malam.
Yang tersisa hanya tatapan yang cepat dialihkan.

Suatu sore terakhir, Ghania datang ke ruang dakwah.

“Zaki,” panggilnya.

Ia berdiri, tapi tak lagi mendekat.

“Kalau suatu hari ana menikah… tolong jangan benci ana.”

Zaki tersenyum tipis.
“Benci itu untuk orang yang tak pernah berarti. Antum terlalu dalam untuk dibenci.”

Air mata kembali jatuh.

“Maafkan ana.”

“Untuk apa?”

“Untuk cinta yang tak bisa ana pertahankan.”

Zaki menghela napas panjang.
“Cinta kita bukan gagal, Ghania. Hanya… tidak selesai.”

“Lalu rindu ini mau kita apakan?”

Zaki menatap bangku baris kedua—tempat semua bermula.

“Biarkan ia menjadi gugatan di ruang dakwah ini. Gugatan bahwa kita pernah mencintai… tapi tak cukup kuat melawan takdir.”

Ghania menangis dalam diam.
“Ana selalu mencintai antum.”

“Dan ana selalu ingin menghalalkan antum.”

“Tapi?”

“Tapi tidak semua yang kita perjuangkan… ditakdirkan untuk kita miliki.”


Setelah hari itu, mereka benar-benar berpisah.

Ruang dakwah tetap berdiri.
Bangku-bangku tetap tersusun rapi.
Mahasiswa baru datang dan pergi.

Namun bagi Zaki, setiap sudut ruangan itu menyimpan kenangan: tawa, janji, cemburu, dan doa yang tak pernah sampai ke pelaminan.

Cinta mereka panjang.
Dalam.
Tulus.

Tapi kandas.

Bukan karena tak saling mencintai.
Melainkan karena cinta saja tidak cukup
ketika takdir berbicara lebih keras dari rencana manusia.

Dan di ruang dakwah itu, rindu tetap tinggal—
menjadi saksi bahwa mereka pernah saling memiliki,
meski akhirnya harus saling melepaskan.

Filosofi Tahun Gejrot: Dialog Hangat Keluarga Pak Budiman

 



ketakketikmustopa.com, Malam itu angin berhembus lembut di halaman rumah kecil Pak Budiman di pinggiran . Usai menunaikan sholat tarawih, keluarga kecil itu duduk santai di teras. Lampu temaram menggantung di atas pintu, sementara suara jangkrik bersahutan di kejauhan.

Pak Budiman menyeruput teh hangat.
“Alhamdulillah… malam Ramadhan begini paling enak kumpul keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba dari ujung gang terdengar suara khas yang memecah suasana.

“Taahu gejroooot… tahu gejrot…!”

Neng Euis Nurjanah yang sejak tadi bersandar di bahu ibunya langsung bangkit.
“Mah… itu tahu gejrot! Euis pengen…” katanya manja.

Ibu tersenyum. “Ya sudah, mumpung lagi lewat.”
Ia berdiri dan memanggil penjualnya. “Mang, ke sini! Pesan tiga, ya!”

Tak lama kemudian, tiga mangkuk kecil dari tanah liat tersaji di meja. Tanpa sendok. Hanya beberapa biting (tusuk kayu kecil) yang ditancapkan di potongan tahu.

Euis langsung menusuk sepotong tahu, mencelupkannya ke kuah cokelat kemerahan yang bercampur bawang merah dan cabai rawit.
“Am… pedes tapi enak!” serunya dengan mata berbinar.

Pak Budiman terkekeh. “Nah, itu dia khasnya .”

“Memangnya dari mana sih, Pak?” tanya Euis penasaran.

Pak Budiman meletakkan cangkirnya. “Tahu gejrot itu asalnya dari daerah Ciledug, Cirebon Timur. Dulu pedagangnya keliling kampung sambil pikul dagangan. Tahu pong digoreng dulu sampai kopong bagian tengahnya. Makanya disebut tahu pong.”

“Kenapa harus tahu pong, Pak?” tanya istrinya.

“Karena bagian dalamnya kosong,” jawab Pak Budiman. “Supaya kuahnya meresap. Kuahnya itu dibuat dari gula merah yang dilarutkan dengan air, ditambah cuka biar asam, bawang merah yang diiris tipis, cabai rawit yang diulek kasar, dan sedikit garam. Semua disiramkan begitu saja ke atas tahu. Bunyi siramannya ‘jrot… jrot…’ Makanya disebut gejrot.”

Euis manggut-manggut sambil tetap makan. “Pantes rasanya campur-campur…”

Pak Budiman tersenyum bijak. “Nah, di situlah filosofinya, Neng.”

“Filosofi?” Euis mengernyit.

“Iya,” lanjut Pak Budiman. “Hidup itu seperti tahu gejrot. Ada manisnya dari gula merah, itu seperti kebahagiaan. Ada asamnya dari cuka, itu seperti ujian. Ada pedasnya cabai, itu seperti kritik dan tantangan. Dan ada gurihnya bawang, itu seperti persahabatan dan kebersamaan.”

Istrinya mengangguk pelan. “Kalau cuma manis saja?”

“Bosan,” jawab Pak Budiman cepat. “Kalau cuma pedas?”

“Sakit perut,” sahut Euis spontan. Mereka semua tertawa.

“Makanya,” lanjut Pak Budiman, “hidup harus seimbang. Semua rasa ada porsinya. Dan lihat tahu pong itu—kosong di tengah. Manusia juga begitu. Hatinya harus kosong dari kesombongan supaya bisa diisi ilmu, iman, dan kebaikan.”

Euis terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Berarti kalau hati penuh marah-marah, kuah kebaikan nggak bisa masuk ya, Pak?”

Pak Budiman menatap putrinya bangga. “Betul sekali.”

Angin malam kembali berhembus. Di mangkuk tanah liat itu, kuah mulai menyusut, menyisakan potongan tahu terakhir.

Istrinya tersenyum hangat. “Ternyata dari jajanan sederhana, bisa belajar banyak ya.”

Pak Budiman mengangguk. “Itulah indahnya kearifan lokal. Kadang hikmah tidak datang dari tempat tinggi, tapi dari mangkuk kecil tanah liat yang kita pegang bersama.”

Euis menghabiskan potongan terakhirnya.
“Besok kalau ada lagi, pesan tiga mangkuk lagi ya, Mah.”

Pak Budiman tertawa kecil.
“Boleh. Tapi ingat… jangan cuma makan rasanya. Ambil juga maknanya.”

Malam Ramadhan pun terasa semakin hangat—oleh kebersamaan, oleh tawa, dan oleh seporsi tahu gejrot yang sederhana namun penuh filosofi.

Wallohu a'lam 

Filosofi Nasi Jamblang: Kisah dan Makna Kuliner Tradisional Cirebon

 

ketakketikmustopa.com, Senja mulai turun perlahan di langit . Semburat jingga memantul di ufuk barat, menyatu dengan angin sepoi-sepoi. Seusai mengajar di STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin, Pak Budiman merapikan buku-bukunya di ruang dosen. Hari itu cukup melelahkan, namun hatinya terasa ringan.

Sebelum pulang, ia mengirim pesan kepada istrinya.

"Bu, hari ini nggak usah masak ya. Kita buka puasa Nasi Jamblang saja di RM Bu Nur, di kota."

Tak lama, balasan masuk.

"Siap, Pak. Neng Euis pasti senang."

Pak Budiman tersenyum kecil. Ia tahu, bagi Neng Euis Nurjanah, berbuka di luar bersama ayah dan ibunya adalah momen istimewa.

Menjelang magrib, mereka tiba di RM Bu Nur. Tempat itu tampak sangat ramai. Pengunjung berdatangan silih berganti. Aroma nasi hangat bercampur wangi daun jati memenuhi ruangan. Di meja prasmanan, tumpukan nasi kecil yang dibungkus daun jati tersusun rapi, berdampingan dengan aneka lauk: sambal goreng yang merah menggoda, tahu dan tempe goreng keemasan, perkedel, paru, hingga cumi hitam khas Cirebon yang legendaris.

Neng Euis menggenggam tangan ibunya.
“Ibu, kok banyak banget orangnya?”

Bu Aisyah tersenyum lembut.
“Namanya juga mau buka puasa, Neng. Semua ingin yang enak dan berkah.”

Setelah memilih beberapa bungkus nasi dan lauk favorit, mereka akhirnya duduk. Beberapa nasi berbalut daun jati tergeletak rapi di atas meja kayu.

Pak Budiman membuka satu bungkus nasi perlahan. Uap hangat mengepul tipis. Ia menatap anaknya penuh kasih.

“Neng, tahu nggak kenapa nasinya dibungkus daun jati?”

Neng Euis menggeleng cepat.
“Nggak tahu, Bapak.”

Bu Aisyah ikut menimpali sambil tersenyum,
“Iya Pak, memang kenapa?”

Pak Budiman terkekeh kecil.
“Kalau nggak tahu, nih Bapak mau cerita sejarah Nasi Jamblang.”

“Dulu,” Pak Budiman memulai dengan suara pelan namun berwibawa, “Nasi Jamblang berasal dari daerah Jamblang, masih di wilayah Cirebon. Pada masa pembangunan jalan raya di zaman kolonial, masyarakat menyiapkan nasi untuk para pekerja. Supaya nasi tahan lama dan tidak cepat basi di tengah panasnya udara pesisir, mereka membungkusnya dengan daun jati.”

“Kenapa harus daun jati, Pak?” tanya Neng Euis penasaran.

“Karena daun jati itu lebar, kuat, dan memberi aroma alami yang khas. Selain itu, dulu belum ada plastik. Masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Itu namanya kearifan lokal.”

Bu Aisyah mengangguk-angguk.
“Berarti dari dulu orang Cirebon sudah cinta lingkungan ya, Pak?”

“Betul sekali,” jawab Pak Budiman. “Itulah salah satu filosofi Nasi Jamblang—kesederhanaan yang penuh makna.”

Ia lalu menunjuk lauk-lauk di atas meja.

“Lihat ini. Lauknya banyak pilihan. Ada tahu, tempe, sambal goreng, cumi hitam, dan lain-lain. Itu melambangkan keberagaman. Kita boleh berbeda selera, tapi tetap duduk dalam satu meja yang sama. Seperti masyarakat Cirebon yang beragam budaya—Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa—namun tetap hidup rukun.”

Neng Euis tersenyum lebar.
“Jadi Nasi Jamblang ngajarin kita supaya rukun ya, Pak?”

“Iya, Neng. Dan juga tentang kerja keras. Dulu nasi ini jadi bekal para pekerja jalan. Artinya, setiap perjuangan butuh tenaga dan semangat. Makanan ini menjadi saksi sejarah orang-orang kecil yang berkeringat membangun negeri.”

Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumah makan. Suaranya lembut menembus riuh percakapan pengunjung. Mereka bertiga menundukkan kepala, berdoa, lalu mulai menyantap hidangan.

Neng Euis berkata pelan sambil tersenyum,
“Ternyata Nasi Jamblang bukan cuma enak ya, Pak. Tapi juga punya cerita.”

Pak Budiman mengangguk penuh makna.
“Betul, Neng. Setiap makanan tradisional itu punya sejarah dan filosofi. Tinggal kita mau belajar atau tidak.”

Bu Aisyah memandang suami dan anaknya dengan mata berbinar.
“Alhamdulillah, buka puasa hari ini bukan cuma kenyang perut, tapi juga kenyang ilmu.”

Di tengah keramaian dan suara sendok beradu dengan piring, keluarga kecil itu menikmati Nasi Jamblang bukan sekadar sebagai santapan. Ia menjadi pelajaran hidup—tentang kesederhanaan, kebersamaan, kerja keras, dan cinta pada warisan budaya.

Senja di Cirebon pun terasa semakin syahdu, seolah ikut merestui kebersamaan sederhana yang sarat makna itu.

Wallohu a'lam 

Filosofi Kolang-Kaling: Hikmah di Meja Berbuka

 

ketakketikmustopa.com, Sore itu, suasana rumah terasa hangat. Angin berembus pelan dari jendela ruang makan. Di atas meja telah tersaji kolak pisang lengkap dengan kolang-kaling yang bening mengilap, serta segelas es campur berwarna merah muda.

“Alhamdulillah, tinggal menunggu adzan,” ujar Bu Aisyah sambil merapikan mangkuk.

Neng Euis Nurjanah memandangi kolang-kaling di hadapannya. “Ayah, kenapa ya setiap Ramadhan kolang-kaling selalu ada? Padahal di luar Ramadhan jarang sekali kita mencarinya.”

Pak Budiman tersenyum, menatap putrinya dengan lembut. “Nah, itu pertanyaan bagus, Neng. Kolang-kaling itu sederhana, tapi penuh filosofi.”

“Filosofi?” Neng Euis membulatkan mata.

“Iya,” lanjut Pak Budiman. “Kolang-kaling berasal dari pohon aren yang tinggi menjulang. Pohonnya kokoh, kuat akarnya, dan hampir semua bagiannya bermanfaat. Itu simbol manusia yang ideal—jiwanya kuat, beradab, dan mampu mengayomi yang lemah.”

Bu Aisyah mengangguk pelan. “Betul. Dari niranya bisa jadi gula, dari ijuknya bisa untuk atap, dan buahnya jadi kolang-kaling. Tidak ada yang sia-sia.”

Pak Budiman tersenyum. “Begitulah seharusnya hidup kita. Seperti pohon aren, tumbuh tinggi bukan untuk sombong, tapi untuk memberi manfaat.”

Neng Euis lalu mengambil satu butir kolang-kaling dengan sendoknya. “Kalau buahnya jadi biji yang kita makan ini, itu filosofinya apa, Ayah?”

Pak Budiman terkekeh kecil. “Wah, Neng makin kritis saja. Buah menghasilkan biji, biji memberi manfaat. Artinya, setiap usaha kita harus melahirkan dampak. Seorang pemimpin harus membawa kebaikan bagi bawahannya. Seorang pekerja harus memberi manfaat bagi lingkungannya. Hidup jangan berhenti pada diri sendiri.”

Bu Aisyah tersenyum, lalu berkata, “Dulu waktu Ibu remaja tahun 80-an, kata kolang-kaling sering dipakai dalam surat menyurat.”

“Serius, Bu?” Neng Euis tertawa kecil.

“Iya,” jawab Bu Aisyah sambil menirukan gaya remaja tempo dulu, “Kolang-kaling dalam gelas, yang dapat koling harap membalas.

Mereka bertiga tertawa bersama.

“Itu doa terselubung,” kata Pak Budiman sambil tersenyum. “Harapan agar kebaikan dibalas dengan kebaikan. Sama seperti hidup—kalau kita menebar manfaat, insyaAllah akan kembali kepada kita.”

Tak lama, suara adzan Maghrib mulai berkumandang dari masjid dekat rumah.

Pak Budiman mengambil satu butir kurma, lalu melirik kolang-kaling di mangkuk. “Lihat, Neng. Kurma dari tanah Arab, kolang-kaling dari tanah Nusantara. Keduanya bertemu di meja berbuka.”

“Berarti Islam itu menerima perbedaan ya, Bi?” tanya Neng Euis lembut.

“Betul sekali,” jawab Pak Budiman. “Islam memberi ruang bagi berbagai budaya dan karakter alam yang berbeda. Yang penting bukan asalnya, tapi manfaatnya.”

Ia kemudian menambahkan dengan suara yang lebih dalam, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.’ Hadis ini diriwayatkan oleh dan .”

Neng Euis terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Berarti kita harus jadi seperti kolang-kaling ya, Ayah? Sederhana, tapi dicari karena manfaatnya.”

Pak Budiman mengangguk penuh haru. “Persis, Neng. Tidak perlu selalu jadi yang paling mewah. Jadilah yang paling berguna.”

Bu Aisyah menatap keduanya dengan mata berbinar. “Semoga keluarga kita pun begitu—kokoh seperti pohon aren, manis seperti kolak, dan bermanfaat bagi banyak orang.”

Mereka pun berbuka bersama. Di antara manisnya kolang-kaling dan hangatnya kebersamaan, terselip doa agar hidup mereka, seperti pohon aren, selalu berbuah manfaat di setiap musim kehidupan.

Filosofi Empal Gentong: Melegendanya Empal Gentong H. Apud

 

ketakketikmustopa.com, Langit senja perlahan berubah warna. Jingga meredup menjadi ungu, dan angin sore membawa suasana Cirebon semakin ramai. Di rumah sederhana mereka, Pak Budiman baru saja sore itu menutup mushafnya ketika Euis Nurjanah duduk di sampingnya dengan wajah penuh harap.

“Pak…” suaranya lembut, sedikit ragu.
“Iya, Neng?”

“Boleh nggak… hari ini kita buka puasa di luar? Euis ingin sekali makan empal gentong di RM. Empal Gentong H. Apud.”

Pak Budiman tersenyum. Ia menatap putri semata wayangnya yang mulai beranjak dewasa itu. “Kenapa mendadak sekali?”

Euis menunduk sebentar. “Entahlah, Pak. Euis cuma ingin makan bersama Ayah dan Ibu di tempat yang ramai. Rasanya seperti ingin menyimpan kenangan… sebelum semuanya berubah.”

Ibu Aisyah yang mendengar dari dapur terdiam sesaat. Kata “berubah” terasa dalam. Anak perempuan mereka tak lagi kecil. Waktu berjalan begitu cepat.

“Baiklah,” jawab Pak Budiman akhirnya. “Kalau itu yang Euis inginkan, mari kita berangkat.”

Setibanya di depan RM. Empal Gentong H. Apud, mereka tertegun. Antrian panjang mengular hingga ke tepi jalan. Suara tawa, panggilan pelayan, dan denting sendok berpadu dengan aroma kuah santan yang mengepul dari gentong tanah liat besar.

“Masya Allah… penuh sekali,” gumam Ibu Aisyah.

Euis tersenyum bahagia. “Justru itu indahnya, Bu. Banyak orang ingin berbuka bersama. Seperti kita.”

Mereka ikut mengantre. Di kejauhan, tampak gentong-gentong besar berjejer di atas tungku kayu bakar. Api menyala stabil, asap tipis mengepul ke udara senja.

Pak Budiman menunjuk ke arah gentong itu. “Lihat, Neng. Empal gentong dimasak dalam wadah tanah liat. Api kayu membakarnya pelan-pelan. Dari situlah legenda itu lahir.”

“Legenda?” tanya Euis penasaran.

“Ya,” jawabnya. “Nama H. Apud menjadi besar bukan hanya karena rasa, tapi karena konsistensi. Sejak dulu tetap memakai gentong dan kayu bakar. Tidak tergoda mengganti cara demi kepraktisan. Di situlah nilai hidupnya—menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.”

Ibu Aisyah menambahkan pelan, “Dan lihatlah bumbunya. Kunyit memberi warna, jahe memberi hangat, ketumbar memberi aroma. Semua berbeda. Tapi jika salah satu hilang, rasanya tak utuh.”

“Seperti keluarga?” tanya Euis lirih.

Pak Budiman mengangguk. “Ayah mungkin tak pandai menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata. Ibumu menunjukkan cinta lewat perhatian. Dan kamu… kamu adalah tawa yang membuat rumah ini hidup.”

Mata Euis mulai berkaca-kaca. Akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk. Semangkuk empal gentong terhidang di hadapan mereka. Kuah kuning keemasan berkilau di bawah lampu. Potongan daging empuk terendam santan kental, taburan daun kucai dan bawang goreng menambah aroma menggoda.

Azan Maghrib berkumandang.

“Bismillah,” ucap mereka bersamaan.

Sendok pertama menyentuh bibir. Hangatnya kuah mengalir perlahan, menyusup hingga ke relung dada. Rasa gurih, rempah, dan lembutnya santan menyatu seperti harmoni yang tak dibuat-buat.

Euis memejamkan mata sejenak. “Pak… sekarang Euis mengerti kenapa ini melegenda.”

“Kenapa?” tanya Ibu Aisyah lembut.

“Karena di balik semangkuk empal gentong ini ada kesabaran, ada api yang tak pernah padam, ada tradisi yang dijaga. Sama seperti cinta Ayah dan Ibu yang mungkin tak selalu terlihat, tapi selalu ada.”

Pak Budiman tersenyum, menahan haru. “Legenda bukan soal terkenal, Neng. Legenda adalah tentang ketulusan yang bertahan lama.”

Di tengah riuh pelanggan yang terus berdatangan, keluarga kecil itu merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kenyang. Mereka merasakan hangatnya kebersamaan, yang tak bisa dibeli, tak bisa digantikan.

Empal Gentong H. Apud memang melegenda di Cirebon. Namun malam itu, yang benar-benar melegenda dalam hati mereka adalah momen sederhana—duduk bersama, berbagi kuah hangat, dan menyadari bahwa kebersamaan adalah rasa paling nikmat yang tak pernah basi oleh waktu.


Filosofi Ketoprak Dalam Kehidupan

 

ketakketikmustopa.com, Malam itu suasana Ciwaringin terasa hangat. Usai salat Tarawih, lampu-lampu rumah menyala lembut. Angin semilir membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan sore tadi.

Di ruang tengah, Neng Euis Nurjanah tiba-tiba bersuara manja.

Neng Euis:
“Pak… kok perut Euis laper lagi ya? Kayaknya pengen ketoprak deh…”

Pak Budiman yang baru saja melepas pecinya tersenyum.
“Ketoprak? Malam-malam begini?”

Euis mengangguk cepat.
“Iya Pak. Yang di perapatan itu loh… yang legend dari dulu. Yang bumbu kacangnya kental banget.”

Dari dapur, Bu Aisyah yang baru pulang tadarusan di mushola ikut menyahut.
“Kalau beli, sekalian ya Pak. Ibu juga mau… tapi jangan pedas.”

Pak Budiman tertawa kecil.
“Baiklah, baiklah. Satu pedas, satu nggak pedas, satu lagi standar ya.”

Tak lama kemudian, Pak Budiman sudah melangkah ke jalan perempatan kampung. Di sana memang ada penjual ketoprak legendaris yang sudah berjualan sejak beliau masih remaja. Gerobaknya sederhana, tapi pembelinya tak pernah sepi.

Satu jam kemudian, Pak Budiman pulang membawa tiga bungkus ketoprak yang masih hangat. Aroma kacang dan bawang putih langsung memenuhi ruangan.

Mereka duduk melingkar di lantai, membuka bungkus kertas cokelat itu perlahan.

Bu Aisyah:
“MasyaAllah… wanginya aja sudah bikin bahagia.”

Neng Euis (tersenyum lebar):
“Ini yang Euis maksud, Pak. Ketoprak begini tuh nggak ada tandingannya.”

Mereka pun mulai menyantapnya dengan lahap.

Di tengah suapan, Euis tiba-tiba bertanya.

Neng Euis:
“Pak, sebenarnya ketoprak itu asalnya dari mana sih?”

Pak Budiman mengusap tangan, lalu menjawab dengan nada santai namun penuh makna.

Pak Budiman:
“Ketoprak ini dikenal sebagai makanan khas Cirebon, Jawa Barat. Dulu konon ceritanya berasal dari orang yang lapar dan cuma punya ketupat sama tauge. Lalu dia bikin bumbu dari kacang, bawang putih, dan cabai. Dari keterbatasan itu lahirlah makanan yang sampai sekarang kita nikmati.”

Bu Aisyah:
“Berarti dari sederhana ya Pak?”

Pak Budiman:
“Nah, itu dia. Ketoprak ini mengajarkan kita bahwa hidup nggak harus mewah untuk jadi nikmat.”

Euis berhenti mengunyah sejenak.
“Memangnya ada falsafahnya juga, Pak?”

Pak Budiman tersenyum, matanya berbinar.

Pak Budiman:
“Banyak sekali, Neng. Coba lihat isi ketoprak ini. Ketupat, bihun, tauge, tahu goreng… semua beda-beda. Rasanya juga beda. Tapi ketika disiram bumbu kacang, semuanya menyatu jadi satu rasa yang harmonis.”

Neng Euis:
“Kayak keluarga ya, Pak?”

Pak Budiman mengangguk bangga.
“Betul. Dalam keluarga juga begitu. Ayah, ibu, anak—punya karakter berbeda. Tapi kalau disatukan dengan kasih sayang, jadinya harmonis.”

Bu Aisyah tersenyum lembut.
“Dan bumbu kacangnya itu mungkin ibarat sabar dan syukur.”

Pak Budiman tertawa kecil.
“Iya. Hidup juga begitu. Ada manisnya kecap, ada pedasnya cabai. Kalau cuma manis, hambar. Kalau cuma pedas, menyiksa. Harus seimbang.”

Euis terlihat merenung.
“Berarti dari makanan aja kita bisa belajar ya, Pak?”

“Justru dari hal sederhana kita sering lupa belajar,” jawab Pak Budiman pelan.
“Ketoprak lahir dari keterbatasan. Artinya, kalau hidup lagi susah, jangan menyerah. Siapa tahu justru dari situ Allah kasih kita ‘resep’ terbaik.”

Mereka kembali menyantap ketoprak dengan penuh kesadaran.

Tak terasa, bungkus kertas di depan mereka sudah kosong. Tinggal sisa olesan bumbu kacang yang menempel tipis.

Bu Aisyah:
“Eh, habis ya…”

Neng Euis (tertawa):
“Habis karena nikmat… dan penuh hikmah.”

Pak Budiman menatap anak dan istrinya dengan hangat.

“Malam ini kita belajar dari sepiring ketoprak. Bahwa hidup sederhana, diramu dengan syukur, dijalani dengan sabar, dan disatukan dengan kasih sayang… akan terasa nikmat, walau tanpa kemewahan.”

Di luar, angin malam berhembus pelan.
Di dalam rumah kecil itu, bukan hanya perut yang kenyang—tetapi hati pun ikut terisi.

Filosofi Martabak Dalam Kehidupan

 

ketakketikmustopa.com, Sore itu, Ramadhan menyelimuti Komplek Pesantren Babakan Ciwaringin. Ribuan santri hilir mudik selepas ngaji pasaran sore, berburu takjil di Gress (pasar tumpah dadakan) yang sudah menjadi tradisi bertahun-tahun. Suasananya riuh, penuh cahaya senja dan aroma masakan dan gorengan yang menggoda di mana-mana.

Setelah puas ngabuburit berburu takjil, Pak Budiman, Bu Aisyah, dan puteri mereka, Euis Nurjanah, pun pulang membawa beberapa hidangan berbuka. Kini mereka duduk di meja makan sederhana menunggu adzan Maghrib. Di hadapan mereka, martabak telur hangat mengepul, baru saja dipotong oleh Pak Budiman.

Neng Euis duduk khusyuk, memandangi martabak itu dengan mata berbinar. Bu Aisyah menatap hidangan di meja, lalu bertanya lembut kepada suaminya,

“Bapake… aku selalu penasaran. Kenapa ya martabak itu ada dua macam? Ada yang telur gurih, ada yang manis? Dan kenapa rasanya bisa seenak itu?”

Pak Budiman tersenyum. Matanya berbinar penuh semangat.
“Ah, iya bu… martabak itu bukan sekadar makanan. Ia punya filosofi hidup yang dalam.”

Neng Euis langsung mendongak. Ia tahu, kalau Ayah sudah mulai bicara begitu, pasti akan ada cerita menarik.

Pak Budiman mengambil sepotong martabak dan mengangkatnya perlahan.
“Coba lihat ini, Neng Euis. Awalnya, adonan martabak itu kecil-kecil, lembut, bahkan rapuh. Lalu ia ditekan-tekan, digilas, diulur, bahkan dilempar-lempar.”

Neng Euis membulatkan matanya.
“Dilempar-lempar, Yah?”

“Iya,” jawab Pak Budiman sambil tersenyum. “Seperti hidup kita. Kita sering ditekan oleh masalah, digilas oleh keadaan, bahkan terasa seperti dilempar oleh cobaan. Tapi semua itu bukan untuk menghancurkan.”

Bu Aisyah mengangguk pelan, menikmati penjelasan suaminya.

“Setelah itu,” lanjut Pak Budiman penuh semangat, “adonan yang sudah melebar tadi diberi isian—daging, sayuran, telur, kornet sapi. Hidup juga begitu. Dari yang awalnya sederhana, kita diisi pengalaman, tanggung jawab, ilmu, dan kasih sayang. Semua bercampur, membentuk rasa yang kaya.”

Neng Euis mengunyah pelan martabak di tangannya, sambil terus mendengarkan.

“Lalu martabak itu masuk ke wajan panas,” kata Pak Budiman lagi. “Minyak mendidih, api menyala. Panas itu meresap ke setiap sisi. Tanpa panas, adonan tidak akan matang. Tanpa ujian, manusia tidak akan menjadi dewasa.”

“Berarti cobaan itu seperti minyak panas, Yah?” tanya Neng Euis polos.

Pak Budiman tertawa kecil.
“Betul sekali, Neng. Memang terasa panas dan tidak nyaman. Tapi justru di situlah kita ditempa.”

Bu Aisyah tersenyum hangat. “Lalu bagaimana dengan adonan yang tadi ditekan dan dilempar-lempar?”

Pak Budiman menatap istri dan anaknya bergantian.
“Nah… ketika martabak sudah matang, siap dihidangkan, orang tidak lagi menyebutnya adonan. Ia sudah berubah menjadi martabak yang utuh, lezat, dan bermanfaat. Begitu pula manusia. Setelah melewati tekanan dan ujian, kita tidak lagi dikenal dari masa sulit kita. Kita dikenal dari hasilnya—dari kebaikan dan manfaat yang kita beri.”

Neng Euis menatap ayahnya dengan mata berbinar.
“Jadi… setiap cobaan itu supaya kita jadi ‘lezat’, ya Yah?”

Pak Budiman tersenyum lebar dan menepuk pundak kecil puterinya.
“Iya, Neng. Supaya kita matang, utuh, dan siap membahagiakan orang lain. Hidup itu seperti martabak—ada yang gurih, ada yang manis. Kadang terasa asin, kadang manis. Tapi semuanya menyatu menjadi rasa yang indah.”

Adzan Maghrib pun berkumandang. Mereka saling tersenyum sebelum menyantap hidangan.

Maghrib itu, di meja makan sederhana, martabak bukan hanya mengenyangkan perut. Ia menjadi pelajaran hidup—bahwa tekanan bisa menjadi kekuatan, bahwa panas bisa melahirkan kematangan, dan bahwa setiap ujian pada akhirnya akan mengubah adonan kehidupan menjadi sesuatu yang utuh, gurih, dan manis sekaligus. "Selamat Berbuka Puasa.."

Wallohu a'lam