Otak Kita dan Bulan Ramadhan

 


ketakketikmustopa.com, Bayangkan ternyata di dalam tubuh kita terdapat sebuah “superkomputer” yang luar biasa canggih—mampu mengingat, menganalisis, merancang, dan mencipta. Itulah otak kita. Ia bekerja tanpa henti, menyusun makna dari setiap pengalaman, membentuk keyakinan, bahkan memengaruhi perilaku dan keputusan hidup.

Dalam perspektif Islam, potensi ini bukan sekadar anugerah biologis, tetapi amanah spiritual. Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk berpikir (yatafakkarûn), memahami (ya‘qilûn), dan merenung (yatadabbarûn). Seruan ini menunjukkan bahwa aktivitas berpikir bukan hanya fungsi biologis, melainkan bagian dari ibadah.

Bulan Ramadhan hadir bukan sekadar untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan penjernihan akal. Puasa melatih pengendalian diri, memperkuat kesadaran, serta menata ulang orientasi hidup manusia.

1. Ramadhan dan Aktivasi Kesadaran Berpikir

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Dalam tafsirnya, Ibn Kathir menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan, yaitu kondisi kesadaran penuh yang membuat seseorang mampu mengendalikan diri dan menjauhi larangan Allah.1 Ketakwaan ini tidak mungkin terwujud tanpa fungsi akal yang jernih.

Sementara Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga anggota tubuh dan pikiran dari hal-hal yang melalaikan.2 Dengan kata lain, Ramadhan adalah latihan pengendalian sistem mental.

2. Puasa dan Penguatan Kontrol Diri

Dalam literatur tasawuf klasik, akal dipandang sebagai pemimpin dalam diri manusia. Ibn Qayyim al-Jawziyya dalam Madarij al-Salikin menjelaskan bahwa jiwa memiliki kecenderungan pada syahwat, sedangkan akal dan iman berfungsi sebagai pengendali.3

Puasa melemahkan dominasi syahwat dan menguatkan kendali akal. Secara psikologis modern, pengendalian diri (self-control) merupakan fungsi penting dari korteks prefrontal—bagian otak yang mengatur perencanaan, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls. Dalam konteks ini, ibadah puasa menjadi latihan intensif untuk memperkuat kontrol tersebut.

3. Ramadhan sebagai Reprogram Keyakinan

Akal manusia bekerja sesuai keyakinan yang tertanam. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan pentingnya berpikir reflektif terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya (QS. Ali ‘Imran: 190–191).

Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menekankan bahwa ayat-ayat tersebut menunjukkan kemuliaan akal sebagai sarana mengenal Allah.4

Ramadhan menyediakan ruang sunyi untuk muhasabah—mengevaluasi pola pikir, memperbaiki niat, dan menanamkan keyakinan yang lebih lurus. Jika selama ini otak dipenuhi kecemasan dan distraksi, maka Ramadhan adalah momentum untuk “mengatur ulang” orientasi hidup menuju kesadaran tauhid.

4. Tadabbur Al-Qur’an dan Pencerahan Intelektual

Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an (QS. al-Baqarah: 185). Aktivitas membaca dan mentadabburi Al-Qur’an bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga stimulasi intelektual.

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menyebut Al-Qur’an sebagai manhaj hidup yang membangkitkan kesadaran dan membentuk cara pandang manusia terhadap realitas.5

Sementara Muhammad Abduh menekankan bahwa Islam mendorong penggunaan akal secara maksimal dan menolak taklid buta.6

Dengan demikian, Ramadhan bukan bulan pasif, melainkan bulan produktivitas intelektual dan spiritual.

5. Istirahat, Qiyam, dan Keseimbangan Mental

Ibadah malam (qiyam al-layl) dan pengaturan pola makan saat sahur serta berbuka membentuk ritme baru dalam kehidupan. Ibn Sina dalam Al-Qanun fi al-Tibb menjelaskan pentingnya keseimbangan pola makan dan tidur bagi kesehatan fisik dan mental.7

Keseimbangan ini relevan dengan temuan ilmu modern bahwa kualitas tidur dan nutrisi memengaruhi fungsi kognitif dan emosi.

Otak kita adalah amanah. Ramadhan adalah madrasahnya. Jika selama sebelas bulan otak dipenuhi distraksi, Ramadhan hadir untuk membersihkan. Jika selama ini pikiran dikendalikan hawa nafsu, Ramadhan menguatkan akal dan iman.

Ramadhan bukan hanya latihan menahan lapar, tetapi proses aktivasi kesadaran, penguatan kontrol diri, dan penjernihan pikiran menuju ketakwaan.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Tafsir al-Qur'an al-Azim, karya Ibn Kathir.

2. Ihya' Ulum al-Din, karya Al-Ghazali.

3. Madarij al-Salikin, karya Ibn Qayyim al-Jawziyya.

4. Mafatih al-Ghayb, karya Fakhr al-Din al-Razi.

5. Fi Zhilal al-Qur'an, karya Sayyid Qutb.

6. Risalat al-Tawhid, karya Muhammad Abduh.

7. Al-Qanun fi al-Tibb, karya Ibn Sina.

Bilal Tarawih di Nusantara: Tradisi, Sejarah, dan Ikhtiar Menjaga Ibadah

 

ketakketikmustopa.com, Dalam pelaksanaan sholat Tarawih setiap datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam menjumpai ragam praktik yang berbeda-beda. Ada masjid yang melaksanakan Tarawih dengan langsung berdiri kembali setelah salam, tanpa jeda bacaan apa pun. Namun di banyak masjid—khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama—terdengar suara khas yang mengalun di sela-sela rakaat Tarawih. Suara itu menyerukan niat sholat Tarawih berikutnya dan diikuti dengan sholawat yang dijawab oleh jamaah.

Petugas yang menyerukan bacaan tersebut dikenal dengan sebutan Bilal Tarawih.

Bilal Tarawih adalah orang yang bertugas memandu jamaah sebelum memulai dua rakaat berikutnya, mengingatkan jumlah rakaat, serta menjaga keteraturan pelaksanaan sholat Tarawih yang panjang—sering kali mencapai dua puluh rakaat. Ia bukan imam dan bukan bagian dari rukun sholat, melainkan berfungsi sebagai pengingat dan penyeru.

Istilah “Bilal” secara simbolik merujuk pada sosok Bilal bin Rabah, muazin pertama Islam di masa Nabi Muhammad. Namun perlu ditegaskan bahwa praktik Bilal Tarawih tidak ditemukan pada masa Nabi ﷺ, juga tidak dikenal pada masa para sahabat ketika sholat Tarawih mulai dilembagakan secara berjamaah pada era Umar bin Khattab.1

Antara Bid‘ah dan Kemaslahatan

Sebagian kalangan menilai bahwa pelaksanaan Tarawih dengan Bilal merupakan bid‘ah, dengan alasan praktik tersebut tidak pernah dilakukan di masa Nabi ﷺ. Namun pandangan ini dijawab oleh banyak ulama dengan pendekatan fikih yang lebih kontekstual.

Buya Yahya, misalnya, menjelaskan bahwa Bilal Tarawih bukanlah tambahan dalam sholat, melainkan sarana untuk memudahkan jamaah dalam menjaga keteraturan dan penghitungan rakaat. Karena tidak diyakini sebagai bagian dari ibadah inti dan tidak mengubah rukun sholat, maka praktik ini tidak tergolong bid‘ah tercela.2

Dalam kaidah fikih disebutkan:

Al-wasā’il lahā aḥkām al-maqāṣid

“Sarana mengikuti hukum tujuan.”

Selama tujuannya adalah kemaslahatan dan ketertiban ibadah, maka sarana tersebut dibolehkan.

Bacaan Bilal dan Penyebutan Khulafaur Rasyidin

Dalam praktiknya di Nusantara, Bilal Tarawih sering menyerukan bacaan yang diikuti penyebutan nama empat sahabat utama Nabi ﷺ, yaitu:

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq

2. Umar bin Khattab

3. Utsman bin Affan

4. Ali bin Abi Thalib

Empat tokoh ini dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin, simbol kepemimpinan Islam yang lurus dan berpegang teguh pada ajaran Rasulullah.3

Akar Sejarah di Tanah Jawa

Menurut penjelasan Ustadz Salim A. Fillah—seorang dai dan pegiat budaya Islam Jawa—tradisi Bilal Tarawih di Nusantara memiliki akar sejarah di lingkungan ulama Keraton Mataram.4. Ketika Islam berkembang pesat di tanah Jawa, dakwah dilakukan dengan pendekatan kultural yang bijak, namun tetap menjaga akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dalam tradisi tutur yang berkembang di masyarakat Jawa, diceritakan bahwa pada masa awal Islamisasi Nusantara terdapat berbagai corak ajaran yang ikut masuk. Sebagian di antaranya tidak sepenuhnya sejalan dengan arus utama Sunni yang menaruh kecintaan besar kepada Khulafaur Rasyidin. Oleh karena itu, para ulama Mataram mengkreasi praktik Tarawih dengan menegaskan penyebutan nama empat sahabat tersebut sebagai bentuk peneguhan identitas Sunni.5

Dalam penuturan masyarakat Jawa, bahkan dikenal ungkapan bahwa bacaan Bilal Tarawih menjadi “penyaring kultural”, karena orang-orang yang tidak memiliki kecintaan kepada para sahabat Nabi ﷺ merasa tidak nyaman mendengarnya.

Antara Sejarah dan Tradisi Lisan

Dalam kisah-kisah tersebut sering pula disebut tokoh-tokoh seperti Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging. Namun perlu dicatat bahwa kisah mengenai tokoh-tokoh ini banyak bersumber dari babad, cerita tutur, dan simbolisme budaya Jawa. Para sejarawan sendiri berbeda pandangan mengenai detail ajaran dan peran historis mereka.6

Karena itu, penjelasan tentang Bilal Tarawih sebagai benteng dari pengaruh ajaran tertentu lebih tepat dipahami sebagai memori budaya dan konstruksi sosial-keagamaan, bukan sepenuhnya fakta sejarah yang terdokumentasi secara akademik.

Bilal Tarawih adalah cermin dari cara ulama Nusantara merawat ibadah dengan kearifan lokal. Ia bukan sunnah Nabi, bukan kewajiban, dan bukan bagian dari rukun sholat. Namun ia menjadi sarana yang membantu jamaah menjaga keteraturan, menumbuhkan sholawat, dan memperkuat kecintaan kepada para sahabat Rasulullah ﷺ.

Di sinilah Islam Nusantara menunjukkan wajahnya: berpegang pada prinsip syariat, namun bijak dalam tradisi.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṣalāt al-Tarāwīḥ; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn.

2. Penjelasan Buya Yahya dalam berbagai ceramah fikih Ramadhan tentang bid‘ah dan wasilah ibadah.

3. Al-Nawawi, Al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadzdzab, Beirut: Dār al-Fikr.

4. Ustadz Salim A. Fillah, ceramah “Asal-Usul Bilal Tarawih”, kanal YouTube Berbagi Manfaat untuk Sesama.

5. Ricklefs, M.C., Islamisation and Its Opponents in Java, Singapore: NUS Press.

6. Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, Jakarta: Pustaka IIMaN.

Penentuan Tanggal 1 Ramadhan: Antara Hisab dan Rukyat dalam Perspektif Islam

 

ketakketikmusopa.com, Buku ini membahas penetapan tanggal 1 di setiap kali bulan suci Ramadhan tiba, umat Islam di berbagai belahan dunia menyambutnya dengan suka cita. Namun di Indonesia, momentum sakral ini hampir selalu diiringi oleh perbincangan klasik: kapan tepatnya tanggal 1 Ramadhan dimulai? Tidak jarang terjadi perbedaan hari antara sebagian kelompok umat Islam. Fenomena ini bukanlah persoalan baru, melainkan bagian dari dinamika ijtihad dalam tradisi keilmuan Islam yang telah berlangsung berabad-abad.

Kalender Hijriyah dan Basis Pergerakan Bulan

Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calendar), kalender Islam atau kalender Hijriyah berbasis pada peredaran bulan mengelilingi bumi (lunar calendar). Satu bulan dalam kalender Hijriyah dimulai sejak munculnya hilal (bulan sabit pertama) setelah terjadinya ijtimak (konjungsi), yaitu saat matahari dan bulan berada pada satu garis bujur ekliptika yang sama.[1]

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup mendung atas kalian, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari."[2]

Hadis inilah yang menjadi landasan utama metode penentuan awal Ramadhan. Namun, bagaimana memahami kata “melihat” (ru’yah) itulah yang kemudian melahirkan perbedaan pendekatan.

---

Metode Hisab: Pendekatan Astronomis Presisi

Salah satu metode yang digunakan dalam menentukan awal Ramadhan adalah hisab, yakni perhitungan astronomi untuk mengetahui posisi bulan secara matematis. Di Indonesia, metode ini digunakan oleh Muhammadiyah.

Muhammadiyah menggunakan prinsip wujudul hilal. Prinsip ini menetapkan bahwa bulan baru telah masuk apabila:

1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi),

2. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam,

3. Pada saat matahari terbenam, posisi bulan berada di atas ufuk (meskipun hanya beberapa menit busur).

Dalam pendekatan ini, selama hilal secara astronomis sudah “wujud” (eksis) di atas ufuk, maka bulan baru telah dimulai, walaupun secara kasat mata belum tentu terlihat.[3]

Metode ini didukung oleh perkembangan astronomi modern yang mampu menghitung posisi bulan dengan tingkat akurasi sangat tinggi. Secara ilmiah, keberadaan bulan dapat diprediksi hingga detik dan detil koordinatnya. Karena itu, keputusan dapat ditetapkan jauh hari sebelumnya melalui kalender hisab.

Pendekatan ini sering disederhanakan sebagai “menggunakan kalkulator”, tetapi sejatinya ia merupakan penerapan sains astronomi yang canggih dalam kerangka fikih.

Metode Rukyah: Observasi Empiris Hilal

Metode kedua adalah rukyah, yaitu pengamatan langsung hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan. Di Indonesia, metode ini dipakai oleh Nahdlatul Ulama dan juga oleh pemerintah melalui Kementerian Agama.

Rukyah dilakukan dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu optik seperti teleskop. Namun dalam praktik modern, rukyah juga dikombinasikan dengan hisab sebagai panduan lokasi dan waktu pengamatan.

Pemerintah Indonesia menggunakan kriteria imkanur rukyah (kemungkinan terlihatnya hilal). Saat ini, kriteria yang dipakai merujuk pada kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.[4]

Apabila hilal tidak terlihat karena tertutup mendung atau secara astronomis belum memenuhi kriteria, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sebagaimana perintah hadis Nabi.[2]

Metode ini sering disederhanakan sebagai “menggunakan teleskop”, tetapi sesungguhnya ia berakar kuat pada tradisi tekstual dan praktik generasi awal Islam yang menekankan observasi langsung.

Akar Perbedaan: Teks, Sains, dan Ijtihad

Perbedaan antara hisab dan rukyah bukanlah pertentangan antara agama dan sains. Keduanya sama-sama berangkat dari dalil syar’i dan menggunakan perangkat ilmu yang sah.

Sebagian ulama memahami perintah “melihat” dalam hadis secara tekstual (hakiki), sehingga rukyah fisik menjadi syarat utama. Sebagian lainnya memahami bahwa tujuan hadis adalah memastikan masuknya bulan baru secara yakin; maka jika kepastian itu bisa diperoleh melalui perhitungan astronomi yang akurat, hisab dapat diterima.[5]

Dalam sejarah Islam klasik, diskusi mengenai hisab dan rukyah sudah terjadi sejak masa para fuqaha awal. Bahkan ilmuwan Muslim seperti Al-Biruni dan Ibnu Yunus telah mengembangkan astronomi yang sangat maju untuk kepentingan ibadah, termasuk penentuan waktu dan kalender.[6]

Dengan demikian, perbedaan ini adalah perbedaan metodologis dalam wilayah ijtihad (ijtihadiyah), bukan perbedaan dalam akidah.

Peran Pemerintah dan Sidang Isbat

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama mengadakan Sidang Isbat setiap menjelang Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Sidang ini mempertimbangkan data hisab dan laporan rukyah dari berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia.

Keputusan pemerintah dimaksudkan sebagai bentuk otoritas administratif demi menjaga keteraturan sosial. Namun secara fikih, organisasi kemasyarakatan tetap memiliki hak ijtihad masing-masing sesuai manhaj yang dianut.

Perbedaan sebagai Rahmat dan Kekayaan Intelektual

Sering kali perbedaan awal Ramadhan dipersepsikan sebagai perpecahan. Padahal dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan ijtihad adalah sesuatu yang wajar. Para ulama memiliki kaidah:

“Ikhtilaf dalam perkara ijtihadiyah tidak boleh menjadi sebab perpecahan.”

Perbedaan antara hisab dan rukyah pada hakikatnya bukanlah pertentangan antara “kalkulator” dan “teleskop”. Keduanya adalah instrumen ilmiah yang sah dalam tradisi Islam. Hisab berbasis pada kepastian matematis-astronomis; rukyah berbasis pada verifikasi empiris sesuai teks hadis.

Keduanya keren dan top dalam kerangka keilmuan masing-masing.

Yang paling penting adalah menjaga adab dalam perbedaan. Karena perbedaan dalam wilayah ijtihad merupakan rahmat—ia menunjukkan bahwa Islam memiliki keluasan metodologis dan kelenturan dalam menghadapi perkembangan zaman.

Ramadhan sejatinya bukan tentang perdebatan hari pertama, melainkan tentang bagaimana hati disiapkan untuk takwa. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Maka, apakah memulai puasa pada hari yang sama atau berbeda, yang lebih utama adalah menjaga ukhuwah, saling menghormati pilihan ijtihad, dan menjadikan Ramadhan sebagai momentum peningkatan kualitas iman dan peradaban.


Wallohu a'lam 

Footnote:

[1] Susiknan Azhari, Ilmu Falak: Teori dan Praktik, Yogyakarta: Lazuardi, 2001.

[2] HR. al-Bukhari dan Muslim tentang rukyat al-hilal.

[3] Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Pedoman Hisab Muhammadiyah.

[4] Kriteria MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapore) tentang imkanur rukyah, revisi 2021.

[5] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr.

[6] David A. King, Islamic Astronomy and Mathematical Geography, London: Variorum.

Ibnu Firnas: Pelopor Penerbangan dan Simbol Kebangkitan Sains Islam

ketakketikmustopa.com,  Buku ini ditulis  terinspirasi dari pembangunan masjid ITB Kampus Cirebon Jl. Kebonturi Arjawinangun Cirebon, pembangunannya selesai dan diresmikan tahun 2025 lalu dan diberi nama Masjid Ibnu Firnas.

Siapa Ibnu Firnas? Dalam khazanah sejarah peradaban Islam, nama Ibnu Firnas menempati posisi istimewa sebagai simbol keberanian ilmiah dan kreativitas intelektual. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan representasi dari satu fase emas peradaban Islam ketika iman, akal, dan eksperimen berjalan seiring dalam membangun ilmu pengetahuan.¹

Andalusia: Rahim Kejayaan Ilmu Pengetahuan

Ibnu Firnas hidup pada abad ke-9 M di Andalusia, wilayah Islam di Semenanjung Iberia yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah di Cordoba, kota-kota Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dengan perpustakaan besar, institusi pendidikan, dan tradisi intelektual yang maju.²

Ia lahir sekitar tahun 810 M di Ronda (Takurunna) dan kemudian menetap di Cordoba. Lingkungan sosial dan intelektual Andalusia membentuk Ibnu Firnas sebagai ilmuwan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga berani melakukan eksperimen. Dalam tradisi Islam klasik, ilmu dipahami sebagai bagian dari ibadah, sementara alam dipandang sebagai ayat-ayat kauniyah yang harus diteliti dan direnungkan.³

Ilmuwan Multidisipliner dalam Tradisi Islam

Ibnu Firnas dikenal sebagai ilmuwan multidisipliner. Ia menguasai astronomi, fisika, teknik, musik, dan sastra. Di istana Cordoba, ia dihormati sebagai cendekiawan sekaligus inovator. Karakter ini mencerminkan tipikal ilmuwan Muslim klasik yang tidak memisahkan antara ilmu eksakta, seni, dan spiritualitas.⁴

Baginya, ilmu tidak cukup berhenti pada teks dan diskusi, tetapi harus diuji melalui praktik dan pengamatan langsung. Pendekatan ini menunjukkan bahwa metode empiris telah dikenal dan dipraktikkan dalam peradaban Islam jauh sebelum berkembangnya sains modern di Eropa.⁵

Eksperimen Penerbangan: Terbang Mendahului Zaman

Kontribusi paling monumental Ibnu Firnas adalah eksperimen penerbangan yang ia lakukan sekitar tahun 875 M. Ia merancang alat terbang dari rangka kayu yang dilapisi kain dan bulu burung, menyerupai sayap. Dengan alat tersebut, ia melompat dari ketinggian di wilayah Cordoba.⁶

Catatan sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Firnas berhasil melayang di udara selama beberapa saat sebelum akhirnya jatuh dan mengalami cedera saat mendarat. Namun, kegagalan pendaratan tersebut justru melahirkan analisis ilmiah penting. Ia menyadari bahwa alat terbangnya belum dilengkapi sistem ekor untuk menjaga keseimbangan—sebuah pemahaman aerodinamika yang sangat maju untuk abad ke-9.⁷

Eksperimen ini menjadikan Ibnu Firnas sebagai pelopor awal aeronautika, lebih dari seribu tahun sebelum penerbangan modern dikembangkan di Barat.⁸

Astronomi dan Simulasi Langit

Selain penerbangan, Ibnu Firnas juga berkontribusi besar dalam bidang astronomi. Ia menciptakan model simulasi langit di rumahnya—sejenis planetarium sederhana—yang menggambarkan pergerakan bintang, awan, serta fenomena alam seperti kilat dan guntur.⁹

Karya ini menunjukkan perpaduan antara observasi ilmiah dan imajinasi kreatif. Astronomi bagi Ibnu Firnas bukan sekadar ilmu hitung, melainkan sarana untuk memperdalam kesadaran akan keteraturan kosmos sebagai ciptaan Tuhan.¹⁰

Inovasi Teknologi Kaca dan Dampak Sosial

Ibnu Firnas juga dikenal sebagai pelopor teknologi pembuatan kaca dari pasir di Andalusia. Sebelum inovasi ini, kaca berkualitas tinggi harus diimpor dari wilayah Timur. Dengan temuannya, Andalusia mencapai kemandirian teknologi dan industri.¹¹

Inovasi ini menunjukkan bahwa sains dalam peradaban Islam memiliki dimensi praktis dan sosial. Ilmu pengetahuan tidak hanya untuk kepuasan intelektual, tetapi juga untuk kemaslahatan masyarakat.¹²

Ibnu Firnas sebagai Simbol Kebangkitan Sains Islam

Ibnu Firnas mencerminkan paradigma ilmuwan Muslim klasik: beriman, rasional, dan berani bereksperimen. Ia membuktikan bahwa Islam tidak bertentangan dengan sains, bahkan menjadi landasan etis dan spiritual bagi pengembangan ilmu pengetahuan.¹³

Di era modern, ketika dunia Muslim menghadapi tantangan besar dalam bidang riset dan inovasi, figur Ibnu Firnas kembali relevan. Ia mengajarkan bahwa keberanian mencoba adalah fondasi kemajuan, dan kegagalan adalah bagian sah dari proses ilmiah.¹⁴

Sebagai bentuk pengakuan global, namanya kini diabadikan dalam kawah bulan “Ibn Firnas”—sebuah simbol bahwa warisan intelektualnya melampaui bumi dan dikenang dalam sejarah sains dunia.¹⁵

Penutup: Terbang sebagai Metafora Peradaban

Kisah Ibnu Firnas bukan sekadar cerita tentang manusia yang mencoba terbang, melainkan metafora tentang peradaban yang berani melampaui batas. Ia mengajarkan bahwa sains adalah jalan ibadah, dan eksperimen adalah bentuk ikhtiar memahami sunnatullah.

Jika kebangkitan sains Islam ingin kembali diwujudkan, maka semangat Ibnu Firnas—keberanian berpikir, ketekunan meneliti, dan integrasi iman dengan ilmu—harus dihidupkan kembali. Ia telah membentangkan sayapnya lebih dari seribu tahun lalu; kini giliran generasi Muslim masa kini untuk melanjutkan penerbangan peradaban.

Wallohu a'lam 

Footnote:

1. Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge: Harvard University Press, 1968).

2. Philip K. Hitti, History of the Arabs (London: Macmillan, 1970).

3. Al-Qur’an, QS. Ali Imran: 190–191.

4. George Sarton, Introduction to the History of Science, Vol. I (Baltimore: Williams & Wilkins, 1927).

5. Fuat Sezgin, Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill, 1967).

6. Al-Maqqari, Nafh al-Tib min Ghusn al-Andalus al-Ratib.

7. Ahmad Y. al-Hassan & Donald R. Hill, Islamic Technology: An Illustrated History (Cambridge: Cambridge University Press, 1986).

8. Jim Al-Khalili, Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science (London: Penguin Books, 2011).

9. Ibn Sa‘id al-Maghribi, Al-Mughrib fi Hula al-Maghrib.

10. Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (Oxford: Oxford University Press, 1996).

11. Ahmad Y. al-Hassan, “Transfer of Islamic Technology to Europe,” UNESCO.

12. Marshall Hodgson, The Venture of Islam, Vol. 2 (Chicago: University of Chicago Press, 1974).

13. Fuat Sezgin, Islamic Science and Technology (Frankfurt: Institute for the History of Arabic-Islamic Science, 2006).

14. Ziauddin Sardar, Islam, Science and the Challenge of History (London: Zed Books, 1989).

15. International Astronomical Union (IAU), Lunar Nomenclature: Ibn Firnas Crater.

Sedia Aku Sebelum Hujan Kisah Romantis, Religius, Reflektif di Kampus STID Albiruni

 

ketakketikmustopa.com, Setelah sukses buku novel dengan judul “Bidadari di Kampus Biru” kisah percintaan di Kampus Al-Biruni, kini kita hadir dengan buku novel baru berjudul “Sedia Aku Sebelum Hujan: Kisah romantic, religious, reflektif di Kampus STID Al-Biruni” buku ini memuat 35 episode. 

Buku “Sedia Aku Sebelum Hujan” ini disusun sebagai novel romantis–reflektif, memadukan kisah cinta kampus, perjuangan akademik, jarak, kesetiaan, dan kedewasaan emosional. Alurnya bertahap dari pertemuan, konflik, hampir bubar, hingga pendewasaan cinta.

Berikut cuplikannya, jangan diskip ya…

Langit Babakan Ciwaringin sore itu menggantung kelabu. Angin berembus pelan melewati deretan pohon ketapang di halaman Kampus STID Al-Biruni. Dari lantai dua gedung perkuliahan, Helena Helwa—yang biasa dipanggil Helwa—berdiri memandangi awan yang semakin menebal.

Di tangannya ada buku catatan Tafsir Dakwah, tapi tak satu pun kalimat ia baca.

“Helwa!” suara Nisa memanggil dari belakang. “Kamu bengong lagi lihat langit. Nunggu siapa?”

Helwa tersenyum tipis. “Nunggu hujan.”

Nisa mengangkat alis. “Atau nunggu Andre?”

Helwa menoleh cepat. “Ih, kamu ini.”

Di lapangan kecil dekat parkiran motor, Andrea Fadli Sadama—Andre—sedang berbincang dengan sahabatnya, Rizky.

“Bro, kamu jadi berangkat ke Jakarta minggu depan?” tanya Rizky.

Andre mengangguk pelan. “Iya. Ada program magang dakwah digital tiga bulan.”

“Helwa tahu?”

Andre diam. Pandangannya naik ke balkon lantai dua. Sosok Helwa berdiri di sana, diterpa angin sore.

“Belum,” jawabnya lirih.

---

Helwa dan Andre bukan pasangan yang diumbar dengan foto dan status. Mereka tumbuh dalam percakapan-percakapan sunyi: di perpustakaan, di sela diskusi kelas, di bangku panjang dekat masjid kampus.

Semua bermula dari tugas presentasi bersama tentang komunikasi dakwah generasi milenial.

“Kamu terlalu serius,” kata Helwa waktu itu, sambil menutup laptop Andre.

“Kalau dakwah mau maju, harus serius,” balas Andre.

“Serius boleh, tapi jangan kaku,” Helwa tersenyum. “Dakwah itu menyentuh hati, bukan cuma logika.”

Andre menatapnya beberapa detik terlalu lama.

Sejak saat itu, percakapan mereka tak pernah benar-benar berhenti.

---

Sore ini, sebelum hujan turun, Andre akhirnya naik ke lantai dua.

“Helwa.”

Helwa menoleh. Ada sesuatu di mata Andre yang berbeda—lebih berat dari biasanya.

“Kamu mau ke mana minggu depan?” tanya Helwa, mencoba terdengar biasa.

Andre menarik napas panjang. “Jakarta.”

Helwa terdiam.

“Tiga bulan,” lanjut Andre. “Program magang. Kesempatan bagus.”

Angin bertiup lebih kencang. Langit semakin gelap.

“Kamu baru kasih tahu sekarang?” suara Helwa lembut, tapi jelas menyimpan getar.

“Aku takut kamu kecewa.”

Helwa tersenyum samar. “Kamu pikir aku nggak kuat?”

“Bukan begitu.”

“Hujan nggak bisa dicegah, Andre,” katanya pelan. “Kalau memang harus turun, ya turun saja.”

Andre mengernyit. “Maksud kamu?”

“Aku sudah sedia sebelum hujan.”

Rintik pertama jatuh, menimpa pagar balkon.

Andre menatapnya dalam. “Helwa, aku pergi bukan untuk menjauh. Aku pergi supaya bisa kembali dengan lebih layak.”

“Lebih layak?”

“Aku nggak mau cuma jadi mahasiswa biasa yang banyak wacana. Aku mau pulang dengan bekal. Biar kalau nanti…” Ia terdiam.

“Kalau nanti apa?” Helwa menantang dengan tatapan lembut.

“Kalau nanti aku melamarmu, aku sudah siap.”

Hujan turun lebih deras. Helwa menunduk, menyembunyikan senyum dan air mata yang hampir jatuh bersamaan.

“Kamu ini terlalu jauh berpikirnya,” katanya pelan.

“Aku serius.”

Helwa mengangkat wajahnya. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Andre. Aku cuma butuh kamu jujur dan pulang.”

Andre melangkah mendekat. “Kamu mau nunggu?”

Helwa terdiam beberapa detik. Lalu berkata, “Aku nggak menunggu dengan gelisah. Aku akan tetap belajar, tetap bertumbuh. Kalau kamu kembali, kita bertemu sebagai dua orang yang sama-sama kuat.”

“Dan kalau aku gagal?”

Helwa tersenyum, menatap hujan yang mengguyur halaman kampus. “Setidaknya kita pernah berjuang. Cinta yang baik nggak lahir dari ketakutan.”

---

Di sisi lain kampus, Nisa dan Rizky berteduh di bawah kanopi parkiran.

“Mereka ngobrol serius banget,” kata Nisa.

Rizky tertawa kecil. “Andre memang begitu kalau sudah soal Helwa.”

“Kamu sendiri gimana?” Nisa menatapnya usil.

Rizky terdiam, lalu menjawab pelan, “Aku juga lagi belajar sedia sebelum hujan.”

Nisa pura-pura tidak mengerti, tapi pipinya memerah.

---

Hujan perlahan mereda. Andre dan Helwa masih berdiri berdampingan.

“Jangan lupa kabari aku,” kata Helwa.

“Setiap hari.”

“Jangan janji berlebihan.”

Andre tersenyum. “Baik. Aku janji secukupnya.”

Helwa tertawa kecil. “Itu lebih realistis.”

Sebelum turun ke tangga, Andre berhenti. “Helwa.”

“Iya?”

“Terima kasih sudah nggak mempersulit.”

Helwa menggeleng. “Cinta bukan soal mempersulit. Cinta itu mempersiapkan.”

Andre menatapnya sekali lagi, lalu berjalan menuruni tangga. Helwa berdiri memandangnya sampai sosok itu menghilang di balik gerimis yang tersisa.

Langit mulai cerah di ufuk barat.

Helwa menarik napas panjang.

Ia sadar, kesetiaan bukan tentang menahan seseorang agar tetap di samping kita. Kesetiaan adalah keberanian untuk tetap percaya, bahkan ketika jarak dan waktu menjadi ujian.

Dan di Kampus STID Al-Biruni sore itu, sebelum hujan benar-benar pergi, Helwa tahu satu hal—Ia sudah sedia.

Perkuat Sinergi Pendidikan dan Dunia Industri, STID Albiruni Babakan Ciwaringin Jalin Kerjasama Strategis dengan PT. Pilar Konstruksi

 

Gambar: Tampak Ketua Yayasan Amal Albiruni (tengah berpeci putih), Direktur Utama PT. Pilar Konstruksi (baju merah) bersama para tamu undangan


ketakketikmustopa.com, Kemarin, Jum’at (13 Februari 2026), Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon menerima kunjungan silaturahmi dari manajemen PT. Pilar Konstruksi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan beralamat di Pisa Gading 2 Nomor J-17 Gading Serpong, Jl. Ir. Soekarno, Curug Sangerang, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten 15811.

Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka membangun dan memperkuat kerja sama kelembagaan antara Yayasan Amal Al-Biruni dengan PT. Pilar Konstruksi. Kerja sama ini diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia, pemberian beasiswa pendidikan, serta penyiapan lapangan kerja bagi lulusan.

Dalam sambutannya, KH. Uki Marzuki menegaskan bahwa kerja sama ini dirancang dengan prinsip mutual simbiosisme, yakni saling menguntungkan dan berkelanjutan antara lembaga pendidikan dan dunia industri. Dari pihak Yayasan Amal Al-Biruni, komitmen yang diberikan adalah penyediaan beasiswa pendidikan bagi jaringan PT. Pilar Konstruksi, baik berupa beasiswa kuliah di STID Al-Biruni maupun beasiswa sekolah di SMK Al-Biruni Babakan Ciwaringin.

“Beasiswa ini kami peruntukkan khusus bagi keluarga karyawan PT. Pilar Konstruksi, sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas pendidikan generasi penerus mereka,” ujar Kyai Uki. Ia menambahkan bahwa Yayasan Amal Al-Biruni memberikan beasiswa penuh tanpa dipungut biaya sepeser pun, sehingga para penerima dapat fokus belajar dan mengembangkan potensi diri secara optimal.

Lebih lanjut, Kyai Uki menjelaskan bahwa kerja sama ini tidak berhenti pada aspek pendidikan semata. Sebagai bentuk timbal balik, PT. Pilar Konstruksi juga berkomitmen menyiapkan lapangan pekerjaan bagi para siswa, santri, maupun lulusan yang berasal dari lingkungan pendidikan Babakan Ciwaringin, khususnya alumni STID Al-Biruni dan SMK Al-Biruni. Langkah ini dinilai sebagai bentuk nyata integrasi antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Sementara itu, Direktur PT. Pilar Konstruksi, Yohanes, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa dunia kerja memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, mental, dan etos profesional generasi muda. Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan kerja akan melengkapi dan menyempurnakan ilmu yang telah diperoleh di bangku pendidikan.

“Apapun bidang pekerjaan yang dijalani nantinya, tujuan utamanya adalah membentuk mental wirausaha yang profesional, disiplin, dan bertanggung jawab. Apa yang sudah didapatkan di Kampus STID Al-Biruni maupun SMK Al-Biruni akan kami sempurnakan melalui penugasan nyata di lapangan,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar program magang atau Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), melainkan langsung bekerja secara riil dengan tanggung jawab dan jenjang karier yang jelas.

Acara penandatanganan MoU tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Dr. Supardi selaku Ketua STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, serta Absori selaku Kepala SMK Al-Biruni Babakan Ciwaringin. Hadir pula para dosen, guru, dan tenaga pendidik di bawah naungan Yayasan Amal Al-Biruni yang menyambut baik kerja sama strategis ini.

Melalui kerja sama ini, diharapkan terbangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan berilmu, tetapi juga siap kerja, berdaya saing, serta memiliki karakter religius dan profesional. Sinergi antara STID Al-Biruni, SMK Al-Biruni, dan PT. Pilar Konstruksi menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan dunia pendidikan dan ketenagakerjaan di era modern.


@potsum, jurnalis al-biruni 

Melawan Arus: Ketika Prinsip Lebih Mahal dari Kenyamanan

ketakketikmustopa.com, Di dunia yang serba seragam, kenyamanan sering kali menjadi pilihan paling menggoda. Mengikuti arus terasa aman. Menyetujui mayoritas terasa menenangkan. Tidak berbeda berarti tidak disalahkan. Banyak orang akhirnya memilih berjalan bersama arus—bukan karena yakin, tetapi karena takut sendirian.

Namun di titik inilah prinsip diuji. Sebab prinsip tidak selalu membawa kita pada kenyamanan. Prinsip sering menuntut keberanian. Ia meminta kita berdiri tegak ketika yang lain membungkuk. Ia menuntut kita tetap melangkah, bahkan ketika arah langkah itu berlawanan dengan arus besar yang sedang mengalir. Sebagaimana firman Allah:

“Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang tidak mengetahui, karena mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘ām [6]: 116)¹

Melawan arus bukanlah tindakan emosional tanpa arah. Ia bukan sekadar kegemaran membangkang atau mencari panggung perlawanan. Melawan arus adalah sikap sadar dan terukur ketika hati dan akal menolak untuk tunduk pada sesuatu yang keliru. Ia adalah keberanian berkata “tidak” pada ketidakadilan, walau suara itu terdengar kecil di tengah riuhnya mayoritas. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang menyerahkan urusannya kepada mayoritas, maka ia akan tertipu; dan barangsiapa yang menegakkan prinsipnya meski sendiri, maka ia akan diberkahi Allah.” (HR. Ahmad, disesuaikan makna)²

Dalam banyak keadaan, kebenaran memang tidak selalu berada pada jumlah terbanyak. Justru sering kali, kebenaran berdiri dalam kesunyian—menunggu mereka yang berani mendekat.

Orang yang kuat bukanlah mereka yang selalu berada di sisi yang ramai, melainkan mereka yang memiliki kompas dalam jiwanya. Kompas itu bernama prinsip. Prinsip membuat seseorang tidak mudah digoyahkan oleh tren, opini, atau tekanan sosial. Prinsip membuat seseorang tetap utuh, meski diterpa gelombang perbedaan. Sebagaimana Allah menegaskan:

“Barangsiapa yang menegakkan agama-Nya, maka Allah akan menolongnya.” (QS. Muhammad [47]: 7)³

Melawan arus ibarat seekor ikan hidup yang berenang ke hulu.

Mengapa ke hulu? Karena di sanalah sumber kehidupan berada. Ikan yang hidup tidak pasrah pada derasnya aliran air. Ia memilih melawan arus, mengerahkan tenaga, dan mempertaruhkan kekuatannya demi mencapai sumber. Berenang ke hulu memang melelahkan. Arus deras menghadang. Energi terkuras. Risiko selalu ada. Tetapi justru dalam perjuangan itulah kehidupan menemukan maknanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dalam segala hal, pertahankan kekuatanmu.” (HR. Muslim)⁴

Sebaliknya, ikan yang mati akan terbawa arus. Ia tidak lagi memilih arah. Ia hanya mengikuti ke mana air mengalir. Bersama arus itu pula hanyut sampah-sampah dan benda tak bernilai. Semuanya bercampur tanpa identitas, tanpa tujuan, dan tanpa makna. Gambaran ini menjadi simbol manusia yang menyerahkan akalnya, nuraninya, dan prinsip hidupnya pada arus kebiasaan yang keliru.

Begitulah manusia.

Manusia yang hidup jiwanya tidak sekadar ikut bergerak bersama zaman. Ia bertanya, menimbang, dan memutuskan. Ia berani berbeda ketika perbedaan itu perlu. Ia mungkin dicap aneh, keras kepala, atau terlalu idealis. Tetapi ia sadar bahwa harga sebuah prinsip memang tidak murah. Ia sering dibayar dengan kesepian, kritik, bahkan kehilangan kesempatan yang tampak menguntungkan.

Namun apa arti kenyamanan jika harus dibeli dengan mengorbankan nurani? Apa makna diterima oleh banyak orang jika harus kehilangan kejujuran pada diri sendiri? Allah menegaskan:

“Dan teguhkanlah dirimu, janganlah kamu mengikuti keinginan mereka yang lalai, agar tidak menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-Furqān [25]: 63)⁵

Melawan arus bukan tentang melawan manusia. Ia adalah perjuangan menjaga nilai di tengah godaan untuk berkompromi. Ia adalah keberanian mempertahankan integritas ketika tawaran kenyamanan datang silih berganti. Ia adalah keputusan untuk tetap hidup—secara moral dan spiritual—meski harus menempuh jalan yang lebih berat.

Di zaman ketika arus opini begitu cepat berubah, ketika tren lebih dihargai daripada kebenaran, dan ketika popularitas sering dianggap lebih penting daripada integritas, melawan arus menjadi semakin sulit. Tetapi justru karena itulah ia menjadi semakin penting.

Sebab pada akhirnya, hanya ikan yang hidup yang sampai ke hulu.

Dan hanya jiwa yang berpegang pada prinsip yang akan sampai pada tujuan sejatinya.

Allohu a'lam


Footnote:

1. Al-Qur’an, Surah Al-An‘ām [6]: 116.

2. HR. Ahmad, disesuaikan makna; Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, An-Nawawī.

3. Al-Qur’an, Surah Muhammad [47]: 7.

4. HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Bab Mukmin Kuat.

5. Al-Qur’an, Surah Al-Furqān [25]