Pesan Talbiyah untuk Kita Semua

 


"Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak"

Kalimat Talbiyah kembali menggema pada musim haji 1447 Hijriah. Dari rumah-rumah calon jamaah, halaman masjid, hingga acara walimatus safar, umat Islam Indonesia larut dalam suasana religius yang penuh haru. Talbiyah tidak hanya menjadi lantunan ibadah, tetapi juga menghadirkan getaran spiritual yang menyentuh kesadaran umat.

Namun di tengah suasana itu, terdapat kecenderungan yang patut menjadi refleksi bersama. Talbiyah terkadang dipahami hanya sebagai senandung religi yang mengiringi keberangkatan jamaah haji. Bahkan, tidak sedikit yang mengemasnya dalam nuansa hiburan semata sehingga makna mendalam dari kalimat tersebut perlahan memudar.

Padahal Talbiyah sejatinya merupakan deklarasi totalitas penghambaan kepada Allah SWT. Kalimat itu diucapkan oleh jamaah yang telah berihram dan berniat memenuhi panggilan Ilahi. Ia bukan sekadar syair ibadah, melainkan ikrar spiritual yang menegaskan bahwa seluruh pujian, kenikmatan, dan kekuasaan hanyalah milik Allah SWT.

Di tengah kehidupan modern hari ini, pesan Talbiyah justru semakin relevan. Manusia hidup dalam budaya pencitraan dan pengakuan. Banyak orang berlomba mengejar popularitas, validasi sosial, dan pujian manusia. Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh tepuk tangan publik dan pengakuan dunia maya. Dari sinilah lahir penyakit sosial berupa riya dan sum’ah yang perlahan menggerus keikhlasan.

Talbiyah hadir mengingatkan bahwa segala puji pada hakikatnya kembali kepada Allah SWT. Manusia hanyalah makhluk yang penuh keterbatasan. Tidak ada alasan untuk merasa paling hebat, paling berjasa, atau paling layak dipuji.

Selain pujian, Talbiyah juga mengajarkan kesadaran tentang hakikat kenikmatan hidup. Banyak manusia merasa seluruh keberhasilannya murni hasil kerja keras pribadi. Jabatan, kekayaan, kesehatan, bahkan umur panjang dianggap semata-mata buah ikhtiar manusia. Padahal kehidupan dipenuhi nikmat yang tidak pernah bisa dipesan ataupun dijamin keberadaannya.

Seseorang baru menyadari mahalnya kesehatan ketika sakit. Manusia memahami berharganya kehidupan ketika menghadapi kematian. Kesadaran seperti inilah yang sering kali terlambat hadir. Talbiyah mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Allah SWT dan sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh-Nya.

Pesan berikutnya adalah tentang kekuasaan. Dalam realitas sosial dan politik, kekuasaan sering menjadi ambisi yang membutakan. Tidak sedikit orang rela mengorbankan moral, persaudaraan, bahkan agama demi mempertahankan jabatan dan pengaruh. Padahal kekuasaan hanyalah titipan yang bersifat sementara.

Talbiyah menegaskan bahwa seluruh kekuasaan sejatinya milik Allah SWT. Manusia hanya menjalankan amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini penting agar kekuasaan tidak berubah menjadi alat kesombongan dan penindasan.

Puncak dari Talbiyah adalah peneguhan tauhid: laa syarika laka — tiada sekutu bagi-Mu. Kalimat ini tidak hanya relevan di Tanah Suci, tetapi juga dalam seluruh dimensi kehidupan manusia. Tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, melainkan fondasi moral dalam membangun kehidupan yang jujur, adil, dan berkeadaban.

Momentum haji tahun ini juga menjadi catatan penting bagi Indonesia dengan hadirnya Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan jamaah. Harapan besar tentu tertuju pada lahirnya sistem pelayanan haji yang semakin profesional, aman, dan berorientasi pada kemabruran jamaah.

Pada akhirnya, Talbiyah bukan hanya milik mereka yang berangkat ke Tanah Suci. Talbiyah adalah pesan universal bagi seluruh manusia agar tidak mabuk pujian, tidak lupa diri atas kenikmatan, dan tidak sombong dalam kekuasaan. Sebab pada akhirnya, seluruh kehidupan akan kembali kepada Allah SWT.

Wallohu a'lam

Menang dengan Cara yang Berbeda



ketakketikmustopa.com, Dalam kehidupan, manusia tidak selalu berada pada posisi yang sama. Ada yang dilimpahi materi, ada pula yang harus berjuang dari titik nol. Namun sejatinya, kehidupan bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak memiliki, melainkan siapa yang paling mampu memaknai dan mengelola apa yang dimilikinya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya¹, maka setiap kekurangan sesungguhnya telah diiringi dengan peluang untuk menemukan keunggulan lain dalam diri.

Ketika seseorang merasa kalah dalam materi, maka jalan terbaik bukanlah mengeluh, melainkan membangun kemandirian. Kemandirian adalah bentuk kekuatan batin yang menjadikan seseorang tidak mudah bergantung kepada orang lain. Dalam perspektif pendidikan karakter, kemandirian menjadi salah satu pilar penting dalam membentuk manusia yang tangguh dan bertanggung jawab².

Jika merasa kalah dalam kekuatan fisik, maka asahlah bakat dan potensi yang dimiliki. Setiap manusia diciptakan dengan keunikan masing-masing. Dalam teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner, kecerdasan tidak hanya diukur dari aspek logika semata, melainkan mencakup berbagai dimensi seperti linguistik, musikal, interpersonal, dan lainnya. Dengan demikian, setiap individu memiliki peluang untuk unggul di bidangnya masing-masing.

Ketika merasa kalah dalam kecerdasan intelektual, maka disiplin adalah jalan kemenangan. Disiplin bukan sekadar kebiasaan, melainkan proses panjang yang membentuk karakter dan integritas seseorang. Sebagaimana konsep pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan sejati adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya³. Disiplin menjadi salah satu alat penting dalam proses tersebut.

Jika merasa kalah dalam penampilan atau gaya, maka menangkanlah dengan etika dan akhlak. Dalam tradisi Islam, akhlak menempati posisi yang sangat tinggi. Bahkan Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia⁴. Kepercayaan tidak dibangun dari penampilan semata, tetapi dari konsistensi sikap, kejujuran, dan tanggung jawab.

Dan ketika seseorang merasa kalah dalam segala hal, maka jangan pernah melupakan satu hal yang paling mendasar: hubungan dengan Tuhan. Kedekatan spiritual adalah sumber kekuatan yang tidak pernah habis. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram⁵. Dari sinilah seseorang menemukan makna, ketenangan, dan arah hidup yang sejati.

Dengan demikian, kemenangan dalam hidup tidak selalu diukur dari aspek yang tampak oleh mata. Ada kemenangan dalam kemandirian, dalam pengembangan bakat, dalam kedisiplinan, dalam etika, dan terutama dalam kedekatan dengan Tuhan. Maka jadilah pribadi yang terus berusaha, terus memperbaiki diri, dan tidak pernah berhenti berharap. Karena pada akhirnya, kemenangan sejati adalah milik mereka yang mampu bertahan, bersyukur, dan berserah.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. QS. Al-Baqarah [2]: 286.

2. Thomas Lickona, Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (New York: Bantam Books, 1991).

3. Ki Hajar Dewantara, Pendidikan (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977).

4. HR. Ahmad, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

5. QS. Ar-Ra’d [13]: 28.

Pelita Peradaban: Refleksi Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026

 

ketakketikmustopa.com, Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Spanduk terpasang, pidato dikumandangkan, dan nama Ki Hajar Dewantara kembali digaungkan sebagai simbol perjuangan pendidikan di Indonesia. Namun di tengah suasana seremonial itu, ada satu pertanyaan mendasar yang patut direnungkan secara jujur: pendidikan kita hari ini sebenarnya berpihak kepada siapa?

Sejarah mencatat bahwa Ki Hajar Dewantara tidak sekadar membangun lembaga pendidikan, tetapi menghadirkan gagasan besar tentang pendidikan sebagai alat pembebasan. Pada masa kolonial, akses pendidikan dibatasi hanya untuk kalangan tertentu. Rakyat kecil dipinggirkan, tidak diberi ruang untuk berkembang. Dari kegelisahan itulah lahir prinsip bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia—bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga membebaskan dari ketertindasan struktural.

Namun, jika kita menengok kondisi hari ini, semangat tersebut belum sepenuhnya terwujud. Memang, secara konseptual pendidikan kita terus berkembang. Berbagai kebijakan lahir, kurikulum diperbarui, dan teknologi mulai terintegrasi dalam proses pembelajaran. Tetapi di balik semua itu, realitas di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan yang belum terselesaikan.

Masih banyak guru honorer yang menerima penghasilan jauh dari layak. Tidak sedikit dosen yang mengabdi bertahun-tahun tanpa jaminan kesejahteraan yang memadai. Di sisi lain, kita terus berbicara tentang kualitas pendidikan, daya saing global, dan masa depan generasi bangsa. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita membangun pendidikan yang berkualitas jika para pendidiknya sendiri belum mendapatkan keadilan?

Di titik inilah, persoalan keberpihakan menjadi sangat penting. Pendidikan tidak boleh netral dalam arti yang sempit. Ia harus berpihak—pada mereka yang lemah, yang terpinggirkan, dan yang selama ini tidak mendapatkan akses yang adil. Tanpa keberpihakan, pendidikan hanya akan menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial, bukan jalan keluar darinya.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi kolektif: apakah arah kebijakan pendidikan kita sudah selaras dengan cita-cita awal para pendiri bangsa? Ataukah kita justru terjebak dalam formalitas yang kehilangan ruh perjuangan?

Peran mahasiswa dan generasi muda menjadi sangat krusial. Mereka tidak cukup hanya menjadi bagian dari sistem, tetapi harus berani menjadi penggerak perubahan. Kepekaan terhadap realitas sosial, keberanian untuk bersuara, serta komitmen untuk memperjuangkan keadilan dalam pendidikan adalah fondasi penting untuk masa depan yang lebih baik.

Semangat Ki Hajar Dewantara belum selesai—dan mungkin memang tidak akan pernah selesai. Pendidikan adalah proses panjang untuk memanusiakan manusia. Ia membutuhkan keberanian untuk terus mengoreksi diri dan memperjuangkan keadilan.

Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional 2026 ini mengajak kita semua untuk tidak sekadar merayakan, tetapi juga bertanya dan bertindak: pendidikan kita hari ini, benar-benar berpihak kepada siapa?

Wallohu a'lam

Kisah Sunan Kalijaga Tidak Bisa Berangkat Haji


ketakketikmustopa.com, Setiap Muslim menyimpan kerinduan untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci, menghadap Ka’bah di Makkah, dan menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima. Kerinduan itu juga tumbuh dalam diri Sunan Kalijaga, atau Raden Said—seorang wali yang dikenal bijak dalam berdakwah dan dekat dengan budaya masyarakat Jawa.

Dikisahkan, suatu ketika Sunan Kalijaga berada di Malaka. Ia berniat melanjutkan perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, niat tersebut tidak terwujud. Seorang ulama sepuh, Maulana Maghribi, justru memintanya untuk kembali ke Jawa dan tidak melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.

Larangan itu bukan tanpa sebab. Saat itu, kondisi masyarakat Jawa sedang berada dalam masa transisi. Runtuhnya Majapahit dan munculnya Kesultanan Demak menimbulkan keguncangan sosial dan keagamaan. Keimanan masyarakat masih rapuh, dan dakwah sangat dibutuhkan. Maulana Maghribi khawatir, jika Sunan Kalijaga meninggalkan Jawa, masyarakat akan kehilangan bimbingan dan bisa kembali pada keyakinan lama.¹

Lebih dari itu, Maulana Maghribi menyampaikan pesan yang mendalam: bahwa “Makkah sejati” bukan hanya tempat yang jauh di sana, tetapi juga berada dalam diri manusia. Ka’bah di Makkah adalah simbol tauhid yang agung, namun hakikat haji tidak berhenti pada perjalanan fisik. Haji adalah perjalanan ruhani—menuju penyucian hati dan kedekatan dengan Allah.²

Dalam ajaran yang terekam dalam Suluk Wijil, seseorang dikatakan sampai pada “Makkah sejati” ketika ia mampu menjalani mati sajroning urip—mematikan hawa nafsu dan menghidupkan kesadaran spiritual dalam dirinya.³

Versi lain menyebutkan bahwa yang menghentikan perjalanan Sunan Kalijaga adalah Nabi Khidir. Dalam perjalanan di tengah laut menuju Makkah, Nabi Khidir menasihatinya agar tidak melanjutkan perjalanan jika belum memahami makna ibadah yang akan dijalani. Kisah ini terekam dalam Suluk Linglung.⁴

Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga: bahwa dalam kondisi tertentu, kepentingan umat harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi. Sunan Kalijaga memilih kembali ke Jawa untuk menguatkan iman masyarakat dan melanjutkan dakwahnya.

Jika kita refleksikan pada masa kini, persoalan umat tidak hanya soal keimanan, tetapi juga kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan sosial. Maka menjadi tidak bijak jika seseorang berulang kali menunaikan haji atau umrah, namun mengabaikan penderitaan di sekitarnya.

Dalam sebuah kisah, para sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad tentang siapa yang memperoleh haji mabrur. Rasulullah menyebut seseorang yang tidak jadi berangkat haji, karena ia menggunakan bekalnya untuk menolong tetangganya yang sedang sakit.⁵

Kisah ini mengajarkan bahwa nilai ibadah tidak hanya terletak pada ritual, tetapi juga pada kepedulian. Bahwa jalan menuju Allah bisa ditempuh tidak hanya dengan perjalanan ke Tanah Suci, tetapi juga dengan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Wallohu a'lam 


Catatan Kaki (Footnote):

¹ Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo (Bandung: Mizan, 2016).

² Simuh, Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa (Yogyakarta: Bentang, 1995).

³ Suluk Wijil, dalam kajian sastra Jawa klasik tentang ajaran spiritual Sunan Kalijaga.

⁴ Suluk Linglung, naskah klasik yang memuat kisah perjalanan spiritual Sunan Kalijaga.

⁵ Hadis tentang keutamaan menolong sesama dan makna haji mabrur, lihat Riyadhus Shalihin (Bab tentang tolong-menolong dan amal kebajikan).

Saya Orang Kampung: Antara Kerendahan Hati dan Strategi Kekuasaan

 


ketakkwtikmuatopa.com, Yang paling sulit bagi manusia sejatinya bukanlah meraih kesuksesan, melainkan merendahkan hati setelah kesuksesan itu diraih. Ketika posisi telah tinggi, pengaruh semakin luas, dan pencapaian terasa monumental, sering kali tanpa sadar manusia tergelincir pada kalimat-kalimat yang berpusat pada diri: “kalau bukan saya…”, “ini semua karena saya…”. Di titik inilah kerendahan hati menjadi ujian paling berat.

Dalam konteks ini, pernyataan Joko Widodo—“Saya orang kampung” dan “Saya bukan siapa-siapa”—menjadi menarik untuk ditelisik lebih dalam. Ucapan tersebut bukan sekadar kalimat sederhana, melainkan sebuah narasi yang sarat makna, bahkan bisa dibaca sebagai strategi komunikasi politik yang matang.

Pada 20 April 2026, ketika ditanya oleh wartawan dalam situasi yang berpotensi memancing polemik, Jokowi tidak memilih jalur konfrontatif. Ia tidak masuk ke dalam perdebatan terbuka yang bisa memperuncing konflik. Sebaliknya, ia kembali pada narasi lama yang telah ia bangun sejak awal kemunculannya di panggung nasional: narasi kesederhanaan, narasi “orang biasa”.

Penting untuk dipahami, respons seperti ini bukanlah spontanitas belaka. Ia lebih menyerupai puncak dari “gunung es” komunikasi politik yang telah dibangun lebih dari satu dekade. Sejak awal, Jokowi tidak pernah memosisikan dirinya sebagai sosok pemimpin besar yang elitis atau intelektual yang berjarak. Ia justru membangun kekuatan dari posisi yang secara simbolik paling “lemah”: wong cilik, rakyat kecil, orang kampung.

Di sinilah letak kecerdasan naratifnya. Dalam teori komunikasi politik, posisi “rendah” sering kali justru menjadi sumber kekuatan yang besar. Dengan mengidentifikasi diri sebagai “orang kampung”, seorang pemimpin tidak hanya membangun kedekatan emosional dengan rakyat, tetapi juga menciptakan tameng dari kritik yang terlalu tajam. Ia menjadi “bagian dari kita”, bukan “di atas kita”.

Namun, di balik kesederhanaan itu, terdapat paradoks yang tidak bisa diabaikan. Setelah lebih dari satu dekade berada di lingkaran kekuasaan, setelah membangun jaringan kekuatan politik yang luas, bahkan dituding melanggengkan dinasti kekuasaan, Jokowi tetap memilih bersembunyi di balik identitas “orang kampung”. Ini bukan lagi sekadar kerendahan hati personal, melainkan telah menjadi instrumen politik yang efektif.

Narasi “orang kampung” di sini bekerja sebagai bentuk populisme pasca-kekuasaan. Ia meredam konflik, menurunkan tensi kritik, dan menjaga citra kedekatan dengan rakyat. Dengan kata lain, kesederhanaan tidak hanya menjadi karakter, tetapi juga menjadi strategi.

Apakah ini berarti kerendahan hati tersebut tidak tulus? Tidak sesederhana itu. Bisa jadi, di satu sisi ia memang refleksi dari latar belakang dan kepribadian. Namun di sisi lain, ia juga telah terstruktur menjadi bagian dari desain komunikasi politik yang konsisten dan terukur.

Pada akhirnya, kalimat “Saya ini bukan siapa-siapa, saya orang kampung” adalah pengingat yang kuat: dalam politik Indonesia, kesederhanaan bukan sekadar nilai moral, melainkan juga senjata yang sangat ampuh. Ia mampu melunakkan kritik, merangkul simpati, dan menjaga relevansi—bahkan setelah kekuasaan hampir atau telah berlalu.

Dan bagi kita sebagai masyarakat, pelajaran terbesarnya bukan hanya tentang bagaimana seorang pemimpin berbicara, tetapi juga bagaimana kita membaca—bahwa di balik kata-kata yang sederhana, sering kali tersembunyi makna yang jauh lebih kompleks.


Wallohu a'lam

Peringatan Hari Buku Sedunia 23 April 2026

ketakketikmustopa.com, Sejarah buku adalah sejarah peradaban manusia itu sendiri. Jauh sebelum manusia mengenal kertas seperti sekarang, mereka telah menuliskan pikiran, hukum, dan kisah hidupnya di dinding gua, batu, hingga lembaran papirus di peradaban kuno seperti Mesir dan Mesopotamia. Dari sana, lahirlah tradisi tulis-menulis yang terus berkembang—dari gulungan papirus, manuskrip kulit, hingga ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15 yang merevolusi dunia literasi. Buku tidak lagi menjadi barang langka, melainkan jendela ilmu yang terbuka bagi banyak orang.1

Seiring waktu, buku menjadi sahabat peradaban. Ia bukan sekadar kumpulan huruf, tetapi gudang pengetahuan, penjaga sejarah, sekaligus penggerak perubahan. Banyak tokoh besar dunia lahir dari kedekatannya dengan buku. Peradaban maju pun ditandai dengan tingginya minat baca masyarakatnya. Dalam konteks ini, buku adalah cahaya yang menuntun manusia keluar dari kegelapan kebodohan menuju terang ilmu pengetahuan.2

Untuk menghargai peran besar buku, dunia memperingati Hari Buku Sedunia setiap tanggal 23 April. Penetapan tanggal ini bukan tanpa makna. Ia bertepatan dengan wafatnya tokoh-tokoh besar dunia literasi seperti William Shakespeare dan Miguel de Cervantes—dua nama yang karya-karyanya terus hidup melintasi zaman.3

Namun, memasuki era digital, wajah buku mengalami perubahan. Kehadiran e-book, audiobook, dan berbagai platform digital membuat akses terhadap bacaan menjadi semakin mudah. Kini, seseorang dapat membawa ratusan bahkan ribuan buku hanya dalam satu perangkat kecil di genggamannya. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri. Teknologi telah membuka pintu literasi yang lebih luas, menjangkau mereka yang sebelumnya sulit mengakses buku fisik.4

Meski demikian, pergeseran ini juga menghadirkan tantangan. Di tengah derasnya arus informasi digital, minat baca sering kali tergeser oleh konten-konten singkat yang serba instan. Buku—baik fisik maupun digital—membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kedalaman berpikir. Nilai-nilai inilah yang perlahan mulai tergerus di era kecepatan.5

Oleh karena itu, peringatan Hari Buku Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali hubungan kita dengan buku. Apakah kita masih menjadikan buku sebagai sahabat setia? Ataukah ia mulai tergantikan oleh layar-layar yang hanya menawarkan hiburan sesaat?

Buku, dalam bentuk apa pun, tetap memiliki ruh yang sama: menyampaikan ilmu, memperluas wawasan, dan membentuk karakter. E-book bukanlah musuh buku cetak, melainkan evolusi dari perjalanan panjang literasi manusia. Yang terpenting bukanlah bentuknya, tetapi bagaimana kita menjaga tradisi membaca tetap hidup.

Mari kita jadikan 23 April bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi titik awal untuk kembali mendekatkan diri pada buku. Membaca satu halaman hari ini bisa menjadi awal perubahan besar di masa depan. Karena sejatinya, dunia yang besar ini dibangun dari ide-ide kecil yang lahir dari lembar demi lembar buku.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Lucien Febvre & Henri-Jean Martin, The Coming of the Book: The Impact of Printing 1450–1800 (London: Verso, 1976).

2. Francis Bacon, Meditationes Sacrae (1597), khususnya esai “Of Studies.”

3. UNESCO, “World Book and Copyright Day,” penetapan tanggal 23 April sebagai hari buku sedunia.

4. John B. Thompson, Books in the Digital Age: The Transformation of Academic and Higher Education Publishing in Britain and the United States (Cambridge: Polity Press, 2005).

5. Nicholas Carr, The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (New York: W.W. Norton & Company, 2010).

Kartini: Santri, Pemikir dan Pembawa Terang

ketakketikmuatopa.com, Nama Raden Adjeng Kartini sering kali kita bayangkan dalam balutan kebaya, rambut tersanggul rapi, dan semangat emansipasi perempuan yang menggema dari surat-suratnya. Namun, di balik gambaran itu, ada sisi lain yang jarang disorot: Kartini sebagai seorang pencari ilmu agama—seorang santri yang gelisah.1

Sebelum dunia mengenalnya melalui Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini lebih dulu bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan batin. Ia hidup dalam tradisi Jawa yang membatasi gerak perempuan, tetapi kegelisahan terbesarnya justru datang dari hal yang lebih dalam: hubungannya dengan Al-Qur'an.2

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan kegundahannya. Ia heran mengapa banyak orang diajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak diajarkan memahami isinya. Baginya, membaca tanpa mengerti adalah kehilangan makna. Ia merasa seperti berjalan dalam gelap—mengikuti sesuatu yang suci, namun tanpa cahaya pemahaman.3

Perubahan besar itu datang ketika ia bertemu dengan Kiai Sholeh Darat di Demak. Dalam sebuah pengajian, sang kiai menjelaskan tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa. Saat itulah Kartini merasakan sesuatu yang berbeda. Ayat-ayat yang sebelumnya hanya dilafalkan, kini terasa hidup dan menyentuh hatinya.4

Dari pertemuan itu, lahirlah keberanian Kartini untuk bertanya dan bahkan menggugat: mengapa ilmu agama tidak dibuka seluas-luasnya untuk umat? Mengapa bahasa menjadi penghalang antara manusia dan petunjuk Tuhannya?5

Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai kegelisahan pribadi. Ia menjadi pemantik perubahan. Meski berada di bawah tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang melarang penerjemahan Al-Qur’an, Kiai Sholeh Darat mencari jalan lain. Ia menulis tafsir dalam aksara Arab Pegon, yang kemudian dikenal sebagai Faidhur-Rohman.6

Kitab itulah yang kemudian menjadi hadiah berharga bagi Kartini saat menikah dengan R.M. Joyodiningrat. Bagi Kartini, hadiah itu bukan sekadar buku, melainkan cahaya—jawaban atas kegelisahan panjangnya.7

Sejak saat itu, pemikirannya berubah. Kalimat “dari gelap menuju terang” bukan lagi sekadar ungkapan puitis, melainkan refleksi perjalanan spiritualnya. Dalam surat-suratnya kepada J.H. Abendanon, ia berkali-kali mengungkapkan makna cahaya sebagai simbol pemahaman dan kebebasan berpikir.8

Kartini pun tumbuh menjadi lebih dari sekadar simbol emansipasi. Ia adalah seorang perempuan yang menyadari bahwa kebebasan sejati lahir dari ilmu—dari memahami, bukan sekadar mengikuti.9

"Selamat Hari Kartini"

Kartini mengajarkan bahwa terang tidak datang begitu saja. Ia harus dicari, dipahami, dan diperjuangkan—hingga akhirnya mampu menerangi jalan bagi banyak orang.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Sitisoemandari Soeroto, Kartini: Sebuah Biografi, Jakarta: Balai Pustaka, 1977.

2. M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c. 1200, Stanford University Press, 2008.

3. R.A. Kartini, Letters of a Javanese Princess, London: Duckworth, 1920.

4. Ahmad Baso, Pesantren Studies 2, Jakarta: Pustaka Afid, 2012.

5. Zainal Abidin Bagir, “Religious Thought of Kartini,” dalam Studia Islamika, Vol. 7, No. 2, 2000.

6. Sholeh Darat, Faidhur-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan, Semarang, abad ke-19.

7. Nur Syam, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS, 2005.

8. Armijn Pane (ed.), Habis Gelap Terbitlah Terang, Jakarta: Balai Pustaka, 1938.

9. Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992.