ketakketikmustopa.com, Di dunia yang serba seragam, kenyamanan sering kali menjadi pilihan paling menggoda. Mengikuti arus terasa aman. Menyetujui mayoritas terasa menenangkan. Tidak berbeda berarti tidak disalahkan. Banyak orang akhirnya memilih berjalan bersama arus—bukan karena yakin, tetapi karena takut sendirian.
Namun di titik inilah prinsip diuji. Sebab prinsip tidak selalu membawa kita pada kenyamanan. Prinsip sering menuntut keberanian. Ia meminta kita berdiri tegak ketika yang lain membungkuk. Ia menuntut kita tetap melangkah, bahkan ketika arah langkah itu berlawanan dengan arus besar yang sedang mengalir. Sebagaimana firman Allah:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang tidak mengetahui, karena mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘ām [6]: 116)¹
Melawan arus bukanlah tindakan emosional tanpa arah. Ia bukan sekadar kegemaran membangkang atau mencari panggung perlawanan. Melawan arus adalah sikap sadar dan terukur ketika hati dan akal menolak untuk tunduk pada sesuatu yang keliru. Ia adalah keberanian berkata “tidak” pada ketidakadilan, walau suara itu terdengar kecil di tengah riuhnya mayoritas. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang menyerahkan urusannya kepada mayoritas, maka ia akan tertipu; dan barangsiapa yang menegakkan prinsipnya meski sendiri, maka ia akan diberkahi Allah.” (HR. Ahmad, disesuaikan makna)²
Dalam banyak keadaan, kebenaran memang tidak selalu berada pada jumlah terbanyak. Justru sering kali, kebenaran berdiri dalam kesunyian—menunggu mereka yang berani mendekat.
Orang yang kuat bukanlah mereka yang selalu berada di sisi yang ramai, melainkan mereka yang memiliki kompas dalam jiwanya. Kompas itu bernama prinsip. Prinsip membuat seseorang tidak mudah digoyahkan oleh tren, opini, atau tekanan sosial. Prinsip membuat seseorang tetap utuh, meski diterpa gelombang perbedaan. Sebagaimana Allah menegaskan:
“Barangsiapa yang menegakkan agama-Nya, maka Allah akan menolongnya.” (QS. Muhammad [47]: 7)³
Melawan arus ibarat seekor ikan hidup yang berenang ke hulu.
Mengapa ke hulu? Karena di sanalah sumber kehidupan berada. Ikan yang hidup tidak pasrah pada derasnya aliran air. Ia memilih melawan arus, mengerahkan tenaga, dan mempertaruhkan kekuatannya demi mencapai sumber. Berenang ke hulu memang melelahkan. Arus deras menghadang. Energi terkuras. Risiko selalu ada. Tetapi justru dalam perjuangan itulah kehidupan menemukan maknanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dalam segala hal, pertahankan kekuatanmu.” (HR. Muslim)⁴
Sebaliknya, ikan yang mati akan terbawa arus. Ia tidak lagi memilih arah. Ia hanya mengikuti ke mana air mengalir. Bersama arus itu pula hanyut sampah-sampah dan benda tak bernilai. Semuanya bercampur tanpa identitas, tanpa tujuan, dan tanpa makna. Gambaran ini menjadi simbol manusia yang menyerahkan akalnya, nuraninya, dan prinsip hidupnya pada arus kebiasaan yang keliru.
Begitulah manusia.
Manusia yang hidup jiwanya tidak sekadar ikut bergerak bersama zaman. Ia bertanya, menimbang, dan memutuskan. Ia berani berbeda ketika perbedaan itu perlu. Ia mungkin dicap aneh, keras kepala, atau terlalu idealis. Tetapi ia sadar bahwa harga sebuah prinsip memang tidak murah. Ia sering dibayar dengan kesepian, kritik, bahkan kehilangan kesempatan yang tampak menguntungkan.
Namun apa arti kenyamanan jika harus dibeli dengan mengorbankan nurani? Apa makna diterima oleh banyak orang jika harus kehilangan kejujuran pada diri sendiri? Allah menegaskan:
“Dan teguhkanlah dirimu, janganlah kamu mengikuti keinginan mereka yang lalai, agar tidak menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-Furqān [25]: 63)⁵
Melawan arus bukan tentang melawan manusia. Ia adalah perjuangan menjaga nilai di tengah godaan untuk berkompromi. Ia adalah keberanian mempertahankan integritas ketika tawaran kenyamanan datang silih berganti. Ia adalah keputusan untuk tetap hidup—secara moral dan spiritual—meski harus menempuh jalan yang lebih berat.
Di zaman ketika arus opini begitu cepat berubah, ketika tren lebih dihargai daripada kebenaran, dan ketika popularitas sering dianggap lebih penting daripada integritas, melawan arus menjadi semakin sulit. Tetapi justru karena itulah ia menjadi semakin penting.
Sebab pada akhirnya, hanya ikan yang hidup yang sampai ke hulu.
Dan hanya jiwa yang berpegang pada prinsip yang akan sampai pada tujuan sejatinya.
Allohu a'lam
Footnote:
1. Al-Qur’an, Surah Al-An‘ām [6]: 116.
2. HR. Ahmad, disesuaikan makna; Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, An-Nawawī.
3. Al-Qur’an, Surah Muhammad [47]: 7.
4. HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Bab Mukmin Kuat.
5. Al-Qur’an, Surah Al-Furqān [25]







