ketakketikmustopa.com, Dalam dunia akademik dan kehidupan sosial modern, kecerdasan sering ditempatkan sebagai ukuran utama keberhasilan. Nilai akademik, gelar, kemampuan analisis, dan kepiawaian berbicara kerap dijadikan standar untuk menilai kualitas seseorang. Mereka yang tampak cerdas sering dipuji, sementara yang terlihat biasa-biasa saja dianggap tidak memiliki keunggulan. Namun, realitas kehidupan tidak selalu berjalan seiring dengan asumsi tersebut.
Tidak sedikit orang yang sejak awal tampak sederhana—bahkan dianggap biasa—justru mampu melesat jauh dalam perjalanan hidupnya. Sebaliknya, mereka yang dikenal sangat pintar, penuh teori dan perencanaan, justru tertinggal. Fenomena ini bukanlah anomali, melainkan cermin dari satu prinsip penting: konsistensi sering kali lebih menentukan daripada kecerdasan semata.
Dunia tidak sepenuhnya menilai seberapa hebat seseorang berpikir, tetapi seberapa nyata dan tekun ia bertindak. Gagasan yang cemerlang akan kehilangan daya gunanya jika berhenti sebagai wacana. Sebaliknya, langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus mampu menciptakan perubahan besar yang bertahan lama.
Orang yang merasa dirinya pintar kerap terjebak dalam terlalu banyak pertimbangan. Ia ingin semuanya sempurna, valid, dan bebas risiko. Akibatnya, langkah sering tertunda, bahkan tidak pernah dimulai. Sementara itu, orang yang merasa biasa cenderung lebih ringan melangkah. Ia tidak menunggu kondisi ideal, melainkan belajar melalui proses yang dijalani.
Perbedaan lain tampak jelas dalam cara menyikapi kegagalan. Bagi sebagian orang, kegagalan dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri dan reputasi. Namun bagi mereka yang tekun, kegagalan justru menjadi guru terbaik. Dari kegagalan, mereka belajar, memperbaiki diri, dan melanjutkan perjalanan dengan pemahaman yang lebih matang.
Di lingkungan kampus, fenomena ini kerap kita jumpai. Ada mahasiswa yang tidak terlalu menonjol secara akademik, namun konsisten hadir, membaca, menulis, berdiskusi, dan terlibat aktif dalam proses belajar. Perlahan, mereka tumbuh dan menemukan jalannya. Sebaliknya, ada pula mahasiswa yang sangat cerdas, tetapi mudah bosan, cepat puas, dan berhenti ketika tantangan datang.
Hidup pada akhirnya bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat atau paling pintar. Hidup adalah perjalanan panjang yang menuntut daya tahan. Kecerdasan mungkin memberi keunggulan awal, tetapi disiplin dan konsistensi menentukan keberlanjutan. Tanpa keduanya, kecerdasan hanya akan menjadi potensi yang tidak pernah mewujud menjadi karya nyata.
Refleksi ini menjadi pengingat penting, khususnya bagi dunia pendidikan dan kampus: menjadi “biasa” bukanlah kekurangan. Selama seseorang konsisten belajar, berproses, dan melangkah, ia memiliki peluang besar untuk melesat jauh. Sebab dalam kehidupan, yang bertahan dan terus bergeraklah yang pada akhirnya sampai.
Wallohu a'lam







