Aku Kirimkan Hampers Lebaran Untukmu

 

ketakketikmustopa.com, Langit sore di halaman kampus STID Al-Biruni Cirebon tampak berwarna keemasan. Bulan Ramadhan hampir berakhir. Angin lembut berhembus membawa aroma gorengan dari kantin mahasiswa yang mulai menyiapkan takjil.

Di teras perpustakaan, Salsabila Nur Aini duduk sambil menutup mushaf Al-Qur’an yang baru saja ia baca. Wajahnya teduh, namun matanya menyimpan kerinduan yang sulit dijelaskan.

Sudah hampir dua tahun ia menjalani hari-hari tanpa kehadiran seseorang yang dulu selalu menemaninya di kampus.

Seseorang itu bernama Ahmad Faris.

Faris adalah mahasiswa dakwah yang sederhana, dikenal rajin ke masjid dan sering mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Namun setelah lulus, ia memilih merantau jauh ke **Kalimantan untuk mengajar di sebuah pesantren kecil di pedalaman.

Sebelum berangkat, di pelataran masjid kampus, Faris pernah berkata kepada Salsabila.

“Aku tidak ingin hubungan kita menjadi dosa.”

Salsabila menatapnya dengan mata berkaca.

“Aku juga tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya pelan.

Faris tersenyum tenang.

“Kalau kita berjodoh, Allah akan mempertemukan kita lagi dengan cara yang paling indah.”

Sejak hari itu, mereka tidak lagi sering berkomunikasi. Mereka memilih menjaga hati dengan jarak dan doa.

---

Ramadhan di Tanah Seberang

Di sebuah desa kecil di pedalaman Kalimantan, Faris baru saja selesai mengajar anak-anak mengaji selepas tarawih.

Lampu-lampu rumah kayu menyala redup di sepanjang tepian sungai.

Ia duduk di teras asrama sederhana sambil memandang langit malam.

“Sudah hampir lebaran,” gumamnya.

Tiba-tiba ia teringat seseorang di Cirebon.

Salsabila.

Ia teringat bagaimana gadis itu selalu membagikan takjil kepada mahasiswa yang masih berada di kampus. Ia juga ingat senyum Salsabila setiap kali mereka bertemu di perpustakaan.

Faris menghela napas.

“Aku tidak bisa pulang tahun ini…”

Pesantren tempatnya mengajar sedang membangun madrasah kecil, dan ia memilih tetap di sana membantu.

Namun malam itu sebuah ide muncul di benaknya.

“Kalau aku tidak bisa pulang… setidaknya aku bisa mengirimkan sesuatu.”

Keesokan harinya Faris pergi ke kota kecil terdekat. Ia membeli beberapa barang sederhana: Kurma, Kue kering lebaran,bMadu hutan Kalimantan, Tasbih kayu ulin, Sebuah mukena putih.

Semua ia susun rapi dalam sebuah kotak hampers.

Di atasnya ia menaruh sepucuk surat.

---

Paket yang Datang di Ujung Ramadhan

Tiga hari menjelang Idul Fitri, seorang kurir datang ke asrama putri kampus STID Al-Biruni Cirebon.

“Paket untuk Salsabila Nur Aini,” kata kurir itu.

Salsabila terkejut.

“Saya?”

Teman sekamarnya, Nadia Putri, langsung penasaran.

“Siapa yang kirim?”

Salsabila membaca alamat pengirim.

Dari Kalimantan.

Hatinya langsung berdebar.

Dengan tangan sedikit gemetar ia membuka kotak hampers itu.

Di dalamnya tersusun rapi hadiah-hadiah lebaran. Ada: Mukena putih yang lembut, Kurma, Madu hutan, Tasbih kayu.

Di bagian atas terdapat sebuah surat kecil. Salsabila membukanya perlahan:

Gambar surat dari Faris


Dear Salsabila…

Ramadhan tahun ini aku tidak bisa pulang ke Cirebon.

Namun bukan berarti aku lupa pada seseorang yang pernah berjalan bersamaku menuju masjid kampus.

Aku tidak ingin mengganggu hidupmu dengan kata-kata yang terlalu sering.

Tapi aku juga tidak ingin hatimu merasa sendiri.

Karena itu… aku kirimkan hampers lebaran ini.

Semoga setiap kurma yang kau makan menjadi pengingat bahwa di seberang pulau ada seseorang yang sedang belajar menjadi lelaki yang pantas menjemputmu.

Jika Allah mengizinkan…

Suatu hari nanti aku tidak akan mengirim hampers lagi.

Aku akan datang sendiri ke rumahmu membawa lamaran.

Ahmad Faris

Dari Kalimantan


---

Air mata Salsabila jatuh perlahan.

Nadia yang membaca surat itu ikut terdiam.

“MasyaAllah… ini cinta yang dijaga,” bisiknya.

Salsabila memeluk mukena putih dari hampers itu.

“Ini bukan sekadar hadiah,” katanya lirih.

“Ini janji.”

Di luar jendela, bedug maghrib mulai terdengar dari masjid kampus STID Al-Biruni Cirebon.

Salsabila berdiri, mengambil mukena itu, lalu berjalan menuju masjid.

Di dalam hatinya ia berdoa:

"Ya Allah… jika Faris adalah jodohku, pertemukan kami dalam akad yang Engkau ridai."

---

Di Kalimantan, Faris juga sedang berbuka puasa bersama para santri kecil di pesantren.

Ia tersenyum tenang.

Karena ia percaya satu hal: Cinta yang dijaga oleh iman tidak akan kalah oleh jarak.

Dan di antara dua pulau yang berjauhan, ada dua hati yang saling menjaga.

Dengan doa. Dengan kesetiaan.

Dan dengan sebuah hampers lebaran yang dikirimkan dari seberang negeri.

Bukber STID Al-Biruni Pererat Silaturahmi Civitas Akademika

ketakketikmustopa.com, Seperti tahun-tahun sebelumnya, kampus STID Al-Biruni Cirebon kembali menggelar acara buka puasa bersama (Bukber) di penghujung bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026 M. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus di Babakan Ciwaringin ini dihadiri oleh seluruh civitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga staf administrasi.

Acara buka bersama tersebut juga dihadiri oleh jajaran pimpinan lembaga di bawah naungan Yayasan Amal Albiruni. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Yayasan Amal Albiruni, KH. Uki Marzuki, Ketua STID Al-Biruni Dr. Imam Supardi, Wakil Ketua I Jauharudin, Wakil Ketua II Dr. Muhammad Gunawan, Wakil Ketua III Dr. Ahmad Zamakhsyari, serta Kepala SMK Al-Biruni Cirebon, Absori.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Amal Albiruni, KH. Uki Marzuki, MA, menyampaikan bahwa salah satu keberkahan dari ibadah puasa adalah terjalinnya persatuan dan kebersamaan di antara seluruh civitas yang berada di lingkungan Yayasan Amal Albiruni.

“Di antara keberkahan puasa adalah mempersatukan kita semua. Momentum Ramadhan ini menjadi sarana memperkuat ukhuwah di lingkungan lembaga kita,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pihak yayasan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang dikelolanya. Dalam waktu dekat, Yayasan Amal Albiruni berencana melakukan rehabilitasi serta penambahan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pembelajaran dan perkuliahan.

“Insya Allah dalam waktu dekat kami akan melakukan rehabilitasi serta penambahan sarana dan prasarana pendidikan. Kami mohon doa dari seluruh yang hadir agar rencana ini dapat berjalan dengan baik,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua STID Al-Biruni, Dr. Imam Supardi, M.H.I., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para dosen serta seluruh civitas akademika yang selama ini terus berkontribusi dalam mengembangkan kampus melalui berbagai karya dan kreativitas akademik, serta membimbing mahasiswa dalam proses pendidikan.

Ia juga mengungkapkan rencana besar lembaga untuk meningkatkan status kelembagaan di masa yang akan datang.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan civitas akademika Al-Biruni yang terus berkarya dan berinovasi dalam dunia akademik serta membimbing mahasiswa. Insya Allah ke depan kita juga akan melakukan penambahan dan perubahan status lembaga menjadi institut,” ungkapnya.

Acara buka puasa bersama berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa khotmil Qur’an yang dipimpin oleh KH. Abdul Kholik, pengasuh pesantren di kawasan Babakan Ciwaringin. Doa tersebut menjadi penutup yang khidmat, sekaligus harapan agar seluruh amal ibadah Ramadhan diterima oleh Allah SWT serta membawa keberkahan bagi lembaga dan seluruh civitas akademika.

Pesta Pernikahan Yang Sederhana

 


ketakketikmustopa.com, Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon pagi itu terasa berbeda. Di bawah rindang pohon-pohon tua yang biasa menjadi tempat diskusi mahasiswa, beberapa mahasiswa terlihat sibuk memasang tenda sederhana.

Bukan tenda pesta yang besar seperti di gedung pernikahan. Hanya tenda putih biasa, karpet hijau, dan beberapa kursi plastik yang ditata rapi.

Namun sebelum semua itu terjadi, sempat muncul perdebatan panjang.

---

Beberapa minggu sebelumnya, di rumah keluarga Fatimah, suasana ruang tamu terasa tegang.

Ayah Fatimah duduk bersandar sambil memegang brosur jasa dekorasi pernikahan.

“Fatimah,” kata ayahnya pelan namun tegas, “ini momen sekali seumur hidup. Masa pesta pernikahanmu hanya pakai tenda biasa?”

Ibunya menimpali,

“Teman-teman ibu semua kalau menikahkan anaknya pakai gedung besar. Dekorasinya bagus, lampunya cantik, makanannya banyak.”

Fatimah menunduk. Ia menghela napas pelan.

“Ayah, Ibu… aku tidak ingin pesta besar.”

Ayahnya terkejut.

“Kenapa?”

Fatimah menatap kedua orang tuanya dengan lembut.

“Karena yang penting bukan pestanya… tapi pernikahannya.”

Ibunya masih belum setuju.

“Tapi orang-orang akan bicara.”

Fatimah tersenyum kecil.

“Orang selalu bicara, Bu. Mau sederhana atau mewah.”

Beberapa saat ruangan itu hening.

Lalu Fatimah berkata lagi,

“Ayah pernah lihat pernikahan G-Z yang viral itu?”

Ayahnya mengernyit.

“Yang mana?”

“Yang viral di media sosial. Pernikahannya sangat sederhana. Tidak ada panggung mewah, tidak ada dekorasi mahal. Tapi semua orang justru terharu karena mereka terlihat bahagia dan tulus.”

Ibunya mulai memperhatikan.

Fatimah melanjutkan,

“Mereka menunjukkan bahwa pernikahan tidak harus mahal untuk menjadi bermakna.”

Ayahnya masih tampak ragu.

“Tapi ayah ingin yang terbaik untukmu.”

Fatimah mendekat dan memegang tangan ayahnya.

“Yang terbaik bukan yang paling mahal, Yah. Yang terbaik adalah yang paling berkah.”

---

Sementara itu di kampus STID Al-Biruni, Ahmad juga sedang berbicara dengan dosennya, Pak Mustopa.

Ahmad terlihat gelisah.

“Pak, saya takut mengecewakan orang tua Fatimah.”

Pak Mustopa tersenyum tenang.

“Kenapa?”

“Mereka ingin pesta besar. Tapi saya dan Fatimah ingin sederhana.”

Pak Mustopa mengangguk pelan.

“Pernikahan memang sering jadi ajang gengsi.”

Ahmad menatap beliau.

“Menurut Bapak bagaimana?”

Pak Mustopa berkata dengan suara lembut,

“Kalau kalian berdua sudah sepakat memilih kesederhanaan, itu keputusan yang baik. Selama tidak melukai orang tua, tetaplah hormati mereka.”

Ahmad mengangguk.

“Yang penting rumah tangga kalian punya arah yang jelas.”

---

Akhirnya setelah beberapa kali diskusi, ayah Fatimah mulai luluh.

Ia melihat kesungguhan anaknya.

“Baiklah,” katanya suatu malam, “kalau itu pilihanmu, ayah setuju.”

Fatimah memeluk ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih, Yah.”

---

Dan hari itu pun tiba.

Di halaman STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, akad nikah Ahmad dan Fatimah berlangsung dengan sangat sederhana.

Tidak ada lampu mewah.

Tidak ada dekorasi mahal.

Hanya tenda putih sederhana, bunga seadanya, dan doa-doa dari para mahasiswa serta dosen yang hadir.

Ketika Ahmad mengucapkan ijab kabul dengan lantang, para mahasiswa langsung berseru:

“Sah!”

Suasana menjadi haru.

Fatimah meneteskan air mata bahagia.

Ayah Fatimah yang duduk di barisan depan menatap sekeliling. Ia melihat para mahasiswa membantu melayani tamu, para dosen tersenyum hangat, dan suasana yang penuh keikhlasan.

Ia lalu berkata pelan kepada istrinya,

“Mungkin benar kata Fatimah.”

“Apa?”

“Ternyata kebahagiaan tidak perlu panggung besar.”

Ibunya tersenyum.

“Yang penting anak kita bahagia.”

---

Sore itu tenda sederhana di kampus mulai dibongkar oleh para mahasiswa.

Namun cerita tentang pernikahan sederhana itu menyebar cepat. Banyak yang terinspirasi.

Bukan karena kemewahannya.

Tetapi karena keberanian dua anak muda memilih sesuatu yang lebih penting daripada gengsi dunia.

Yaitu kesederhanaan, keikhlasan, dan arah hidup yang sama menuju ridha Allah.

-------

nb:

Nama pemeran, tokoh, tempat dalam cerita inibukan yang sebenarnya. Hanya faktor kebetulan saja

Mengenal Lebih Dekat Kampung Kebonjati, Rembes Tegalgubug



ketakketikmustopa.com, Kampung Kebonjati merupakan salah satu perkampungan yang terbilang masih muda di wilayah Rembes, Desa Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Meskipun usianya relatif baru, kampung ini berkembang cukup pesat dan kini menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi puluhan keluarga yang hidup berdampingan dalam suasana kekeluargaan.

Secara geografis, Kampung Kebonjati berada di lokasi yang cukup strategis. Di sebelah utara dan selatan kampung ini berbatasan dengan Pasar Sandang Tegalgubug yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tekstil terbesar di kawasan Cirebon. Sementara di sebelah timur berbatasan dengan Kampung Timur Leste, dan di sebelah barat berbatasan langsung dengan Jalan Rembes yang menjadi akses utama keluar masuk wilayah tersebut.

Jika menelusuri sejarahnya, Kampung Kebonjati pada awalnya bukanlah kawasan permukiman. Dahulu, wilayah ini merupakan hamparan persawahan dan perkebunan yang dimiliki oleh seorang tokoh masyarakat bernama H. Abdul Ajid. Di area tersebut banyak ditumbuhi tanaman jambu kelutuk serta pernah berdiri sebuah pohon jati yang menjadi penanda khas wilayah tersebut. Dari keberadaan pohon jati itulah kemudian muncul nama “Kebonjati”.

Sekitar awal tahun 2010-an, lahan pertanian tersebut mulai dikembangkan menjadi area kapling tanah untuk permukiman. Seiring waktu, rumah-rumah mulai berdiri satu per satu hingga akhirnya terbentuk sebuah lingkungan pemukiman yang kemudian dikenal sebagai Kampung Kebonjati. Kini, usia kampung ini diperkirakan telah mencapai sekitar 15 tahun.

Walaupun tergolong kampung baru, pertumbuhan penduduk di Kebonjati cukup signifikan. Saat ini kampung tersebut dihuni oleh lebih dari 100 orang warga yang terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Dalam kawasan tersebut telah berdiri sekitar 40 bangunan rumah warga yang membentuk lingkungan permukiman yang rapi dan tertata.

Selain rumah tinggal, Kampung Kebonjati juga memiliki beberapa fasilitas pendukung yang menunjang aktivitas masyarakat. Di antaranya terdapat Mushola Al-Falah yang menjadi pusat kegiatan ibadah warga, dua bangunan kos-kosan, dua area lapangan parkir, empat bangunan gudang, satu lapangan bulu tangkis sebagai sarana olahraga, serta satu sanggar senam yang menjadi tempat kegiatan kebugaran masyarakat.

Secara administratif, Kampung Kebonjati berada di wilayah Blok 5, Kebonjati Rembes dengan RT/RW 07/09, Desa Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Masyarakatnya dikenal memiliki semangat kebersamaan yang kuat dan mampu mengelola berbagai kegiatan sosial secara mandiri.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, warga Kebonjati secara rutin mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Di antaranya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan Isra Mi’raj, perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus, serta berbagai program unggulan selama bulan suci Ramadhan.

Khusus pada bulan Ramadhan, kegiatan keagamaan di Kampung Kebonjati berlangsung cukup semarak. Beberapa program yang rutin dilaksanakan antara lain kegiatan khatam Al-Qur’an bersama warga, pengajian kitab kuning seperti kitab Asrorus Shaum yang diasuh oleh Kang Agus Salamun, kitab Irsyadul Ibad oleh Kang Dede Mu’tashim Bih, serta kajian kitab Bidayatul Hidayah yang juga dibimbing oleh Kang Agus Salamun.

Selain kegiatan kajian keagamaan, warga juga mengadakan acara buka puasa bersama yang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Rangkaian kegiatan Ramadhan tersebut kemudian ditutup dengan acara Halal Bi Halal yang dilaksanakan setelah shalat Idul Fitri sebagai momentum saling memaafkan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Dengan semangat kebersamaan, religiusitas, serta kemandirian warganya, Kampung Kebonjati terus berkembang menjadi lingkungan yang harmonis dan penuh nilai kekeluargaan. Meskipun masih tergolong perkampungan baru, Kebonjati telah menunjukkan potensi sebagai komunitas masyarakat yang aktif, religius, dan solid dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

Air Mata Ramadhan di Kampus Dakwah

 


ketakketikmustopa.com, Senja Ramadhan turun perlahan di halaman STID Al-Biruni Cirebon.

Mahasiswa bergegas menuju masjid pesantren untuk berbuka puasa. Aroma kolak dan gorengan dari dapur asrama bercampur dengan suara lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Namun di tangga perpustakaan kampus, seorang mahasiswi duduk termenung.

Namanya Fitriani.

Di tangannya ada ponsel yang berkali-kali ia buka dan tutup.

Nama yang muncul di layar membuat dadanya berdebar.

Ahmad Fauzan – Cairo

Fauzan adalah lelaki yang sangat ia cintai. Mereka bertemu saat kuliah di kampus dakwah itu. Fauzan dikenal sebagai mahasiswa cerdas, sederhana, dan selalu menjadi imam shalat ketika kegiatan kampus.

Setelah lulus, Fauzan mendapat kesempatan melanjutkan studi S2 di Al-Azhar University.

Sejak itu cinta mereka harus dipisahkan oleh ribuan kilometer.

---

Lamaran yang Mengguncang Hati

Suatu malam Ramadhan, Fitriani dipanggil oleh ayahnya, Pak Haji Salim, ke ruang tamu.

Di sana duduk seorang pria berjas mahal dengan wibawa yang kuat.

Di luar rumah, sebuah mobil Pajero hitam terparkir mengkilap.

Ayahnya memperkenalkan,

“Ini Nak, Pak Rafi Pratama. Beliau CEO perusahaan air mineral Aqua Barokah.”

Pak Rafi tersenyum ramah.

“Saya datang untuk melamar Fitriani.”

Jantung Fitriani seperti berhenti berdetak.

Ibunya menatap penuh harap.

“Beliau orang baik, Nak. Masa depanmu terjamin.”

Namun dalam hati Fitriani hanya ada satu nama.

Fauzan.

---

Tangisan di Malam Ramadhan

Malam itu Fitriani menangis di kamarnya.

Bantal dan gulingnya basah oleh air mata.

Ia membuka WhatsApp dan menulis pesan.

Fitriani:

“Zan… orang tua menjodohkan aku dengan pengusaha…”

Beberapa menit kemudian balasan datang dari Kairo.

Fauzan:

“Kalau itu pilihan orang tuamu… jangan durhaka.”

Air mata Fitriani semakin deras.

Fitriani:

“Tapi aku mencintaimu…”

Balasan Fauzan datang sangat lama.

Akhirnya muncul satu kalimat.

Fauzan:

“Cinta tidak selalu harus memiliki.”

Fitriani memeluk gulingnya sambil menangis hingga tertidur.

---

Hari Pernikahan

Ramadhan ke-20.

Rumah Fitriani dipenuhi tamu undangan.

Karpet merah terbentang. Lampu-lampu hias menyala terang.

Fitriani duduk di kamar pengantin dengan wajah pucat.

Tangannya gemetar ketika menulis pesan terakhir.

Fitriani:

“Zan… hari ini aku menikah…”

Balasan datang dari Mesir.

Fauzan:

“Semoga Allah memberkahimu.”

Fitriani menutup wajahnya sambil menangis.

---

Syarat Malam Pertama

Malam itu Pak Rafi masuk ke kamar pengantin.

Ia tersenyum lembut.

“Mulai hari ini aku suamimu.”

Fitriani menunduk.

Dengan suara pelan ia berkata,

“Ada satu syarat.”

“Apa itu?”

“Jika ingin menyentuhku… hafalkan dulu Surat Yasin.”

Pak Rafi terdiam beberapa detik.

Lalu ia tersenyum.

“Baik.”

---

Sebulan yang Mengubah Hidup

Hari-hari berlalu.

Pak Rafi benar-benar berusaha menghafal Surat Yasin.

Di mobil, di kantor, bahkan sebelum tidur.

Namun setiap kali hampir hafal, ia lupa lagi.

Sebulan berlalu.

Fitriani masih tidur terpisah.

Namun yang mengejutkan, Pak Rafi tidak pernah marah.

Ia justru semakin rajin shalat berjamaah dan membaca Al-Qur’an.

Suatu malam ia pulang dari masjid.

“Fitriani… dengarkan.”

Lalu ia membaca dengan lancar.

“Yaa Siin… Wal Qur’aanil Hakiim…”

Fitriani terkejut.

Pak Rafi akhirnya hafal Surat Yasin.

Air mata Fitriani jatuh. Namun kali ini bukan karena sedih.

---

Rahasia yang Menggetarkan

Setelah itu Pak Rafi berkata pelan,

“Ada sesuatu yang belum kamu tahu.”

“Apa itu?”

“Aku mengenal Fauzan.”

Fitriani terkejut.

Pak Rafi membuka foto di ponselnya.

Foto Fauzan di halaman Al-Azhar University.

“Akulah yang membiayai kuliahnya.”

Fitriani gemetar.

“Kenapa…?”

Pak Rafi menjawab pelan,

“Karena dia yang memintaku menikahimu.”

Fitriani tidak mampu berkata apa-apa.

Pak Rafi melanjutkan,

“Dia bilang:

Jika aku benar-benar mencintai Fitriani, pastikan dia hidup tenang… meskipun bukan bersamaku.”

Air mata Fitriani mengalir deras.

---

Tiga Tahun Kemudian. Fitriani kini menjadi dosen di STID Al-Biruni Cirebon.

Suatu hari kampus mengadakan kuliah umum internasional.

Spanduk besar dipasang di halaman.

Dr. Ahmad Fauzan, Lc., M.A.

Fitriani membeku melihat nama itu.

---

Pertemuan yang Tak Terduga Aula kampus dipenuhi mahasiswa.

Ketika pembawa acara memanggil narasumber…

Seorang lelaki naik ke panggung.

Itu Fauzan.

Wajahnya lebih dewasa. Namun senyumnya masih sama.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada lagi luka. Hanya ketenangan.

---

Setelah acara selesai, mereka bertemu di ruang dosen.

Pak Rafi yang datang menjemput Fitriani berdiri dan memeluk Fauzan.

“Selamat, Doktor Fauzan.”

Fitriani bingung.

Pak Rafi menunjuk papan pengumuman kampus.

Di sana tertulis keputusan baru. Dr. Ahmad Fauzan diangkat menjadi dosen tetap.

Fitriani terdiam.

Pak Rafi tersenyum.

“Mulai semester depan kalian akan mengajar di kampus yang sama.”

Fauzan berkata pelan,

“Takdir Allah selalu indah.”

---

Senja turun di langit Babakan Ciwaringin. Suara adzan maghrib terdengar dari masjid pesantren.

Di halaman kampus STID Al-Biruni Cirebon, tiga orang berdiri dalam keheningan.

Mereka pernah dipersatukan oleh cinta.

Dipisahkan oleh takdir. Dan dipertemukan kembali oleh keikhlasan.

Karena pada akhirnya…

Cinta yang paling indah adalah cinta yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Antara Pajero dan Puisi

 


ketakketikmustopa.com, Pagi itu halaman Kampus STID Al-Biruni Cirebon tampak lebih ramai dari biasanya. Mahasiswa baru berbondong-bondong mengikuti kegiatan orientasi kampus. Spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang Mahasiswa Baru” terbentang di depan gedung utama.

Di antara kerumunan itu berdiri seorang gadis tinggi semampai, berjilbab rapi dengan wajah yang teduh. Namanya Gina. Kulitnya putih bersih, sorot matanya tenang, dan sikapnya sederhana. Ia lebih sering menunduk membaca buku catatan daripada sibuk berbincang seperti mahasiswa lainnya.

Di sisi lain lapangan, sebuah mobil Pajero hitam mengkilap berhenti perlahan. Pintu mobil terbuka dan seorang pemuda turun dengan gaya percaya diri. Kacamata hitam bertengger di hidungnya.

Dialah Arul.

Mahasiswa baru yang sudah terkenal sejak hari pertama karena kemewahannya. Banyak mahasiswa yang berbisik-bisik ketika melihatnya.

“Wah itu Arul ya? Katanya anak pengusaha besar di Cirebon,” bisik Mirela kepada Fatimah.

“Iya… tiap hari ke kampus bawa Pajero,” jawab Fatimah pelan.

Arul menatap sekeliling dengan santai. Namun pandangannya berhenti ketika melihat Gina yang sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku.

Arul tersenyum.

“Cantik juga,” gumamnya.

Sejak hari itu, Arul mulai sering mencari cara untuk mendekati Gina.

Suatu siang di kantin kampus.

Arul duduk di depan Gina dengan senyum khasnya.

“Gina, kamu tahu nggak?” kata Arul sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Gina mengangkat wajahnya sebentar.

“Apa?”

“Kamu itu seperti WiFi.”

Gina mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

“Karena tiap dekat kamu… hati aku langsung connect.”

Teman-teman di meja sebelah tertawa kecil.

Namun Gina hanya menutup bukunya dengan tenang.

“Arul, tugas tafsir besok sudah kamu kerjakan?” tanyanya datar.

Arul terdiam sesaat.

“Belum sih…”

“Kalau begitu lebih baik dikerjakan dulu.”

Gina berdiri lalu pergi meninggalkan Arul yang melongo.

Mirela yang melihat kejadian itu tertawa kecil.

“Raja gombal kena batunya,” katanya.

Sejak saat itu Arul semakin penasaran. Tidak ada gadis yang biasanya bisa menolak pesonanya. Tapi Gina berbeda.

Namun di kampus itu ada seorang mahasiswa lain yang hampir tidak pernah terlihat menonjol.

Namanya Robi.

Ia datang ke kampus dengan sepeda motor tua. Bajunya sederhana, tetapi matanya selalu terlihat cerdas. Banyak dosen memujinya karena kepintarannya.

Teman-temannya bahkan sering bercanda.

“Robi itu otaknya kayak Habibie versi pesantren,” kata Arul suatu hari.

Selain pintar, Robi juga seorang hafiz Al-Qur’an. Ia sering terlihat duduk di bawah pohon sambil menulis sesuatu di buku kecilnya.

Suatu sore Gina melewati taman kampus dan melihat Robi sedang menulis.

“Apa yang kamu tulis?” tanya Gina.

Robi terkejut sedikit lalu tersenyum.

“Cuma puisi.”

“Puisi?”

Robi mengangguk.

“Kadang hati manusia lebih mudah bicara lewat kata-kata.”

Gina tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya. Namun sejak hari itu Gina sering melihat Robi menulis.

Hari demi hari berlalu.

Hingga suatu malam kampus mengadakan Malam Amal Mahasiswa.

Lapangan kampus dihiasi lampu-lampu warna-warni. Banyak mahasiswa berkumpul. Malam itu menghadirkan artis tarling terkenal: Simbok Diana Sastra.

Musik tarling mulai dimainkan. Suasana meriah.

Ketika penyanyi mulai bernyanyi, Arul berdiri dengan penuh percaya diri.

Ia naik ke panggung sambil membawa uang.

“Sawer dulu!” teriaknya.

Ratusan ribu rupiah melayang di panggung. Mahasiswa bersorak.

Arul melirik ke arah Gina yang duduk bersama Fatimah dan Mirela.

Namun Gina hanya menonton biasa saja. Arul turun dari panggung lalu naik lagi beberapa kali.

Tetap saja Gina tidak bereaksi.

Arul mulai kesal dalam hati.

Tak lama kemudian MC berkata melalui mikrofon.

“Baik hadirin sekalian, sekarang kita akan mendengarkan pembacaan puisi dari mahasiswa kita yang terkenal sangat berbakat… saudara Robi!”

Tepuk tangan langsung bergema.

Robi berjalan pelan ke panggung dengan wajah sedikit gugup.

Ia membuka kertas kecil di tangannya. Suasana mendadak tenang.

Robi mulai membaca.

“Puisi ini berjudul…”

Ia berhenti sebentar. Matanya menatap ke arah Gina.

“Gina, Kaulah Segalanya.”

Mahasiswa langsung bersorak.

Arul tertegun.

Robi melanjutkan dengan suara tenang.

“Bukan mobil mewah yang membuat hati ini bergetar…

Bukan gemerlap dunia yang membuat jiwa ini berdebar…

Tetapi seorang gadis sederhana…

Yang lebih mencintai ilmu daripada pujian…”

Gina menatap panggung tanpa berkedip.

“Jika suatu hari engkau bertanya apa yang paling indah di dunia…

Maka jawabku sederhana…

Melihatmu berjalan membawa mimpi

Di antara halaman-halaman buku…”

Suasana menjadi hening. Beberapa mahasiswa bahkan terdiam tersentuh.

Robi menutup puisinya dengan pelan.

“Jika cinta adalah doa…

Maka namamu adalah ayat

Yang selalu kusebut dalam diam.”

Tepuk tangan menggema. Sorak sorai memenuhi lapangan.

Namun di tengah keramaian itu, Gina merasakan sesuatu di hatinya runtuh perlahan.

Ia tidak pernah menyangka. Puisi itu… untuknya.

Gina menunduk menahan air mata. Sementara Arul berdiri kaku di belakang kerumunan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kalah.

Bukan oleh harta. Bukan oleh mobil Pajero. Tetapi oleh sebuah puisi yang lahir dari hati yang tulus.

Malam itu Gina akhirnya memahami satu hal. Kemewahan bisa menarik perhatian.

Namun ketulusanlah yang mampu menyentuh hati.

Transformasi Sistem Pendidikan Indonesia di Era Digital

 

ketakketikmustopa.com, Buku ini menyoroti istilah pendidikan dan Perkembangan teknologi dan dinamika global yang menuntut sistem pendidikan untuk terus beradaptasi. Indonesia tidak luput dari arus perubahan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia melakukan berbagai pembaruan kebijakan pendidikan yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian publik adalah penguatan implementasi Kurikulum Merdeka di berbagai jenjang pendidikan. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas kepada guru dalam merancang proses pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi secara teoritis, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.¹

Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran juga diperkuat melalui program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Program ini bertujuan menanamkan nilai-nilai karakter seperti gotong royong, kemandirian, integritas, dan kepedulian sosial kepada peserta didik. Dengan demikian, pendidikan di Indonesia diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan karakter kebangsaan yang kuat.¹

Selain penguatan kurikulum, pemerintah juga mulai memperkenalkan inovasi baru dengan memasukkan pembelajaran koding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ke dalam kurikulum sekolah. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025, yang menyatakan bahwa mata pelajaran koding dan AI akan diterapkan secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026.²

Langkah ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan literasi digital siswa sejak dini. Dengan mempelajari konsep dasar pemrograman dan kecerdasan buatan, siswa diharapkan mampu memahami cara kerja teknologi modern serta memanfaatkannya secara produktif dan kreatif.²

Para pakar pendidikan menilai bahwa pengenalan teknologi digital sejak usia sekolah sangat penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi era ekonomi digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, keterampilan seperti berpikir logis, analisis data, serta kemampuan memecahkan masalah menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan.³

Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam dalam proses pendidikan. Pendekatan ini menekankan pemahaman konsep secara lebih komprehensif dan aplikatif. Siswa tidak lagi sekadar menghafal informasi, tetapi diajak untuk memahami makna, mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata, serta mengembangkan kemampuan refleksi dan analisis.³

Transformasi sistem pendidikan juga terlihat dalam perubahan sistem penerimaan siswa baru. Pemerintah berupaya menyempurnakan mekanisme yang sebelumnya dikenal sebagai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan berbagai perbaikan kebijakan agar akses pendidikan dapat lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.³

Meski berbagai kebijakan baru telah dirancang dengan baik, implementasinya tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kesiapan tenaga pendidik dalam mengadaptasi metode pembelajaran baru, terutama yang berkaitan dengan teknologi digital. Tidak semua guru memiliki latar belakang teknologi informasi yang memadai, sehingga diperlukan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan.

Selain itu, kesenjangan fasilitas pendidikan antara daerah perkotaan dan daerah terpencil juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Beberapa sekolah di wilayah tertentu masih menghadapi keterbatasan akses internet dan perangkat teknologi yang memadai. Tanpa dukungan infrastruktur yang merata, inovasi kurikulum berbasis teknologi akan sulit diterapkan secara optimal.

Oleh karena itu, pemerintah bersama berbagai pihak terus berupaya memperkuat ekosistem pendidikan melalui program peningkatan kompetensi guru, penyediaan sarana pembelajaran digital, serta penguatan kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia industri.

Para pengamat pendidikan menilai bahwa transformasi sistem pendidikan Indonesia merupakan langkah penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik semata, tetapi juga pada pengembangan karakter, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di masa depan, keberhasilan reformasi pendidikan Indonesia sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, guru, orang tua, serta masyarakat. Jika seluruh elemen tersebut dapat bekerja sama secara harmonis, maka sistem pendidikan Indonesia berpotensi melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Footnote:

1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Dokumen Implementasi Kurikulum Merdeka, Jakarta.

2. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang pembelajaran coding dan AI di sekolah; laporan berita pendidikan oleh ANTARA News mengenai implementasi kebijakan tersebut pada tahun ajaran 2025/2026.

3. Analisis kebijakan pendidikan dan pengembangan pembelajaran mendalam dalam laporan pendidikan oleh Medcom.id tentang kurikulum pendidikan Indonesia dan pendekatan deep learning di sekolah.