Filosofi Cecak dan Kucing: Meraih Rezeki dengan Ikhtiar dan Tawakal

 

ketakketikmustopa.com, Pagi itu ruang kelas di kampus terasa tenang. Matahari baru saja naik, cahayanya menembus jendela kelas dan jatuh di papan tulis. Para mahasiswa sudah duduk rapi. Di depan kelas, Pak Mustofa, seorang dosen yang dikenal sederhana, berdiri sambil memegang spidol.

Hari itu suasana kelas sedikit berbeda. Para mahasiswa tampak lebih serius dari biasanya. Mungkin karena banyak dari mereka sedang memikirkan masa depan, tugas kuliah, bahkan persoalan hidup masing-masing.

Pak Mustofa menulis sebuah judul di papan tulis.

“Filosofi Cecak dan Kucing.”

Mahasiswa saling berpandangan. Judul itu terdengar sederhana, tetapi juga misterius.

Pak Mustofa tersenyum.

“Anak-anak, hari ini kita tidak hanya belajar teori. Kita akan belajar dari makhluk kecil yang sering kita lihat di rumah.”

Beberapa mahasiswa tersenyum penasaran.

Tangan Azizah terangkat.

“Pak, maksudnya kita belajar dari hewan?”

Pak Mustofa mengangguk pelan.

“Betul, Azizah. Kadang-kadang pelajaran hidup justru datang dari hal yang paling sederhana.”

Ia kemudian berkata dengan suara tenang.

“Ketika hidup kita sedang bergemuruh karena tagihan yang menumpuk, impian yang belum tercapai, atau masa depan yang terlihat buram, cobalah katakan pada dirimu sendiri:”

Pak Mustofa berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Aku mungkin tidak bisa terbang, tapi bisa saja rezekiku sedang terbang menuju ke arahku. Aku mungkin tidak bisa menyelam, tapi bisa saja rezekiku sedang dibawa arus menuju pelataran rumahku.”

Kelas menjadi sunyi.

Rofi’i mengangkat tangan.

“Pak, kalau begitu apakah kita hanya perlu menunggu rezeki datang?”

Pak Mustofa tersenyum.

“Itulah yang sering disalahpahami.”

Ia berjalan pelan di depan kelas.

“Ketahuilah, kekhawatiran tidak akan mengubah hari esok. Ia hanya akan merampas kedamaianmu hari ini. Maka jangan habiskan energimu untuk mencemaskan apa yang sudah dijamin.”

“Gunakan energimu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Sang Pemilik rezeki.”

Para mahasiswa mengangguk pelan.

Pak Mustofa melanjutkan.

“Karena ketika Tuhan sudah berkehendak, hal yang paling mustahil sekalipun akan menjadi nyata.”

Ia menunjuk ke arah langit-langit kelas.

“Yang terbang akan hinggap. Yang menyelam akan menepi. Semua akan bertemu pada titik yang tepat, di waktu yang indah.”

Tiba-tiba Abdul Karim mengangkat tangan.

“Pak, kalau rezeki sudah dijamin, kenapa kita masih harus berusaha?”

Pak Mustofa menatapnya dengan ramah.

“Pertanyaan yang bagus, Karim.”

Ia lalu menunjuk ke arah dinding kelas.

Di sana seekor cecak sedang diam menempel di dekat lampu.

“Coba kalian lihat cecak itu.”

Mahasiswa mengikuti arah pandang dosen mereka.

“Cecak tidak akan kenyang jika ia hanya mematung tanpa menjulurkan lidahnya.”

Beberapa mahasiswa tersenyum.

“Dan kucing tidak akan mendapatkan ikan jika ia hanya tidur di pojok ruang.”

Abdul Mujib tertawa kecil.

“Benar juga, Pak. Kucing di rumah saya kalau lapar langsung mengeong keras.”

Pak Mustofa ikut tersenyum.

“Nah, di situlah pelajarannya.”

Ia kembali menatap seluruh kelas.

“Tuhan memang menjamin semua makhluk. Tetapi Dia juga mencintai hamba-Nya yang mengayunkan langkah, yang memeras keringat, dan yang tidak lelah mengetuk pintu-pintu ikhtiar.”

Pak Mustofa lalu menunjuk lagi ke arah cecak di dinding.

“Cecak tidak bisa terbang. Tapi perhatikan gerakannya.”

“Dia merayap. Ia berpindah dari satu titik ke titik lain.”

“Ia sabar mengintai. Ia memilih tempat di dekat cahaya lampu, karena di situlah nyamuk berkumpul.”

Azizah terlihat berpikir.

“Berarti cecak juga punya strategi ya, Pak?”

“Betul sekali,” jawab Pak Mustofa.

“Rezeki memang milik Tuhan. Tapi gerak adalah milikmu.”

Ia melanjutkan dengan suara tenang.

“Kamu mungkin tidak punya modal besar. Tapi kamu punya waktu.”

“Kamu mungkin tidak punya koneksi. Tapi kamu punya lisan untuk bertanya dan belajar.”

“Jika kamu hanya diam, nyamuk-nyamuk itu akan beterbangan begitu saja.”

Rofi’i kembali bertanya.

“Kalau filosofi kucing bagaimana, Pak?”

Pak Mustofa tertawa kecil.

“Ah, kucing itu guru kehidupan yang hebat.”

Ia melanjutkan.

“Kucing akan menunggu di dekat meja makan.”

“Ia akan mengeong menarik perhatian.”

“Atau ia berjalan berkilo-kilo meter mencari tempat di mana aroma ikan tercium.”

Kelas mulai terasa hidup.

Pak Mustofa berkata lagi,

“Kucing tidak duduk diam di dalam kardus kosong sambil berharap ikan jatuh dari langit.”

Mahasiswa tertawa pelan.

“Jadi kucing mengajarkan kita keberanian untuk muncul.”

Ia memandang para mahasiswa dengan serius.

“Kadang rezeki datang bukan karena kita menemukannya, tetapi karena kita menempatkan diri di tempat di mana rezeki itu biasa lewat.”

Abdul Karim terlihat semakin tertarik.

“Pak, kalau begitu bagaimana cara kita menempatkan diri?”

Pak Mustofa menjawab perlahan.

“Kamu ingin sukses di bidang tertentu?”

“Datanglah ke bidang itu.”

“Belajarlah.”

“Bergabunglah dengan orang-orang yang ada di sana.”

“Asahlah keahlianmu.”

“Kamu harus terlihat oleh peluang, sebagaimana kucing terlihat oleh pemilik ikan.”

Suasana kelas menjadi sangat hening.

Pak Mustofa kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat yang dalam.

“Bekerja keraslah seolah-olah semuanya bergantung pada usahamu.”

“Namun berdoalah seolah-olah semuanya hanya bergantung kepada Tuhan.”

“Itulah keseimbangan sejati.”

Ia menatap para mahasiswa satu per satu.

“Jangan menjadi cecak yang hanya bermimpi terbang hingga lupa bagaimana cara merayap.”

“Dan jangan menjadi kucing yang hanya berkhayal mendapatkan ikan hingga lupa cara mencari jalan.”

Bel tanda kuliah hampir berbunyi.

Namun sebelum keluar kelas, Azizah berkata pelan.

“Pak… ternyata pelajaran hidup bisa datang dari cecak dan kucing.”

Pak Mustofa tersenyum hangat.

“Karena sesungguhnya,” katanya pelan,

“Tuhan menaruh hikmah di mana saja. Tugas kita hanya membuka mata dan hati untuk melihatnya.”

Melabuhkan Cinta pada Allah

 

ketakketikmustopa.com, Sepuluh malam terakhir Ramadhan membuat masjid kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu tetap menyala hingga menjelang subuh. Para mahasiswa beritikaf, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa dengan penuh harap. Suasana hening itu dipenuhi dengan bisikan ayat-ayat suci yang dilantunkan dengan lirih.

Di salah satu sudut masjid, dekat jendela yang terbuka, Aisyah duduk bersila dengan mushaf di pangkuannya. Wajahnya tenang, tetapi di dalam hatinya sedang terjadi perjalanan panjang yang tidak semua orang mengetahuinya.

Dulu Aisyah dikenal sebagai mahasiswi yang sering menjuarai Musabaqah Tilawatil Qur’an. Suaranya merdu dan bacaan tajwidnya hampir sempurna. Namun seiring waktu, kesibukan kuliah, organisasi, dan berbagai urusan dunia sempat membuatnya jauh dari mushaf yang dulu selalu menemaninya.

Ramadhan tahun ini seperti panggilan yang lembut bagi hatinya. Ia kembali datang ke masjid setiap malam, membuka mushafnya perlahan, dan membaca ayat demi ayat dengan hati yang lebih tenang. Ia tidak lagi membaca dengan tergesa-gesa, tetapi mencoba memahami setiap makna yang disampaikan oleh firman Allah.

Ketika ia sedang membaca dengan khusyuk, seseorang duduk beberapa langkah darinya.

“Aisyah.”

Aisyah menoleh dan tersenyum.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Fahri.

Fahri adalah mahasiswa yang dikenal aktif dalam kegiatan dakwah kampus. Hidupnya sederhana, tetapi kecintaannya kepada Al-Qur’an begitu besar. Hampir setiap malam ia berada di masjid, membaca dan merenungi ayat-ayat Allah.

Fahri melihat mushaf yang terbuka di tangan Aisyah.

“Kamu sekarang sering di masjid,” katanya dengan nada lembut.

Aisyah tersenyum.

“Aku sedang belajar pulang.”

Fahri sedikit heran. “Pulang ke mana?”

Aisyah menatap mushafnya sejenak sebelum menjawab.

“Pulang kepada Allah.”

Angin malam masuk melalui jendela masjid. Suasana terasa damai, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.

Beberapa menit mereka membaca Al-Qur’an dalam diam. Suara halaman mushaf yang dibalik terdengar sangat pelan di tengah kesunyian malam.

Kemudian Fahri berkata, “Aisyah, aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa?”

Fahri menatap lantai masjid sejenak sebelum melanjutkan.

“Saat pertama kali melihatmu kembali membaca Al-Qur’an di masjid beberapa minggu lalu, aku tahu kamu sedang berjuang dengan hatimu.”

Aisyah tersenyum kecil.

“Mungkin terlihat jelas ya.”

Fahri tertawa pelan.

“Sedikit. Tapi aku juga melihat sesuatu yang lain.”

“Apa itu?”

“Kecintaanmu kepada Allah sebenarnya sangat besar. Hanya saja sempat tertutup oleh kesibukan dunia.”

Aisyah menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku hampir kehilangan arah waktu itu,” katanya lirih.

Fahri menggeleng perlahan.

“Tidak. Orang yang masih mencari Allah berarti belum benar-benar jauh dari-Nya.”

Kata-kata itu membuat hati Aisyah terasa hangat.

Malam semakin larut. Sebagian mahasiswa yang beritikaf mulai tertidur di sudut-sudut masjid. Namun Aisyah dan Fahri masih duduk dengan mushaf di tangan mereka.

“Aisyah,” kata Fahri perlahan.

“Iya?”

“Aku tidak tahu bagaimana masa depan kita. Aku juga tidak tahu rencana Allah untuk hidup kita.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi aku tahu satu hal.”

Aisyah menatapnya dengan penuh perhatian.

“Aku ingin hidup dengan seseorang yang sama-sama melabuhkan cintanya kepada Allah.”

Aisyah terdiam. Kata-kata itu terasa sangat tulus.

Ia kemudian berkata dengan suara lembut, “Aku juga sedang belajar melakukan itu.”

“Melabuhkan cinta kepada Allah?”

Aisyah mengangguk.

“Karena aku sadar, ketika hati kita benar-benar mencintai Allah, semua yang lain akan menemukan tempatnya.”

Pada saat itu Ustadz Rahman, imam masjid kampus yang dikenal bijaksana, berjalan melewati mereka. Ia melihat keduanya masih membaca mushaf.

Beliau tersenyum lembut.

“MasyaAllah. Malam-malam terakhir Ramadhan memang sering menjadi waktu bagi hati untuk kembali kepada Allah.”

Fahri dan Aisyah menunduk hormat.

Ustadz Rahman melanjutkan, “Jika seseorang melabuhkan cintanya kepada Allah, maka Allah akan menenangkan hatinya. Dan jika dua orang bertemu dalam perjalanan menuju Allah, itu adalah karunia yang sangat besar.”

Kata-kata itu membuat suasana semakin hening dan penuh makna.

Menjelang waktu tahajud, Aisyah menutup mushafnya perlahan.

“Aku bersyukur,” katanya.

“Kenapa?” tanya Fahri.

“Karena Ramadhan tahun ini Allah mengajarkanku sesuatu yang sangat berharga.”

“Apa itu?”

Aisyah tersenyum.

“Bahwa cinta yang paling indah bukanlah cinta kepada manusia, tetapi cinta kepada Allah. Dari situlah semua cinta yang lain akan menemukan arah.”

Fahri mengangguk pelan.

Angin malam Ramadhan berhembus lembut melalui jendela masjid.

Di tempat yang sunyi itu, dua hati sedang belajar melabuhkan cintanya pada satu tujuan yang sama.

Bukan pada dunia. Bukan pada manusia.

Tetapi pada Allah Yang Maha Mencintai hamba-Nya.

DEMA STID Al-Biruni Bersama FORMATUR Tebar Takjil di Cirebon Timur

 

ketakketikmustopa.com – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon turut ambil bagian dalam kegiatan Tebar Takjil FORMATUR (Forum Umat Antar Beragama Cirebon Timur) ke-10 yang digelar di Jalan Raya Sigong Lemahabang, tepatnya di depan SMA NU Lemahabang, Cirebon Timur. (13/3/2026).

Kegiatan sosial yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa ini diikuti oleh berbagai organisasi kemasyarakatan dan lintas agama yang tergabung dalam FORMATUR Cirebon Timur. Puluhan relawan tampak membagikan paket takjil kepada para pengguna jalan, pelajar, serta masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.

Partisipasi mahasiswa STID Al-Biruni tidak hanya dalam bentuk berbagi takjil kepada masyarakat, tetapi juga mempromosikan kampus dengan membagikan brosur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) kepada para pelajar dan warga sekitar.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya aktif di lingkungan kampus, tetapi juga hadir di tengah masyarakat dengan semangat berbagi, kepedulian sosial, dan pengabdian.

Mengusung semangat “Satu Hati dalam Keberagaman”, kegiatan ini menjadi potret indah kebersamaan lintas organisasi dan lintas agama di Cirebon Timur. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi mahasiswa, kelompok pemuda, hingga tokoh lintas agama, bersatu dalam aksi kemanusiaan yang sederhana namun sarat makna.

Syifaurrizqi, selaku koordinator kegiatan sekaligus mewakili Ketua DEMA STID Al-Biruni, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi di bulan suci Ramadhan, tetapi juga untuk memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan Tebar Takjil FORMATUR yang ke-10 ini, kami berharap nilai toleransi, kebersamaan, dan kepedulian sosial semakin tumbuh di tengah masyarakat Cirebon Timur, sekaligus mempererat persaudaraan dalam keberagaman,” ujarnya.

@potsum, jurnalis al-biruni 

Aku Kirimkan Hampers Lebaran Untukmu

 

ketakketikmustopa.com, Langit sore di halaman kampus STID Al-Biruni Cirebon tampak berwarna keemasan. Bulan Ramadhan hampir berakhir. Angin lembut berhembus membawa aroma gorengan dari kantin mahasiswa yang mulai menyiapkan takjil.

Di teras perpustakaan, Salsabila Nur Aini duduk sambil menutup mushaf Al-Qur’an yang baru saja ia baca. Wajahnya teduh, namun matanya menyimpan kerinduan yang sulit dijelaskan.

Sudah hampir dua tahun ia menjalani hari-hari tanpa kehadiran seseorang yang dulu selalu menemaninya di kampus.

Seseorang itu bernama Ahmad Faris.

Faris adalah mahasiswa dakwah yang sederhana, dikenal rajin ke masjid dan sering mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Namun setelah lulus, ia memilih merantau jauh ke **Kalimantan untuk mengajar di sebuah pesantren kecil di pedalaman.

Sebelum berangkat, di pelataran masjid kampus, Faris pernah berkata kepada Salsabila.

“Aku tidak ingin hubungan kita menjadi dosa.”

Salsabila menatapnya dengan mata berkaca.

“Aku juga tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya pelan.

Faris tersenyum tenang.

“Kalau kita berjodoh, Allah akan mempertemukan kita lagi dengan cara yang paling indah.”

Sejak hari itu, mereka tidak lagi sering berkomunikasi. Mereka memilih menjaga hati dengan jarak dan doa.

---

Ramadhan di Tanah Seberang

Di sebuah desa kecil di pedalaman Kalimantan, Faris baru saja selesai mengajar anak-anak mengaji selepas tarawih.

Lampu-lampu rumah kayu menyala redup di sepanjang tepian sungai.

Ia duduk di teras asrama sederhana sambil memandang langit malam.

“Sudah hampir lebaran,” gumamnya.

Tiba-tiba ia teringat seseorang di Cirebon.

Salsabila.

Ia teringat bagaimana gadis itu selalu membagikan takjil kepada mahasiswa yang masih berada di kampus. Ia juga ingat senyum Salsabila setiap kali mereka bertemu di perpustakaan.

Faris menghela napas.

“Aku tidak bisa pulang tahun ini…”

Pesantren tempatnya mengajar sedang membangun madrasah kecil, dan ia memilih tetap di sana membantu.

Namun malam itu sebuah ide muncul di benaknya.

“Kalau aku tidak bisa pulang… setidaknya aku bisa mengirimkan sesuatu.”

Keesokan harinya Faris pergi ke kota kecil terdekat. Ia membeli beberapa barang sederhana: Kurma, Kue kering lebaran,bMadu hutan Kalimantan, Tasbih kayu ulin, Sebuah mukena putih.

Semua ia susun rapi dalam sebuah kotak hampers.

Di atasnya ia menaruh sepucuk surat.

---

Paket yang Datang di Ujung Ramadhan

Tiga hari menjelang Idul Fitri, seorang kurir datang ke asrama putri kampus STID Al-Biruni Cirebon.

“Paket untuk Salsabila Nur Aini,” kata kurir itu.

Salsabila terkejut.

“Saya?”

Teman sekamarnya, Nadia Putri, langsung penasaran.

“Siapa yang kirim?”

Salsabila membaca alamat pengirim.

Dari Kalimantan.

Hatinya langsung berdebar.

Dengan tangan sedikit gemetar ia membuka kotak hampers itu.

Di dalamnya tersusun rapi hadiah-hadiah lebaran. Ada: Mukena putih yang lembut, Kurma, Madu hutan, Tasbih kayu.

Di bagian atas terdapat sebuah surat kecil. Salsabila membukanya perlahan:

Gambar surat dari Faris


Dear Salsabila…

Ramadhan tahun ini aku tidak bisa pulang ke Cirebon.

Namun bukan berarti aku lupa pada seseorang yang pernah berjalan bersamaku menuju masjid kampus.

Aku tidak ingin mengganggu hidupmu dengan kata-kata yang terlalu sering.

Tapi aku juga tidak ingin hatimu merasa sendiri.

Karena itu… aku kirimkan hampers lebaran ini.

Semoga setiap kurma yang kau makan menjadi pengingat bahwa di seberang pulau ada seseorang yang sedang belajar menjadi lelaki yang pantas menjemputmu.

Jika Allah mengizinkan…

Suatu hari nanti aku tidak akan mengirim hampers lagi.

Aku akan datang sendiri ke rumahmu membawa lamaran.

Ahmad Faris

Dari Kalimantan


---

Air mata Salsabila jatuh perlahan.

Nadia yang membaca surat itu ikut terdiam.

“MasyaAllah… ini cinta yang dijaga,” bisiknya.

Salsabila memeluk mukena putih dari hampers itu.

“Ini bukan sekadar hadiah,” katanya lirih.

“Ini janji.”

Di luar jendela, bedug maghrib mulai terdengar dari masjid kampus STID Al-Biruni Cirebon.

Salsabila berdiri, mengambil mukena itu, lalu berjalan menuju masjid.

Di dalam hatinya ia berdoa:

"Ya Allah… jika Faris adalah jodohku, pertemukan kami dalam akad yang Engkau ridai."

---

Di Kalimantan, Faris juga sedang berbuka puasa bersama para santri kecil di pesantren.

Ia tersenyum tenang.

Karena ia percaya satu hal: Cinta yang dijaga oleh iman tidak akan kalah oleh jarak.

Dan di antara dua pulau yang berjauhan, ada dua hati yang saling menjaga.

Dengan doa. Dengan kesetiaan.

Dan dengan sebuah hampers lebaran yang dikirimkan dari seberang negeri.

Bukber STID Al-Biruni Pererat Silaturahmi Civitas Akademika

ketakketikmustopa.com, Seperti tahun-tahun sebelumnya, kampus STID Al-Biruni Cirebon kembali menggelar acara buka puasa bersama (Bukber) di penghujung bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026 M. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus di Babakan Ciwaringin ini dihadiri oleh seluruh civitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga staf administrasi.

Acara buka bersama tersebut juga dihadiri oleh jajaran pimpinan lembaga di bawah naungan Yayasan Amal Albiruni. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Yayasan Amal Albiruni, KH. Uki Marzuki, Ketua STID Al-Biruni Dr. Imam Supardi, Wakil Ketua I Jauharudin, Wakil Ketua II Dr. Muhammad Gunawan, Wakil Ketua III Dr. Ahmad Zamakhsyari, serta Kepala SMK Al-Biruni Cirebon, Absori.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Amal Albiruni, KH. Uki Marzuki, MA, menyampaikan bahwa salah satu keberkahan dari ibadah puasa adalah terjalinnya persatuan dan kebersamaan di antara seluruh civitas yang berada di lingkungan Yayasan Amal Albiruni.

“Di antara keberkahan puasa adalah mempersatukan kita semua. Momentum Ramadhan ini menjadi sarana memperkuat ukhuwah di lingkungan lembaga kita,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pihak yayasan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang dikelolanya. Dalam waktu dekat, Yayasan Amal Albiruni berencana melakukan rehabilitasi serta penambahan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pembelajaran dan perkuliahan.

“Insya Allah dalam waktu dekat kami akan melakukan rehabilitasi serta penambahan sarana dan prasarana pendidikan. Kami mohon doa dari seluruh yang hadir agar rencana ini dapat berjalan dengan baik,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua STID Al-Biruni, Dr. Imam Supardi, M.H.I., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para dosen serta seluruh civitas akademika yang selama ini terus berkontribusi dalam mengembangkan kampus melalui berbagai karya dan kreativitas akademik, serta membimbing mahasiswa dalam proses pendidikan.

Ia juga mengungkapkan rencana besar lembaga untuk meningkatkan status kelembagaan di masa yang akan datang.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan civitas akademika Al-Biruni yang terus berkarya dan berinovasi dalam dunia akademik serta membimbing mahasiswa. Insya Allah ke depan kita juga akan melakukan penambahan dan perubahan status lembaga menjadi institut,” ungkapnya.

Acara buka puasa bersama berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa khotmil Qur’an yang dipimpin oleh KH. Abdul Kholik, pengasuh pesantren di kawasan Babakan Ciwaringin. Doa tersebut menjadi penutup yang khidmat, sekaligus harapan agar seluruh amal ibadah Ramadhan diterima oleh Allah SWT serta membawa keberkahan bagi lembaga dan seluruh civitas akademika.

Pesta Pernikahan Yang Sederhana

 


ketakketikmustopa.com, Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon pagi itu terasa berbeda. Di bawah rindang pohon-pohon tua yang biasa menjadi tempat diskusi mahasiswa, beberapa mahasiswa terlihat sibuk memasang tenda sederhana.

Bukan tenda pesta yang besar seperti di gedung pernikahan. Hanya tenda putih biasa, karpet hijau, dan beberapa kursi plastik yang ditata rapi.

Namun sebelum semua itu terjadi, sempat muncul perdebatan panjang.

---

Beberapa minggu sebelumnya, di rumah keluarga Fatimah, suasana ruang tamu terasa tegang.

Ayah Fatimah duduk bersandar sambil memegang brosur jasa dekorasi pernikahan.

“Fatimah,” kata ayahnya pelan namun tegas, “ini momen sekali seumur hidup. Masa pesta pernikahanmu hanya pakai tenda biasa?”

Ibunya menimpali,

“Teman-teman ibu semua kalau menikahkan anaknya pakai gedung besar. Dekorasinya bagus, lampunya cantik, makanannya banyak.”

Fatimah menunduk. Ia menghela napas pelan.

“Ayah, Ibu… aku tidak ingin pesta besar.”

Ayahnya terkejut.

“Kenapa?”

Fatimah menatap kedua orang tuanya dengan lembut.

“Karena yang penting bukan pestanya… tapi pernikahannya.”

Ibunya masih belum setuju.

“Tapi orang-orang akan bicara.”

Fatimah tersenyum kecil.

“Orang selalu bicara, Bu. Mau sederhana atau mewah.”

Beberapa saat ruangan itu hening.

Lalu Fatimah berkata lagi,

“Ayah pernah lihat pernikahan G-Z yang viral itu?”

Ayahnya mengernyit.

“Yang mana?”

“Yang viral di media sosial. Pernikahannya sangat sederhana. Tidak ada panggung mewah, tidak ada dekorasi mahal. Tapi semua orang justru terharu karena mereka terlihat bahagia dan tulus.”

Ibunya mulai memperhatikan.

Fatimah melanjutkan,

“Mereka menunjukkan bahwa pernikahan tidak harus mahal untuk menjadi bermakna.”

Ayahnya masih tampak ragu.

“Tapi ayah ingin yang terbaik untukmu.”

Fatimah mendekat dan memegang tangan ayahnya.

“Yang terbaik bukan yang paling mahal, Yah. Yang terbaik adalah yang paling berkah.”

---

Sementara itu di kampus STID Al-Biruni, Ahmad juga sedang berbicara dengan dosennya, Pak Mustopa.

Ahmad terlihat gelisah.

“Pak, saya takut mengecewakan orang tua Fatimah.”

Pak Mustopa tersenyum tenang.

“Kenapa?”

“Mereka ingin pesta besar. Tapi saya dan Fatimah ingin sederhana.”

Pak Mustopa mengangguk pelan.

“Pernikahan memang sering jadi ajang gengsi.”

Ahmad menatap beliau.

“Menurut Bapak bagaimana?”

Pak Mustopa berkata dengan suara lembut,

“Kalau kalian berdua sudah sepakat memilih kesederhanaan, itu keputusan yang baik. Selama tidak melukai orang tua, tetaplah hormati mereka.”

Ahmad mengangguk.

“Yang penting rumah tangga kalian punya arah yang jelas.”

---

Akhirnya setelah beberapa kali diskusi, ayah Fatimah mulai luluh.

Ia melihat kesungguhan anaknya.

“Baiklah,” katanya suatu malam, “kalau itu pilihanmu, ayah setuju.”

Fatimah memeluk ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih, Yah.”

---

Dan hari itu pun tiba.

Di halaman STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, akad nikah Ahmad dan Fatimah berlangsung dengan sangat sederhana.

Tidak ada lampu mewah.

Tidak ada dekorasi mahal.

Hanya tenda putih sederhana, bunga seadanya, dan doa-doa dari para mahasiswa serta dosen yang hadir.

Ketika Ahmad mengucapkan ijab kabul dengan lantang, para mahasiswa langsung berseru:

“Sah!”

Suasana menjadi haru.

Fatimah meneteskan air mata bahagia.

Ayah Fatimah yang duduk di barisan depan menatap sekeliling. Ia melihat para mahasiswa membantu melayani tamu, para dosen tersenyum hangat, dan suasana yang penuh keikhlasan.

Ia lalu berkata pelan kepada istrinya,

“Mungkin benar kata Fatimah.”

“Apa?”

“Ternyata kebahagiaan tidak perlu panggung besar.”

Ibunya tersenyum.

“Yang penting anak kita bahagia.”

---

Sore itu tenda sederhana di kampus mulai dibongkar oleh para mahasiswa.

Namun cerita tentang pernikahan sederhana itu menyebar cepat. Banyak yang terinspirasi.

Bukan karena kemewahannya.

Tetapi karena keberanian dua anak muda memilih sesuatu yang lebih penting daripada gengsi dunia.

Yaitu kesederhanaan, keikhlasan, dan arah hidup yang sama menuju ridha Allah.

-------

nb:

Nama pemeran, tokoh, tempat dalam cerita inibukan yang sebenarnya. Hanya faktor kebetulan saja

Mengenal Lebih Dekat Kampung Kebonjati, Rembes Tegalgubug



ketakketikmustopa.com, Kampung Kebonjati merupakan salah satu perkampungan yang terbilang masih muda di wilayah Rembes, Desa Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Meskipun usianya relatif baru, kampung ini berkembang cukup pesat dan kini menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi puluhan keluarga yang hidup berdampingan dalam suasana kekeluargaan.

Secara geografis, Kampung Kebonjati berada di lokasi yang cukup strategis. Di sebelah utara dan selatan kampung ini berbatasan dengan Pasar Sandang Tegalgubug yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tekstil terbesar di kawasan Cirebon. Sementara di sebelah timur berbatasan dengan Kampung Timur Leste, dan di sebelah barat berbatasan langsung dengan Jalan Rembes yang menjadi akses utama keluar masuk wilayah tersebut.

Jika menelusuri sejarahnya, Kampung Kebonjati pada awalnya bukanlah kawasan permukiman. Dahulu, wilayah ini merupakan hamparan persawahan dan perkebunan yang dimiliki oleh seorang tokoh masyarakat bernama H. Abdul Ajid. Di area tersebut banyak ditumbuhi tanaman jambu kelutuk serta pernah berdiri sebuah pohon jati yang menjadi penanda khas wilayah tersebut. Dari keberadaan pohon jati itulah kemudian muncul nama “Kebonjati”.

Sekitar awal tahun 2010-an, lahan pertanian tersebut mulai dikembangkan menjadi area kapling tanah untuk permukiman. Seiring waktu, rumah-rumah mulai berdiri satu per satu hingga akhirnya terbentuk sebuah lingkungan pemukiman yang kemudian dikenal sebagai Kampung Kebonjati. Kini, usia kampung ini diperkirakan telah mencapai sekitar 15 tahun.

Walaupun tergolong kampung baru, pertumbuhan penduduk di Kebonjati cukup signifikan. Saat ini kampung tersebut dihuni oleh lebih dari 100 orang warga yang terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Dalam kawasan tersebut telah berdiri sekitar 40 bangunan rumah warga yang membentuk lingkungan permukiman yang rapi dan tertata.

Selain rumah tinggal, Kampung Kebonjati juga memiliki beberapa fasilitas pendukung yang menunjang aktivitas masyarakat. Di antaranya terdapat Mushola Al-Falah yang menjadi pusat kegiatan ibadah warga, dua bangunan kos-kosan, dua area lapangan parkir, empat bangunan gudang, satu lapangan bulu tangkis sebagai sarana olahraga, serta satu sanggar senam yang menjadi tempat kegiatan kebugaran masyarakat.

Secara administratif, Kampung Kebonjati berada di wilayah Blok 5, Kebonjati Rembes dengan RT/RW 07/09, Desa Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Masyarakatnya dikenal memiliki semangat kebersamaan yang kuat dan mampu mengelola berbagai kegiatan sosial secara mandiri.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, warga Kebonjati secara rutin mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Di antaranya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan Isra Mi’raj, perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus, serta berbagai program unggulan selama bulan suci Ramadhan.

Khusus pada bulan Ramadhan, kegiatan keagamaan di Kampung Kebonjati berlangsung cukup semarak. Beberapa program yang rutin dilaksanakan antara lain kegiatan khatam Al-Qur’an bersama warga, pengajian kitab kuning seperti kitab Asrorus Shaum yang diasuh oleh Kang Agus Salamun, kitab Irsyadul Ibad oleh Kang Dede Mu’tashim Bih, serta kajian kitab Bidayatul Hidayah yang juga dibimbing oleh Kang Agus Salamun.

Selain kegiatan kajian keagamaan, warga juga mengadakan acara buka puasa bersama yang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Rangkaian kegiatan Ramadhan tersebut kemudian ditutup dengan acara Halal Bi Halal yang dilaksanakan setelah shalat Idul Fitri sebagai momentum saling memaafkan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Dengan semangat kebersamaan, religiusitas, serta kemandirian warganya, Kampung Kebonjati terus berkembang menjadi lingkungan yang harmonis dan penuh nilai kekeluargaan. Meskipun masih tergolong perkampungan baru, Kebonjati telah menunjukkan potensi sebagai komunitas masyarakat yang aktif, religius, dan solid dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.