ketakketikmustopa.com, Malam itu angin berhembus lembut di halaman rumah kecil Pak Budiman di pinggiran . Usai menunaikan sholat tarawih, keluarga kecil itu duduk santai di teras. Lampu temaram menggantung di atas pintu, sementara suara jangkrik bersahutan di kejauhan.
Pak Budiman menyeruput teh hangat.
“Alhamdulillah… malam Ramadhan begini paling enak kumpul keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba dari ujung gang terdengar suara khas yang memecah suasana.
“Taahu gejroooot… tahu gejrot…!”
Neng Euis Nurjanah yang sejak tadi bersandar di bahu ibunya langsung bangkit.
“Mah… itu tahu gejrot! Euis pengen…” katanya manja.
Ibu tersenyum. “Ya sudah, mumpung lagi lewat.”
Ia berdiri dan memanggil penjualnya. “Mang, ke sini! Pesan tiga, ya!”
Tak lama kemudian, tiga mangkuk kecil dari tanah liat tersaji di meja. Tanpa sendok. Hanya beberapa biting (tusuk kayu kecil) yang ditancapkan di potongan tahu.
Euis langsung menusuk sepotong tahu, mencelupkannya ke kuah cokelat kemerahan yang bercampur bawang merah dan cabai rawit.
“Am… pedes tapi enak!” serunya dengan mata berbinar.
Pak Budiman terkekeh. “Nah, itu dia khasnya .”
“Memangnya dari mana sih, Pak?” tanya Euis penasaran.
Pak Budiman meletakkan cangkirnya. “Tahu gejrot itu asalnya dari daerah Ciledug, Cirebon Timur. Dulu pedagangnya keliling kampung sambil pikul dagangan. Tahu pong digoreng dulu sampai kopong bagian tengahnya. Makanya disebut tahu pong.”
“Kenapa harus tahu pong, Pak?” tanya istrinya.
“Karena bagian dalamnya kosong,” jawab Pak Budiman. “Supaya kuahnya meresap. Kuahnya itu dibuat dari gula merah yang dilarutkan dengan air, ditambah cuka biar asam, bawang merah yang diiris tipis, cabai rawit yang diulek kasar, dan sedikit garam. Semua disiramkan begitu saja ke atas tahu. Bunyi siramannya ‘jrot… jrot…’ Makanya disebut gejrot.”
Euis manggut-manggut sambil tetap makan. “Pantes rasanya campur-campur…”
Pak Budiman tersenyum bijak. “Nah, di situlah filosofinya, Neng.”
“Filosofi?” Euis mengernyit.
“Iya,” lanjut Pak Budiman. “Hidup itu seperti tahu gejrot. Ada manisnya dari gula merah, itu seperti kebahagiaan. Ada asamnya dari cuka, itu seperti ujian. Ada pedasnya cabai, itu seperti kritik dan tantangan. Dan ada gurihnya bawang, itu seperti persahabatan dan kebersamaan.”
Istrinya mengangguk pelan. “Kalau cuma manis saja?”
“Bosan,” jawab Pak Budiman cepat. “Kalau cuma pedas?”
“Sakit perut,” sahut Euis spontan. Mereka semua tertawa.
“Makanya,” lanjut Pak Budiman, “hidup harus seimbang. Semua rasa ada porsinya. Dan lihat tahu pong itu—kosong di tengah. Manusia juga begitu. Hatinya harus kosong dari kesombongan supaya bisa diisi ilmu, iman, dan kebaikan.”
Euis terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Berarti kalau hati penuh marah-marah, kuah kebaikan nggak bisa masuk ya, Pak?”
Pak Budiman menatap putrinya bangga. “Betul sekali.”
Angin malam kembali berhembus. Di mangkuk tanah liat itu, kuah mulai menyusut, menyisakan potongan tahu terakhir.
Istrinya tersenyum hangat. “Ternyata dari jajanan sederhana, bisa belajar banyak ya.”
Pak Budiman mengangguk. “Itulah indahnya kearifan lokal. Kadang hikmah tidak datang dari tempat tinggi, tapi dari mangkuk kecil tanah liat yang kita pegang bersama.”
Euis menghabiskan potongan terakhirnya.
“Besok kalau ada lagi, pesan tiga mangkuk lagi ya, Mah.”
Pak Budiman tertawa kecil.
“Boleh. Tapi ingat… jangan cuma makan rasanya. Ambil juga maknanya.”
Malam Ramadhan pun terasa semakin hangat—oleh kebersamaan, oleh tawa, dan oleh seporsi tahu gejrot yang sederhana namun penuh filosofi.
Wallohu a'lam






