Nekat: Jalan Lurus Menuju Sukses

 

ketakketikmustopa.com, Hampir semua orang, jika ditanya tentang hidupnya, pasti menginginkan kesuksesan¹. Tidak ada satu pun yang bercita-cita gagal. Namun ironisnya, hanya sedikit yang benar-benar berani menempuh jalan menuju sukses itu dengan segala risikonya². Kebanyakan orang memilih menunggu: menunggu waktu yang dianggap tepat, menunggu situasi benar-benar aman, menunggu dukungan datang dari segala arah³. Mereka menunda langkah, berharap keadaan akan sempurna dengan sendirinya.

Padahal dunia tidak pernah menunggu siapa pun. Dunia bergerak cepat, bahkan semakin cepat dari hari ke hari⁴. Ketika kamu terlalu lama berpikir, kesempatan bisa diambil orang lain⁵. Saat kamu sibuk menimbang rasa takut, nasibmu bisa ditentukan oleh mereka yang lebih berani melangkah⁶. Bukan karena mereka lebih pintar, bukan pula karena mereka paling beruntung, tetapi karena mereka lebih nekat⁷.

Fakta kehidupan sering kali menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu dimiliki oleh orang yang paling cerdas atau yang paling siap⁸. Kesuksesan justru sering diraih oleh mereka yang berani memulai meski belum merasa siap sepenuhnya⁹. Mereka melangkah ketika yang lain masih ragu¹⁰. Mereka bergerak ketika yang lain masih mencari pembenaran¹¹.

Nekat bukan berarti ceroboh¹². Nekat bukan bertindak tanpa arah atau asal-asalan¹³. Nekat adalah keberanian untuk percaya pada diri sendiri ketika jawaban belum sepenuhnya ada¹⁴. Nekat adalah keyakinan untuk melangkah meski peta belum lengkap¹⁵. Dalam kehidupan nyata, keberanian bertindak sering kali jauh lebih berharga daripada rencana sempurna yang tidak pernah dijalankan¹⁶.

Ada beberapa makna penting dari sikap nekat yang perlu dipahami dengan jernih¹⁷. Pertama, nekat berarti percaya pada diri sendiri sebelum orang lain melakukannya¹⁸. Kedua, nekat berarti berani kalah agar suatu hari mampu belajar menang¹⁹. Ketiga, nekat membuka jalan pada peluang-peluang yang sebelumnya tidak terlihat²⁰. Keempat, nekat membuatmu lebih tahan banting saat keadaan berbalik arah dan hidup tidak berjalan sesuai rencana²¹. Dan kelima, nekat adalah langkah pertama menuju kebebasan hidup yang selama ini kamu impikan²².

Semua itu, sejatinya, bisa dimulai dari satu hal sederhana: keberanian untuk memulai²³. Tidak perlu besar, tidak perlu sempurna. Cukup satu langkah pertama.

Keberanian itu menular²⁴, tetapi ketakutan juga sama menularnya²⁵. Jika kamu dikelilingi oleh orang-orang yang selalu bermain aman, kamu akan belajar takut²⁶. Namun jika kamu berada di tengah orang-orang yang berani gagal, berani jatuh, dan berani bangkit kembali²⁷, kamu akan memahami satu hal penting: risiko tidak bisa dihindari, tetapi bisa dihadapi dan dikuasai²⁸.

Maka berhentilah menunggu segalanya sempurna²⁹. Waktu yang benar-benar sempurna tidak pernah ada³⁰. Mulailah dari apa yang kamu miliki hari ini, dengan keyakinan bahwa setiap langkah nekat yang kamu ambil akan membawamu semakin dekat pada versi terbaik dari dirimu sendiri³¹. Karena pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat siapa yang paling aman, tetapi siapa yang paling berani untuk nekat³².

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Covey, Stephen R. The 7 Habits of Highly Effective People (New York: Free Press, 1989).

2. Dweck, Carol S. Mindset: The New Psychology of Success (New York: Random House, 2006).

3. Clear, James. Atomic Habits (New York: Avery, 2018).

4. Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2011).

5. Bandura, Albert. “Self-Efficacy: Toward a Unifying Theory of Behavioral Change,” Psychological Review 84, no. 2 (1977): 191–215.

6. Duckworth, Angela L., et al. “Grit: Perseverance and Passion for Long-Term Goals,” Journal of Personality and Social Psychology 92, no. 6 (2007): 1087–1101.

7. Robbins, Anthony. Awaken the Giant Within (New York: Simon & Schuster, 1991).

8. Maxwell, John C. Developing the Leader Within You (Nashville: Thomas Nelson, 1993).

9. Seligman, Martin E. P. Learned Optimism (New York: Knopf, 1991).

10. Tracy, Brian. No Excuses! The Power of Self-Discipline (New York: Vanguard Press, 2010).

11. Frankl, Viktor E. Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 1959).

12. Bandura, Albert. Self-Efficacy: The Exercise of Control (New York: Freeman, 1997).

13. Brown, Brené. Daring Greatly (New York: Gotham Books, 2012).

14. Covey, Stephen R., ibid.

15. Duckworth, Angela, ibid.

16. Clear, James, ibid.

17. Robbins, Anthony, ibid.

18. Dweck, Carol S., ibid.

19. Goggins, David. Can’t Hurt Me (New York: Lioncrest Publishing, 2018).

20. Kahneman, Daniel, ibid.

21. Seligman, Martin E., and Mihaly Csikszentmihalyi. “Positive Psychology: An Introduction,” American Psychologist 55, no. 1 (2000): 5–14.

22. Ryan, Richard M., and Edward L. Deci. “Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being,” American Psychologist 55, no. 1 (2000): 68–78.

23. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).

24. Hill, Napoleon. Think and Grow Rich (New York: The Ralston Society, 1937).

25. Maxwell, John C., ibid.

26. Duckworth, Angela, ibid.

27. Bandura, Albert, ibid.

28. Sinek, Simon. Start With Why (New York: Portfolio, 2009).

29. Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Pustaka Panjimas).

30. QS. Al-Insyirah [94]: 5–6.

31. QS. Ar-Ra’d [13]: 11.

32. QS. Ali ‘Imran [3]: 159.

Sikap Masa Bodoh: Seni Mengendalikan Diri Dengan Bijak



ketakketikmustopa.com, Dalam khazanah hikmah klasik Arab, terdapat sebuah ungkapan yang sederhana namun menghunjam kesadaran batin:

“Idzā al-kalbu lam yu’dzika illā nibāḥahu, fada‘hu ilā yaumil qiyāmati yanbaḥu.”

“Jika anjing itu tidak menyakitimu kecuali hanya dengan gonggongannya, maka biarkanlah ia menggonggong hingga hari kiamat.”

Pepatah ini bukan sekadar kiasan, melainkan pelajaran mendalam tentang hirarki respon terhadap gangguan hidup. Ia mengajarkan bahwa tidak semua rangsangan layak dibalas, dan tidak setiap suara pantas diberi energi emosional.

Dalam metafora ini, anjing melambangkan gangguan eksternal: haters, gosip, provokasi, komentar toksik, atau masalah remeh yang sering mengusik ketenangan jiwa. Gonggongan adalah noise—kebisingan psikologis yang tidak melukai fisik, tidak mengurangi rezeki, tidak mengancam kehormatan, dan tidak menimbulkan bahaya nyata. Ia hanya suara, kosong dari daya rusak kecuali jika kita sendiri memberinya makna berlebihan.

Sedangkan kata “biarkan” adalah simbol kematangan jiwa. Ia bukan sikap pasif, melainkan kemenangan batin. Orang yang membiarkan berarti sadar bahwa tujuan hidupnya adalah terus berjalan, bukan berhenti untuk berkelahi dengan anjing yang menggonggong. Energi hidup terlalu berharga untuk dihabiskan pada hal-hal yang tidak membawa nilai.

Sikap ini sejatinya merupakan penerapan nyata dari prinsip regulasi emosi yang dalam pendekatan modern dikenal dalam praktik neuro-meditatif:

Apa yang dilawan dengan emosi akan menguat, apa yang diteriaki akan semakin keras.

Karena itu, jalan paling bijak bukanlah melawan, melainkan mengakui tanpa larut, menerima tanpa menyerah, lalu kembali fokus pada tujuan hidup.

Prinsipnya sederhana namun mendalam:

AKUI – TERIMA – KEMBALI KE NAPAS.

“Oh, ada anjing menggonggong” (AKUI).

“Baik, biarkan ia menggonggong” (TERIMA).

“Aku lanjut berjalan” (KEMBALI).

Inilah yang dalam bahasa populer sering disebut “sikap masa bodoh”—namun sejatinya, ia adalah kecerdasan emosional tingkat tinggi. Menariknya, konsep ini tidak hanya dikenal dalam tradisi spiritual Islam, tetapi juga ditegaskan oleh psikologi modern dan neurosains.

A. At-Taghāful: Regulasi Emosi dalam Psikologi Islam

Dalam tradisi intelektual Islam klasik, konsep ini dikenal sebagai At-Taghāful, yaitu pura-pura tidak tahu demi menjaga kemaslahatan jiwa. Abu Zayd al-Balkhī (abad ke-9 M) dalam karyanya Masālih al-Abdān wa al-Anfus menjelaskan bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan tubuh, dan salah satu cara menjaganya adalah tidak membiarkan emosi negatif menguasai hati akibat gangguan eksternal.¹

At-Taghāful bukan bentuk kebodohan, melainkan kecerdasan spiritual untuk menjaga qalb tetap bersih dari polusi emosi seperti marah, dengki, dan dendam. Banyak konflik membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena semua hal ingin ditanggapi dan dibalas.

B. The Gray Rock Method: Psikologi Perilaku Modern

Dalam psikologi perilaku, sikap ini sejalan dengan Gray Rock Method, yakni strategi menghadapi individu toksik atau narsistik dengan bersikap netral, datar, dan minim reaksi emosional. Tujuannya adalah tidak memberi respons yang mereka harapkan.

Penelitian tentang emotion regulation menunjukkan bahwa pengendalian respon emosional secara sadar mampu mencegah eskalasi konflik dan menjaga stabilitas psikologis individu (Gross, 2002).² Dalam kerangka behavioral conditioning, perilaku negatif yang tidak diberi penguatan emosional akan melemah dan akhirnya menghilang—prinsip yang dikenal sebagai extinction.

Dengan kata lain, ketika gonggongan tidak diberi perhatian, ia akan berhenti dengan sendirinya.

C. Regulasi Amigdala: Perspektif Neurosains

Dari sudut pandang neurosains, setiap respon emosional berlebihan berarti memberikan kendali kepada amigdala, pusat emosi primitif dalam otak. Ketika amigdala aktif, tubuh masuk ke mode fight or flight dan memproduksi kortisol, hormon stres yang berbahaya jika terus-menerus dilepaskan.

Robert Sapolsky menjelaskan bahwa stres kronis—bahkan akibat ancaman yang tidak nyata—dapat merusak sistem imun, pencernaan, dan kesehatan mental manusia (Sapolsky, 2004).³ Dengan memilih untuk membiarkan, seseorang mengaktifkan prefrontal cortex, bagian otak rasional yang bertugas menilai situasi secara objektif. Tubuh diberi pesan: “Ini hanya suara, bukan ancaman.”

Hasilnya adalah ketenangan fisiologis: detak jantung stabil, pikiran jernih, dan emosi terkendali.

Sikap Masa Bodoh sebagai Kekuatan Diri

Penelitian Baumeister dkk. menunjukkan bahwa kemampuan menahan dorongan emosional sesaat merupakan inti dari self-regulation dan berkorelasi kuat dengan kesehatan mental serta keberhasilan jangka panjang.⁴

Maka, sikap masa bodoh bukan berarti tidak peduli, melainkan peduli secara selektif. Ia adalah seni memilah mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cukup dilewati. Tidak semua suara harus dijawab. Tidak semua tantangan harus dilawan.

Karena pada akhirnya, ketenangan batin bukanlah hasil dari memenangkan pertengkaran, melainkan kemenangan atas dorongan ego dalam diri sendiri.

Wallohu a'lam 

Referensi:

1. Al-Balkhī, Abū Zayd (abad ke-9 M). Masālih al-Abdān wa al-Anfus (Sustenance of the Body and Soul).

2. Gross, J. J. (2002). Emotion regulation: Affective, cognitive, and social consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291.

3. Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers. New York: Henry Holt and Company.

4. Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370.

Dosen Swasta Dan Integritas Bangsa: Mengabdi di Tengah Keterbatasan Menjaga Marwah Pendidikan


ketakketikmuatopa.com, Posisi dosen dalam sistem pendidikan nasional sejatinya bukanlah peran biasa. Dosen adalah pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia, penyangga peradaban, sekaligus penjaga arah intelektual bangsa. Undang-undang telah menempatkan dosen sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan nasional, bahkan spirit pengakuan terhadap profesi dosen sejalan dengan amanat UUD 1945, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, negara memiliki kewajiban moral, konstitusional, dan struktural untuk hadir dalam menopang keberlangsungan serta kesejahteraan para dosen—tanpa kecuali dosen Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Kehadiran negara dalam memperhatikan nasib dosen salah satunya diwujudkan melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk melalui program sertifikasi dosen (serdos). Program ini bukan sekadar insentif finansial, melainkan simbol pengakuan profesionalitas dosen sebagai tenaga pendidik yang berkompeten dan berintegritas. Nilai tunjangan yang setara dengan satu kali gaji pokok sesuai golongan dan ruang sering kali dianggap fantastis oleh masyarakat awam. Namun, di balik angka tersebut tersimpan tuntutan tanggung jawab akademik yang tidak ringan, mulai dari pemenuhan beban kerja, produktivitas ilmiah, hingga konsistensi menjaga mutu pendidikan tinggi.

Keistimewaan profesi dosen juga tercermin dari masa pengabdian yang relatif lebih panjang dibandingkan profesi lain. Jika pekerja pada umumnya memasuki masa pensiun di usia 56 tahun, dosen masih diberi ruang untuk mengabdi hingga usia 60 tahun. Bahkan, dosen bergelar doktor (S-3) dapat melanjutkan pengabdian sampai usia 65 tahun, dan profesor hingga usia 70 tahun. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara memandang ilmu, pengalaman, dan kebijaksanaan akademik sebagai aset berharga yang tidak boleh terputus hanya karena batas usia administratif. Namun, keistimewaan ini sejatinya bukan bentuk kemewahan, melainkan amanah panjang untuk terus memberi kontribusi terbaik bagi dunia akademik dan masyarakat luas.

Dalam kehidupan sosial, dosen menempati posisi yang relatif terhormat. Di tengah masyarakat, sapaan “Pak Dosen” atau “Bu Dosen” bukan sekadar panggilan formal, melainkan simbol penghormatan terhadap ilmu, etika, dan otoritas intelektual. Gelar sosial ini kerap menghadirkan kebanggaan tersendiri, baik bagi dosen itu sendiri maupun keluarganya. Akan tetapi, kebanggaan sosial tidak boleh menjelma menjadi jebakan moral. Menjadi dosen bukanlah profesi yang bisa dijalani dengan setengah hati.

Dosen memikul beban mental, intelektual, dan moral yang berat. Ia dituntut terus berpikir, terus belajar, dan terus berkarya. Produktivitas ilmiah bukan pilihan, melainkan kewajiban. Meneliti, menulis buku, menerbitkan artikel jurnal, membimbing mahasiswa, serta mengabdi kepada masyarakat adalah rangkaian tugas yang melekat erat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma bukan slogan administratif, melainkan ruh pengabdian akademik. Karena itu, tidak ada ruang bagi kemalasan intelektual, kemiskinan gagasan, apalagi stagnasi karya. Dosen yang hanya mengajar lalu pulang tanpa penelitian, tanpa tulisan, dan tanpa pengabdian sejatinya telah mereduksi makna luhur profesi dosen itu sendiri.

Di sinilah peran dosen swasta menjadi semakin kompleks. Menjadi dosen di perguruan tinggi swasta bisa menjadi sumber sanjungan, tetapi sekaligus sandungan. Di satu sisi, dosen swasta adalah tulang punggung pendidikan tinggi nasional, karena mayoritas mahasiswa Indonesia justru menempuh pendidikan di PTS. Di sisi lain, dosen swasta kerap menghadapi realitas kesejahteraan yang belum ideal, fasilitas terbatas, dan perhatian kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak.

Namun, dari keterbatasan itulah integritas diuji. Dosen yang sejahtera memang akan lebih leluasa melakukan penelitian. Dosen yang tenang secara ekonomi akan lebih sabar membimbing mahasiswa. Tetapi dosen yang benar-benar bermartabat adalah dosen yang mampu menjaga integritas akademik dalam kondisi apa pun. Ia tidak memperjualbelikan nilai, tidak menurunkan standar ilmiah, dan tidak menggadaikan etika demi kepentingan sesaat. Integritas akademik inilah yang pada akhirnya menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan tinggi.

Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa dosen swasta adalah garda terdepan dalam memajukan pendidikan dan peradaban bangsa. Mereka mengajar di ruang-ruang sederhana, meneliti dengan fasilitas terbatas, menulis dengan biaya mandiri, dan mengabdi dengan semangat pengorbanan. Di tengah perhatian negara yang belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar dosen swasta—karena fokus kebijakan sering kali tersedot pada program-program prioritas lain seperti MBG—dosen swasta tetap berdiri, bertahan, dan berkarya.

Pada titik inilah, dosen swasta tidak hanya menjadi pendidik, tetapi juga penjaga moral bangsa. Mereka menyalakan obor ilmu di tengah keterbatasan, menjaga marwah pendidikan di tengah arus pragmatisme, dan menanamkan nilai kejujuran intelektual di tengah godaan instan. Integritas dosen swasta adalah cermin integritas bangsa. Jika dosennya jujur, berilmu, dan berakhlak, maka masa depan bangsa akan tumbuh di atas fondasi yang kokoh.

Meski mungkin terasa terlambat, izinkan kami menyampaikan penghormatan setulus-tulusnya:

Selamat Hari Dosen Nasional 2026
3 Februari 2026







Biasa Asal Konsisten: Pasti Melesat Jauh


ketakketikmustopa.com, Dalam dunia akademik dan kehidupan sosial modern, kecerdasan sering ditempatkan sebagai ukuran utama keberhasilan. Nilai akademik, gelar, kemampuan analisis, dan kepiawaian berbicara kerap dijadikan standar untuk menilai kualitas seseorang. Mereka yang tampak cerdas sering dipuji, sementara yang terlihat biasa-biasa saja dianggap tidak memiliki keunggulan. Namun, realitas kehidupan tidak selalu berjalan seiring dengan asumsi tersebut.

Tidak sedikit orang yang sejak awal tampak sederhana—bahkan dianggap biasa—justru mampu melesat jauh dalam perjalanan hidupnya. Sebaliknya, mereka yang dikenal sangat pintar, penuh teori dan perencanaan, justru tertinggal. Fenomena ini bukanlah anomali, melainkan cermin dari satu prinsip penting: konsistensi sering kali lebih menentukan daripada kecerdasan semata.

Dunia tidak sepenuhnya menilai seberapa hebat seseorang berpikir, tetapi seberapa nyata dan tekun ia bertindak. Gagasan yang cemerlang akan kehilangan daya gunanya jika berhenti sebagai wacana. Sebaliknya, langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus mampu menciptakan perubahan besar yang bertahan lama.

Orang yang merasa dirinya pintar kerap terjebak dalam terlalu banyak pertimbangan. Ia ingin semuanya sempurna, valid, dan bebas risiko. Akibatnya, langkah sering tertunda, bahkan tidak pernah dimulai. Sementara itu, orang yang merasa biasa cenderung lebih ringan melangkah. Ia tidak menunggu kondisi ideal, melainkan belajar melalui proses yang dijalani.

Perbedaan lain tampak jelas dalam cara menyikapi kegagalan. Bagi sebagian orang, kegagalan dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri dan reputasi. Namun bagi mereka yang tekun, kegagalan justru menjadi guru terbaik. Dari kegagalan, mereka belajar, memperbaiki diri, dan melanjutkan perjalanan dengan pemahaman yang lebih matang.

Di lingkungan kampus, fenomena ini kerap kita jumpai. Ada mahasiswa yang tidak terlalu menonjol secara akademik, namun konsisten hadir, membaca, menulis, berdiskusi, dan terlibat aktif dalam proses belajar. Perlahan, mereka tumbuh dan menemukan jalannya. Sebaliknya, ada pula mahasiswa yang sangat cerdas, tetapi mudah bosan, cepat puas, dan berhenti ketika tantangan datang.

Hidup pada akhirnya bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat atau paling pintar. Hidup adalah perjalanan panjang yang menuntut daya tahan. Kecerdasan mungkin memberi keunggulan awal, tetapi disiplin dan konsistensi menentukan keberlanjutan. Tanpa keduanya, kecerdasan hanya akan menjadi potensi yang tidak pernah mewujud menjadi karya nyata.

Refleksi ini menjadi pengingat penting, khususnya bagi dunia pendidikan dan kampus: menjadi “biasa” bukanlah kekurangan. Selama seseorang konsisten belajar, berproses, dan melangkah, ia memiliki peluang besar untuk melesat jauh. Sebab dalam kehidupan, yang bertahan dan terus bergeraklah yang pada akhirnya sampai.

Wallohu a'lam 

Hikayat Abu Nawas Hadir di Bulan Suci Ramadhan

ketakketikmustopa.com, Marhaban Ya Ramadhan, sebentar lagi Ramadhan tiba. Insya Alloh penulis akan mengisi hari-hari selama Ramadhan dengan kisah Abu Nawas, Humor dan Hikmah.

Mari temani hari-hari Ramadhan dengan bacaan yang ringan, cerdas, dan penuh makna. Hikayat Abu Nawas, Humor dan Hikmah bukan sekadar kisah lucu, tetapi sarat pelajaran hidup yang menyentuh akal dan nurani.

Setiap tulisan menghadirkan senyum, lalu mengajak merenung. Di balik humor Abu Nawas, tersimpan hikmah tentang iman, kejujuran, kecerdasan, dan kebijaksanaan hidup.

Selama bulan suci Ramadhan, setiap hari akan hadir tulisan dari buku ini. Jangan diskip. Jangan dilewati.

Karena bisa jadi, satu kisah hari ini adalah nasihat yang Allah sampaikan untuk kita. Baca, tersenyum, lalu ambil hikmahnya.

Ramadhan lebih bermakna bersama Hikayat Abu Nawas, Humor dan Hikmah di blogku ketakketikmuatopa.com.

Nisfu Sya'ban Dalam Perspektif Hadist Dan Pandangan Ulama

ketakketikmustopa.com

Pendahuluan

Nisfu Sya’ban—pertengahan bulan Sya’ban—menempati posisi penting dalam tradisi spiritual Islam. Perhatian umat Islam terhadap malam ini tidak lahir dari konstruksi budaya semata, tetapi memiliki dasar tekstual dalam hadis Nabi ﷺ serta penjelasan para ulama lintas mazhab. Nisfu Sya’ban sering dipahami sebagai momentum evaluasi diri dan persiapan ruhani menjelang Ramadhan.¹

Dasar Hadis tentang Keutamaan Nisfu Sya’ban

Di antara hadis yang paling sering dijadikan rujukan adalah hadis dari Mu‘adz bin Jabal r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”²

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Mājah dan Ath-Thabrani dengan beberapa jalur periwayatan. Sejumlah ulama hadis menilai hadis ini memiliki penguat (syawāhid) yang menjadikannya dapat diamalkan dalam konteks fadhā’il al-a‘māl.³

Hadis lain diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy‘ari r.a.:

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala menampakkan rahmat-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang menyimpan kebencian.”⁴

Kandungan hadis-hadis tersebut menegaskan bahwa ampunan Allah bersifat luas, namun terhalang oleh dosa teologis (syirk) dan dosa sosial (syahnā’ atau permusuhan).

Dimensi Teologis dan Etika Sosial

Menarik untuk dicermati bahwa penghalang ampunan dalam hadis Nisfu Sya’ban bukan semata pelanggaran ritual, tetapi juga penyakit hati yang merusak tatanan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang kesalehan individual dan kesalehan sosial sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.⁵

Dengan demikian, Nisfu Sya’ban tidak hanya berbicara tentang relasi vertikal antara hamba dan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal antar manusia. Pembersihan hati dari dendam dan permusuhan menjadi prasyarat penting untuk meraih rahmat Ilahi.

Pandangan Para Ulama

1. Imam Al-Ghazali (w. 505 H)

Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menyebut malam Nisfu Sya’ban sebagai salah satu malam yang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan istighfar. Ia menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebagai persiapan memasuki bulan Ramadhan.⁶

2. Imam An-Nawawi (w. 676 H)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis-hadis tentang keutamaan amal—meskipun tidak seluruhnya berderajat shahih—dapat diamalkan selama tidak diyakini sebagai kewajiban syariat. Prinsip ini berlaku pula pada pengamalan Nisfu Sya’ban.⁷

3. Ibnu Taimiyah (w. 728 H)

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa keutamaan malam Nisfu Sya’ban memiliki dasar dari atsar para salaf:

“Adapun malam Nisfu Sya’ban, maka banyak atsar dari kalangan salaf yang menunjukkan keutamaannya.”⁸

Namun ia mengingatkan agar tidak menetapkan ritual tertentu secara kolektif tanpa dasar yang kuat dari sunnah.

4. Mazhab Syafi‘i

Dalam tradisi mazhab Syafi‘i, malam Nisfu Sya’ban dipandang sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Ulama Syafi‘iyyah menganjurkan penghidupan malam tersebut dengan ibadah secara umum tanpa mengkhususkan bentuk tertentu.⁹

Nisfu Sya’ban sebagai Tahap Persiapan Ramadhan

Nabi Muhammad ﷺ diketahui memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah r.a. dalam hadis shahih.¹⁰ Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah bulan latihan spiritual, sedangkan Nisfu Sya’ban menjadi titik evaluasi kesiapan ruhani sebelum memasuki Ramadhan.

Penutup

Berdasarkan hadis dan pandangan para ulama, Nisfu Sya’ban dapat dipahami sebagai momentum refleksi teologis dan etis. Keutamaannya tidak terletak pada ritual formal semata, melainkan pada kesadaran untuk membersihkan tauhid dan akhlak sosial. Dengan demikian, Nisfu Sya’ban berfungsi sebagai jembatan spiritual menuju Ramadhan—bulan penyempurnaan iman dan amal.


-----------------

1. Yusuf Al-Qaradawi, Al-Ibadah fi al-Islam, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1995), hlm. 214.

2. Ibnu Mājah, Sunan Ibni Mājah, no. 1390.

3. Al-Bushiri, Zawā’id Ibni Mājah, Juz 2, hlm. 145.

4. Ibnu Mājah, Sunan, no. 1390; Ath-Thabrani, Al-Mu‘jam Al-Kabīr.

5. Muhammad Abdullah Draz, Dustūr al-Akhlāq fi al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1997), hlm. 87.

6. Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz 1, (Beirut: Dār al-Fikr), hlm. 203.

7. An-Nawawi, Al-Adzkār, (Beirut: Dār al-Minhāj), hlm. 8–9.

8. Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Juz 24, hlm. 131.

9. As-Subki, Thabaqāt asy-Syāfi‘iyyah al-Kubrā, Juz 2, hlm. 223.

10. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 1969; Muslim, Shahih Muslim, no. 1156.

One Alumni One Besan, Berjodohnya Anak Satu Alumni

 

ketakketikmuatopa.com, Cerpen dilatar belakangi perkumpulan alumni MAN 91

“Wis, ayo padha masuk dulu. Yang sudah di Babakan dan Susukan padha kumpul ning kene.”

Suara Ibu Nyai Hj. Dewi Rahmawati terdengar dari teras rumahnya di Babakan. Pagi itu halaman rumah beliau lebih ramai dari biasanya. Beberapa mobil terparkir rapi, suara salam bersahutan, aroma kopi hitam dan gorengan menyeruak dari dapur.




“MasyaAllah, rame pisan,” kata Ibu Hj. Rosilah dari Susukan, sambil menurunkan tas kecil dari pundaknya.

“Saya kira cuma berangkat biasa, ternyata seperti mau reuni.”

Ibu Nyai Dewi tersenyum lebar.

“Nggeh, Bu Ros. Iki kondangan plus sejarah. Ora saben dina alumni ’91 dadi besanan.”

Bu Hj. Rosilah tertawa kecil.

“Lulusnya tiga puluh lima tahun lalu, saiki malah nyambung mantu. MAN Babakan iki pancen luar biasa.”

Aku, Mustofa, menyambut beliau.

“Alhamdulillah Bu, alumni kita ini seperti tali, ditarik jauh tetap nyambung.”

“Betul, Kang,” sahut Bu Hj. Rosilah.

“Dulu kita bareng-bareng ujian, sekarang bareng-bareng doa buat anak-anak.”

---

Kang Aas Qusyaeri keluar sambil membawa kunci mobil.

“Bu Nyai, Bu Ros, kita berangkat bareng atau pisah mobil?”

“Bareng wae,” jawab Ibu Nyai.

“Sing penting kumpul, ben obrolane nyambung terus.”

Bu Shofiyatun ikut menyela,

“Kalau begini rasanya seperti mau studi tour, bukan kondangan.”

Kami tertawa.

“Sing penting,” tambah Ibu Nyai sambil merapikan kerudungnya,

“niatnya silaturahmi. Allah yang nyambungke.”

---

Di dalam mobil, obrolan tak pernah putus.

“Kang Mustofa,” tanya Bu Hj. Rosilah, “bener ya yang mantu ini anak alumni dua-duanya?”

“Iya, Bu. Sama-sama anak MAN ’91.”

“MasyaAllah,” ucapnya lirih.

“Berarti ini bukan sekadar jodoh anak, tapi jodoh persahabatan.”

Bu Fatimah mengangguk setuju.

“Dulu kita mungkin tak saling kenal dekat, tapi Allah menyambung lewat anak-anak.”

---

Sesampainya di Rajagaluh, suasana hajatan terasa hangat. Shalawat mengalun, tamu berdatangan, wajah-wajah lama saling menyapa.

“Assalamu’alaikum, Bu Hj. Uun,” sapaku.

“Wa’alaikumussalam,” jawab beliau sambil tersenyum.

“Alumni komplit hari ini ya.”

Bu Hj. Rosilah menimpali,

“Ini alumni plus besan, Bu.”

Bu Hj. Uun tertawa.

“Iya, betul. Dulu satu angkatan, sekarang satu keluarga.”

---

Di sisi lain, Ibu Hj. Musyarofah duduk berdampingan dengan suaminya, KH. Otong Sirojudin Zen.

“Kita ini bukan cuma menikahkan anak,” ujar Bu Hj. Musyarofah.

“Kita sedang menyambung silaturahmi lama.”

KH. Otong mengangguk tenang.

“Kalau niatnya baik, Allah yang jaga.”

---

Beberapa bulan sebelumnya…

“Bu, saya silaturahmi ya,” kata Bu Hj. Uun.

“Monggo, monggo,” jawab Bu Hj. Musyarofah ramah.

Faiz Isnan Abdutachman menyetiri mobil. Seorang gadis keluar membawa nampan kopi.

“Silakan, Bu.”

Tatapan singkat terjadi.

MasyaAllah, cantik…

Astaghfirullah, ganteng…

Tak ada kata, hanya getar di hati.

---

Dalam perjalanan pulang…

“Nak, kamu suka sama anaknya Bu Hj. Musyarofah?”

“Iya, Bu.”

“Kalau Ibu jodohkan?”

“Mau, Bu.”

Empat bulan berlalu. Hari ditetapkan.

---

Di tengah acara, foto bersama keluarga besar alumni ’91 diambil.

Cekrek… cekrek…

Tak lama, foto itu muncul di grup Sahabat MAN ’91 Bacicir.

MasyaAllah… One Alumni One Besan!

Alumni MAN Babakan makin berkah.

Bu Hj. Rosilah tersenyum melihat layar ponselnya.

“Kalau begini, jangan-jangan nanti giliran anak alumni lain.”

Ibu Nyai tertawa pelan.

“Aamiin. Sing penting rukun lan berkah.”

Aku memandang wajah-wajah sahabat lama itu dan berbisik dalam hati:

Alumni bukan hanya kenangan masa lalu.

Ia adalah tali panjang yang mengikat masa depan.

Dan kami pun pulang dengan satu kalimat yang sama-sama kami yakini:

Sampai jumpa di reuni pernikahan selanjutnya.