Strategi Perang Paling Canggih, Obrolan di Warung Kopi

 

ketakketikmustopa.cm, Sore itu langit di belakang kampus STID Al-Biruni terlihat temaram. Angin berhembus pelan, her membawa aroma gorengan yang baru saja diangkat dari penggorengan. Warung kopi langganan mahasiswa tampak ramai seperti biasa. Namun hari itu ada yang berbeda.

Pak Dr. Rachman, dosen yang dikenal cerdas sekaligus nyentrik, justru tidak kembali ke ruang dosen setelah mengajar. Ia melangkah santai menuju warung kopi.

“Siapkan kopi torabika, ada?” tanyanya sambil duduk di bangku kayu panjang.

“Karuan saja ada, Pak!” jawab mahasiswa penjaga warung dengan sigap.

“Kalau ada gorengan, deh… nggak apa-apa. Tambahin pisgor.”

Beberapa mahasiswa yang melihat itu langsung mendekat.

“Sini duduknya di sini, Dek! Kita bahas perang Iran, yuk!” ujar Pak Rachman sambil menepuk bangku kosong.

“Hayu atuh, Pak! Kita penasaran nih… pengen tahu pandangan Bapak tentang Iran yang dikeroyok Amerika sama Israel,” sahut salah satu mahasiswa.

Mereka pun duduk melingkar. Suasana santai, tapi mata penuh rasa ingin tahu.

Pak Rachman menyeruput kopinya pelan.

“Kalian perhatikan nggak… perang zaman sekarang itu kayak dagelan,” katanya membuka pembicaraan.

“Dagelan, Pak?” tanya mahasiswa heran.

“Iya… di satu sisi menegangkan. Teknologi AI berseliweran. Gedung-gedung hancur dalam hitungan detik. Tapi di sisi lain… absurd. Iran kirim drone murah, rudal sederhana… ditangkis pakai sistem super mahal. Kan lucu.”

Mahasiswa tertawa kecil.

“Dulu kita nonton film koboi Hollywood… jet tempur gagah, pilot santai sambil nyeruput cerutu… rudal meledak dramatis.”

“Sekarang?” tanya mahasiswa.

“Sekarang… kita nonton perang beneran malah kayak konten TikTok. Kadang bikin ngakak. Ini perang atau settingan?” jawab Pak Rachman sambil tersenyum tipis.

“Wah… ngeri juga sih kalau dipikir-pikir,” sahut mahasiswa lain.

Pak Rachman melanjutkan.

“Kalian lihat perang Ukraina dan Rusia sampai 2026. Dulu istilahnya air superiority. Sekarang berubah jadi drone superiority.”

“Drone, Pak?”

“Iya. Tahun 2025 Ukraina mencatat lebih dari 800 ribu serangan drone. Target 2026? Produksi 7 juta drone!”

“Buset… kayak pabrik gorengan, Pak!” celetuk mahasiswa.

“Nah itu dia! Cepat, murah, dan laris,” jawab Pak Rachman sambil tertawa.

“Rusia juga balas… puluhan ribu drone tiap bulan. Bahkan satu malam bisa ratusan. Itu bukan serangan lagi… itu hujan drone.”

Mahasiswa mulai terdiam, membayangkan.

“Langit sekarang bukan cuma milik burung,” lanjut Pak Rachman, “tapi milik benda berdengung yang siap menyengat.”

“Serem, Pak…”

“Lebih serem lagi… satu operator di bunker… mungkin kalau di sini anak warnet yang gagal move on… bisa bikin tank baja jadi rongsokan.”

“Hahaha!” suasana pecah oleh tawa.

Tiba-tiba pak Rachman nyeletuk,

“Ngomong-ngomong, di sini ada Sampoerna Mild nggak?”


“Ada, Pak! Tenang aja,” jawab penjaga warung.

Pak Rachman tersenyum, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Sekarang kita lihat Iran lawan Amerika dan Israel. Strateginya simpel tapi dahsyat.”

“Gimana, Pak?”

“Drone murah digabung rudal balistik. Dilepas ribuan. Israel dan Amerika langsung buka dompet. Sistem pertahanan mahal ditembakkan satu per satu.”

“Jadi…?” tanya mahasiswa.

“Ini bukan perang… ini lomba siapa cepat bangkrut.”

Mahasiswa saling pandang.

“Pesawat tempur generasi terbaru masih ada,” lanjutnya, “tapi sekarang cuma jadi ‘bos besar’. Datang, lempar dari jauh, lalu pergi. Aman, elegan… mahal.”

“Terus yang paling penting apa, Pak?”

Pak Rachman mengangkat jarinya.

“Satelit.”

“Satelit?” mahasiswa serempak.

“Tanpa satelit… perang modern itu buta. Di Ukraina—komunikasi, kontrol drone, artileri—semua tergantung satelit.”

“Kok bisa, Pak?”

“Bayangin listrik mati… tapi perang tetap jalan. Satelit itu mata dewa. Bisa lihat pergerakan musuh dari atas.”

Mahasiswa semakin serius menyimak.

“Tanpa satelit,” lanjut Pak Rachman, “drone dan rudal cuma jadi barang mahal yang nyasar.”

Sejenak hening. Lalu Pak Rachman mengalihkan topik.

“Sekarang kita lihat Indonesia…”

Mahasiswa langsung fokus.

“Saat dunia masuk era drone, satelit, dan siber… kita kadang masih debat beli alutsista mahal.”

“Iya juga ya, Pak…”

“Jet tempur dibeli dengan bangga. Tapi kalau diserang swarm drone murah?”

Mahasiswa terdiam.

“Mau ditembak pakai rudal mahal? Ya tekor, bos.”

Beberapa mahasiswa tertawa getir.

“Rekrutmen juga masih pola lama. Fisik kuat, lari cepat.”

“Kan penting, Pak?”

“Penting. Tapi perang sekarang bukan soal otot. Lawannya drone… mau lari ke mana?”

Mahasiswa langsung tertawa.

“Drone nggak capek, bos!” tambah Pak Rachman.

Suasana kembali santai. Mereka mulai mengambil gorengan.

“Yang dibutuhkan sekarang,” lanjutnya, “anak IT, gamer, analis data.”

“Gamer, Pak?” tanya mahasiswa sambil tersenyum.

“Iya! Yang biasa main joystick. Satu operator drone bisa gantikan satu regu.”

“Wah… berarti anak warnet bisa jadi pahlawan, Pak?”

“Bisa banget!” jawabnya tegas.

“Infanteri tetap penting, tapi harus naik level. Paham anti-drone, paham medan digital. Sekarang bersembunyi aja susah… drone kecil bisa lihat dari atas.”

Mahasiswa mengangguk-angguk.

“Terus… kesimpulannya apa, Pak?” tanya salah satu mahasiswa.

Pak Rachman diam sejenak. Ia menyeruput kopi terakhirnya, lalu mengepulkan asap rokok perlahan ke udara senja.

“Kesimpulannya…” katanya pelan,

“Perang modern bukan soal jet tercanggih atau tank terbanyak.”

Semua terdiam.

“Tapi siapa yang bisa produksi drone murah dalam jumlah besar… punya satelit… dan merekrut manusia yang adaptif.”

Ia menatap para mahasiswa satu per satu.

“Sekarang… drone itu raja. Jet cuma figuran. Satelit… sutradaranya.”

Sunyi sejenak.

“Dan yang masih pakai pola lama…” lanjutnya sambil tersenyum tipis,

“siap-siap jadi penonton.”

Mahasiswa terdiam, lalu salah satu berbisik pelan,

“Berarti… masa depan perang ada di tangan anak muda ya, Pak?”

Pak Rachman mengangguk.

“Bukan lagi di tangan jenderal saja… tapi di tangan anak muda di depan laptop… dengan koneksi internet stabil.”

Angin sore kembali berhembus.

Di atas langit yang mulai gelap, seolah-olah… bayangan drone tak terlihat sedang melintas.

Dan di bawahnya, di warung kopi sederhana itu—masa depan sedang dibicarakan, di antara kopi, asap rokok, dan gorengan hangat.

Wallahu a'lam 

Kampus STID Al-Biruni Cirebon Sambut Hangat Kunjungan Forum BUMDES Indonesia dan PAPDESI Sekaligus Jalin Kerjasama MoU

 

ketakketikmustopa.com, Suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi tampak mewarnai kunjungan rombongan Forum BUMDES Indonesia (FBI) dan Persatuan Aparatur Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (PAPDESI) ke Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin pada Selasa (31/3/2016).

Rombongan tamu dipimpin langsung oleh Ketua Pembina, KH. Arya Wasesa Wangsa atau yang akrab disapa Pak De Bintang. Kedatangannya disambut hangat oleh jajaran pimpinan yayasan dan kampus, di antaranya KH. Uki Marzuki selaku Ketua Yayasan Amal Albiruni, Mustopa sebagai Sekretaris Yayasan, serta pimpinan kampus seperti Dr. Muhammad Gunawan dan Dr. Ahmad Zamakhsyari, bersama seluruh dosen STID Al-Biruni.

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula sebanyak 41 rekomendasi beasiswa kuliah di STID Al-Biruni sebagai bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Selain itu, momentum pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menjalin kerjasama melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pihak kampus dengan Forum BUMDES Indonesia dan PAPDESI sebagai langkah strategis dalam pengembangan pendidikan, pemberdayaan desa, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam sambutannya, KH. Uki Marzuki memaparkan bahwa Babakan Ciwaringin merupakan salah satu kawasan pesantren tertua di Indonesia dengan usia mencapai lebih dari tiga abad. Ia menjelaskan bahwa terdapat sekitar 82 pesantren dan 6 perguruan tinggi di wilayah tersebut, termasuk STID Al-Biruni. Selain itu, berbagai lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga menengah juga berkembang pesat di kawasan ini, seperti SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa SMK Al-Biruni saat ini memiliki dua program studi, demikian pula STID Al-Biruni yang juga memiliki dua program studi aktif. Di akhir sambutannya, ia memohon doa dan dukungan dari seluruh pihak agar rencana pengembangan program studi baru serta peningkatan status STID Al-Biruni menjadi institut dapat berjalan lancar.

Sementara itu, dalam sambutannya, Pak De Bintang menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya kebermanfaatan dalam kehidupan. Ia mengutip pesan Presiden bahwa setiap individu diharapkan mampu memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang—minimal tidak menjadi beban bagi orang lain.

Lebih jauh, ia menegaskan komitmen Forum BUMDES Indonesia untuk turut serta mendorong kemajuan STID Al-Biruni, baik dari sisi pembangunan maupun peningkatan kesejahteraan civitas akademika. Ia juga menyatakan kesiapan untuk bersinergi dan bergandengan tangan bersama pihak yayasan dalam memajukan pendidikan di kampus tersebut.

Pertemuan ini berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan optimisme, mencerminkan semangat kolaborasi antara dunia pendidikan dan pemerintahan desa dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.


@potsum-jurnalis Albiruni

Menjaga Konsistensi Spirit Idul Fitri

 

ketakketikmustopa.com, Pasca Idul Fitri, umat Islam memasuki fase baru dalam perjalanan kehidupannya. Setelah sebulan penuh ditempa dalam madrasah Ramadhan—dengan puasa, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, serta berbagai amal kebajikan—kini tibalah saatnya mengimplementasikan nilai-nilai spiritual tersebut dalam kehidupan nyata. Ditambah lagi dengan tradisi Halal Bihalal yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, memperkuat kembali jalinan sosial melalui saling memaafkan dan mempererat ukhuwah.1

Momentum ini sejatinya bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi diri. Ramadhan bukan hanya ritual tahunan, tetapi proses pembentukan karakter. Dalam perspektif spiritualitas Islam, ibadah tidak berhenti pada dimensi ritual, melainkan harus berlanjut pada dimensi sosial dan profesional. Nilai-nilai seperti keikhlasan (ikhlas), kesabaran (sabr), kejujuran (sidq), dan tanggung jawab (amanah) harus mewarnai setiap aktivitas manusia, baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat.2

Semangat spiritual yang telah dibangun selama Ramadhan harus mampu menjadi energi penggerak dalam aktivitas sehari-hari. Dalam konteks ini, bekerja tidak lagi sekadar memenuhi tuntutan ekonomi, tetapi menjadi bagian dari ibadah. Belajar tidak hanya untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada ilmu dan peradaban. Dengan demikian, terjadi integrasi antara dimensi duniawi dan ukhrawi, antara kerja dan ibadah, antara produktivitas dan spiritualitas.3

Namun demikian, tantangan terbesar pasca Lebaran adalah menjaga konsistensi (istiqamah). Tidak sedikit yang mengalami penurunan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Masjid yang sebelumnya penuh, kini mulai lengang. Tilawah yang rutin, mulai jarang dilakukan. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa kualitas seorang mukmin tidak hanya diukur dari intensitas ibadah di bulan Ramadhan, tetapi juga dari keberlanjutannya di bulan-bulan berikutnya.4

Dalam dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, manusia seringkali terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Aktivitas yang padat tidak selalu berbanding lurus dengan keberkahan. Oleh karena itu, diperlukan fondasi spiritual yang kuat agar aktivitas yang dilakukan tidak kehilangan arah. Spiritualitas berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga manusia dari penyimpangan, serta sebagai sumber energi batin yang memberikan ketenangan dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.5

Lebih jauh, integrasi antara semangat spiritual dan semangat beraktivitas juga memiliki implikasi sosial yang luas. Individu yang memiliki kedalaman spiritual cenderung lebih jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Dalam dunia kerja, hal ini akan melahirkan profesional yang berintegritas. Dalam dunia pendidikan, akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.6

Dengan demikian, pasca Idul Fitri seharusnya menjadi titik tolak kebangkitan, bukan kemunduran. Ia adalah momentum untuk melakukan reorientasi hidup—menata kembali niat, memperbaiki kualitas amal, dan meningkatkan kontribusi bagi masyarakat. Semangat spiritual yang telah diraih harus dijaga, dipelihara, dan diwujudkan dalam bentuk nyata melalui aktivitas yang produktif dan bermanfaat.7

Akhirnya, marilah kita melangkah ke depan dengan semangat baru: semangat spiritual yang membimbing, dan semangat aktivitas yang menggerakkan. Keduanya harus berjalan seiring, saling menguatkan, dan saling melengkapi. Karena pada hakikatnya, kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang seimbang—antara dunia dan akhirat, antara ibadah dan kerja, antara hati dan aksi.8

Wallohu a'lam 

Footnote:

1. Ihya Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali.

2. Tafsir Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab.

3. Manajemen Qalbu karya Abdullah Gymnastiar.

4. Ihya Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali.

5. The Seven Habits of Highly Effective People oleh Stephen R. Covey.

6. Tafsir Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab.

7. Manajemen Qalbu karya Abdullah Gymnastiar.

8. The Seven Habits of Highly Effective People oleh Stephen R. Covey.

Lebaran Blue: Sunyi Setelah Riuh

 

ketakketikmustopa.com, “Lebaran Blue” adalah istilah yang menggambarkan kondisi emosional berupa rasa hampa, sepi, atau kehilangan yang muncul setelah perayaan Idul Fitri usai. Ia bukan sekadar kesedihan biasa, melainkan perasaan sunyi yang hadir setelah puncak kebahagiaan, ketika suasana hangat kebersamaan perlahan menghilang dan kehidupan kembali pada ritme semula.

Fenomena ini mungkin belum banyak dibicarakan secara luas, tetapi dirasakan oleh banyak orang. Beberapa hari setelah Idul Fitri berlalu, ada perubahan yang terasa—pelan namun nyata. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi arus mudik kini kembali lengang. Rumah-rumah yang kemarin riuh oleh tawa dan pelukan, kini kembali sunyi. Meja makan yang sebelumnya penuh dengan hidangan khas Lebaran, kini hanya menyisakan jejak.

Semua itu menghadirkan satu perasaan yang sulit diungkapkan: kehilangan dalam diam.

Lebaran selalu menjadi momentum yang sarat makna. Ia bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang pertemuan jiwa-jiwa yang lama terpisah. Anak-anak kembali ke pangkuan orang tua, saudara-saudara berkumpul menghapus jarak, dan luka-luka lama mencair dalam kalimat sederhana, “mohon maaf lahir dan batin.”

Dalam suasana seperti itu, kebahagiaan terasa begitu utuh. Hati menjadi hangat, relasi menjadi dekat, dan hidup seakan kembali menemukan keseimbangannya.

Namun, sebagaimana semua momen, Lebaran pun memiliki batas waktu. Libur usai, rutinitas kembali memanggil. Satu per satu anggota keluarga kembali ke kota masing-masing. Rumah yang sebelumnya penuh, kini terasa terlalu lapang. Dan di titik itulah, “Lebaran Blue” menemukan momentumnya.

Seorang ibu mungkin kini duduk sendiri di ruang tamu, memandang kursi-kursi kosong yang kemarin dipenuhi anak-anaknya. Seorang anak mungkin menahan rindu dalam perjalanan kembali, menyadari bahwa pertemuan yang singkat itu menyimpan makna yang begitu dalam. Sementara yang lain, mungkin hanya merasakan kekosongan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.

Dalam perspektif yang lebih reflektif, “Lebaran Blue” sesungguhnya bukanlah sesuatu yang perlu ditolak. Ia adalah konsekuensi dari kebahagiaan yang tulus. Rasa hampa itu hadir justru karena sebelumnya hati kita dipenuhi kehangatan. Kesedihan itu adalah bukti bahwa kita pernah merasakan cinta, kebersamaan, dan kedekatan yang autentik.

Di sinilah pentingnya memaknai “Lebaran Blue” secara lebih bijak.

Alih-alih memandangnya sebagai akhir dari kebahagiaan, kita justru dapat menjadikannya sebagai pintu refleksi. Bahwa nilai-nilai yang kita rasakan selama Lebaran—silaturahmi, kasih sayang, keikhlasan, dan saling memaafkan—bukanlah milik satu hari saja. Ia adalah nilai yang seharusnya terus hidup dalam keseharian.

Sayangnya, dalam praktik sosial, semangat itu seringkali hanya bertahan sesaat. Setelah Ramadhan dan Idul Fitri berlalu, intensitas ibadah menurun, komunikasi antar keluarga kembali renggang, dan kepedulian sosial perlahan memudar. Di sinilah ironi itu muncul: kita merindukan suasana yang sebenarnya bisa kita jaga.

“Lebaran Blue” seharusnya menjadi alarm batin.

Ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang hilang bukan karena waktu, tetapi karena kita tidak berusaha mempertahankannya. Kerinduan yang muncul setelah Lebaran bisa jadi bukan sekadar rindu pada keluarga, tetapi rindu pada versi diri kita yang lebih baik—lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Oleh karena itu, tantangan pasca-Lebaran bukanlah bagaimana menghindari kesedihan, melainkan bagaimana merawat nilai-nilai yang telah kita bangun selama Ramadhan dan Idul Fitri. Silaturahmi tidak harus menunggu hari raya. Kepedulian tidak harus menunggu momentum. Dan kebaikan tidak seharusnya berhenti pada seremoni.

Kita perlu menggeser cara pandang: dari merayakan momen, menuju menjaga makna.

Lebaran memang telah usai. Ketupat telah habis, tamu-tamu telah pulang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Namun, jika nilai-nilai yang sempat menghangatkan hati itu ikut pergi, maka yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa ruh.

Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam Lebaran bukan terletak pada kemeriahannya, tetapi pada kemampuan kita menjaga cahaya kebaikan tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika suasana telah sunyi, bahkan ketika hari-hari kembali biasa.

Di situlah “Lebaran Blue” menemukan makna terdalamnya: bukan sebagai tanda berakhirnya kebahagiaan, tetapi sebagai panggilan sunyi untuk menjaga agar kebahagiaan itu tetap hidup—di dalam hati, sepanjang waktu.

Wallohu a'lam.

Syawalan: Merawat Tradisi dan Menguatkan Ukhuwah



ketakketikmustopa.com, Pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri, umat Islam di Indonesia tidak serta-merta berhenti dalam nuansa kebersamaan dan spiritualitas. Ada satu tradisi yang tetap hidup dan terus diwariskan lintas generasi, yakni Syawalan. Tradisi ini menjadi bagian dari denyut kehidupan sosial-keagamaan masyarakat, khususnya di kalangan (NU), yang dikenal kuat dalam menjaga kearifan lokal bernuansa Islami.

Syawalan merupakan aktivitas masyarakat yang dilaksanakan pada bulan Syawal, setelah Idul Fitri. Tradisi ini biasanya diawali dengan berkumpulnya masyarakat di area pemakaman umum. Mereka datang tidak sekadar berziarah, tetapi juga untuk mengirimkan doa kepada para leluhur. Lantunan tahlil, doa, dan dzikir bersama menjadi inti dari kegiatan ini—sebuah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mendahului sekaligus pengingat akan hakikat kehidupan manusia.

Dalam perspektif keagamaan, praktik ini mencerminkan ajaran Islam tentang pentingnya mendoakan orang yang telah wafat. Di sisi lain, secara sosial, Syawalan menjadi ruang perjumpaan yang hangat antarwarga. Tidak ada sekat status sosial; semua hadir sebagai bagian dari komunitas yang sama, duduk bersila di atas tanah yang mengingatkan pada asal-usul manusia.

Menariknya, setelah rangkaian doa dan tahlil selesai, masyarakat biasanya melanjutkan dengan acara makan bersama. Kegiatan ini umumnya dipusatkan di rumah seorang kyai atau tokoh masyarakat yang dihormati. Hidangan sederhana yang disajikan bukan sekadar santapan, melainkan simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Dalam suasana santai itu, percakapan mengalir, hubungan sosial diperkuat, dan nilai-nilai kebersamaan ditanamkan secara alami.

Syawalan bukan hanya tradisi seremonial, melainkan juga sarana pendidikan sosial dan spiritual. Ia mengajarkan pentingnya menghargai leluhur, mempererat tali silaturahmi, serta menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi ini juga menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, keberadaan tradisi seperti Syawalan patut dijaga dan dilestarikan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga identitas kultural yang mengandung nilai-nilai luhur. Dalam Syawalan, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga meneguhkan masa depan—masa depan yang berakar pada tradisi, namun tetap relevan dengan zaman.

Syawalan juga mengajarkan bahwa setelah Ramadhan dan Idul Fitri, perjalanan spiritual belum usai. Ia justru menemukan bentuk baru dalam kebersamaan, doa, dan kepedulian sosial. Sebuah tradisi yang sederhana, namun sarat makna: merawat hubungan dengan Tuhan, manusia, dan juga mereka yang telah lebih dahulu kembali ke pangkuan-Nya.

Wallohu a'lam.

Silaturahmi: Merajut Kebersamaan Pasca Idul Fitri

 

ketakketikmustopa.com, Pasca gema takbir yang berkumandang pada malam Idul Fitri, umat Islam memasuki fase yang tak kalah penting dari rangkaian ibadah Ramadhan: silaturahmi. Ia bukan sekadar tradisi tahunan yang berulang, tetapi sebuah praktik sosial yang sarat nilai spiritual, kultural, sekaligus kemanusiaan.

Secara bahasa, silaturahmi berasal dari kata shilah yang berarti menyambung dan rahim yang bermakna kasih sayang atau hubungan kekerabatan. Makna ini menegaskan bahwa silaturahmi adalah upaya aktif untuk menyambung kembali ikatan yang mungkin renggang, sekaligus merawat kasih sayang di antara sesama. Adapun secara istilah, silaturahmi dipahami sebagai usaha menjalin dan mempererat hubungan antar manusia—baik keluarga, tetangga, maupun masyarakat luas—dengan landasan keimanan dan niat ibadah kepada Allah SWT.

Dalam konteks kehidupan umat Islam, silaturahmi menemukan momentumnya yang paling kuat setelah bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh, umat ditempa dalam madrasah spiritual: berpuasa menahan lapar dan dahaga, menghidupkan malam dengan sholat tarawih, memperbanyak tadarus Al-Qur’an, serta menunaikan infak, sedekah, zakat mal, dan zakat fitrah. Semua itu bukan sekadar ritual, melainkan proses pembentukan karakter: melatih kesabaran, menumbuhkan empati, dan memperhalus kepekaan sosial.

Idul Fitri kemudian hadir sebagai puncak dari seluruh proses tersebut. Sholat Id menjadi simbol kemenangan spiritual, sementara gema takbir menjadi ekspresi kolektif rasa syukur. Namun, esensi kemenangan itu justru diuji dalam kehidupan sosial setelahnya—yakni dalam praktik silaturahmi.

Selama beberapa hari, bahkan hingga sepekan setelah Idul Fitri, masyarakat Indonesia disibukkan dengan tradisi kunjung-mengunjungi. Rumah-rumah terbuka, hidangan disajikan, dan percakapan mengalir hangat. Keluarga yang lama tak berjumpa kembali bertatap muka, tetangga saling menyapa, dan sahabat lama menjalin kembali komunikasi yang sempat terputus. Di titik inilah silaturahmi berfungsi sebagai jembatan sosial yang menghubungkan kembali simpul-simpul hubungan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan hidup.

Lebih dari itu, silaturahmi juga menjadi ruang rekonsiliasi. Ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi kesadaran bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Dalam silaturahmi, ego ditundukkan, gengsi dikesampingkan, dan hati dilapangkan untuk saling memaafkan. Di tengah masyarakat yang kian kompleks dan rentan konflik, nilai ini menjadi sangat relevan.

Namun, di era modern yang serba digital, silaturahmi menghadapi tantangan tersendiri. Relasi manusia kerap tergantikan oleh interaksi virtual yang dangkal. Ucapan selamat dan permohonan maaf cukup dikirim melalui pesan singkat atau media sosial, tanpa kehadiran fisik dan sentuhan emosional. Meskipun teknologi memudahkan komunikasi, ia tidak sepenuhnya mampu menggantikan kehangatan pertemuan langsung.

Di sinilah pentingnya menjaga esensi silaturahmi. Ia bukan sekadar bertukar kata, tetapi juga menghadirkan diri, mendengar, dan merasakan. Silaturahmi yang hakiki adalah ketika hubungan manusia tidak hanya tersambung secara formal, tetapi juga terikat secara emosional dan spiritual.

Akhirnya, silaturahmi pasca Idul Fitri harus dipahami sebagai kelanjutan dari keberhasilan Ramadhan. Jika selama Ramadhan kita mendekat kepada Allah, maka setelahnya kita dituntut untuk mendekat kepada sesama manusia. Silaturahmi adalah bukti bahwa kesalehan tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus menjelma dalam harmoni sosial.

Dengan demikian, silaturahmi bukan hanya tradisi, melainkan kebutuhan. Ia adalah fondasi bagi terciptanya masyarakat yang rukun, damai, dan penuh empati. Dan di tengah dunia yang kian terfragmentasi, silaturahmi menjadi pengingat sederhana bahwa pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk saling terhubung—bukan saling menjauh.

Wallohu a'lam

Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan 1 Syawal 1447 H

 


ketakketikmustopa.com, Langit pagi di Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin tampak cerah. Spanduk besar terpampang di depan aula utama:

“Seminar Nasional: Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan 1 Syawal 1447 H”

Mahasiswa berdatangan dengan penuh antusias. Sebagian berbisik-bisik membahas hal yang sama—perbedaan hari raya yang kembali terjadi tahun ini.

Di dalam aula, suasana mulai hangat. Di atas panggung, tampak sosok berwibawa, Dr. Imam Supardi, S.H.I, Ketua STID Al-Biruni, duduk berdampingan dengan beberapa dosen.

Acara dibuka. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Dr. Imam Supardi berdiri, merapikan mikrofon.

Dr. Imam Supardi:

“Bapak-Ibu dosen, dan anak-anakku mahasiswa yang saya banggakan… hari ini kita tidak sekadar berkumpul dalam seminar. Kita sedang belajar menjadi umat yang dewasa.”

Aula hening. Semua mata tertuju kepadanya.

Dr. Imam Supardi melanjutkan:

“Sebagaimana kita ketahui, tahun ini terjadi perbedaan. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H pada hari Jum’at, 20 Maret 2026. Sementara Nahdlatul Ulama menetapkan pada hari Sabtu, 21 Maret 2026.”

Seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan. Namanya Husein.

“Pak, kalau boleh jujur… kami kadang bingung. Kenapa sih hal sepenting hari raya bisa berbeda? Bukankah seharusnya umat Islam itu satu?”

Dr. Imam Supardi tersenyum, lalu melangkah perlahan mendekati tepi panggung.

“Pertanyaan yang sangat baik. Justru dari kebingungan itulah ilmu lahir.”

Beberapa mahasiswa tersenyum.

Dr. Imam Supardi:

“Perbedaan ini bukan karena umat Islam tidak satu. Tapi karena cara memahami dalil bisa berbeda. Ada yang menggunakan rukyat, melihat hilal langsung. Ada juga yang menggunakan hisab, perhitungan astronomi.”

Seorang dosen, Pak Mustopa, ikut menimpali dari kursinya.

“Dan keduanya punya dasar. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.’ Tapi dalam perkembangan ilmu, hisab juga menjadi alat bantu yang kuat.”

Mahasiswi bernama Zizi ikut angkat tangan.

“Pak, kalau begitu… mana yang paling benar?”

Suasana menjadi sedikit tegang. Semua menunggu jawaban.

Pak Imam Supardi tersenyum lebih dalam.

“Pertanyaan seperti itu sering muncul. Tapi mungkin kita perlu mengubah cara bertanya. Bukan ‘mana yang paling benar’, tapi ‘bagaimana kita menyikapi perbedaan ini dengan benar’.”

Aula mulai terasa hangat.

Dr. Imam Supardi melanjutkan pembicaraan:

“Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:

‘Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.’ (QS. Ali Imran: 103)”

Seorang mahasiswa lain, Rafi, ikut berbicara.

“Berarti… yang salah itu bukan perbedaannya, tapi sikap kita ya, Pak?”

Dr. Imam Supardi:

“MasyaAllah… tepat sekali.”

Pak Mustopa berujar:

“Kalau kita saling menyalahkan hanya karena beda hari lebaran, berarti kita belum lulus dari pelajaran ukhuwah.”

Suasana aula berubah menjadi reflektif.

Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa mulai saling berbisik, namun kini dengan nada yang lebih tenang.

Zizi bertanya:

“Jadi… kalau saya ikut keluarga yang lebaran hari Jum’at, sementara teman saya Sabtu… itu tidak masalah ya?”

Dr. Imam Supardi:

“Tidak masalah. Yang penting, setelah itu kalian tetap saling bermaafan, saling mengunjungi, dan tidak memutus silaturahmi.”

Husein tersenyum:

“Berarti bisa dua kali makan opor, Pak?”

Seluruh aula pecah dalam tawa.

Pak Mustopa sambil tersenyum berujar:

“Kalau niatnya ukhuwah, insyaAllah berkah.”

Dr. Imam menutup dengan suara yang lembut namun penuh makna.

Dr. Imam Supardi:

“Anak-anakku… Idul Fitri bukan hanya tentang tanggal. Tapi tentang hati yang kembali bersih. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan hari raya, tapi lupa menjaga persaudaraan.”

Sejenak hening.

Dr. Imam Supardi dengan suara pelan:

“Karena pada akhirnya… kita semua menuju Allah yang sama.”

Aula dipenuhi keheningan yang dalam. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena setiap hati sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Di luar, angin berhembus pelan. Seolah ikut membawa pesan:

Bahwa perbedaan adalah warna, dan ukhuwah adalah cahaya yang menyatukannya.