Lebaran Blue: Sunyi Setelah Riuh

 

ketakketikmustopa.com, “Lebaran Blue” adalah istilah yang menggambarkan kondisi emosional berupa rasa hampa, sepi, atau kehilangan yang muncul setelah perayaan Idul Fitri usai. Ia bukan sekadar kesedihan biasa, melainkan perasaan sunyi yang hadir setelah puncak kebahagiaan, ketika suasana hangat kebersamaan perlahan menghilang dan kehidupan kembali pada ritme semula.

Fenomena ini mungkin belum banyak dibicarakan secara luas, tetapi dirasakan oleh banyak orang. Beberapa hari setelah Idul Fitri berlalu, ada perubahan yang terasa—pelan namun nyata. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi arus mudik kini kembali lengang. Rumah-rumah yang kemarin riuh oleh tawa dan pelukan, kini kembali sunyi. Meja makan yang sebelumnya penuh dengan hidangan khas Lebaran, kini hanya menyisakan jejak.

Semua itu menghadirkan satu perasaan yang sulit diungkapkan: kehilangan dalam diam.

Lebaran selalu menjadi momentum yang sarat makna. Ia bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang pertemuan jiwa-jiwa yang lama terpisah. Anak-anak kembali ke pangkuan orang tua, saudara-saudara berkumpul menghapus jarak, dan luka-luka lama mencair dalam kalimat sederhana, “mohon maaf lahir dan batin.”

Dalam suasana seperti itu, kebahagiaan terasa begitu utuh. Hati menjadi hangat, relasi menjadi dekat, dan hidup seakan kembali menemukan keseimbangannya.

Namun, sebagaimana semua momen, Lebaran pun memiliki batas waktu. Libur usai, rutinitas kembali memanggil. Satu per satu anggota keluarga kembali ke kota masing-masing. Rumah yang sebelumnya penuh, kini terasa terlalu lapang. Dan di titik itulah, “Lebaran Blue” menemukan momentumnya.

Seorang ibu mungkin kini duduk sendiri di ruang tamu, memandang kursi-kursi kosong yang kemarin dipenuhi anak-anaknya. Seorang anak mungkin menahan rindu dalam perjalanan kembali, menyadari bahwa pertemuan yang singkat itu menyimpan makna yang begitu dalam. Sementara yang lain, mungkin hanya merasakan kekosongan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.

Dalam perspektif yang lebih reflektif, “Lebaran Blue” sesungguhnya bukanlah sesuatu yang perlu ditolak. Ia adalah konsekuensi dari kebahagiaan yang tulus. Rasa hampa itu hadir justru karena sebelumnya hati kita dipenuhi kehangatan. Kesedihan itu adalah bukti bahwa kita pernah merasakan cinta, kebersamaan, dan kedekatan yang autentik.

Di sinilah pentingnya memaknai “Lebaran Blue” secara lebih bijak.

Alih-alih memandangnya sebagai akhir dari kebahagiaan, kita justru dapat menjadikannya sebagai pintu refleksi. Bahwa nilai-nilai yang kita rasakan selama Lebaran—silaturahmi, kasih sayang, keikhlasan, dan saling memaafkan—bukanlah milik satu hari saja. Ia adalah nilai yang seharusnya terus hidup dalam keseharian.

Sayangnya, dalam praktik sosial, semangat itu seringkali hanya bertahan sesaat. Setelah Ramadhan dan Idul Fitri berlalu, intensitas ibadah menurun, komunikasi antar keluarga kembali renggang, dan kepedulian sosial perlahan memudar. Di sinilah ironi itu muncul: kita merindukan suasana yang sebenarnya bisa kita jaga.

“Lebaran Blue” seharusnya menjadi alarm batin.

Ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang hilang bukan karena waktu, tetapi karena kita tidak berusaha mempertahankannya. Kerinduan yang muncul setelah Lebaran bisa jadi bukan sekadar rindu pada keluarga, tetapi rindu pada versi diri kita yang lebih baik—lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Oleh karena itu, tantangan pasca-Lebaran bukanlah bagaimana menghindari kesedihan, melainkan bagaimana merawat nilai-nilai yang telah kita bangun selama Ramadhan dan Idul Fitri. Silaturahmi tidak harus menunggu hari raya. Kepedulian tidak harus menunggu momentum. Dan kebaikan tidak seharusnya berhenti pada seremoni.

Kita perlu menggeser cara pandang: dari merayakan momen, menuju menjaga makna.

Lebaran memang telah usai. Ketupat telah habis, tamu-tamu telah pulang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Namun, jika nilai-nilai yang sempat menghangatkan hati itu ikut pergi, maka yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa ruh.

Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam Lebaran bukan terletak pada kemeriahannya, tetapi pada kemampuan kita menjaga cahaya kebaikan tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika suasana telah sunyi, bahkan ketika hari-hari kembali biasa.

Di situlah “Lebaran Blue” menemukan makna terdalamnya: bukan sebagai tanda berakhirnya kebahagiaan, tetapi sebagai panggilan sunyi untuk menjaga agar kebahagiaan itu tetap hidup—di dalam hati, sepanjang waktu.

Wallohu a'lam.

Syawalan: Merawat Tradisi dan Menguatkan Ukhuwah



ketakketikmustopa.com, Pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri, umat Islam di Indonesia tidak serta-merta berhenti dalam nuansa kebersamaan dan spiritualitas. Ada satu tradisi yang tetap hidup dan terus diwariskan lintas generasi, yakni Syawalan. Tradisi ini menjadi bagian dari denyut kehidupan sosial-keagamaan masyarakat, khususnya di kalangan (NU), yang dikenal kuat dalam menjaga kearifan lokal bernuansa Islami.

Syawalan merupakan aktivitas masyarakat yang dilaksanakan pada bulan Syawal, setelah Idul Fitri. Tradisi ini biasanya diawali dengan berkumpulnya masyarakat di area pemakaman umum. Mereka datang tidak sekadar berziarah, tetapi juga untuk mengirimkan doa kepada para leluhur. Lantunan tahlil, doa, dan dzikir bersama menjadi inti dari kegiatan ini—sebuah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mendahului sekaligus pengingat akan hakikat kehidupan manusia.

Dalam perspektif keagamaan, praktik ini mencerminkan ajaran Islam tentang pentingnya mendoakan orang yang telah wafat. Di sisi lain, secara sosial, Syawalan menjadi ruang perjumpaan yang hangat antarwarga. Tidak ada sekat status sosial; semua hadir sebagai bagian dari komunitas yang sama, duduk bersila di atas tanah yang mengingatkan pada asal-usul manusia.

Menariknya, setelah rangkaian doa dan tahlil selesai, masyarakat biasanya melanjutkan dengan acara makan bersama. Kegiatan ini umumnya dipusatkan di rumah seorang kyai atau tokoh masyarakat yang dihormati. Hidangan sederhana yang disajikan bukan sekadar santapan, melainkan simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Dalam suasana santai itu, percakapan mengalir, hubungan sosial diperkuat, dan nilai-nilai kebersamaan ditanamkan secara alami.

Syawalan bukan hanya tradisi seremonial, melainkan juga sarana pendidikan sosial dan spiritual. Ia mengajarkan pentingnya menghargai leluhur, mempererat tali silaturahmi, serta menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi ini juga menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, keberadaan tradisi seperti Syawalan patut dijaga dan dilestarikan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga identitas kultural yang mengandung nilai-nilai luhur. Dalam Syawalan, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga meneguhkan masa depan—masa depan yang berakar pada tradisi, namun tetap relevan dengan zaman.

Syawalan juga mengajarkan bahwa setelah Ramadhan dan Idul Fitri, perjalanan spiritual belum usai. Ia justru menemukan bentuk baru dalam kebersamaan, doa, dan kepedulian sosial. Sebuah tradisi yang sederhana, namun sarat makna: merawat hubungan dengan Tuhan, manusia, dan juga mereka yang telah lebih dahulu kembali ke pangkuan-Nya.

Wallohu a'lam.

Silaturahmi: Merajut Kebersamaan Pasca Idul Fitri

 

ketakketikmustopa.com, Pasca gema takbir yang berkumandang pada malam Idul Fitri, umat Islam memasuki fase yang tak kalah penting dari rangkaian ibadah Ramadhan: silaturahmi. Ia bukan sekadar tradisi tahunan yang berulang, tetapi sebuah praktik sosial yang sarat nilai spiritual, kultural, sekaligus kemanusiaan.

Secara bahasa, silaturahmi berasal dari kata shilah yang berarti menyambung dan rahim yang bermakna kasih sayang atau hubungan kekerabatan. Makna ini menegaskan bahwa silaturahmi adalah upaya aktif untuk menyambung kembali ikatan yang mungkin renggang, sekaligus merawat kasih sayang di antara sesama. Adapun secara istilah, silaturahmi dipahami sebagai usaha menjalin dan mempererat hubungan antar manusia—baik keluarga, tetangga, maupun masyarakat luas—dengan landasan keimanan dan niat ibadah kepada Allah SWT.

Dalam konteks kehidupan umat Islam, silaturahmi menemukan momentumnya yang paling kuat setelah bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh, umat ditempa dalam madrasah spiritual: berpuasa menahan lapar dan dahaga, menghidupkan malam dengan sholat tarawih, memperbanyak tadarus Al-Qur’an, serta menunaikan infak, sedekah, zakat mal, dan zakat fitrah. Semua itu bukan sekadar ritual, melainkan proses pembentukan karakter: melatih kesabaran, menumbuhkan empati, dan memperhalus kepekaan sosial.

Idul Fitri kemudian hadir sebagai puncak dari seluruh proses tersebut. Sholat Id menjadi simbol kemenangan spiritual, sementara gema takbir menjadi ekspresi kolektif rasa syukur. Namun, esensi kemenangan itu justru diuji dalam kehidupan sosial setelahnya—yakni dalam praktik silaturahmi.

Selama beberapa hari, bahkan hingga sepekan setelah Idul Fitri, masyarakat Indonesia disibukkan dengan tradisi kunjung-mengunjungi. Rumah-rumah terbuka, hidangan disajikan, dan percakapan mengalir hangat. Keluarga yang lama tak berjumpa kembali bertatap muka, tetangga saling menyapa, dan sahabat lama menjalin kembali komunikasi yang sempat terputus. Di titik inilah silaturahmi berfungsi sebagai jembatan sosial yang menghubungkan kembali simpul-simpul hubungan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan hidup.

Lebih dari itu, silaturahmi juga menjadi ruang rekonsiliasi. Ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi kesadaran bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Dalam silaturahmi, ego ditundukkan, gengsi dikesampingkan, dan hati dilapangkan untuk saling memaafkan. Di tengah masyarakat yang kian kompleks dan rentan konflik, nilai ini menjadi sangat relevan.

Namun, di era modern yang serba digital, silaturahmi menghadapi tantangan tersendiri. Relasi manusia kerap tergantikan oleh interaksi virtual yang dangkal. Ucapan selamat dan permohonan maaf cukup dikirim melalui pesan singkat atau media sosial, tanpa kehadiran fisik dan sentuhan emosional. Meskipun teknologi memudahkan komunikasi, ia tidak sepenuhnya mampu menggantikan kehangatan pertemuan langsung.

Di sinilah pentingnya menjaga esensi silaturahmi. Ia bukan sekadar bertukar kata, tetapi juga menghadirkan diri, mendengar, dan merasakan. Silaturahmi yang hakiki adalah ketika hubungan manusia tidak hanya tersambung secara formal, tetapi juga terikat secara emosional dan spiritual.

Akhirnya, silaturahmi pasca Idul Fitri harus dipahami sebagai kelanjutan dari keberhasilan Ramadhan. Jika selama Ramadhan kita mendekat kepada Allah, maka setelahnya kita dituntut untuk mendekat kepada sesama manusia. Silaturahmi adalah bukti bahwa kesalehan tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus menjelma dalam harmoni sosial.

Dengan demikian, silaturahmi bukan hanya tradisi, melainkan kebutuhan. Ia adalah fondasi bagi terciptanya masyarakat yang rukun, damai, dan penuh empati. Dan di tengah dunia yang kian terfragmentasi, silaturahmi menjadi pengingat sederhana bahwa pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk saling terhubung—bukan saling menjauh.

Wallohu a'lam

Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan 1 Syawal 1447 H

 


ketakketikmustopa.com, Langit pagi di Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin tampak cerah. Spanduk besar terpampang di depan aula utama:

“Seminar Nasional: Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan 1 Syawal 1447 H”

Mahasiswa berdatangan dengan penuh antusias. Sebagian berbisik-bisik membahas hal yang sama—perbedaan hari raya yang kembali terjadi tahun ini.

Di dalam aula, suasana mulai hangat. Di atas panggung, tampak sosok berwibawa, Dr. Imam Supardi, S.H.I, Ketua STID Al-Biruni, duduk berdampingan dengan beberapa dosen.

Acara dibuka. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Dr. Imam Supardi berdiri, merapikan mikrofon.

Dr. Imam Supardi:

“Bapak-Ibu dosen, dan anak-anakku mahasiswa yang saya banggakan… hari ini kita tidak sekadar berkumpul dalam seminar. Kita sedang belajar menjadi umat yang dewasa.”

Aula hening. Semua mata tertuju kepadanya.

Dr. Imam Supardi melanjutkan:

“Sebagaimana kita ketahui, tahun ini terjadi perbedaan. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H pada hari Jum’at, 20 Maret 2026. Sementara Nahdlatul Ulama menetapkan pada hari Sabtu, 21 Maret 2026.”

Seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan. Namanya Husein.

“Pak, kalau boleh jujur… kami kadang bingung. Kenapa sih hal sepenting hari raya bisa berbeda? Bukankah seharusnya umat Islam itu satu?”

Dr. Imam Supardi tersenyum, lalu melangkah perlahan mendekati tepi panggung.

“Pertanyaan yang sangat baik. Justru dari kebingungan itulah ilmu lahir.”

Beberapa mahasiswa tersenyum.

Dr. Imam Supardi:

“Perbedaan ini bukan karena umat Islam tidak satu. Tapi karena cara memahami dalil bisa berbeda. Ada yang menggunakan rukyat, melihat hilal langsung. Ada juga yang menggunakan hisab, perhitungan astronomi.”

Seorang dosen, Pak Mustopa, ikut menimpali dari kursinya.

“Dan keduanya punya dasar. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.’ Tapi dalam perkembangan ilmu, hisab juga menjadi alat bantu yang kuat.”

Mahasiswi bernama Zizi ikut angkat tangan.

“Pak, kalau begitu… mana yang paling benar?”

Suasana menjadi sedikit tegang. Semua menunggu jawaban.

Pak Imam Supardi tersenyum lebih dalam.

“Pertanyaan seperti itu sering muncul. Tapi mungkin kita perlu mengubah cara bertanya. Bukan ‘mana yang paling benar’, tapi ‘bagaimana kita menyikapi perbedaan ini dengan benar’.”

Aula mulai terasa hangat.

Dr. Imam Supardi melanjutkan pembicaraan:

“Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:

‘Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.’ (QS. Ali Imran: 103)”

Seorang mahasiswa lain, Rafi, ikut berbicara.

“Berarti… yang salah itu bukan perbedaannya, tapi sikap kita ya, Pak?”

Dr. Imam Supardi:

“MasyaAllah… tepat sekali.”

Pak Mustopa berujar:

“Kalau kita saling menyalahkan hanya karena beda hari lebaran, berarti kita belum lulus dari pelajaran ukhuwah.”

Suasana aula berubah menjadi reflektif.

Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa mulai saling berbisik, namun kini dengan nada yang lebih tenang.

Zizi bertanya:

“Jadi… kalau saya ikut keluarga yang lebaran hari Jum’at, sementara teman saya Sabtu… itu tidak masalah ya?”

Dr. Imam Supardi:

“Tidak masalah. Yang penting, setelah itu kalian tetap saling bermaafan, saling mengunjungi, dan tidak memutus silaturahmi.”

Husein tersenyum:

“Berarti bisa dua kali makan opor, Pak?”

Seluruh aula pecah dalam tawa.

Pak Mustopa sambil tersenyum berujar:

“Kalau niatnya ukhuwah, insyaAllah berkah.”

Dr. Imam menutup dengan suara yang lembut namun penuh makna.

Dr. Imam Supardi:

“Anak-anakku… Idul Fitri bukan hanya tentang tanggal. Tapi tentang hati yang kembali bersih. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan hari raya, tapi lupa menjaga persaudaraan.”

Sejenak hening.

Dr. Imam Supardi dengan suara pelan:

“Karena pada akhirnya… kita semua menuju Allah yang sama.”

Aula dipenuhi keheningan yang dalam. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena setiap hati sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Di luar, angin berhembus pelan. Seolah ikut membawa pesan:

Bahwa perbedaan adalah warna, dan ukhuwah adalah cahaya yang menyatukannya.

Filosofi Ketupat Lebaran

 


ketakletikmustopa.com, Halaman kampus sore itu tampak ramai. Para mahasiswa hilir mudik menyiapkan perlengkapan untuk sholat Idul Fitri esok hari. Ada yang memasang spanduk, mengatur sound system, hingga menyusun sajadah.

Di sudut halaman, pak Dr. Ahmad Husni duduk santai sambil memperhatikan. Sesekali beliau tersenyum melihat kesibukan para mahasiswa.

“Wah, kalau begini suasananya… Lebaran sudah terasa ya,” ujarnya ringan.

Husein yang sedang menggulung kabel menoleh.
“Iya, Pak. Tinggal nunggu takbir aja ini.”

Pak Ahmad Husni mengangguk, lalu tiba-tiba bertanya,

“Eh, saya mau tanya. Ada yang tahu nggak… apa arti filosofi ketupat Lebaran?”

Mahasiswa langsung saling pandang.

Siti menjawab duluan,
“Kalau saya taunya… makanan wajib, Pak.”

“Kalau saya,” sambung Husein, “yang penting ada opor, Pak.”

Semua tertawa.

Pak Dr. Ahmad Husni ikut tersenyum.
“Jawaban jujur, tapi belum dalam.”

Rina yang sedang melipat sajadah ikut nimbrung.
“Memang ada sejarahnya ya, Pak?”

“Ada,” jawab Pak Ahmad Husni. “Tradisi ketupat ini sering dikaitkan dengan dakwah .”

“Wali Songo, Pak?” tanya Husein penasaran.

“Iya. Beliau menggunakan budaya sebagai media dakwah. Salah satunya lewat ketupat. Supaya masyarakat mudah memahami ajaran Islam tanpa merasa asing.”

Siti mengangguk.
“Jadi ketupat itu bukan sekadar makanan ya, Pak?”

“Bukan,” jawab beliau. “Ia adalah simbol.”

Makna "Ngaku Lepat"

Pak Ahmad Husni melanjutkan sambil berdiri mendekati mereka.

“Dalam bahasa Jawa, ‘kupat’ itu berarti ngaku lepat—mengakui kesalahan.”

Rina berhenti melipat sajadah.
“Berarti… ketupat itu simbol minta maaf, Pak?”

“Betul,” kata beliau. “Makanya muncul di momen Lebaran. Karena setelah Ramadhan, kita kembali ke fitrah dan saling memaafkan.”

Husein tersenyum kecil.
“Pantesan tiap Lebaran kita keliling minta maaf…”

Siti bertanya lagi,
“Tapi Pak… kenapa harus ketupat? Kenapa bukan makanan lain?”

Pak Ahmad Husni mengambil sehelai janur yang tergeletak di meja.

“Lihat ini. Anyaman ketupat itu rumit. Seperti apa?”

“Seperti… hidup kita, Pak?” jawab Rina.

“Ya,” kata beliau. “Kesalahan manusia itu berlapis, tidak sederhana. Tapi setelah dibuka…”

“Jadi putih,” sambung Husein cepat.

“Betul,” kata beliau. “Itu simbol hati yang kembali bersih setelah Ramadhan.”

Siti tersenyum.
“Berarti ketupat itu kayak ‘hasil akhir’ Ramadhan ya, Pak?”

“MasyaAllah… tepat sekali,” jawab beliau bangga.

Husein langsung mengangkat tangan lagi.
“Pak, ini pertanyaan penting. Kenapa harus sama opor?”

Mahasiswa lain langsung tertawa.

Pak Ahmad Husni ikut tersenyum.

“Baik. Ketupat itu rasanya bagaimana?”

“Tawar, Pak,” jawab mereka serempak.

“Nah, opor itu gurih, kaya rasa. Artinya apa?”

Rina berpikir sejenak.
“Mungkin… hidup itu nggak cukup bersih, tapi juga harus penuh rasa?”

“Lebih tepat,” jawab beliau, “ketupat itu hati yang bersih. Opor itu nikmat Allah. Kalau hati kita bersih, kita bisa merasakan nikmat dengan benar.”

Siti mengangguk pelan.
“Kalau hati nggak bersih… semua terasa biasa saja ya, Pak?”

“Iya,” jawab beliau. “Makanya Lebaran itu bukan soal makanan, tapi soal rasa syukur.”

Langit mulai gelap. Suara takbir dari masjid sekitar mulai terdengar samar.

Pak Ahmad Husni menatap para mahasiswa yang masih sibuk.

“Besok kalian bukan hanya menyiapkan sholat Id,” katanya. “Tapi juga menyambut hati yang baru.”

Husein tersenyum.
“Dengan ketupat dan opor, Pak…”

Pak Ahmad Husni tertawa kecil.

“Boleh… tapi jangan lupa maknanya.”

Rina menatap langit yang mulai gelap.
“Pak… ternyata dari ketupat saja kita bisa belajar banyak ya…”

“Iya,” jawab beliau lembut. “Karena kadang, Allah menyampaikan pelajaran besar… lewat hal yang sederhana.”

Mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Tapi kali ini, bukan hanya sibuk mempersiapkan acara…

melainkan juga mempersiapkan hati—
seputih isi ketupat yang siap dibuka di hari kemenangan.

Wallohu a'lam 

Zakat: Ibadah Sosial Penghubung Si Kaya dan Si Miskin

 

ketakketikmustopa.com, Sore itu suasana Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon terasa berbeda. Angin Ramadhan berhembus lembut di halaman kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang baru saja selesai mengikuti perkuliahan terakhir sebelum libur Idul Fitri.

Di ruang kelas Tafsir Sosial Islam, Pak Dr. Syafi'i Ma'arif, sedang menutup perkuliahan dengan sebuah pertanyaan.

“Anak-anak,” katanya sambil menatap para mahasiswa, “apa makna zakat bagi kehidupan masyarakat?”

Mahasiswa saling pandang. Pertanyaan itu sederhana, tetapi Pak Syafi’i dikenal sering menyimpan makna yang dalam di balik setiap pertanyaan.

Seorang mahasiswa bernama Fajar mengangkat tangan.

“Pak, zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu untuk membantu orang miskin,” jawabnya singkat.

Pak Syafi’i tersenyum.

“Benar, Fajar. Tapi zakat bukan hanya soal kewajiban. Zakat adalah jembatan hati antara yang kaya dan yang miskin.”

Mahasiswa lain, Siti Rahma, ikut bertanya.

“Pak, kenapa Islam sangat menekankan zakat?”

Pak Syafi’i berjalan perlahan di depan kelas, lalu menjawab dengan tenang.

“Karena zakat bukan hanya ibadah kepada Allah, tetapi juga ibadah sosial kepada manusia. Allah bahkan menyebut zakat bersamaan dengan shalat dalam Al-Qur’an.”

Ia kemudian mengutip ayat dengan suara yang tenang.

"Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat."
(QS. Al-Baqarah: 43)

Suasana kelas menjadi hening. Para mahasiswa mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Shalat menghubungkan manusia dengan Allah,” lanjut Pak Syafi’i, “sedangkan zakat menghubungkan manusia dengan sesamanya.”

Fajar terlihat berpikir. Ia berasal dari keluarga sederhana di Indramayu. Ayahnya seorang nelayan yang penghasilannya tidak menentu.

“Pak,” kata Fajar perlahan, “apakah zakat benar-benar bisa mengurangi kesenjangan sosial?”

Pak Syafi’i tersenyum lagi.

“Bisa, jika dikelola dengan baik dan dilakukan dengan hati yang ikhlas.”

Ia kemudian duduk di tepi meja.

“Rasulullah SAW bersabda bahwa zakat fitrah adalah penyuci bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin.”

Pak Syafi’i membaca hadis itu dengan pelan.

"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin."
(HR. Abu Dawud)

Siti Rahma terlihat terharu.

“Berarti zakat bukan hanya membantu orang miskin, Pak?”

“Betul,” jawab Pak Syafi’i. “Zakat juga membersihkan hati orang yang memberi.”

Bel berbunyi menandakan waktu kuliah telah selesai. Namun para mahasiswa belum juga beranjak.

Tiba-tiba Ridwan, mahasiswa lain yang biasanya pendiam, mengangkat tangan.

“Pak… kalau boleh, saya ingin cerita.”

Pak Syafi’i mengangguk.

“Silakan, Ridwan.”

Ridwan menarik napas panjang.

“Dulu keluarga saya sangat miskin, Pak. Setiap menjelang Idul Fitri, kami selalu khawatir karena tidak punya cukup makanan. Tapi suatu hari ada orang yang memberikan zakat kepada keluarga kami. Ibu saya menangis waktu itu.”

Suasana kelas tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Ridwan melanjutkan dengan suara bergetar.

“Sejak saat itu saya berjanji, jika suatu hari Allah memberi saya rezeki, saya ingin menjadi orang yang membantu orang lain lewat zakat.”

Pak Syafi’i menatap Ridwan dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ridwan,” katanya lembut, “itulah sebenarnya tujuan zakat. Bukan hanya membantu yang membutuhkan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan persaudaraan.”

Ia kemudian berdiri dan berkata dengan penuh semangat.

“Bayangkan jika setiap orang yang mampu benar-benar menunaikan zakat dengan baik. Tidak akan ada orang yang kelaparan di sekitar kita.”

Para mahasiswa mengangguk.

Siti Rahma tersenyum kecil.

“Pak, berarti zakat itu bukan sekadar kewajiban tahunan ya?”

“Benar,” jawab Pak Syafi’i. “Zakat adalah jembatan sosial yang menghubungkan orang kaya dengan orang miskin.”

Di luar kelas, matahari mulai tenggelam. Cahaya senja Ramadhan menyinari halaman kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon.

Pak Syafi’i menutup perkuliahan dengan sebuah pesan.

“Anak-anak, ingatlah satu hal. Kebahagiaan sejati bukan hanya ketika kita memiliki banyak harta, tetapi ketika kita mampu berbagi dengan sesama.”

Para mahasiswa keluar dari kelas dengan hati yang berbeda dari sebelumnya.

Di penghujung Ramadhan itu, mereka tidak hanya belajar tentang zakat sebagai teori dalam buku. Mereka belajar bahwa zakat adalah ibadah sosial yang mampu menyatukan hati manusia.

Dan di kampus kecil STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, sebuah pelajaran sederhana tentang zakat telah menumbuhkan mimpi besar: membangun masyarakat yang lebih adil, penuh kepedulian, dan saling menguatkan.

Wallohu a'lam 

Fatayat PAC Waled Bagikan 1.000 Paket Takjil di Depan Gedung GMNU MWC Waled

 


ketakketikmustopa.com, Fatayat PAC Waled kembali menggelar kegiatan sosial tahunan berupa bagi-bagi takjil di depan gedung GMNU MWC Waled. Acara yang digelar pada sore hari ini turut dihadiri pengurus Banom NU Waled. (15/3/2026)

Dengan semangat Ramadan yang terasa hangat, para pengurus Fatayat PAC Waled membagikan 1.000 paket takjil kepada masyarakat yang melintas di depan gedung. Ibu Aat Farhatun, Ketua Fatayat PAC Waled, menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung beberapa tahun terakhir sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus berbagi berkah.

“Alhamdulillah, tahun ini kami bisa menyiapkan 1.000 paket takjil. Kami berharap paket ini bisa sedikit meringankan dan memberi kebahagiaan bagi masyarakat yang berpuasa,” ujar Ibu Aat dengan senyum hangat.

Suasana di lokasi pembagian terlihat meriah. Para pengendara sepeda motor dan pejalan kaki berhenti sejenak untuk menerima takjil, sementara beberapa warga tampak berterima kasih sambil tersenyum. Tak jarang terdengar sapaan hangat dan tawa ringan dari pengurus Fatayat saat menyerahkan paket-paket takjil.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara pengurus Fatayat, Banom NU, dan masyarakat sekitar. Kehangatan dan antusiasme warga menegaskan bahwa tradisi berbagi di bulan suci Ramadan tetap hidup, membawa kebahagiaan dan semangat kebersamaan bagi seluruh komunitas.


@potsum-jurnalis-albiruni