ketakketikmustopa.com, Di lantai dua kampus , bangku baris kedua dekat jendela bukan hanya tempat diskusi strategi dakwah atau presentasi teori komunikasi Islam. Di sanalah Zaki dan Ghania pertama kali duduk berdampingan, berbagi buku, berbagi catatan… lalu tanpa sadar berbagi hati.
Awalnya hanya tugas kelompok.
Lalu obrolan tentang ayat-ayat perjuangan.
Lalu pesan singkat tengah malam membahas materi kuliah.
Lalu, entah sejak kapan, ada kalimat “jangan lupa makan” yang terasa lebih hangat dari sekadar perhatian biasa.
Pacaran itu tumbuh pelan. Tidak heboh. Tidak diumbar.
Tapi dalam.
Mereka saling menyebut satu sama lain sebagai “teman seperjuangan.” Namun di balik itu, ada janji-janji kecil yang mereka rajut sendiri.
“Ana ingin kita sama-sama lulus tepat waktu,” kata Ghania suatu sore, menatap langit Babakan Ciwaringin dari jendela ruang dakwah.
“Lalu?” tanya Zaki.
“Lalu kita perjuangkan restu.”
Zaki tersenyum. “Dan kalau restu itu sulit?”
Ghania menoleh, matanya bening.
“Kita bukan hanya belajar dakwah, Zaki. Kita juga belajar sabar.”
Hubungan mereka berjalan lama. Dua tahun lebih.
Mereka tumbuh bersama—melewati ujian, KKN, rapat organisasi, hingga malam-malam penuh cemburu yang kadang tak terucap.
Tapi cinta, bahkan yang tumbuh di kampus dakwah, tak selalu berjalan lurus.
Masalah datang bukan karena mereka tak saling mencintai. Justru karena mereka terlalu mencintai.
Zaki mulai sibuk dengan aktivitas luar kampus. Undangan ceramah kecil-kecilan membuatnya sering pergi. Ghania merasa ditinggal, tapi memilih diam.
Suatu malam di ruang dakwah yang sepi, Ghania berkata pelan:
“Zaki, menurut antum… apa cinta bisa mengganggu cita-cita?”
Zaki terdiam.
“Kenapa tanya begitu?”
“Karena akhir-akhir ini ana merasa… kita lebih sering memperjuangkan perasaan daripada masa depan.”
Kalimat itu seperti pisau halus—tidak melukai kulit, tapi menembus dada.
“Ana melakukan semua ini untuk masa depan kita,” jawab Zaki, suaranya mulai meninggi.
“Tapi ana merasa berjalan sendiri.”
Hening.
Ruang dakwah yang dulu menjadi tempat mereka tertawa kini terasa seperti ruang sidang. Cinta mereka seakan diadili oleh kenyataan.
“Abi sudah menjodohkan ana,” ucap Ghania akhirnya.
Dunia Zaki runtuh dalam satu kalimat.
“Apa…?”
“Beliau ingin ana menikah setelah lulus. Dengan pilihan keluarga.”
“Dan antum diam saja?”
“Ana sudah berusaha menjelaskan tentang kita.”
Tentang kita.
Dua kata yang dulu hangat, kini terdengar seperti perpisahan.
“Lalu keputusan antum?” tanya Zaki dengan suara serak.
Ghania menunduk.
“Cinta kita panjang, Zaki. Tapi restu orang tua lebih panjang lagi.”
Zaki tertawa kecil—tawa yang lebih mirip luka.
“Jadi dua tahun ini apa? Hanya latihan kehilangan?”
Air mata Ghania jatuh.
“Jangan buat ana merasa bersalah karena memilih berbakti.”
“Dan jangan buat ana merasa tak pernah diperjuangkan.”
Hujan turun di luar. Deras. Seperti emosi yang tak lagi bisa dibendung.
Hari-hari berikutnya menjadi asing.
Mereka masih bertemu di kampus. Masih duduk di ruang dakwah yang sama. Tapi jarak di antara mereka lebih jauh dari sebelumnya.
Tak ada lagi pesan “sudah makan?”
Tak ada lagi panggilan larut malam.
Yang tersisa hanya tatapan yang cepat dialihkan.
Suatu sore terakhir, Ghania datang ke ruang dakwah.
“Zaki,” panggilnya.
Ia berdiri, tapi tak lagi mendekat.
“Kalau suatu hari ana menikah… tolong jangan benci ana.”
Zaki tersenyum tipis.
“Benci itu untuk orang yang tak pernah berarti. Antum terlalu dalam untuk dibenci.”
Air mata kembali jatuh.
“Maafkan ana.”
“Untuk apa?”
“Untuk cinta yang tak bisa ana pertahankan.”
Zaki menghela napas panjang.
“Cinta kita bukan gagal, Ghania. Hanya… tidak selesai.”
“Lalu rindu ini mau kita apakan?”
Zaki menatap bangku baris kedua—tempat semua bermula.
“Biarkan ia menjadi gugatan di ruang dakwah ini. Gugatan bahwa kita pernah mencintai… tapi tak cukup kuat melawan takdir.”
Ghania menangis dalam diam.
“Ana selalu mencintai antum.”
“Dan ana selalu ingin menghalalkan antum.”
“Tapi?”
“Tapi tidak semua yang kita perjuangkan… ditakdirkan untuk kita miliki.”
Setelah hari itu, mereka benar-benar berpisah.
Ruang dakwah tetap berdiri.
Bangku-bangku tetap tersusun rapi.
Mahasiswa baru datang dan pergi.
Namun bagi Zaki, setiap sudut ruangan itu menyimpan kenangan: tawa, janji, cemburu, dan doa yang tak pernah sampai ke pelaminan.
Cinta mereka panjang.
Dalam.
Tulus.
Tapi kandas.
Bukan karena tak saling mencintai.
Melainkan karena cinta saja tidak cukup
ketika takdir berbicara lebih keras dari rencana manusia.
Dan di ruang dakwah itu, rindu tetap tinggal—
menjadi saksi bahwa mereka pernah saling memiliki,
meski akhirnya harus saling melepaskan.






