Kisah Sunan Kalijaga Tidak Bisa Berangkat Haji


ketakketikmustopa.com, Setiap Muslim menyimpan kerinduan untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci, menghadap Ka’bah di Makkah, dan menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima. Kerinduan itu juga tumbuh dalam diri Sunan Kalijaga, atau Raden Said—seorang wali yang dikenal bijak dalam berdakwah dan dekat dengan budaya masyarakat Jawa.

Dikisahkan, suatu ketika Sunan Kalijaga berada di Malaka. Ia berniat melanjutkan perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, niat tersebut tidak terwujud. Seorang ulama sepuh, Maulana Maghribi, justru memintanya untuk kembali ke Jawa dan tidak melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.

Larangan itu bukan tanpa sebab. Saat itu, kondisi masyarakat Jawa sedang berada dalam masa transisi. Runtuhnya Majapahit dan munculnya Kesultanan Demak menimbulkan keguncangan sosial dan keagamaan. Keimanan masyarakat masih rapuh, dan dakwah sangat dibutuhkan. Maulana Maghribi khawatir, jika Sunan Kalijaga meninggalkan Jawa, masyarakat akan kehilangan bimbingan dan bisa kembali pada keyakinan lama.¹

Lebih dari itu, Maulana Maghribi menyampaikan pesan yang mendalam: bahwa “Makkah sejati” bukan hanya tempat yang jauh di sana, tetapi juga berada dalam diri manusia. Ka’bah di Makkah adalah simbol tauhid yang agung, namun hakikat haji tidak berhenti pada perjalanan fisik. Haji adalah perjalanan ruhani—menuju penyucian hati dan kedekatan dengan Allah.²

Dalam ajaran yang terekam dalam Suluk Wijil, seseorang dikatakan sampai pada “Makkah sejati” ketika ia mampu menjalani mati sajroning urip—mematikan hawa nafsu dan menghidupkan kesadaran spiritual dalam dirinya.³

Versi lain menyebutkan bahwa yang menghentikan perjalanan Sunan Kalijaga adalah Nabi Khidir. Dalam perjalanan di tengah laut menuju Makkah, Nabi Khidir menasihatinya agar tidak melanjutkan perjalanan jika belum memahami makna ibadah yang akan dijalani. Kisah ini terekam dalam Suluk Linglung.⁴

Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga: bahwa dalam kondisi tertentu, kepentingan umat harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi. Sunan Kalijaga memilih kembali ke Jawa untuk menguatkan iman masyarakat dan melanjutkan dakwahnya.

Jika kita refleksikan pada masa kini, persoalan umat tidak hanya soal keimanan, tetapi juga kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan sosial. Maka menjadi tidak bijak jika seseorang berulang kali menunaikan haji atau umrah, namun mengabaikan penderitaan di sekitarnya.

Dalam sebuah kisah, para sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad tentang siapa yang memperoleh haji mabrur. Rasulullah menyebut seseorang yang tidak jadi berangkat haji, karena ia menggunakan bekalnya untuk menolong tetangganya yang sedang sakit.⁵

Kisah ini mengajarkan bahwa nilai ibadah tidak hanya terletak pada ritual, tetapi juga pada kepedulian. Bahwa jalan menuju Allah bisa ditempuh tidak hanya dengan perjalanan ke Tanah Suci, tetapi juga dengan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Wallohu a'lam 


Catatan Kaki (Footnote):

¹ Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo (Bandung: Mizan, 2016).

² Simuh, Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa (Yogyakarta: Bentang, 1995).

³ Suluk Wijil, dalam kajian sastra Jawa klasik tentang ajaran spiritual Sunan Kalijaga.

⁴ Suluk Linglung, naskah klasik yang memuat kisah perjalanan spiritual Sunan Kalijaga.

⁵ Hadis tentang keutamaan menolong sesama dan makna haji mabrur, lihat Riyadhus Shalihin (Bab tentang tolong-menolong dan amal kebajikan).

Saya Orang Kampung: Antara Kerendahan Hati dan Strategi Kekuasaan

 


ketakkwtikmuatopa.com, Yang paling sulit bagi manusia sejatinya bukanlah meraih kesuksesan, melainkan merendahkan hati setelah kesuksesan itu diraih. Ketika posisi telah tinggi, pengaruh semakin luas, dan pencapaian terasa monumental, sering kali tanpa sadar manusia tergelincir pada kalimat-kalimat yang berpusat pada diri: “kalau bukan saya…”, “ini semua karena saya…”. Di titik inilah kerendahan hati menjadi ujian paling berat.

Dalam konteks ini, pernyataan Joko Widodo—“Saya orang kampung” dan “Saya bukan siapa-siapa”—menjadi menarik untuk ditelisik lebih dalam. Ucapan tersebut bukan sekadar kalimat sederhana, melainkan sebuah narasi yang sarat makna, bahkan bisa dibaca sebagai strategi komunikasi politik yang matang.

Pada 20 April 2026, ketika ditanya oleh wartawan dalam situasi yang berpotensi memancing polemik, Jokowi tidak memilih jalur konfrontatif. Ia tidak masuk ke dalam perdebatan terbuka yang bisa memperuncing konflik. Sebaliknya, ia kembali pada narasi lama yang telah ia bangun sejak awal kemunculannya di panggung nasional: narasi kesederhanaan, narasi “orang biasa”.

Penting untuk dipahami, respons seperti ini bukanlah spontanitas belaka. Ia lebih menyerupai puncak dari “gunung es” komunikasi politik yang telah dibangun lebih dari satu dekade. Sejak awal, Jokowi tidak pernah memosisikan dirinya sebagai sosok pemimpin besar yang elitis atau intelektual yang berjarak. Ia justru membangun kekuatan dari posisi yang secara simbolik paling “lemah”: wong cilik, rakyat kecil, orang kampung.

Di sinilah letak kecerdasan naratifnya. Dalam teori komunikasi politik, posisi “rendah” sering kali justru menjadi sumber kekuatan yang besar. Dengan mengidentifikasi diri sebagai “orang kampung”, seorang pemimpin tidak hanya membangun kedekatan emosional dengan rakyat, tetapi juga menciptakan tameng dari kritik yang terlalu tajam. Ia menjadi “bagian dari kita”, bukan “di atas kita”.

Namun, di balik kesederhanaan itu, terdapat paradoks yang tidak bisa diabaikan. Setelah lebih dari satu dekade berada di lingkaran kekuasaan, setelah membangun jaringan kekuatan politik yang luas, bahkan dituding melanggengkan dinasti kekuasaan, Jokowi tetap memilih bersembunyi di balik identitas “orang kampung”. Ini bukan lagi sekadar kerendahan hati personal, melainkan telah menjadi instrumen politik yang efektif.

Narasi “orang kampung” di sini bekerja sebagai bentuk populisme pasca-kekuasaan. Ia meredam konflik, menurunkan tensi kritik, dan menjaga citra kedekatan dengan rakyat. Dengan kata lain, kesederhanaan tidak hanya menjadi karakter, tetapi juga menjadi strategi.

Apakah ini berarti kerendahan hati tersebut tidak tulus? Tidak sesederhana itu. Bisa jadi, di satu sisi ia memang refleksi dari latar belakang dan kepribadian. Namun di sisi lain, ia juga telah terstruktur menjadi bagian dari desain komunikasi politik yang konsisten dan terukur.

Pada akhirnya, kalimat “Saya ini bukan siapa-siapa, saya orang kampung” adalah pengingat yang kuat: dalam politik Indonesia, kesederhanaan bukan sekadar nilai moral, melainkan juga senjata yang sangat ampuh. Ia mampu melunakkan kritik, merangkul simpati, dan menjaga relevansi—bahkan setelah kekuasaan hampir atau telah berlalu.

Dan bagi kita sebagai masyarakat, pelajaran terbesarnya bukan hanya tentang bagaimana seorang pemimpin berbicara, tetapi juga bagaimana kita membaca—bahwa di balik kata-kata yang sederhana, sering kali tersembunyi makna yang jauh lebih kompleks.


Wallohu a'lam

Peringatan Hari Buku Sedunia 23 April 2026

ketakketikmustopa.com, Sejarah buku adalah sejarah peradaban manusia itu sendiri. Jauh sebelum manusia mengenal kertas seperti sekarang, mereka telah menuliskan pikiran, hukum, dan kisah hidupnya di dinding gua, batu, hingga lembaran papirus di peradaban kuno seperti Mesir dan Mesopotamia. Dari sana, lahirlah tradisi tulis-menulis yang terus berkembang—dari gulungan papirus, manuskrip kulit, hingga ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15 yang merevolusi dunia literasi. Buku tidak lagi menjadi barang langka, melainkan jendela ilmu yang terbuka bagi banyak orang.1

Seiring waktu, buku menjadi sahabat peradaban. Ia bukan sekadar kumpulan huruf, tetapi gudang pengetahuan, penjaga sejarah, sekaligus penggerak perubahan. Banyak tokoh besar dunia lahir dari kedekatannya dengan buku. Peradaban maju pun ditandai dengan tingginya minat baca masyarakatnya. Dalam konteks ini, buku adalah cahaya yang menuntun manusia keluar dari kegelapan kebodohan menuju terang ilmu pengetahuan.2

Untuk menghargai peran besar buku, dunia memperingati Hari Buku Sedunia setiap tanggal 23 April. Penetapan tanggal ini bukan tanpa makna. Ia bertepatan dengan wafatnya tokoh-tokoh besar dunia literasi seperti William Shakespeare dan Miguel de Cervantes—dua nama yang karya-karyanya terus hidup melintasi zaman.3

Namun, memasuki era digital, wajah buku mengalami perubahan. Kehadiran e-book, audiobook, dan berbagai platform digital membuat akses terhadap bacaan menjadi semakin mudah. Kini, seseorang dapat membawa ratusan bahkan ribuan buku hanya dalam satu perangkat kecil di genggamannya. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri. Teknologi telah membuka pintu literasi yang lebih luas, menjangkau mereka yang sebelumnya sulit mengakses buku fisik.4

Meski demikian, pergeseran ini juga menghadirkan tantangan. Di tengah derasnya arus informasi digital, minat baca sering kali tergeser oleh konten-konten singkat yang serba instan. Buku—baik fisik maupun digital—membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kedalaman berpikir. Nilai-nilai inilah yang perlahan mulai tergerus di era kecepatan.5

Oleh karena itu, peringatan Hari Buku Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali hubungan kita dengan buku. Apakah kita masih menjadikan buku sebagai sahabat setia? Ataukah ia mulai tergantikan oleh layar-layar yang hanya menawarkan hiburan sesaat?

Buku, dalam bentuk apa pun, tetap memiliki ruh yang sama: menyampaikan ilmu, memperluas wawasan, dan membentuk karakter. E-book bukanlah musuh buku cetak, melainkan evolusi dari perjalanan panjang literasi manusia. Yang terpenting bukanlah bentuknya, tetapi bagaimana kita menjaga tradisi membaca tetap hidup.

Mari kita jadikan 23 April bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi titik awal untuk kembali mendekatkan diri pada buku. Membaca satu halaman hari ini bisa menjadi awal perubahan besar di masa depan. Karena sejatinya, dunia yang besar ini dibangun dari ide-ide kecil yang lahir dari lembar demi lembar buku.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Lucien Febvre & Henri-Jean Martin, The Coming of the Book: The Impact of Printing 1450–1800 (London: Verso, 1976).

2. Francis Bacon, Meditationes Sacrae (1597), khususnya esai “Of Studies.”

3. UNESCO, “World Book and Copyright Day,” penetapan tanggal 23 April sebagai hari buku sedunia.

4. John B. Thompson, Books in the Digital Age: The Transformation of Academic and Higher Education Publishing in Britain and the United States (Cambridge: Polity Press, 2005).

5. Nicholas Carr, The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (New York: W.W. Norton & Company, 2010).

Kartini: Santri, Pemikir dan Pembawa Terang

ketakketikmuatopa.com, Nama Raden Adjeng Kartini sering kali kita bayangkan dalam balutan kebaya, rambut tersanggul rapi, dan semangat emansipasi perempuan yang menggema dari surat-suratnya. Namun, di balik gambaran itu, ada sisi lain yang jarang disorot: Kartini sebagai seorang pencari ilmu agama—seorang santri yang gelisah.1

Sebelum dunia mengenalnya melalui Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini lebih dulu bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan batin. Ia hidup dalam tradisi Jawa yang membatasi gerak perempuan, tetapi kegelisahan terbesarnya justru datang dari hal yang lebih dalam: hubungannya dengan Al-Qur'an.2

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan kegundahannya. Ia heran mengapa banyak orang diajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak diajarkan memahami isinya. Baginya, membaca tanpa mengerti adalah kehilangan makna. Ia merasa seperti berjalan dalam gelap—mengikuti sesuatu yang suci, namun tanpa cahaya pemahaman.3

Perubahan besar itu datang ketika ia bertemu dengan Kiai Sholeh Darat di Demak. Dalam sebuah pengajian, sang kiai menjelaskan tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa. Saat itulah Kartini merasakan sesuatu yang berbeda. Ayat-ayat yang sebelumnya hanya dilafalkan, kini terasa hidup dan menyentuh hatinya.4

Dari pertemuan itu, lahirlah keberanian Kartini untuk bertanya dan bahkan menggugat: mengapa ilmu agama tidak dibuka seluas-luasnya untuk umat? Mengapa bahasa menjadi penghalang antara manusia dan petunjuk Tuhannya?5

Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai kegelisahan pribadi. Ia menjadi pemantik perubahan. Meski berada di bawah tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang melarang penerjemahan Al-Qur’an, Kiai Sholeh Darat mencari jalan lain. Ia menulis tafsir dalam aksara Arab Pegon, yang kemudian dikenal sebagai Faidhur-Rohman.6

Kitab itulah yang kemudian menjadi hadiah berharga bagi Kartini saat menikah dengan R.M. Joyodiningrat. Bagi Kartini, hadiah itu bukan sekadar buku, melainkan cahaya—jawaban atas kegelisahan panjangnya.7

Sejak saat itu, pemikirannya berubah. Kalimat “dari gelap menuju terang” bukan lagi sekadar ungkapan puitis, melainkan refleksi perjalanan spiritualnya. Dalam surat-suratnya kepada J.H. Abendanon, ia berkali-kali mengungkapkan makna cahaya sebagai simbol pemahaman dan kebebasan berpikir.8

Kartini pun tumbuh menjadi lebih dari sekadar simbol emansipasi. Ia adalah seorang perempuan yang menyadari bahwa kebebasan sejati lahir dari ilmu—dari memahami, bukan sekadar mengikuti.9

"Selamat Hari Kartini"

Kartini mengajarkan bahwa terang tidak datang begitu saja. Ia harus dicari, dipahami, dan diperjuangkan—hingga akhirnya mampu menerangi jalan bagi banyak orang.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Sitisoemandari Soeroto, Kartini: Sebuah Biografi, Jakarta: Balai Pustaka, 1977.

2. M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c. 1200, Stanford University Press, 2008.

3. R.A. Kartini, Letters of a Javanese Princess, London: Duckworth, 1920.

4. Ahmad Baso, Pesantren Studies 2, Jakarta: Pustaka Afid, 2012.

5. Zainal Abidin Bagir, “Religious Thought of Kartini,” dalam Studia Islamika, Vol. 7, No. 2, 2000.

6. Sholeh Darat, Faidhur-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan, Semarang, abad ke-19.

7. Nur Syam, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS, 2005.

8. Armijn Pane (ed.), Habis Gelap Terbitlah Terang, Jakarta: Balai Pustaka, 1938.

9. Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992.

Kartini STID Al-Biruni Menjawab Tantangan Zaman

ketakketikmuatopa.com, Semangat sejatinya bukan hanya milik masa lalu, tetapi menjadi cermin bagi perempuan masa kini—termasuk para mahasiswi di kampus STID Al-Biruni. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, tantangan yang dihadapi perempuan bukan lagi sekadar akses pendidikan, tetapi bagaimana memaksimalkan potensi diri agar mampu memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Realitas yang ada menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswi yang berjuang dalam bidang akademik. Tidak sedikit yang menghadapi kesulitan dalam menjaga konsistensi belajar, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta menyeimbangkan antara tanggung jawab kuliah dan aktivitas lainnya. Hal ini menjadi refleksi penting bahwa perjuangan Kartini dalam bidang pendidikan belum sepenuhnya selesai.

Di sisi lain, gerakan organisasi di kampus sering kali terjebak dalam pola yang praktis dan pragmatis. Program kerja berjalan sekadar menggugurkan kewajiban, belum sepenuhnya menjadi wadah pembinaan intelektual dan kepemimpinan yang visioner. Padahal, organisasi seharusnya menjadi ruang strategis untuk melahirkan kader-kader perempuan yang tangguh, berwawasan luas, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Lebih jauh lagi, satu hal yang patut menjadi perhatian serius adalah belum tampaknya geliat karya intelektual yang kuat dari kalangan mahasiswi. Karya tulis, buku, maupun jurnal ilmiah masih sangat minim dihasilkan. Padahal, jika kita menengok perjuangan Kartini, ia justru dikenal melalui tulisan-tulisannya yang mampu menggugah dunia. Pemikirannya hidup dan abadi karena dituangkan dalam kata, bukan sekadar wacana.

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi besar yang dimiliki mahasiswi belum sepenuhnya teraktualisasi. Budaya menulis belum tumbuh secara kokoh, diskusi ilmiah belum menjadi kebutuhan, dan penelitian belum menjadi tradisi. Akibatnya, kampus kehilangan salah satu denyut terpentingnya sebagai pusat pengembangan ilmu—yakni lahirnya gagasan-gagasan baru melalui karya nyata.

Kartini masa kini di STID Al-Biruni adalah mereka yang tidak hanya aktif secara formal, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu dan ketajaman analisis. Mereka yang menjadikan kampus bukan sekadar tempat kuliah, tetapi sebagai ladang perjuangan intelektual. Perempuan yang berani berpikir besar, menulis gagasan, dan meninggalkan jejak melalui karya.

Menjawab tantangan zaman berarti berani keluar dari zona nyaman. Mahasiswi perlu membangun budaya literasi yang kuat, memperbanyak membaca, menulis secara konsisten, serta berani mempublikasikan karya dalam bentuk artikel, jurnal, maupun buku. Tidak perlu menunggu sempurna—yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai.

Organisasi kampus pun harus mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem intelektual ini. Program kerja tidak cukup hanya bersifat seremonial, tetapi harus diarahkan pada pelatihan menulis, riset, dan publikasi ilmiah. Dari sinilah akan lahir tradisi akademik yang kuat dan berkelanjutan.

Sebagaimana Kartini dahulu berjuang melalui pena, mahasiswi hari ini pun harus menjadikan tulisan sebagai alat perjuangan. Karena tulisan adalah jejak yang tidak akan hilang, bahkan ketika waktu terus berjalan.

Kartini telah membuka jalan dengan penuh keberanian. Kini, tugas mahasiswi STID Al-Biruni adalah melanjutkan perjuangan itu—bukan hanya dengan semangat, tetapi dengan karya nyata.

Karena sesungguhnya, perempuan hebat tidak hanya dikenal dari apa yang ia katakan, tetapi dari apa yang ia tuliskan dan wariskan.

Wallohu a'lam 

Manusia dan Uranium: Energi Tersembunyi yang Menentukan Cahaya atau Kehancuran

ketakketikmustopa.com, Kalau dengar kata uranium, mungkin yang kebayang itu sesuatu yang berat, berbahaya, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, uranium itu sebenarnya cuma unsur yang diam di dalam bumi—nggak bergerak, nggak bersuara, bahkan kelihatan biasa aja. Tapi jangan salah, di balik “diamnya” itu, dia nyimpen energi yang luar biasa besar.1

Nah, manusia juga kurang lebih begitu.

Kita sering lihat orang dari luarnya aja. Ada yang kelihatan biasa, sederhana, bahkan mungkin diremehkan. Tapi siapa sangka, di dalam dirinya tersimpan potensi yang luar biasa. Bisa jadi pemikir hebat, pemimpin, penulis, pendidik, atau bahkan penggerak perubahan. Dalam perspektif psikologi, potensi ini sering disebut sebagai self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai sesuatu.2

Uranium aja nggak langsung jadi sumber energi. Dia harus ditambang dulu, diproses, dimurnikan, lalu diarahkan dengan teknologi yang tepat. Kalau asal-asalan? Bisa bahaya.3

Begitu juga manusia.

Kalau kita nggak mau belajar, nggak mau berkembang, ya potensi itu bakal tetap “ngendap” aja. Bahkan lebih parah, kalau kita punya kemampuan tapi nggak diarahkan dengan baik, bisa jadi malah merugikan orang lain. Pintar tapi dipakai buat menipu. Punya pengaruh tapi dipakai buat hal negatif.

Sebaliknya, kalau diarahkan dengan benar—dengan ilmu, akhlak, dan tujuan hidup yang jelas—manusia bisa jadi “energi kebaikan”. Kehadirannya bikin terang, bikin tenang, bikin hidup orang lain lebih baik. Dalam Islam sendiri, manusia disebut sebagai khalifah di bumi, yang memiliki tanggung jawab untuk membawa kemaslahatan.4

Intinya sederhana: kita semua punya “energi besar” di dalam diri. Tinggal pilihan kita, mau dijadikan cahaya… atau malah jadi ledakan.

Jadi, jangan pernah ngeremehin diri sendiri. Bisa jadi, kamu itu “uranium” yang belum sempat diproses aja.

Wallohu a'lam 

Footnote

1. Uranium adalah unsur kimia radioaktif yang memiliki energi besar melalui proses fisi nuklir, digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir.

2. Konsep self-efficacy diperkenalkan oleh Albert Bandura dalam teori kognitif sosial, yang menjelaskan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mencapai tujuan.

4. Proses pengolahan uranium melibatkan penambangan, pengayaan, dan pengendalian reaksi nuklir agar aman dan bermanfaat dalam kehidupan manusia.

5. Dalam Al-Qur’an, manusia disebut sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), yang berarti memiliki amanah untuk mengelola dan menjaga kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Perang Manengteung Waled



ketakketikmustopa.com, Pada suatu pagi yang cerah di Hari Pahlawan, seorang anak bernama Raka diajak ayahnya berjalan-jalan ke daerah Waled, Kabupaten Cirebon.

“Yah, kita mau ke mana hari ini?” tanya Raka dengan mata berbinar.

“Kita akan ke sebuah tempat bersejarah, Nak. Namanya Bukit Maneungteung, sekarang orang-orang juga menyebutnya Ajimut,” jawab sang ayah sambil tersenyum.

Raka tampak penasaran. “Memangnya ada apa di sana, Yah? Tempat wisata biasa ya?”

Ayahnya menggeleng pelan. “Bukan sekadar tempat wisata. Di sana ada kisah perjuangan para pahlawan yang jarang diketahui orang.”

Sesampainya di lokasi, mereka melihat jalan masuk menuju bukit. Di kejauhan terlihat jalan raya Cirebon–Kuningan dan aliran Sungai Cisanggarung yang membelah wilayah itu.

“Wah, indah sekali, Yah!” seru Raka.

“Iya, Nak. Sekarang tempat ini sering ramai kalau hari Minggu. Banyak orang berolahraga dan berwisata. Tapi sayangnya, tidak banyak yang tahu sejarah di baliknya,” ujar ayah dengan nada sedikit prihatin.

Mereka pun mulai menaiki bukit. Di atas, berdiri sebuah patung pahlawan yang tampak kokoh, meski sedikit tak terurus.

Raka menatap patung itu dengan heran. “Yah, siapa itu? Kenapa patungnya seperti tidak dirawat?”

Ayah menghela napas. “Itulah salah satu bukti sejarah, Nak. Dahulu, di tempat ini pernah terjadi pertempuran besar.”

“Pertempuran? Melawan siapa, Yah?” tanya Raka semakin penasaran.

“Pada tahun 1947, Belanda datang ke daerah ini. Mereka ingin menguasai kembali wilayah ini dan menghancurkan kekuatan pejuang, termasuk dari kalangan umat Islam,” jelas ayahnya.

Raka terdiam sejenak, membayangkan suasana perang. “Terus, para pejuang kita bagaimana, Yah?”

“Mereka berjuang dengan penuh keberanian. Ada pasukan TNI dan juga pejuang dari Hizbullah yang bertahan di bukit ini. Mereka sangat terampil, apalagi di daerah perbukitan seperti ini,” lanjut ayah.

“Apakah mereka menang?” tanya Raka dengan suara lirih.

Ayah menggeleng perlahan. “Perjuangan mereka sangat luar biasa, tapi jumlah pasukan dan senjata Belanda jauh lebih kuat. Mereka punya tank, meriam, dan mortar. Sementara pejuang kita terbatas.”

Raka menunduk. “Jadi… kita kalah, Yah?”

“Kalah dalam pertempuran, iya. Tapi tidak kalah dalam semangat dan perjuangan,” jawab ayah dengan tegas. “Bukit ini akhirnya terbagi dua. Bagian utara dikuasai Belanda, dan bagian selatan masih dipertahankan oleh pejuang kita.”

Raka memandang sekeliling bukit dengan mata yang berbeda kini. “Berarti tempat ini saksi perjuangan ya, Yah?”

“Betul sekali, Nak. Sayangnya, banyak orang sekarang tidak tahu cerita ini. Padahal, penting bagi kita untuk mengingat jasa para pahlawan,” kata ayah.

Raka mengangguk pelan. “Aku jadi ingin cerita ke teman-temanku tentang tempat ini, Yah. Supaya mereka juga tahu.”

Ayah tersenyum bangga. “Itulah yang ayah harapkan. Pahlawan tidak hanya dikenang dengan upacara, tapi juga dengan menjaga ingatan dan menghargai sejarah.”

Raka kembali menatap patung pahlawan itu. Dalam hatinya, tumbuh rasa hormat dan bangga.

“Terima kasih ya, Yah… sudah mengajakku ke sini.”

Ayah menepuk bahu Raka dengan lembut. “Sama-sama, Nak. Semoga kamu bisa menjadi pahlawan di masa depan, dengan caramu sendiri.”

Angin berhembus pelan di puncak Bukit Maneungteung, seolah membawa kembali semangat perjuangan yang pernah berkobar di tempat itu.