ketakketikmustopa.com, Sore itu suasana Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon terasa berbeda. Angin Ramadhan berhembus lembut di halaman kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang baru saja selesai mengikuti perkuliahan terakhir sebelum libur Idul Fitri.
Di ruang kelas Tafsir Sosial Islam, Pak Dr. Syafi'i Ma'arif, sedang menutup perkuliahan dengan sebuah pertanyaan.
“Anak-anak,” katanya sambil menatap para mahasiswa, “apa makna zakat bagi kehidupan masyarakat?”
Mahasiswa saling pandang. Pertanyaan itu sederhana, tetapi Pak Syafi’i dikenal sering menyimpan makna yang dalam di balik setiap pertanyaan.
Seorang mahasiswa bernama Fajar mengangkat tangan.
“Pak, zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu untuk membantu orang miskin,” jawabnya singkat.
Pak Syafi’i tersenyum.
“Benar, Fajar. Tapi zakat bukan hanya soal kewajiban. Zakat adalah jembatan hati antara yang kaya dan yang miskin.”
Mahasiswa lain, Siti Rahma, ikut bertanya.
“Pak, kenapa Islam sangat menekankan zakat?”
Pak Syafi’i berjalan perlahan di depan kelas, lalu menjawab dengan tenang.
“Karena zakat bukan hanya ibadah kepada Allah, tetapi juga ibadah sosial kepada manusia. Allah bahkan menyebut zakat bersamaan dengan shalat dalam Al-Qur’an.”
Ia kemudian mengutip ayat dengan suara yang tenang.
"Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat."
(QS. Al-Baqarah: 43)
Suasana kelas menjadi hening. Para mahasiswa mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Shalat menghubungkan manusia dengan Allah,” lanjut Pak Syafi’i, “sedangkan zakat menghubungkan manusia dengan sesamanya.”
Fajar terlihat berpikir. Ia berasal dari keluarga sederhana di Indramayu. Ayahnya seorang nelayan yang penghasilannya tidak menentu.
“Pak,” kata Fajar perlahan, “apakah zakat benar-benar bisa mengurangi kesenjangan sosial?”
Pak Syafi’i tersenyum lagi.
“Bisa, jika dikelola dengan baik dan dilakukan dengan hati yang ikhlas.”
Ia kemudian duduk di tepi meja.
“Rasulullah SAW bersabda bahwa zakat fitrah adalah penyuci bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin.”
Pak Syafi’i membaca hadis itu dengan pelan.
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin."
(HR. Abu Dawud)
Siti Rahma terlihat terharu.
“Berarti zakat bukan hanya membantu orang miskin, Pak?”
“Betul,” jawab Pak Syafi’i. “Zakat juga membersihkan hati orang yang memberi.”
Bel berbunyi menandakan waktu kuliah telah selesai. Namun para mahasiswa belum juga beranjak.
Tiba-tiba Ridwan, mahasiswa lain yang biasanya pendiam, mengangkat tangan.
“Pak… kalau boleh, saya ingin cerita.”
Pak Syafi’i mengangguk.
“Silakan, Ridwan.”
Ridwan menarik napas panjang.
“Dulu keluarga saya sangat miskin, Pak. Setiap menjelang Idul Fitri, kami selalu khawatir karena tidak punya cukup makanan. Tapi suatu hari ada orang yang memberikan zakat kepada keluarga kami. Ibu saya menangis waktu itu.”
Suasana kelas tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Ridwan melanjutkan dengan suara bergetar.
“Sejak saat itu saya berjanji, jika suatu hari Allah memberi saya rezeki, saya ingin menjadi orang yang membantu orang lain lewat zakat.”
Pak Syafi’i menatap Ridwan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ridwan,” katanya lembut, “itulah sebenarnya tujuan zakat. Bukan hanya membantu yang membutuhkan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan persaudaraan.”
Ia kemudian berdiri dan berkata dengan penuh semangat.
“Bayangkan jika setiap orang yang mampu benar-benar menunaikan zakat dengan baik. Tidak akan ada orang yang kelaparan di sekitar kita.”
Para mahasiswa mengangguk.
Siti Rahma tersenyum kecil.
“Pak, berarti zakat itu bukan sekadar kewajiban tahunan ya?”
“Benar,” jawab Pak Syafi’i. “Zakat adalah jembatan sosial yang menghubungkan orang kaya dengan orang miskin.”
Di luar kelas, matahari mulai tenggelam. Cahaya senja Ramadhan menyinari halaman kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon.
Pak Syafi’i menutup perkuliahan dengan sebuah pesan.
“Anak-anak, ingatlah satu hal. Kebahagiaan sejati bukan hanya ketika kita memiliki banyak harta, tetapi ketika kita mampu berbagi dengan sesama.”
Para mahasiswa keluar dari kelas dengan hati yang berbeda dari sebelumnya.
Di penghujung Ramadhan itu, mereka tidak hanya belajar tentang zakat sebagai teori dalam buku. Mereka belajar bahwa zakat adalah ibadah sosial yang mampu menyatukan hati manusia.
Dan di kampus kecil STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, sebuah pelajaran sederhana tentang zakat telah menumbuhkan mimpi besar: membangun masyarakat yang lebih adil, penuh kepedulian, dan saling menguatkan.
Wallohu a'lam








