ketakketikmustopa.cm, Sore itu langit di belakang kampus STID Al-Biruni terlihat temaram. Angin berhembus pelan, her membawa aroma gorengan yang baru saja diangkat dari penggorengan. Warung kopi langganan mahasiswa tampak ramai seperti biasa. Namun hari itu ada yang berbeda.
Pak Dr. Rachman, dosen yang dikenal cerdas sekaligus nyentrik, justru tidak kembali ke ruang dosen setelah mengajar. Ia melangkah santai menuju warung kopi.
“Siapkan kopi torabika, ada?” tanyanya sambil duduk di bangku kayu panjang.
“Karuan saja ada, Pak!” jawab mahasiswa penjaga warung dengan sigap.
“Kalau ada gorengan, deh… nggak apa-apa. Tambahin pisgor.”
Beberapa mahasiswa yang melihat itu langsung mendekat.
“Sini duduknya di sini, Dek! Kita bahas perang Iran, yuk!” ujar Pak Rachman sambil menepuk bangku kosong.
“Hayu atuh, Pak! Kita penasaran nih… pengen tahu pandangan Bapak tentang Iran yang dikeroyok Amerika sama Israel,” sahut salah satu mahasiswa.
Mereka pun duduk melingkar. Suasana santai, tapi mata penuh rasa ingin tahu.
Pak Rachman menyeruput kopinya pelan.
“Kalian perhatikan nggak… perang zaman sekarang itu kayak dagelan,” katanya membuka pembicaraan.
“Dagelan, Pak?” tanya mahasiswa heran.
“Iya… di satu sisi menegangkan. Teknologi AI berseliweran. Gedung-gedung hancur dalam hitungan detik. Tapi di sisi lain… absurd. Iran kirim drone murah, rudal sederhana… ditangkis pakai sistem super mahal. Kan lucu.”
Mahasiswa tertawa kecil.
“Dulu kita nonton film koboi Hollywood… jet tempur gagah, pilot santai sambil nyeruput cerutu… rudal meledak dramatis.”
“Sekarang?” tanya mahasiswa.
“Sekarang… kita nonton perang beneran malah kayak konten TikTok. Kadang bikin ngakak. Ini perang atau settingan?” jawab Pak Rachman sambil tersenyum tipis.
“Wah… ngeri juga sih kalau dipikir-pikir,” sahut mahasiswa lain.
Pak Rachman melanjutkan.
“Kalian lihat perang Ukraina dan Rusia sampai 2026. Dulu istilahnya air superiority. Sekarang berubah jadi drone superiority.”
“Drone, Pak?”
“Iya. Tahun 2025 Ukraina mencatat lebih dari 800 ribu serangan drone. Target 2026? Produksi 7 juta drone!”
“Buset… kayak pabrik gorengan, Pak!” celetuk mahasiswa.
“Nah itu dia! Cepat, murah, dan laris,” jawab Pak Rachman sambil tertawa.
“Rusia juga balas… puluhan ribu drone tiap bulan. Bahkan satu malam bisa ratusan. Itu bukan serangan lagi… itu hujan drone.”
Mahasiswa mulai terdiam, membayangkan.
“Langit sekarang bukan cuma milik burung,” lanjut Pak Rachman, “tapi milik benda berdengung yang siap menyengat.”
“Serem, Pak…”
“Lebih serem lagi… satu operator di bunker… mungkin kalau di sini anak warnet yang gagal move on… bisa bikin tank baja jadi rongsokan.”
“Hahaha!” suasana pecah oleh tawa.
Tiba-tiba pak Rachman nyeletuk,
“Ngomong-ngomong, di sini ada Sampoerna Mild nggak?”
“Ada, Pak! Tenang aja,” jawab penjaga warung.
Pak Rachman tersenyum, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Sekarang kita lihat Iran lawan Amerika dan Israel. Strateginya simpel tapi dahsyat.”
“Gimana, Pak?”
“Drone murah digabung rudal balistik. Dilepas ribuan. Israel dan Amerika langsung buka dompet. Sistem pertahanan mahal ditembakkan satu per satu.”
“Jadi…?” tanya mahasiswa.
“Ini bukan perang… ini lomba siapa cepat bangkrut.”
Mahasiswa saling pandang.
“Pesawat tempur generasi terbaru masih ada,” lanjutnya, “tapi sekarang cuma jadi ‘bos besar’. Datang, lempar dari jauh, lalu pergi. Aman, elegan… mahal.”
“Terus yang paling penting apa, Pak?”
Pak Rachman mengangkat jarinya.
“Satelit.”
“Satelit?” mahasiswa serempak.
“Tanpa satelit… perang modern itu buta. Di Ukraina—komunikasi, kontrol drone, artileri—semua tergantung satelit.”
“Kok bisa, Pak?”
“Bayangin listrik mati… tapi perang tetap jalan. Satelit itu mata dewa. Bisa lihat pergerakan musuh dari atas.”
Mahasiswa semakin serius menyimak.
“Tanpa satelit,” lanjut Pak Rachman, “drone dan rudal cuma jadi barang mahal yang nyasar.”
Sejenak hening. Lalu Pak Rachman mengalihkan topik.
“Sekarang kita lihat Indonesia…”
Mahasiswa langsung fokus.
“Saat dunia masuk era drone, satelit, dan siber… kita kadang masih debat beli alutsista mahal.”
“Iya juga ya, Pak…”
“Jet tempur dibeli dengan bangga. Tapi kalau diserang swarm drone murah?”
Mahasiswa terdiam.
“Mau ditembak pakai rudal mahal? Ya tekor, bos.”
Beberapa mahasiswa tertawa getir.
“Rekrutmen juga masih pola lama. Fisik kuat, lari cepat.”
“Kan penting, Pak?”
“Penting. Tapi perang sekarang bukan soal otot. Lawannya drone… mau lari ke mana?”
Mahasiswa langsung tertawa.
“Drone nggak capek, bos!” tambah Pak Rachman.
Suasana kembali santai. Mereka mulai mengambil gorengan.
“Yang dibutuhkan sekarang,” lanjutnya, “anak IT, gamer, analis data.”
“Gamer, Pak?” tanya mahasiswa sambil tersenyum.
“Iya! Yang biasa main joystick. Satu operator drone bisa gantikan satu regu.”
“Wah… berarti anak warnet bisa jadi pahlawan, Pak?”
“Bisa banget!” jawabnya tegas.
“Infanteri tetap penting, tapi harus naik level. Paham anti-drone, paham medan digital. Sekarang bersembunyi aja susah… drone kecil bisa lihat dari atas.”
Mahasiswa mengangguk-angguk.
“Terus… kesimpulannya apa, Pak?” tanya salah satu mahasiswa.
Pak Rachman diam sejenak. Ia menyeruput kopi terakhirnya, lalu mengepulkan asap rokok perlahan ke udara senja.
“Kesimpulannya…” katanya pelan,
“Perang modern bukan soal jet tercanggih atau tank terbanyak.”
Semua terdiam.
“Tapi siapa yang bisa produksi drone murah dalam jumlah besar… punya satelit… dan merekrut manusia yang adaptif.”
Ia menatap para mahasiswa satu per satu.
“Sekarang… drone itu raja. Jet cuma figuran. Satelit… sutradaranya.”
Sunyi sejenak.
“Dan yang masih pakai pola lama…” lanjutnya sambil tersenyum tipis,
“siap-siap jadi penonton.”
Mahasiswa terdiam, lalu salah satu berbisik pelan,
“Berarti… masa depan perang ada di tangan anak muda ya, Pak?”
Pak Rachman mengangguk.
“Bukan lagi di tangan jenderal saja… tapi di tangan anak muda di depan laptop… dengan koneksi internet stabil.”
Angin sore kembali berhembus.
Di atas langit yang mulai gelap, seolah-olah… bayangan drone tak terlihat sedang melintas.
Dan di bawahnya, di warung kopi sederhana itu—masa depan sedang dibicarakan, di antara kopi, asap rokok, dan gorengan hangat.
Wallahu a'lam






