Nisfu Sya'ban Dalam Perspektif Hadist Dan Pandangan Ulama

ketakketikmustopa.com

Pendahuluan

Nisfu Sya’ban—pertengahan bulan Sya’ban—menempati posisi penting dalam tradisi spiritual Islam. Perhatian umat Islam terhadap malam ini tidak lahir dari konstruksi budaya semata, tetapi memiliki dasar tekstual dalam hadis Nabi ﷺ serta penjelasan para ulama lintas mazhab. Nisfu Sya’ban sering dipahami sebagai momentum evaluasi diri dan persiapan ruhani menjelang Ramadhan.¹

Dasar Hadis tentang Keutamaan Nisfu Sya’ban

Di antara hadis yang paling sering dijadikan rujukan adalah hadis dari Mu‘adz bin Jabal r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”²

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Mājah dan Ath-Thabrani dengan beberapa jalur periwayatan. Sejumlah ulama hadis menilai hadis ini memiliki penguat (syawāhid) yang menjadikannya dapat diamalkan dalam konteks fadhā’il al-a‘māl.³

Hadis lain diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy‘ari r.a.:

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala menampakkan rahmat-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang menyimpan kebencian.”⁴

Kandungan hadis-hadis tersebut menegaskan bahwa ampunan Allah bersifat luas, namun terhalang oleh dosa teologis (syirk) dan dosa sosial (syahnā’ atau permusuhan).

Dimensi Teologis dan Etika Sosial

Menarik untuk dicermati bahwa penghalang ampunan dalam hadis Nisfu Sya’ban bukan semata pelanggaran ritual, tetapi juga penyakit hati yang merusak tatanan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang kesalehan individual dan kesalehan sosial sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.⁵

Dengan demikian, Nisfu Sya’ban tidak hanya berbicara tentang relasi vertikal antara hamba dan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal antar manusia. Pembersihan hati dari dendam dan permusuhan menjadi prasyarat penting untuk meraih rahmat Ilahi.

Pandangan Para Ulama

1. Imam Al-Ghazali (w. 505 H)

Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menyebut malam Nisfu Sya’ban sebagai salah satu malam yang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan istighfar. Ia menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebagai persiapan memasuki bulan Ramadhan.⁶

2. Imam An-Nawawi (w. 676 H)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis-hadis tentang keutamaan amal—meskipun tidak seluruhnya berderajat shahih—dapat diamalkan selama tidak diyakini sebagai kewajiban syariat. Prinsip ini berlaku pula pada pengamalan Nisfu Sya’ban.⁷

3. Ibnu Taimiyah (w. 728 H)

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa keutamaan malam Nisfu Sya’ban memiliki dasar dari atsar para salaf:

“Adapun malam Nisfu Sya’ban, maka banyak atsar dari kalangan salaf yang menunjukkan keutamaannya.”⁸

Namun ia mengingatkan agar tidak menetapkan ritual tertentu secara kolektif tanpa dasar yang kuat dari sunnah.

4. Mazhab Syafi‘i

Dalam tradisi mazhab Syafi‘i, malam Nisfu Sya’ban dipandang sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Ulama Syafi‘iyyah menganjurkan penghidupan malam tersebut dengan ibadah secara umum tanpa mengkhususkan bentuk tertentu.⁹

Nisfu Sya’ban sebagai Tahap Persiapan Ramadhan

Nabi Muhammad ﷺ diketahui memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah r.a. dalam hadis shahih.¹⁰ Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah bulan latihan spiritual, sedangkan Nisfu Sya’ban menjadi titik evaluasi kesiapan ruhani sebelum memasuki Ramadhan.

Penutup

Berdasarkan hadis dan pandangan para ulama, Nisfu Sya’ban dapat dipahami sebagai momentum refleksi teologis dan etis. Keutamaannya tidak terletak pada ritual formal semata, melainkan pada kesadaran untuk membersihkan tauhid dan akhlak sosial. Dengan demikian, Nisfu Sya’ban berfungsi sebagai jembatan spiritual menuju Ramadhan—bulan penyempurnaan iman dan amal.


-----------------

1. Yusuf Al-Qaradawi, Al-Ibadah fi al-Islam, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1995), hlm. 214.

2. Ibnu Mājah, Sunan Ibni Mājah, no. 1390.

3. Al-Bushiri, Zawā’id Ibni Mājah, Juz 2, hlm. 145.

4. Ibnu Mājah, Sunan, no. 1390; Ath-Thabrani, Al-Mu‘jam Al-Kabīr.

5. Muhammad Abdullah Draz, Dustūr al-Akhlāq fi al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1997), hlm. 87.

6. Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz 1, (Beirut: Dār al-Fikr), hlm. 203.

7. An-Nawawi, Al-Adzkār, (Beirut: Dār al-Minhāj), hlm. 8–9.

8. Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Juz 24, hlm. 131.

9. As-Subki, Thabaqāt asy-Syāfi‘iyyah al-Kubrā, Juz 2, hlm. 223.

10. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 1969; Muslim, Shahih Muslim, no. 1156.

One Alumni One Besan, Berjodohnya Anak Satu Alumni

 

ketakketikmuatopa.com, Cerpen dilatar belakangi perkumpulan alumni MAN 91

“Wis, ayo padha masuk dulu. Yang sudah di Babakan dan Susukan padha kumpul ning kene.”

Suara Ibu Nyai Hj. Dewi Rahmawati terdengar dari teras rumahnya di Babakan. Pagi itu halaman rumah beliau lebih ramai dari biasanya. Beberapa mobil terparkir rapi, suara salam bersahutan, aroma kopi hitam dan gorengan menyeruak dari dapur.




“MasyaAllah, rame pisan,” kata Ibu Hj. Rosilah dari Susukan, sambil menurunkan tas kecil dari pundaknya.

“Saya kira cuma berangkat biasa, ternyata seperti mau reuni.”

Ibu Nyai Dewi tersenyum lebar.

“Nggeh, Bu Ros. Iki kondangan plus sejarah. Ora saben dina alumni ’91 dadi besanan.”

Bu Hj. Rosilah tertawa kecil.

“Lulusnya tiga puluh lima tahun lalu, saiki malah nyambung mantu. MAN Babakan iki pancen luar biasa.”

Aku, Mustofa, menyambut beliau.

“Alhamdulillah Bu, alumni kita ini seperti tali, ditarik jauh tetap nyambung.”

“Betul, Kang,” sahut Bu Hj. Rosilah.

“Dulu kita bareng-bareng ujian, sekarang bareng-bareng doa buat anak-anak.”

---

Kang Aas Qusyaeri keluar sambil membawa kunci mobil.

“Bu Nyai, Bu Ros, kita berangkat bareng atau pisah mobil?”

“Bareng wae,” jawab Ibu Nyai.

“Sing penting kumpul, ben obrolane nyambung terus.”

Bu Shofiyatun ikut menyela,

“Kalau begini rasanya seperti mau studi tour, bukan kondangan.”

Kami tertawa.

“Sing penting,” tambah Ibu Nyai sambil merapikan kerudungnya,

“niatnya silaturahmi. Allah yang nyambungke.”

---

Di dalam mobil, obrolan tak pernah putus.

“Kang Mustofa,” tanya Bu Hj. Rosilah, “bener ya yang mantu ini anak alumni dua-duanya?”

“Iya, Bu. Sama-sama anak MAN ’91.”

“MasyaAllah,” ucapnya lirih.

“Berarti ini bukan sekadar jodoh anak, tapi jodoh persahabatan.”

Bu Fatimah mengangguk setuju.

“Dulu kita mungkin tak saling kenal dekat, tapi Allah menyambung lewat anak-anak.”

---

Sesampainya di Rajagaluh, suasana hajatan terasa hangat. Shalawat mengalun, tamu berdatangan, wajah-wajah lama saling menyapa.

“Assalamu’alaikum, Bu Hj. Uun,” sapaku.

“Wa’alaikumussalam,” jawab beliau sambil tersenyum.

“Alumni komplit hari ini ya.”

Bu Hj. Rosilah menimpali,

“Ini alumni plus besan, Bu.”

Bu Hj. Uun tertawa.

“Iya, betul. Dulu satu angkatan, sekarang satu keluarga.”

---

Di sisi lain, Ibu Hj. Musyarofah duduk berdampingan dengan suaminya, KH. Otong Sirojudin Zen.

“Kita ini bukan cuma menikahkan anak,” ujar Bu Hj. Musyarofah.

“Kita sedang menyambung silaturahmi lama.”

KH. Otong mengangguk tenang.

“Kalau niatnya baik, Allah yang jaga.”

---

Beberapa bulan sebelumnya…

“Bu, saya silaturahmi ya,” kata Bu Hj. Uun.

“Monggo, monggo,” jawab Bu Hj. Musyarofah ramah.

Faiz Isnan Abdutachman menyetiri mobil. Seorang gadis keluar membawa nampan kopi.

“Silakan, Bu.”

Tatapan singkat terjadi.

MasyaAllah, cantik…

Astaghfirullah, ganteng…

Tak ada kata, hanya getar di hati.

---

Dalam perjalanan pulang…

“Nak, kamu suka sama anaknya Bu Hj. Musyarofah?”

“Iya, Bu.”

“Kalau Ibu jodohkan?”

“Mau, Bu.”

Empat bulan berlalu. Hari ditetapkan.

---

Di tengah acara, foto bersama keluarga besar alumni ’91 diambil.

Cekrek… cekrek…

Tak lama, foto itu muncul di grup Sahabat MAN ’91 Bacicir.

MasyaAllah… One Alumni One Besan!

Alumni MAN Babakan makin berkah.

Bu Hj. Rosilah tersenyum melihat layar ponselnya.

“Kalau begini, jangan-jangan nanti giliran anak alumni lain.”

Ibu Nyai tertawa pelan.

“Aamiin. Sing penting rukun lan berkah.”

Aku memandang wajah-wajah sahabat lama itu dan berbisik dalam hati:

Alumni bukan hanya kenangan masa lalu.

Ia adalah tali panjang yang mengikat masa depan.

Dan kami pun pulang dengan satu kalimat yang sama-sama kami yakini:

Sampai jumpa di reuni pernikahan selanjutnya.

Permainan Bola Api Tradisi Unik dan Menarik Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, ribuan santri saksikan permainan ini tadi malam



ketakketikmuatopa.com, — Suasana malam di kawasan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, berubah menjadi lautan cahaya dan semangat pada Sabtu, 31 Januari 2026. Tradisi tahunan Bola Api kembali digelar dan disaksikan oleh ribuan santri dari berbagai pesantren yang berada di lingkungan Babakan Ciwaringin. Tradisi ini menjadi salah satu agenda budaya-religius yang paling dinanti oleh kalangan santri dan masyarakat pesantren.

Sejak sore hari, ribuan santri mulai memadati area pelaksanaan. Mereka datang berkelompok, mengenakan sarung dan peci, sebagian membawa ponsel untuk mengabadikan momen langka tersebut. Ketika malam semakin larut, sorak takbir dan lantunan shalawat mengiringi dimulainya rangkaian atraksi yang sarat makna sejarah dan spiritual.

Tradisi Bola Api menampilkan berbagai permainan ekstrem yang memacu adrenalin, seperti permainan bola api, tongkat api, hingga mandi petasan. Atraksi tersebut dibawakan langsung oleh para santri Madrasah Al-Hikamussalafiyah (MHS) Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin. Meski tampak berbahaya, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman di bawah pengawasan ketat para pembina dan senior pesantren.

Salah satu peserta, Wafa Billah, ia masih tercatat sebagai mahasiswa STID Albiruni Cirebon menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar hiburan atau tontonan semata. Menurutnya, Bola Api memiliki akar sejarah panjang yang bermula sejak masa penjajahan Belanda.

“Permainan bola api ini sudah ada sejak zaman penjajahan. Dulu para kiai memainkan bola api sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah. Bolanya bukan dari kelapa seperti sekarang, melainkan dari batu. Itu adalah pesan bahwa para ulama dan santri tidak gentar menghadapi penindasan,” ujar Wafa.

Ia menuturkan, pasca kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1950-an, tradisi tersebut tetap dilanjutkan dan dilestarikan. Seiring perkembangan zaman, media permainan mengalami penyesuaian. Bola yang semula terbuat dari batu diganti dengan kelapa kering yang direndam minyak tanah, agar lebih memungkinkan dimainkan, namun tetap menyimpan tantangan dan simbol keberanian.

“Kalau dulu api digunakan dalam konteks perlawanan terhadap penjajah, sekarang maknanya lebih spiritual. Ini adalah bentuk ikhtiar batin untuk merasakan keajaiban dan perlindungan Allah SWT,” jelasnya.

Kang Ubay juga menegaskan bahwa sebelum mengikuti permainan Bola Api, para santri tidak serta-merta langsung tampil. Mereka diwajibkan menjalani tirakat khusus, berupa laku spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tirakat ini diyakini sebagai ikhtiar agar para santri terhindar dari luka dan bahaya selama atraksi berlangsung.

“Tanpa tirakat, tidak boleh tampil. Ini bukan uji nyali, tapi uji keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah,” tegasnya.

Pelaksanaan tradisi Bola Api tahun ini memiliki makna khusus bagi lingkungan Madrasah Al-Hikamussalafiyah. Selain sebagai tradisi tahunan, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya masa belajar santri tingkat Aliyah, sekaligus momentum spiritual untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Api yang menyala menjadi simbol penutupan satu fase kehidupan santri dan persiapan memasuki fase baru dengan jiwa yang lebih matang.

Antusiasme ribuan santri yang memadati arena menunjukkan bahwa tradisi Bola Api masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah perubahan zaman. Di tengah arus modernisasi, Babakan Ciwaringin tetap teguh menjaga tradisi pesantren yang tidak hanya menyimpan nilai budaya, tetapi juga mengandung pesan sejarah, keberanian, dan kedalaman spiritual.

Tradisi Bola Api Babakan Ciwaringin bukan sekadar atraksi ekstrem. Ia adalah jejak perlawanan ulama, laku spiritual santri, dan simbol kesinambungan pesantren dalam merawat warisan masa lalu untuk menyalakan cahaya di masa depan.


-@potsum jurnalis al-biruni 


KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz, Sosok Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

 

ketakketikmuatopa.com, Sejarah besar sering kali ditopang oleh nama-nama yang tidak selalu tercatat dengan tinta tebal. Ia hidup dalam ingatan kolektif, tetapi kerap luput dari sorotan. Di balik berdirinya Nahdlatul Ulama—jam’iyah ulama terbesar di Nusantara—terdapat sosok kiai yang perannya sangat menentukan, namun justru jarang disebut. Bukan karena jasanya kecil, melainkan karena ketawadhuannya yang besar. Sosok itu adalah KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, seorang ulama alim yang dikenal lembut lisannya, jernih batinnya, dan jauh pandangannya dalam membaca masa depan umat.

Dalam riwayat yang disampaikan oleh KH As’ad Syamsul Arifin, murid utama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, diceritakan bahwa jauh sebelum tahun 1926 telah tumbuh kegelisahan kolektif di kalangan ulama Nusantara. Kegelisahan ini lahir dari kesadaran historis bahwa umat Islam membutuhkan sebuah wadah bersama—jam’iyah—yang bukan sekadar tempat berkumpul para kiai, tetapi juga sarana menjaga agama, membela umat, dan merawat tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah tekanan zaman kolonial dan perubahan sosial yang cepat.1

Pada masa itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menggagas nama Jami’iyah Ulama sebagai bentuk organisasi yang hendak didirikan. Secara lahiriah, nama tersebut tampak tepat dan representatif: sebuah perkumpulan para ulama. Namun, dalam musyawarah para kiai, pembahasan tidak berhenti pada soal administratif. Diskusi berkembang lebih dalam, menyentuh persoalan ruh, orientasi, dan arah perjuangan organisasi yang akan dilahirkan.

Di sinilah peran KH Mas Alwi bin Abdul Aziz tampil menentukan.

Dengan kejernihan ber66pikir dan ketajaman batin, beliau mengusulkan sebuah nama yang tidak sekadar formal, tetapi sarat makna dan energi sejarah:

Nahdlatul Ulama — Kebangkitan Para Ulama.2

Mendengar usulan tersebut, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengajukan pertanyaan yang penuh kehati-hatian dan kebijaksanaan:

Lllk“Mengapa harus memakai kata nahdlah? Mengapa tidak cukup jami’iyah ulama saja?”

Pertanyaan ini dijawab oleh Kiai Mas Alwi dengan kalimat sederhana, namun sangat visioner—sebuah jawaban yang kelak terbukti mampu membaca realitas umat jauh ke depan:

“Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (kebangkitan). Ada kiai yang cukup mengurusi pondoknya sendiri dan tidak mau peduli terhadap jam’iyah serta urusan umat.”3

Jawaban tersebut bukan sindiran, apalagi celaan. Ia merupakan cermin kejujuran terhadap kondisi sosial-keagamaan umat Islam pada masa itu. KH Mas Alwi memahami bahwa organisasi ulama tidak boleh berhenti pada simbol kelembagaan atau forum silaturahmi semata. Ia harus menjadi gerakan kesadaran, panggilan tanggung jawab, dan sarana perjuangan kolektif.

Kata nahdlatul mengandung makna bangkit, bergerak, dan menolak diam. Ia menuntut para ulama untuk melampaui batas-batas kepentingan personal dan lokalitas pesantren, menuju kepedulian yang lebih luas: umat, bangsa, dan peradaban. Dalam perspektif ini, NU sejak awal tidak dimaksudkan sebagai organisasi pasif, melainkan sebagai jam’iyah yang hidup dan responsif terhadap zaman.4

Musyawarah itu pun mencapai mufakat. Para kiai sepakat menerima usulan KH Mas Alwi bin Abdul Aziz. Maka ditetapkanlah nama Nahdlatul Ulama, sebuah nama yang bukan sekadar identitas organisasi, tetapi juga doa panjang, cita-cita bersama, dan kompas perjuangan yang terus hidup hingga hari ini.

Namun sejarah kerap bersikap sunyi kepada para perintis yang ikhlas. Nama KH Mas Alwi bin Abdul Aziz tidak sepopuler tokoh-tokoh sentral lainnya. Padahal, tanpa gagasan beliau, NU mungkin lahir dengan ruh yang berbeda. Dari kisah ini, kita belajar satu hikmah besar ala pesantren:

Orang besar tidak selalu dikenal, tetapi jejaknya menghidupkan zaman.

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz adalah teladan ulama yang bekerja dalam senyap, tetapi berpikir jauh ke depan. Beliau tidak mengejar nama—justru namanyalah yang menghidupkan sebuah jam’iyah, yang hingga kini menjadi penopang utama umat Islam Nusantara.

Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.

Wallohu a'lam 

Catatan Kaki

1. Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952–1967, terj. Farid Wajidi (Yogyakarta: LKiS, 2003), hlm. 21–24.

2. KH As’ad Syamsul Arifin, riwayat pendirian Nahdlatul Ulama, dikutip dalam “Sejarah Berdirinya NU,” NU Online.

3. Ibid.

4. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 87–90.

Pedagang Es Kue


Sebuah cerpen dari kehidupan nyata

ketakketikmustopa.com, Pagi itu Jakarta masih setengah terjaga. Jalanan belum sepenuhnya riuh, hanya aroma kopi dan kue bakar dari pedagang kaki lima yang mengambang pelan di udara. Sudrajat berdiri di tepi trotoar, merapikan box es kue jadulnya. Es-es warna-warni di dalamnya berkilau, seperti pelangi kecil yang ia bawa ke mana-mana.

“Semoga hari ini laku, ya Allah…” gumamnya lirih.

Hampir dua puluh tahun ia menjalani hidup dengan langkah yang sama—berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, dari Kemayoran hingga Kota Tua. Dari box es itulah dapur rumahnya mengepul, dari uang receh itulah ia menyekolahkan anak-anaknya.

Namun Sabtu pagi itu, segalanya berubah.

Seorang anak berlari mendekat, matanya menyorot tajam ke arah box es di tangan Sudrajat. Tiba-tiba ia berteriak keras,

“Ini es racun! Esnya beracun!”

Sudrajat terperanjat. 

“Eh, Nak! Tunggu dulu… ini es kue biasa!”

Teriakan itu memecah suasana. Orang-orang berhenti melangkah. Bisik-bisik menyebar cepat, membentuk lingkaran yang kian rapat. Beberapa orang berseragam mendekat dengan wajah serius.

“Pak, ikut kami,” ujar seorang polisi sambil menggenggam lengan Sudrajat.

“Apa maksudnya, Pak? Saya cuma pedagang kecil. Saya jualan es kue, bukan racun,” kata Sudrajat, suaranya bergetar.

Seorang aparat TNI menatapnya tajam. 

“Ada laporan makanan berbahaya. Kami harus periksa.”

“Periksa? Silakan!” 

Sudrajat menunjuk box esnya. 

“Coba cicipi sendiri. Ini bukan spons. Ini es kue asli!”

Namun tak satu pun mendengar. Tubuhnya ditarik, didorong ke ambulans yang terparkir di pinggir jalan. Sepatu boots menghantam betisnya, selang menyabet dadanya. Sakit itu menjalar cepat, tapi lebih cepat lagi luka di hatinya.

“Ngaku saja kalau ini spons! Biar cepat selesai!” bentak seseorang.

“Saya tidak bohong!” jerit Sudrajat dengan air mata yang tak tertahan. 

“Saya cari makan, Pak… bukan penjahat!”

Ia dikurung hampir satu jam di pos kecil. Tubuhnya gemetar, kepala berdenyut. Namun yang paling menyakitkan adalah kalimat itu—dingin dan tajam:

“Jangan pernah berjualan di sini lagi. Kalau ketahuan, kami tarik lagi.”

Malam menjelang. Dengan tubuh bonyok dan langkah tertatih, Sudrajat pulang sendiri naik kereta. Di rumah, istrinya terdiam, anak-anaknya menatap dengan mata cemas.

“Pak… kenapa wajah Ayah?” tanya si bungsu pelan.

“Cuma jatuh, Nak… capek,” 

jawab Sudrajat sambil tersenyum tipis, menyembunyikan perih.

Empat hari berlalu. Sudrajat tak lagi berani kembali ke titik langganannya. Trauma menempel di setiap ingatan. Mangga Besar dan Sawah Besar menjadi rute baru—lebih jauh, lebih berat, tapi terasa lebih aman.

Beberapa hari kemudian, dua aparat datang ke rumahnya. Mereka duduk di ruang tamu sederhana, wajah penuh penyesalan.

“Pak Sudrajat, kami minta maaf. Tindakan kami kemarin berlebihan,” ujar Aiptu Ikhwan pelan.

“Kami hanya merespons laporan warga. Tidak ada niat menyakiti,” tambah Serda Hari.

Sudrajat menunduk. Tangannya bergetar pelan. “Maaf saya terima… tapi rasa takut itu… masih ada,” katanya lirih.

“Apakah Bapak akan berjualan lagi?” tanya Ikhwan ragu.

Sudrajat mengangguk pelan. 

“Harus. Anak-anak saya makan dari itu. Tapi saya hati-hati. Rute baru. Tempat baru.”

Pagi berikutnya, ia kembali memanggul box es kue. Luka di tubuhnya mulai memudar, tapi bekasnya masih tinggal di hati. Ia menatap es-es warna-warni itu dan berbisik,

“Nasib boleh berat… tapi hidup harus jalan.”

Ia melangkah ke tengah keramaian Jakarta. Box es di tangannya kembali berkilau di bawah matahari pagi—seperti pelangi kecil yang tetap muncul, meski hujan kemarin belum benar-benar hilang. Sudrajat berjalan pelan, tapi tegak. Seorang pedagang es kue, dengan keberanian yang tak pernah habis.


Jambret

 

Cerpen dakwah, dari kampus biru STID Albiruni 


ketakketikmuatopa.com, Aku tidak pernah menyangka, satu kejadian sepele yang sering hanya jadi berita singkat—penjambretan—akan menjelma menjadi peristiwa paling kelam dalam hidupku.

Sore itu di Sleman, aku berjalan pulang dengan tas di bahu dan doa-doa kecil di kepala. Jalanan ramai, seperti biasa. Aku bahkan sempat berpikir untuk membeli gorengan di ujung gang sebelum pulang.

Lalu semuanya pecah.

Tarikan keras menghantam pundakku. Tasku direnggut. Tubuhku terhuyung dan jatuh. Aspal mencium lututku dengan panas yang menyengat.

“Tas… tas saya!” teriakku.

Dua motor melesat pergi. Suara knalpotnya mengoyak telinga dan hatiku sekaligus. Aku terduduk, gemetar. Bukan tas yang kupikirkan, tapi rasa aman yang tiba-tiba hilang. Orang-orang berkerumun. Ada yang menolong, ada yang hanya menonton.

Dan di antara keramaian itu, aku melihat mobil suamiku berhenti mendadak.

Pintu terbuka. Ia berlari ke arahku.

“Kamu kenapa?!”

“Aku dijambret…” suaraku nyaris tak keluar. Tanganku menunjuk ke arah jalan. “Mas… tas…”

Tatapannya mengikuti arah jariku. Wajahnya berubah. Matanya menegang—bukan oleh marah, tapi oleh ketakutan kehilangan.

“Kamu tunggu di sini!”

“Mas, jangan!” Aku meraih lengannya. “Biarkan saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa…”

Ia menatapku sebentar. Terlalu sebentar untuk sebuah perpisahan yang tak kami sadari.

“Aku cuma mau berhentiin mereka.”

Mobil itu melesat. Aku menangis. Doaku tercecer di aspal bersama lututku yang berdarah.

Beberapa menit kemudian, keramaian bergeser ke ujung jalan. Suara sirene memecah udara. Aku bangkit tertatih, mengikuti arus orang-orang.

Dan di sanalah mereka. Dua tubuh tergeletak di jalan. Diam. Helm terpisah dari kepala. Darah merembes perlahan, seperti waktu yang berhenti.

Aku menutup mulutku.

“Mas…”

Suamiku berdiri tak jauh. Tangannya gemetar. Wajahnya kosong, seolah jiwanya tercabut lebih dulu.

“Aku cuma mau nyelametin kamu…” katanya lirih.

“Aku nggak niat… demi Allah, aku nggak niat…”

Aku memeluknya erat. Tubuhnya bergetar.

“Aku tahu. Aku lihat semuanya. Aku yang dijambret. Aku yang takut.”

Tapi niat baik tak selalu cukup di hadapan hukum.

Di kantor polisi, kata bersalah jatuh seperti palu. Dua orang meninggal. Akibatnya nyata. Niat tak tercatat di berita acara.

“Bu, secara hukum suami ibu menyebabkan kematian,” kata petugas itu.

Aku berdiri.

“Pak, secara kenyataan, saya korban. Hati saya dirampas duluan sebelum tas saya.”

Di luar sana, dunia ribut. Media sosial berteriak. Ahli hukum bersilang pendapat. Ada yang membela, ada yang menghujat. Tapi di rumah, suamiku hanya duduk diam, menatap dinding, menanggung beban yang tak pernah ia minta.

“Seandainya aku berhenti…” katanya suatu malam.

Aku menggenggam tangannya.

“Seandainya aku tidak dijambret, Mas. Tapi hidup tidak pernah memberi kita ‘seandainya’.”

Akhirnya, perdamaian dipilih. Keluarga mereka dan keluarga kami sepakat berdamai. Suamiku dibebaskan.

Kami pulang tanpa sorak. Tanpa rasa menang.

Malam itu aku bersujud lama di sajadah.

“Ya Allah… ampuni kami. Ampuni mereka.”

Aku teringat dua nyawa yang pergi. Mereka salah—iya. Tapi mereka juga hamba-Mu. Aku tak tahu doa siapa yang kini terputus karena peristiwa ini.

“Ya Allah, jika sore itu Engkau cabut nyawaku, apakah aku sudah siap?”

Aku sadar, tas tak sebanding dengan nyawa. Tapi rasa takut juga bukan dosa. Dan suamiku hanyalah seorang laki-laki yang ingin menjaga amanah-Mu.

Pagi harinya aku berkata padanya,

“Mas, kita tidak dibebaskan karena kita paling benar. Kita dibebaskan karena Allah masih memberi waktu.”

“Waktu untuk apa?” tanyanya pelan.

“Untuk bertaubat. Untuk lebih hati-hati. Untuk belajar bahwa membela diri pun harus tetap tunduk pada kasih sayang Allah.”

Sejak hari itu, setiap aku melangkah keluar rumah, aku membawa satu doa:

“Ya Allah, lindungi kami dari kezaliman, dan lindungi kami pula dari menjadi zalim—meski dengan alasan membela diri.”

Karena dalam satu peristiwa bernama jambret, tak ada pemenang.

Yang ada hanyalah manusia-manusia rapuh yang diingatkan betapa tipis jarak antara niat baik, musibah, dan takdir.

KH. Ridwan Abdullah (Pencipta Lambang NU)


ketakketikmustopa.com, KH. Ridwan Abdullah adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Nahdlatul Ulama’. Beliau tercatat sebagai anggota A’wan Syuriyah Pengurus Besar NU sekaligus pengurus Syuriyah NU Cabang Surabaya, dengan kontribusi besar yang masih terasa hingga kini.

Peran bersejarahnya terjadi pada Muktamar NU ke-2 yang diselenggarakan pada 12 Rabiul Tsani 1346 H / 9 Oktober 1927 di Hotel Peneleh, Surabaya. Dalam muktamar tersebut, untuk pertama kalinya diperkenalkan lambang Nahdlatul Ulama’ yang terpasang di pintu gerbang hotel dan menarik perhatian seluruh peserta.

Lambang itu adalah karya KH. Ridwan Abdullah. Untuk menjelaskan maknanya, dibentuk majelis khusus yang dipimpin Kiai Raden Adnan dari Solo. Di hadapan para peserta, KH. Ridwan Abdullah menerangkan filosofi lambang NU: tali melambangkan agama dan ukhuwah Islamiyah umat Islam sedunia, untaian 99 melambangkan Asmaul Husna, bintang besar melambangkan Nabi Muhammad ﷺ, empat bintang samping melambangkan Khulafa’ur Rasyidin, empat bintang bawah melambangkan empat mazhab, dan sembilan bintang keseluruhan melambangkan Wali Songo.

Penjelasan tersebut diterima secara mufakat, dan Muktamar NU ke-2 menetapkannya sebagai lambang resmi Nahdlatul Ulama’. KH. Ridwan Abdullah juga mengisahkan bahwa sebelum menggambar lambang itu, beliau melakukan shalat istikharah dan mendapat isyarat melalui mimpi.

Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menyambutnya dengan doa dan harapan agar makna dalam lambang NU benar-benar terwujud. KH. Ridwan Abdullah wafat pada tahun 1962 dan dimakamkan di Pemakaman Tembok, Surabaya. Bersama KH. Wahab Chasbullah dan KH. Mas Alwi Abdul Aziz, beliau dikenal sebagai Tiga Serangkai NU—tokoh peletak dasar sejarah, identitas, dan perjuangan NU.

Al-Fatihah..