Peresmian Gedung ke-2, STID Al-Biruni Menggelar Tasyakur dan Doa Bersama

Gambar: Sebelah kiri Dr. Imam Supardi, M. H.I. (Ketua STID Albiruni), tengah KH. Uki Marzuki, M. Pd. (Ketua Yayasan Amal Albirun), kanan Mustopa, M. Ag. (Sekretaris Yayasan Amal Albiruni)

ketakketikmustopa.com – STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon menggelar acara Tasyakur Pembangunan dan Peresmian Gedung Ke-2 (30/5/2026) sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya pembangunan gedung yang akan digunakan untuk mendukung berbagai aktivitas akademik dan kelembagaan kampus.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua STID Al-Biruni Dr. Imam Supardi, M.H.I., Ketua Yayasan Amal Al-Biruni Cirebon KH. Uki Marzuki, M.Pd., Sekretaris Yayasan Mustopa, M.Ag., para wakil ketua, ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta civitas akademika STID Al-Biruni.

Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur. Acara diisi dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. Dasuki, M.Pd., dosen STID Al-Biruni. Seluruh peserta mengikuti rangkaian doa bersama dengan harapan agar gedung yang telah dibangun dapat menjadi sarana yang membawa keberkahan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan bagi umat.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Amal Al-Biruni Cirebon, KH. Uki Marzuki, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan gedung kedua STID Al-Biruni. Beliau juga mengungkapkan komitmen yayasan untuk terus melanjutkan pembangunan fasilitas kampus guna mendukung perkembangan lembaga pendidikan yang semakin maju dan berkualitas.

"Alhamdulillah, pembangunan gedung ini telah selesai dan dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan akademik. Ke depan, setelah pembangunan Masjid Al-Biruni selesai, yayasan berencana melanjutkan pembangunan gedung berikutnya yang berada di sebelah selatan kompleks kampus," ujarnya.

Sementara itu, Ketua STID Al-Biruni Dr. Imam Supardi, M.H.I. menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Amal Al-Biruni, para donatur, dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam pembangunan gedung tersebut. Menurutnya, pembangunan sarana fisik harus diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Acara kemudian diakhiri dengan prosesi gunting pita sebagai tanda resmi peresmian gedung sekaligus menandai bahwa pembangunan gedung kedua STID Al-Biruni telah selesai dilaksanakan. Momen tersebut disambut dengan penuh kegembiraan oleh seluruh hadirin sebagai simbol dimulainya pemanfaatan gedung baru untuk menunjang aktivitas kampus.

Dengan diresmikannya gedung kedua ini, STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon semakin optimis dalam mewujudkan visi sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

@potsum_jurnalis albiruni

Bermalam di Mina: Menemukan Kesabaran, Kesederhanaan dan Persaudaraan Umat Islam

 

ketakketikmustopa.com, Mina bukan sekadar hamparan tenda putih yang dipenuhi jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia. Mina adalah sekolah kehidupan. Di tempat inilah manusia belajar tentang kesabaran, keikhlasan, kebersamaan, dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Bermalam di Mina bukan hanya bagian dari rangkaian ibadah haji, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Tuhan.

Di Mina, status sosial seolah runtuh tanpa suara. Tidak ada lagi perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan miskin, antara profesor dan petani. Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana, tidur berdesakan di tenda, makan bersama, berjalan bersama, dan merasakan panasnya padang pasir yang sama. Mina menjadi simbol nyata bahwa Islam mengajarkan kesetaraan dan persaudaraan universal.

Allah SWT berfirman:

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199)

Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan haji bukan hanya ritual fisik, tetapi perjalanan menuju pengampunan dan penyucian jiwa. Mina menjadi bagian penting dari perjalanan ruhani tersebut. Di sana, jamaah diajak untuk memperbanyak dzikir, doa, tafakur, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Bermalam di Mina juga mengingatkan umat Islam pada perjuangan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Di kawasan inilah sejarah pengorbanan besar itu dikenang kembali. Nabi Ibrahim AS rela menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ambillah dariku tata cara pelaksanaan hajimu.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh rangkaian ibadah haji, termasuk mabit (bermalam) di Mina, memiliki nilai ibadah yang sangat dalam karena dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Bermalam di Mina bukan sekadar menginap, melainkan bentuk ketaatan dan ittiba’ kepada sunnah Nabi.

Di tengah keterbatasan fasilitas, padatnya manusia, dan panasnya udara Mina, jamaah diuji untuk bersabar. Kesabaran di Mina bukan teori, melainkan praktik nyata. Di sana orang belajar mengendalikan emosi, menghargai orang lain, dan menumbuhkan rasa empati. Banyak jamaah yang baru menyadari bahwa hidup ini sesungguhnya tidak membutuhkan kemewahan berlebihan. Tidur beralas karpet tipis dan berbagi ruang sempit justru menghadirkan rasa syukur yang selama ini terlupakan.

Mina juga menjadi miniatur persatuan dunia Islam. Di tempat itu berkumpul manusia dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan budaya. Namun mereka memiliki tujuan yang sama: mencari ridha Allah SWT. Pemandangan ini menjadi pesan penting bahwa umat Islam sejatinya mampu bersatu jika menjadikan tauhid sebagai fondasi utama kehidupan.

Fenomena kehidupan modern hari ini sering membuat manusia terjebak dalam individualisme dan materialisme. Banyak orang hidup mewah tetapi kehilangan ketenangan batin. Mina mengajarkan sebaliknya. Kesederhanaan justru melahirkan kedamaian. Kebersamaan melahirkan kekuatan. Dan ketaatan melahirkan ketenteraman jiwa.

Bermalam di Mina sesungguhnya bukan hanya pengalaman fisik, tetapi pengalaman batin yang membekas sepanjang hidup. Banyak jamaah pulang dari Mina dengan air mata haru, karena di tempat itu mereka merasa lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih memahami arti kehidupan.

Mina akhirnya mengajarkan satu hal penting: bahwa manusia hanyalah musafir di dunia. Sebagaimana jamaah haji singgah sementara di Mina sebelum melanjutkan perjalanan, demikian pula kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara menuju kehidupan akhirat yang abadi.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Kemenag RI, 2019), QS. Al-Baqarah: 199.

2. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Hajj, hadis tentang tata cara manasik haji.

3. Yusuf al-Qaradawi, Ibadah dalam Islam (Jakarta: Akbar Media, 2005), hlm. 312.

4. Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu, Jilid 3 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1985), hlm. 542.

5. M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 221.

Hari Tasyrik: Hari Makan, Dzikir, dan Menjaga Nilai Pengorbanan



letakketikmistopa.com, Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam tradisi Islam, hari-hari ini bukan sekadar lanjutan dari perayaan kurban, tetapi merupakan momentum spiritual yang memiliki makna sosial, religius, dan kemanusiaan yang sangat dalam. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, Hari Tasyrik mengajarkan manusia tentang pentingnya rasa syukur, kebersamaan, dan penguatan hubungan dengan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 203).¹

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari-hari yang berbilang” dalam ayat tersebut adalah Hari Tasyrik. Hari-hari ini menjadi momentum memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan berbagai bentuk dzikir kepada Allah SWT sebagai wujud syukur atas nikmat iman dan ibadah kurban.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”_²

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang antara ibadah spiritual dan kebutuhan jasmani manusia. Setelah umat Islam menjalani ibadah kurban dan rangkaian ibadah haji, Allah memberikan kesempatan untuk menikmati nikmat-Nya dengan penuh rasa syukur. Makan dan minum dalam Hari Tasyrik bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan simbol syukur dan kebersamaan sosial.

Di Indonesia, Hari Tasyrik sering menjadi momentum mempererat ukhuwah dan solidaritas sosial. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat luas tanpa membedakan status sosial. Dalam suasana seperti inilah tampak bahwa ibadah kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, tetapi juga pendidikan sosial tentang empati dan kepedulian terhadap sesama. Islam mengajarkan bahwa keberagamaan sejati tidak hanya tampak dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam kemampuan berbagi kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:

“Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj [22]: 28).³

Ayat ini memperlihatkan dimensi sosial dari ibadah kurban. Daging kurban tidak hanya dinikmati oleh orang yang berkurban, tetapi juga harus dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Di sinilah Islam memperlihatkan nilai keadilan sosial dan kemanusiaan.

Namun, di era modern, nilai spiritual Hari Tasyrik sering kali mulai memudar. Sebagian masyarakat memandang Idul Adha dan Hari Tasyrik hanya sebagai tradisi tahunan tanpa menggali hikmah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Padahal, inti dari Idul Adha adalah pendidikan keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”

(QS. Al-Hajj [22]: 37).⁴

Ayat tersebut menegaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada fisik hewan yang disembelih, tetapi pada ketakwaan, keikhlasan, dan pengorbanan hati manusia di hadapan Allah SWT.

Selain itu, Hari Tasyrik juga mengajarkan pentingnya dzikir di tengah kehidupan modern yang penuh kegelisahan dan hiruk-pikuk dunia digital. Takbir dan tahmid yang terus dikumandangkan mengingatkan manusia agar tidak terputus dari nilai-nilai ketuhanan. Dzikir menjadi sarana menenangkan jiwa dan menghidupkan hati manusia yang sering lelah oleh urusan dunia.

Pada akhirnya, Hari Tasyrik mengandung pesan besar tentang syukur, pengorbanan, kebersamaan, dan penghambaan kepada Allah SWT. Dunia modern membutuhkan manusia-manusia yang tidak hanya sukses secara material, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kekuatan spiritual. Hari Tasyrik mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang bersyukur, tangan yang gemar berbagi, dan jiwa yang senantiasa mengingat Allah SWT.

Wallohu a'lam:

Footnote:

1. Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-Baqarah [2]: 203.

2. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Shiyam, Bab Tahrim Shaum Ayyam al-Tasyriq, No. Hadis 1141.

3. Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Hajj [22]: 28.

4. Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Hajj [22]: 37.

Mengenal Air Zamzam: Sejarah, Hikmah, dan keutamaannya


ketakketikmustopa.com, Di tengah hamparan padang pasir Makkah yang tandus, terdapat sebuah mata air yang tidak pernah kering selama ribuan tahun. Air itu bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan juga simbol pengorbanan, keteguhan iman, dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Air itu bernama Zamzam.

Bagi umat Islam, Zamzam bukan hanya air biasa. Ia adalah bagian dari sejarah besar perjalanan para nabi, terutama kisah perjuangan Siti Hajar dan Nabi Ibrahim AS. Hingga hari ini, jutaan jamaah haji dan umrah meminum air Zamzam dengan penuh harapan, doa, dan keyakinan akan keberkahannya.

Zamzam dan Jejak Sejarah Keluarga Nabi Ibrahim AS

Sejarah Zamzam bermula ketika Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, bersama putranya yang masih bayi, Nabi Ismail AS, di sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Kota Makkah. Tempat itu saat itu tidak memiliki sumber air, pepohonan, maupun kehidupan manusia.1

Bayangkan seorang ibu berada di tengah gurun panas bersama bayinya yang menangis kehausan. Dalam kepanikan dan cinta seorang ibu, Siti Hajar berlari antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari air. Namun, tidak ada setetes air pun yang ditemukan.2

Di saat usaha manusia mencapai batasnya, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terduga. Dari hentakan kaki kecil Nabi Ismail AS atau melalui Malaikat Jibril AS—sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat—muncullah mata air yang terus memancar dari dalam tanah. Siti Hajar pun berkata, “Zamzam… zamzam…” yang berarti “berkumpullah” atau “berhentilah mengalir,” sambil membendung air itu agar tidak meluas.3

Dari mata air itulah kehidupan mulai tumbuh di Makkah. Zamzam menjadi sebab hadirnya manusia, perdagangan, peradaban, bahkan menjadi pusat ibadah umat Islam sedunia.

Mukjizat yang Tak Pernah Kering

Salah satu hal yang menakjubkan dari Zamzam adalah keberlangsungannya hingga hari ini. Ribuan tahun telah berlalu, jutaan manusia meminum airnya setiap musim haji dan umrah, namun mata air Zamzam tidak pernah berhenti mengalir.

Secara logika manusia, sumber air di tengah padang pasir semestinya telah lama kering. Namun Zamzam seolah mengajarkan bahwa kekuasaan Allah SWT berada di atas segala hukum alam. Ia menjadi bukti bahwa ketika Allah berkehendak, sesuatu yang tampak mustahil dapat menjadi nyata.

Keajaiban Zamzam juga terletak pada kualitas airnya. Banyak penelitian menunjukkan bahwa air Zamzam memiliki kandungan mineral yang baik dan berbeda dari air biasa.4 Namun bagi orang beriman, keistimewaan Zamzam tidak hanya diukur secara ilmiah, melainkan juga secara spiritual.

Air yang Mengandung Doa dan Harapan

Rasulullah SAW bersabda:

“Air Zamzam itu tergantung pada niat orang yang meminumnya.”5

Hadis ini menunjukkan bahwa Zamzam memiliki dimensi ruhani yang sangat kuat. Banyak jamaah meminum Zamzam sambil berdoa memohon kesehatan, ilmu yang bermanfaat, rezeki halal, keturunan saleh, hingga kekuatan iman.

Di sinilah letak keindahan Zamzam. Ia bukan hanya pelepas dahaga fisik, tetapi juga penyejuk jiwa. Setiap tegukan Zamzam mengingatkan manusia bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi mereka yang bersabar dan bertawakal.

Siti Hajar telah memberi pelajaran besar kepada dunia: jangan pernah menyerah dalam berikhtiar. Walaupun pertolongan Allah belum tampak, seorang mukmin harus tetap bergerak, berusaha, dan percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya.

Zamzam dan Spiritualitas Umat Islam Modern

Di era modern saat manusia semakin bergantung pada teknologi dan kekuatan material, kisah Zamzam menghadirkan pesan spiritual yang sangat mendalam. Dunia hari ini dipenuhi kegelisahan, krisis moral, dan kekeringan ruhani. Banyak manusia memiliki segalanya, tetapi kehilangan ketenangan hidup.

Zamzam mengajarkan bahwa sumber ketenangan sejati bukan hanya materi, melainkan kedekatan kepada Allah SWT. Air Zamzam lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari air mata perjuangan seorang ibu yang yakin kepada Tuhannya.

Karena itu, setiap Muslim seharusnya tidak hanya membawa pulang botol Zamzam dari Tanah Suci, tetapi juga membawa pulang nilai-nilai pengorbanan, kesabaran, dan tawakal yang terkandung di dalam sejarahnya.

Hikmah Besar di Balik Air Zamzam:

Ada banyak hikmah yang dapat dipetik dari kisah Zamzam, di antaranya:

1. Pentingnya ikhtiar dan tawakal

Siti Hajar tetap berlari mencari air walaupun kondisi tampak mustahil. Ini mengajarkan bahwa manusia wajib berusaha sebelum berserah diri kepada Allah.

2. Kasih sayang ibu memiliki kekuatan besar

Zamzam lahir dari perjuangan seorang ibu demi anaknya. Islam memuliakan pengorbanan seorang ibu sebagai bagian dari kemuliaan hidup manusia.

3. Allah memberi pertolongan pada waktu terbaik

Pertolongan Allah sering datang ketika manusia merasa tidak lagi memiliki harapan.

4. Keberkahan lebih penting daripada kemewahan

Makkah yang dahulu tandus kini menjadi pusat perhatian dunia karena keberkahan yang Allah turunkan.

Air Zamzam bukan hanya bagian dari sejarah Islam, tetapi juga simbol keabadian iman dan pengharapan kepada Allah SWT. Dari lembah tandus Makkah, Zamzam mengajarkan bahwa kehidupan dapat tumbuh dari kesulitan, harapan dapat lahir dari penderitaan, dan pertolongan Allah selalu hadir bagi orang-orang yang yakin kepada-Nya.

Maka ketika seorang Muslim meminum air Zamzam, sesungguhnya ia sedang meneguk sejarah, doa, perjuangan, dan keberkahan yang telah mengalir sejak zaman Nabi Ibrahim AS hingga hari ini.

Wallahu a'lam 


Footnote

1. M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Shahih (Jakarta: Lentera Hati, 2011), hlm. 87.

2. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012), hlm. 52.

3. Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya’ (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), hlm. 179.

4. Ahmed Abdul Hamid et al., “Chemical Analysis and Mineral Composition of Zamzam Water,” Journal of Saudi Chemical Society, Vol. 18, No. 2, 2014, hlm. 95–102.

5. HR. Ibnu Majah No. 3062; Ahmad No. 14435. Hadis ini dinilai hasan oleh sebagian ulama.

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS: Suritauladan bagi Umat Manusia

ketakketikmustopa.com, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dikenal sebagai salah satu nabi yang memiliki keteguhan iman luar biasa dalam menjalankan perintah Allah SWT. Dalam sejarah perjalanan para nabi, kisah Nabi Ibrahim menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Karena keteladanan itulah, Allah mengabadikan namanya sebagai Khalilullah atau kekasih Allah.1

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim penuh dengan ujian berat. Sejak muda beliau telah menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan tauhid di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Bahkan ayahnya sendiri, Azar, merupakan pembuat patung yang dijadikan sesembahan oleh kaumnya. Namun Nabi Ibrahim tetap teguh menyampaikan kebenaran meskipun mendapat penolakan dan ancaman.2

Keteguhan iman Nabi Ibrahim terlihat ketika beliau menghancurkan berhala-berhala kaumnya untuk menunjukkan bahwa patung-patung itu tidak memiliki kekuatan apa pun. Akibat perbuatannya, Raja Namrud dan masyarakat marah besar lalu menghukum Nabi Ibrahim dengan membakarnya hidup-hidup. Akan tetapi, dengan kekuasaan Allah, api yang menyala besar itu justru menjadi dingin dan menyelamatkan beliau.3 Peristiwa ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada orang-orang yang beriman dan sabar dalam mempertahankan kebenaran.

Pengorbanan terbesar Nabi Ibrahim terjadi ketika Allah memerintahkannya meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan putranya yang masih bayi, Ismail, di lembah tandus Makkah. Secara manusiawi, hal itu sangat berat dilakukan. Namun Nabi Ibrahim yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang taat. Dari kepasrahan itulah Allah menghadirkan mukjizat air Zamzam yang menjadi sumber kehidupan hingga sekarang.4

Puncak pengorbanan Nabi Ibrahim adalah ketika beliau menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS. Perintah itu menjadi ujian keimanan yang sangat berat. Ismail bukan hanya anak yang dicintai, tetapi juga anak yang telah lama dinantikan kehadirannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan.5

Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut kepada Ismail, sang anak dengan penuh ketakwaan menjawab:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Jawaban Nabi Ismail menunjukkan hasil pendidikan tauhid yang ditanamkan Nabi Ibrahim dalam keluarganya. Mereka sama-sama menempatkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Ketika keduanya telah menunjukkan kepatuhan yang sempurna, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor kibas sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan atas keikhlasan mereka.6

Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim mengandung pelajaran besar bagi umat manusia sepanjang zaman. Pengorbanan bukan hanya tentang materi atau harta benda, tetapi juga pengorbanan ego, hawa nafsu, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Manusia modern sering kali terjebak dalam kehidupan materialistis sehingga melupakan nilai keikhlasan dan kepedulian sosial.

Idul Adha hadir untuk mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memberi dan berbagi. Semangat kurban mengajarkan pentingnya solidaritas sosial, membantu fakir miskin, dan mempererat persaudaraan antarsesama manusia.7

Nabi Ibrahim juga menjadi teladan dalam membangun keluarga yang berlandaskan iman dan ketakwaan. Beliau mendidik Ismail menjadi anak yang saleh, sabar, dan taat kepada Allah. Keteladanan ini sangat relevan di tengah tantangan zaman modern ketika banyak keluarga menghadapi krisis moral dan spiritual.

Sebagai umat Islam, meneladani Nabi Ibrahim berarti berusaha memperkuat iman, meningkatkan keikhlasan, serta berani berkorban demi kebaikan dan kebenaran. Ketika manusia mampu menempatkan Allah sebagai tujuan utama hidupnya, maka kehidupan akan dipenuhi ketenangan, keberkahan, dan makna yang sejati.

Idul Adha 1447 H menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai pengorbanan dan kepasrahan Nabi Ibrahim AS. Semoga semangat beliau terus hidup dalam diri umat manusia sebagai cahaya keteladanan dalam membangun kehidupan yang lebih beriman, peduli, dan bermartabat.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Vol. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 456.

2. Ibnu Katsir, Qashash Al-Anbiya’ (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004), hlm. 178.

3. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid 6 (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 412.

4. Safiur Rahman Al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum (Riyadh: Darussalam, 2001), hlm. 34.

5. Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, Vol. 23 (Damaskus: Dar al-Fikr, 2009), hlm. 145.

6. Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, Vol. 5 (Kairo: Dar al-Syuruq, 2003), hlm. 2876.

7. Yusuf Al-Qaradawi, Fiqh Al-Zakah, Vol. 2 (Beirut: Muassasah Risalah, 1999), hlm. 923.

Hari Arafah: Puncak Penghambaan dan Lautan Ampunan

 


ketakketikmuatopa.com, Padang Arafah adalah sebuah hamparan luas yang terletak tidak jauh dari Kota Makkah. Tempat ini menjadi saksi pertemuan jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya yang datang memenuhi panggilan Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji. Di sinilah puncak ibadah haji berlangsung, yaitu wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda:

 “Al-hajju ‘Arafah”

“Haji itu adalah wukuf di Arafah.”¹

Menurut kisah yang berkembang dalam tradisi Islam, Padang Arafah memiliki hubungan sejarah dengan Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Setelah diturunkan dari surga dan terpisah cukup lama di bumi, keduanya dipertemukan kembali di tempat ini. Karena pertemuan dan saling mengenal kembali itulah, tempat ini disebut “Arafah,” yang berasal dari kata ‘arafa yang berarti mengenal atau mengetahui.² Kisah ini menjadi simbol bahwa manusia selalu mencari jalan untuk kembali kepada kasih sayang dan ampunan Allah SWT.

Di Padang Arafah pula, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah terakhirnya yang sangat bersejarah, dikenal sebagai Khutbah Wada’. Dalam khutbah tersebut, beliau menegaskan tentang persaudaraan umat manusia, keadilan, penghormatan terhadap hak perempuan, dan pentingnya berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah.³ Pesan tersebut menjadi warisan besar bagi umat Islam hingga akhir zaman.

Padang Arafah bukan sekadar tempat geografis, melainkan simbol perjalanan ruhani manusia. Ketika jamaah mengenakan pakaian ihram putih tanpa jahitan, mereka meninggalkan simbol kemewahan dunia. Semua tampak sama di hadapan Allah SWT. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan ketulusan hati. Allah SWT berfirman:

 “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”⁴

Pada siang hingga menjelang matahari terbenam, jutaan jamaah mengangkat tangan, memanjatkan doa, menangis memohon ampunan, dan berharap menjadi manusia yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah.”⁵

Suasana itu menggambarkan betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Allah SWT. Air mata taubat mengalir bersama harapan agar dosa-dosa diampuni dan hidup dipenuhi keberkahan.

Padang Arafah juga sering disebut sebagai miniatur Padang Mahsyar. Hamparan manusia berpakaian putih mengingatkan bahwa suatu saat seluruh manusia akan dikumpulkan di hadapan Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Karena itu, Hari Arafah menjadi momentum muhasabah, refleksi diri, dan penguatan iman.

Semoga kisah Padang Arafah mampu menghidupkan kesadaran spiritual dalam hati setiap Muslim, bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan abadi. Dan sebagaimana manusia berkumpul di Arafah untuk memohon ampunan, semoga kita semua kelak dikumpulkan dalam rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Wallohu a'lam 

Footnote:

1. Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Al-Hajj, Bab Ma Ja’a fi Man Adraka Al-Imam bi Jam’, No. Hadis 889.

2. Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media, 2003, hlm. 45.

3. Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011, hlm. 625–628.

4. QS. Al-Hujurat [49]: 13.

5. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Hajj, Bab Fadhl Yaum ‘Arafah, No. Hadis 1348.

Tarwiyah: Hari Persiapan Ruhani dan Renungan Menuju Puncak Ibadah

ketakketikmustopa.com, Tarwiyah secara bahasa memiliki dua makna utama yang sangat mendalam. Pertama, bermakna berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Kedua, berarti membawa atau mempersiapkan air. Kedua makna tersebut memiliki hubungan erat dengan perjalanan spiritual umat Islam, khususnya dalam rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Dalam tradisi Arab klasik, istilah tarwiyah digunakan untuk menggambarkan aktivitas menyediakan air sebagai bekal perjalanan di wilayah padang pasir yang tandus dan minim sumber kehidupan.1

Dalam konteks ibadah haji, Hari Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, yaitu hari ketika jamaah haji mulai bergerak menuju Mina untuk melaksanakan mabit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada masa dahulu, para jamaah harus membawa persediaan air dari Makkah menuju Mina dan Arafah karena daerah tersebut sangat minim sumber air. Dari praktik inilah muncul istilah “Tarwiyah,” yakni hari mempersiapkan kebutuhan perjalanan sebelum memasuki puncak ibadah haji.2

Namun, makna Tarwiyah tidak hanya berkaitan dengan persiapan fisik semata. Kata tersebut juga mengandung pesan spiritual yang mendalam tentang pentingnya persiapan ruhani sebelum mendekat kepada Allah SWT. Sebagaimana air menjadi sumber kehidupan bagi tubuh manusia, maka renungan dan dzikir menjadi sumber kehidupan bagi hati dan jiwa manusia. Karena itu, Hari Tarwiyah dipahami sebagai momentum untuk memperkuat niat, membersihkan hati, serta mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki hari Arafah yang penuh kemuliaan.

Di Mina, jutaan jamaah haji berkumpul dengan pakaian ihram yang sederhana tanpa membedakan status sosial, jabatan, suku, maupun bangsa. Semua manusia tampak sama di hadapan Allah SWT. Keadaan ini menjadi simbol kesetaraan manusia serta pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta dan kedudukan, melainkan dari ketakwaannya.3 Hari Tarwiyah menjadi fase perenungan tentang hakikat kehidupan manusia yang sesungguhnya: bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah dalam keadaan tanpa membawa kemewahan dunia.

Makna “merenung” dalam Tarwiyah memiliki relevansi besar dalam kehidupan modern saat ini. Manusia sering disibukkan oleh urusan dunia, pekerjaan, ambisi, dan persaingan hidup hingga lupa mempersiapkan kehidupan akhirat. Tarwiyah hadir sebagai momentum untuk berhenti sejenak, melakukan evaluasi diri, serta bertanya kepada hati tentang arah kehidupan yang sedang dijalani. Dalam Islam, proses muhasabah atau introspeksi diri merupakan bagian penting dalam pembinaan spiritual seorang Muslim.4

Selain berkaitan dengan ibadah haji, umat Islam yang tidak sedang berhaji dianjurkan melaksanakan Puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah. Puasa ini termasuk ibadah sunnah yang memiliki nilai spiritual tinggi karena dilaksanakan pada hari-hari terbaik dalam kalender Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya memperbanyak amal saleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, termasuk puasa, dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.5

Puasa Tarwiyah menjadi bentuk persiapan ruhani sebelum menyambut Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Secara spiritual, puasa ini melatih kesabaran, pengendalian diri, dan ketulusan ibadah kepada Allah SWT. Dalam keadaan menahan lapar dan dahaga, seorang Muslim belajar memahami makna pengorbanan serta memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhannya. Puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga sarana penyucian hati dan pembentukan karakter manusia yang bertakwa.6

Secara filosofis, Tarwiyah mengajarkan bahwa setiap perjalanan besar membutuhkan persiapan. Tidak ada keberhasilan tanpa persiapan yang matang. Sebagaimana jamaah haji mempersiapkan bekal sebelum menuju Arafah, manusia juga harus mempersiapkan amal saleh sebelum menghadapi perjalanan menuju akhirat. Persiapan itu bukan hanya berupa materi, tetapi juga ilmu, akhlak, iman, dan ketakwaan.

Tarwiyah juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga “air kehidupan” bagi jiwa manusia. Dalam Al-Qur’an, air sering menjadi simbol kehidupan dan rahmat Allah SWT.7 Sebagaimana tubuh manusia tidak dapat hidup tanpa air, demikian pula hati manusia tidak dapat hidup tanpa iman, dzikir, dan petunjuk Allah. Ketika hati jauh dari Allah, manusia akan mengalami kegelisahan, kekosongan, dan kehilangan arah hidup meskipun memiliki kemewahan dunia.

Momentum Tarwiyah mengingatkan umat Islam bahwa hidup di dunia hanyalah perjalanan sementara. Setiap manusia sedang menuju “Arafah”-nya masing-masing, yaitu titik pertemuan antara penyesalan, penghambaan, dan harapan akan ampunan Allah SWT. Oleh karena itu, Tarwiyah menjadi simbol penting tentang perlunya persiapan lahir dan batin sebelum menghadapi kehidupan akhirat.

Pada akhirnya, Hari Tarwiyah bukan sekadar bagian dari ritual ibadah haji, melainkan juga pendidikan spiritual yang mengajarkan kesederhanaan, persiapan, ketakwaan, dan refleksi diri. Melalui Tarwiyah, umat Islam diajak untuk menata kembali tujuan hidupnya, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memperkuat kualitas ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Wallohu a'lam 

Footnote:

1. Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, Jilid XIV (Beirut: Dar Shadir, t.th.), hlm. 291.

2. Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Jilid III (Damaskus: Dar al-Fikr, 1985), hlm. 2280.

3. Yusuf al-Qaradawi, Al-‘Ibadah fi al-Islam (Kairo: Maktabah Wahbah, 1995), hlm. 312.

4. Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Jilid IV (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), hlm. 425.

5. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Idain, Bab Fadl al-‘Amal fi Ayyam al-Tasyriq.

6. Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Jilid I (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), hlm. 521.

7. QS. Al-Anbiya [21]: 30.