Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan 1 Syawal 1447 H

 


ketakketikmustopa.com, Langit pagi di Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin tampak cerah. Spanduk besar terpampang di depan aula utama:

“Seminar Nasional: Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan 1 Syawal 1447 H”

Mahasiswa berdatangan dengan penuh antusias. Sebagian berbisik-bisik membahas hal yang sama—perbedaan hari raya yang kembali terjadi tahun ini.

Di dalam aula, suasana mulai hangat. Di atas panggung, tampak sosok berwibawa, Dr. Imam Supardi, S.H.I, Ketua STID Al-Biruni, duduk berdampingan dengan beberapa dosen.

Acara dibuka. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Dr. Imam Supardi berdiri, merapikan mikrofon.

Dr. Imam Supardi:

“Bapak-Ibu dosen, dan anak-anakku mahasiswa yang saya banggakan… hari ini kita tidak sekadar berkumpul dalam seminar. Kita sedang belajar menjadi umat yang dewasa.”

Aula hening. Semua mata tertuju kepadanya.

Dr. Imam Supardi melanjutkan:

“Sebagaimana kita ketahui, tahun ini terjadi perbedaan. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H pada hari Jum’at, 20 Maret 2026. Sementara Nahdlatul Ulama menetapkan pada hari Sabtu, 21 Maret 2026.”

Seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan. Namanya Husein.

“Pak, kalau boleh jujur… kami kadang bingung. Kenapa sih hal sepenting hari raya bisa berbeda? Bukankah seharusnya umat Islam itu satu?”

Dr. Imam Supardi tersenyum, lalu melangkah perlahan mendekati tepi panggung.

“Pertanyaan yang sangat baik. Justru dari kebingungan itulah ilmu lahir.”

Beberapa mahasiswa tersenyum.

Dr. Imam Supardi:

“Perbedaan ini bukan karena umat Islam tidak satu. Tapi karena cara memahami dalil bisa berbeda. Ada yang menggunakan rukyat, melihat hilal langsung. Ada juga yang menggunakan hisab, perhitungan astronomi.”

Seorang dosen, Pak Mustopa, ikut menimpali dari kursinya.

“Dan keduanya punya dasar. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.’ Tapi dalam perkembangan ilmu, hisab juga menjadi alat bantu yang kuat.”

Mahasiswi bernama Zizi ikut angkat tangan.

“Pak, kalau begitu… mana yang paling benar?”

Suasana menjadi sedikit tegang. Semua menunggu jawaban.

Pak Imam Supardi tersenyum lebih dalam.

“Pertanyaan seperti itu sering muncul. Tapi mungkin kita perlu mengubah cara bertanya. Bukan ‘mana yang paling benar’, tapi ‘bagaimana kita menyikapi perbedaan ini dengan benar’.”

Aula mulai terasa hangat.

Dr. Imam Supardi melanjutkan pembicaraan:

“Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:

‘Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.’ (QS. Ali Imran: 103)”

Seorang mahasiswa lain, Rafi, ikut berbicara.

“Berarti… yang salah itu bukan perbedaannya, tapi sikap kita ya, Pak?”

Dr. Imam Supardi:

“MasyaAllah… tepat sekali.”

Pak Mustopa berujar:

“Kalau kita saling menyalahkan hanya karena beda hari lebaran, berarti kita belum lulus dari pelajaran ukhuwah.”

Suasana aula berubah menjadi reflektif.

Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa mulai saling berbisik, namun kini dengan nada yang lebih tenang.

Zizi bertanya:

“Jadi… kalau saya ikut keluarga yang lebaran hari Jum’at, sementara teman saya Sabtu… itu tidak masalah ya?”

Dr. Imam Supardi:

“Tidak masalah. Yang penting, setelah itu kalian tetap saling bermaafan, saling mengunjungi, dan tidak memutus silaturahmi.”

Husein tersenyum:

“Berarti bisa dua kali makan opor, Pak?”

Seluruh aula pecah dalam tawa.

Pak Mustopa sambil tersenyum berujar:

“Kalau niatnya ukhuwah, insyaAllah berkah.”

Dr. Imam menutup dengan suara yang lembut namun penuh makna.

Dr. Imam Supardi:

“Anak-anakku… Idul Fitri bukan hanya tentang tanggal. Tapi tentang hati yang kembali bersih. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan hari raya, tapi lupa menjaga persaudaraan.”

Sejenak hening.

Dr. Imam Supardi dengan suara pelan:

“Karena pada akhirnya… kita semua menuju Allah yang sama.”

Aula dipenuhi keheningan yang dalam. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena setiap hati sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Di luar, angin berhembus pelan. Seolah ikut membawa pesan:

Bahwa perbedaan adalah warna, dan ukhuwah adalah cahaya yang menyatukannya.

Filosofi Ketupat Lebaran

 


ketakletikmustopa.com, Halaman kampus sore itu tampak ramai. Para mahasiswa hilir mudik menyiapkan perlengkapan untuk sholat Idul Fitri esok hari. Ada yang memasang spanduk, mengatur sound system, hingga menyusun sajadah.

Di sudut halaman, pak Dr. Ahmad Husni duduk santai sambil memperhatikan. Sesekali beliau tersenyum melihat kesibukan para mahasiswa.

“Wah, kalau begini suasananya… Lebaran sudah terasa ya,” ujarnya ringan.

Husein yang sedang menggulung kabel menoleh.
“Iya, Pak. Tinggal nunggu takbir aja ini.”

Pak Ahmad Husni mengangguk, lalu tiba-tiba bertanya,

“Eh, saya mau tanya. Ada yang tahu nggak… apa arti filosofi ketupat Lebaran?”

Mahasiswa langsung saling pandang.

Siti menjawab duluan,
“Kalau saya taunya… makanan wajib, Pak.”

“Kalau saya,” sambung Husein, “yang penting ada opor, Pak.”

Semua tertawa.

Pak Dr. Ahmad Husni ikut tersenyum.
“Jawaban jujur, tapi belum dalam.”

Rina yang sedang melipat sajadah ikut nimbrung.
“Memang ada sejarahnya ya, Pak?”

“Ada,” jawab Pak Ahmad Husni. “Tradisi ketupat ini sering dikaitkan dengan dakwah .”

“Wali Songo, Pak?” tanya Husein penasaran.

“Iya. Beliau menggunakan budaya sebagai media dakwah. Salah satunya lewat ketupat. Supaya masyarakat mudah memahami ajaran Islam tanpa merasa asing.”

Siti mengangguk.
“Jadi ketupat itu bukan sekadar makanan ya, Pak?”

“Bukan,” jawab beliau. “Ia adalah simbol.”

Makna "Ngaku Lepat"

Pak Ahmad Husni melanjutkan sambil berdiri mendekati mereka.

“Dalam bahasa Jawa, ‘kupat’ itu berarti ngaku lepat—mengakui kesalahan.”

Rina berhenti melipat sajadah.
“Berarti… ketupat itu simbol minta maaf, Pak?”

“Betul,” kata beliau. “Makanya muncul di momen Lebaran. Karena setelah Ramadhan, kita kembali ke fitrah dan saling memaafkan.”

Husein tersenyum kecil.
“Pantesan tiap Lebaran kita keliling minta maaf…”

Siti bertanya lagi,
“Tapi Pak… kenapa harus ketupat? Kenapa bukan makanan lain?”

Pak Ahmad Husni mengambil sehelai janur yang tergeletak di meja.

“Lihat ini. Anyaman ketupat itu rumit. Seperti apa?”

“Seperti… hidup kita, Pak?” jawab Rina.

“Ya,” kata beliau. “Kesalahan manusia itu berlapis, tidak sederhana. Tapi setelah dibuka…”

“Jadi putih,” sambung Husein cepat.

“Betul,” kata beliau. “Itu simbol hati yang kembali bersih setelah Ramadhan.”

Siti tersenyum.
“Berarti ketupat itu kayak ‘hasil akhir’ Ramadhan ya, Pak?”

“MasyaAllah… tepat sekali,” jawab beliau bangga.

Husein langsung mengangkat tangan lagi.
“Pak, ini pertanyaan penting. Kenapa harus sama opor?”

Mahasiswa lain langsung tertawa.

Pak Ahmad Husni ikut tersenyum.

“Baik. Ketupat itu rasanya bagaimana?”

“Tawar, Pak,” jawab mereka serempak.

“Nah, opor itu gurih, kaya rasa. Artinya apa?”

Rina berpikir sejenak.
“Mungkin… hidup itu nggak cukup bersih, tapi juga harus penuh rasa?”

“Lebih tepat,” jawab beliau, “ketupat itu hati yang bersih. Opor itu nikmat Allah. Kalau hati kita bersih, kita bisa merasakan nikmat dengan benar.”

Siti mengangguk pelan.
“Kalau hati nggak bersih… semua terasa biasa saja ya, Pak?”

“Iya,” jawab beliau. “Makanya Lebaran itu bukan soal makanan, tapi soal rasa syukur.”

Langit mulai gelap. Suara takbir dari masjid sekitar mulai terdengar samar.

Pak Ahmad Husni menatap para mahasiswa yang masih sibuk.

“Besok kalian bukan hanya menyiapkan sholat Id,” katanya. “Tapi juga menyambut hati yang baru.”

Husein tersenyum.
“Dengan ketupat dan opor, Pak…”

Pak Ahmad Husni tertawa kecil.

“Boleh… tapi jangan lupa maknanya.”

Rina menatap langit yang mulai gelap.
“Pak… ternyata dari ketupat saja kita bisa belajar banyak ya…”

“Iya,” jawab beliau lembut. “Karena kadang, Allah menyampaikan pelajaran besar… lewat hal yang sederhana.”

Mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Tapi kali ini, bukan hanya sibuk mempersiapkan acara…

melainkan juga mempersiapkan hati—
seputih isi ketupat yang siap dibuka di hari kemenangan.

Wallohu a'lam 

Zakat: Ibadah Sosial Penghubung Si Kaya dan Si Miskin

 

ketakketikmustopa.com, Sore itu suasana Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon terasa berbeda. Angin Ramadhan berhembus lembut di halaman kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang baru saja selesai mengikuti perkuliahan terakhir sebelum libur Idul Fitri.

Di ruang kelas Tafsir Sosial Islam, Pak Dr. Syafi'i Ma'arif, sedang menutup perkuliahan dengan sebuah pertanyaan.

“Anak-anak,” katanya sambil menatap para mahasiswa, “apa makna zakat bagi kehidupan masyarakat?”

Mahasiswa saling pandang. Pertanyaan itu sederhana, tetapi Pak Syafi’i dikenal sering menyimpan makna yang dalam di balik setiap pertanyaan.

Seorang mahasiswa bernama Fajar mengangkat tangan.

“Pak, zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu untuk membantu orang miskin,” jawabnya singkat.

Pak Syafi’i tersenyum.

“Benar, Fajar. Tapi zakat bukan hanya soal kewajiban. Zakat adalah jembatan hati antara yang kaya dan yang miskin.”

Mahasiswa lain, Siti Rahma, ikut bertanya.

“Pak, kenapa Islam sangat menekankan zakat?”

Pak Syafi’i berjalan perlahan di depan kelas, lalu menjawab dengan tenang.

“Karena zakat bukan hanya ibadah kepada Allah, tetapi juga ibadah sosial kepada manusia. Allah bahkan menyebut zakat bersamaan dengan shalat dalam Al-Qur’an.”

Ia kemudian mengutip ayat dengan suara yang tenang.

"Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat."
(QS. Al-Baqarah: 43)

Suasana kelas menjadi hening. Para mahasiswa mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Shalat menghubungkan manusia dengan Allah,” lanjut Pak Syafi’i, “sedangkan zakat menghubungkan manusia dengan sesamanya.”

Fajar terlihat berpikir. Ia berasal dari keluarga sederhana di Indramayu. Ayahnya seorang nelayan yang penghasilannya tidak menentu.

“Pak,” kata Fajar perlahan, “apakah zakat benar-benar bisa mengurangi kesenjangan sosial?”

Pak Syafi’i tersenyum lagi.

“Bisa, jika dikelola dengan baik dan dilakukan dengan hati yang ikhlas.”

Ia kemudian duduk di tepi meja.

“Rasulullah SAW bersabda bahwa zakat fitrah adalah penyuci bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin.”

Pak Syafi’i membaca hadis itu dengan pelan.

"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin."
(HR. Abu Dawud)

Siti Rahma terlihat terharu.

“Berarti zakat bukan hanya membantu orang miskin, Pak?”

“Betul,” jawab Pak Syafi’i. “Zakat juga membersihkan hati orang yang memberi.”

Bel berbunyi menandakan waktu kuliah telah selesai. Namun para mahasiswa belum juga beranjak.

Tiba-tiba Ridwan, mahasiswa lain yang biasanya pendiam, mengangkat tangan.

“Pak… kalau boleh, saya ingin cerita.”

Pak Syafi’i mengangguk.

“Silakan, Ridwan.”

Ridwan menarik napas panjang.

“Dulu keluarga saya sangat miskin, Pak. Setiap menjelang Idul Fitri, kami selalu khawatir karena tidak punya cukup makanan. Tapi suatu hari ada orang yang memberikan zakat kepada keluarga kami. Ibu saya menangis waktu itu.”

Suasana kelas tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Ridwan melanjutkan dengan suara bergetar.

“Sejak saat itu saya berjanji, jika suatu hari Allah memberi saya rezeki, saya ingin menjadi orang yang membantu orang lain lewat zakat.”

Pak Syafi’i menatap Ridwan dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ridwan,” katanya lembut, “itulah sebenarnya tujuan zakat. Bukan hanya membantu yang membutuhkan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan persaudaraan.”

Ia kemudian berdiri dan berkata dengan penuh semangat.

“Bayangkan jika setiap orang yang mampu benar-benar menunaikan zakat dengan baik. Tidak akan ada orang yang kelaparan di sekitar kita.”

Para mahasiswa mengangguk.

Siti Rahma tersenyum kecil.

“Pak, berarti zakat itu bukan sekadar kewajiban tahunan ya?”

“Benar,” jawab Pak Syafi’i. “Zakat adalah jembatan sosial yang menghubungkan orang kaya dengan orang miskin.”

Di luar kelas, matahari mulai tenggelam. Cahaya senja Ramadhan menyinari halaman kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon.

Pak Syafi’i menutup perkuliahan dengan sebuah pesan.

“Anak-anak, ingatlah satu hal. Kebahagiaan sejati bukan hanya ketika kita memiliki banyak harta, tetapi ketika kita mampu berbagi dengan sesama.”

Para mahasiswa keluar dari kelas dengan hati yang berbeda dari sebelumnya.

Di penghujung Ramadhan itu, mereka tidak hanya belajar tentang zakat sebagai teori dalam buku. Mereka belajar bahwa zakat adalah ibadah sosial yang mampu menyatukan hati manusia.

Dan di kampus kecil STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, sebuah pelajaran sederhana tentang zakat telah menumbuhkan mimpi besar: membangun masyarakat yang lebih adil, penuh kepedulian, dan saling menguatkan.

Wallohu a'lam 

Fatayat PAC Waled Bagikan 1.000 Paket Takjil di Depan Gedung GMNU MWC Waled

 


ketakketikmustopa.com, Fatayat PAC Waled kembali menggelar kegiatan sosial tahunan berupa bagi-bagi takjil di depan gedung GMNU MWC Waled. Acara yang digelar pada sore hari ini turut dihadiri pengurus Banom NU Waled. (15/3/2026)

Dengan semangat Ramadan yang terasa hangat, para pengurus Fatayat PAC Waled membagikan 1.000 paket takjil kepada masyarakat yang melintas di depan gedung. Ibu Aat Farhatun, Ketua Fatayat PAC Waled, menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung beberapa tahun terakhir sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus berbagi berkah.

“Alhamdulillah, tahun ini kami bisa menyiapkan 1.000 paket takjil. Kami berharap paket ini bisa sedikit meringankan dan memberi kebahagiaan bagi masyarakat yang berpuasa,” ujar Ibu Aat dengan senyum hangat.

Suasana di lokasi pembagian terlihat meriah. Para pengendara sepeda motor dan pejalan kaki berhenti sejenak untuk menerima takjil, sementara beberapa warga tampak berterima kasih sambil tersenyum. Tak jarang terdengar sapaan hangat dan tawa ringan dari pengurus Fatayat saat menyerahkan paket-paket takjil.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara pengurus Fatayat, Banom NU, dan masyarakat sekitar. Kehangatan dan antusiasme warga menegaskan bahwa tradisi berbagi di bulan suci Ramadan tetap hidup, membawa kebahagiaan dan semangat kebersamaan bagi seluruh komunitas.


@potsum-jurnalis-albiruni

Filosofi Cecak dan Kucing: Meraih Rezeki dengan Ikhtiar dan Tawakal

 

ketakketikmustopa.com, Pagi itu ruang kelas di kampus terasa tenang. Matahari baru saja naik, cahayanya menembus jendela kelas dan jatuh di papan tulis. Para mahasiswa sudah duduk rapi. Di depan kelas, Pak Mustofa, seorang dosen yang dikenal sederhana, berdiri sambil memegang spidol.

Hari itu suasana kelas sedikit berbeda. Para mahasiswa tampak lebih serius dari biasanya. Mungkin karena banyak dari mereka sedang memikirkan masa depan, tugas kuliah, bahkan persoalan hidup masing-masing.

Pak Mustofa menulis sebuah judul di papan tulis.

“Filosofi Cecak dan Kucing.”

Mahasiswa saling berpandangan. Judul itu terdengar sederhana, tetapi juga misterius.

Pak Mustofa tersenyum.

“Anak-anak, hari ini kita tidak hanya belajar teori. Kita akan belajar dari makhluk kecil yang sering kita lihat di rumah.”

Beberapa mahasiswa tersenyum penasaran.

Tangan Azizah terangkat.

“Pak, maksudnya kita belajar dari hewan?”

Pak Mustofa mengangguk pelan.

“Betul, Azizah. Kadang-kadang pelajaran hidup justru datang dari hal yang paling sederhana.”

Ia kemudian berkata dengan suara tenang.

“Ketika hidup kita sedang bergemuruh karena tagihan yang menumpuk, impian yang belum tercapai, atau masa depan yang terlihat buram, cobalah katakan pada dirimu sendiri:”

Pak Mustofa berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Aku mungkin tidak bisa terbang, tapi bisa saja rezekiku sedang terbang menuju ke arahku. Aku mungkin tidak bisa menyelam, tapi bisa saja rezekiku sedang dibawa arus menuju pelataran rumahku.”

Kelas menjadi sunyi.

Rofi’i mengangkat tangan.

“Pak, kalau begitu apakah kita hanya perlu menunggu rezeki datang?”

Pak Mustofa tersenyum.

“Itulah yang sering disalahpahami.”

Ia berjalan pelan di depan kelas.

“Ketahuilah, kekhawatiran tidak akan mengubah hari esok. Ia hanya akan merampas kedamaianmu hari ini. Maka jangan habiskan energimu untuk mencemaskan apa yang sudah dijamin.”

“Gunakan energimu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Sang Pemilik rezeki.”

Para mahasiswa mengangguk pelan.

Pak Mustofa melanjutkan.

“Karena ketika Tuhan sudah berkehendak, hal yang paling mustahil sekalipun akan menjadi nyata.”

Ia menunjuk ke arah langit-langit kelas.

“Yang terbang akan hinggap. Yang menyelam akan menepi. Semua akan bertemu pada titik yang tepat, di waktu yang indah.”

Tiba-tiba Abdul Karim mengangkat tangan.

“Pak, kalau rezeki sudah dijamin, kenapa kita masih harus berusaha?”

Pak Mustofa menatapnya dengan ramah.

“Pertanyaan yang bagus, Karim.”

Ia lalu menunjuk ke arah dinding kelas.

Di sana seekor cecak sedang diam menempel di dekat lampu.

“Coba kalian lihat cecak itu.”

Mahasiswa mengikuti arah pandang dosen mereka.

“Cecak tidak akan kenyang jika ia hanya mematung tanpa menjulurkan lidahnya.”

Beberapa mahasiswa tersenyum.

“Dan kucing tidak akan mendapatkan ikan jika ia hanya tidur di pojok ruang.”

Abdul Mujib tertawa kecil.

“Benar juga, Pak. Kucing di rumah saya kalau lapar langsung mengeong keras.”

Pak Mustofa ikut tersenyum.

“Nah, di situlah pelajarannya.”

Ia kembali menatap seluruh kelas.

“Tuhan memang menjamin semua makhluk. Tetapi Dia juga mencintai hamba-Nya yang mengayunkan langkah, yang memeras keringat, dan yang tidak lelah mengetuk pintu-pintu ikhtiar.”

Pak Mustofa lalu menunjuk lagi ke arah cecak di dinding.

“Cecak tidak bisa terbang. Tapi perhatikan gerakannya.”

“Dia merayap. Ia berpindah dari satu titik ke titik lain.”

“Ia sabar mengintai. Ia memilih tempat di dekat cahaya lampu, karena di situlah nyamuk berkumpul.”

Azizah terlihat berpikir.

“Berarti cecak juga punya strategi ya, Pak?”

“Betul sekali,” jawab Pak Mustofa.

“Rezeki memang milik Tuhan. Tapi gerak adalah milikmu.”

Ia melanjutkan dengan suara tenang.

“Kamu mungkin tidak punya modal besar. Tapi kamu punya waktu.”

“Kamu mungkin tidak punya koneksi. Tapi kamu punya lisan untuk bertanya dan belajar.”

“Jika kamu hanya diam, nyamuk-nyamuk itu akan beterbangan begitu saja.”

Rofi’i kembali bertanya.

“Kalau filosofi kucing bagaimana, Pak?”

Pak Mustofa tertawa kecil.

“Ah, kucing itu guru kehidupan yang hebat.”

Ia melanjutkan.

“Kucing akan menunggu di dekat meja makan.”

“Ia akan mengeong menarik perhatian.”

“Atau ia berjalan berkilo-kilo meter mencari tempat di mana aroma ikan tercium.”

Kelas mulai terasa hidup.

Pak Mustofa berkata lagi,

“Kucing tidak duduk diam di dalam kardus kosong sambil berharap ikan jatuh dari langit.”

Mahasiswa tertawa pelan.

“Jadi kucing mengajarkan kita keberanian untuk muncul.”

Ia memandang para mahasiswa dengan serius.

“Kadang rezeki datang bukan karena kita menemukannya, tetapi karena kita menempatkan diri di tempat di mana rezeki itu biasa lewat.”

Abdul Karim terlihat semakin tertarik.

“Pak, kalau begitu bagaimana cara kita menempatkan diri?”

Pak Mustofa menjawab perlahan.

“Kamu ingin sukses di bidang tertentu?”

“Datanglah ke bidang itu.”

“Belajarlah.”

“Bergabunglah dengan orang-orang yang ada di sana.”

“Asahlah keahlianmu.”

“Kamu harus terlihat oleh peluang, sebagaimana kucing terlihat oleh pemilik ikan.”

Suasana kelas menjadi sangat hening.

Pak Mustofa kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat yang dalam.

“Bekerja keraslah seolah-olah semuanya bergantung pada usahamu.”

“Namun berdoalah seolah-olah semuanya hanya bergantung kepada Tuhan.”

“Itulah keseimbangan sejati.”

Ia menatap para mahasiswa satu per satu.

“Jangan menjadi cecak yang hanya bermimpi terbang hingga lupa bagaimana cara merayap.”

“Dan jangan menjadi kucing yang hanya berkhayal mendapatkan ikan hingga lupa cara mencari jalan.”

Bel tanda kuliah hampir berbunyi.

Namun sebelum keluar kelas, Azizah berkata pelan.

“Pak… ternyata pelajaran hidup bisa datang dari cecak dan kucing.”

Pak Mustofa tersenyum hangat.

“Karena sesungguhnya,” katanya pelan,

“Tuhan menaruh hikmah di mana saja. Tugas kita hanya membuka mata dan hati untuk melihatnya.”

Melabuhkan Cinta pada Allah

 

ketakketikmustopa.com, Sepuluh malam terakhir Ramadhan membuat masjid kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu tetap menyala hingga menjelang subuh. Para mahasiswa beritikaf, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa dengan penuh harap. Suasana hening itu dipenuhi dengan bisikan ayat-ayat suci yang dilantunkan dengan lirih.

Di salah satu sudut masjid, dekat jendela yang terbuka, Aisyah duduk bersila dengan mushaf di pangkuannya. Wajahnya tenang, tetapi di dalam hatinya sedang terjadi perjalanan panjang yang tidak semua orang mengetahuinya.

Dulu Aisyah dikenal sebagai mahasiswi yang sering menjuarai Musabaqah Tilawatil Qur’an. Suaranya merdu dan bacaan tajwidnya hampir sempurna. Namun seiring waktu, kesibukan kuliah, organisasi, dan berbagai urusan dunia sempat membuatnya jauh dari mushaf yang dulu selalu menemaninya.

Ramadhan tahun ini seperti panggilan yang lembut bagi hatinya. Ia kembali datang ke masjid setiap malam, membuka mushafnya perlahan, dan membaca ayat demi ayat dengan hati yang lebih tenang. Ia tidak lagi membaca dengan tergesa-gesa, tetapi mencoba memahami setiap makna yang disampaikan oleh firman Allah.

Ketika ia sedang membaca dengan khusyuk, seseorang duduk beberapa langkah darinya.

“Aisyah.”

Aisyah menoleh dan tersenyum.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Fahri.

Fahri adalah mahasiswa yang dikenal aktif dalam kegiatan dakwah kampus. Hidupnya sederhana, tetapi kecintaannya kepada Al-Qur’an begitu besar. Hampir setiap malam ia berada di masjid, membaca dan merenungi ayat-ayat Allah.

Fahri melihat mushaf yang terbuka di tangan Aisyah.

“Kamu sekarang sering di masjid,” katanya dengan nada lembut.

Aisyah tersenyum.

“Aku sedang belajar pulang.”

Fahri sedikit heran. “Pulang ke mana?”

Aisyah menatap mushafnya sejenak sebelum menjawab.

“Pulang kepada Allah.”

Angin malam masuk melalui jendela masjid. Suasana terasa damai, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.

Beberapa menit mereka membaca Al-Qur’an dalam diam. Suara halaman mushaf yang dibalik terdengar sangat pelan di tengah kesunyian malam.

Kemudian Fahri berkata, “Aisyah, aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa?”

Fahri menatap lantai masjid sejenak sebelum melanjutkan.

“Saat pertama kali melihatmu kembali membaca Al-Qur’an di masjid beberapa minggu lalu, aku tahu kamu sedang berjuang dengan hatimu.”

Aisyah tersenyum kecil.

“Mungkin terlihat jelas ya.”

Fahri tertawa pelan.

“Sedikit. Tapi aku juga melihat sesuatu yang lain.”

“Apa itu?”

“Kecintaanmu kepada Allah sebenarnya sangat besar. Hanya saja sempat tertutup oleh kesibukan dunia.”

Aisyah menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku hampir kehilangan arah waktu itu,” katanya lirih.

Fahri menggeleng perlahan.

“Tidak. Orang yang masih mencari Allah berarti belum benar-benar jauh dari-Nya.”

Kata-kata itu membuat hati Aisyah terasa hangat.

Malam semakin larut. Sebagian mahasiswa yang beritikaf mulai tertidur di sudut-sudut masjid. Namun Aisyah dan Fahri masih duduk dengan mushaf di tangan mereka.

“Aisyah,” kata Fahri perlahan.

“Iya?”

“Aku tidak tahu bagaimana masa depan kita. Aku juga tidak tahu rencana Allah untuk hidup kita.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi aku tahu satu hal.”

Aisyah menatapnya dengan penuh perhatian.

“Aku ingin hidup dengan seseorang yang sama-sama melabuhkan cintanya kepada Allah.”

Aisyah terdiam. Kata-kata itu terasa sangat tulus.

Ia kemudian berkata dengan suara lembut, “Aku juga sedang belajar melakukan itu.”

“Melabuhkan cinta kepada Allah?”

Aisyah mengangguk.

“Karena aku sadar, ketika hati kita benar-benar mencintai Allah, semua yang lain akan menemukan tempatnya.”

Pada saat itu Ustadz Rahman, imam masjid kampus yang dikenal bijaksana, berjalan melewati mereka. Ia melihat keduanya masih membaca mushaf.

Beliau tersenyum lembut.

“MasyaAllah. Malam-malam terakhir Ramadhan memang sering menjadi waktu bagi hati untuk kembali kepada Allah.”

Fahri dan Aisyah menunduk hormat.

Ustadz Rahman melanjutkan, “Jika seseorang melabuhkan cintanya kepada Allah, maka Allah akan menenangkan hatinya. Dan jika dua orang bertemu dalam perjalanan menuju Allah, itu adalah karunia yang sangat besar.”

Kata-kata itu membuat suasana semakin hening dan penuh makna.

Menjelang waktu tahajud, Aisyah menutup mushafnya perlahan.

“Aku bersyukur,” katanya.

“Kenapa?” tanya Fahri.

“Karena Ramadhan tahun ini Allah mengajarkanku sesuatu yang sangat berharga.”

“Apa itu?”

Aisyah tersenyum.

“Bahwa cinta yang paling indah bukanlah cinta kepada manusia, tetapi cinta kepada Allah. Dari situlah semua cinta yang lain akan menemukan arah.”

Fahri mengangguk pelan.

Angin malam Ramadhan berhembus lembut melalui jendela masjid.

Di tempat yang sunyi itu, dua hati sedang belajar melabuhkan cintanya pada satu tujuan yang sama.

Bukan pada dunia. Bukan pada manusia.

Tetapi pada Allah Yang Maha Mencintai hamba-Nya.

DEMA STID Al-Biruni Bersama FORMATUR Tebar Takjil di Cirebon Timur

 

ketakketikmustopa.com – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon turut ambil bagian dalam kegiatan Tebar Takjil FORMATUR (Forum Umat Antar Beragama Cirebon Timur) ke-10 yang digelar di Jalan Raya Sigong Lemahabang, tepatnya di depan SMA NU Lemahabang, Cirebon Timur. (13/3/2026).

Kegiatan sosial yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa ini diikuti oleh berbagai organisasi kemasyarakatan dan lintas agama yang tergabung dalam FORMATUR Cirebon Timur. Puluhan relawan tampak membagikan paket takjil kepada para pengguna jalan, pelajar, serta masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.

Partisipasi mahasiswa STID Al-Biruni tidak hanya dalam bentuk berbagi takjil kepada masyarakat, tetapi juga mempromosikan kampus dengan membagikan brosur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) kepada para pelajar dan warga sekitar.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya aktif di lingkungan kampus, tetapi juga hadir di tengah masyarakat dengan semangat berbagi, kepedulian sosial, dan pengabdian.

Mengusung semangat “Satu Hati dalam Keberagaman”, kegiatan ini menjadi potret indah kebersamaan lintas organisasi dan lintas agama di Cirebon Timur. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi mahasiswa, kelompok pemuda, hingga tokoh lintas agama, bersatu dalam aksi kemanusiaan yang sederhana namun sarat makna.

Syifaurrizqi, selaku koordinator kegiatan sekaligus mewakili Ketua DEMA STID Al-Biruni, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi di bulan suci Ramadhan, tetapi juga untuk memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan Tebar Takjil FORMATUR yang ke-10 ini, kami berharap nilai toleransi, kebersamaan, dan kepedulian sosial semakin tumbuh di tengah masyarakat Cirebon Timur, sekaligus mempererat persaudaraan dalam keberagaman,” ujarnya.

@potsum, jurnalis al-biruni