ketakketikmustopa.com, Malam itu hujan baru saja reda. Aroma tanah basah menyusup ke dalam surau tua yang berdiri di tepi sawah. Lampu gantung berayun pelan tertiup sisa angin, memantulkan bayangan dua sosok: seorang guru sepuh yang tenang, dan seorang murid muda yang gelisah.
Di luar, langit gelap tanpa bintang.
Di dalam, ada langit lain yang sedang mencoba dipahami.
Murid itu duduk bersila. Jemarinya saling mengunci erat, seolah menahan sesuatu yang hampir runtuh dari dadanya. Sejak lama ada pertanyaan yang berdiam seperti batu—tak terlihat, tapi memberatkan langkahnya.
Akhirnya ia memberanikan diri.
Murid:
“Guru… bolehkah aku bertanya sesuatu yang sejak lama seperti duri di pikiranku?”
Guru menatapnya lembut. Sorot matanya jernih seperti air sumur yang tak pernah keruh oleh musim.
Guru:
“Jika ia masih mengusikmu sampai malam ini, maka itu bukan sekadar pertanyaan. Ucapkanlah… mungkin Allah sedang menunggu hatimu siap untuk mengerti.”
Murid menarik napas panjang. Suaranya pelan, tapi sarat beban.
Murid:
“Kenapa Allah menciptakan alam semesta hanya dengan satu kata… Kun? Mengapa harus itu? Mengapa tidak dengan kalimat yang lebih panjang, lebih agung, lebih besar?”
Guru tersenyum. Senyum yang tidak meremehkan, tidak pula menggurui. Senyum yang meneduhkan.
Guru:
“Kau mengira kebesaran terletak pada panjangnya kata?”
Murid terdiam.
Guru mengambil sebatang ranting kecil dan menggambar di atas tanah yang masih lembap.
ك ن
Guru:
“Ini Kaf… dan ini Nun.”
Murid merapat, matanya mengikuti goresan itu seperti anak kecil yang baru belajar membaca.
Guru:
“Banyak orang mengira Kun hanya berarti ‘Jadilah’. Padahal Allah tidak sedang bermain bahasa. Dia sedang menyingkap wujud.”
Angin malam berdesir pelan.
Guru:
“Dalam sebagian hikmah ahli makrifat, Kaf diisyaratkan sebagai kanzun makhfiy—harta yang tersembunyi. Kehendak Allah yang masih berada di alam ghaib. Takdir yang belum menampakkan diri.”
Ia menatap muridnya dalam-dalam.
Guru:
“Segala sesuatu telah selesai di Kaf. Bahkan sebelum engkau mengenal dunia. Bahkan sebelum namamu disebut untuk pertama kali.”
Mata murid mulai berkaca-kaca.
Murid:
“Apakah… aku sudah selesai sebelum aku hidup?”
Guru mengangguk pelan.
Guru:
“Takdirmu telah selesai. Tetapi perjalananmu belum. Di situlah rahasia kehidupan.”
Guru kemudian menggambar huruf Nun dengan titik kecil di atasnya.
Guru:
“Nun adalah nur—cahaya penampakan. Ia adalah dunia yang tampak, realita yang kau sentuh, air mata yang kau rasakan, tawa yang kau dengar.”
Guru mengetuk tanah perlahan.
Guru:
“Alam ini hanyalah perjalanan dari Kaf menuju Nun. Dari kehendak menuju kenyataan. Dari yang tersembunyi menuju yang terlihat.”
Murid menelan ludah.
Murid:
“Guru… mengapa rasanya penjelasan ini seperti menembus dadaku?”
Guru tersenyum tipis.
Guru:
“Karena selama ini kau sibuk memperbaiki Nun… tapi lupa menata Kaf.”
Hening turun seperti selimut.
Murid:
“Apa maksud Guru?”
Guru:
“Kau cemas tentang masa depanmu. Tentang rezekimu. Tentang jodohmu. Tentang bagaimana manusia menilaimu. Semua itu Nun—penampakan.”
Guru mendekat, suaranya melembut.
Guru:
“Padahal yang menentukan semuanya adalah Kaf—kehendak-Nya.”
Murid memejamkan mata. Seperti ada sesuatu yang selama ini ia genggam erat, kini perlahan terlepas.
Murid:
“Lalu kami ini… sebenarnya hidup di mana?”
Guru terdiam lama. Heningnya terasa lebih dalam dari jawaban.
Akhirnya ia berkata pelan:
Guru:
“Kita hidup di celah antara Kaf dan Nun.”
Murid mengangkat wajahnya.
Guru:
“Kaf adalah langit takdir. Nun adalah bumi realita. Kita berjalan di ruang sempit di antara keduanya. Kita bukan pencipta takdir… tetapi kita adalah penjemputnya.”
Air mata murid jatuh, bukan karena sedih, tetapi karena merasa kecil.
Murid:
“Apakah rezekiku… jodohku… bahkan kematianku… sudah ada di Kaf?”
Guru:
“Sudah. Bahkan sebelum engkau memikirkannya.”
Murid:
“Lalu mengapa aku harus berusaha?”
Guru tersenyum penuh kasih.
Guru:
“Karena usaha adalah adabmu kepada Nun. Dan tawakal adalah adabmu kepada Kaf.”
Kalimat itu seperti cahaya yang menyusup ke celah gelap hatinya.
Murid:
“Guru… aku sering takut gagal.”
Guru:
“Kau takut gagal di mata Nun. Tapi kau jarang takut jauh dari Kaf.”
Murid terdiam. Dadanya bergetar.
Guru berdiri perlahan.
Guru:
“Jika nasihat ini menusuk dadamu… jangan sibuk menambalnya dengan ambisi dunia. Perbaiki hubunganmu dengan Pemilik Kaf.”
Murid:
“Bagaimana caranya, Guru?”
Guru:
“Luruskan niatmu. Bersihkan hatimu. Perbanyak sujudmu. Jangan jadikan dunia tujuan, jadikan ia jalan. Jika Kaf-mu lurus… Nun akan datang sesuai kadar.”
Lampu gantung berayun pelan.
Guru:
“Orang yang mengejar Nun akan lelah. Tetapi orang yang mencari Kaf akan tenang. Karena ia tahu—apa yang telah ditetapkan untuknya tidak akan pernah melewatinya.”
Malam semakin sunyi.
Murid itu menangis. Bukan karena kehilangan, tetapi karena merasa pulang. Selama ini ia mengejar bayangan. Padahal bayangan hanya ada karena cahaya.
Dalam hatinya ia berbisik:
“Ya Allah… jika aku hidup di antara Kaf dan Nun, maka jangan biarkan aku tersesat di Nun hingga lupa pada Kaf.”
Ia pulang malam itu dengan langkah yang sama, tetapi hati yang berbeda.
Ia tak lagi sibuk mengejar dunia.
Ia mulai sibuk memperbaiki hubungan dengan Pemilik kehendak.
Dan sejak malam itu, setiap kali gelisah tentang masa depan, ia tidak lagi bertanya:
“Bagaimana hasilnya di Nun?”
Ia hanya bertanya:
“Sudahkah aku dekat dengan Kaf?”






