Sedia Aku Sebelum Hujan Kisah Romantis, Religius, Reflektif di Kampus STID Albiruni

 

ketakketikmustopa.com, Setelah sukses buku novel dengan judul “Bidadari di Kampus Biru” kisah percintaan di Kampus Al-Biruni, kini kita hadir dengan buku novel baru berjudul “Sedia Aku Sebelum Hujan: Kisah romantic, religious, reflektif di Kampus STID Al-Biruni” buku ini memuat 35 episode. 

Buku “Sedia Aku Sebelum Hujan” ini disusun sebagai novel romantis–reflektif, memadukan kisah cinta kampus, perjuangan akademik, jarak, kesetiaan, dan kedewasaan emosional. Alurnya bertahap dari pertemuan, konflik, hampir bubar, hingga pendewasaan cinta.

Berikut cuplikannya, jangan diskip ya…

Langit Babakan Ciwaringin sore itu menggantung kelabu. Angin berembus pelan melewati deretan pohon ketapang di halaman Kampus STID Al-Biruni. Dari lantai dua gedung perkuliahan, Helena Helwa—yang biasa dipanggil Helwa—berdiri memandangi awan yang semakin menebal.

Di tangannya ada buku catatan Tafsir Dakwah, tapi tak satu pun kalimat ia baca.

“Helwa!” suara Nisa memanggil dari belakang. “Kamu bengong lagi lihat langit. Nunggu siapa?”

Helwa tersenyum tipis. “Nunggu hujan.”

Nisa mengangkat alis. “Atau nunggu Andre?”

Helwa menoleh cepat. “Ih, kamu ini.”

Di lapangan kecil dekat parkiran motor, Andrea Fadli Sadama—Andre—sedang berbincang dengan sahabatnya, Rizky.

“Bro, kamu jadi berangkat ke Jakarta minggu depan?” tanya Rizky.

Andre mengangguk pelan. “Iya. Ada program magang dakwah digital tiga bulan.”

“Helwa tahu?”

Andre diam. Pandangannya naik ke balkon lantai dua. Sosok Helwa berdiri di sana, diterpa angin sore.

“Belum,” jawabnya lirih.

---

Helwa dan Andre bukan pasangan yang diumbar dengan foto dan status. Mereka tumbuh dalam percakapan-percakapan sunyi: di perpustakaan, di sela diskusi kelas, di bangku panjang dekat masjid kampus.

Semua bermula dari tugas presentasi bersama tentang komunikasi dakwah generasi milenial.

“Kamu terlalu serius,” kata Helwa waktu itu, sambil menutup laptop Andre.

“Kalau dakwah mau maju, harus serius,” balas Andre.

“Serius boleh, tapi jangan kaku,” Helwa tersenyum. “Dakwah itu menyentuh hati, bukan cuma logika.”

Andre menatapnya beberapa detik terlalu lama.

Sejak saat itu, percakapan mereka tak pernah benar-benar berhenti.

---

Sore ini, sebelum hujan turun, Andre akhirnya naik ke lantai dua.

“Helwa.”

Helwa menoleh. Ada sesuatu di mata Andre yang berbeda—lebih berat dari biasanya.

“Kamu mau ke mana minggu depan?” tanya Helwa, mencoba terdengar biasa.

Andre menarik napas panjang. “Jakarta.”

Helwa terdiam.

“Tiga bulan,” lanjut Andre. “Program magang. Kesempatan bagus.”

Angin bertiup lebih kencang. Langit semakin gelap.

“Kamu baru kasih tahu sekarang?” suara Helwa lembut, tapi jelas menyimpan getar.

“Aku takut kamu kecewa.”

Helwa tersenyum samar. “Kamu pikir aku nggak kuat?”

“Bukan begitu.”

“Hujan nggak bisa dicegah, Andre,” katanya pelan. “Kalau memang harus turun, ya turun saja.”

Andre mengernyit. “Maksud kamu?”

“Aku sudah sedia sebelum hujan.”

Rintik pertama jatuh, menimpa pagar balkon.

Andre menatapnya dalam. “Helwa, aku pergi bukan untuk menjauh. Aku pergi supaya bisa kembali dengan lebih layak.”

“Lebih layak?”

“Aku nggak mau cuma jadi mahasiswa biasa yang banyak wacana. Aku mau pulang dengan bekal. Biar kalau nanti…” Ia terdiam.

“Kalau nanti apa?” Helwa menantang dengan tatapan lembut.

“Kalau nanti aku melamarmu, aku sudah siap.”

Hujan turun lebih deras. Helwa menunduk, menyembunyikan senyum dan air mata yang hampir jatuh bersamaan.

“Kamu ini terlalu jauh berpikirnya,” katanya pelan.

“Aku serius.”

Helwa mengangkat wajahnya. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Andre. Aku cuma butuh kamu jujur dan pulang.”

Andre melangkah mendekat. “Kamu mau nunggu?”

Helwa terdiam beberapa detik. Lalu berkata, “Aku nggak menunggu dengan gelisah. Aku akan tetap belajar, tetap bertumbuh. Kalau kamu kembali, kita bertemu sebagai dua orang yang sama-sama kuat.”

“Dan kalau aku gagal?”

Helwa tersenyum, menatap hujan yang mengguyur halaman kampus. “Setidaknya kita pernah berjuang. Cinta yang baik nggak lahir dari ketakutan.”

---

Di sisi lain kampus, Nisa dan Rizky berteduh di bawah kanopi parkiran.

“Mereka ngobrol serius banget,” kata Nisa.

Rizky tertawa kecil. “Andre memang begitu kalau sudah soal Helwa.”

“Kamu sendiri gimana?” Nisa menatapnya usil.

Rizky terdiam, lalu menjawab pelan, “Aku juga lagi belajar sedia sebelum hujan.”

Nisa pura-pura tidak mengerti, tapi pipinya memerah.

---

Hujan perlahan mereda. Andre dan Helwa masih berdiri berdampingan.

“Jangan lupa kabari aku,” kata Helwa.

“Setiap hari.”

“Jangan janji berlebihan.”

Andre tersenyum. “Baik. Aku janji secukupnya.”

Helwa tertawa kecil. “Itu lebih realistis.”

Sebelum turun ke tangga, Andre berhenti. “Helwa.”

“Iya?”

“Terima kasih sudah nggak mempersulit.”

Helwa menggeleng. “Cinta bukan soal mempersulit. Cinta itu mempersiapkan.”

Andre menatapnya sekali lagi, lalu berjalan menuruni tangga. Helwa berdiri memandangnya sampai sosok itu menghilang di balik gerimis yang tersisa.

Langit mulai cerah di ufuk barat.

Helwa menarik napas panjang.

Ia sadar, kesetiaan bukan tentang menahan seseorang agar tetap di samping kita. Kesetiaan adalah keberanian untuk tetap percaya, bahkan ketika jarak dan waktu menjadi ujian.

Dan di Kampus STID Al-Biruni sore itu, sebelum hujan benar-benar pergi, Helwa tahu satu hal—Ia sudah sedia.

Perkuat Sinergi Pendidikan dan Dunia Industri, STID Albiruni Babakan Ciwaringin Jalin Kerjasama Strategis dengan PT. Pilar Konstruksi

 

Gambar: Tampak Ketua Yayasan Amal Albiruni (tengah berpeci putih), Direktur Utama PT. Pilar Konstruksi (baju merah) bersama para tamu undangan


ketakketikmustopa.com, Kemarin, Jum’at (13 Februari 2026), Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon menerima kunjungan silaturahmi dari manajemen PT. Pilar Konstruksi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan beralamat di Pisa Gading 2 Nomor J-17 Gading Serpong, Jl. Ir. Soekarno, Curug Sangerang, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten 15811.

Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka membangun dan memperkuat kerja sama kelembagaan antara Yayasan Amal Al-Biruni dengan PT. Pilar Konstruksi. Kerja sama ini diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia, pemberian beasiswa pendidikan, serta penyiapan lapangan kerja bagi lulusan.

Dalam sambutannya, KH. Uki Marzuki menegaskan bahwa kerja sama ini dirancang dengan prinsip mutual simbiosisme, yakni saling menguntungkan dan berkelanjutan antara lembaga pendidikan dan dunia industri. Dari pihak Yayasan Amal Al-Biruni, komitmen yang diberikan adalah penyediaan beasiswa pendidikan bagi jaringan PT. Pilar Konstruksi, baik berupa beasiswa kuliah di STID Al-Biruni maupun beasiswa sekolah di SMK Al-Biruni Babakan Ciwaringin.

“Beasiswa ini kami peruntukkan khusus bagi keluarga karyawan PT. Pilar Konstruksi, sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas pendidikan generasi penerus mereka,” ujar Kyai Uki. Ia menambahkan bahwa Yayasan Amal Al-Biruni memberikan beasiswa penuh tanpa dipungut biaya sepeser pun, sehingga para penerima dapat fokus belajar dan mengembangkan potensi diri secara optimal.

Lebih lanjut, Kyai Uki menjelaskan bahwa kerja sama ini tidak berhenti pada aspek pendidikan semata. Sebagai bentuk timbal balik, PT. Pilar Konstruksi juga berkomitmen menyiapkan lapangan pekerjaan bagi para siswa, santri, maupun lulusan yang berasal dari lingkungan pendidikan Babakan Ciwaringin, khususnya alumni STID Al-Biruni dan SMK Al-Biruni. Langkah ini dinilai sebagai bentuk nyata integrasi antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Sementara itu, Direktur PT. Pilar Konstruksi, Yohanes, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa dunia kerja memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, mental, dan etos profesional generasi muda. Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan kerja akan melengkapi dan menyempurnakan ilmu yang telah diperoleh di bangku pendidikan.

“Apapun bidang pekerjaan yang dijalani nantinya, tujuan utamanya adalah membentuk mental wirausaha yang profesional, disiplin, dan bertanggung jawab. Apa yang sudah didapatkan di Kampus STID Al-Biruni maupun SMK Al-Biruni akan kami sempurnakan melalui penugasan nyata di lapangan,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar program magang atau Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), melainkan langsung bekerja secara riil dengan tanggung jawab dan jenjang karier yang jelas.

Acara penandatanganan MoU tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Dr. Supardi selaku Ketua STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, serta Absori selaku Kepala SMK Al-Biruni Babakan Ciwaringin. Hadir pula para dosen, guru, dan tenaga pendidik di bawah naungan Yayasan Amal Al-Biruni yang menyambut baik kerja sama strategis ini.

Melalui kerja sama ini, diharapkan terbangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan berilmu, tetapi juga siap kerja, berdaya saing, serta memiliki karakter religius dan profesional. Sinergi antara STID Al-Biruni, SMK Al-Biruni, dan PT. Pilar Konstruksi menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan dunia pendidikan dan ketenagakerjaan di era modern.


@potsum, jurnalis al-biruni 

Melawan Arus: Ketika Prinsip Lebih Mahal dari Kenyamanan

ketakketikmustopa.com, Di dunia yang serba seragam, kenyamanan sering kali menjadi pilihan paling menggoda. Mengikuti arus terasa aman. Menyetujui mayoritas terasa menenangkan. Tidak berbeda berarti tidak disalahkan. Banyak orang akhirnya memilih berjalan bersama arus—bukan karena yakin, tetapi karena takut sendirian.

Namun di titik inilah prinsip diuji. Sebab prinsip tidak selalu membawa kita pada kenyamanan. Prinsip sering menuntut keberanian. Ia meminta kita berdiri tegak ketika yang lain membungkuk. Ia menuntut kita tetap melangkah, bahkan ketika arah langkah itu berlawanan dengan arus besar yang sedang mengalir. Sebagaimana firman Allah:

“Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang tidak mengetahui, karena mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘ām [6]: 116)¹

Melawan arus bukanlah tindakan emosional tanpa arah. Ia bukan sekadar kegemaran membangkang atau mencari panggung perlawanan. Melawan arus adalah sikap sadar dan terukur ketika hati dan akal menolak untuk tunduk pada sesuatu yang keliru. Ia adalah keberanian berkata “tidak” pada ketidakadilan, walau suara itu terdengar kecil di tengah riuhnya mayoritas. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang menyerahkan urusannya kepada mayoritas, maka ia akan tertipu; dan barangsiapa yang menegakkan prinsipnya meski sendiri, maka ia akan diberkahi Allah.” (HR. Ahmad, disesuaikan makna)²

Dalam banyak keadaan, kebenaran memang tidak selalu berada pada jumlah terbanyak. Justru sering kali, kebenaran berdiri dalam kesunyian—menunggu mereka yang berani mendekat.

Orang yang kuat bukanlah mereka yang selalu berada di sisi yang ramai, melainkan mereka yang memiliki kompas dalam jiwanya. Kompas itu bernama prinsip. Prinsip membuat seseorang tidak mudah digoyahkan oleh tren, opini, atau tekanan sosial. Prinsip membuat seseorang tetap utuh, meski diterpa gelombang perbedaan. Sebagaimana Allah menegaskan:

“Barangsiapa yang menegakkan agama-Nya, maka Allah akan menolongnya.” (QS. Muhammad [47]: 7)³

Melawan arus ibarat seekor ikan hidup yang berenang ke hulu.

Mengapa ke hulu? Karena di sanalah sumber kehidupan berada. Ikan yang hidup tidak pasrah pada derasnya aliran air. Ia memilih melawan arus, mengerahkan tenaga, dan mempertaruhkan kekuatannya demi mencapai sumber. Berenang ke hulu memang melelahkan. Arus deras menghadang. Energi terkuras. Risiko selalu ada. Tetapi justru dalam perjuangan itulah kehidupan menemukan maknanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dalam segala hal, pertahankan kekuatanmu.” (HR. Muslim)⁴

Sebaliknya, ikan yang mati akan terbawa arus. Ia tidak lagi memilih arah. Ia hanya mengikuti ke mana air mengalir. Bersama arus itu pula hanyut sampah-sampah dan benda tak bernilai. Semuanya bercampur tanpa identitas, tanpa tujuan, dan tanpa makna. Gambaran ini menjadi simbol manusia yang menyerahkan akalnya, nuraninya, dan prinsip hidupnya pada arus kebiasaan yang keliru.

Begitulah manusia.

Manusia yang hidup jiwanya tidak sekadar ikut bergerak bersama zaman. Ia bertanya, menimbang, dan memutuskan. Ia berani berbeda ketika perbedaan itu perlu. Ia mungkin dicap aneh, keras kepala, atau terlalu idealis. Tetapi ia sadar bahwa harga sebuah prinsip memang tidak murah. Ia sering dibayar dengan kesepian, kritik, bahkan kehilangan kesempatan yang tampak menguntungkan.

Namun apa arti kenyamanan jika harus dibeli dengan mengorbankan nurani? Apa makna diterima oleh banyak orang jika harus kehilangan kejujuran pada diri sendiri? Allah menegaskan:

“Dan teguhkanlah dirimu, janganlah kamu mengikuti keinginan mereka yang lalai, agar tidak menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-Furqān [25]: 63)⁵

Melawan arus bukan tentang melawan manusia. Ia adalah perjuangan menjaga nilai di tengah godaan untuk berkompromi. Ia adalah keberanian mempertahankan integritas ketika tawaran kenyamanan datang silih berganti. Ia adalah keputusan untuk tetap hidup—secara moral dan spiritual—meski harus menempuh jalan yang lebih berat.

Di zaman ketika arus opini begitu cepat berubah, ketika tren lebih dihargai daripada kebenaran, dan ketika popularitas sering dianggap lebih penting daripada integritas, melawan arus menjadi semakin sulit. Tetapi justru karena itulah ia menjadi semakin penting.

Sebab pada akhirnya, hanya ikan yang hidup yang sampai ke hulu.

Dan hanya jiwa yang berpegang pada prinsip yang akan sampai pada tujuan sejatinya.

Allohu a'lam


Footnote:

1. Al-Qur’an, Surah Al-An‘ām [6]: 116.

2. HR. Ahmad, disesuaikan makna; Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, An-Nawawī.

3. Al-Qur’an, Surah Muhammad [47]: 7.

4. HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Bab Mukmin Kuat.

5. Al-Qur’an, Surah Al-Furqān [25]

Nekat: Jalan Lurus Menuju Sukses

 

ketakketikmustopa.com, Hampir semua orang, jika ditanya tentang hidupnya, pasti menginginkan kesuksesan¹. Tidak ada satu pun yang bercita-cita gagal. Namun ironisnya, hanya sedikit yang benar-benar berani menempuh jalan menuju sukses itu dengan segala risikonya². Kebanyakan orang memilih menunggu: menunggu waktu yang dianggap tepat, menunggu situasi benar-benar aman, menunggu dukungan datang dari segala arah³. Mereka menunda langkah, berharap keadaan akan sempurna dengan sendirinya.

Padahal dunia tidak pernah menunggu siapa pun. Dunia bergerak cepat, bahkan semakin cepat dari hari ke hari⁴. Ketika kamu terlalu lama berpikir, kesempatan bisa diambil orang lain⁵. Saat kamu sibuk menimbang rasa takut, nasibmu bisa ditentukan oleh mereka yang lebih berani melangkah⁶. Bukan karena mereka lebih pintar, bukan pula karena mereka paling beruntung, tetapi karena mereka lebih nekat⁷.

Fakta kehidupan sering kali menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu dimiliki oleh orang yang paling cerdas atau yang paling siap⁸. Kesuksesan justru sering diraih oleh mereka yang berani memulai meski belum merasa siap sepenuhnya⁹. Mereka melangkah ketika yang lain masih ragu¹⁰. Mereka bergerak ketika yang lain masih mencari pembenaran¹¹.

Nekat bukan berarti ceroboh¹². Nekat bukan bertindak tanpa arah atau asal-asalan¹³. Nekat adalah keberanian untuk percaya pada diri sendiri ketika jawaban belum sepenuhnya ada¹⁴. Nekat adalah keyakinan untuk melangkah meski peta belum lengkap¹⁵. Dalam kehidupan nyata, keberanian bertindak sering kali jauh lebih berharga daripada rencana sempurna yang tidak pernah dijalankan¹⁶.

Ada beberapa makna penting dari sikap nekat yang perlu dipahami dengan jernih¹⁷. Pertama, nekat berarti percaya pada diri sendiri sebelum orang lain melakukannya¹⁸. Kedua, nekat berarti berani kalah agar suatu hari mampu belajar menang¹⁹. Ketiga, nekat membuka jalan pada peluang-peluang yang sebelumnya tidak terlihat²⁰. Keempat, nekat membuatmu lebih tahan banting saat keadaan berbalik arah dan hidup tidak berjalan sesuai rencana²¹. Dan kelima, nekat adalah langkah pertama menuju kebebasan hidup yang selama ini kamu impikan²².

Semua itu, sejatinya, bisa dimulai dari satu hal sederhana: keberanian untuk memulai²³. Tidak perlu besar, tidak perlu sempurna. Cukup satu langkah pertama.

Keberanian itu menular²⁴, tetapi ketakutan juga sama menularnya²⁵. Jika kamu dikelilingi oleh orang-orang yang selalu bermain aman, kamu akan belajar takut²⁶. Namun jika kamu berada di tengah orang-orang yang berani gagal, berani jatuh, dan berani bangkit kembali²⁷, kamu akan memahami satu hal penting: risiko tidak bisa dihindari, tetapi bisa dihadapi dan dikuasai²⁸.

Maka berhentilah menunggu segalanya sempurna²⁹. Waktu yang benar-benar sempurna tidak pernah ada³⁰. Mulailah dari apa yang kamu miliki hari ini, dengan keyakinan bahwa setiap langkah nekat yang kamu ambil akan membawamu semakin dekat pada versi terbaik dari dirimu sendiri³¹. Karena pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat siapa yang paling aman, tetapi siapa yang paling berani untuk nekat³².

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Covey, Stephen R. The 7 Habits of Highly Effective People (New York: Free Press, 1989).

2. Dweck, Carol S. Mindset: The New Psychology of Success (New York: Random House, 2006).

3. Clear, James. Atomic Habits (New York: Avery, 2018).

4. Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2011).

5. Bandura, Albert. “Self-Efficacy: Toward a Unifying Theory of Behavioral Change,” Psychological Review 84, no. 2 (1977): 191–215.

6. Duckworth, Angela L., et al. “Grit: Perseverance and Passion for Long-Term Goals,” Journal of Personality and Social Psychology 92, no. 6 (2007): 1087–1101.

7. Robbins, Anthony. Awaken the Giant Within (New York: Simon & Schuster, 1991).

8. Maxwell, John C. Developing the Leader Within You (Nashville: Thomas Nelson, 1993).

9. Seligman, Martin E. P. Learned Optimism (New York: Knopf, 1991).

10. Tracy, Brian. No Excuses! The Power of Self-Discipline (New York: Vanguard Press, 2010).

11. Frankl, Viktor E. Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 1959).

12. Bandura, Albert. Self-Efficacy: The Exercise of Control (New York: Freeman, 1997).

13. Brown, Brené. Daring Greatly (New York: Gotham Books, 2012).

14. Covey, Stephen R., ibid.

15. Duckworth, Angela, ibid.

16. Clear, James, ibid.

17. Robbins, Anthony, ibid.

18. Dweck, Carol S., ibid.

19. Goggins, David. Can’t Hurt Me (New York: Lioncrest Publishing, 2018).

20. Kahneman, Daniel, ibid.

21. Seligman, Martin E., and Mihaly Csikszentmihalyi. “Positive Psychology: An Introduction,” American Psychologist 55, no. 1 (2000): 5–14.

22. Ryan, Richard M., and Edward L. Deci. “Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being,” American Psychologist 55, no. 1 (2000): 68–78.

23. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).

24. Hill, Napoleon. Think and Grow Rich (New York: The Ralston Society, 1937).

25. Maxwell, John C., ibid.

26. Duckworth, Angela, ibid.

27. Bandura, Albert, ibid.

28. Sinek, Simon. Start With Why (New York: Portfolio, 2009).

29. Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Pustaka Panjimas).

30. QS. Al-Insyirah [94]: 5–6.

31. QS. Ar-Ra’d [13]: 11.

32. QS. Ali ‘Imran [3]: 159.

Sikap Masa Bodoh: Seni Mengendalikan Diri Dengan Bijak



ketakketikmustopa.com, Dalam khazanah hikmah klasik Arab, terdapat sebuah ungkapan yang sederhana namun menghunjam kesadaran batin:

“Idzā al-kalbu lam yu’dzika illā nibāḥahu, fada‘hu ilā yaumil qiyāmati yanbaḥu.”

“Jika anjing itu tidak menyakitimu kecuali hanya dengan gonggongannya, maka biarkanlah ia menggonggong hingga hari kiamat.”

Pepatah ini bukan sekadar kiasan, melainkan pelajaran mendalam tentang hirarki respon terhadap gangguan hidup. Ia mengajarkan bahwa tidak semua rangsangan layak dibalas, dan tidak setiap suara pantas diberi energi emosional.

Dalam metafora ini, anjing melambangkan gangguan eksternal: haters, gosip, provokasi, komentar toksik, atau masalah remeh yang sering mengusik ketenangan jiwa. Gonggongan adalah noise—kebisingan psikologis yang tidak melukai fisik, tidak mengurangi rezeki, tidak mengancam kehormatan, dan tidak menimbulkan bahaya nyata. Ia hanya suara, kosong dari daya rusak kecuali jika kita sendiri memberinya makna berlebihan.

Sedangkan kata “biarkan” adalah simbol kematangan jiwa. Ia bukan sikap pasif, melainkan kemenangan batin. Orang yang membiarkan berarti sadar bahwa tujuan hidupnya adalah terus berjalan, bukan berhenti untuk berkelahi dengan anjing yang menggonggong. Energi hidup terlalu berharga untuk dihabiskan pada hal-hal yang tidak membawa nilai.

Sikap ini sejatinya merupakan penerapan nyata dari prinsip regulasi emosi yang dalam pendekatan modern dikenal dalam praktik neuro-meditatif:

Apa yang dilawan dengan emosi akan menguat, apa yang diteriaki akan semakin keras.

Karena itu, jalan paling bijak bukanlah melawan, melainkan mengakui tanpa larut, menerima tanpa menyerah, lalu kembali fokus pada tujuan hidup.

Prinsipnya sederhana namun mendalam:

AKUI – TERIMA – KEMBALI KE NAPAS.

“Oh, ada anjing menggonggong” (AKUI).

“Baik, biarkan ia menggonggong” (TERIMA).

“Aku lanjut berjalan” (KEMBALI).

Inilah yang dalam bahasa populer sering disebut “sikap masa bodoh”—namun sejatinya, ia adalah kecerdasan emosional tingkat tinggi. Menariknya, konsep ini tidak hanya dikenal dalam tradisi spiritual Islam, tetapi juga ditegaskan oleh psikologi modern dan neurosains.

A. At-Taghāful: Regulasi Emosi dalam Psikologi Islam

Dalam tradisi intelektual Islam klasik, konsep ini dikenal sebagai At-Taghāful, yaitu pura-pura tidak tahu demi menjaga kemaslahatan jiwa. Abu Zayd al-Balkhī (abad ke-9 M) dalam karyanya Masālih al-Abdān wa al-Anfus menjelaskan bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan tubuh, dan salah satu cara menjaganya adalah tidak membiarkan emosi negatif menguasai hati akibat gangguan eksternal.¹

At-Taghāful bukan bentuk kebodohan, melainkan kecerdasan spiritual untuk menjaga qalb tetap bersih dari polusi emosi seperti marah, dengki, dan dendam. Banyak konflik membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena semua hal ingin ditanggapi dan dibalas.

B. The Gray Rock Method: Psikologi Perilaku Modern

Dalam psikologi perilaku, sikap ini sejalan dengan Gray Rock Method, yakni strategi menghadapi individu toksik atau narsistik dengan bersikap netral, datar, dan minim reaksi emosional. Tujuannya adalah tidak memberi respons yang mereka harapkan.

Penelitian tentang emotion regulation menunjukkan bahwa pengendalian respon emosional secara sadar mampu mencegah eskalasi konflik dan menjaga stabilitas psikologis individu (Gross, 2002).² Dalam kerangka behavioral conditioning, perilaku negatif yang tidak diberi penguatan emosional akan melemah dan akhirnya menghilang—prinsip yang dikenal sebagai extinction.

Dengan kata lain, ketika gonggongan tidak diberi perhatian, ia akan berhenti dengan sendirinya.

C. Regulasi Amigdala: Perspektif Neurosains

Dari sudut pandang neurosains, setiap respon emosional berlebihan berarti memberikan kendali kepada amigdala, pusat emosi primitif dalam otak. Ketika amigdala aktif, tubuh masuk ke mode fight or flight dan memproduksi kortisol, hormon stres yang berbahaya jika terus-menerus dilepaskan.

Robert Sapolsky menjelaskan bahwa stres kronis—bahkan akibat ancaman yang tidak nyata—dapat merusak sistem imun, pencernaan, dan kesehatan mental manusia (Sapolsky, 2004).³ Dengan memilih untuk membiarkan, seseorang mengaktifkan prefrontal cortex, bagian otak rasional yang bertugas menilai situasi secara objektif. Tubuh diberi pesan: “Ini hanya suara, bukan ancaman.”

Hasilnya adalah ketenangan fisiologis: detak jantung stabil, pikiran jernih, dan emosi terkendali.

Sikap Masa Bodoh sebagai Kekuatan Diri

Penelitian Baumeister dkk. menunjukkan bahwa kemampuan menahan dorongan emosional sesaat merupakan inti dari self-regulation dan berkorelasi kuat dengan kesehatan mental serta keberhasilan jangka panjang.⁴

Maka, sikap masa bodoh bukan berarti tidak peduli, melainkan peduli secara selektif. Ia adalah seni memilah mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cukup dilewati. Tidak semua suara harus dijawab. Tidak semua tantangan harus dilawan.

Karena pada akhirnya, ketenangan batin bukanlah hasil dari memenangkan pertengkaran, melainkan kemenangan atas dorongan ego dalam diri sendiri.

Wallohu a'lam 

Referensi:

1. Al-Balkhī, Abū Zayd (abad ke-9 M). Masālih al-Abdān wa al-Anfus (Sustenance of the Body and Soul).

2. Gross, J. J. (2002). Emotion regulation: Affective, cognitive, and social consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291.

3. Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers. New York: Henry Holt and Company.

4. Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370.

Dosen Swasta Dan Integritas Bangsa: Mengabdi di Tengah Keterbatasan Menjaga Marwah Pendidikan


ketakketikmuatopa.com, Posisi dosen dalam sistem pendidikan nasional sejatinya bukanlah peran biasa. Dosen adalah pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia, penyangga peradaban, sekaligus penjaga arah intelektual bangsa. Undang-undang telah menempatkan dosen sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan nasional, bahkan spirit pengakuan terhadap profesi dosen sejalan dengan amanat UUD 1945, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, negara memiliki kewajiban moral, konstitusional, dan struktural untuk hadir dalam menopang keberlangsungan serta kesejahteraan para dosen—tanpa kecuali dosen Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Kehadiran negara dalam memperhatikan nasib dosen salah satunya diwujudkan melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk melalui program sertifikasi dosen (serdos). Program ini bukan sekadar insentif finansial, melainkan simbol pengakuan profesionalitas dosen sebagai tenaga pendidik yang berkompeten dan berintegritas. Nilai tunjangan yang setara dengan satu kali gaji pokok sesuai golongan dan ruang sering kali dianggap fantastis oleh masyarakat awam. Namun, di balik angka tersebut tersimpan tuntutan tanggung jawab akademik yang tidak ringan, mulai dari pemenuhan beban kerja, produktivitas ilmiah, hingga konsistensi menjaga mutu pendidikan tinggi.

Keistimewaan profesi dosen juga tercermin dari masa pengabdian yang relatif lebih panjang dibandingkan profesi lain. Jika pekerja pada umumnya memasuki masa pensiun di usia 56 tahun, dosen masih diberi ruang untuk mengabdi hingga usia 60 tahun. Bahkan, dosen bergelar doktor (S-3) dapat melanjutkan pengabdian sampai usia 65 tahun, dan profesor hingga usia 70 tahun. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara memandang ilmu, pengalaman, dan kebijaksanaan akademik sebagai aset berharga yang tidak boleh terputus hanya karena batas usia administratif. Namun, keistimewaan ini sejatinya bukan bentuk kemewahan, melainkan amanah panjang untuk terus memberi kontribusi terbaik bagi dunia akademik dan masyarakat luas.

Dalam kehidupan sosial, dosen menempati posisi yang relatif terhormat. Di tengah masyarakat, sapaan “Pak Dosen” atau “Bu Dosen” bukan sekadar panggilan formal, melainkan simbol penghormatan terhadap ilmu, etika, dan otoritas intelektual. Gelar sosial ini kerap menghadirkan kebanggaan tersendiri, baik bagi dosen itu sendiri maupun keluarganya. Akan tetapi, kebanggaan sosial tidak boleh menjelma menjadi jebakan moral. Menjadi dosen bukanlah profesi yang bisa dijalani dengan setengah hati.

Dosen memikul beban mental, intelektual, dan moral yang berat. Ia dituntut terus berpikir, terus belajar, dan terus berkarya. Produktivitas ilmiah bukan pilihan, melainkan kewajiban. Meneliti, menulis buku, menerbitkan artikel jurnal, membimbing mahasiswa, serta mengabdi kepada masyarakat adalah rangkaian tugas yang melekat erat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma bukan slogan administratif, melainkan ruh pengabdian akademik. Karena itu, tidak ada ruang bagi kemalasan intelektual, kemiskinan gagasan, apalagi stagnasi karya. Dosen yang hanya mengajar lalu pulang tanpa penelitian, tanpa tulisan, dan tanpa pengabdian sejatinya telah mereduksi makna luhur profesi dosen itu sendiri.

Di sinilah peran dosen swasta menjadi semakin kompleks. Menjadi dosen di perguruan tinggi swasta bisa menjadi sumber sanjungan, tetapi sekaligus sandungan. Di satu sisi, dosen swasta adalah tulang punggung pendidikan tinggi nasional, karena mayoritas mahasiswa Indonesia justru menempuh pendidikan di PTS. Di sisi lain, dosen swasta kerap menghadapi realitas kesejahteraan yang belum ideal, fasilitas terbatas, dan perhatian kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak.

Namun, dari keterbatasan itulah integritas diuji. Dosen yang sejahtera memang akan lebih leluasa melakukan penelitian. Dosen yang tenang secara ekonomi akan lebih sabar membimbing mahasiswa. Tetapi dosen yang benar-benar bermartabat adalah dosen yang mampu menjaga integritas akademik dalam kondisi apa pun. Ia tidak memperjualbelikan nilai, tidak menurunkan standar ilmiah, dan tidak menggadaikan etika demi kepentingan sesaat. Integritas akademik inilah yang pada akhirnya menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan tinggi.

Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa dosen swasta adalah garda terdepan dalam memajukan pendidikan dan peradaban bangsa. Mereka mengajar di ruang-ruang sederhana, meneliti dengan fasilitas terbatas, menulis dengan biaya mandiri, dan mengabdi dengan semangat pengorbanan. Di tengah perhatian negara yang belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar dosen swasta—karena fokus kebijakan sering kali tersedot pada program-program prioritas lain seperti MBG—dosen swasta tetap berdiri, bertahan, dan berkarya.

Pada titik inilah, dosen swasta tidak hanya menjadi pendidik, tetapi juga penjaga moral bangsa. Mereka menyalakan obor ilmu di tengah keterbatasan, menjaga marwah pendidikan di tengah arus pragmatisme, dan menanamkan nilai kejujuran intelektual di tengah godaan instan. Integritas dosen swasta adalah cermin integritas bangsa. Jika dosennya jujur, berilmu, dan berakhlak, maka masa depan bangsa akan tumbuh di atas fondasi yang kokoh.

Meski mungkin terasa terlambat, izinkan kami menyampaikan penghormatan setulus-tulusnya:

Selamat Hari Dosen Nasional 2026
3 Februari 2026







Biasa Asal Konsisten: Pasti Melesat Jauh


ketakketikmustopa.com, Dalam dunia akademik dan kehidupan sosial modern, kecerdasan sering ditempatkan sebagai ukuran utama keberhasilan. Nilai akademik, gelar, kemampuan analisis, dan kepiawaian berbicara kerap dijadikan standar untuk menilai kualitas seseorang. Mereka yang tampak cerdas sering dipuji, sementara yang terlihat biasa-biasa saja dianggap tidak memiliki keunggulan. Namun, realitas kehidupan tidak selalu berjalan seiring dengan asumsi tersebut.

Tidak sedikit orang yang sejak awal tampak sederhana—bahkan dianggap biasa—justru mampu melesat jauh dalam perjalanan hidupnya. Sebaliknya, mereka yang dikenal sangat pintar, penuh teori dan perencanaan, justru tertinggal. Fenomena ini bukanlah anomali, melainkan cermin dari satu prinsip penting: konsistensi sering kali lebih menentukan daripada kecerdasan semata.

Dunia tidak sepenuhnya menilai seberapa hebat seseorang berpikir, tetapi seberapa nyata dan tekun ia bertindak. Gagasan yang cemerlang akan kehilangan daya gunanya jika berhenti sebagai wacana. Sebaliknya, langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus mampu menciptakan perubahan besar yang bertahan lama.

Orang yang merasa dirinya pintar kerap terjebak dalam terlalu banyak pertimbangan. Ia ingin semuanya sempurna, valid, dan bebas risiko. Akibatnya, langkah sering tertunda, bahkan tidak pernah dimulai. Sementara itu, orang yang merasa biasa cenderung lebih ringan melangkah. Ia tidak menunggu kondisi ideal, melainkan belajar melalui proses yang dijalani.

Perbedaan lain tampak jelas dalam cara menyikapi kegagalan. Bagi sebagian orang, kegagalan dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri dan reputasi. Namun bagi mereka yang tekun, kegagalan justru menjadi guru terbaik. Dari kegagalan, mereka belajar, memperbaiki diri, dan melanjutkan perjalanan dengan pemahaman yang lebih matang.

Di lingkungan kampus, fenomena ini kerap kita jumpai. Ada mahasiswa yang tidak terlalu menonjol secara akademik, namun konsisten hadir, membaca, menulis, berdiskusi, dan terlibat aktif dalam proses belajar. Perlahan, mereka tumbuh dan menemukan jalannya. Sebaliknya, ada pula mahasiswa yang sangat cerdas, tetapi mudah bosan, cepat puas, dan berhenti ketika tantangan datang.

Hidup pada akhirnya bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat atau paling pintar. Hidup adalah perjalanan panjang yang menuntut daya tahan. Kecerdasan mungkin memberi keunggulan awal, tetapi disiplin dan konsistensi menentukan keberlanjutan. Tanpa keduanya, kecerdasan hanya akan menjadi potensi yang tidak pernah mewujud menjadi karya nyata.

Refleksi ini menjadi pengingat penting, khususnya bagi dunia pendidikan dan kampus: menjadi “biasa” bukanlah kekurangan. Selama seseorang konsisten belajar, berproses, dan melangkah, ia memiliki peluang besar untuk melesat jauh. Sebab dalam kehidupan, yang bertahan dan terus bergeraklah yang pada akhirnya sampai.

Wallohu a'lam