Peringatan Nuzulul Qur'an dan Penutupan PPL-KKM STID Al-Biruni dimeriahkan Artis Diana Sastra

ketakketikmustopa.com, Kegiatan Peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus penutupan Program Pengalaman Lapangan dan Kuliah Kerja Mahasiswa (PPL-KKM) mahasiswa kelas Sukunsari berlangsung khidmat dan meriah di Kelurahan Pasalakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.

Acara tersebut dihadiri oleh Pengasuh STID Al-Biruni KH. Lukman Hakim, MA, Ketua Yayasan Amal Albiruni KH. Uki Marzuki, MA, serta dimeriahkan oleh penyanyi tarling Cirebon terkenal Simbok Diana Sastra.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembagian takjil kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk kepedulian sosial di bulan suci Ramadan. Setelah itu dilanjutkan dengan santunan kepada 100 anak yatim, yang disambut haru dan antusias oleh masyarakat setempat.

Memasuki acara inti bakda sholat Tarawih digelar pengajian dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an yang disampaikan oleh KH. Lukman Hakim, MA. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup agar kehidupan menjadi penuh keberkahan.

“Momentum Nuzulul Qur’an adalah saat yang tepat untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an dijadikan pedoman dalam kehidupan, maka keberkahan akan hadir dalam keluarga, masyarakat, bahkan bangsa,” tutur beliau dalam tausiyahnya.

Suasana semakin meriah ketika seniman tarling Cirebon, Simbok Diana Sastra, tampil menghibur masyarakat dengan banyolan segar yang diselingi pesan-pesan moral dan nilai-nilai keagamaan. Penampilannya mampu menghadirkan suasana hangat dan penuh kegembiraan di tengah masyarakat Pasalakan dan sekitarnya.

Diketahui, Diana Sastra yang dikenal sebagai seniman Cirebon yang aktif dalam kegiatan sosial dan amal, tampil secara sukarela tanpa menerima bayaran demi mendukung kegiatan keagamaan dan sosial tersebut.

Sebanyak 28 mahasiswa peserta PPL-KKM yang terlibat dalam kegiatan ini mengaku sangat bersyukur dan senang dapat menjalani proses belajar sekaligus pengabdian kepada masyarakat melalui program yang diselenggarakan oleh STID Al-Biruni.

Acara penutupan disampaikan oleh Ketua STID Al-Biruni, . Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa dakwah Islam sejak zaman para wali selalu memadukan nilai keagamaan dengan pendekatan budaya dan seni.

“Dakwah yang dibawa para wali dahulu mampu diterima masyarakat karena menggunakan pendekatan budaya. Hari ini kita melanjutkan semangat tersebut dengan mengkolaborasikan seni budaya dengan dakwah modern,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum penutupan PPL-KKM mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antara kampus, tokoh agama, seniman, dan masyarakat, sekaligus menghidupkan semangat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

@potsuM, jurnalis al-biruni.

Manajemen Tabur Gula di Bulan Ramadhan



ketakketikmustopa.com, Ini cerpen kisah kepala desa dan warganya dalam menyambut ramadhan. Kisah ini terinspirasi dari Mata Kuliah "Manajemen Dakwah" di STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon.

Sore Ramadhan itu balai desa terasa lebih hidup dari biasanya. Spanduk “Marhaban Ya Ramadhan” terpasang miring sedikit—hasil kerja Boim yang katanya “yang penting berdiri dulu, Pak.”

Pak Budiman duduk sambil memegang buku catatan. Ibu Ratna datang membawa kolak pisang hangat. Pak Ruli menyusul dengan wajah sedikit tegang. Boim terakhir datang, sambil kipas-kipas karena belum terbiasa puasa tanpa drama.

“Baik,” kata Pak Budiman membuka rapat, “tahun ini kita harus pakai manajemen yang baik.”

Boim langsung nyeletuk,

“Manajemen kolak, Pak?”

Semua tertawa.

“Bukan,” jawab Pak Budiman santai. “Namanya Manajemen Tabur Gula.”

Pak Ruli mengangkat alis.

“Wah, ini teori baru lagi, Pak?”

Ibu Ratna tersenyum.

“Bukan teori baru. Cuma cara lama yang diperjelas. Kolak tanpa gula hambar. Program Ramadhan tanpa kelembutan juga bisa hambar.”

Boim manggut-manggut, walau tampaknya belum sepenuhnya paham.

“Jadi kita harus sering makan manis?”

“Bukan itu, Boim,” Pak Budiman terkekeh. “Maksudnya, dalam mengatur Ramadhan ini, kita perlu empat hal: perencanaan, pembagian tugas, pelaksanaan yang sabar, dan evaluasi. Tapi semuanya harus pakai ‘gula’.”

Perencanaan: Jangan Dadakan, Nanti Bikin Tegang

Pak Budiman membuka buku catatannya.

“Pertama, perencanaan. Jadwal tarawih, pembagian zakat, santunan—semua harus jelas.”

Pak Ruli langsung mengangkat tangan.

“Pak, soal jadwal imam kemarin sudah mulai ada perdebatan.”

“Makanya,” jawab Pak Budiman tenang, “sebelum jadi ribut, kita musyawarah. Itu gula pertama: komunikasi sebelum konflik.”

Boim mengangguk serius.

“Berarti jangan langsung kirim pengumuman di grup WA ya, Pak?”

“Nah, itu dia!” sahut Ibu Ratna cepat. “Kadang masalah bukan di isinya, tapi di caranya.”

Pengorganisasian: Semua Punya Peran

“Sekarang pembagian tugas,” lanjut Pak Budiman.

“Pak Ruli urus kebersihan dan koordinasi warga. Boim jaga keamanan tarawih.”

Boim tersenyum bangga.

“Siap, Pak! Ronda sambil senyum.”

“Jangan cuma senyum,” tambah Pak Budiman. “Sapa warga. Itu juga bagian dari pelayanan.”

Pak Ruli menimpali, “Kadang yang kerja malah jarang diapresiasi, Pak.”

“Nah,” jawab Pak Budiman, “itu gula berikutnya. Ucapan terima kasih itu sederhana, tapi bikin semangat.”

Ibu Ratna menambahkan, “Apalagi ibu-ibu yang masak takjil. Kalau cuma dikritik kurang manis, bisa-bisa besok nggak masak lagi.”

Semua kembali tertawa.

Pelaksanaan: Puasa Jangan Jadi Alasan Emosi

Tiba-tiba Pak Ruli berkata pelan, “Pak, kalau ada warga yang marah-marah karena bantuan belum turun?”

Pak Budiman tersenyum bijak.

“Di sinilah tabur gula paling penting. Orang sedang lapar, emosi mudah naik. Kita jangan ikut panas.”

Boim nyeletuk, “Kalau saya lapar, biasanya sensitif, Pak.”

“Makanya kamu jangan banyak debat sebelum Maghrib,” jawab Pak Budiman ringan.

Ibu Ratna menambahkan, “Ramadhan itu latihan menahan diri. Kalau pemimpinnya sabar, warga ikut tenang.”

Pak Budiman mengangguk.

“Keputusan boleh tegas. Tapi penyampaiannya harus lembut. Itu manajemen rasa.”

---

Evaluasi: Jangan Cari Kambing Hitam

“Terakhir, evaluasi,” kata Pak Budiman.

Boim langsung bercanda, “Kalau ada yang salah, siapa yang disalahkan, Pak?”

Pak Budiman tertawa kecil.

“Bukan cari kambing hitam. Kita cari solusi. Transparansi soal zakat, santunan, semua harus jelas.”

Pak Ruli mengangguk.

“Supaya nggak ada bisik-bisik di belakang.”

“Betul,” jawab Pak Budiman. “Kepercayaan itu dibangun dari keterbukaan.”

Angin sore mulai berembus lembut. Dari masjid terdengar anak-anak mengaji.

Pak Budiman berdiri pelan.

“Ramadhan ini seperti dapur besar desa kita. Kalau kita atur dengan baik dan tabur gula secukupnya, suasana jadi manis.”

Boim menatap kolak di depannya.

“Pak, berarti desa kita harus manis… tapi jangan sampai diabetes.”

Semua tertawa terbahak.

Ibu Ratna menutup pembicaraan, “Yang penting manisnya di hati, bukan cuma di kolak.”

Pak Budiman tersenyum hangat.

“Ramadhan adalah sekolahnya. Manajemen adalah caranya. Tabur gula adalah ruhnya.”

Tak lama kemudian, adzan Maghrib berkumandang.

Mereka pun berbuka bersama—bukan hanya dengan kolak yang manis, tetapi dengan semangat kebersamaan yang terasa lebih manis lagi.

Wallohu a'lam 

Transisi Kepemimpinan Iran Pasca Wafatnya Ali Khamenei: Analisis Politik dan Geopolitik

 

ketakketikmustopa.com, Wafatnya Ali Khamenei menandai titik krusial dalam sejarah politik Iran modern. Sebagai Pemimpin Tertinggi sejak 1989, Khamenei bukan hanya figur simbolik, tetapi pusat gravitasi kekuasaan dalam sistem Republik Islam. Kepergiannya bukan sekadar pergantian personal, melainkan momen transisional yang berpotensi mengubah konfigurasi politik domestik dan keseimbangan kekuatan regional.

Tulisan ini menganalisis dampak wafatnya Khamenei dari tiga dimensi: struktur kekuasaan internal, dinamika ideologis, dan implikasi geopolitik.

1. Struktur Kekuasaan: Stabilitas Institusional atau Fragmentasi Elit?

Sistem politik Iran menggabungkan elemen republik (pemilihan presiden dan parlemen) dengan struktur teokratis yang menempatkan Pemimpin Tertinggi sebagai otoritas tertinggi negara. Jabatan ini memiliki kewenangan atas militer, kehakiman, media negara, dan kebijakan luar negeri.

Secara konstitusional, Majelis Khubregan (Assembly of Experts) bertugas memilih pengganti Rahbar. Namun dalam praktik politik Iran, proses ini sangat dipengaruhi oleh:

1. Garda Revolusi (IRGC)

2. Ulama senior

Faksi politik konservatif dan pragmatis

Khamenei selama puluhan tahun berhasil menyeimbangkan dan mengontrol faksi-faksi tersebut. Pertanyaannya kini: apakah keseimbangan itu cukup kuat untuk bertahan tanpa figur sentral yang memiliki otoritas moral dan politik sebesar dirinya?

Secara teoritis, negara dengan struktur ideologis kuat cenderung lebih stabil dalam masa transisi jika institusi telah terlembagakan dengan baik. Jika tidak, potensi fragmentasi elit bisa meningkat.

2. Dimensi Ideologis: Legitimasi Revolusioner dan Budaya Syahadah

Khamenei merupakan penerus langsung visi revolusi yang digagas oleh Ruhollah Khomeini. Di bawah kepemimpinannya, ideologi Wilayat al-Faqih tetap menjadi fondasi negara.

Dalam tradisi politik Syiah, terutama yang berakar pada narasi Karbala dan figur Husayn ibn Ali, kematian dalam perjuangan sering dimaknai sebagai legitimasi moral tertinggi. Konsep syahadah bukan hanya teologis, tetapi juga berfungsi sebagai alat mobilisasi sosial dan politik.

Dari perspektif sosiologi politik, kematian pemimpin karismatik dapat menghasilkan dua efek:

1. Konversi menjadi simbol abadi, yang memperkuat solidaritas internal.

2. Erosi otoritas personal, jika pengganti tidak memiliki kharisma yang setara.

Khamenei adalah figur dengan otoritas religius dan politik yang terakumulasi selama lebih dari tiga dekade. Tantangan terbesar penerusnya adalah membangun legitimasi tanpa mengandalkan warisan simbolik semata.

3. Implikasi Geopolitik: Resistensi atau Reorientasi?

Di tingkat regional, Iran di bawah Khamenei dikenal sebagai aktor utama dalam poros resistensi di Timur Tengah. Kebijakan luar negerinya berorientasi pada:

1. Penyeimbangan kekuatan terhadap Amerika Serikat

2. Dukungan terhadap sekutu regional

3. Negosiasi strategis dalam isu nuklir

Transisi kepemimpinan dapat memunculkan dua kemungkinan utama:

a. Kontinuitas Ideologis

Jika pengganti berasal dari kalangan konservatif garis keras, kemungkinan besar kebijakan luar negeri Iran akan tetap konfrontatif, dengan penekanan pada kedaulatan dan resistensi terhadap tekanan Barat.

b. Pragmatisme Strategis

Sebaliknya, jika figur yang lebih pragmatis memperoleh dukungan mayoritas elit, Iran dapat membuka ruang diplomasi yang lebih fleksibel, terutama dalam isu ekonomi dan sanksi internasional.

Dalam teori hubungan internasional, momen transisi elite sering menjadi titik rawan perubahan orientasi kebijakan luar negeri. Namun perubahan tersebut sangat bergantung pada keseimbangan kekuatan internal.

4. Kesimpulan Akademik

Wafatnya Ali Khamenei bukan sekadar peristiwa biografis, melainkan fenomena struktural dalam politik Iran. Tiga faktor utama akan menentukan arah Iran ke depan:

1. Kekuatan institusi dalam mengelola transisi

2. Kemampuan penerus membangun legitimasi religius dan politik

3. Konteks tekanan dan peluang geopolitik eksternal

Apakah Iran akan memasuki fase konsolidasi ideologis yang lebih kuat, atau justru mengalami reorientasi strategis, akan sangat ditentukan oleh interaksi antara elite domestik dan dinamika internasional.

Satu hal yang pasti: kepergian Khamenei mengakhiri era personalistik yang sangat dominan dalam politik Iran dan membuka babak baru yang penuh ketidakpastian — sekaligus potensi transformasi.

Wallohu a'lam

Gugatan Rindu di Ruang Dakwah

 

ketakketikmustopa.com, Di lantai dua kampus , bangku baris kedua dekat jendela bukan hanya tempat diskusi strategi dakwah atau presentasi teori komunikasi Islam. Di sanalah Zaki dan Ghania pertama kali duduk berdampingan, berbagi buku, berbagi catatan… lalu tanpa sadar berbagi hati.

Awalnya hanya tugas kelompok.
Lalu obrolan tentang ayat-ayat perjuangan.
Lalu pesan singkat tengah malam membahas materi kuliah.
Lalu, entah sejak kapan, ada kalimat “jangan lupa makan” yang terasa lebih hangat dari sekadar perhatian biasa.

Pacaran itu tumbuh pelan. Tidak heboh. Tidak diumbar.
Tapi dalam.

Mereka saling menyebut satu sama lain sebagai “teman seperjuangan.” Namun di balik itu, ada janji-janji kecil yang mereka rajut sendiri.

“Ana ingin kita sama-sama lulus tepat waktu,” kata Ghania suatu sore, menatap langit Babakan Ciwaringin dari jendela ruang dakwah.

“Lalu?” tanya Zaki.

“Lalu kita perjuangkan restu.”

Zaki tersenyum. “Dan kalau restu itu sulit?”

Ghania menoleh, matanya bening.
“Kita bukan hanya belajar dakwah, Zaki. Kita juga belajar sabar.”

Hubungan mereka berjalan lama. Dua tahun lebih.
Mereka tumbuh bersama—melewati ujian, KKN, rapat organisasi, hingga malam-malam penuh cemburu yang kadang tak terucap.

Tapi cinta, bahkan yang tumbuh di kampus dakwah, tak selalu berjalan lurus.


Masalah datang bukan karena mereka tak saling mencintai. Justru karena mereka terlalu mencintai.

Zaki mulai sibuk dengan aktivitas luar kampus. Undangan ceramah kecil-kecilan membuatnya sering pergi. Ghania merasa ditinggal, tapi memilih diam.

Suatu malam di ruang dakwah yang sepi, Ghania berkata pelan:

“Zaki, menurut antum… apa cinta bisa mengganggu cita-cita?”

Zaki terdiam.
“Kenapa tanya begitu?”

“Karena akhir-akhir ini ana merasa… kita lebih sering memperjuangkan perasaan daripada masa depan.”

Kalimat itu seperti pisau halus—tidak melukai kulit, tapi menembus dada.

“Ana melakukan semua ini untuk masa depan kita,” jawab Zaki, suaranya mulai meninggi.

“Tapi ana merasa berjalan sendiri.”

Hening.

Ruang dakwah yang dulu menjadi tempat mereka tertawa kini terasa seperti ruang sidang. Cinta mereka seakan diadili oleh kenyataan.

“Abi sudah menjodohkan ana,” ucap Ghania akhirnya.

Dunia Zaki runtuh dalam satu kalimat.

“Apa…?”

“Beliau ingin ana menikah setelah lulus. Dengan pilihan keluarga.”

“Dan antum diam saja?”

“Ana sudah berusaha menjelaskan tentang kita.”

Tentang kita.

Dua kata yang dulu hangat, kini terdengar seperti perpisahan.

“Lalu keputusan antum?” tanya Zaki dengan suara serak.

Ghania menunduk.
“Cinta kita panjang, Zaki. Tapi restu orang tua lebih panjang lagi.”

Zaki tertawa kecil—tawa yang lebih mirip luka.
“Jadi dua tahun ini apa? Hanya latihan kehilangan?”

Air mata Ghania jatuh.
“Jangan buat ana merasa bersalah karena memilih berbakti.”

“Dan jangan buat ana merasa tak pernah diperjuangkan.”

Hujan turun di luar. Deras. Seperti emosi yang tak lagi bisa dibendung.


Hari-hari berikutnya menjadi asing.

Mereka masih bertemu di kampus. Masih duduk di ruang dakwah yang sama. Tapi jarak di antara mereka lebih jauh dari sebelumnya.

Tak ada lagi pesan “sudah makan?”
Tak ada lagi panggilan larut malam.
Yang tersisa hanya tatapan yang cepat dialihkan.

Suatu sore terakhir, Ghania datang ke ruang dakwah.

“Zaki,” panggilnya.

Ia berdiri, tapi tak lagi mendekat.

“Kalau suatu hari ana menikah… tolong jangan benci ana.”

Zaki tersenyum tipis.
“Benci itu untuk orang yang tak pernah berarti. Antum terlalu dalam untuk dibenci.”

Air mata kembali jatuh.

“Maafkan ana.”

“Untuk apa?”

“Untuk cinta yang tak bisa ana pertahankan.”

Zaki menghela napas panjang.
“Cinta kita bukan gagal, Ghania. Hanya… tidak selesai.”

“Lalu rindu ini mau kita apakan?”

Zaki menatap bangku baris kedua—tempat semua bermula.

“Biarkan ia menjadi gugatan di ruang dakwah ini. Gugatan bahwa kita pernah mencintai… tapi tak cukup kuat melawan takdir.”

Ghania menangis dalam diam.
“Ana selalu mencintai antum.”

“Dan ana selalu ingin menghalalkan antum.”

“Tapi?”

“Tapi tidak semua yang kita perjuangkan… ditakdirkan untuk kita miliki.”


Setelah hari itu, mereka benar-benar berpisah.

Ruang dakwah tetap berdiri.
Bangku-bangku tetap tersusun rapi.
Mahasiswa baru datang dan pergi.

Namun bagi Zaki, setiap sudut ruangan itu menyimpan kenangan: tawa, janji, cemburu, dan doa yang tak pernah sampai ke pelaminan.

Cinta mereka panjang.
Dalam.
Tulus.

Tapi kandas.

Bukan karena tak saling mencintai.
Melainkan karena cinta saja tidak cukup
ketika takdir berbicara lebih keras dari rencana manusia.

Dan di ruang dakwah itu, rindu tetap tinggal—
menjadi saksi bahwa mereka pernah saling memiliki,
meski akhirnya harus saling melepaskan.

Filosofi Tahun Gejrot: Dialog Hangat Keluarga Pak Budiman

 



ketakketikmustopa.com, Malam itu angin berhembus lembut di halaman rumah kecil Pak Budiman di pinggiran . Usai menunaikan sholat tarawih, keluarga kecil itu duduk santai di teras. Lampu temaram menggantung di atas pintu, sementara suara jangkrik bersahutan di kejauhan.

Pak Budiman menyeruput teh hangat.
“Alhamdulillah… malam Ramadhan begini paling enak kumpul keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba dari ujung gang terdengar suara khas yang memecah suasana.

“Taahu gejroooot… tahu gejrot…!”

Neng Euis Nurjanah yang sejak tadi bersandar di bahu ibunya langsung bangkit.
“Mah… itu tahu gejrot! Euis pengen…” katanya manja.

Ibu tersenyum. “Ya sudah, mumpung lagi lewat.”
Ia berdiri dan memanggil penjualnya. “Mang, ke sini! Pesan tiga, ya!”

Tak lama kemudian, tiga mangkuk kecil dari tanah liat tersaji di meja. Tanpa sendok. Hanya beberapa biting (tusuk kayu kecil) yang ditancapkan di potongan tahu.

Euis langsung menusuk sepotong tahu, mencelupkannya ke kuah cokelat kemerahan yang bercampur bawang merah dan cabai rawit.
“Am… pedes tapi enak!” serunya dengan mata berbinar.

Pak Budiman terkekeh. “Nah, itu dia khasnya .”

“Memangnya dari mana sih, Pak?” tanya Euis penasaran.

Pak Budiman meletakkan cangkirnya. “Tahu gejrot itu asalnya dari daerah Ciledug, Cirebon Timur. Dulu pedagangnya keliling kampung sambil pikul dagangan. Tahu pong digoreng dulu sampai kopong bagian tengahnya. Makanya disebut tahu pong.”

“Kenapa harus tahu pong, Pak?” tanya istrinya.

“Karena bagian dalamnya kosong,” jawab Pak Budiman. “Supaya kuahnya meresap. Kuahnya itu dibuat dari gula merah yang dilarutkan dengan air, ditambah cuka biar asam, bawang merah yang diiris tipis, cabai rawit yang diulek kasar, dan sedikit garam. Semua disiramkan begitu saja ke atas tahu. Bunyi siramannya ‘jrot… jrot…’ Makanya disebut gejrot.”

Euis manggut-manggut sambil tetap makan. “Pantes rasanya campur-campur…”

Pak Budiman tersenyum bijak. “Nah, di situlah filosofinya, Neng.”

“Filosofi?” Euis mengernyit.

“Iya,” lanjut Pak Budiman. “Hidup itu seperti tahu gejrot. Ada manisnya dari gula merah, itu seperti kebahagiaan. Ada asamnya dari cuka, itu seperti ujian. Ada pedasnya cabai, itu seperti kritik dan tantangan. Dan ada gurihnya bawang, itu seperti persahabatan dan kebersamaan.”

Istrinya mengangguk pelan. “Kalau cuma manis saja?”

“Bosan,” jawab Pak Budiman cepat. “Kalau cuma pedas?”

“Sakit perut,” sahut Euis spontan. Mereka semua tertawa.

“Makanya,” lanjut Pak Budiman, “hidup harus seimbang. Semua rasa ada porsinya. Dan lihat tahu pong itu—kosong di tengah. Manusia juga begitu. Hatinya harus kosong dari kesombongan supaya bisa diisi ilmu, iman, dan kebaikan.”

Euis terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Berarti kalau hati penuh marah-marah, kuah kebaikan nggak bisa masuk ya, Pak?”

Pak Budiman menatap putrinya bangga. “Betul sekali.”

Angin malam kembali berhembus. Di mangkuk tanah liat itu, kuah mulai menyusut, menyisakan potongan tahu terakhir.

Istrinya tersenyum hangat. “Ternyata dari jajanan sederhana, bisa belajar banyak ya.”

Pak Budiman mengangguk. “Itulah indahnya kearifan lokal. Kadang hikmah tidak datang dari tempat tinggi, tapi dari mangkuk kecil tanah liat yang kita pegang bersama.”

Euis menghabiskan potongan terakhirnya.
“Besok kalau ada lagi, pesan tiga mangkuk lagi ya, Mah.”

Pak Budiman tertawa kecil.
“Boleh. Tapi ingat… jangan cuma makan rasanya. Ambil juga maknanya.”

Malam Ramadhan pun terasa semakin hangat—oleh kebersamaan, oleh tawa, dan oleh seporsi tahu gejrot yang sederhana namun penuh filosofi.

Wallohu a'lam 

Filosofi Nasi Jamblang: Kisah dan Makna Kuliner Tradisional Cirebon

 

ketakketikmustopa.com, Senja mulai turun perlahan di langit . Semburat jingga memantul di ufuk barat, menyatu dengan angin sepoi-sepoi. Seusai mengajar di STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin, Pak Budiman merapikan buku-bukunya di ruang dosen. Hari itu cukup melelahkan, namun hatinya terasa ringan.

Sebelum pulang, ia mengirim pesan kepada istrinya.

"Bu, hari ini nggak usah masak ya. Kita buka puasa Nasi Jamblang saja di RM Bu Nur, di kota."

Tak lama, balasan masuk.

"Siap, Pak. Neng Euis pasti senang."

Pak Budiman tersenyum kecil. Ia tahu, bagi Neng Euis Nurjanah, berbuka di luar bersama ayah dan ibunya adalah momen istimewa.

Menjelang magrib, mereka tiba di RM Bu Nur. Tempat itu tampak sangat ramai. Pengunjung berdatangan silih berganti. Aroma nasi hangat bercampur wangi daun jati memenuhi ruangan. Di meja prasmanan, tumpukan nasi kecil yang dibungkus daun jati tersusun rapi, berdampingan dengan aneka lauk: sambal goreng yang merah menggoda, tahu dan tempe goreng keemasan, perkedel, paru, hingga cumi hitam khas Cirebon yang legendaris.

Neng Euis menggenggam tangan ibunya.
“Ibu, kok banyak banget orangnya?”

Bu Aisyah tersenyum lembut.
“Namanya juga mau buka puasa, Neng. Semua ingin yang enak dan berkah.”

Setelah memilih beberapa bungkus nasi dan lauk favorit, mereka akhirnya duduk. Beberapa nasi berbalut daun jati tergeletak rapi di atas meja kayu.

Pak Budiman membuka satu bungkus nasi perlahan. Uap hangat mengepul tipis. Ia menatap anaknya penuh kasih.

“Neng, tahu nggak kenapa nasinya dibungkus daun jati?”

Neng Euis menggeleng cepat.
“Nggak tahu, Bapak.”

Bu Aisyah ikut menimpali sambil tersenyum,
“Iya Pak, memang kenapa?”

Pak Budiman terkekeh kecil.
“Kalau nggak tahu, nih Bapak mau cerita sejarah Nasi Jamblang.”

“Dulu,” Pak Budiman memulai dengan suara pelan namun berwibawa, “Nasi Jamblang berasal dari daerah Jamblang, masih di wilayah Cirebon. Pada masa pembangunan jalan raya di zaman kolonial, masyarakat menyiapkan nasi untuk para pekerja. Supaya nasi tahan lama dan tidak cepat basi di tengah panasnya udara pesisir, mereka membungkusnya dengan daun jati.”

“Kenapa harus daun jati, Pak?” tanya Neng Euis penasaran.

“Karena daun jati itu lebar, kuat, dan memberi aroma alami yang khas. Selain itu, dulu belum ada plastik. Masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Itu namanya kearifan lokal.”

Bu Aisyah mengangguk-angguk.
“Berarti dari dulu orang Cirebon sudah cinta lingkungan ya, Pak?”

“Betul sekali,” jawab Pak Budiman. “Itulah salah satu filosofi Nasi Jamblang—kesederhanaan yang penuh makna.”

Ia lalu menunjuk lauk-lauk di atas meja.

“Lihat ini. Lauknya banyak pilihan. Ada tahu, tempe, sambal goreng, cumi hitam, dan lain-lain. Itu melambangkan keberagaman. Kita boleh berbeda selera, tapi tetap duduk dalam satu meja yang sama. Seperti masyarakat Cirebon yang beragam budaya—Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa—namun tetap hidup rukun.”

Neng Euis tersenyum lebar.
“Jadi Nasi Jamblang ngajarin kita supaya rukun ya, Pak?”

“Iya, Neng. Dan juga tentang kerja keras. Dulu nasi ini jadi bekal para pekerja jalan. Artinya, setiap perjuangan butuh tenaga dan semangat. Makanan ini menjadi saksi sejarah orang-orang kecil yang berkeringat membangun negeri.”

Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumah makan. Suaranya lembut menembus riuh percakapan pengunjung. Mereka bertiga menundukkan kepala, berdoa, lalu mulai menyantap hidangan.

Neng Euis berkata pelan sambil tersenyum,
“Ternyata Nasi Jamblang bukan cuma enak ya, Pak. Tapi juga punya cerita.”

Pak Budiman mengangguk penuh makna.
“Betul, Neng. Setiap makanan tradisional itu punya sejarah dan filosofi. Tinggal kita mau belajar atau tidak.”

Bu Aisyah memandang suami dan anaknya dengan mata berbinar.
“Alhamdulillah, buka puasa hari ini bukan cuma kenyang perut, tapi juga kenyang ilmu.”

Di tengah keramaian dan suara sendok beradu dengan piring, keluarga kecil itu menikmati Nasi Jamblang bukan sekadar sebagai santapan. Ia menjadi pelajaran hidup—tentang kesederhanaan, kebersamaan, kerja keras, dan cinta pada warisan budaya.

Senja di Cirebon pun terasa semakin syahdu, seolah ikut merestui kebersamaan sederhana yang sarat makna itu.

Wallohu a'lam 

Filosofi Kolang-Kaling: Hikmah di Meja Berbuka

 

ketakketikmustopa.com, Sore itu, suasana rumah terasa hangat. Angin berembus pelan dari jendela ruang makan. Di atas meja telah tersaji kolak pisang lengkap dengan kolang-kaling yang bening mengilap, serta segelas es campur berwarna merah muda.

“Alhamdulillah, tinggal menunggu adzan,” ujar Bu Aisyah sambil merapikan mangkuk.

Neng Euis Nurjanah memandangi kolang-kaling di hadapannya. “Ayah, kenapa ya setiap Ramadhan kolang-kaling selalu ada? Padahal di luar Ramadhan jarang sekali kita mencarinya.”

Pak Budiman tersenyum, menatap putrinya dengan lembut. “Nah, itu pertanyaan bagus, Neng. Kolang-kaling itu sederhana, tapi penuh filosofi.”

“Filosofi?” Neng Euis membulatkan mata.

“Iya,” lanjut Pak Budiman. “Kolang-kaling berasal dari pohon aren yang tinggi menjulang. Pohonnya kokoh, kuat akarnya, dan hampir semua bagiannya bermanfaat. Itu simbol manusia yang ideal—jiwanya kuat, beradab, dan mampu mengayomi yang lemah.”

Bu Aisyah mengangguk pelan. “Betul. Dari niranya bisa jadi gula, dari ijuknya bisa untuk atap, dan buahnya jadi kolang-kaling. Tidak ada yang sia-sia.”

Pak Budiman tersenyum. “Begitulah seharusnya hidup kita. Seperti pohon aren, tumbuh tinggi bukan untuk sombong, tapi untuk memberi manfaat.”

Neng Euis lalu mengambil satu butir kolang-kaling dengan sendoknya. “Kalau buahnya jadi biji yang kita makan ini, itu filosofinya apa, Ayah?”

Pak Budiman terkekeh kecil. “Wah, Neng makin kritis saja. Buah menghasilkan biji, biji memberi manfaat. Artinya, setiap usaha kita harus melahirkan dampak. Seorang pemimpin harus membawa kebaikan bagi bawahannya. Seorang pekerja harus memberi manfaat bagi lingkungannya. Hidup jangan berhenti pada diri sendiri.”

Bu Aisyah tersenyum, lalu berkata, “Dulu waktu Ibu remaja tahun 80-an, kata kolang-kaling sering dipakai dalam surat menyurat.”

“Serius, Bu?” Neng Euis tertawa kecil.

“Iya,” jawab Bu Aisyah sambil menirukan gaya remaja tempo dulu, “Kolang-kaling dalam gelas, yang dapat koling harap membalas.

Mereka bertiga tertawa bersama.

“Itu doa terselubung,” kata Pak Budiman sambil tersenyum. “Harapan agar kebaikan dibalas dengan kebaikan. Sama seperti hidup—kalau kita menebar manfaat, insyaAllah akan kembali kepada kita.”

Tak lama, suara adzan Maghrib mulai berkumandang dari masjid dekat rumah.

Pak Budiman mengambil satu butir kurma, lalu melirik kolang-kaling di mangkuk. “Lihat, Neng. Kurma dari tanah Arab, kolang-kaling dari tanah Nusantara. Keduanya bertemu di meja berbuka.”

“Berarti Islam itu menerima perbedaan ya, Bi?” tanya Neng Euis lembut.

“Betul sekali,” jawab Pak Budiman. “Islam memberi ruang bagi berbagai budaya dan karakter alam yang berbeda. Yang penting bukan asalnya, tapi manfaatnya.”

Ia kemudian menambahkan dengan suara yang lebih dalam, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.’ Hadis ini diriwayatkan oleh dan .”

Neng Euis terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Berarti kita harus jadi seperti kolang-kaling ya, Ayah? Sederhana, tapi dicari karena manfaatnya.”

Pak Budiman mengangguk penuh haru. “Persis, Neng. Tidak perlu selalu jadi yang paling mewah. Jadilah yang paling berguna.”

Bu Aisyah menatap keduanya dengan mata berbinar. “Semoga keluarga kita pun begitu—kokoh seperti pohon aren, manis seperti kolak, dan bermanfaat bagi banyak orang.”

Mereka pun berbuka bersama. Di antara manisnya kolang-kaling dan hangatnya kebersamaan, terselip doa agar hidup mereka, seperti pohon aren, selalu berbuah manfaat di setiap musim kehidupan.