"Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak"
Kalimat Talbiyah kembali menggema pada musim haji 1447 Hijriah. Dari rumah-rumah calon jamaah, halaman masjid, hingga acara walimatus safar, umat Islam Indonesia larut dalam suasana religius yang penuh haru. Talbiyah tidak hanya menjadi lantunan ibadah, tetapi juga menghadirkan getaran spiritual yang menyentuh kesadaran umat.
Namun di tengah suasana itu, terdapat kecenderungan yang patut menjadi refleksi bersama. Talbiyah terkadang dipahami hanya sebagai senandung religi yang mengiringi keberangkatan jamaah haji. Bahkan, tidak sedikit yang mengemasnya dalam nuansa hiburan semata sehingga makna mendalam dari kalimat tersebut perlahan memudar.
Padahal Talbiyah sejatinya merupakan deklarasi totalitas penghambaan kepada Allah SWT. Kalimat itu diucapkan oleh jamaah yang telah berihram dan berniat memenuhi panggilan Ilahi. Ia bukan sekadar syair ibadah, melainkan ikrar spiritual yang menegaskan bahwa seluruh pujian, kenikmatan, dan kekuasaan hanyalah milik Allah SWT.
Di tengah kehidupan modern hari ini, pesan Talbiyah justru semakin relevan. Manusia hidup dalam budaya pencitraan dan pengakuan. Banyak orang berlomba mengejar popularitas, validasi sosial, dan pujian manusia. Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh tepuk tangan publik dan pengakuan dunia maya. Dari sinilah lahir penyakit sosial berupa riya dan sum’ah yang perlahan menggerus keikhlasan.
Talbiyah hadir mengingatkan bahwa segala puji pada hakikatnya kembali kepada Allah SWT. Manusia hanyalah makhluk yang penuh keterbatasan. Tidak ada alasan untuk merasa paling hebat, paling berjasa, atau paling layak dipuji.
Selain pujian, Talbiyah juga mengajarkan kesadaran tentang hakikat kenikmatan hidup. Banyak manusia merasa seluruh keberhasilannya murni hasil kerja keras pribadi. Jabatan, kekayaan, kesehatan, bahkan umur panjang dianggap semata-mata buah ikhtiar manusia. Padahal kehidupan dipenuhi nikmat yang tidak pernah bisa dipesan ataupun dijamin keberadaannya.
Seseorang baru menyadari mahalnya kesehatan ketika sakit. Manusia memahami berharganya kehidupan ketika menghadapi kematian. Kesadaran seperti inilah yang sering kali terlambat hadir. Talbiyah mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Allah SWT dan sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh-Nya.
Pesan berikutnya adalah tentang kekuasaan. Dalam realitas sosial dan politik, kekuasaan sering menjadi ambisi yang membutakan. Tidak sedikit orang rela mengorbankan moral, persaudaraan, bahkan agama demi mempertahankan jabatan dan pengaruh. Padahal kekuasaan hanyalah titipan yang bersifat sementara.
Talbiyah menegaskan bahwa seluruh kekuasaan sejatinya milik Allah SWT. Manusia hanya menjalankan amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini penting agar kekuasaan tidak berubah menjadi alat kesombongan dan penindasan.
Puncak dari Talbiyah adalah peneguhan tauhid: laa syarika laka — tiada sekutu bagi-Mu. Kalimat ini tidak hanya relevan di Tanah Suci, tetapi juga dalam seluruh dimensi kehidupan manusia. Tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, melainkan fondasi moral dalam membangun kehidupan yang jujur, adil, dan berkeadaban.
Momentum haji tahun ini juga menjadi catatan penting bagi Indonesia dengan hadirnya Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan jamaah. Harapan besar tentu tertuju pada lahirnya sistem pelayanan haji yang semakin profesional, aman, dan berorientasi pada kemabruran jamaah.
Pada akhirnya, Talbiyah bukan hanya milik mereka yang berangkat ke Tanah Suci. Talbiyah adalah pesan universal bagi seluruh manusia agar tidak mabuk pujian, tidak lupa diri atas kenikmatan, dan tidak sombong dalam kekuasaan. Sebab pada akhirnya, seluruh kehidupan akan kembali kepada Allah SWT.
Wallohu a'lam






