Diskusi Ilmuan Persia: di Warung Kopi Al-Biruni

 


ketakketikmustopa.com, Malam itu, angin Cirebon berhembus pelan di halaman kampus STID Al-Biruni, Babakan Ciwaringin. Lampu temaram warung kopi sederhana di sudut kampus menjadi saksi perbincangan hangat antara dosen dan mahasiswa.

Di meja kayu panjang, duduk Pak Dr. Rachman—dosen ahli sejarah dan geopolitik—dikelilingi beberapa mahasiswa: Husein, Fikri, dan Zizi.

“Pak…,” Husein membuka percakapan, “perang antara Iran, Amerika, dan Israel ini kayaknya nggak ada tanda-tanda reda ya?”

Pak Rachman menghela napas pelan.

“Memang belum. Ini bukan sekadar konflik hari ini, tapi akumulasi sejarah panjang sejak Revolusi Iran 1979.”

Zizi menimpali, “Tapi Pak… kenapa Iran selalu dilihat sebagai negara konflik?”

Pak Rachman tersenyum.

“Karena kita lupa melihat sejarahnya sebagai pusat ilmu.”

Ia menegakkan duduknya.

“Kalian tahu, para ilmuwan Persia tidak hanya menulis ilmu, tapi juga meletakkan fondasi cara berpikir.”

Fikri langsung berkata, “Seperti Al-Khwarizmi ya, Pak?”

“Ya,” jawab Pak Rachman.

“Dalam pengantar kitabnya, Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi menulis:

 ‘هذا كتاب المختصر في حساب الجبر والمقابلة’

‘Ini adalah kitab ringkasan tentang perhitungan aljabar dan penyelesaian.’

“Kalimat sederhana… tapi dari sinilah lahir ilmu aljabar yang mengubah dunia.”

Husein mengangguk pelan.

Pak Rachman melanjutkan,

“Dalam kedokteran, Ibnu Sina dalam Al-Qanun fi al-Tibb menulis:

‘الطب هو حفظ الصحة وبرء المرض’

‘Kedokteran adalah menjaga kesehatan dan mengobati penyakit.’

“Definisi ini masih relevan sampai hari ini.”

Zizi tampak kagum. “Sederhana tapi dalam sekali, Pak…”

“Betul,” kata Pak Rachman.

“Lalu Al-Razi, dalam praktiknya, menekankan observasi klinis. Ia dikenal melalui karyanya tentang cacar dan campak—Al-Judari wa al-Hasbah—yang menjadi rujukan dunia medis.”

Fikri menimpali, “Berarti mereka sudah pakai metode ilmiah ya?”

“Ya,” jawab Pak Rachman. “Dan itu berbasis pengalaman langsung.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum.

“Sekarang kita masuk ke sisi yang lebih puitis…”

Husein tertarik. “Omar Khayyam, Pak?”

Pak Rachman mengangguk.

“Dalam Rubaiyat, Omar Khayyam menulis:

 ‘اغتنم الفرصة قبل فواتها’

‘Manfaatkanlah kesempatan sebelum ia berlalu.’

“Seorang matematikawan… tapi juga seorang yang memahami makna hidup.”

Zizi tersenyum tipis.

“Indah sekali…”

Pak Rachman lalu menatap mereka lebih dalam.

“Dan dalam filsafat, Mulla Sadra mengajarkan konsep gerak substansial—bahwa realitas itu tidak diam, tetapi terus berubah menuju kesempurnaan.”

Fikri mengangguk.

“Berarti manusia juga harus berkembang terus ya, Pak?”

“Betul.”

Pak Rachman melanjutkan,

“Al-Biruni juga memberi teladan luar biasa. Dalam kajiannya tentang India, ia tidak menghakimi, tapi memahami. Ia menunjukkan bahwa ilmu itu harus objektif dan lintas budaya.”

Husein terdiam, lalu berkata pelan,

“Jadi Pak… ironis ya. Dulu pusat ilmu dunia, sekarang jadi pusat konflik dunia.”

Pak Rachman tersenyum, namun kali ini lebih dalam.

“Itulah sejarah… naik dan turun.”

Ia menatap satu per satu mahasiswanya.

“Tapi ilmu… tidak pernah mati.”

Zizi bertanya lirih, “Lalu kami harus bagaimana, Pak?”

Pak Rachman menjawab dengan tenang,

“Belajar… menulis… dan menjaga akal tetap jernih.”

Ia menambahkan,

“Karena perang terbesar manusia… bukan di medan tempur. Tapi di dalam pikirannya.”

Malam semakin larut. Warung kopi itu tetap sederhana, namun percakapan yang terjadi di dalamnya terasa begitu luas.

Di sudut kecil kampus Al-Biruni, diskusi itu seolah menjembatani masa lalu dan masa kini—menghidupkan kembali suara para ilmuwan Persia dalam pikiran generasi muda.

Dan di antara aroma kopi yang menguar… sejarah kembali berbicara.

Wallohu a'lam 

Dari Teheran ke Palestina: Berakhir di Warung Kopi Al-Biruni


ketakketikmustopa.com,  Cerpen obrolan santai di kampus STID Al-Biruni.

Malam merayap pelan di sudut kampus STID Al-Biruni Cirebon. Warung kopi sederhana di samping gerbang tampak lebih hidup dari biasanya. Lampu kuning redup menggantung, menghangatkan meja kayu yang mulai dipenuhi gelas-gelas kopi hitam.

Husein datang lebih dulu, membawa ponsel di tangannya. Wajahnya tegang.

“Ini bukan pidato biasa…” gumamnya.

Tak lama, Fitriani dan Zizi menyusul. Mereka duduk, memesan kopi, lalu memperhatikan Husein yang tampak gelisah.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Fitriani.

Husein mengangkat ponselnya. “Pidato dari Mojtaba Khamenei… dari Teheran. Viral di mana-mana. Katanya mengguncang dunia Islam.”

Zizi mengernyit. “Mengguncang… atau menggiring?”

Suara langkah pelan mendekat. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tipis dan wajah tenang ikut duduk di kursi kosong. Dialah Dr. Rachman—dosen yang dikenal tajam dalam membaca arah dunia.

“Kalian sedang membicarakan Timur Tengah?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

“Ya, Pak,” jawab Husein cepat. “Tentang pidato itu… apakah benar-benar sebesar yang orang katakan?”

Dr. Rachman tidak langsung menjawab. Ia menatap uap kopi yang perlahan menghilang di udara.

“Kadang,” katanya pelan, “yang mengguncang dunia bukanlah suara yang keras… tapi makna yang dalam.”

Sunyi sejenak. Angin malam menyelinap di antara percakapan mereka.

Fitriani membuka suara, “Saya mendengar bagian ketika dia bicara tentang umat yang satu… tentang air mata yang sama, dari Palestina hingga Iran. Rasanya… menyentuh.”

“Ya,” sahut Dr. Rachman, “itu bahasa emosi. Dan dalam geopolitik, emosi adalah bahan bakar paling kuat.”

Husein mengangguk pelan. “Tapi Pak… apakah itu murni kepedulian, atau ada kepentingan di baliknya?”

Dr. Rachman tersenyum.

“Pertanyaan yang bagus. Dalam dunia nyata, idealisme dan kepentingan sering berjalan beriringan. Tidak selalu mudah membedakannya.”

Zizi menatap lurus ke depan. “Berarti… kita tidak boleh langsung percaya?”

“Bukan tidak percaya,” jawab Dr. Rachman tenang. “Tapi belajar memahami. Setiap narasi punya tujuan. Bahkan yang terdengar paling tulus sekalipun.”

Hening kembali turun. Dari kejauhan, suara motor melintas, memecah kesunyian malam.

Fitriani menatap cangkirnya. “Bagian yang paling mengena bagi saya… ketika dia tidak memaksa orang berperang, tapi meminta doa.”

Dr. Rachman mengangguk.

“Itulah titik temu umat. Tidak semua orang bisa mengangkat senjata. Tapi semua orang bisa menengadahkan tangan.”

Husein menatap langit. “Jadi… apakah perubahan dunia benar-benar bisa dimulai dari hal kecil seperti itu?”

Pak Dr. Rachman menatap mereka satu per satu.

“Perubahan besar,” katanya pelan, “sering dimulai dari kesadaran kecil. Dari obrolan seperti ini. Dari keberanian untuk berpikir… dan tidak sekadar ikut arus.”

Angin malam terasa lebih dingin. Lampu warung sedikit bergetar.

Zizi tersenyum tipis. “Lucu ya… dari Teheran… ke Palestina… akhirnya berakhir di warung kopi ini.”

Pak dosen, Dr. Rachman ikut tersenyum.

“Begitulah dunia,” ujarnya. “Jauh… tapi sebenarnya dekat. Besar… tapi bisa kita renungkan di meja kecil seperti ini.”

Husein menghela napas panjang. “Jadi, apa yang harus kita lakukan, Pak?”

Dr. Rachman mengangkat cangkirnya, lalu berkata pelan:

“Jadilah generasi yang tidak hanya mendengar… tapi memahami. Tidak hanya tergerak… tapi juga berpikir.”

Mereka terdiam.

Di warung kopi kecil itu, di sudut kampus yang sederhana—dunia yang luas seakan menyempit menjadi satu meja. Dari Teheran… ke Palestina… hingga akhirnya berlabuh di secangkir kopi dan percakapan yang mengubah cara mereka memandang segalanya.

Wallohu a'lam 

Filosofi Korek Api: Benda yang Banyak Dicari Orang

 


ketakketikmustopa.com, Sore itu, langit Kampus STID Al-Biruni Cirebon mulai berwarna jingga. Di pelataran taman kampus, lima mahasiswa duduk melingkar: Aisyah, Tasya, Romi, Ebit, dan Arul. Wajah mereka tampak lesu, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Aku tuh kadang ngerasa… kita ini biasa banget,” keluh Romi sambil menatap kosong ke arah lapangan.

“Iya,” sambung Tasya. “Di luar sana banyak orang hebat, pintar, terkenal. Kita ini apa sih?”

Aisyah menghela napas. “Kadang aku juga mikir, apakah kita bisa jadi orang yang benar-benar berarti?”

Belum sempat percakapan itu berlanjut, terdengar suara langkah pelan mendekat.

“Assalamu’alaikum, anak-anak.”

Mereka menoleh. Ternyata Pak Dr. Ahyani, M.Pd. berdiri di belakang mereka dengan senyum hangat.

“Wa’alaikumussalam, Pak…” jawab mereka serempak.

Pak Ahyani duduk di bangku taman, tepat di hadapan mereka. “Sepertinya ada yang sedang dipikirkan?”

Arul tersenyum kecut. “Kami lagi ngerasa kecil, Pak. Kayaknya belum jadi apa-apa.”

Pak Ahyani mengangguk pelan, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku jas. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dan menunjukkannya.

“Kalian tahu ini apa?”

“Korek api, Pak,” jawab Ebit cepat.

“Betul,” kata Pak Ahyani. “Kecil, murah, sering dianggap remeh. Tapi coba kalian jawab… kapan benda ini paling dicari?”

Saat itu juga, listrik di sekitar taman tiba-tiba padam. Suasana menjadi agak gelap.

“Pas seperti ini, Pak…” jawab Aisyah pelan.

Pak Ahyani tersenyum. Ia menggesek korek api itu. Cret…

Nyala api kecil muncul, menerangi wajah mereka yang kini tampak lebih jelas.

“Nah,” ujar beliau lembut, “inilah pelajaran pertama. Nilai sesuatu tidak terletak pada besar atau kecilnya, tapi pada manfaatnya.”

Mereka terdiam, memperhatikan nyala api kecil itu.

“Banyak orang ingin jadi besar, terkenal, dipuji,” lanjut Pak Ahyani. “Tapi sedikit yang benar-benar ingin jadi bermanfaat.”

Romi menatap api itu dengan serius. “Berarti… lebih penting jadi bermanfaat ya, Pak?”

Pak Ahyani mengangguk. “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.’”

Tasya mulai tersenyum. “Jadi meskipun kita sederhana… tetap bisa berarti?”

“Bukan bisa lagi,” jawab Pak Ahyani, “justru itulah yang dicari.”

Beliau kembali mengangkat korek api itu.

“Dari gesekan kecil, muncul api yang besar manfaatnya. Ini seperti amal kita. Sekecil apa pun kebaikan, jangan diremehkan.”

Ebit mengangguk. “Berarti hal kecil seperti bantu teman, senyum, itu penting ya, Pak?”

“Justru itu yang paling sering dibutuhkan,” jawab Pak Ahyani.

Namun perlahan, api korek itu mulai mengecil.

“Kalian tahu,” lanjut beliau, “untuk menyalakan api ini, korek harus terbakar. Artinya, dalam hidup, kita harus siap berkorban.”

Arul menatap penuh makna. “Seperti waktu, tenaga… bahkan perasaan?”

“Betul,” kata Pak Ahyani. “Tidak ada kebermanfaatan tanpa pengorbanan.”

Tiba-tiba beliau meniup api itu hingga padam.

“Sekarang pelajaran berikutnya,” katanya. “Api ini bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar. Sama seperti lisan kita.”

Aisyah menunduk. “Kadang kata-kata kita bisa menyakitkan ya, Pak…”

“Makanya Rasulullah ﷺ mengingatkan: berkatalah yang baik atau diam.” jawab Pak Ahyani.

Suasana menjadi hening. Kata-kata itu terasa menembus hati.

“Korek api ini,” lanjut beliau, “tidak selalu digunakan. Tapi ketika dibutuhkan, ia selalu siap.”

Romi tersenyum pelan. “Berarti kita juga harus siap hadir saat orang lain butuh ya, Pak?”

“Benar,” jawab Pak Ahyani. “Hidup ini bukan soal selalu terlihat, tapi tentang siap memberi.”

Tasya lalu bertanya pelan, “Pak… kenapa korek api selalu dicari?”

Pak Ahyani tersenyum hangat. “Karena ia dibutuhkan, bukan karena ia terkenal.”

Mereka saling pandang. Seolah menemukan jawaban dari kegelisahan mereka selama ini.

Aisyah mengangguk mantap. “Saya paham sekarang, Pak. Lebih baik jadi orang yang dibutuhkan daripada sekadar dikenal.”

Ebit tersenyum. “Walaupun kecil… asal bermanfaat, itu sudah cukup.”

Pak Ahyani berdiri perlahan. “Itulah filosofi korek api. Jadilah kecil yang menyala, bukan besar yang padam.”

Langit semakin gelap, namun hati mereka justru terasa terang.

Sejak sore itu, mereka tidak lagi sibuk ingin terlihat hebat. Mereka mulai belajar menjadi bermanfaat—dalam diam, dalam kesederhanaan, dalam keikhlasan.

Karena mereka kini sadar, yang paling dicari dalam kehidupan bukanlah yang paling mencolok, melainkan yang paling mampu memberi cahaya.

Wallohu a'lam 

Strategi Perang Paling Canggih, Obrolan di Warung Kopi

 

ketakketikmustopa.cm, Sore itu langit di belakang kampus STID Al-Biruni terlihat temaram. Angin berhembus pelan, her membawa aroma gorengan yang baru saja diangkat dari penggorengan. Warung kopi langganan mahasiswa tampak ramai seperti biasa. Namun hari itu ada yang berbeda.

Pak Dr. Rachman, dosen yang dikenal cerdas sekaligus nyentrik, justru tidak kembali ke ruang dosen setelah mengajar. Ia melangkah santai menuju warung kopi.

“Siapkan kopi torabika, ada?” tanyanya sambil duduk di bangku kayu panjang.

“Karuan saja ada, Pak!” jawab mahasiswa penjaga warung dengan sigap.

“Kalau ada gorengan, deh… nggak apa-apa. Tambahin pisgor.”

Beberapa mahasiswa yang melihat itu langsung mendekat.

“Sini duduknya di sini, Dek! Kita bahas perang Iran, yuk!” ujar Pak Rachman sambil menepuk bangku kosong.

“Hayu atuh, Pak! Kita penasaran nih… pengen tahu pandangan Bapak tentang Iran yang dikeroyok Amerika sama Israel,” sahut salah satu mahasiswa.

Mereka pun duduk melingkar. Suasana santai, tapi mata penuh rasa ingin tahu.

Pak Rachman menyeruput kopinya pelan.

“Kalian perhatikan nggak… perang zaman sekarang itu kayak dagelan,” katanya membuka pembicaraan.

“Dagelan, Pak?” tanya mahasiswa heran.

“Iya… di satu sisi menegangkan. Teknologi AI berseliweran. Gedung-gedung hancur dalam hitungan detik. Tapi di sisi lain… absurd. Iran kirim drone murah, rudal sederhana… ditangkis pakai sistem super mahal. Kan lucu.”

Mahasiswa tertawa kecil.

“Dulu kita nonton film koboi Hollywood… jet tempur gagah, pilot santai sambil nyeruput cerutu… rudal meledak dramatis.”

“Sekarang?” tanya mahasiswa.

“Sekarang… kita nonton perang beneran malah kayak konten TikTok. Kadang bikin ngakak. Ini perang atau settingan?” jawab Pak Rachman sambil tersenyum tipis.

“Wah… ngeri juga sih kalau dipikir-pikir,” sahut mahasiswa lain.

Pak Rachman melanjutkan.

“Kalian lihat perang Ukraina dan Rusia sampai 2026. Dulu istilahnya air superiority. Sekarang berubah jadi drone superiority.”

“Drone, Pak?”

“Iya. Tahun 2025 Ukraina mencatat lebih dari 800 ribu serangan drone. Target 2026? Produksi 7 juta drone!”

“Buset… kayak pabrik gorengan, Pak!” celetuk mahasiswa.

“Nah itu dia! Cepat, murah, dan laris,” jawab Pak Rachman sambil tertawa.

“Rusia juga balas… puluhan ribu drone tiap bulan. Bahkan satu malam bisa ratusan. Itu bukan serangan lagi… itu hujan drone.”

Mahasiswa mulai terdiam, membayangkan.

“Langit sekarang bukan cuma milik burung,” lanjut Pak Rachman, “tapi milik benda berdengung yang siap menyengat.”

“Serem, Pak…”

“Lebih serem lagi… satu operator di bunker… mungkin kalau di sini anak warnet yang gagal move on… bisa bikin tank baja jadi rongsokan.”

“Hahaha!” suasana pecah oleh tawa.

Tiba-tiba pak Rachman nyeletuk,

“Ngomong-ngomong, di sini ada Sampoerna Mild nggak?”


“Ada, Pak! Tenang aja,” jawab penjaga warung.

Pak Rachman tersenyum, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Sekarang kita lihat Iran lawan Amerika dan Israel. Strateginya simpel tapi dahsyat.”

“Gimana, Pak?”

“Drone murah digabung rudal balistik. Dilepas ribuan. Israel dan Amerika langsung buka dompet. Sistem pertahanan mahal ditembakkan satu per satu.”

“Jadi…?” tanya mahasiswa.

“Ini bukan perang… ini lomba siapa cepat bangkrut.”

Mahasiswa saling pandang.

“Pesawat tempur generasi terbaru masih ada,” lanjutnya, “tapi sekarang cuma jadi ‘bos besar’. Datang, lempar dari jauh, lalu pergi. Aman, elegan… mahal.”

“Terus yang paling penting apa, Pak?”

Pak Rachman mengangkat jarinya.

“Satelit.”

“Satelit?” mahasiswa serempak.

“Tanpa satelit… perang modern itu buta. Di Ukraina—komunikasi, kontrol drone, artileri—semua tergantung satelit.”

“Kok bisa, Pak?”

“Bayangin listrik mati… tapi perang tetap jalan. Satelit itu mata dewa. Bisa lihat pergerakan musuh dari atas.”

Mahasiswa semakin serius menyimak.

“Tanpa satelit,” lanjut Pak Rachman, “drone dan rudal cuma jadi barang mahal yang nyasar.”

Sejenak hening. Lalu Pak Rachman mengalihkan topik.

“Sekarang kita lihat Indonesia…”

Mahasiswa langsung fokus.

“Saat dunia masuk era drone, satelit, dan siber… kita kadang masih debat beli alutsista mahal.”

“Iya juga ya, Pak…”

“Jet tempur dibeli dengan bangga. Tapi kalau diserang swarm drone murah?”

Mahasiswa terdiam.

“Mau ditembak pakai rudal mahal? Ya tekor, bos.”

Beberapa mahasiswa tertawa getir.

“Rekrutmen juga masih pola lama. Fisik kuat, lari cepat.”

“Kan penting, Pak?”

“Penting. Tapi perang sekarang bukan soal otot. Lawannya drone… mau lari ke mana?”

Mahasiswa langsung tertawa.

“Drone nggak capek, bos!” tambah Pak Rachman.

Suasana kembali santai. Mereka mulai mengambil gorengan.

“Yang dibutuhkan sekarang,” lanjutnya, “anak IT, gamer, analis data.”

“Gamer, Pak?” tanya mahasiswa sambil tersenyum.

“Iya! Yang biasa main joystick. Satu operator drone bisa gantikan satu regu.”

“Wah… berarti anak warnet bisa jadi pahlawan, Pak?”

“Bisa banget!” jawabnya tegas.

“Infanteri tetap penting, tapi harus naik level. Paham anti-drone, paham medan digital. Sekarang bersembunyi aja susah… drone kecil bisa lihat dari atas.”

Mahasiswa mengangguk-angguk.

“Terus… kesimpulannya apa, Pak?” tanya salah satu mahasiswa.

Pak Rachman diam sejenak. Ia menyeruput kopi terakhirnya, lalu mengepulkan asap rokok perlahan ke udara senja.

“Kesimpulannya…” katanya pelan,

“Perang modern bukan soal jet tercanggih atau tank terbanyak.”

Semua terdiam.

“Tapi siapa yang bisa produksi drone murah dalam jumlah besar… punya satelit… dan merekrut manusia yang adaptif.”

Ia menatap para mahasiswa satu per satu.

“Sekarang… drone itu raja. Jet cuma figuran. Satelit… sutradaranya.”

Sunyi sejenak.

“Dan yang masih pakai pola lama…” lanjutnya sambil tersenyum tipis,

“siap-siap jadi penonton.”

Mahasiswa terdiam, lalu salah satu berbisik pelan,

“Berarti… masa depan perang ada di tangan anak muda ya, Pak?”

Pak Rachman mengangguk.

“Bukan lagi di tangan jenderal saja… tapi di tangan anak muda di depan laptop… dengan koneksi internet stabil.”

Angin sore kembali berhembus.

Di atas langit yang mulai gelap, seolah-olah… bayangan drone tak terlihat sedang melintas.

Dan di bawahnya, di warung kopi sederhana itu—masa depan sedang dibicarakan, di antara kopi, asap rokok, dan gorengan hangat.

Wallahu a'lam 

Kampus STID Al-Biruni Cirebon Sambut Hangat Kunjungan Forum BUMDES Indonesia dan PAPDESI Sekaligus Jalin Kerjasama MoU

 

ketakketikmustopa.com, Suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi tampak mewarnai kunjungan rombongan Forum BUMDES Indonesia (FBI) dan Persatuan Aparatur Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (PAPDESI) ke Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin pada Selasa (31/3/2016).

Rombongan tamu dipimpin langsung oleh Ketua Pembina, KH. Arya Wasesa Wangsa atau yang akrab disapa Pak De Bintang. Kedatangannya disambut hangat oleh jajaran pimpinan yayasan dan kampus, di antaranya KH. Uki Marzuki selaku Ketua Yayasan Amal Albiruni, Mustopa sebagai Sekretaris Yayasan, serta pimpinan kampus seperti Dr. Muhammad Gunawan dan Dr. Ahmad Zamakhsyari, bersama seluruh dosen STID Al-Biruni.

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula sebanyak 41 rekomendasi beasiswa kuliah di STID Al-Biruni sebagai bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Selain itu, momentum pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menjalin kerjasama melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pihak kampus dengan Forum BUMDES Indonesia dan PAPDESI sebagai langkah strategis dalam pengembangan pendidikan, pemberdayaan desa, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam sambutannya, KH. Uki Marzuki memaparkan bahwa Babakan Ciwaringin merupakan salah satu kawasan pesantren tertua di Indonesia dengan usia mencapai lebih dari tiga abad. Ia menjelaskan bahwa terdapat sekitar 82 pesantren dan 6 perguruan tinggi di wilayah tersebut, termasuk STID Al-Biruni. Selain itu, berbagai lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga menengah juga berkembang pesat di kawasan ini, seperti SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa SMK Al-Biruni saat ini memiliki dua program studi, demikian pula STID Al-Biruni yang juga memiliki dua program studi aktif. Di akhir sambutannya, ia memohon doa dan dukungan dari seluruh pihak agar rencana pengembangan program studi baru serta peningkatan status STID Al-Biruni menjadi institut dapat berjalan lancar.

Sementara itu, dalam sambutannya, Pak De Bintang menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya kebermanfaatan dalam kehidupan. Ia mengutip pesan Presiden bahwa setiap individu diharapkan mampu memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang—minimal tidak menjadi beban bagi orang lain.

Lebih jauh, ia menegaskan komitmen Forum BUMDES Indonesia untuk turut serta mendorong kemajuan STID Al-Biruni, baik dari sisi pembangunan maupun peningkatan kesejahteraan civitas akademika. Ia juga menyatakan kesiapan untuk bersinergi dan bergandengan tangan bersama pihak yayasan dalam memajukan pendidikan di kampus tersebut.

Pertemuan ini berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan optimisme, mencerminkan semangat kolaborasi antara dunia pendidikan dan pemerintahan desa dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.


@potsum-jurnalis Albiruni

Menjaga Konsistensi Spirit Idul Fitri

 

ketakketikmustopa.com, Pasca Idul Fitri, umat Islam memasuki fase baru dalam perjalanan kehidupannya. Setelah sebulan penuh ditempa dalam madrasah Ramadhan—dengan puasa, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, serta berbagai amal kebajikan—kini tibalah saatnya mengimplementasikan nilai-nilai spiritual tersebut dalam kehidupan nyata. Ditambah lagi dengan tradisi Halal Bihalal yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, memperkuat kembali jalinan sosial melalui saling memaafkan dan mempererat ukhuwah.1

Momentum ini sejatinya bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi diri. Ramadhan bukan hanya ritual tahunan, tetapi proses pembentukan karakter. Dalam perspektif spiritualitas Islam, ibadah tidak berhenti pada dimensi ritual, melainkan harus berlanjut pada dimensi sosial dan profesional. Nilai-nilai seperti keikhlasan (ikhlas), kesabaran (sabr), kejujuran (sidq), dan tanggung jawab (amanah) harus mewarnai setiap aktivitas manusia, baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat.2

Semangat spiritual yang telah dibangun selama Ramadhan harus mampu menjadi energi penggerak dalam aktivitas sehari-hari. Dalam konteks ini, bekerja tidak lagi sekadar memenuhi tuntutan ekonomi, tetapi menjadi bagian dari ibadah. Belajar tidak hanya untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada ilmu dan peradaban. Dengan demikian, terjadi integrasi antara dimensi duniawi dan ukhrawi, antara kerja dan ibadah, antara produktivitas dan spiritualitas.3

Namun demikian, tantangan terbesar pasca Lebaran adalah menjaga konsistensi (istiqamah). Tidak sedikit yang mengalami penurunan semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir. Masjid yang sebelumnya penuh, kini mulai lengang. Tilawah yang rutin, mulai jarang dilakukan. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa kualitas seorang mukmin tidak hanya diukur dari intensitas ibadah di bulan Ramadhan, tetapi juga dari keberlanjutannya di bulan-bulan berikutnya.4

Dalam dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, manusia seringkali terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Aktivitas yang padat tidak selalu berbanding lurus dengan keberkahan. Oleh karena itu, diperlukan fondasi spiritual yang kuat agar aktivitas yang dilakukan tidak kehilangan arah. Spiritualitas berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga manusia dari penyimpangan, serta sebagai sumber energi batin yang memberikan ketenangan dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.5

Lebih jauh, integrasi antara semangat spiritual dan semangat beraktivitas juga memiliki implikasi sosial yang luas. Individu yang memiliki kedalaman spiritual cenderung lebih jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Dalam dunia kerja, hal ini akan melahirkan profesional yang berintegritas. Dalam dunia pendidikan, akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.6

Dengan demikian, pasca Idul Fitri seharusnya menjadi titik tolak kebangkitan, bukan kemunduran. Ia adalah momentum untuk melakukan reorientasi hidup—menata kembali niat, memperbaiki kualitas amal, dan meningkatkan kontribusi bagi masyarakat. Semangat spiritual yang telah diraih harus dijaga, dipelihara, dan diwujudkan dalam bentuk nyata melalui aktivitas yang produktif dan bermanfaat.7

Akhirnya, marilah kita melangkah ke depan dengan semangat baru: semangat spiritual yang membimbing, dan semangat aktivitas yang menggerakkan. Keduanya harus berjalan seiring, saling menguatkan, dan saling melengkapi. Karena pada hakikatnya, kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang seimbang—antara dunia dan akhirat, antara ibadah dan kerja, antara hati dan aksi.8

Wallohu a'lam 

Footnote:

1. Ihya Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali.

2. Tafsir Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab.

3. Manajemen Qalbu karya Abdullah Gymnastiar.

4. Ihya Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali.

5. The Seven Habits of Highly Effective People oleh Stephen R. Covey.

6. Tafsir Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab.

7. Manajemen Qalbu karya Abdullah Gymnastiar.

8. The Seven Habits of Highly Effective People oleh Stephen R. Covey.

Lebaran Blue: Sunyi Setelah Riuh

 

ketakketikmustopa.com, “Lebaran Blue” adalah istilah yang menggambarkan kondisi emosional berupa rasa hampa, sepi, atau kehilangan yang muncul setelah perayaan Idul Fitri usai. Ia bukan sekadar kesedihan biasa, melainkan perasaan sunyi yang hadir setelah puncak kebahagiaan, ketika suasana hangat kebersamaan perlahan menghilang dan kehidupan kembali pada ritme semula.

Fenomena ini mungkin belum banyak dibicarakan secara luas, tetapi dirasakan oleh banyak orang. Beberapa hari setelah Idul Fitri berlalu, ada perubahan yang terasa—pelan namun nyata. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi arus mudik kini kembali lengang. Rumah-rumah yang kemarin riuh oleh tawa dan pelukan, kini kembali sunyi. Meja makan yang sebelumnya penuh dengan hidangan khas Lebaran, kini hanya menyisakan jejak.

Semua itu menghadirkan satu perasaan yang sulit diungkapkan: kehilangan dalam diam.

Lebaran selalu menjadi momentum yang sarat makna. Ia bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang pertemuan jiwa-jiwa yang lama terpisah. Anak-anak kembali ke pangkuan orang tua, saudara-saudara berkumpul menghapus jarak, dan luka-luka lama mencair dalam kalimat sederhana, “mohon maaf lahir dan batin.”

Dalam suasana seperti itu, kebahagiaan terasa begitu utuh. Hati menjadi hangat, relasi menjadi dekat, dan hidup seakan kembali menemukan keseimbangannya.

Namun, sebagaimana semua momen, Lebaran pun memiliki batas waktu. Libur usai, rutinitas kembali memanggil. Satu per satu anggota keluarga kembali ke kota masing-masing. Rumah yang sebelumnya penuh, kini terasa terlalu lapang. Dan di titik itulah, “Lebaran Blue” menemukan momentumnya.

Seorang ibu mungkin kini duduk sendiri di ruang tamu, memandang kursi-kursi kosong yang kemarin dipenuhi anak-anaknya. Seorang anak mungkin menahan rindu dalam perjalanan kembali, menyadari bahwa pertemuan yang singkat itu menyimpan makna yang begitu dalam. Sementara yang lain, mungkin hanya merasakan kekosongan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.

Dalam perspektif yang lebih reflektif, “Lebaran Blue” sesungguhnya bukanlah sesuatu yang perlu ditolak. Ia adalah konsekuensi dari kebahagiaan yang tulus. Rasa hampa itu hadir justru karena sebelumnya hati kita dipenuhi kehangatan. Kesedihan itu adalah bukti bahwa kita pernah merasakan cinta, kebersamaan, dan kedekatan yang autentik.

Di sinilah pentingnya memaknai “Lebaran Blue” secara lebih bijak.

Alih-alih memandangnya sebagai akhir dari kebahagiaan, kita justru dapat menjadikannya sebagai pintu refleksi. Bahwa nilai-nilai yang kita rasakan selama Lebaran—silaturahmi, kasih sayang, keikhlasan, dan saling memaafkan—bukanlah milik satu hari saja. Ia adalah nilai yang seharusnya terus hidup dalam keseharian.

Sayangnya, dalam praktik sosial, semangat itu seringkali hanya bertahan sesaat. Setelah Ramadhan dan Idul Fitri berlalu, intensitas ibadah menurun, komunikasi antar keluarga kembali renggang, dan kepedulian sosial perlahan memudar. Di sinilah ironi itu muncul: kita merindukan suasana yang sebenarnya bisa kita jaga.

“Lebaran Blue” seharusnya menjadi alarm batin.

Ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang hilang bukan karena waktu, tetapi karena kita tidak berusaha mempertahankannya. Kerinduan yang muncul setelah Lebaran bisa jadi bukan sekadar rindu pada keluarga, tetapi rindu pada versi diri kita yang lebih baik—lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Oleh karena itu, tantangan pasca-Lebaran bukanlah bagaimana menghindari kesedihan, melainkan bagaimana merawat nilai-nilai yang telah kita bangun selama Ramadhan dan Idul Fitri. Silaturahmi tidak harus menunggu hari raya. Kepedulian tidak harus menunggu momentum. Dan kebaikan tidak seharusnya berhenti pada seremoni.

Kita perlu menggeser cara pandang: dari merayakan momen, menuju menjaga makna.

Lebaran memang telah usai. Ketupat telah habis, tamu-tamu telah pulang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Namun, jika nilai-nilai yang sempat menghangatkan hati itu ikut pergi, maka yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa ruh.

Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam Lebaran bukan terletak pada kemeriahannya, tetapi pada kemampuan kita menjaga cahaya kebaikan tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika suasana telah sunyi, bahkan ketika hari-hari kembali biasa.

Di situlah “Lebaran Blue” menemukan makna terdalamnya: bukan sebagai tanda berakhirnya kebahagiaan, tetapi sebagai panggilan sunyi untuk menjaga agar kebahagiaan itu tetap hidup—di dalam hati, sepanjang waktu.

Wallohu a'lam.