Tampilkan postingan dengan label Cerpen Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Dakwah. Tampilkan semua postingan

Telah Lama Kusimpan

 

Gambar hanyalah pemanis cerita untuk ilustrasi cerpen ini

ketakketikmustopa.com, Sebagai orang tua yang tiap harinya menggarap sawah dan kebun untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sebut saja Bapak Ahmad. Sekalipun hidup di zaman yang sudah maju di desanya ditandai dengan sudah banyak tetangganya memasang internet di rumahnya. Karena itu sedikit banyak ilmu yang dulu pernah didapat dari pesantren, Bapak Ahmad mendidik untuk mrneguhkan anak-anaknya dengan pendidikan agama yang kuat dengan mengajar ngaji Al-Qur’an, makharijul huruf dengan ilmu tajwidnya dan mendidik akhlak dan aqidah dengan Aqidatul Awam dan Ta’limul Muta’alim.

Hari itu adalah hari yang penuh perasaan. Rina, dengan ransel kecil dan tas berisi perlengkapan pribadi, berdiri di depan rumah mereka. Bapak Ahmad dan isterinya Ibu Sari, meskipun bangga, tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajah mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka mengantarkan memondokkan anak mereka, dan mereka tahu bahwa ini adalah langkah besar dalam kehidupan Rina.

“Rina, ibu dan ayah percaya kamu akan mendapatkan banyak manfaat di pesantren,” kata Ibu Sari sambil memeluk Rina erat-erat. “Jaga diri baik-baik, ya. Jika ada kesulitan, jangan ragu untuk meminta bantuan.” Kata Pak Ahmad dan Ibu Sari.

“Insya Allah, Bu. Aku akan berusaha yang terbaik,” jawab Rina dengan penuh semangat, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.

 “Kami percaya kamu akan belajar banyak di sana. Jangan lupakan doa dan selalu bersikap baik kepada teman-temanmu. Kami akan selalu mendukungmu dari jauh.” Bapak Ahmad mengelus kepala Rina.

Rina melambaikan tangan dengan penuh harapan saat mobil yang membawa mereka pergi perlahan menghilang dari pandangan. Di dalam hati, ia merasa campur aduk antara rasa takut dan rasa antusias. Namun, ia tahu bahwa ini adalah kesempatan besar untuk mendalami ilmunya.

Di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Puteri, Rina disambut dengan hangat oleh para santri senior dan pengurus pesantren. Mereka memperkenalkan Rina pada rutinitas sehari-hari, mulai dari belajar agama, berdoa bersama, hingga kegiatan sosial di pesantren. Rina merasa sedikit canggung pada awalnya, tetapi dengan waktu, ia mulai merasa nyaman dan mulai menemukan teman-teman baru.

Suatu malam, Rina menulis WA untuk orang tuanya meminjam HP pengurus kamar. Dalam WA, ia menceritakan tentang pelajaran yang dipelajarinya, teman-teman barunya, dan bagaimana ia mulai merasa lebih dekat dengan agama. Surat-surat itu selalu diakhiri dengan ucapan terima kasih dan doa untuk kesejahteraan keluarganya di rumah.

Bagi Rina, pondok pesantren Al-Hikmah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat di mana ia mulai memahami arti sejati dari kehidupan dan agama. Dan bagi Bapak Ahmad dan Ibu Sari, pengalaman memondokkan anak mereka adalah langkah pertama yang penuh berkat dalam perjalanan pendidikan dan pembentukan karakter anak mereka. Rumah Kyai dan para pengurus persis di depan pntu gerbang masuk pondok puteri hanya dibatasi dengan tembok setinggi 3 meter.

Hari pertama Rina di pesantren diwarnai dengan campur aduk perasaan. Dengan ransel kecil ditambah koper kecil ditariknya, dalam hati yang penuh rasa ingin tahu, ia memasuki gerbang pesantren. Suasana di dalam pesantren terasa asing, dan Aisyah merasa sedikit canggung. Namun, sambutan hangat dari teman-teman santri baru dan para pengurus pesantren membuatnya merasa lebih nyaman.

Para santri puteri Baitul Hikmah menjalani rutinitas yang padat. Setiap pagi, mereka memulai hari dengan shalat Subuh berjamaah, diikuti dengan kajian Al-Qur'an dan hadist. Rina merasa kagum dengan kedalaman ilmu yang diajarkan, dan meskipun awalnya sulit mengikuti, ia bertekad untuk belajar dengan giat.

Di siang hari, mereka menghadapi pelajaran tentang fiqh, tafsir, dan sejarah Islam. Rina menemukan kebahagiaan dalam belajar fiqh, terutama ketika ia bisa memahami lebih dalam tentang hukum-hukum agama dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Rina juga mempelajari keterampilan praktis seperti menjahit dan memasak yang sangat berguna bagi seorang wanita.

Sore hari di pesantren adalah waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan sosial. Rina bergabung dengan kelompok literasi pesantren yang bertugas mengajarkan anak-anak di desa sekitar menulis puisi, cerpen dan dongeng para sahabat Nabi. Melihat wajah-wajah ceria anak-anak desa yang belajar dengan semangat membuat Rina merasa senang dan puas, merasa bahwa ilmunya bermanfaat bagi orang lain.

“Assalamu’alaikum, maaf Kang mau moto kopi.” Rina dan Melati datang ke kantor koperasi Al-Hikmh  milik pak kyai.

“Monggo mba, moto kopi apa mba. ?” tanya Sultan penjaga foto kopi

“Yang ini 5, yang ini 5, kalau yang ini 10 aja.” jawab Rina.

Rina disamping belajar mondok termasuk anak yang cepat menerima pelajaran, dalam kesehariannya tidak lupa dicatat dalam buku diari hingga membuatnya betah di pondok, cerita asyik bersama teman, bahkan kadang puisi-puisi Kahlil Gibran jadi pusat inspirasi termasuk puisi-puisi Gus Mus sebagai rujukan Rina dalam menulis puisi. Kalau menulis cerpen Rina terinspirasi dari 2 tokoh cerpenis Indonesia yaitu Putu Wijaya dan Danarto.

“Nih mba Rina kopiannya sudah selesai.” kata Sultan

“Jadi berapa kang. ?” tanya Rina

“25 ribu saja mba.” jawab Sultan

“Mba Rina rajin juga ya menulis puisi dan cerpen?.” tanya Sultan

“Ngga kang, biasa saja namanya juga lagi belajar.” jawab Rina merendah

“Ciye, ciye. Biasa apa biasa.” timpal Melati yang dari tadi memperhatikan percakapan.

“Huss kamu Melati, jangan kurang ajar ya.” bentak Rina kepada Melati dan wajahnya jadi merah

Sultan adalah santeri senior yang sudah lulus sekolah dan sudah melanjutkan kuliah Jurusan Sastera Arab. Tapi masih mondok di Pesantren Baitul Hikmah Putera membantu dan khidmat di pak kyai, kadang sesekali menjadi sopir pak kyai saat bepergian jauh.

Memasuki bulan Rabi’ul Awal di pesantren ini seperti tahun-tahun sebelumnya menyambut datangnya bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw. sangat meriah dengan rangkaian acara yang sudah disusun. Ada acara seminar, lomba baca Al-Barjanzi antar kamar, dan ada lomba menulis cerpen islami.

Pada acara puncaknya mengadakan acara Maulid Nabi Besar Muhammad sekaligus menggelar Baitul Hikmah Bersholawat dengan bintang tamunya Gus Aldi dari Karawang. Kang Sultan sebagai ketua panitia membacakan hasil-hasil perlombaan yang sudah berlangsung satu minggu. Tibalah pada pembacaan pengumuman lomba menulis cerpen islami.

“Berikutnya adalah pembacaan pengumuman penulis cerpen islami dimenangkan oleeeeh....”

Kang Sultan menghentikan pengumumannya.

“Huuuuhh...” para hadirin riuh jadi penasaran terutama santeri perempuan

“Baiklah kita lanjutkan ya para hadirin” Sultan melanjutkan lagi

“Dimenangkan oleh.... Satu, dua, ti..ga?..”

“Rina Agustina.” Kang Sultan dengan semangat membacakan pengumuman ini

“Mba Rina Agustina memenangkan lomba menulis cerpen islami dengan judul Merayu Tuhan” kata Kang Sultan lagi

Kang Sultan sebagai khadim pak kyai dan sudah dipercaya oleh keluarga pesantren tidak heran kalau ada event-event besar selalu dipercaya menjadi ketua panitianya. Lama kelamaan Kang Sultan seiring dengan bertambahnya usia terbersit memikirkan masa depan bahkan berpikir masalah perjodohan. Tidak bisa dipungkiri saat pandangan pertama Rina datang ke foto kopi milik koperasi selalu jadi ingatan dan terbayang-bayang selalu. Yang ada di kelopak mata dan dalam hati hanya Rina Agustina.

Waktu terus berlalu, dan Rina pun harus melanjutkan studinya ke luar kota, meninggalkan Pesantren Baitul Hikmah Puteri meneruskan kuliah di kota pelajar Yogyakarta mengambil Jurusan Sastera Inggris.Dalam  hidupnya dipenuhi dengan berbagai kesibukan dan tantangan, namun perasaan yang tertinggal saat di pondok tertuju pada seseorang. Ia sering mengingat saat-saat bersama di pesantren dan bagaimana kehadiran Kang Sultan muncul memberikan warna dan perasaan hati pada hari-harinya.

 

Tahun-tahun berlalu, Rina Agustina kembali ke pesantren untuk menyelesaikan beberapa urusan. Ketika ia melangkah masuk ke pesantren yang sama, ia tidak sengaja bertemu denganKang Sultan yang berparas rupawan, yang kini sudah menjadi seorang pengajar di pondoknya. Mereka tidak sengaja berpandang pandangan persis di depan foto kopi.

Dengan hati yang penuh keraguan, Kang Sultan mencoba untuk menanyakan kabar Rina dan mengungkapkan perasaannya yang telah lama ia simpan. Rina pun tersenyum lembut dan mengakui bahwa perasaan yang sama juga ada di hatinya. Mereka duduk bersama dengan jarak yang berjauhan, berbicara tentang masa lalu, dan merencanakan masa depan dengan penuh harapan.

“Ada acara apa Mba Rina kok tumben datang ke pondok, apa sedang liburan kuliah. ?” tanya Sultan

“Ah engga, kebetulan ada keperluan rencana mau penelitian skripsinya di pondok kita aja.” jawab Rina lembut.

“Oh.” Sultan hanya jawab singkat.

“Punten kang, pak kyai dan bu nyai ada. ?” tanya Rina sambil menundukan wajah.

“Ada, silahkan nanti saya antar masuk ke Ndalem.” jawab Sultan

Terbersit dalam hati Rina tidak bisa dibohongi perasaan semakin menggebu-gebu sosok Kang Sultan yang tampan membuat malu. Di pondok pesantren yang sama, di mana mereka dulu bertemu, cinta yang telah lama tersimpan akhirnya menemukan jalannya kembali apakah ini nantinya jodohku, Ya Allah tunjukan kepada hamba-Mu ini. Sultan dan Rina betul menyadari bahwa meski jarak dan waktu memisahkan mereka, cinta dan doa mereka yang tulus telah menjaga hubungan mereka. Kini, mereka siap untuk melanjutkan perjalanan hidup bersama, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi pada waktu yang tepat dan dengan cara yang terbaik.

Sultan pun sama demikian, yang terbayang dan terimpikan hanya Rina. Apalagi orang yang selama ini diimpikan dan diharapkan sedang ada di hadapannya. Ya Allah tunjukkan dan kuatkan bahwa orang yang ada dihadapanku ini adalah dia Rina.

“Dia, adalah Rina Agustina, Telah Lama Kusimpan di dalam lubuk hatiku.” ujar Kang Sultan dalam hatinya.

Setelah mendapatkan restu dari pak kyai dan Rinapun baru selesai ujian sidang munaqosah skripsi. Sultan pun memberanikan diri melamar Rina.

 

-Tamat-

Bertepuk Sebelah Tangan

Gambar hanya ilstrasi belaka

ketakketikmustopa.com, Berani mengambil keputusan berarti berani pula mengambil resiko, semakin besar keputusan yang kita ambil resikonya semakin besar pula dan semakin kecil pengaruhnya maka resikonya kecil pula.

Saat kita memutuskan untuk mengejar seseorang yang kita cintai dan yang kita kasihi sepertinya keputusan sederhana, namun keputusan ini sejatinya tidak sesederhana yang kita bayangkan bahkan mungkin mengandung resiko yang sangat besar.

Ketika seseorang berani memperjuangkan perasaan cinta dan isi hatinya maka ia harus berani mengambil resiko cinta mana kala si dia "Bertepuk sebelah tangan" dan berakhir dengan patah hati. Kata orang yang pernah ditolak cintanya sungguh sangat menyakitkan, pantas kalau ada syair lagu yang dinyanyikan Megy Z "Dari pada sakit hati lebih baik sakit gigi.".

Pada zaman dahulu ada kisah cinta yang mengharukan karena bertepuk sebelah tangan. Persoalan cinta tentunya juga termasuk bagian dari apa yang Allah timpakan kepada manusia, tak terkecuali seorang mukmin. Kegagalan dalam urusan perjodohan dan pernikahan umumnya menjadi beban berat bagi mereka yang mengalaminya.

Di zaman Rasulullah pernah ada kisah tentang cinta bertepuk sebelah tangan antara seorang budak sahaya bernama Mughits dengan Barirah seorang wanita yang juga budak sahaya. Keduanya sama-sama Sahabat Rasulullah yang tentu tak diragukan lagi keimanan dan kebaikannya.

Pada awalnya Mughits dan Barirah adalah pasangan suami istri, hingga pada saat Barirah dimerdekakan oleh Sayyidah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Dengan begitu berubahlah status Barirah dari budak sahaya menjadi wanita yang merdeka.

Dalam ajaran Islam, seorang budak perempuan yang menjadi istri budak lelaki kemudian merdeka maka ada perubahan konsekuensi pada pernikahannya. Perubahan status Barirah mengantarnya kepada aturan khiyar (pilihan untuk tetap dengan suaminya atau berpisah).

Setelah merdeka, baginda Nabi  pun memanggil Barirah, lalu memberikan hak pilih (khiyar) kepada Barirah antara tetap menjadi istri Mughits atau berpisah dari suaminya yang masih berstatus budak.

Ternyata Barirah lebih memilih berpisah dari Mughit suaminya, dan itu merupakan hak baginya sebagai perempuan merdeka. Keputusan itu sepertinya lahir dari perasaan Barirah yang sememangnya tidak mencintai Mughits, bukan karena Mughits tidak baik, bukan juga karena Barirah seorang yang berakhlak buruk.

Hal itu tergambar sebagaimana ucapan Bariroh kepada Nabi,

“Walau Mughits memberiku sekian banyak harta, aku tidak mau menjadi istrinya lagi.”

Di lain sisi, Mughits justru sangat mencintai Barirah, sungguh berat baginya menerima keputusan pisah itu. Bahkan setelah bercerai, Mughits terus mengikuti Barirah di jalan-jalan kota Madinah, sambil mengharap belas kasih dari Barirah sang mantan.

Kabar tentang sikap Mughits itu sampai-sampai membuat Rasulullah Saw. bertanya-tanya kepada pamannya, yakni Sayyidina ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Saw bersabda:

“Wahai ‘Abbas, tidakkah Anda heran betapa besar cintanya Mughits kepada Barirah, namun Barirah sedikit pun tidak membalas cinta Mughits”.

Atas dasar itu, Rasulullah  merasa iba atas apa yang menimpa Mughits. Lantas Beliau pun memanggil kembali Barirah, lalu bertanya kepadanya, “bagaimana jika seandainya saja engkau mau kembali kepada Mughits?”

Mendengar pertanyaan dari Nabi yang dimuliakannya itu, Barirah pun bertanya balik kepada Nabi demi memastikan maksud beliau.

“Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahku?” tanya Bariroh.

“Aku hanya ingin mengasihani Mughits.” Jawab Rasulullah..

Lalu dengan tanpa mengurangi rasa takzimnya kepada Rasulullah Saw. Barirah pun berkata:

“Aku sudah tidak lagi membutuhkannya.” jawab Bariroh.

Wallohu a’lam

 

Sumber rujukan kitab Fathul Barri karya Ibnu Hajar Aal-Asqolani.

Kuserahkan Cinta Suciku pada Kawan Sejatiku

Gambar ilustrasi diambil dari preefik

Kisah Cinta Salman Al-Farisi

ketakketikmustopa.com, Ada yang pernah pacaran ga? atau pernah punya kisah cinta tapi penuh duka dan dusta  karena cintanya tertolak atau mungkin sebaliknya pacaran yang tulus dan saling mencintai.menerima apa adanya berjalan kemana-mana berdua.

Saat seorang cowok mencintai seorang cewek so pasti si cowok ingin dicintai olehnya, ini yang diinginkan oleh setiap cowok. Bisa menjalani kehidupan dengan hadirnya perasaan saling cinta satu sama lain adalah sebuah anugerah tak ternilai dan merupakan keindahan tersendiri bagaikan taman bunga yang berseri-seri hingga susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Tidak rela bagi  seorang cowok di dunia ini saat mencintai pujaannya lantas cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia punya prinsip "Karena cinta seharusnya menguatkan bukan melemahkan."

Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam dunia nyata banyak cinta yang dialaminya bertepuk sebelah tangan. Buku novel "Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai"  karya Marah Rusli yang menceritakan kasih tak sampai atau cinta bertepuk sebelah tangan bisa bikin baper.

Edisi Ramadan kali ini ingin mengangkat kisah cintanya Salman Al-Farisi yang tak tersampaikan karena wanita yang dicintainya malah memilih Abu Darda sahabatnya.

Anak manusia yang sedang dimabuk cinta hanya ada dua pilihan yang akan dia dapati, yaitu bahagia atau kecewa. Atau seseorang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa orang yang dicintainya memilih teman sendiri seperti kisah yang akan diceritakan, kisah yang sudah terjadi 1400 tahun yang lalu karena ini terjadi pada masa sahabat Rasulullah Saw. yaitu Salman Al-Frisi.

Kisah ini diambil dari Kitab Shifat Al- Shofwah karya Ibnu Al-Jauzi.  Salman alfarizi adalah seorang mantan budak dari Isfahan Persia. Kisah cinta Salman terjadi di Madinah setelah dia menjadi muslim dan jadi sahabat dekat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau diam-diam menaruh hati kepada seorang gadis Anshor.

Maka untuk menyempurnakan sunnah Rasulullah Salman bertekad untuk melamar gadis pujaannya tersebut. Namun dia tidak berani melamarnya, karena dia seorang imigran sehingga merasa asing dengan tempat tinggalnya sekarang yaitu Madinah. Bagaimana cara melamar dan adat atau tradisi mengkhitbah wanita di Madinah.

Kemudian Salman Al-Farisi mendatangi sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah yaitu Abu Darda’. Dia bermaksud meminta bantuannya untuk mengakhitbah wanita pujaannya tersebut. Mendengar rencana Salman tersebut, Abu Darda’ sangat sangat girang, ”subhanallah wal hamdulillah.”  Dia memeluk Salman dan bersedia membantu dan mendukung.

Setelah beberapa beberapa hari mempersiapkan segala sesuatunya, Salman Al-Farisi pun mendatangi rumah wanita tersebut dengan didampingi oleh Abu Darda’. Setibanya dirumah itu keduanya diterima dengan baik oleh tuan rumah.

“Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah sahabat saya dari Persia Salman Al-Farisi. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Dia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah SAW, bahkan beliau telah menganggap Salman sebagai Ahlul Bait atau keluarganya. Saya mewakili saudara saya

Salman Al-Farisi untuk melamar Putri anda,” kata Abu Darda’ kepada ayah wanita tersebut untuk menjelaskan maksud kedatangannya.

Mendengarnya si tuan rumah merasa terhormat. Kedatangan dua orang sahabat dekat Rasulullah dan salah satunya bermaksud melamar putrinya.

“Sebuah kehormatan bagi kami menerima kedatangan sahabat Rasulullah dan sebuah kehormatan bagi keluarga kami jika mempunyai menantu dari kalangan sahabat Rasulullah,” Ujar ayah si wanita

Meskipun yang datang adalah seorang ayah tetap meminta persetujuan sang Putri.

“Jawaban lamaran ini menjadi hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu kami serahkan sepenuhnya kepada putri kami,” ujarnya kepada Abu Darda’ dan Salman Alfarizi.

Sang ayah memberikan isyarat kepada putri dan ibunya dari balik hijabnya. Mewakili sang Putri ibunya pun berkata,

“Mohon maaf kami perlu berterus terang. Putri kami menolak lamaran Salman.”

Jawaban itu tentu saja menghancurkan hati Salman tetapi beliau tetap tenang. Tak sampai di situ ibundanya pun melanjutkan jawabannya,

”Karena kalian berdualah datang dan mengharapkan ridho Allah, Saya akan menyampaikan bahwa putri saya akan menjawab iya apabila Abu Darda’ punya keinginan yang sama dengan Salman.”

Kalau pria pada umumnya pastilah hatinya hancur berkeping-keping,dan patah hati yang amat sangat. Bagaimana tidak, wanita yang dilamarnya malah memilih sahabatnya sendiri, yang menemani datang melamar. Tetapi Salman adalah pria yang saleh, dari kalangan sahabat Rosululloh. Dengan ketegaran hati Salman menjawab dengan girang,

”Allohu Akbar,”

Siapa sangka dalam keadaan patah hati Salman tidak membenci sahabatnya. Dia justru turut berbahagia. Perasaan tegar dan ikhlas menghantarkan Salman untuk melepaskan harapannya ,

”Semua mahar dan nafkah yang telah aku persiapkan ini aku serahkan kepada Abu Darda’ dan aku sendiri yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.”

Begitu besar dan mulianya hati Salman Al-Farisi, meski kisah cintanya tidak seperti yang dia inginkan. Dia sadar bahwa cintanya kepada manusia tidak boleh melemahkan imannya kepada Alloh SWT.

Salman tahu artinya persahabatan sejati. Tidak ada sedikitpun rasa benci di dalam hatinya kepada Abu Darda’, justru dia berbahagia saat sahabatnya itu berbahagia. Apalagi Rosululloh yang membuat ikatan persaudaraan antara keduanya.

Maka benar sabda Rasulullah,

”Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri,” ( HR Bukhari).

Itulah kisah cinta Salman Al Farisi, dari beliau kita belajar tentang keikhlasan dan arti persahabatan sejati yang didasari dengan iman.


Wallohu a’lam


Ayah Seorang Petani dan Pedagang Kerbau

 


ketakketikmustopa.com, Ayahku adalah sosok pekerja keras, setiap hari pergi ke ladang dan kebun kadang-kadang ke hutan menggembalakan kerbau. Hidup di sebuah perkampungan yang jauh dari peradaban dan kemajuan seperti sekarang ini. Memiliki anak 10, yang meninggal 3 anak. Membuat ayah harus bekerja keras dan membanting tulang.

Di samping bekerja keras tidak lupa ayah sangat mencintai keluarga, yaitu kepada ibu dan anak-anaknya. Begitu banyak ayah mengorbankan kebahagiaan dirinya demi membahagiakan isteri dan anak-anaknya.

Kecintaan ayah kepada keluarga laksana air yang mengalir tanpa henti dan tidak kering ditimpa musim, semangat empat lima. Semangat ayah seperti ini sesuatu yang susah untuk dibalas oleh seorang anak, meskipun ia berusaha membalas kasih sayang seorang ayah tetapi tetap saja tidak sebanding dengan apa yang telah diberikan seorang ayah pada anak-anaknya.

Ayah mengajarkan pentingnya menghargai waktu dan kesederhanaan. Bekerja tepat waktu dan disiplin adalah kunci keberhasilan dalam hidup, kata ayah. Sekalipun hanya seorang petani ayah  tidak mengajarkan bermalas-malasan dan selalu bangun pagi dini hari jam 02.00 WIB untuk sholat taubat, sholat hajat, dan sholat tahajud. Jam 03.00 WIB ibuku sudah bangun dan mulai memasak untuk persiapan orang kerja di sawah sekitar untuk 10-15 orang setiap harinya. Dan setelah sholat subuh nasi dan masakan sudah bisa dibawa oleh orang yang ditugasi bawa nasi dan makanan untuk orang-orang yang bekerja di sawah.

Banyak hal yang sudah diberikan oleh seorang ayah pada anaknya. Inspirasi mengenai apa yang harus dilakukan ataupun hal lainnya menjadi pemandangan yang begitu umum. Tidak jarang seorang anak tumbuh dengan meniru apa yang ayah mereka lakukan karena ayah adalah panutan. Seorang ayah memang memiliki cara tersendiri bagaimana ia akan mencintai anaknya. Cinta yang diberikan oleh seorang ayah memang berbeda dengan cinta dari seorang ibu. Hanya saja, cinta ayah mampu menguatkan anaknya dimana pun ia berada.

Kata bijak dari seorang ayah, menggambarkan betapa nasihat seorang ayah terlihat begitu penting bagi anaknya dan nasihat seorang ayah juga merupakan contoh dari bentuk kepedulian pada anaknya,

Walau tidak terlalu sering berbicara, sosok ayah memiliki isi hati yang lemah lembut pada sang anak. Seorang ayah tentu tetap memiliki hati dan bisa merasa sedih. Namun, demi anaknya, ia rela menahan kesedihan dan memberikan banyak alasan kenapa ia harus berusaha kuat dan tetap membuat anak-anaknya merasa tenang dan gembira.

Ayah adalah sosok pelindung utama di dalam keluarga. Ia tidak segan berkorban demi anaknya agar anak-anaknya senantiasa baik dan selamat. Bahkan, ketika ia harus terluka, ia pun rela melakukannya. Ini adalah salah satu pengorbanan terbesar dari seorang ayah yang membuat kita harus senantiasa menghormati dan menghargainya.

Seorang ayah senantiasa mengetahui di mana ia berdiri. Ia mengetahui bahwa perannya adalah sebagai kepala keluarga, hal ini menggambarkan besarnya tanggung jawab seorang ayah kepada pihak keluarga yang ia sangat cintai.

Terkadang, apa yang dilakukan oleh seorang ayah sering tidak terbaca sebagai bentuk perhatian. Larangan yang ia lakukan tidak dilandasi dengan kebencian, sebenarnya saat ia melarang memiliki  alasan yang lebih baik untuk dipilih yang tepat.

Selanjutnya tugas seorang anak adalah senantiasa berusaha dan berdoa, ketika tidak bisa memberikan hal terbaik untuk seorang ayah, maka jangan membebani ayah dengan beban yang terlampau berat, terutama di hari tuanya. Sosok ayah yang begitu bertanggung jawab dan menjadi inspirasi bagi anaknya, harus dijaga sedemikian rupa, terutama ketika ia perlahan sudah mulai melemah dan menua.

Suatu hari waktu aku  kecil, aku nangis minta dibelikan mobil-mobilan. Dengan penuh kesabaran ayahku menasihati, “Ya sudah nak, jangan nangis nanti ayah buatkan yang lebih bagus dari yang dijual pedagang”. Dan setelah 3 hari dengan ketekunan ayah, jadilah mobil-mobilan truk dari kayu dikasih lampu kalau malam lampunya menyala kelap-kelip. Semua mainan yang aku miliki mulai dari tembak-tembakan, gasing, celengan dari tanah liat dan lain-lain semua yang buat ayah.

Sekalipun dia seorang tani, dalam kehidupannya sangat agamis dan sangat ketat mengajarkan agama kepada anak-anaknya. Karena pada masa anak-anaknya ayah pernah mondok di beberapa pesantren:

1.    Pesantren Cadasgantung Waled tahun 1957

2.    Pesantren Karangmalang Ketanggungan Brebes Jawa Tengah tahun 1959

3.    Pesantren Babakan Ciwaringin tahun 1960

4.    Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur tahun 19601

Seorang Petani dan Pedagang Kerbau

Sebelum menjadi terjun menjadi seorang petani, Ayah seperti menggantungkan hidup pada gumpalan awan yang menyeretnya entah ke mana. Ia tidak memiliki penghasilan tetap karena ia telah mencoba berbagai usaha wiraswasta dagang. Ayah juga pernah kerja membantu usaha dagang di toko kakaknya, pernah juga dagang gula, dagang beras, dagang ayam, dagang telur bebek, dan lain-lain. Setelahberumah tangga , ia memutuskan untuk kembali mengolah tanah milik orang tuanya.

Ayah itu memutuskan untuk berjibaku dengan tanah dan matahari sebagai seorang petani. Saat itu Pria itu memutuskan untuk berjibaku dengan tanah dan matahari sebagai seorang petani. Saat itu Raga tidak memiliki modal sama sekali, hanya saja orang tuanya yang saat itu memiliki tanah berbaik hati untuk mengizinkan juga mengajari ia bercocok tanam. Pandangan yang cenderung mengkerdilkan profesi petani masih melekat pada mata Ayah saat itu. Sebelum memulai Bertani, ia berpikir bahwa petani adalah pekerjaan yang melelahkan serta mengharuskannya untuk berkawan dengan panas dan kotor.

Meski direndahkan, Ayah tidak memandang tersebut sebagai perundungan atau semacam kalimat yang membuat hatinya lebam. Ia menjadikan anggapan-anggapan tersebut sebagai bahan bakar untuk tetap bisa bergerak maju. Ayah tetap terus berproses sejak memutuskan untuk menjadi petani bawang merah pada tahun 1966. Proses tersebut ternyata menjadi bisnis yang menghasilkan dan bisa membawanya kepada kehidupan yang lebih baik.

Ia bukan lagi seorang pekerja serabutan yang diombang-ambing oleh nasib. Semua itu karena sebuah bibit kecil yang ia tanam di dalam dirinya: Kemauan untuk terus berusaha, meskipun direndahkan. sudah tidak memiliki pandangan negatif tentang petani.

Selain berkebun bawang merah sumenep, Ayah menanam padi di sawah ketika musim hujan tiba hasilnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan sisanya bisa dijual untuk modal berkebun bawang.

Dalam perjalanan episode selanjutnya setelah bertani sawah dan berkebun bawang merah sumenep lancar yaitu bisnis jualan kerbau.  Berawal dari modal berdagang beberapa tahun sebelumnya yaitu dagang gula dan  dagang beras memicu bagaimana jualan kerbau. Di kampung pada saat itu hewan peliharaan kerbau hampir dimiliki oleh setiap petani sebagai penghasilan tambahan dan tenaganya bisa diperbantukan untuk membajak sawah.

Awal pertama Ayah membeli kerbau anak Rp. 12.000 itu tahun 1970, setelah agak gemuk sekiranya ada untungnya djual lagi hingga harga Rp. 15.000,- . Beli lagi kerbau 12.000 per ekornya hingga kerbau itu besar bisa dijual mencapai Rp.30.000,- Pernah beli kerbau bibit induk dan anak dengan harga Rp. 110.000 dipandang sudah ada untungnya, kerbau itu dijual dengan harga Rp.130.000 pada saat itu.

Setelah bisa jual beli kerbau di kampung lama-lama merambah ke daerah Kabupaten Kuningan, beli kerbau 7 ekor  tapi bisa ngutang 7 bulan, karena uangnya tidak digunakan semua untuk membeli 7 ekor kerbau maka uang setengahnya dibelikan gabah padi 110 kwintal atau 11 ton.

Waktu suharto turun, beli gabah yang tadinya 70.000 perkwintal naik jadi 100.000 sampai 150.000 –n- 200.000.  Dari hasil beli kerbau 7 ekor mendadak banyak untungnya, Saat itu yang menjadi calo kerbau Bapak Jumad beli kerbau dari Kalimanggis.

Gabah yang tadinya modal 70.000 bisa dijual 180.000, saat itu punya gabah dari panin sawah sendiri 8 ton ditambah dapat beli 12 ton hingga akhirnya punya gabah 20 ton.  gabah 20 ton dijual dengan harga 18.000 per kwintal maka punya uang banyak hingga bisa berangkat haji. Setelah menunaikan haji bersama ibuku, Ayah tetap memutuskan untuk berdagang jual beli kerbau.

Munajat Cinta Di Tanah Suci

Makkah dan Madinah merupakan kota suci umat Islam yang terletak di Arab Saudi. Menjadi impian bagi semua manusia bisa melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Meski Makkah dan Madinah sama-sama menyandang sebagai kota suci, ada tempat-tempat yang dianggap mustajabah dalam berdoa.  Karena itu saat di Makkah dan Madinah alangkah baiknya untuk bermunajat.

"Musim haji tahun 2000 merupakan tahun yang paling bersejarah dalam hidup karena pertama kalinya bisa menginjakkan kaki di tanah haram, tanah yang Allah berkahi. Saat memasuki gerbang kota Madinah air mataku tidak terasa menetes di pipi tidak henti-hentinya. Terbayangkan saat Rasulullah Muhammad Saw. berjuang menegakkan Islam di sini, terlihat betapa terang cahaya Madinah dan semakin erat aku mendekap istriku". sambil peluh terus bercucuran di seluruh tubuh.

"Ya Allah.. Ya Rasulullah.. Engkau berikan aku dan istriku kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah suci ini sebagaimana kami impikan di setiap malam. dalam hati Kurdi dan Maslikah terus memanjatkan doa-doa.

"Tiba-tiba di tengah himiptan lautan manusia kami juga diberikan ruang bisa mendekat dan masuk Raudloh. Masya Allah.. kami bisa melaksanakan sholat 2 rokaat dan bermunajat memanjatkan doa-doa. Tidak terasa air mata berjatuhan menetes di pipi dan kupanjatkan sholawat kepada Rasulullah Saw. yang makbaroknya hanya beberapa meter saja dari tempat kami berada, Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa’ala ali Sayyidina Muhammad" Kurdi semakin erat menggenggam tangan istrinya sambil mengangkat tangan melambaikan  tangan ke makbarok Rasulullah.

Di dalam Masjidil Haram Makkah terdapat tempat-tempat tertentu yang sangat istimewa. Saat berada di tempat tersebut, para ulama menganjurkan umat Islam untuk berdoa.

Selain Hijir Ismail, tempat istimewa lainnya di Kabah yaitu Multazam. Ini merupakan dinding yang terletak antara Hajar Aswad dengan pintu Kabah. Multazam adalah tempat yang dipercaya mustajab. Artinya, ketika berada di tempat ini, doa yang dipanjatkan diyakini akan terkabul.

Wajar jika banyak Muslim yang menunaikan ibadah haji dan umroh rela berdesak-desakan. Mereka ingin menyentuh Multazam agar keinginannya terkabul. Ketika berada di Multazam, Bapak Kurdi dan Ibu Maslikah teringat pesan dari Kyai di kampung dianjurkan untuk membaca doa ini.

"Allahumma lakal hamdu hamday yuwafu ni’amaka wayukaafi’u mazidaka ahmadu bijami’i mahamidaka ma ‘alimtu minha wama la a’lamu ‘ala jami’i ni’amika ma ‘alimtu minha wama la ‘alamu wa ‘ala kulli halin allahumma shallii wa sallim ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin, allahumma a’izdni minasy syaithanir rajimi wa a’idzni min kulli su’in wa qanni’ni bima razaqtani wabarik li fihi allahummaj’alni min akrami wafdika ‘alaika wa alzamni sabilal istiqamati hatta alqaka ya rabbal ‘alamin"

"Ya Allah, segala puji bagi-Mu, dengan pujian yang menyampaikan pada kenikmatan-Mu dan menepati tambahan kenikmatan itu. Aku memuji-Mu dengan semua pujian baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui atas segala keadaan. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Saw dan keluargaa Nabi Muhammad Saw. Ya Allah, lindungilah aku dari segala keburukan dan jadikanlah aku qana’ah menerima apa yang Engkau berikan dan berkahilah di dalamnya untukku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang mulia yang Engkau utus, dan tetapkanlah istikamah sampai aku bertemu kepada-Mu, Wahai Tuhan pemilik seluruh alam.”

Selanjutnya Ayah dan Ibu menengadahkan tangan minta ampun dari dosa-dosa yang sudah dikerjakan,

"Allahumma inni astaghfiruka mimma tubtu ilaika minhu summa udtu fih wa astaghfiruka mimma ja’altahu ala nafsi summa la uffi bihi laka wa astaghfiruka mima za’amta anni aradtu bihi wajhaka fakhalata qalbi minhu ma qad amiltu".

"Ya Tuhan, aku memohon ampun kepadamu dari apa-apa yang telah aku sesali lalu aku mengulanginya, dan aku memohon ampun atas apa yang telah Engkau tetapkan namun aku tak melakukannnya, dan aku memohon ampun atas dugaanku terhadap-Mu yang membuat hatiku resah"

Tidak lupa Ayah dan Ibu Berdoa Mohon Perlindungan dari Keburukan Perilaku

"Allahumma inni a'uzubika min syarri ma amiltu wa min syarri ma lam a'mal"

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan sesuatu yang telah aku perbuat dan dari keburukan yang belum aku perbuat."



Demikian kisah ayahku, hidup dari latar belakang seorang petani dan pedagang kerbau hingga kini masih hidup dan usianya sudah 80 tahun. Memiliki anak 7, cucu 16 dan cicit 7.


Merayu Tuhan


 

Cerpen Dakwah

 

MERAYU TUHAN

-Mustopa-

Hari Sabtu ini kebetulan hari penutupan perkenalan mahasiswa baru di kampus biru, seperti kebanyakan mahasiswa baik itu mahasiswa baru maupun mahasiswa senior kalau sudah ada acara seperti ini pasti ada rasa senang yang menggebu-gebu apalagi nanti malamnya ada konser musik Tri Swaka yang lagi viral. Titik kumpul para mahasiswa tampak mulai padat ramai seperti kantin, kafe, sekre UKM dan serambi masjid.


”Andri.., Ghofar.., pesan apa?, minumnya apa?” ucap Yunus


”Es Capucino aja kita mah” sahut Ghofar


”Tumben lu Far, biasanya kan elu esteh buntel yang 2.000-an kan?” tanya Yunus


”Huzz ngece lu, masa mahasiswa minum gituan ya Ndri” Ghofar menimpali Yunus sambil matanya melirik ke Andri.


”Andri.., kayaknya dari tadi elu diam aja lagi ada apa sih?, kayaknya pusiiing gitu” ucap Yunus mulai usil.


”Aku sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan di sini” suara Andri lirih, kaya ada yang sedang disimpan. 


”Cie, cie.. paling juga sedang mikirin si Ais, si cantik anak Tarbiyah itu kan?” canda Yunus sambil menepuk-nepuk Andri.


Kalau sudah berkumpul tiga  mahasiswa itu pasti suasana jadi ramai. Sambil nyeruput es capucino, kopi hitam dan teh bruk untuk menambah suasana tidak lupa gorengan onta (gorengan oncom tahu) dilahapnya habis. Mereka bercengkrama sambil berdiskusi situasi pilpres 2024 lebih banyaknya membahas pacaran atau cinta.


”Apa sih arti cinta?” ucap Yunus memulai diskusi 


”Cinta itu tidak dapat dilihat tapi bisa dirasakan. Cinta juga laksana sebuah kopi. Jika kopi itu tanpa gula, maka akan terasa pahit dan apabila kopi itu diberi gula pasti akan merasa manis. Itulah cinta laksana secangkir kopi. Sekarang Kita dalam posisi mana cinta yang pahit atau cinta yang manis?” Ghofar menjelaskan panjang gaya-gayanya seperti guru besar profesor.


”Aku tidak sependapat dengan lu Far, menurut aku cinta itu Love is Blind, cinta itu buta. buta karena sudah tertutup hatinya dari segala kekurangan dan keburukan. Cinta juga laksana fatamorgana, kekurangannya tertutup menjadi sebuah keindahan dan kebaikan” jawab Yunus.


”Kalau menurut pendapat kamu bagaimana Andri, dari tadi kerjanya melamun aja?” tanya Yunus dan Ghofar. 


”Aku teringat pujangga Khalil Gibran, menurut Gibran, Cinta itu adalah untuk diri sendiri, cinta baginya adalah naluri manusia yang tertinggi. Karena pada hakikatnya manusia memiliki naluri cinta, manusia yang tidak memiliki cinta akan merasa hampa dalam dirinya” jawab Andri kalem.


”Naluri dicintai dan mencintai selalu melekat pada diri manusia itu sendiri. Ada manusia yang cinta pada harta, anak, wanita, dan tahta, sehingga segala sesuatu akan dilakukan demi mendapatkan cinta. Namun cinta sejatilah yang harus dicari manusia agar hidupnya di dunia akan terarah yakni cinta kepada Allah dan Rasulnya” jawab Andri kalem tapi dahsyat.


====


Tidak terasa obrolan sudah sore. Saat sudah menunjukan jam 15.30 kesibukan suasana kampus untuk acara pagelaran musik dan penutupan acara perkenalan mahasiswa baru nanti malam terasa semakin ramai.


Tidak jauh dari kafe tempat mereka nongkrong seorang mahasiswi berhijab melintas dengan mengendarai motor PCX warna merah marun, gaun yang disatu padukan dengan warna motor yaitu gaun busana langsungan berwarna merah agak pias salur-salur, dipundak bergelayut tas gendong keluar dari kampus. Helm warna merah menambah keserasian, orang yang melihat akan susah untuk memejamkan mata.


”Ais.. Ais.., sebentar Ais tunggu” teriak Yunus memanggil Aisyah mahasiswa satu angkatan beda jurusan. Aisyah yang dipanggil tidak menoleh karena tidak terdengar tertutup helm.


”Jaaah sudah jauh Aisnya” Yunus memanggil Aisyah sambil berlari-lari.


”Ngapain juga elu kejar-kejar Aisyah Nus?” tanya Ghofar.


”Kasihan tuh si Andri cinta sama Aisyah belum tersampaikan, merindu tak bertepi” goda Yunus.


”Oh ya, tenang kawan sebelum janur kuning melengkung masih banyak kesempatan untuk memilikinya” Ghofar memberi semangat. 


”Andri.. coba keluarkan jurus-mu, kamu kan pandai berpantun, pandai berpuisi, pandai buat cerpen, pandai buat buku novel. Aku yakin pasti si Ais berlutut dihadapanmu hahahaha” ujar Ghofar lagi.


Tiba-tiba Andri berdiri membacakan puisi cinta;


Aku senantiasa

teringat Ais di sana

Yang mengendarai PCX merah marun


Duhai, apa urusan Aisyah dengan diriku?


Hatiku senantiasa diselimuti

oleh bayang-bayang perempuan cantik itu


Paras wajahnya

slalu membayangi mataku

dan menghuni batinku.


Duhai, kapankah

aku dapat berjumpa dengannya,

Aku selalu berdoa

Di keheningan malam


Semoga bersama kafilah itu ia datang

dan akupun bertemu.

Plok.. plok.. plok.. Yunus dan Ghofar tepuk tangan.


===

Tibalah acara yang di tunggu para mahasiswa di kampus itu dengan kehadiran bintang tamu Youtuber penyanyi Tri Swaka dari Pendopo Lawas Yogyakarta. Acara sudah dibuka, lagu pertama ada Sajadah Merah dengan diiringi gitar akuistik serasa syahdu dinyanyikan oleh Galih Laura mahasiswi baru yang dipilih oleh panitia. Hadirin pun tepuk tangan meriah

Lagu berikutnya adalah lagu Merayu Tuhan, lagu yang sedang Hits Viral di dunia maya. Pembawa acara memanggil seorang mahasiswi cantik semester III di kampus ini yang memiliki suara merdu

”Hadirin yang berbahagia, lagu berikutnya permintaan dari Bapak Rektor yaitu Merayu Tuhan, yang akan dinyanyikan oleh Tri Swaka duet dengan Aisyah artis kampus kita, tepuk tangaaan..” kata pembawa acara bersemangat

Di saat ku menatap Langit
Apa engkau juga menatapnya
Cobalah kau pejamkan mata
Gerimis jatuh bagai air mata

Kuharap dirimu bisa menunggu
Besar harap aku ingin bertemu
Sumpah mati diriku sangat rindu

Aku coba merayu Tuhanku
Berdoa di dalam sujudku
Jika kita ditakdirkan bersatu
Betapa bahagianya aku

Memiliki kamu anugerah
Kau perhiasan yang ku punya
Kusebut namamu di dalam doa
Semoga kita bersam

Setelah lagu Merayu Tuhan selesai dinyanyikan, pembawa acara mengumumkan ada penghargaan ”Pena Langit Award 2023” oleh Bapak Rektor bagi penulis terbanyak terbanyak di kampus ini

”Penghargaan Pena Langit Tahun 2023 diberikan kepada ananda Andri dari mahasiswa Jurusan Sastera Indonesia, anak semester III. Dia  ini sekalipun masih semester III tapi sudah menulis banyak buku beraliran dakwah seperti Ramadhan Menyapa Penduduk Bumi, Perjalanan Haji Wong Kampung, Santri Juga Bisa Jadi Negarawan, Sang Ayah Melintas Waktu, Puisi untuk Perjuangan Palestina, Antologi Puisi Cinta untuk Baginda Nabi Muhammad SAW dan lain-lain. Saya atas nama pribadi dan atas nama kampus kita tercinta sudah sepantasnya memberikan penghargaan kepada Andri sebagai pejuang literasi kampus kita, saya persilahkan Andri untuk naik ke mimbar ini” ujar pak Rektor dalam sambutannya

”Saya panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Sholawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Penghargaan ini saya peruntukkan untuk kedua orang tua saya yang telah mendidik saya sejak kecil sampai sekarang, dan saya khususkan pula persembahan penghargaan ini untuk seseorang yang saya cintai dan sayangi dia ada di tengah-tengah ini, dan dia memiliki suara merdu yang barusan membawakan lagu Merayu Tuhan bersama mas Tri, hemmmuah.. salam sayang dan salam cinta dari pecundang. Andri” kata-kata Andri sambil mengacungkan piala penghargaan.

Hadirin bertepuk tangan bergemuruh riuh di Aula Auditorium. Andri berdiri di sebelah kiri pak Rektor dan Aisyah berdiri di sebelah kanan pak Rektor. Dan Aisyah pun tidak kuasa menahan haru dan emosi merasa bersalah sama Andri, tidak terasa meneteskan air mata.


”Wahai Allah Tuhanku.. Aku coba merayu Mu berdoa di dalam sujudku, jika memang Aisyah ditakdirkan bersatu, Betapa bahagianya aku Andri terus bersujud dan berdoa di keheningan malam.

”Janganlah engkau punya pikiran salah tentang aku, memang hidupku seperti ini apa adanya. Biarkan semua orang menjauh dariku, asal engkau yang aku cintai tetap ada di sisiku. Dan jika engkau mau menerima cintaku, pinanglah  aku dengan Bismillah” kata Aisyah dalam lamunan hatinya.

 

Kampus STID Albiruni Cirebon

10 Oktober 2023

Isi dalam cerita ini fiktif belaka, kalau ada nama, tokoh dan tempat yang sama itu hanya kebetulan saja.