ketakketikmuatopa.com, Jika di tempat lain Tahun Baru 2026 diawali Januari dibuka dengan kembang api dan hitung mundur, maka di Cirebon, tahun baru justru diawali dengan April.
Bukan bulan, Bukan pula musim, Melainkan April—Dede April, atau yang akrab disapa Dede Aping, sosok sederhana dengan suara merdu yang telah menorehkan kisah luar biasa di panggung Dangdut Academy 7 (DA7) Indosiar akhir tahun 2025.
Sekalipun meraih Juara 3 DA7, euforia masyarakat Ciayumajakuning—Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka—seolah tak terbendung. Kepulangan April ke tanah kelahirannya Desa Kalibuntu Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon telah menjadi magnet tersendiri, bukan sekadar sebagai finalis ajang pencarian bakat, melainkan sebagai anak daerah yang membawa harapan, kebanggaan, dan inspirasi.
Dari Nol, dari Jalan Kampung
Kisah hidup April adalah kisah yang membuat banyak orang terdiam—dan kemudian berdiri memberi tepuk tangan.
Sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD, April sudah terbiasa keliling kampung mengamen, menyusuri jalan-jalan desa demi membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Suara yang kini menggema di panggung nasional itu, dulu hanya menemani langkah kecil seorang bocah yang belajar kerasnya hidup terlalu dini.
Tak ada panggung megah, Tak ada lampu sorot, Hanya tekad, suara, dan doa.
Karena itulah, ketika April berdiri di panggung DA7, banyak orang merasa sedang menyaksikan anak mereka sendiri—anak kampung yang berani bermimpi dan berjuang.
Tersenggol Bukan Karena Suara
Kontestasi DA7 2025 menyisakan cerita yang masih hangat dibicarakan hingga kini. April—atau Dede Aping—tersenggol bukan karena kualitas vokal, melainkan karena kalah perolehan Virtual Gift (VG).
Di sinilah gelombang protes publik bermunculan. Media sosial ramai. Kolom komentar penuh pembelaan. Banyak netizen menyuarakan satu hal yang sama: “Yang seharusnya menang adalah Dede April Cirebon.”
Setiap kali April tampil, studio Indosiar bergemuruh, dan ruang-ruang digital dipenuhi dukungan. Kekalahan secara teknis tak mampu mengalahkan satu kenyataan besar: April adalah juara di hati masyarakat.
1 Januari 2026: Tahun Baru Dimulai dengan Konvoi April
Tak heran jika hari pertama Tahun Baru 2026, Kamis (1/1/2026), menjadi momen yang sangat istimewa di Cirebon Raya.
Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan Dede April dijadwalkan keluar dari Tol Palimanan, disambut lautan manusia yang telah menanti sejak siang. Konvoi pun bergerak menyusuri rute panjang penuh makna:
Arjawinangun → Gegesik → Karangampel (Indramayu) → Kapetakan → Gunungsari → Jl. Siliwangi Kota Cirebon, dan berakhir di Pendopo Bupati sudah menanti lautan manusia, di tiba di Pendopo sebagai simbol penyambutan resmi oleh Bupati Cirebon Bapak Drs. H. Imron, M. Ag. atas nama pemerintah daerah dan masyarakat.
Sepanjang perjalanan, satu hal terasa jelas: ini bukan sekadar konvoi, ini adalah arak-arakan cinta rakyat.
2 Januari 2026: Menuju Konser Akbar
Euforia tak berhenti di hari pertama. Pada Jum’at pagi (2/1/2026), tepat pukul 07.00 WIB, rombongan kembali bergerak menyusuri Jl. By Pass menuju Cirebon Timur, sebagai rangkaian menuju agenda puncak.
Puncaknya adalah Konser Kemenangan Dede April, yang akan digelar di Lapangan Bola Desa Pasuruan, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon.
Konser ini tak hanya menghadirkan April sebagai bintang utama, tetapi juga akan dimeriahkan oleh para artis senior tarling dan musik pantura, menghadirkan kolaborasi lintas generasi—tradisi dan harapan yang berpadu di satu panggung.
Juara Nyata di Hati Rakyat
Dukungan untuk Dede April tak hanya datang dari Cirebon. Masyarakat Indonesia dari berbagai daerah ikut menyuarakan simpati dan kebanggaan. Kekalahan karena Virtual Gift tak mampu menghapus fakta bahwa setiap penampilan April selalu dinanti dan dielu-elukan.
April mungkin Juara 3 di papan skor, Namun di mata publik, ia adalah juara sejati, Juara ketulusan, Juara perjuangan, Juara harapan anak-anak kampung yang bermimpi besar.
Bukan Januari, Tapi April
Maka wajar jika banyak orang berkata: “Hanya di Cirebon, Tahun Baru 2026 bukan dimulai Januari, tapi dimulai dengan April.”
April telah menjadi simbol: bahwa mimpi bisa tumbuh dari jalan kampung,
bahwa suara dari nol bisa menggema ke seluruh negeri, dan bahwa cinta rakyat tak selalu ditentukan oleh angka—tetapi oleh ketulusan dan perjuangan.
Selamat datang di Tahun Baru 2026. Selamat datang Aping, eh April.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar