Pedagang Es Kue


Sebuah cerpen dari kehidupan nyata

ketakketikmustopa.com, Pagi itu Jakarta masih setengah terjaga. Jalanan belum sepenuhnya riuh, hanya aroma kopi dan kue bakar dari pedagang kaki lima yang mengambang pelan di udara. Sudrajat berdiri di tepi trotoar, merapikan box es kue jadulnya. Es-es warna-warni di dalamnya berkilau, seperti pelangi kecil yang ia bawa ke mana-mana.

“Semoga hari ini laku, ya Allah…” gumamnya lirih.

Hampir dua puluh tahun ia menjalani hidup dengan langkah yang sama—berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, dari Kemayoran hingga Kota Tua. Dari box es itulah dapur rumahnya mengepul, dari uang receh itulah ia menyekolahkan anak-anaknya.

Namun Sabtu pagi itu, segalanya berubah.

Seorang anak berlari mendekat, matanya menyorot tajam ke arah box es di tangan Sudrajat. Tiba-tiba ia berteriak keras,

“Ini es racun! Esnya beracun!”

Sudrajat terperanjat. 

“Eh, Nak! Tunggu dulu… ini es kue biasa!”

Teriakan itu memecah suasana. Orang-orang berhenti melangkah. Bisik-bisik menyebar cepat, membentuk lingkaran yang kian rapat. Beberapa orang berseragam mendekat dengan wajah serius.

“Pak, ikut kami,” ujar seorang polisi sambil menggenggam lengan Sudrajat.

“Apa maksudnya, Pak? Saya cuma pedagang kecil. Saya jualan es kue, bukan racun,” kata Sudrajat, suaranya bergetar.

Seorang aparat TNI menatapnya tajam. 

“Ada laporan makanan berbahaya. Kami harus periksa.”

“Periksa? Silakan!” 

Sudrajat menunjuk box esnya. 

“Coba cicipi sendiri. Ini bukan spons. Ini es kue asli!”

Namun tak satu pun mendengar. Tubuhnya ditarik, didorong ke ambulans yang terparkir di pinggir jalan. Sepatu boots menghantam betisnya, selang menyabet dadanya. Sakit itu menjalar cepat, tapi lebih cepat lagi luka di hatinya.

“Ngaku saja kalau ini spons! Biar cepat selesai!” bentak seseorang.

“Saya tidak bohong!” jerit Sudrajat dengan air mata yang tak tertahan. 

“Saya cari makan, Pak… bukan penjahat!”

Ia dikurung hampir satu jam di pos kecil. Tubuhnya gemetar, kepala berdenyut. Namun yang paling menyakitkan adalah kalimat itu—dingin dan tajam:

“Jangan pernah berjualan di sini lagi. Kalau ketahuan, kami tarik lagi.”

Malam menjelang. Dengan tubuh bonyok dan langkah tertatih, Sudrajat pulang sendiri naik kereta. Di rumah, istrinya terdiam, anak-anaknya menatap dengan mata cemas.

“Pak… kenapa wajah Ayah?” tanya si bungsu pelan.

“Cuma jatuh, Nak… capek,” 

jawab Sudrajat sambil tersenyum tipis, menyembunyikan perih.

Empat hari berlalu. Sudrajat tak lagi berani kembali ke titik langganannya. Trauma menempel di setiap ingatan. Mangga Besar dan Sawah Besar menjadi rute baru—lebih jauh, lebih berat, tapi terasa lebih aman.

Beberapa hari kemudian, dua aparat datang ke rumahnya. Mereka duduk di ruang tamu sederhana, wajah penuh penyesalan.

“Pak Sudrajat, kami minta maaf. Tindakan kami kemarin berlebihan,” ujar Aiptu Ikhwan pelan.

“Kami hanya merespons laporan warga. Tidak ada niat menyakiti,” tambah Serda Hari.

Sudrajat menunduk. Tangannya bergetar pelan. “Maaf saya terima… tapi rasa takut itu… masih ada,” katanya lirih.

“Apakah Bapak akan berjualan lagi?” tanya Ikhwan ragu.

Sudrajat mengangguk pelan. 

“Harus. Anak-anak saya makan dari itu. Tapi saya hati-hati. Rute baru. Tempat baru.”

Pagi berikutnya, ia kembali memanggul box es kue. Luka di tubuhnya mulai memudar, tapi bekasnya masih tinggal di hati. Ia menatap es-es warna-warni itu dan berbisik,

“Nasib boleh berat… tapi hidup harus jalan.”

Ia melangkah ke tengah keramaian Jakarta. Box es di tangannya kembali berkilau di bawah matahari pagi—seperti pelangi kecil yang tetap muncul, meski hujan kemarin belum benar-benar hilang. Sudrajat berjalan pelan, tapi tegak. Seorang pedagang es kue, dengan keberanian yang tak pernah habis.


Jambret

 

Cerpen dakwah, dari kampus biru STID Albiruni 


ketakketikmuatopa.com, Aku tidak pernah menyangka, satu kejadian sepele yang sering hanya jadi berita singkat—penjambretan—akan menjelma menjadi peristiwa paling kelam dalam hidupku.

Sore itu di Sleman, aku berjalan pulang dengan tas di bahu dan doa-doa kecil di kepala. Jalanan ramai, seperti biasa. Aku bahkan sempat berpikir untuk membeli gorengan di ujung gang sebelum pulang.

Lalu semuanya pecah.

Tarikan keras menghantam pundakku. Tasku direnggut. Tubuhku terhuyung dan jatuh. Aspal mencium lututku dengan panas yang menyengat.

“Tas… tas saya!” teriakku.

Dua motor melesat pergi. Suara knalpotnya mengoyak telinga dan hatiku sekaligus. Aku terduduk, gemetar. Bukan tas yang kupikirkan, tapi rasa aman yang tiba-tiba hilang. Orang-orang berkerumun. Ada yang menolong, ada yang hanya menonton.

Dan di antara keramaian itu, aku melihat mobil suamiku berhenti mendadak.

Pintu terbuka. Ia berlari ke arahku.

“Kamu kenapa?!”

“Aku dijambret…” suaraku nyaris tak keluar. Tanganku menunjuk ke arah jalan. “Mas… tas…”

Tatapannya mengikuti arah jariku. Wajahnya berubah. Matanya menegang—bukan oleh marah, tapi oleh ketakutan kehilangan.

“Kamu tunggu di sini!”

“Mas, jangan!” Aku meraih lengannya. “Biarkan saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa…”

Ia menatapku sebentar. Terlalu sebentar untuk sebuah perpisahan yang tak kami sadari.

“Aku cuma mau berhentiin mereka.”

Mobil itu melesat. Aku menangis. Doaku tercecer di aspal bersama lututku yang berdarah.

Beberapa menit kemudian, keramaian bergeser ke ujung jalan. Suara sirene memecah udara. Aku bangkit tertatih, mengikuti arus orang-orang.

Dan di sanalah mereka. Dua tubuh tergeletak di jalan. Diam. Helm terpisah dari kepala. Darah merembes perlahan, seperti waktu yang berhenti.

Aku menutup mulutku.

“Mas…”

Suamiku berdiri tak jauh. Tangannya gemetar. Wajahnya kosong, seolah jiwanya tercabut lebih dulu.

“Aku cuma mau nyelametin kamu…” katanya lirih.

“Aku nggak niat… demi Allah, aku nggak niat…”

Aku memeluknya erat. Tubuhnya bergetar.

“Aku tahu. Aku lihat semuanya. Aku yang dijambret. Aku yang takut.”

Tapi niat baik tak selalu cukup di hadapan hukum.

Di kantor polisi, kata bersalah jatuh seperti palu. Dua orang meninggal. Akibatnya nyata. Niat tak tercatat di berita acara.

“Bu, secara hukum suami ibu menyebabkan kematian,” kata petugas itu.

Aku berdiri.

“Pak, secara kenyataan, saya korban. Hati saya dirampas duluan sebelum tas saya.”

Di luar sana, dunia ribut. Media sosial berteriak. Ahli hukum bersilang pendapat. Ada yang membela, ada yang menghujat. Tapi di rumah, suamiku hanya duduk diam, menatap dinding, menanggung beban yang tak pernah ia minta.

“Seandainya aku berhenti…” katanya suatu malam.

Aku menggenggam tangannya.

“Seandainya aku tidak dijambret, Mas. Tapi hidup tidak pernah memberi kita ‘seandainya’.”

Akhirnya, perdamaian dipilih. Keluarga mereka dan keluarga kami sepakat berdamai. Suamiku dibebaskan.

Kami pulang tanpa sorak. Tanpa rasa menang.

Malam itu aku bersujud lama di sajadah.

“Ya Allah… ampuni kami. Ampuni mereka.”

Aku teringat dua nyawa yang pergi. Mereka salah—iya. Tapi mereka juga hamba-Mu. Aku tak tahu doa siapa yang kini terputus karena peristiwa ini.

“Ya Allah, jika sore itu Engkau cabut nyawaku, apakah aku sudah siap?”

Aku sadar, tas tak sebanding dengan nyawa. Tapi rasa takut juga bukan dosa. Dan suamiku hanyalah seorang laki-laki yang ingin menjaga amanah-Mu.

Pagi harinya aku berkata padanya,

“Mas, kita tidak dibebaskan karena kita paling benar. Kita dibebaskan karena Allah masih memberi waktu.”

“Waktu untuk apa?” tanyanya pelan.

“Untuk bertaubat. Untuk lebih hati-hati. Untuk belajar bahwa membela diri pun harus tetap tunduk pada kasih sayang Allah.”

Sejak hari itu, setiap aku melangkah keluar rumah, aku membawa satu doa:

“Ya Allah, lindungi kami dari kezaliman, dan lindungi kami pula dari menjadi zalim—meski dengan alasan membela diri.”

Karena dalam satu peristiwa bernama jambret, tak ada pemenang.

Yang ada hanyalah manusia-manusia rapuh yang diingatkan betapa tipis jarak antara niat baik, musibah, dan takdir.

KH. Ridwan Abdullah (Pencipta Lambang NU)


ketakketikmustopa.com, KH. Ridwan Abdullah adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Nahdlatul Ulama’. Beliau tercatat sebagai anggota A’wan Syuriyah Pengurus Besar NU sekaligus pengurus Syuriyah NU Cabang Surabaya, dengan kontribusi besar yang masih terasa hingga kini.

Peran bersejarahnya terjadi pada Muktamar NU ke-2 yang diselenggarakan pada 12 Rabiul Tsani 1346 H / 9 Oktober 1927 di Hotel Peneleh, Surabaya. Dalam muktamar tersebut, untuk pertama kalinya diperkenalkan lambang Nahdlatul Ulama’ yang terpasang di pintu gerbang hotel dan menarik perhatian seluruh peserta.

Lambang itu adalah karya KH. Ridwan Abdullah. Untuk menjelaskan maknanya, dibentuk majelis khusus yang dipimpin Kiai Raden Adnan dari Solo. Di hadapan para peserta, KH. Ridwan Abdullah menerangkan filosofi lambang NU: tali melambangkan agama dan ukhuwah Islamiyah umat Islam sedunia, untaian 99 melambangkan Asmaul Husna, bintang besar melambangkan Nabi Muhammad ﷺ, empat bintang samping melambangkan Khulafa’ur Rasyidin, empat bintang bawah melambangkan empat mazhab, dan sembilan bintang keseluruhan melambangkan Wali Songo.

Penjelasan tersebut diterima secara mufakat, dan Muktamar NU ke-2 menetapkannya sebagai lambang resmi Nahdlatul Ulama’. KH. Ridwan Abdullah juga mengisahkan bahwa sebelum menggambar lambang itu, beliau melakukan shalat istikharah dan mendapat isyarat melalui mimpi.

Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menyambutnya dengan doa dan harapan agar makna dalam lambang NU benar-benar terwujud. KH. Ridwan Abdullah wafat pada tahun 1962 dan dimakamkan di Pemakaman Tembok, Surabaya. Bersama KH. Wahab Chasbullah dan KH. Mas Alwi Abdul Aziz, beliau dikenal sebagai Tiga Serangkai NU—tokoh peletak dasar sejarah, identitas, dan perjuangan NU.

Al-Fatihah..

Akhirat

 

Cerpen religi dari teras Albiruni 

ketakketikmustopa.com, Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menemani sunyi yang telah lama menetap di rumah itu. Kakek Rahman duduk sendiri di kursi kayu tua, punggungnya membungkuk, tangannya gemetar memeluk tongkat. Tubuhnya tak lagi setia. Setiap gerak adalah perjuangan, setiap napas terasa berat.

Sejak Aminah—istrinya—lebih dulu dipanggil Allah, rumah itu kehilangan ruhnya. Tak ada lagi aroma masakan subuh, tak ada lagi suara dzikir lirih yang biasa mengalun sebelum fajar. Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong dan kenangan yang menempel di dinding.

Tiga anaknya telah menjadi orang-orang yang “berhasil”.

Yang pertama tinggal di negeri jauh, bekerja di perusahaan besar.

Yang kedua menempati jabatan tinggi di kota metropolitan.

Yang ketiga menjadi pengusaha yang disegani.

Nama mereka sering disebut orang dengan kagum.

Namun setiap malam, Kakek Rahman hanya ditemani detak jam dan rindu yang menyesak.

Ia bangkit perlahan, berjalan tertatih menuju lorong foto keluarga. Di sana, wajahnya yang dulu gagah tersenyum di samping Aminah yang teduh. Anak-anaknya berdiri di depan mereka—kecil, polos, penuh harapan.

“Aminah…” bisiknya, suara itu rapuh.

“Andai aku lebih banyak menyiapkan akhirat… bukan hanya dunia untuk mereka…”

Air mata jatuh tanpa suara.

Suatu malam, tubuh Kakek Rahman melemah lebih cepat dari biasanya. Nafasnya pendek, dadanya sesak. Kerabat yang menemaninya segera menghubungi ketiga anaknya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu kembali ramai.

Mereka berdiri di sisi ranjang. Terdiam.

Ayah yang dulu tegap kini terbaring kurus, nyaris tak berdaya.

“Abi…” suara anak sulung pecah.

“Kami pulang…”

Kelopak mata Kakek Rahman bergerak perlahan. Ia menatap wajah-wajah itu lama, seakan memastikan mereka nyata.

“Alhamdulillah…” ucapnya lirih.

“Kalian… masih ingat… jalan pulang…”

Anak kedua menggenggam tangan ayahnya.

“Abi… maafkan kami. Kami jarang pulang. Kami terlalu sibuk…”

Kakek Rahman tersenyum lemah.

“Dunia memang… pandai mencuri waktu…”

Ia menoleh pada anak bungsunya.

“Kamu… masih shalat?”

Pertanyaan itu menghantam seperti palu. Anak bungsu menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan ayahnya.

“Kadang, Bi…” jawabnya terbata.

“Sering lalai…”

Kakek Rahman menarik napas panjang.

“Abi tidak takut mati…” katanya pelan.

“Abi hanya takut… bertemu Allah… tanpa cukup bekal… dan melihat kalian… jauh dari-Nya…”

Tangis pecah.

“Abi…” suara anak sulung gemetar,

“Doakan kami… agar kami tak kehilangan arah…”

Kakek Rahman mengangguk pelan.

“Ilmu, jabatan, harta… itu titipan…”

“Kalau harus memilih… pilihlah yang menyelamatkan kalian di akhirat…”

Tangannya gemetar mengusap udara, seakan mencari sesuatu.

“Shalat… jaga shalat…”

“Dan doakan Abi… setelah ini…”

Genggaman itu perlahan melemah. Napas terakhir keluar bersama kalimat yang nyaris tak terdengar:

“Ya Allah… aku pulang…”

Tangis memenuhi ruangan. Rumah besar itu akhirnya bersuara—bukan oleh tawa, melainkan oleh kesadaran yang terlambat.

Cerpen Kakek Rahman bukan sekadar kisah kematian. Ia adalah pesan bagi yang masih diberi waktu. Bahwa dunia boleh dikejar, tetapi akhiratlah tempat kembali.

Karena ketika segalanya ditinggalkan, hanya iman, amal, dan doa yang akan setia menemani. 

KEZIA SYIFA: Antara Tentara Amerika dan Tanah Air


Cerpen ini diambil dari kisah nyata seorang gadis diterima di tentara Amerika dan terancam dicabut kewarganegaraannya.


ketakketikmuatopa.com, Kezia berdiri di depan cermin barak militer itu cukup lama. Seragam loreng yang dikenakannya rapi, nyaris tanpa cela. Ia merapikan ujung lengan, menarik napas, lalu berhenti.

“Aku kelihatan seperti orang lain,” gumamnya pelan.

Pantulan di cermin menunjukkan seorang prajurit perempuan dengan sikap tegap dan tatapan tegas. Namun di balik ketegapan itu, Kezia merasakan sesuatu yang rapuh. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah paspor hijau. Sampulnya sedikit pudar.

“Tangerang, Indonesia,” bisiknya sambil membaca halaman pertama.

Dadanya terasa sesak.

Beberapa bulan sebelumnya, suasana rumah mereka di Amerika terasa sunyi. Kezia duduk di meja makan bersama ayah dan ibunya. Tak ada suara televisi. Hanya detak jam dinding yang terdengar jelas.

“Zia,” ayah membuka percakapan dengan nada hati-hati, “ayah dan ibu ingin bicara jujur.”

Kezia mengangguk.

“Aku dengar, Yah.”

“Biaya kuliah di sini mahal,” lanjut ayah. “Kami belum sanggup.”

Kezia menunduk sejenak, lalu berkata,

“Aku nggak mau berhenti sekolah. Aku juga nggak mau menyusahkan ayah ibu.”

Ibu memandangnya dengan cemas.

“Kamu sudah kepikiran jalan lain?”

Kezia menarik napas panjang.

“Aku mau daftar Army National Guard.”

Sendok di tangan ibu berhenti bergerak.

“Militer?” suara ibu bergetar.

“Iya, Bu. Tapi bukan pasukan tempur. Aku bagian logistik. Gudang. Administrasi.”

Ayah mengusap wajahnya.

“Itu jalan yang berat.”

“Aku tahu,” jawab Kezia mantap. “Tapi aku mau bertanggung jawab atas hidupku sendiri.”

Ibu menatap Kezia lama sekali.

“Kalau begitu,” katanya lirih, “ibu cuma minta satu… jangan lupa asalmu.”

Saat itu Kezia mengangguk, tanpa benar-benar memahami betapa berat makna kalimat itu.

Hari pelantikan terasa seperti mimpi. Aula besar, barisan rapi, dan suara komandan yang tegas menggema.

“Raise your right hand.”

Kezia mengangkat tangan kanannya.

“I solemnly swear…”

Kata-kata itu keluar lancar dari bibirnya. Dadanya dipenuhi rasa bangga. Ia melihat ayah dan ibunya di kejauhan, tersenyum haru.

“Aku berhasil,” bisiknya dalam hati.

“Aku tidak menyerah.”

Namun tak seorang pun berkata bahwa sumpah itu juga membawa konsekuensi yang tak tertulis di wajah siapa pun.

Telepon ayah datang pada suatu malam, saat Kezia sedang membereskan inventaris gudang.

“Zia,” suara ayah terdengar berat, “ayah baru dapat informasi penting.”

“Kenapa, Yah?”

“Kamu tahu aturan soal warga negara Indonesia yang masuk dinas militer asing?”

Kezia terdiam.

“Nggak begitu paham.”

“Status kewarganegaraanmu bisa gugur.”

Kata itu menghantam keras.

“Gugur?” Kezia berbisik.

“Iya. Demi hukum.”

Tangannya gemetar.

“Jadi… aku bukan orang Indonesia lagi?” tanyanya lirih.

Ayah terdiam lama sebelum menjawab.

“Secara hukum… mungkin begitu.”

Air mata Kezia menggenang.

“Ayah… aku nggak pernah berniat meninggalkan Indonesia.”

“Ayah tahu,” jawab ayah cepat. “Tapi negara berjalan dengan aturan, bukan niat.”

Malam itu, Kezia duduk sendiri di gudang logistik. Lampu neon berdengung pelan, seperti suara kesepian.

“Kalau aku salah, di mana letak salahku?” gumamnya.

Ia menatap rak-rak besi yang tersusun rapi. Semua barang punya kode. Semua tercatat.

“Kok hidup manusia nggak sesederhana ini?”

Ia teringat masa kecilnya. Hujan di halaman rumah. Bau tanah basah. Ibu yang memanggilnya masuk karena magrib hampir tiba.

“Kenapa semua itu sekarang terasa jauh banget?” bisiknya.

Panggilan ibu masuk tak lama kemudian.

“Kamu capek, Nak?” tanya ibu lembut.

“Aku kuat, Bu,” jawab Kezia cepat.

“Kamu boleh kuat,” kata ibu pelan, “tapi kamu juga boleh menangis.”

Kezia terdiam lama.

“Bu… kalau pasporku dicabut, aku masih punya rumah nggak?”

Ibu menangis di seberang sana.

“Rumah itu bukan cuma negara,” katanya terbata. “Rumah itu tempat kamu diingat dan didoakan.”

“Tapi Bu… negara nggak mengingat aku lagi.”

Ibu menarik napas panjang.

“Negara punya aturan. Tapi cinta orang tua tidak pernah dicabut.”

Tangis Kezia pecah tanpa suara.

Kini, Kezia kembali berdiri di depan cermin barak. Seragam itu masih rapi. Sikapnya masih tegap. Namun kini ia memahami sesuatu yang baru.

Ia berbisik pada pantulannya sendiri,

“Aku memilih masa depan. Dan aku belajar bahwa setiap pilihan punya harga.”

Ia tidak membenci negaranya. Ia juga tidak menyesali keputusannya. Namun kini ia tahu, cinta tanah air bukan hanya soal perasaan, tetapi juga tentang kesadaran hukum dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Kezia menyimpan paspor itu kembali ke saku seragamnya.

Tanah kelahiran mungkin bisa hilang dari dokumen, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari hati.

-Sekian-

Nantikan juga keseruan kisah ini di buku novel "KEZIA SUIFA: Antara Tentara Amerika dan Tanah Air' karya -@potsuM-

Isra Mi'raj: Perjalanan Agung Nabi Muhammad SAW


ketakketikmustopa.com, Isra Mi’raj adalah salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam, menandai perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab, dan menjadi tonggak spiritual yang mengokohkan iman umat Islam¹.

1. Latar Belakang Isra Mi’raj

Sebelum Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy di Makkah. Dakwah Islam yang beliau sampaikan ditentang karena menentang kepercayaan politeistik dan kepentingan sosial-ekonomi mereka². Dalam kondisi ini, Allah SWT meneguhkan hati Nabi dengan memberikan perjalanan Isra Mi’raj sebagai bukti kemuliaan dan kedekatan Nabi dengan-Nya³.

2. Perjalanan Isra: Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

Perjalanan pertama disebut Isra, yaitu perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, ditempuh dalam sekejap mata. Nabi Muhammad SAW menaiki Buraq, makhluk bercahaya yang lebih cepat dari kilat⁴.

Di Masjidil Aqsa, Nabi SAW memimpin salat bersama para nabi terdahulu, termasuk Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa AS. Salat ini melambangkan kesinambungan risalah Allah dan pengakuan para nabi terhadap kenabian Muhammad SAW⁵.

3. Perjalanan Mi’raj: Naik ke Langit

Setelah Isra, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj, yaitu naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Dalam Mi’raj, beliau melewati tujuh langit dan bertemu para nabi:

1. Langit pertama – Nabi Adam AS

2. Langit kedua – Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS

3. Langit ketiga – Nabi Yusuf AS

4. Langit keempat – Nabi Idris AS

5. Langit kelima – Nabi Harun AS

6. Langit keenam – Nabi Musa AS

7. Langit ketujuh – Nabi Ibrahim AS⁶

Di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu sehari semalam dari Allah SWT. Peristiwa ini menegaskan kedudukan beliau sebagai penutup para nabi⁷.

4. Hikmah Isra Mi’raj:

Peristiwa Isra Mi’raj mengandung hikmah mendalam:

Penguatan iman: Nabi Muhammad SAW diperlihatkan kemuliaan Allah dan dijanjikan pertolongan-Nya⁸.

Perintah shalat: Shalat menjadi ibadah wajib dan sarana komunikasi langsung dengan Allah SWT⁹.

Kesabaran menghadapi ujian: Perjalanan ini mengajarkan umat Islam untuk bersabar dan berharap pertolongan Allah saat menghadapi kesulitan¹⁰.

Kesatuan para nabi: Salat bersama para nabi terdahulu melambangkan kesinambungan risalah dan persaudaraan spiritual¹¹.

5. Penutup

Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan spiritual yang meneguhkan kenabian Muhammad SAW dan menjadi pedoman iman bagi umat Islam. Peristiwa ini mengingatkan kita akan kekuasaan Allah, pentingnya shalat, dan ketundukan total kepada kehendak Allah, sekaligus menjadi sumber motivasi untuk menghadapi ujian hidup dengan sabar dan ikhlas¹².

Wallohu a'lam 


Footnote

1. Al-Maqdisi, Ahmad ibn Yahya. Sejarah dan Keajaiban Isra’ Mi’raj, hlm. 14.

2. Ibn Ishaq, Muhammad. Sirah Nabawiyah, ed. Guillaume, hlm. 295–300.

3. Al-Ghazali, Abu Hamid. Fadhail al-Islam, hlm. 88.

4. Al-Qur’an, Surah Al-Isra’ [17:1].

5. Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Sahih al-Bukhari, Kitab al-Magazi, Hadis No. 7512.

6. Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, Kitab al-Salat, Hadis No. 162.

7. Al-Qur’an, Surah An-Najm [53:13–18].

8. Al-Tirmidzi, Muhammad ibn Isa. Jami’ al-Tirmidhi, Kitab al-Manaqib, Hadis No. 1620.

9. Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah [2:238].

10. Al-Qur’an, Surah Al-Ankabut [29:69].

11. Al-Hakim, Abu Abdillah. Al-Mustadrak, hlm. 301.

12. Ibn Kathir, Ismail. Tafsir al-Qur’an al-Azim, Surah Al-Isra’, hlm. 450.

Tiga Peristiwa Penting di Bulan Sya'ban


ketakketikmuatopa.com, Bulan Sya'ban merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam kalender Islam. Dalam kitab Maadzi Fi Sya'ban karya Abuya Sayid Muhammad Alwi Al Maliki Alhasani, dijelaskan bahwa bulan ini menyimpan beberapa peristiwa penting yang menjadi panduan spiritual bagi umat Islam dalam menata hidup dan ibadahnya¹. Tiga peristiwa utama tersebut adalah sebagai berikut:

1. Taahwilul Qiblah – Mengubah Arah Kiblat

Salah satu peristiwa penting di bulan Sya'ban adalah taahwilul qiblah, yaitu perintah Allah SWT untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah di Makkah². Peristiwa ini bukan sekadar perubahan arah fisik, tetapi juga mengandung pesan mendalam bagi setiap muslim. Allah mengingatkan umat manusia untuk melakukan introspeksi diri dan mengubah orientasi hidup—menjadikan ibadah sebagai tujuan utama. Sebagaimana firman-Nya:

"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)³

Ayat ini mengajarkan bahwa hidup yang berorientasi pada ibadah adalah sumber kebahagiaan dan kenikmatan sejati, baik di dunia maupun di akhirat, bersama orang-orang sholeh.

2. Rof’ul Amal – Pelaporan Amal

Peristiwa kedua adalah rof’ul amal, yaitu saat amal-amal manusia dilaporkan kepada Allah SWT⁴. Bulan Sya'ban sering diibaratkan sebagai momen laporan tahunan, di mana setiap perbuatan manusia—baik besar maupun kecil—dicatat dan disampaikan kepada Allah. Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak puasa di bulan ini agar amalnya dilaporkan dalam kondisi penuh kesungguhan dan ketaatan⁵. Fenomena ini mengingatkan kita agar senantiasa menata amal perbuatan dengan ikhlas dan istiqamah, sehingga setiap langkah kita menjadi catatan yang diridhai Allah.

3. Syahrul Sholawat – Bulan Peningkatan Shalawat kepada Nabi

Bulan Sya'ban juga dikenal sebagai syahrul sholawat, bulan yang istimewa untuk meningkatkan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW⁶. Di bulan ini, Allah menurunkan ayat yang memerintahkan umat Islam untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)⁷

Meningkatkan shalawat di bulan Sya'ban bukan hanya sekadar ibadah tambahan, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Rasulullah dan menumbuhkan cinta yang mendalam kepada sunnah beliau.

Dengan memahami ketiga peristiwa ini, umat Islam diingatkan untuk senantiasa menata hidup, memperbaiki amal, dan menebar shalawat. Bulan Sya'ban bukan sekadar pengantar Ramadhan, melainkan bulan yang sarat hikmah dan pedoman spiritual bagi setiap muslim yang ingin meraih ridha Allah SWT.

Wallohu a'lam 

Footnote:

1. Abuya Sayid Muhammad Alwi Al Maliki Alhasani, Maadzi Fi Sya'ban, hlm. 15-18.

2. Ibid., hlm. 20.

3. Al-Qur’an, QS. Adz-Dzariyat: 56.

4. Abuya Sayid Muhammad Alwi Al Maliki Alhasani, Maadzi Fi Sya'ban, hlm. 22.

5. HR. An-Nasa’i dan Ibnu Hibban, mengenai keutamaan puasa bulan Sya’ban.

6. Abuya Sayid Muhammad Alwi Al Maliki Alhasani, Maadzi Fi Sya'ban, hlm. 25.

7. Al-Qur’an, QS. Al-Ahzab: 56.