Sebuah cerpen dari kehidupan nyata
ketakketikmustopa.com, Pagi itu Jakarta masih setengah terjaga. Jalanan belum sepenuhnya riuh, hanya aroma kopi dan kue bakar dari pedagang kaki lima yang mengambang pelan di udara. Sudrajat berdiri di tepi trotoar, merapikan box es kue jadulnya. Es-es warna-warni di dalamnya berkilau, seperti pelangi kecil yang ia bawa ke mana-mana.
“Semoga hari ini laku, ya Allah…” gumamnya lirih.
Hampir dua puluh tahun ia menjalani hidup dengan langkah yang sama—berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, dari Kemayoran hingga Kota Tua. Dari box es itulah dapur rumahnya mengepul, dari uang receh itulah ia menyekolahkan anak-anaknya.
Namun Sabtu pagi itu, segalanya berubah.
Seorang anak berlari mendekat, matanya menyorot tajam ke arah box es di tangan Sudrajat. Tiba-tiba ia berteriak keras,
“Ini es racun! Esnya beracun!”
Sudrajat terperanjat.
“Eh, Nak! Tunggu dulu… ini es kue biasa!”
Teriakan itu memecah suasana. Orang-orang berhenti melangkah. Bisik-bisik menyebar cepat, membentuk lingkaran yang kian rapat. Beberapa orang berseragam mendekat dengan wajah serius.
“Pak, ikut kami,” ujar seorang polisi sambil menggenggam lengan Sudrajat.
“Apa maksudnya, Pak? Saya cuma pedagang kecil. Saya jualan es kue, bukan racun,” kata Sudrajat, suaranya bergetar.
Seorang aparat TNI menatapnya tajam.
“Ada laporan makanan berbahaya. Kami harus periksa.”
“Periksa? Silakan!”
Sudrajat menunjuk box esnya.
“Coba cicipi sendiri. Ini bukan spons. Ini es kue asli!”
Namun tak satu pun mendengar. Tubuhnya ditarik, didorong ke ambulans yang terparkir di pinggir jalan. Sepatu boots menghantam betisnya, selang menyabet dadanya. Sakit itu menjalar cepat, tapi lebih cepat lagi luka di hatinya.
“Ngaku saja kalau ini spons! Biar cepat selesai!” bentak seseorang.
“Saya tidak bohong!” jerit Sudrajat dengan air mata yang tak tertahan.
“Saya cari makan, Pak… bukan penjahat!”
Ia dikurung hampir satu jam di pos kecil. Tubuhnya gemetar, kepala berdenyut. Namun yang paling menyakitkan adalah kalimat itu—dingin dan tajam:
“Jangan pernah berjualan di sini lagi. Kalau ketahuan, kami tarik lagi.”
Malam menjelang. Dengan tubuh bonyok dan langkah tertatih, Sudrajat pulang sendiri naik kereta. Di rumah, istrinya terdiam, anak-anaknya menatap dengan mata cemas.
“Pak… kenapa wajah Ayah?” tanya si bungsu pelan.
“Cuma jatuh, Nak… capek,”
jawab Sudrajat sambil tersenyum tipis, menyembunyikan perih.
Empat hari berlalu. Sudrajat tak lagi berani kembali ke titik langganannya. Trauma menempel di setiap ingatan. Mangga Besar dan Sawah Besar menjadi rute baru—lebih jauh, lebih berat, tapi terasa lebih aman.
Beberapa hari kemudian, dua aparat datang ke rumahnya. Mereka duduk di ruang tamu sederhana, wajah penuh penyesalan.
“Pak Sudrajat, kami minta maaf. Tindakan kami kemarin berlebihan,” ujar Aiptu Ikhwan pelan.
“Kami hanya merespons laporan warga. Tidak ada niat menyakiti,” tambah Serda Hari.
Sudrajat menunduk. Tangannya bergetar pelan. “Maaf saya terima… tapi rasa takut itu… masih ada,” katanya lirih.
“Apakah Bapak akan berjualan lagi?” tanya Ikhwan ragu.
Sudrajat mengangguk pelan.
“Harus. Anak-anak saya makan dari itu. Tapi saya hati-hati. Rute baru. Tempat baru.”
Pagi berikutnya, ia kembali memanggul box es kue. Luka di tubuhnya mulai memudar, tapi bekasnya masih tinggal di hati. Ia menatap es-es warna-warni itu dan berbisik,
“Nasib boleh berat… tapi hidup harus jalan.”
Ia melangkah ke tengah keramaian Jakarta. Box es di tangannya kembali berkilau di bawah matahari pagi—seperti pelangi kecil yang tetap muncul, meski hujan kemarin belum benar-benar hilang. Sudrajat berjalan pelan, tapi tegak. Seorang pedagang es kue, dengan keberanian yang tak pernah habis.






