Permainan Bola Api Tradisi Unik dan Menarik Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, ribuan santri saksikan permainan ini tadi malam



ketakketikmuatopa.com, — Suasana malam di kawasan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, berubah menjadi lautan cahaya dan semangat pada Sabtu, 31 Januari 2026. Tradisi tahunan Bola Api kembali digelar dan disaksikan oleh ribuan santri dari berbagai pesantren yang berada di lingkungan Babakan Ciwaringin. Tradisi ini menjadi salah satu agenda budaya-religius yang paling dinanti oleh kalangan santri dan masyarakat pesantren.

Sejak sore hari, ribuan santri mulai memadati area pelaksanaan. Mereka datang berkelompok, mengenakan sarung dan peci, sebagian membawa ponsel untuk mengabadikan momen langka tersebut. Ketika malam semakin larut, sorak takbir dan lantunan shalawat mengiringi dimulainya rangkaian atraksi yang sarat makna sejarah dan spiritual.

Tradisi Bola Api menampilkan berbagai permainan ekstrem yang memacu adrenalin, seperti permainan bola api, tongkat api, hingga mandi petasan. Atraksi tersebut dibawakan langsung oleh para santri Madrasah Al-Hikamussalafiyah (MHS) Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin. Meski tampak berbahaya, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman di bawah pengawasan ketat para pembina dan senior pesantren.

Salah satu peserta, Wafa Billah, ia masih tercatat sebagai mahasiswa STID Albiruni Cirebon menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar hiburan atau tontonan semata. Menurutnya, Bola Api memiliki akar sejarah panjang yang bermula sejak masa penjajahan Belanda.

“Permainan bola api ini sudah ada sejak zaman penjajahan. Dulu para kiai memainkan bola api sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah. Bolanya bukan dari kelapa seperti sekarang, melainkan dari batu. Itu adalah pesan bahwa para ulama dan santri tidak gentar menghadapi penindasan,” ujar Wafa.

Ia menuturkan, pasca kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1950-an, tradisi tersebut tetap dilanjutkan dan dilestarikan. Seiring perkembangan zaman, media permainan mengalami penyesuaian. Bola yang semula terbuat dari batu diganti dengan kelapa kering yang direndam minyak tanah, agar lebih memungkinkan dimainkan, namun tetap menyimpan tantangan dan simbol keberanian.

“Kalau dulu api digunakan dalam konteks perlawanan terhadap penjajah, sekarang maknanya lebih spiritual. Ini adalah bentuk ikhtiar batin untuk merasakan keajaiban dan perlindungan Allah SWT,” jelasnya.

Kang Ubay juga menegaskan bahwa sebelum mengikuti permainan Bola Api, para santri tidak serta-merta langsung tampil. Mereka diwajibkan menjalani tirakat khusus, berupa laku spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tirakat ini diyakini sebagai ikhtiar agar para santri terhindar dari luka dan bahaya selama atraksi berlangsung.

“Tanpa tirakat, tidak boleh tampil. Ini bukan uji nyali, tapi uji keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah,” tegasnya.

Pelaksanaan tradisi Bola Api tahun ini memiliki makna khusus bagi lingkungan Madrasah Al-Hikamussalafiyah. Selain sebagai tradisi tahunan, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya masa belajar santri tingkat Aliyah, sekaligus momentum spiritual untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Api yang menyala menjadi simbol penutupan satu fase kehidupan santri dan persiapan memasuki fase baru dengan jiwa yang lebih matang.

Antusiasme ribuan santri yang memadati arena menunjukkan bahwa tradisi Bola Api masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah perubahan zaman. Di tengah arus modernisasi, Babakan Ciwaringin tetap teguh menjaga tradisi pesantren yang tidak hanya menyimpan nilai budaya, tetapi juga mengandung pesan sejarah, keberanian, dan kedalaman spiritual.

Tradisi Bola Api Babakan Ciwaringin bukan sekadar atraksi ekstrem. Ia adalah jejak perlawanan ulama, laku spiritual santri, dan simbol kesinambungan pesantren dalam merawat warisan masa lalu untuk menyalakan cahaya di masa depan.


-@potsum jurnalis al-biruni 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar