One Alumni One Besan, Berjodohnya Anak Satu Alumni

 

ketakketikmuatopa.com, Cerpen dilatar belakangi perkumpulan alumni MAN 91

“Wis, ayo padha masuk dulu. Yang sudah di Babakan dan Susukan padha kumpul ning kene.”

Suara Ibu Nyai Hj. Dewi Rahmawati terdengar dari teras rumahnya di Babakan. Pagi itu halaman rumah beliau lebih ramai dari biasanya. Beberapa mobil terparkir rapi, suara salam bersahutan, aroma kopi hitam dan gorengan menyeruak dari dapur.




“MasyaAllah, rame pisan,” kata Ibu Hj. Rosilah dari Susukan, sambil menurunkan tas kecil dari pundaknya.

“Saya kira cuma berangkat biasa, ternyata seperti mau reuni.”

Ibu Nyai Dewi tersenyum lebar.

“Nggeh, Bu Ros. Iki kondangan plus sejarah. Ora saben dina alumni ’91 dadi besanan.”

Bu Hj. Rosilah tertawa kecil.

“Lulusnya tiga puluh lima tahun lalu, saiki malah nyambung mantu. MAN Babakan iki pancen luar biasa.”

Aku, Mustofa, menyambut beliau.

“Alhamdulillah Bu, alumni kita ini seperti tali, ditarik jauh tetap nyambung.”

“Betul, Kang,” sahut Bu Hj. Rosilah.

“Dulu kita bareng-bareng ujian, sekarang bareng-bareng doa buat anak-anak.”

---

Kang Aas Qusyaeri keluar sambil membawa kunci mobil.

“Bu Nyai, Bu Ros, kita berangkat bareng atau pisah mobil?”

“Bareng wae,” jawab Ibu Nyai.

“Sing penting kumpul, ben obrolane nyambung terus.”

Bu Shofiyatun ikut menyela,

“Kalau begini rasanya seperti mau studi tour, bukan kondangan.”

Kami tertawa.

“Sing penting,” tambah Ibu Nyai sambil merapikan kerudungnya,

“niatnya silaturahmi. Allah yang nyambungke.”

---

Di dalam mobil, obrolan tak pernah putus.

“Kang Mustofa,” tanya Bu Hj. Rosilah, “bener ya yang mantu ini anak alumni dua-duanya?”

“Iya, Bu. Sama-sama anak MAN ’91.”

“MasyaAllah,” ucapnya lirih.

“Berarti ini bukan sekadar jodoh anak, tapi jodoh persahabatan.”

Bu Fatimah mengangguk setuju.

“Dulu kita mungkin tak saling kenal dekat, tapi Allah menyambung lewat anak-anak.”

---

Sesampainya di Rajagaluh, suasana hajatan terasa hangat. Shalawat mengalun, tamu berdatangan, wajah-wajah lama saling menyapa.

“Assalamu’alaikum, Bu Hj. Uun,” sapaku.

“Wa’alaikumussalam,” jawab beliau sambil tersenyum.

“Alumni komplit hari ini ya.”

Bu Hj. Rosilah menimpali,

“Ini alumni plus besan, Bu.”

Bu Hj. Uun tertawa.

“Iya, betul. Dulu satu angkatan, sekarang satu keluarga.”

---

Di sisi lain, Ibu Hj. Musyarofah duduk berdampingan dengan suaminya, KH. Otong Sirojudin Zen.

“Kita ini bukan cuma menikahkan anak,” ujar Bu Hj. Musyarofah.

“Kita sedang menyambung silaturahmi lama.”

KH. Otong mengangguk tenang.

“Kalau niatnya baik, Allah yang jaga.”

---

Beberapa bulan sebelumnya…

“Bu, saya silaturahmi ya,” kata Bu Hj. Uun.

“Monggo, monggo,” jawab Bu Hj. Musyarofah ramah.

Faiz Isnan Abdutachman menyetiri mobil. Seorang gadis keluar membawa nampan kopi.

“Silakan, Bu.”

Tatapan singkat terjadi.

MasyaAllah, cantik…

Astaghfirullah, ganteng…

Tak ada kata, hanya getar di hati.

---

Dalam perjalanan pulang…

“Nak, kamu suka sama anaknya Bu Hj. Musyarofah?”

“Iya, Bu.”

“Kalau Ibu jodohkan?”

“Mau, Bu.”

Empat bulan berlalu. Hari ditetapkan.

---

Di tengah acara, foto bersama keluarga besar alumni ’91 diambil.

Cekrek… cekrek…

Tak lama, foto itu muncul di grup Sahabat MAN ’91 Bacicir.

MasyaAllah… One Alumni One Besan!

Alumni MAN Babakan makin berkah.

Bu Hj. Rosilah tersenyum melihat layar ponselnya.

“Kalau begini, jangan-jangan nanti giliran anak alumni lain.”

Ibu Nyai tertawa pelan.

“Aamiin. Sing penting rukun lan berkah.”

Aku memandang wajah-wajah sahabat lama itu dan berbisik dalam hati:

Alumni bukan hanya kenangan masa lalu.

Ia adalah tali panjang yang mengikat masa depan.

Dan kami pun pulang dengan satu kalimat yang sama-sama kami yakini:

Sampai jumpa di reuni pernikahan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar