ketakletikmustopa.com, Halaman kampus sore itu tampak ramai. Para mahasiswa hilir mudik menyiapkan perlengkapan untuk sholat Idul Fitri esok hari. Ada yang memasang spanduk, mengatur sound system, hingga menyusun sajadah.
Di sudut halaman, pak Dr. Ahmad Husni duduk santai sambil memperhatikan. Sesekali beliau tersenyum melihat kesibukan para mahasiswa.
“Wah, kalau begini suasananya… Lebaran sudah terasa ya,” ujarnya ringan.
Husein yang sedang menggulung kabel menoleh.
“Iya, Pak. Tinggal nunggu takbir aja ini.”
Pak Ahmad Husni mengangguk, lalu tiba-tiba bertanya,
“Eh, saya mau tanya. Ada yang tahu nggak… apa arti filosofi ketupat Lebaran?”
Mahasiswa langsung saling pandang.
Siti menjawab duluan,
“Kalau saya taunya… makanan wajib, Pak.”
“Kalau saya,” sambung Husein, “yang penting ada opor, Pak.”
Semua tertawa.
Pak Dr. Ahmad Husni ikut tersenyum.
“Jawaban jujur, tapi belum dalam.”
Rina yang sedang melipat sajadah ikut nimbrung.
“Memang ada sejarahnya ya, Pak?”
“Ada,” jawab Pak Ahmad Husni. “Tradisi ketupat ini sering dikaitkan dengan dakwah .”
“Wali Songo, Pak?” tanya Husein penasaran.
“Iya. Beliau menggunakan budaya sebagai media dakwah. Salah satunya lewat ketupat. Supaya masyarakat mudah memahami ajaran Islam tanpa merasa asing.”
Siti mengangguk.
“Jadi ketupat itu bukan sekadar makanan ya, Pak?”
“Bukan,” jawab beliau. “Ia adalah simbol.”
Makna "Ngaku Lepat"
Pak Ahmad Husni melanjutkan sambil berdiri mendekati mereka.
“Dalam bahasa Jawa, ‘kupat’ itu berarti ngaku lepat—mengakui kesalahan.”
Rina berhenti melipat sajadah.
“Berarti… ketupat itu simbol minta maaf, Pak?”
“Betul,” kata beliau. “Makanya muncul di momen Lebaran. Karena setelah Ramadhan, kita kembali ke fitrah dan saling memaafkan.”
Husein tersenyum kecil.
“Pantesan tiap Lebaran kita keliling minta maaf…”
Siti bertanya lagi,
“Tapi Pak… kenapa harus ketupat? Kenapa bukan makanan lain?”
Pak Ahmad Husni mengambil sehelai janur yang tergeletak di meja.
“Lihat ini. Anyaman ketupat itu rumit. Seperti apa?”
“Seperti… hidup kita, Pak?” jawab Rina.
“Ya,” kata beliau. “Kesalahan manusia itu berlapis, tidak sederhana. Tapi setelah dibuka…”
“Jadi putih,” sambung Husein cepat.
“Betul,” kata beliau. “Itu simbol hati yang kembali bersih setelah Ramadhan.”
Siti tersenyum.
“Berarti ketupat itu kayak ‘hasil akhir’ Ramadhan ya, Pak?”
“MasyaAllah… tepat sekali,” jawab beliau bangga.
Husein langsung mengangkat tangan lagi.
“Pak, ini pertanyaan penting. Kenapa harus sama opor?”
Mahasiswa lain langsung tertawa.
Pak Ahmad Husni ikut tersenyum.
“Baik. Ketupat itu rasanya bagaimana?”
“Tawar, Pak,” jawab mereka serempak.
“Nah, opor itu gurih, kaya rasa. Artinya apa?”
Rina berpikir sejenak.
“Mungkin… hidup itu nggak cukup bersih, tapi juga harus penuh rasa?”
“Lebih tepat,” jawab beliau, “ketupat itu hati yang bersih. Opor itu nikmat Allah. Kalau hati kita bersih, kita bisa merasakan nikmat dengan benar.”
Siti mengangguk pelan.
“Kalau hati nggak bersih… semua terasa biasa saja ya, Pak?”
“Iya,” jawab beliau. “Makanya Lebaran itu bukan soal makanan, tapi soal rasa syukur.”
Langit mulai gelap. Suara takbir dari masjid sekitar mulai terdengar samar.
Pak Ahmad Husni menatap para mahasiswa yang masih sibuk.
“Besok kalian bukan hanya menyiapkan sholat Id,” katanya. “Tapi juga menyambut hati yang baru.”
Husein tersenyum.
“Dengan ketupat dan opor, Pak…”
Pak Ahmad Husni tertawa kecil.
“Boleh… tapi jangan lupa maknanya.”
Rina menatap langit yang mulai gelap.
“Pak… ternyata dari ketupat saja kita bisa belajar banyak ya…”
“Iya,” jawab beliau lembut. “Karena kadang, Allah menyampaikan pelajaran besar… lewat hal yang sederhana.”
Mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Tapi kali ini, bukan hanya sibuk mempersiapkan acara…
melainkan juga mempersiapkan hati—
seputih isi ketupat yang siap dibuka di hari kemenangan.
Wallohu a'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar