ketakketikmuatopa.com, Sejarah besar sering kali ditopang oleh nama-nama yang tidak selalu tercatat dengan tinta tebal. Ia hidup dalam ingatan kolektif, tetapi kerap luput dari sorotan. Di balik berdirinya Nahdlatul Ulama—jam’iyah ulama terbesar di Nusantara—terdapat sosok kiai yang perannya sangat menentukan, namun justru jarang disebut. Bukan karena jasanya kecil, melainkan karena ketawadhuannya yang besar. Sosok itu adalah KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, seorang ulama alim yang dikenal lembut lisannya, jernih batinnya, dan jauh pandangannya dalam membaca masa depan umat.
Dalam riwayat yang disampaikan oleh KH As’ad Syamsul Arifin, murid utama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, diceritakan bahwa jauh sebelum tahun 1926 telah tumbuh kegelisahan kolektif di kalangan ulama Nusantara. Kegelisahan ini lahir dari kesadaran historis bahwa umat Islam membutuhkan sebuah wadah bersama—jam’iyah—yang bukan sekadar tempat berkumpul para kiai, tetapi juga sarana menjaga agama, membela umat, dan merawat tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah tekanan zaman kolonial dan perubahan sosial yang cepat.1
Pada masa itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menggagas nama Jami’iyah Ulama sebagai bentuk organisasi yang hendak didirikan. Secara lahiriah, nama tersebut tampak tepat dan representatif: sebuah perkumpulan para ulama. Namun, dalam musyawarah para kiai, pembahasan tidak berhenti pada soal administratif. Diskusi berkembang lebih dalam, menyentuh persoalan ruh, orientasi, dan arah perjuangan organisasi yang akan dilahirkan.
Di sinilah peran KH Mas Alwi bin Abdul Aziz tampil menentukan.
Dengan kejernihan ber66pikir dan ketajaman batin, beliau mengusulkan sebuah nama yang tidak sekadar formal, tetapi sarat makna dan energi sejarah:
Nahdlatul Ulama — Kebangkitan Para Ulama.2
Mendengar usulan tersebut, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengajukan pertanyaan yang penuh kehati-hatian dan kebijaksanaan:
Lllk“Mengapa harus memakai kata nahdlah? Mengapa tidak cukup jami’iyah ulama saja?”
Pertanyaan ini dijawab oleh Kiai Mas Alwi dengan kalimat sederhana, namun sangat visioner—sebuah jawaban yang kelak terbukti mampu membaca realitas umat jauh ke depan:
“Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (kebangkitan). Ada kiai yang cukup mengurusi pondoknya sendiri dan tidak mau peduli terhadap jam’iyah serta urusan umat.”3
Jawaban tersebut bukan sindiran, apalagi celaan. Ia merupakan cermin kejujuran terhadap kondisi sosial-keagamaan umat Islam pada masa itu. KH Mas Alwi memahami bahwa organisasi ulama tidak boleh berhenti pada simbol kelembagaan atau forum silaturahmi semata. Ia harus menjadi gerakan kesadaran, panggilan tanggung jawab, dan sarana perjuangan kolektif.
Kata nahdlatul mengandung makna bangkit, bergerak, dan menolak diam. Ia menuntut para ulama untuk melampaui batas-batas kepentingan personal dan lokalitas pesantren, menuju kepedulian yang lebih luas: umat, bangsa, dan peradaban. Dalam perspektif ini, NU sejak awal tidak dimaksudkan sebagai organisasi pasif, melainkan sebagai jam’iyah yang hidup dan responsif terhadap zaman.4
Musyawarah itu pun mencapai mufakat. Para kiai sepakat menerima usulan KH Mas Alwi bin Abdul Aziz. Maka ditetapkanlah nama Nahdlatul Ulama, sebuah nama yang bukan sekadar identitas organisasi, tetapi juga doa panjang, cita-cita bersama, dan kompas perjuangan yang terus hidup hingga hari ini.
Namun sejarah kerap bersikap sunyi kepada para perintis yang ikhlas. Nama KH Mas Alwi bin Abdul Aziz tidak sepopuler tokoh-tokoh sentral lainnya. Padahal, tanpa gagasan beliau, NU mungkin lahir dengan ruh yang berbeda. Dari kisah ini, kita belajar satu hikmah besar ala pesantren:
Orang besar tidak selalu dikenal, tetapi jejaknya menghidupkan zaman.
KH Mas Alwi bin Abdul Aziz adalah teladan ulama yang bekerja dalam senyap, tetapi berpikir jauh ke depan. Beliau tidak mengejar nama—justru namanyalah yang menghidupkan sebuah jam’iyah, yang hingga kini menjadi penopang utama umat Islam Nusantara.
Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.
Wallohu a'lam
Catatan Kaki
1. Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952–1967, terj. Farid Wajidi (Yogyakarta: LKiS, 2003), hlm. 21–24.
2. KH As’ad Syamsul Arifin, riwayat pendirian Nahdlatul Ulama, dikutip dalam “Sejarah Berdirinya NU,” NU Online.
3. Ibid.
4. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 87–90.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar