ketakketikmustopa.com, Malam itu langit seperti luka yang belum sempat dijahit.
Di atas Selat Hormus, gemuruh pesawat tempur meraung seperti binatang buas yang kelaparan. Cahaya rudal membelah gelap, menyisakan kilatan merah yang membuat laut tampak seperti darah yang beriak. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang bukan lagi sekadar berita—ia telah menjadi napas yang menyesakkan.
Minyak menjadi alasan yang tak pernah jujur disebutkan.
Kapal-kapal tanker dari berbagai penjuru dunia tertahan di perairan, seperti waktu yang dipaksa berhenti. Selat Hormus ditutup. Harga minyak melonjak. Di kota-kota jauh dari medan perang, rakyat kecil mulai merasakan dampaknya—meski mereka tak pernah memegang senjata.
Namun di antara semua itu, ada luka lain yang lebih sunyi.
Luka bernama cinta.
---
Fatime Mernisi berdiri di tepi pantai, kerudungnya berkibar diterpa angin malam. Matanya menatap laut yang gelap, namun pikirannya jauh lebih gelap dari itu.
Di sampingnya berdiri seorang pria.
Namanya kini Ali Atturki.
Namun Fatime tahu—dan dunia akhirnya tahu—bahwa ia bukanlah Ali.
Ia adalah Andrea Laurent.
Seorang pemuda dari negeri yang bagi banyak orang di tanah ini adalah musuh.
Semua bermula dari pertemuan sederhana di Mesir. Dalam program pertukaran mahasiswa, mereka dipertemukan oleh takdir yang tak pernah meminta izin pada politik. Diskusi berubah menjadi perdebatan, perdebatan menjadi persahabatan, dan tanpa sadar, persahabatan itu menjelma menjadi cinta.
Namun dunia tidak memberi mereka ruang.
Ayah Fatime, Tuan Abdullah, menolak keras hubungan itu. Baginya, ini bukan sekadar cinta—ini soal sejarah, kehormatan, dan luka yang belum kering.
Andrea mencoba melawan.
Ia mengganti namanya, menjadi Ali Atturki. Ia berharap cinta bisa menghapus batas.
Namun kebenaran selalu menemukan jalannya. Dan ketika penyamarannya terbongkar, semuanya menjadi lebih rumit.
---
Ali menunjuk ke arah kapal-kapal yang tertahan di laut.
“Lihat itu, Fatime…” suaranya bergetar.
“Kapal-kapal membawa minyak… tapi tidak boleh lewat.”
Fatime terdiam.
“Kenapa?” lanjut Ali.
“Karena politik. Karena dianggap musuh.”
Ia menoleh.
“Lalu kenapa kita juga tidak boleh mencintai?”
Air mata Fatime jatuh.
“Padahal jutaan orang akan menderita karena perang ini… seperti kita…”
Suara ledakan terdengar dari kejauhan.
“Kalau cinta kita tidak boleh…” kata Ali lirih,
“betapa bodohnya dunia ini… karena mereka tidak merasakan sakitnya dilarang mencintai.”
Fatime menangis.
“Ali… atau Andrea… aku tidak tahu harus memanggilmu apa lagi…”
“Aku mencintaimu… tapi aku juga mencintai keluargaku… negaraku…”
Ali terdiam.
Malam itu, di tepi Selat Hormus, dua hati saling bertanya dalam diam:
Sampai kapan cinta harus menunggu dunia menjadi manusia?
---
Pagi tidak benar-benar datang.
Langit tetap abu-abu, seolah matahari pun ragu menyinari bumi yang sedang kehilangan nurani. Asap tipis terlihat di kejauhan—sisa kapal yang terbakar.
Di rumahnya, Fatime mendengar suara ayahnya.
“Penutupan selat harus tetap dijaga. Tidak ada kompromi.”
Fatime menutup mata.
Kini ia sadar—perang ini telah masuk ke dalam keluarganya.
---
Di sisi lain, Ali berdiri di pelabuhan kecil.
Ia melihat kapal-kapal yang terjebak, awak-awaknya menunggu tanpa kepastian.
Ia membuat keputusan.
“Kalau dunia tidak mau bergerak… maka kita yang harus bergerak.”
---
Malam itu, kabar datang:
Sebuah kapal tanker kehilangan kendali di jalur rawan. Jika tidak segera ditangani, ia bisa meledak dan menciptakan bencana besar.
Semua pihak saling menunggu.
Tak ada yang berani bertindak.
---
Fatime menerima pesan:
“Aku akan ke laut malam ini. Ada orang-orang yang harus diselamatkan. Kalau aku tidak kembali… maafkan aku.”
Air matanya jatuh.
Namun kali ini, ia tidak diam.
Ia berlari menuju dermaga.
---
Ali terkejut melihatnya.
“Aku ikut,” kata Fatime.
“Tidak! Ini berbahaya!”
“Cinta kita juga berbahaya,” jawabnya.
“Tapi aku tetap memilihnya.”
Ali terdiam. Dan akhirnya… mengalah.
---
Perahu kecil itu melaju membelah gelap.
Di kejauhan, kapal tanker tampak seperti raksasa yang terluka. Drone melintas di langit. Lampu patroli menyapu laut.
“Takut?” tanya Ali.
“Takut kehilanganmu lebih menakutkan,” jawab Fatime.
Namun ketegangan segera memuncak.
Sirene terdengar.
Kapal patroli mendekat.
“Cepat!” bisik Ali.
Perahu melaju lebih kencang, nyaris tertangkap cahaya.
---
Mereka tiba di kapal tanker.
Awak kapal berteriak meminta tolong. Tangga diturunkan. Evakuasi dimulai.
Fatime menarik seorang wanita tua. Ali membantu yang lain.
Namun tiba-tiba—Ledakan!
Sebuah drone jatuh tidak jauh dari kapal. Api menyala. Laut memerah.
“Kita harus pergi sekarang!” teriak seseorang.
Ali melihat—masih ada orang di atas kapal. Ia ragu. Waktu hampir habis.
“Ali… pilih,” kata Fatime.
Satu kata. Namun beratnya seperti dunia. Ali menggertakkan gigi.
“Aku tidak bisa meninggalkan mereka!”
Ia kembali naik ke kapal. Fatime menatapnya, air mata mengalir. Ia tahu… ini mungkin terakhir kalinya.
---
Perahu kecil kini penuh. Mesin dinyalakan. Namun Ali belum kembali. Api semakin besar. Asap menutup pandangan.
“Ali!!!” teriak Fatime.
Tidak ada jawaban. Hanya suara laut. Dan perang yang tak peduli pada cinta.
---
Malam itu menjadi saksi:
Bahwa di Selat Hormus—di tempat dunia bertarung demi minyak—ada dua hati yang bertarung demi cinta.
Satu bertahan di antara api. Satu menunggu di atas air. Dan dunia tetap berputar… tanpa memberi jawaban.
Apakah Ali akan kembali?
Ataukah ia menjadi bagian dari korban yang tak pernah disebut namanya?
Fatime terduduk, menatap laut yang gelap.
Air matanya jatuh tanpa suara. Dan pertanyaan itu kembali menggantung di langit yang luka:
Apakah cinta bisa selamat… ketika dunia memilih untuk saling menghancurkan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar