Diskusi Ilmuan Persia: di Warung Kopi Al-Biruni

 


ketakketikmustopa.com, Malam itu, angin Cirebon berhembus pelan di halaman kampus STID Al-Biruni, Babakan Ciwaringin. Lampu temaram warung kopi sederhana di sudut kampus menjadi saksi perbincangan hangat antara dosen dan mahasiswa.

Di meja kayu panjang, duduk Pak Dr. Rachman—dosen ahli sejarah dan geopolitik—dikelilingi beberapa mahasiswa: Husein, Fikri, dan Zizi.

“Pak…,” Husein membuka percakapan, “perang antara Iran, Amerika, dan Israel ini kayaknya nggak ada tanda-tanda reda ya?”

Pak Rachman menghela napas pelan.

“Memang belum. Ini bukan sekadar konflik hari ini, tapi akumulasi sejarah panjang sejak Revolusi Iran 1979.”

Zizi menimpali, “Tapi Pak… kenapa Iran selalu dilihat sebagai negara konflik?”

Pak Rachman tersenyum.

“Karena kita lupa melihat sejarahnya sebagai pusat ilmu.”

Ia menegakkan duduknya.

“Kalian tahu, para ilmuwan Persia tidak hanya menulis ilmu, tapi juga meletakkan fondasi cara berpikir.”

Fikri langsung berkata, “Seperti Al-Khwarizmi ya, Pak?”

“Ya,” jawab Pak Rachman.

“Dalam pengantar kitabnya, Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi menulis:

 ‘هذا كتاب المختصر في حساب الجبر والمقابلة’

‘Ini adalah kitab ringkasan tentang perhitungan aljabar dan penyelesaian.’

“Kalimat sederhana… tapi dari sinilah lahir ilmu aljabar yang mengubah dunia.”

Husein mengangguk pelan.

Pak Rachman melanjutkan,

“Dalam kedokteran, Ibnu Sina dalam Al-Qanun fi al-Tibb menulis:

‘الطب هو حفظ الصحة وبرء المرض’

‘Kedokteran adalah menjaga kesehatan dan mengobati penyakit.’

“Definisi ini masih relevan sampai hari ini.”

Zizi tampak kagum. “Sederhana tapi dalam sekali, Pak…”

“Betul,” kata Pak Rachman.

“Lalu Al-Razi, dalam praktiknya, menekankan observasi klinis. Ia dikenal melalui karyanya tentang cacar dan campak—Al-Judari wa al-Hasbah—yang menjadi rujukan dunia medis.”

Fikri menimpali, “Berarti mereka sudah pakai metode ilmiah ya?”

“Ya,” jawab Pak Rachman. “Dan itu berbasis pengalaman langsung.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum.

“Sekarang kita masuk ke sisi yang lebih puitis…”

Husein tertarik. “Omar Khayyam, Pak?”

Pak Rachman mengangguk.

“Dalam Rubaiyat, Omar Khayyam menulis:

 ‘اغتنم الفرصة قبل فواتها’

‘Manfaatkanlah kesempatan sebelum ia berlalu.’

“Seorang matematikawan… tapi juga seorang yang memahami makna hidup.”

Zizi tersenyum tipis.

“Indah sekali…”

Pak Rachman lalu menatap mereka lebih dalam.

“Dan dalam filsafat, Mulla Sadra mengajarkan konsep gerak substansial—bahwa realitas itu tidak diam, tetapi terus berubah menuju kesempurnaan.”

Fikri mengangguk.

“Berarti manusia juga harus berkembang terus ya, Pak?”

“Betul.”

Pak Rachman melanjutkan,

“Al-Biruni juga memberi teladan luar biasa. Dalam kajiannya tentang India, ia tidak menghakimi, tapi memahami. Ia menunjukkan bahwa ilmu itu harus objektif dan lintas budaya.”

Husein terdiam, lalu berkata pelan,

“Jadi Pak… ironis ya. Dulu pusat ilmu dunia, sekarang jadi pusat konflik dunia.”

Pak Rachman tersenyum, namun kali ini lebih dalam.

“Itulah sejarah… naik dan turun.”

Ia menatap satu per satu mahasiswanya.

“Tapi ilmu… tidak pernah mati.”

Zizi bertanya lirih, “Lalu kami harus bagaimana, Pak?”

Pak Rachman menjawab dengan tenang,

“Belajar… menulis… dan menjaga akal tetap jernih.”

Ia menambahkan,

“Karena perang terbesar manusia… bukan di medan tempur. Tapi di dalam pikirannya.”

Malam semakin larut. Warung kopi itu tetap sederhana, namun percakapan yang terjadi di dalamnya terasa begitu luas.

Di sudut kecil kampus Al-Biruni, diskusi itu seolah menjembatani masa lalu dan masa kini—menghidupkan kembali suara para ilmuwan Persia dalam pikiran generasi muda.

Dan di antara aroma kopi yang menguar… sejarah kembali berbicara.

Wallohu a'lam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar