ketakketikmustopa.com, Senja Ramadhan turun perlahan di halaman STID Al-Biruni Cirebon.
Mahasiswa bergegas menuju masjid pesantren untuk berbuka puasa. Aroma kolak dan gorengan dari dapur asrama bercampur dengan suara lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Namun di tangga perpustakaan kampus, seorang mahasiswi duduk termenung.
Namanya Fitriani.
Di tangannya ada ponsel yang berkali-kali ia buka dan tutup.
Nama yang muncul di layar membuat dadanya berdebar.
Ahmad Fauzan – Cairo
Fauzan adalah lelaki yang sangat ia cintai. Mereka bertemu saat kuliah di kampus dakwah itu. Fauzan dikenal sebagai mahasiswa cerdas, sederhana, dan selalu menjadi imam shalat ketika kegiatan kampus.
Setelah lulus, Fauzan mendapat kesempatan melanjutkan studi S2 di Al-Azhar University.
Sejak itu cinta mereka harus dipisahkan oleh ribuan kilometer.
---
Lamaran yang Mengguncang Hati
Suatu malam Ramadhan, Fitriani dipanggil oleh ayahnya, Pak Haji Salim, ke ruang tamu.
Di sana duduk seorang pria berjas mahal dengan wibawa yang kuat.
Di luar rumah, sebuah mobil Pajero hitam terparkir mengkilap.
Ayahnya memperkenalkan,
“Ini Nak, Pak Rafi Pratama. Beliau CEO perusahaan air mineral Aqua Barokah.”
Pak Rafi tersenyum ramah.
“Saya datang untuk melamar Fitriani.”
Jantung Fitriani seperti berhenti berdetak.
Ibunya menatap penuh harap.
“Beliau orang baik, Nak. Masa depanmu terjamin.”
Namun dalam hati Fitriani hanya ada satu nama.
Fauzan.
---
Tangisan di Malam Ramadhan
Malam itu Fitriani menangis di kamarnya.
Bantal dan gulingnya basah oleh air mata.
Ia membuka WhatsApp dan menulis pesan.
Fitriani:
“Zan… orang tua menjodohkan aku dengan pengusaha…”
Beberapa menit kemudian balasan datang dari Kairo.
Fauzan:
“Kalau itu pilihan orang tuamu… jangan durhaka.”
Air mata Fitriani semakin deras.
Fitriani:
“Tapi aku mencintaimu…”
Balasan Fauzan datang sangat lama.
Akhirnya muncul satu kalimat.
Fauzan:
“Cinta tidak selalu harus memiliki.”
Fitriani memeluk gulingnya sambil menangis hingga tertidur.
---
Hari Pernikahan
Ramadhan ke-20.
Rumah Fitriani dipenuhi tamu undangan.
Karpet merah terbentang. Lampu-lampu hias menyala terang.
Fitriani duduk di kamar pengantin dengan wajah pucat.
Tangannya gemetar ketika menulis pesan terakhir.
Fitriani:
“Zan… hari ini aku menikah…”
Balasan datang dari Mesir.
Fauzan:
“Semoga Allah memberkahimu.”
Fitriani menutup wajahnya sambil menangis.
---
Syarat Malam Pertama
Malam itu Pak Rafi masuk ke kamar pengantin.
Ia tersenyum lembut.
“Mulai hari ini aku suamimu.”
Fitriani menunduk.
Dengan suara pelan ia berkata,
“Ada satu syarat.”
“Apa itu?”
“Jika ingin menyentuhku… hafalkan dulu Surat Yasin.”
Pak Rafi terdiam beberapa detik.
Lalu ia tersenyum.
“Baik.”
---
Sebulan yang Mengubah Hidup
Hari-hari berlalu.
Pak Rafi benar-benar berusaha menghafal Surat Yasin.
Di mobil, di kantor, bahkan sebelum tidur.
Namun setiap kali hampir hafal, ia lupa lagi.
Sebulan berlalu.
Fitriani masih tidur terpisah.
Namun yang mengejutkan, Pak Rafi tidak pernah marah.
Ia justru semakin rajin shalat berjamaah dan membaca Al-Qur’an.
Suatu malam ia pulang dari masjid.
“Fitriani… dengarkan.”
Lalu ia membaca dengan lancar.
“Yaa Siin… Wal Qur’aanil Hakiim…”
Fitriani terkejut.
Pak Rafi akhirnya hafal Surat Yasin.
Air mata Fitriani jatuh. Namun kali ini bukan karena sedih.
---
Rahasia yang Menggetarkan
Setelah itu Pak Rafi berkata pelan,
“Ada sesuatu yang belum kamu tahu.”
“Apa itu?”
“Aku mengenal Fauzan.”
Fitriani terkejut.
Pak Rafi membuka foto di ponselnya.
Foto Fauzan di halaman Al-Azhar University.
“Akulah yang membiayai kuliahnya.”
Fitriani gemetar.
“Kenapa…?”
Pak Rafi menjawab pelan,
“Karena dia yang memintaku menikahimu.”
Fitriani tidak mampu berkata apa-apa.
Pak Rafi melanjutkan,
“Dia bilang:
Jika aku benar-benar mencintai Fitriani, pastikan dia hidup tenang… meskipun bukan bersamaku.”
Air mata Fitriani mengalir deras.
---
Tiga Tahun Kemudian. Fitriani kini menjadi dosen di STID Al-Biruni Cirebon.
Suatu hari kampus mengadakan kuliah umum internasional.
Spanduk besar dipasang di halaman.
Dr. Ahmad Fauzan, Lc., M.A.
Fitriani membeku melihat nama itu.
---
Pertemuan yang Tak Terduga Aula kampus dipenuhi mahasiswa.
Ketika pembawa acara memanggil narasumber…
Seorang lelaki naik ke panggung.
Itu Fauzan.
Wajahnya lebih dewasa. Namun senyumnya masih sama.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada lagi luka. Hanya ketenangan.
---
Setelah acara selesai, mereka bertemu di ruang dosen.
Pak Rafi yang datang menjemput Fitriani berdiri dan memeluk Fauzan.
“Selamat, Doktor Fauzan.”
Fitriani bingung.
Pak Rafi menunjuk papan pengumuman kampus.
Di sana tertulis keputusan baru. Dr. Ahmad Fauzan diangkat menjadi dosen tetap.
Fitriani terdiam.
Pak Rafi tersenyum.
“Mulai semester depan kalian akan mengajar di kampus yang sama.”
Fauzan berkata pelan,
“Takdir Allah selalu indah.”
---
Senja turun di langit Babakan Ciwaringin. Suara adzan maghrib terdengar dari masjid pesantren.
Di halaman kampus STID Al-Biruni Cirebon, tiga orang berdiri dalam keheningan.
Mereka pernah dipersatukan oleh cinta.
Dipisahkan oleh takdir. Dan dipertemukan kembali oleh keikhlasan.
Karena pada akhirnya…
Cinta yang paling indah adalah cinta yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar