ketakketikmustopa.com, Pagi itu halaman Kampus STID Al-Biruni Cirebon tampak lebih ramai dari biasanya. Mahasiswa baru berbondong-bondong mengikuti kegiatan orientasi kampus. Spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang Mahasiswa Baru” terbentang di depan gedung utama.
Di antara kerumunan itu berdiri seorang gadis tinggi semampai, berjilbab rapi dengan wajah yang teduh. Namanya Gina. Kulitnya putih bersih, sorot matanya tenang, dan sikapnya sederhana. Ia lebih sering menunduk membaca buku catatan daripada sibuk berbincang seperti mahasiswa lainnya.
Di sisi lain lapangan, sebuah mobil Pajero hitam mengkilap berhenti perlahan. Pintu mobil terbuka dan seorang pemuda turun dengan gaya percaya diri. Kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Dialah Arul.
Mahasiswa baru yang sudah terkenal sejak hari pertama karena kemewahannya. Banyak mahasiswa yang berbisik-bisik ketika melihatnya.
“Wah itu Arul ya? Katanya anak pengusaha besar di Cirebon,” bisik Mirela kepada Fatimah.
“Iya… tiap hari ke kampus bawa Pajero,” jawab Fatimah pelan.
Arul menatap sekeliling dengan santai. Namun pandangannya berhenti ketika melihat Gina yang sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku.
Arul tersenyum.
“Cantik juga,” gumamnya.
Sejak hari itu, Arul mulai sering mencari cara untuk mendekati Gina.
Suatu siang di kantin kampus.
Arul duduk di depan Gina dengan senyum khasnya.
“Gina, kamu tahu nggak?” kata Arul sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Gina mengangkat wajahnya sebentar.
“Apa?”
“Kamu itu seperti WiFi.”
Gina mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Karena tiap dekat kamu… hati aku langsung connect.”
Teman-teman di meja sebelah tertawa kecil.
Namun Gina hanya menutup bukunya dengan tenang.
“Arul, tugas tafsir besok sudah kamu kerjakan?” tanyanya datar.
Arul terdiam sesaat.
“Belum sih…”
“Kalau begitu lebih baik dikerjakan dulu.”
Gina berdiri lalu pergi meninggalkan Arul yang melongo.
Mirela yang melihat kejadian itu tertawa kecil.
“Raja gombal kena batunya,” katanya.
Sejak saat itu Arul semakin penasaran. Tidak ada gadis yang biasanya bisa menolak pesonanya. Tapi Gina berbeda.
Namun di kampus itu ada seorang mahasiswa lain yang hampir tidak pernah terlihat menonjol.
Namanya Robi.
Ia datang ke kampus dengan sepeda motor tua. Bajunya sederhana, tetapi matanya selalu terlihat cerdas. Banyak dosen memujinya karena kepintarannya.
Teman-temannya bahkan sering bercanda.
“Robi itu otaknya kayak Habibie versi pesantren,” kata Arul suatu hari.
Selain pintar, Robi juga seorang hafiz Al-Qur’an. Ia sering terlihat duduk di bawah pohon sambil menulis sesuatu di buku kecilnya.
Suatu sore Gina melewati taman kampus dan melihat Robi sedang menulis.
“Apa yang kamu tulis?” tanya Gina.
Robi terkejut sedikit lalu tersenyum.
“Cuma puisi.”
“Puisi?”
Robi mengangguk.
“Kadang hati manusia lebih mudah bicara lewat kata-kata.”
Gina tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya. Namun sejak hari itu Gina sering melihat Robi menulis.
Hari demi hari berlalu.
Hingga suatu malam kampus mengadakan Malam Amal Mahasiswa.
Lapangan kampus dihiasi lampu-lampu warna-warni. Banyak mahasiswa berkumpul. Malam itu menghadirkan artis tarling terkenal: Simbok Diana Sastra.
Musik tarling mulai dimainkan. Suasana meriah.
Ketika penyanyi mulai bernyanyi, Arul berdiri dengan penuh percaya diri.
Ia naik ke panggung sambil membawa uang.
“Sawer dulu!” teriaknya.
Ratusan ribu rupiah melayang di panggung. Mahasiswa bersorak.
Arul melirik ke arah Gina yang duduk bersama Fatimah dan Mirela.
Namun Gina hanya menonton biasa saja. Arul turun dari panggung lalu naik lagi beberapa kali.
Tetap saja Gina tidak bereaksi.
Arul mulai kesal dalam hati.
Tak lama kemudian MC berkata melalui mikrofon.
“Baik hadirin sekalian, sekarang kita akan mendengarkan pembacaan puisi dari mahasiswa kita yang terkenal sangat berbakat… saudara Robi!”
Tepuk tangan langsung bergema.
Robi berjalan pelan ke panggung dengan wajah sedikit gugup.
Ia membuka kertas kecil di tangannya. Suasana mendadak tenang.
Robi mulai membaca.
“Puisi ini berjudul…”
Ia berhenti sebentar. Matanya menatap ke arah Gina.
“Gina, Kaulah Segalanya.”
Mahasiswa langsung bersorak.
Arul tertegun.
Robi melanjutkan dengan suara tenang.
“Bukan mobil mewah yang membuat hati ini bergetar…
Bukan gemerlap dunia yang membuat jiwa ini berdebar…
Tetapi seorang gadis sederhana…
Yang lebih mencintai ilmu daripada pujian…”
Gina menatap panggung tanpa berkedip.
“Jika suatu hari engkau bertanya apa yang paling indah di dunia…
Maka jawabku sederhana…
Melihatmu berjalan membawa mimpi
Di antara halaman-halaman buku…”
Suasana menjadi hening. Beberapa mahasiswa bahkan terdiam tersentuh.
Robi menutup puisinya dengan pelan.
“Jika cinta adalah doa…
Maka namamu adalah ayat
Yang selalu kusebut dalam diam.”
Tepuk tangan menggema. Sorak sorai memenuhi lapangan.
Namun di tengah keramaian itu, Gina merasakan sesuatu di hatinya runtuh perlahan.
Ia tidak pernah menyangka. Puisi itu… untuknya.
Gina menunduk menahan air mata. Sementara Arul berdiri kaku di belakang kerumunan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kalah.
Bukan oleh harta. Bukan oleh mobil Pajero. Tetapi oleh sebuah puisi yang lahir dari hati yang tulus.
Malam itu Gina akhirnya memahami satu hal. Kemewahan bisa menarik perhatian.
Namun ketulusanlah yang mampu menyentuh hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar