ketakketikmustopa.com, Dalam khazanah hikmah klasik Arab, terdapat sebuah ungkapan yang sederhana namun menghunjam kesadaran batin:
“Idzā al-kalbu lam yu’dzika illā nibāḥahu, fada‘hu ilā yaumil qiyāmati yanbaḥu.”
“Jika anjing itu tidak menyakitimu kecuali hanya dengan gonggongannya, maka biarkanlah ia menggonggong hingga hari kiamat.”
Pepatah ini bukan sekadar kiasan, melainkan pelajaran mendalam tentang hirarki respon terhadap gangguan hidup. Ia mengajarkan bahwa tidak semua rangsangan layak dibalas, dan tidak setiap suara pantas diberi energi emosional.
Dalam metafora ini, anjing melambangkan gangguan eksternal: haters, gosip, provokasi, komentar toksik, atau masalah remeh yang sering mengusik ketenangan jiwa. Gonggongan adalah noise—kebisingan psikologis yang tidak melukai fisik, tidak mengurangi rezeki, tidak mengancam kehormatan, dan tidak menimbulkan bahaya nyata. Ia hanya suara, kosong dari daya rusak kecuali jika kita sendiri memberinya makna berlebihan.
Sedangkan kata “biarkan” adalah simbol kematangan jiwa. Ia bukan sikap pasif, melainkan kemenangan batin. Orang yang membiarkan berarti sadar bahwa tujuan hidupnya adalah terus berjalan, bukan berhenti untuk berkelahi dengan anjing yang menggonggong. Energi hidup terlalu berharga untuk dihabiskan pada hal-hal yang tidak membawa nilai.
Sikap ini sejatinya merupakan penerapan nyata dari prinsip regulasi emosi yang dalam pendekatan modern dikenal dalam praktik neuro-meditatif:
Apa yang dilawan dengan emosi akan menguat, apa yang diteriaki akan semakin keras.
Karena itu, jalan paling bijak bukanlah melawan, melainkan mengakui tanpa larut, menerima tanpa menyerah, lalu kembali fokus pada tujuan hidup.
Prinsipnya sederhana namun mendalam:
AKUI – TERIMA – KEMBALI KE NAPAS.
“Oh, ada anjing menggonggong” (AKUI).
“Baik, biarkan ia menggonggong” (TERIMA).
“Aku lanjut berjalan” (KEMBALI).
Inilah yang dalam bahasa populer sering disebut “sikap masa bodoh”—namun sejatinya, ia adalah kecerdasan emosional tingkat tinggi. Menariknya, konsep ini tidak hanya dikenal dalam tradisi spiritual Islam, tetapi juga ditegaskan oleh psikologi modern dan neurosains.
A. At-Taghāful: Regulasi Emosi dalam Psikologi Islam
Dalam tradisi intelektual Islam klasik, konsep ini dikenal sebagai At-Taghāful, yaitu pura-pura tidak tahu demi menjaga kemaslahatan jiwa. Abu Zayd al-Balkhī (abad ke-9 M) dalam karyanya Masālih al-Abdān wa al-Anfus menjelaskan bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan tubuh, dan salah satu cara menjaganya adalah tidak membiarkan emosi negatif menguasai hati akibat gangguan eksternal.¹
At-Taghāful bukan bentuk kebodohan, melainkan kecerdasan spiritual untuk menjaga qalb tetap bersih dari polusi emosi seperti marah, dengki, dan dendam. Banyak konflik membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena semua hal ingin ditanggapi dan dibalas.
B. The Gray Rock Method: Psikologi Perilaku Modern
Dalam psikologi perilaku, sikap ini sejalan dengan Gray Rock Method, yakni strategi menghadapi individu toksik atau narsistik dengan bersikap netral, datar, dan minim reaksi emosional. Tujuannya adalah tidak memberi respons yang mereka harapkan.
Penelitian tentang emotion regulation menunjukkan bahwa pengendalian respon emosional secara sadar mampu mencegah eskalasi konflik dan menjaga stabilitas psikologis individu (Gross, 2002).² Dalam kerangka behavioral conditioning, perilaku negatif yang tidak diberi penguatan emosional akan melemah dan akhirnya menghilang—prinsip yang dikenal sebagai extinction.
Dengan kata lain, ketika gonggongan tidak diberi perhatian, ia akan berhenti dengan sendirinya.
C. Regulasi Amigdala: Perspektif Neurosains
Dari sudut pandang neurosains, setiap respon emosional berlebihan berarti memberikan kendali kepada amigdala, pusat emosi primitif dalam otak. Ketika amigdala aktif, tubuh masuk ke mode fight or flight dan memproduksi kortisol, hormon stres yang berbahaya jika terus-menerus dilepaskan.
Robert Sapolsky menjelaskan bahwa stres kronis—bahkan akibat ancaman yang tidak nyata—dapat merusak sistem imun, pencernaan, dan kesehatan mental manusia (Sapolsky, 2004).³ Dengan memilih untuk membiarkan, seseorang mengaktifkan prefrontal cortex, bagian otak rasional yang bertugas menilai situasi secara objektif. Tubuh diberi pesan: “Ini hanya suara, bukan ancaman.”
Hasilnya adalah ketenangan fisiologis: detak jantung stabil, pikiran jernih, dan emosi terkendali.
Sikap Masa Bodoh sebagai Kekuatan Diri
Penelitian Baumeister dkk. menunjukkan bahwa kemampuan menahan dorongan emosional sesaat merupakan inti dari self-regulation dan berkorelasi kuat dengan kesehatan mental serta keberhasilan jangka panjang.⁴
Maka, sikap masa bodoh bukan berarti tidak peduli, melainkan peduli secara selektif. Ia adalah seni memilah mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cukup dilewati. Tidak semua suara harus dijawab. Tidak semua tantangan harus dilawan.
Karena pada akhirnya, ketenangan batin bukanlah hasil dari memenangkan pertengkaran, melainkan kemenangan atas dorongan ego dalam diri sendiri.
Wallohu a'lam
Referensi:
1. Al-Balkhī, Abū Zayd (abad ke-9 M). Masālih al-Abdān wa al-Anfus (Sustenance of the Body and Soul).
2. Gross, J. J. (2002). Emotion regulation: Affective, cognitive, and social consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291.
3. Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers. New York: Henry Holt and Company.
4. Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar