Filosofi Empal Gentong: Melegendanya Empal Gentong H. Apud

 

ketakketikmustopa.com, Langit senja perlahan berubah warna. Jingga meredup menjadi ungu, dan angin sore membawa suasana Cirebon semakin ramai. Di rumah sederhana mereka, Pak Budiman baru saja sore itu menutup mushafnya ketika Euis Nurjanah duduk di sampingnya dengan wajah penuh harap.

“Pak…” suaranya lembut, sedikit ragu.
“Iya, Neng?”

“Boleh nggak… hari ini kita buka puasa di luar? Euis ingin sekali makan empal gentong di RM. Empal Gentong H. Apud.”

Pak Budiman tersenyum. Ia menatap putri semata wayangnya yang mulai beranjak dewasa itu. “Kenapa mendadak sekali?”

Euis menunduk sebentar. “Entahlah, Pak. Euis cuma ingin makan bersama Ayah dan Ibu di tempat yang ramai. Rasanya seperti ingin menyimpan kenangan… sebelum semuanya berubah.”

Ibu Aisyah yang mendengar dari dapur terdiam sesaat. Kata “berubah” terasa dalam. Anak perempuan mereka tak lagi kecil. Waktu berjalan begitu cepat.

“Baiklah,” jawab Pak Budiman akhirnya. “Kalau itu yang Euis inginkan, mari kita berangkat.”

Setibanya di depan RM. Empal Gentong H. Apud, mereka tertegun. Antrian panjang mengular hingga ke tepi jalan. Suara tawa, panggilan pelayan, dan denting sendok berpadu dengan aroma kuah santan yang mengepul dari gentong tanah liat besar.

“Masya Allah… penuh sekali,” gumam Ibu Aisyah.

Euis tersenyum bahagia. “Justru itu indahnya, Bu. Banyak orang ingin berbuka bersama. Seperti kita.”

Mereka ikut mengantre. Di kejauhan, tampak gentong-gentong besar berjejer di atas tungku kayu bakar. Api menyala stabil, asap tipis mengepul ke udara senja.

Pak Budiman menunjuk ke arah gentong itu. “Lihat, Neng. Empal gentong dimasak dalam wadah tanah liat. Api kayu membakarnya pelan-pelan. Dari situlah legenda itu lahir.”

“Legenda?” tanya Euis penasaran.

“Ya,” jawabnya. “Nama H. Apud menjadi besar bukan hanya karena rasa, tapi karena konsistensi. Sejak dulu tetap memakai gentong dan kayu bakar. Tidak tergoda mengganti cara demi kepraktisan. Di situlah nilai hidupnya—menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.”

Ibu Aisyah menambahkan pelan, “Dan lihatlah bumbunya. Kunyit memberi warna, jahe memberi hangat, ketumbar memberi aroma. Semua berbeda. Tapi jika salah satu hilang, rasanya tak utuh.”

“Seperti keluarga?” tanya Euis lirih.

Pak Budiman mengangguk. “Ayah mungkin tak pandai menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata. Ibumu menunjukkan cinta lewat perhatian. Dan kamu… kamu adalah tawa yang membuat rumah ini hidup.”

Mata Euis mulai berkaca-kaca. Akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk. Semangkuk empal gentong terhidang di hadapan mereka. Kuah kuning keemasan berkilau di bawah lampu. Potongan daging empuk terendam santan kental, taburan daun kucai dan bawang goreng menambah aroma menggoda.

Azan Maghrib berkumandang.

“Bismillah,” ucap mereka bersamaan.

Sendok pertama menyentuh bibir. Hangatnya kuah mengalir perlahan, menyusup hingga ke relung dada. Rasa gurih, rempah, dan lembutnya santan menyatu seperti harmoni yang tak dibuat-buat.

Euis memejamkan mata sejenak. “Pak… sekarang Euis mengerti kenapa ini melegenda.”

“Kenapa?” tanya Ibu Aisyah lembut.

“Karena di balik semangkuk empal gentong ini ada kesabaran, ada api yang tak pernah padam, ada tradisi yang dijaga. Sama seperti cinta Ayah dan Ibu yang mungkin tak selalu terlihat, tapi selalu ada.”

Pak Budiman tersenyum, menahan haru. “Legenda bukan soal terkenal, Neng. Legenda adalah tentang ketulusan yang bertahan lama.”

Di tengah riuh pelanggan yang terus berdatangan, keluarga kecil itu merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kenyang. Mereka merasakan hangatnya kebersamaan, yang tak bisa dibeli, tak bisa digantikan.

Empal Gentong H. Apud memang melegenda di Cirebon. Namun malam itu, yang benar-benar melegenda dalam hati mereka adalah momen sederhana—duduk bersama, berbagi kuah hangat, dan menyadari bahwa kebersamaan adalah rasa paling nikmat yang tak pernah basi oleh waktu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar