Filosofi Ketoprak Dalam Kehidupan

 

ketakketikmustopa.com, Malam itu suasana Ciwaringin terasa hangat. Usai salat Tarawih, lampu-lampu rumah menyala lembut. Angin semilir membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan sore tadi.

Di ruang tengah, Neng Euis Nurjanah tiba-tiba bersuara manja.

Neng Euis:
“Pak… kok perut Euis laper lagi ya? Kayaknya pengen ketoprak deh…”

Pak Budiman yang baru saja melepas pecinya tersenyum.
“Ketoprak? Malam-malam begini?”

Euis mengangguk cepat.
“Iya Pak. Yang di perapatan itu loh… yang legend dari dulu. Yang bumbu kacangnya kental banget.”

Dari dapur, Bu Aisyah yang baru pulang tadarusan di mushola ikut menyahut.
“Kalau beli, sekalian ya Pak. Ibu juga mau… tapi jangan pedas.”

Pak Budiman tertawa kecil.
“Baiklah, baiklah. Satu pedas, satu nggak pedas, satu lagi standar ya.”

Tak lama kemudian, Pak Budiman sudah melangkah ke jalan perempatan kampung. Di sana memang ada penjual ketoprak legendaris yang sudah berjualan sejak beliau masih remaja. Gerobaknya sederhana, tapi pembelinya tak pernah sepi.

Satu jam kemudian, Pak Budiman pulang membawa tiga bungkus ketoprak yang masih hangat. Aroma kacang dan bawang putih langsung memenuhi ruangan.

Mereka duduk melingkar di lantai, membuka bungkus kertas cokelat itu perlahan.

Bu Aisyah:
“MasyaAllah… wanginya aja sudah bikin bahagia.”

Neng Euis (tersenyum lebar):
“Ini yang Euis maksud, Pak. Ketoprak begini tuh nggak ada tandingannya.”

Mereka pun mulai menyantapnya dengan lahap.

Di tengah suapan, Euis tiba-tiba bertanya.

Neng Euis:
“Pak, sebenarnya ketoprak itu asalnya dari mana sih?”

Pak Budiman mengusap tangan, lalu menjawab dengan nada santai namun penuh makna.

Pak Budiman:
“Ketoprak ini dikenal sebagai makanan khas Cirebon, Jawa Barat. Dulu konon ceritanya berasal dari orang yang lapar dan cuma punya ketupat sama tauge. Lalu dia bikin bumbu dari kacang, bawang putih, dan cabai. Dari keterbatasan itu lahirlah makanan yang sampai sekarang kita nikmati.”

Bu Aisyah:
“Berarti dari sederhana ya Pak?”

Pak Budiman:
“Nah, itu dia. Ketoprak ini mengajarkan kita bahwa hidup nggak harus mewah untuk jadi nikmat.”

Euis berhenti mengunyah sejenak.
“Memangnya ada falsafahnya juga, Pak?”

Pak Budiman tersenyum, matanya berbinar.

Pak Budiman:
“Banyak sekali, Neng. Coba lihat isi ketoprak ini. Ketupat, bihun, tauge, tahu goreng… semua beda-beda. Rasanya juga beda. Tapi ketika disiram bumbu kacang, semuanya menyatu jadi satu rasa yang harmonis.”

Neng Euis:
“Kayak keluarga ya, Pak?”

Pak Budiman mengangguk bangga.
“Betul. Dalam keluarga juga begitu. Ayah, ibu, anak—punya karakter berbeda. Tapi kalau disatukan dengan kasih sayang, jadinya harmonis.”

Bu Aisyah tersenyum lembut.
“Dan bumbu kacangnya itu mungkin ibarat sabar dan syukur.”

Pak Budiman tertawa kecil.
“Iya. Hidup juga begitu. Ada manisnya kecap, ada pedasnya cabai. Kalau cuma manis, hambar. Kalau cuma pedas, menyiksa. Harus seimbang.”

Euis terlihat merenung.
“Berarti dari makanan aja kita bisa belajar ya, Pak?”

“Justru dari hal sederhana kita sering lupa belajar,” jawab Pak Budiman pelan.
“Ketoprak lahir dari keterbatasan. Artinya, kalau hidup lagi susah, jangan menyerah. Siapa tahu justru dari situ Allah kasih kita ‘resep’ terbaik.”

Mereka kembali menyantap ketoprak dengan penuh kesadaran.

Tak terasa, bungkus kertas di depan mereka sudah kosong. Tinggal sisa olesan bumbu kacang yang menempel tipis.

Bu Aisyah:
“Eh, habis ya…”

Neng Euis (tertawa):
“Habis karena nikmat… dan penuh hikmah.”

Pak Budiman menatap anak dan istrinya dengan hangat.

“Malam ini kita belajar dari sepiring ketoprak. Bahwa hidup sederhana, diramu dengan syukur, dijalani dengan sabar, dan disatukan dengan kasih sayang… akan terasa nikmat, walau tanpa kemewahan.”

Di luar, angin malam berhembus pelan.
Di dalam rumah kecil itu, bukan hanya perut yang kenyang—tetapi hati pun ikut terisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar