ketakketikmustopa.com, Sore itu, suasana rumah terasa hangat. Angin berembus pelan dari jendela ruang makan. Di atas meja telah tersaji kolak pisang lengkap dengan kolang-kaling yang bening mengilap, serta segelas es campur berwarna merah muda.
“Alhamdulillah, tinggal menunggu adzan,” ujar Bu Aisyah sambil merapikan mangkuk.
Neng Euis Nurjanah memandangi kolang-kaling di hadapannya. “Ayah, kenapa ya setiap Ramadhan kolang-kaling selalu ada? Padahal di luar Ramadhan jarang sekali kita mencarinya.”
Pak Budiman tersenyum, menatap putrinya dengan lembut. “Nah, itu pertanyaan bagus, Neng. Kolang-kaling itu sederhana, tapi penuh filosofi.”
“Filosofi?” Neng Euis membulatkan mata.
“Iya,” lanjut Pak Budiman. “Kolang-kaling berasal dari pohon aren yang tinggi menjulang. Pohonnya kokoh, kuat akarnya, dan hampir semua bagiannya bermanfaat. Itu simbol manusia yang ideal—jiwanya kuat, beradab, dan mampu mengayomi yang lemah.”
Bu Aisyah mengangguk pelan. “Betul. Dari niranya bisa jadi gula, dari ijuknya bisa untuk atap, dan buahnya jadi kolang-kaling. Tidak ada yang sia-sia.”
Pak Budiman tersenyum. “Begitulah seharusnya hidup kita. Seperti pohon aren, tumbuh tinggi bukan untuk sombong, tapi untuk memberi manfaat.”
Neng Euis lalu mengambil satu butir kolang-kaling dengan sendoknya. “Kalau buahnya jadi biji yang kita makan ini, itu filosofinya apa, Ayah?”
Pak Budiman terkekeh kecil. “Wah, Neng makin kritis saja. Buah menghasilkan biji, biji memberi manfaat. Artinya, setiap usaha kita harus melahirkan dampak. Seorang pemimpin harus membawa kebaikan bagi bawahannya. Seorang pekerja harus memberi manfaat bagi lingkungannya. Hidup jangan berhenti pada diri sendiri.”
Bu Aisyah tersenyum, lalu berkata, “Dulu waktu Ibu remaja tahun 80-an, kata kolang-kaling sering dipakai dalam surat menyurat.”
“Serius, Bu?” Neng Euis tertawa kecil.
“Iya,” jawab Bu Aisyah sambil menirukan gaya remaja tempo dulu, “Kolang-kaling dalam gelas, yang dapat koling harap membalas.”
Mereka bertiga tertawa bersama.
“Itu doa terselubung,” kata Pak Budiman sambil tersenyum. “Harapan agar kebaikan dibalas dengan kebaikan. Sama seperti hidup—kalau kita menebar manfaat, insyaAllah akan kembali kepada kita.”
Tak lama, suara adzan Maghrib mulai berkumandang dari masjid dekat rumah.
Pak Budiman mengambil satu butir kurma, lalu melirik kolang-kaling di mangkuk. “Lihat, Neng. Kurma dari tanah Arab, kolang-kaling dari tanah Nusantara. Keduanya bertemu di meja berbuka.”
“Berarti Islam itu menerima perbedaan ya, Bi?” tanya Neng Euis lembut.
“Betul sekali,” jawab Pak Budiman. “Islam memberi ruang bagi berbagai budaya dan karakter alam yang berbeda. Yang penting bukan asalnya, tapi manfaatnya.”
Ia kemudian menambahkan dengan suara yang lebih dalam, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.’ Hadis ini diriwayatkan oleh dan .”
Neng Euis terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Berarti kita harus jadi seperti kolang-kaling ya, Ayah? Sederhana, tapi dicari karena manfaatnya.”
Pak Budiman mengangguk penuh haru. “Persis, Neng. Tidak perlu selalu jadi yang paling mewah. Jadilah yang paling berguna.”
Bu Aisyah menatap keduanya dengan mata berbinar. “Semoga keluarga kita pun begitu—kokoh seperti pohon aren, manis seperti kolak, dan bermanfaat bagi banyak orang.”
Mereka pun berbuka bersama. Di antara manisnya kolang-kaling dan hangatnya kebersamaan, terselip doa agar hidup mereka, seperti pohon aren, selalu berbuah manfaat di setiap musim kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar