NU vis a vis NEGARA

 



ketakketikmustopa.com, Teringat saat studi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1991 tradisi mahasiswa di kota pelajar ini yaitu baca buku, mengoleksi buku-buku bacaan, lalu menulis. Diantara buku koleksi yang ada masih tersimpan rapih adalah buku "NU vis-à-vis Negara" karya Andrée Feillard. Penerbit LKiS Yogyakarta tahun 1999.

Baiklah, kali ini ketakketikmuatopa.com akan mereview buku NU vis-à-vis Negara karya Andrée Feillard, buku ini  adalah sebuah karya penting yang menelusuri relasi panjang, kompleks, dan sering kali ambigu antara Nahdlatul Ulama (NU) dan negara Indonesia. Dengan pendekatan historis-sosiologis yang tajam, Feillard mengajak pembaca memahami NU bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan tradisional, tetapi sebagai aktor politik dan sosial yang cerdas dalam membaca zaman, kekuasaan, dan kepentingan umat.

Relasi NU dan negara dalam buku ini tidak digambarkan sebagai hubungan hitam-putih: antara oposisi dan loyalitas, antara perlawanan dan kepatuhan. Sebaliknya, Feillard menunjukkan bahwa hubungan tersebut adalah sebuah dialektika yang terus berubah, dipengaruhi oleh konteks sejarah, dinamika internal NU, serta karakter rezim yang berkuasa.

Sejak masa awal kemerdekaan, NU tampil sebagai kekuatan keagamaan yang berkomitmen pada Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus berupaya menjaga otonomi nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Feillard mengurai bagaimana NU pernah menjadi bagian dari partai politik, lalu memilih keluar dari arena politik praktis, hingga akhirnya mengambil posisi sebagai penyangga moral bangsa. Setiap pilihan itu bukanlah langkah spontan, melainkan hasil ijtihad politik kolektif para kiai.

Bagian paling menarik dari buku ini adalah analisis mendalam tentang sikap NU pada masa Orde Baru. Di tengah rezim yang kuat, represif, dan sentralistik, NU tidak memilih jalan konfrontasi terbuka, tetapi juga tidak sepenuhnya tunduk. Feillard memperlihatkan bagaimana NU menjalankan strategi “akomodatif-kritis”: bernegosiasi dengan negara demi kelangsungan organisasi dan umat, sambil tetap menyimpan jarak ideologis agar tidak larut dalam hegemoni kekuasaan.

Keputusan NU untuk kembali ke Khittah 1926 menjadi titik balik penting yang dibedah secara tajam oleh Feillard. Langkah ini dipahami bukan sebagai kemunduran politik, melainkan reposisi strategis: NU melepaskan atribut partai untuk memperkuat perannya di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan. Dalam kerangka ini, NU justru menemukan kekuatan barunya sebagai kekuatan masyarakat sipil (civil society) yang mampu mengimbangi negara tanpa harus berhadap-hadapan secara frontal.

Feillard juga mengkritisi stereotip lama yang memandang NU sebagai organisasi tradisional, pasif, dan anti-modern. Melalui data historis dan analisis mendalam, ia menunjukkan bahwa NU justru memiliki fleksibilitas intelektual dan pragmatisme politik yang tinggi. Tradisi pesantren, bagi NU, bukan penghambat modernitas, melainkan fondasi etika untuk menyaring perubahan zaman.

Lebih dari sekadar buku sejarah, NU vis-à-vis Negara adalah cermin reflektif tentang bagaimana Islam, kekuasaan, dan kebangsaan dinegosiasikan di Indonesia. Buku ini membantu pembaca memahami mengapa NU sering memilih jalan tengah, mengapa kiai-kiai NU berbicara dengan bahasa kebijaksanaan, dan mengapa sikap “tidak keras, tapi juga tidak tunduk” justru menjadi kekuatan NU hingga hari ini.

Mengapa Buku Ini “Menggigit”?

Karena Feillard tidak sekadar memuji NU, tetapi membedah strategi, dilema, dan kompromi-komprominya secara jujur dan akademis. Buku ini mengajak pembaca berpikir kritis:

Apakah berkompromi dengan negara selalu berarti kalah? Ataukah justru itu bentuk kecerdasan politik berbasis etika?

Untuk saat ini, buku ini layak dibaca bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar