ketakketikmuatopa.com, Sejarah besar tidak pernah lahir dari kemewahan, melainkan dari langkah-langkah sunyi para ulama yang berjalan dengan keyakinan, doa, dan pengorbanan. Dari lorong-lorong pesantren, dari hamparan sajadah panjang, hingga dari isyaroh spiritual yang dipenuhi keikhlasan, lahirlah Nahdlatul Ulama—rumah besar umat Islam Nusantara yang hingga kini tetap berdiri kokoh menjaga agama, bangsa, dan kemanusiaan. Semangat itulah yang kembali dihidupkan melalui Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar pada Ahad, 4 Januari 2026.
Sekitar 1.000 jamaah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kegiatan monumental ini. Dengan konsep longmarch, para peserta tidak sekadar berjalan kaki, tetapi menyusuri ulang jalur sejarah dan spiritual yang dahulu menjadi saksi lahirnya NU. Longmarch ini menjadi simbol kesungguhan, keteguhan, serta penghayatan atas perjuangan para pendiri NU yang tidak pernah memisahkan antara ilmu, amal, dan cinta tanah air.
Perjalanan napak tilas dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, sebuah tempat yang memiliki posisi sangat penting dalam sejarah NU. Dari pesantren inilah, Syaikhona Kholil—ulama kharismatik dan wali Allah—memberikan isyaroh spiritual kepada murid-muridnya, yang kelak menjadi muassis NU. Isyaroh inilah yang menyalakan obor perjuangan dan melahirkan kesadaran kolektif untuk membangun jam’iyyah yang menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah serta merawat tradisi keislaman Nusantara.
Dari Bangkalan, rombongan bergerak menuju Pelabuhan Kamal, menyeberangi selat yang memisahkan Madura dan Jawa. Penyeberangan ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga simbol peralihan sejarah—dari isyaroh menuju ikhtiar nyata. Setibanya di Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Makam Sunan Ampel, salah satu pusat dakwah Walisongo dan titik penting peradaban Islam Nusantara. Di tempat ini, para peserta melantunkan doa dan tahlil, mengikat kembali sanad spiritual dakwah Islam yang ramah, berakhlak, dan membumi.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kantor PCNU Pertama Surabaya, sebuah situs bersejarah yang menandai fase awal institusionalisasi NU. Dari sinilah NU mulai menata diri sebagai organisasi yang berkhidmat kepada umat, menguatkan pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Rute napak tilas selanjutnya melewati Stasiun Gubeng, simbol mobilitas dan dinamika perjuangan para ulama yang tak mengenal lelah dalam menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Puncak perjalanan napak tilas ini berakhir di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tempat Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari meneguhkan berdirinya NU. Tebuireng bukan hanya tujuan akhir perjalanan fisik, tetapi juga titik temu spiritual dan historis, tempat bertautnya isyaroh ulama Madura dan ikhtiar ulama Jawa dalam satu cita-cita besar: menjaga agama dan membela tanah air.
Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Abdul Halim, yang turut berjalan bersama jamaah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya meneguhkan kembali sejarah NU sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Menurutnya, NU sejak awal berdiri tidak hanya berperan dalam urusan keagamaan, tetapi juga menjadi penyangga persatuan nasional, penjaga harmoni sosial, serta garda terdepan dalam merawat kebinekaan Indonesia.
Sementara itu, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Imam Buchori, menjelaskan bahwa jumlah peserta sengaja dibatasi agar kegiatan berjalan tertib, khidmat, dan aman. Meski demikian, napak tilas ini tetap diikuti oleh keluarga besar Bani Kholil, para kiai, santri, serta tokoh-tokoh nasional. Hadir pula Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, para bupati, serta sejumlah pejabat daerah yang menunjukkan dukungan dan penghormatan terhadap warisan sejarah NU.
Lebih dari sekadar agenda seremonial, Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU menjadi ruang kontemplasi bersama, mengajak generasi hari ini untuk kembali menundukkan kepala, meneladani ketawadhuan ulama, dan menyadari bahwa NU dibangun dengan kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Setiap langkah longmarch menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu gemuruh, tetapi sering kali lahir dari keheningan doa dan kesetiaan pada nilai.
Di sepanjang perjalanan dari Bangkalan hingga Tebuireng, para jamaah membawa satu tekad: menjaga warisan para muassis NU agar tetap hidup dan relevan di tengah tantangan zaman. Dengan napak tilas ini, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali—menjadi suluh yang menerangi jalan NU dalam mengabdi kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan, hari ini dan di masa yang akan datang.
Wallohu a'lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar