ketakketikmustopa.com, Dalam tradisi pesantren dan khazanah keilmuan Islam, kesalahan bukanlah aib yang harus ditutup rapat, melainkan tangga awal menuju kedewasaan ilmu. Sejarah mencatat, salah satu tokoh terbesar dalam ilmu bahasa Arab justru lahir dari sebuah kesalahan lisan. Dialah Imam Sibawaih, ulama besar yang hingga hari ini dikenal sebagai Bapak Ilmu Nahwu dunia.
Imam Sibawaih memiliki nama lengkap ‘Amr bin ‘Utsman bin Qanbar, seorang ulama non-Arab yang berasal dari Persia. Ia hidup pada abad ke-2 Hijriyah dan menetap di Bashrah, kota yang pada masa itu menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam. Menariknya, pada awal perjalanan intelektualnya, Sibawaih tidak menekuni ilmu bahasa Arab, melainkan Ilmu Hadis.1
Namun, Allah menakdirkan jalan keilmuan yang berbeda baginya.
Satu Kesalahan Lisan yang Mengubah Arah Hidup
Dalam sebuah majelis hadis, Imam Sibawaih membaca hadis Nabi ﷺ, tetapi keliru dalam i‘rab (tata bahasa Arab). Kesalahan itu segera ditegur oleh gurunya dengan keras. Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, ketepatan bahasa bukan perkara sepele, karena menyangkut pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.
Teguran itu terasa pahit dan memalukan. Namun, Sibawaih tidak menjadikan rasa malu sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari sanalah lahir tekad yang sangat kuat. Ia berkata:
“Aku akan mempelajari ilmu yang dengannya tidak seorang pun mampu menyalahkanku lagi.”
Ucapan ini bukan sekadar luapan emosi, tetapi niat ilmiah yang kemudian diwujudkan dengan kesungguhan luar biasa.
Mengabdikan Diri pada Ilmu Bahasa Arab
Sejak peristiwa itu, Imam Sibawaih mengalihkan seluruh hidupnya untuk mendalami ilmu nahwu dan bahasa Arab. Ia berguru kepada para ulama besar, terutama Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, seorang jenius linguistik Arab, pencetus ilmu ‘arudh dan peletak dasar kamus bahasa Arab.2
Sebagaimana tradisi ulama pesantren, Sibawaih tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari realitas bahasa Arab itu sendiri. Ia meneliti dialek Arab Badui, menghafal syair-syair klasik, serta mengkaji penggunaan bahasa Arab murni yang menjadi fondasi Al-Qur’an dan hadis.
Dari proses panjang inilah lahir sebuah karya monumental.
Al-Kitāb: Kitab yang Menjadi Rujukan Sepanjang Zaman
Imam Sibawaih hanya menulis satu kitab sepanjang hidupnya. Namun kitab itu menjadi tonggak sejarah ilmu bahasa Arab. Kitab tersebut dikenal dengan nama:
Al-Kitāb
Menariknya, kitab ini tidak diberi judul khusus oleh penulisnya. Karena kelengkapan, kedalaman, dan otoritas ilmiahnya, para ulama hanya menyebutnya Al-Kitāb—Kitab itu, seakan tidak ada kitab lain yang sebanding.3
Isi Al-Kitāb meliputi:
1. Dasar-dasar ilmu nahwu
2. Kaidah sharaf (morfologi)
3. Pembahasan i‘rab dan struktur kalimat
4. Analisis bahasa Arab berbasis Al-Qur’an, hadis, dan syair Arab klasik
Kitab ini menjadi rujukan utama madrasah Bashrah dan fondasi bagi seluruh kitab nahwu yang lahir setelahnya. Ulama-ulama besar seperti Al-Mubarrad, Ibn Jinni, Ibn Malik, hingga Ibnu Hisham secara langsung maupun tidak langsung berdiri di atas bangunan ilmiah yang disusun oleh Sibawaih.4
Wafat Muda, Ilmu yang Terus Hidup
Imam Sibawaih wafat sekitar tahun 180 Hijriyah, dalam usia sekitar 40 tahun.[^5] Usia yang relatif muda, tetapi cukup untuk mengukir warisan ilmu yang tidak lekang oleh zaman.
Hingga hari ini, Al-Kitāb masih dikaji di pesantren, fakultas adab, dan universitas Islam di berbagai belahan dunia. Setiap santri yang belajar nahwu, sadar atau tidak, sedang menapaki jalan ilmiah yang telah dibuka oleh Imam Sibawaih.
Pelajaran Penting bagi Santri dan Penuntut Ilmu
Kisah Imam Sibawaih menyampaikan pesan yang sangat relevan bagi dunia pesantren dan dakwah hari ini: Jangan berhenti belajar hanya karena pernah salah.
Satu kesalahan lisan melahirkan tekad. Tekad melahirkan disiplin. Dan disiplin melahirkan keabadian ilmu. Imam Sibawaih membuktikan bahwa kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan awal dari kesuksesan yang Allah siapkan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Wallohu a'lam
Catatan kaki:
1. Abu Bakr az-Zubaidi, Ṭabaqāt an-Nuḥāt, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
2. Jalaluddin as-Suyuthi, Bughyat al-Wu‘āt fī Ṭabaqāt al-Lughawiyyīn wa an-Nuḥāt, Kairo: Dar al-Fikr.
3. Ibn an-Nadim, Al-Fihrist, Beirut: Dar al-Ma‘rifah.
4. Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Muzhir fī ‘Ulūm al-Lughah, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.
5. Imam adz-Dzahabi, Siyar A‘lām an-Nubalā’, Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar