Senja di Desa Kalibuntu selalu datang pelan, seolah memahami bahwa di sebuah rumah kayu sederhana di perbatasan Cirebon dan Brebes, ada seorang anak kecil yang tak pernah benar-benar punya waktu untuk menikmatinya. Di sana tinggal Afriyani Mida Soleha—yang kelak dikenal banyak orang sebagai Dede April.
Usianya masih belia, namun hidup telah mengajarinya tentang sabar, ikhlas, dan doa—pelajaran yang biasanya baru dipahami orang dewasa.
Bagi April kecil, senja bukan tentang cahaya jingga atau burung yang pulang ke sarang. Senja adalah saat paling sunyi, ketika napas ayahnya terdengar berat dari balik dinding kamar. Penyakit ginjal itu perlahan menggerogoti tubuh sang ayah—lelaki yang dulu menjadi tempat bergantung, kini terbaring lemah, pasrah pada takdir Allah.
Seiring sakit itu, rezeki keluarga pun ikut terhenti. Namun di tengah keterbatasan, April belajar satu hal penting sejak kelas empat sekolah dasar:
Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang berikhtiar dan berbakti kepada orang tuanya.
Dengan son kecil seadanya, atau kadang hanya mengandalkan suara yang polos, April melangkah ke pasar dan jalanan. Terik matahari membakar kulitnya. Asap bus antarkota menusuk pernapasan. Klakson dan teriakan sopir sering menelan suaranya. Namun April tak berhenti.
Ia bernyanyi bukan untuk tepuk tangan. Ia bernyanyi untuk obat ayahnya.
Setiap koin yang jatuh ke telapak tangannya adalah harapan. Setiap lembar uang lusuh adalah doa yang dikabulkan setengah jalan—kadang cukup, kadang tidak. Saat malam tiba dan tubuh kecilnya lelah, April hanya bisa memeluk lutut di sudut rumah, menengadahkan tangan kecilnya.
“Ya Allah,” bisiknya lirih,
“jangan ambil suaraku sebelum Engkau sembuhkan ayahku.”
Waktu terus berjalan. Dunia pun berubah. Jalanan yang dulu menjadi tempatnya mencari nafkah kini berpindah ke layar ponsel.
Dengan gawai retak dan jaringan seadanya, April menjadi “pengamen online”. Berjam-jam ia bernyanyi di TikTok, menahan kering di tenggorokan dan perih di dada. Ada yang memberi dengan tulus, tapi tak sedikit pula yang mencaci.
“Pengemis online.”
Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada panas aspal Pantura. Namun April memilih diam. Ia tersenyum, menunduk, dan kembali bernyanyi. Ia tak punya waktu menjelaskan hidupnya. Dalam hatinya hanya ada satu bayangan: wajah ayahnya yang menahan sakit, sambil terus berzikir pelan.
Dan ketika ikhtiar telah dilakukan sepenuh hati, Allah mengirimkan pertolongan dari arah yang tak disangka.
Diana Sastra. Legenda Pantura. Atau bagi April, sosok yang kelak ia panggil dengan penuh cinta: Mbok.
Diana tidak melihat April sebagai pengamen. Ia melihat ketulusan, luka, dan bakat yang ditempa oleh kesabaran. Dengan kasih seorang ibu, Diana membimbingnya—mengajarkan bukan hanya teknik vokal, tetapi juga adab, mental, dan keberanian untuk berdiri tegak menghadapi dunia.
Perlahan, April keluar dari bayang-bayang jalanan. Doa-doa yang selama ini ia panjatkan dalam sujud mulai menemukan jalannya sendiri.
Jakarta menyambutnya dengan cahaya yang menyilaukan.
Di panggung Dangdut Academy D7 Indosiar, April berdiri dengan tangan gemetar. Namun saat musik mengalun, hatinya menjadi tenang. Ia tahu, ia tidak sendiri. Ada doa seorang ayah, ada air mata seorang anak, dan ada takdir Allah yang sedang bekerja.
Setiap nada tinggi adalah jeritan batinnya, Setiap lagu sedih adalah sujud panjang yang tak terlihat.
Malam itu, Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, terdiam.
“Anak Emas,” ucapnya lirih.
Di bawah sorot lampu yang tak pernah ia bayangkan, gadis kecil dari jalanan Brebes–Cirebon membuat Indonesia berdiri. Tepuk tangan menggema. Air mata jatuh. Bukan hanya milik April, tapi milik siapa pun yang pernah diuji hidupnya hingga hampir menyerah.
April tidak menjadi juara pertama. Ia menjadi Juara Ketiga, namun Allah mengajarkannya satu hal: kemuliaan tidak selalu diukur dari peringkat, tetapi dari niat dan perjuangan.
Dari recehan rupiah di pinggir jalan, kini April menggenggam hadiah ratusan juta, hadiah, dan masa depan. Namun yang paling berharga baginya adalah satu hal: ia bisa pulang dengan sambutan masyarakat membanjiri dari berbagai pelosok.
Ketika ia kembali ke Desa Kalibuntu, jalanan berubah menjadi lautan manusia. Puluhan ribu warga Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka, Brebes dan sekitarnya tumpah ruah. Teriakan namanya menggema. Bendera kecil berkibar. Air mata haru mengalir tanpa diminta.
April berdiri di atas arak-arakan, menatap wajah-wajah yang dulu tak pernah sempat mendengarnya bernyanyi. Kini matanya berbinar—bukan karena gemerlap dunia, melainkan karena syukur yang dalam.
Ia tahu, kisah ini bukan hanya tentang dirinya. Ini tentang bakti seorang anak kepada orang tuanya. Tentang doa yang tidak pernah pulang dengan tangan kosong. Tentang mimpi yang tetap hidup meski lahir dari kemiskinan.
Dari jalanan yang sunyi, Dede April kini menyanyikan melodi harapan. Dan dengan izin Allah, dunia pun mendengarnya dan masyarakat menyambut riuh. April.. April.. April..

Kisah Nyata dan Inspiratif, semoga menjadi kisah yang menginspirasi buat April - April lain di Luar sana Pak Dosen.....
BalasHapus