Ilmu Dakwah, Pendekatan Teoritis dan Aplikatif Dalam Konteks Sosial Kontemporer

Gambar: buku bahan ajar MK Ilmu Dakwah 
 

ketakketikmustopa.com, pada tulisan kali ini sengaja penulis mereview buku bahan ajar yang ditulis sendiri untuk mahasiswa STID Albiruni Babakan Ciwaringin Cirebon Semester 2. Buku ini sudah disesuaikan dengan RPS berbasis OBE. Buku ini juga bisa untuk mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

Dengan harapan para mahasiswa ini mengerti dakwah itu harus bagaimana, apakah harus pegang mik berdiri di mimbar, atau bagaimana. Kiranya buku ini adalah manfaat untuk yang membaca dan khususnya mahasiswa STID Albiruni.

Ilmu dakwah sering kali dipahami secara sempit—seolah hanya berkaitan dengan ceramah, mimbar, dan khutbah. Padahal, jika kita menelisik Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Outcome Based Education (OBE) pada mata kuliah Ilmu Dakwah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN, akan tampak jelas bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi proyek besar peradaban. Dakwah mencakup proses perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak manusia ke arah nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

RPS Ilmu Dakwah memetakan capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang sangat strategis: ketakwaan dan akhlak mulia, penguasaan teori dakwah, kemampuan berpikir kritis-komunikatif, serta keterampilan mengaplikasikan dakwah dalam masyarakat. Empat aspek ini memberi pesan penting: dakwah tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dihidupkan. Ia menuntut perpaduan antara ilmu, sikap, dan keterampilan sosial.

Di tingkat CPMK dan Sub-CPMK, mahasiswa tidak hanya diajak memahami pengertian dakwah, unsur-unsur dakwah, dan metode penyampaiannya. Mereka didorong untuk melangkah lebih jauh: menganalisis dakwah multikultural, membaca fenomena dakwah era digital, hingga merancang program dakwah sederhana yang nyata. Artinya, dakwah diposisikan bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai aktivitas praktis yang terukur.

Di sinilah letak pentingnya pendidikan dakwah di perguruan tinggi Islam. Kampus bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan agama, tetapi laboratorium sosial yang melatih mahasiswa untuk menjadi agen perubahan. Melalui diskusi, presentasi, proyek, hingga tugas lapangan, mahasiswa dibentuk agar mampu membaca realitas, mengidentifikasi masalah, lalu menawarkan solusi berbasis nilai keislaman. RPS ini secara sadar mengarahkan mahasiswa ke sana.

Masyarakat hari ini tidak lagi cukup disuguhi ceramah tekstual. Mereka bergulat dengan masalah kemiskinan, krisis moral, disinformasi digital, polarisasi sosial, serta tantangan pluralisme. Oleh karena itu, dakwah yang dibutuhkan adalah dakwah yang: komunikatif, inklusif, analitis, dan menyentuh persoalan nyata. Hal inilah yang ditegaskan melalui assessment proyek, studi kasus, serta pembelajaran berbasis masalah (PBL) dalam RPS Ilmu Dakwah. Dakwah dipelajari tidak hanya dari buku, tetapi dari kehidupan.

Pendekatan OBE dalam RPS juga mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan dakwah bukan pada seberapa banyak materi disampaikan, tetapi seberapa jauh perubahan terjadi. Mahasiswa tidak cukup lulus secara administratif; mereka diharapkan memiliki kompetensi: mampu merancang program dakwah, menyusun strategi, memilih media, serta mengevaluasi keberhasilannya. Ini adalah langkah maju dari paradigma lama yang berfokus pada hafalan konsep.

Pada akhirnya, Ilmu Dakwah melalui desain RPS ini menghadirkan pesan moral bagi mahasiswa: bahwa dakwah adalah amanah intelektual. Seorang dai modern dituntut tidak hanya fasih retorika, tetapi juga matang analisis, peka terhadap perbedaan, dan cakap berteknologi. Dakwah harus menjadi jembatan, bukan jurang pemisah; menjadi cahaya pencerahan, bukan sumber konflik.

Oleh karena itu, belajar Ilmu Dakwah berarti belajar mencintai manusia—memahami mereka apa adanya, lalu membimbingnya menjadi lebih baik tanpa memaksa, tanpa menghakimi, dan tanpa merasa paling benar. Inilah ruh dakwah yang ingin ditanamkan melalui setiap CPL, CPMK, Sub-CPMK, hingga setiap penilaian pembelajaran dalam RPS.

Ruang kelas memang menjadi titik awal, tetapi bukan tujuan akhir. Tujuan sejatinya adalah masyarakat: keluarga, sekolah, media, ruang publik, dan dunia digital. Di sanalah mahasiswa dakwah akan menulis sejarahnya sendiri. Dan ketika mereka melangkah dengan bekal ilmu, etika, dan kompetensi, dakwah tidak lagi menjadi slogan, melainkan gerakan nyata yang memperbaiki kehidupan.

Wallohu a'lam 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar