Ekspedisi Cheng Ho dan Jejak Peradaban Maritim Dunia


ketakketikmuatopa.com, Ekspedisi Cheng Ho merupakan salah satu pencapaian maritim paling luar biasa dalam sejarah dunia pra-modern. Selama hampir empat dekade, yaitu antara tahun 1405 hingga 1433 M, armada besar Dinasti Ming yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho menjelajahi kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga pantai Afrika Timur. Ekspedisi ini bukan sekadar pelayaran biasa, melainkan proyek negara yang melibatkan kekuatan politik, ekonomi, diplomasi, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maritim secara terpadu.1

Menurut Prof. Chi Min Tang, guru besar Universitas Nanking, ekspedisi Cheng Ho secara sadar maupun tidak telah mendorong perkembangan teknik navigasi dunia secara signifikan. Armada Cheng Ho memanfaatkan kompas magnetik, peta laut yang relatif akurat, pengetahuan astronomi, serta teknologi pembuatan kapal yang jauh melampaui standar pelayaran Eropa pada abad ke-15.2 Kapal-kapal harta (bao chuan) yang digunakan mampu mengangkut ribuan awak, logistik, dan hadiah diplomatik, mencerminkan supremasi maritim Dinasti Ming pada masanya.

Latar belakang Cheng Ho

Cheng Ho lahir pada tahun 1382 M di Provinsi Yunnan dengan nama Ma He (atau Ma Ho). Ia berasal dari keluarga Muslim Tionghoa; marga “Ma” secara luas dipahami sebagai adaptasi dari nama “Muhammad,” yang lazim digunakan oleh komunitas Muslim di Tiongkok.3 Leluhurnya tercatat pernah menjadi pejabat di wilayah barat daya Tiongkok dan memiliki keterkaitan dengan jaringan Islam Asia Tengah.

Setelah wilayah Yunnan ditaklukkan oleh Dinasti Ming, Ma He ditawan dan kemudian dijadikan kasim istana. Namun kecerdasan, loyalitas, dan kemampuan militernya membuat ia dipercaya oleh Zhu Di, yang kelak naik takhta sebagai Kaisar Yongle. Atas jasa-jasanya, Ma He dianugerahi nama kehormatan “Cheng,” sehingga dikenal dalam sejarah sebagai Cheng Ho (Zheng He).4

Sebagai laksamana, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi besar yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga diplomatik. Armada tersebut membawa surat kekaisaran, hadiah, dan simbol legitimasi politik Dinasti Ming kepada kerajaan-kerajaan di sepanjang jalur Samudra Hindi

Misi dan Pengaruh Ekspedisi 

Tujuan utama ekspedisi Cheng Ho meliputi penguatan legitimasi Kaisar Yongle, pengamanan jalur perdagangan internasional, peneguhan sistem upeti (tributary system), serta unjuk kekuatan maritim Tiongkok.5 Namun di luar tujuan politik tersebut, ekspedisi ini juga menjadi medium pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, dan agama.

Di berbagai pelabuhan penting—seperti Malaka, Samudera Pasai, Tuban, Gresik, Sri Lanka, Kalikut, Hormuz, dan Aden—Cheng Ho menjalin hubungan diplomatik dengan penguasa setempat serta komunitas pedagang. Kehadiran armada besar ini menciptakan stabilitas keamanan laut dan mendorong pertumbuhan perdagangan lintas kawasan.6

Cheng Ho wafat pada pelayaran terakhirnya sekitar tahun 1433 M dan diyakini meninggal di India. Sebagian sumber menyebutkan ia dimakamkan di laut, sementara makam simboliknya berada di Nanjing sebagai bentuk penghormatan negara.7

Cheng Ho dan Islam Nusantara 

Pakar Islam Nusantara, Sunyoto, menegaskan bahwa Cheng Ho merupakan tokoh legendaris baik di Nusantara maupun di Tiongkok. Namun, kedatangan Cheng Ho bukanlah awal mula masuknya Islam di Nusantara, khususnya di kalangan masyarakat Tionghoa.8

Keberadaan komunitas Muslim Tionghoa di Nusantara telah tercatat jauh sebelum abad ke-15. Hal ini diperkuat oleh catatan pelaut Italia Marco Polo, yang singgah di Perlak (Aceh) pada tahun 1292 M. Dalam catatannya, Marco Polo menyebutkan bahwa wilayah tersebut telah dihuni oleh masyarakat Muslim, termasuk penduduk yang berasal dari Tiongkok.9

Fakta ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi di Nusantara berlangsung secara damai melalui jalur perdagangan dan interaksi budaya. Ketika Cheng Ho tiba di Jawa, khususnya di Tuban, ia mendapati komunitas Tionghoa Muslim yang telah mapan dan hidup berdampingan dengan masyarakat lokal.10

Dengan demikian, peran Cheng Ho lebih tepat dipahami sebagai penguat jaringan Islam dan perdagangan yang telah ada, bukan sebagai pembawa Islam pertama ke Nusantara.

Penutup

Ekspedisi Cheng Ho memiliki arti penting dalam sejarah dunia maritim dan sejarah Islam di Asia Tenggara. Ia menjadi simbol keterhubungan antarbangsa, pertukaran peradaban lintas budaya, serta bukti bahwa jalur laut telah lama menjadi medium diplomasi dan dialog damai. Cheng Ho bukan sekadar laksamana besar, melainkan figur sejarah yang merepresentasikan sinergi antara ilmu pengetahuan, kekuatan politik, dan nilai toleransi dalam peradaban dunia.

Catatan kaki:

  1. Edward L. Dreyer, Zheng He: China and the Oceans in the Early Ming Dynasty, New York: Pearson Longman, 2007.
  2. Chi Min Tang, Maritime Technology of Ming China, Nanjing: Nanjing University Press, 1995.
  3. Levathes, Louise, When China Ruled the Seas, New York: Oxford University Press, 1994.
  4. Edward L. Dreyer, Zheng He, hlm. 45–47.
  5. Wang Gungwu, The Chinese Overseas, Cambridge: Harvard University Press, 2000.
  6. Roderich Ptak, China and the Asian Seas, Aldershot: Ashgate, 1998.
  7. Louise Levathes, When China Ruled the Seas, hlm. 185.
  8. Sunyoto, Atlas Wali Songo, Jakarta: Pustaka IIMaN, 2012.
  9. Marco Polo, The Travels of Marco Polo, terj. Ronald Latham, London: Penguin Books, 1958.
  10. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKiS, 2005.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar