Cerpen religi dari teras Albiruni
ketakketikmustopa.com, Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menemani sunyi yang telah lama menetap di rumah itu. Kakek Rahman duduk sendiri di kursi kayu tua, punggungnya membungkuk, tangannya gemetar memeluk tongkat. Tubuhnya tak lagi setia. Setiap gerak adalah perjuangan, setiap napas terasa berat.
Sejak Aminah—istrinya—lebih dulu dipanggil Allah, rumah itu kehilangan ruhnya. Tak ada lagi aroma masakan subuh, tak ada lagi suara dzikir lirih yang biasa mengalun sebelum fajar. Yang tersisa hanya ruang-ruang kosong dan kenangan yang menempel di dinding.
Tiga anaknya telah menjadi orang-orang yang “berhasil”.
Yang pertama tinggal di negeri jauh, bekerja di perusahaan besar.
Yang kedua menempati jabatan tinggi di kota metropolitan.
Yang ketiga menjadi pengusaha yang disegani.
Nama mereka sering disebut orang dengan kagum.
Namun setiap malam, Kakek Rahman hanya ditemani detak jam dan rindu yang menyesak.
Ia bangkit perlahan, berjalan tertatih menuju lorong foto keluarga. Di sana, wajahnya yang dulu gagah tersenyum di samping Aminah yang teduh. Anak-anaknya berdiri di depan mereka—kecil, polos, penuh harapan.
“Aminah…” bisiknya, suara itu rapuh.
“Andai aku lebih banyak menyiapkan akhirat… bukan hanya dunia untuk mereka…”
Air mata jatuh tanpa suara.
Suatu malam, tubuh Kakek Rahman melemah lebih cepat dari biasanya. Nafasnya pendek, dadanya sesak. Kerabat yang menemaninya segera menghubungi ketiga anaknya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu kembali ramai.
Mereka berdiri di sisi ranjang. Terdiam.
Ayah yang dulu tegap kini terbaring kurus, nyaris tak berdaya.
“Abi…” suara anak sulung pecah.
“Kami pulang…”
Kelopak mata Kakek Rahman bergerak perlahan. Ia menatap wajah-wajah itu lama, seakan memastikan mereka nyata.
“Alhamdulillah…” ucapnya lirih.
“Kalian… masih ingat… jalan pulang…”
Anak kedua menggenggam tangan ayahnya.
“Abi… maafkan kami. Kami jarang pulang. Kami terlalu sibuk…”
Kakek Rahman tersenyum lemah.
“Dunia memang… pandai mencuri waktu…”
Ia menoleh pada anak bungsunya.
“Kamu… masih shalat?”
Pertanyaan itu menghantam seperti palu. Anak bungsu menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan ayahnya.
“Kadang, Bi…” jawabnya terbata.
“Sering lalai…”
Kakek Rahman menarik napas panjang.
“Abi tidak takut mati…” katanya pelan.
“Abi hanya takut… bertemu Allah… tanpa cukup bekal… dan melihat kalian… jauh dari-Nya…”
Tangis pecah.
“Abi…” suara anak sulung gemetar,
“Doakan kami… agar kami tak kehilangan arah…”
Kakek Rahman mengangguk pelan.
“Ilmu, jabatan, harta… itu titipan…”
“Kalau harus memilih… pilihlah yang menyelamatkan kalian di akhirat…”
Tangannya gemetar mengusap udara, seakan mencari sesuatu.
“Shalat… jaga shalat…”
“Dan doakan Abi… setelah ini…”
Genggaman itu perlahan melemah. Napas terakhir keluar bersama kalimat yang nyaris tak terdengar:
“Ya Allah… aku pulang…”
Tangis memenuhi ruangan. Rumah besar itu akhirnya bersuara—bukan oleh tawa, melainkan oleh kesadaran yang terlambat.
Cerpen Kakek Rahman bukan sekadar kisah kematian. Ia adalah pesan bagi yang masih diberi waktu. Bahwa dunia boleh dikejar, tetapi akhiratlah tempat kembali.
Karena ketika segalanya ditinggalkan, hanya iman, amal, dan doa yang akan setia menemani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar