KEZIA SYIFA: Antara Tentara Amerika dan Tanah Air


Cerpen ini diambil dari kisah nyata seorang gadis diterima di tentara Amerika dan terancam dicabut kewarganegaraannya.


ketakketikmuatopa.com, Kezia berdiri di depan cermin barak militer itu cukup lama. Seragam loreng yang dikenakannya rapi, nyaris tanpa cela. Ia merapikan ujung lengan, menarik napas, lalu berhenti.

“Aku kelihatan seperti orang lain,” gumamnya pelan.

Pantulan di cermin menunjukkan seorang prajurit perempuan dengan sikap tegap dan tatapan tegas. Namun di balik ketegapan itu, Kezia merasakan sesuatu yang rapuh. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah paspor hijau. Sampulnya sedikit pudar.

“Tangerang, Indonesia,” bisiknya sambil membaca halaman pertama.

Dadanya terasa sesak.

Beberapa bulan sebelumnya, suasana rumah mereka di Amerika terasa sunyi. Kezia duduk di meja makan bersama ayah dan ibunya. Tak ada suara televisi. Hanya detak jam dinding yang terdengar jelas.

“Zia,” ayah membuka percakapan dengan nada hati-hati, “ayah dan ibu ingin bicara jujur.”

Kezia mengangguk.

“Aku dengar, Yah.”

“Biaya kuliah di sini mahal,” lanjut ayah. “Kami belum sanggup.”

Kezia menunduk sejenak, lalu berkata,

“Aku nggak mau berhenti sekolah. Aku juga nggak mau menyusahkan ayah ibu.”

Ibu memandangnya dengan cemas.

“Kamu sudah kepikiran jalan lain?”

Kezia menarik napas panjang.

“Aku mau daftar Army National Guard.”

Sendok di tangan ibu berhenti bergerak.

“Militer?” suara ibu bergetar.

“Iya, Bu. Tapi bukan pasukan tempur. Aku bagian logistik. Gudang. Administrasi.”

Ayah mengusap wajahnya.

“Itu jalan yang berat.”

“Aku tahu,” jawab Kezia mantap. “Tapi aku mau bertanggung jawab atas hidupku sendiri.”

Ibu menatap Kezia lama sekali.

“Kalau begitu,” katanya lirih, “ibu cuma minta satu… jangan lupa asalmu.”

Saat itu Kezia mengangguk, tanpa benar-benar memahami betapa berat makna kalimat itu.

Hari pelantikan terasa seperti mimpi. Aula besar, barisan rapi, dan suara komandan yang tegas menggema.

“Raise your right hand.”

Kezia mengangkat tangan kanannya.

“I solemnly swear…”

Kata-kata itu keluar lancar dari bibirnya. Dadanya dipenuhi rasa bangga. Ia melihat ayah dan ibunya di kejauhan, tersenyum haru.

“Aku berhasil,” bisiknya dalam hati.

“Aku tidak menyerah.”

Namun tak seorang pun berkata bahwa sumpah itu juga membawa konsekuensi yang tak tertulis di wajah siapa pun.

Telepon ayah datang pada suatu malam, saat Kezia sedang membereskan inventaris gudang.

“Zia,” suara ayah terdengar berat, “ayah baru dapat informasi penting.”

“Kenapa, Yah?”

“Kamu tahu aturan soal warga negara Indonesia yang masuk dinas militer asing?”

Kezia terdiam.

“Nggak begitu paham.”

“Status kewarganegaraanmu bisa gugur.”

Kata itu menghantam keras.

“Gugur?” Kezia berbisik.

“Iya. Demi hukum.”

Tangannya gemetar.

“Jadi… aku bukan orang Indonesia lagi?” tanyanya lirih.

Ayah terdiam lama sebelum menjawab.

“Secara hukum… mungkin begitu.”

Air mata Kezia menggenang.

“Ayah… aku nggak pernah berniat meninggalkan Indonesia.”

“Ayah tahu,” jawab ayah cepat. “Tapi negara berjalan dengan aturan, bukan niat.”

Malam itu, Kezia duduk sendiri di gudang logistik. Lampu neon berdengung pelan, seperti suara kesepian.

“Kalau aku salah, di mana letak salahku?” gumamnya.

Ia menatap rak-rak besi yang tersusun rapi. Semua barang punya kode. Semua tercatat.

“Kok hidup manusia nggak sesederhana ini?”

Ia teringat masa kecilnya. Hujan di halaman rumah. Bau tanah basah. Ibu yang memanggilnya masuk karena magrib hampir tiba.

“Kenapa semua itu sekarang terasa jauh banget?” bisiknya.

Panggilan ibu masuk tak lama kemudian.

“Kamu capek, Nak?” tanya ibu lembut.

“Aku kuat, Bu,” jawab Kezia cepat.

“Kamu boleh kuat,” kata ibu pelan, “tapi kamu juga boleh menangis.”

Kezia terdiam lama.

“Bu… kalau pasporku dicabut, aku masih punya rumah nggak?”

Ibu menangis di seberang sana.

“Rumah itu bukan cuma negara,” katanya terbata. “Rumah itu tempat kamu diingat dan didoakan.”

“Tapi Bu… negara nggak mengingat aku lagi.”

Ibu menarik napas panjang.

“Negara punya aturan. Tapi cinta orang tua tidak pernah dicabut.”

Tangis Kezia pecah tanpa suara.

Kini, Kezia kembali berdiri di depan cermin barak. Seragam itu masih rapi. Sikapnya masih tegap. Namun kini ia memahami sesuatu yang baru.

Ia berbisik pada pantulannya sendiri,

“Aku memilih masa depan. Dan aku belajar bahwa setiap pilihan punya harga.”

Ia tidak membenci negaranya. Ia juga tidak menyesali keputusannya. Namun kini ia tahu, cinta tanah air bukan hanya soal perasaan, tetapi juga tentang kesadaran hukum dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Kezia menyimpan paspor itu kembali ke saku seragamnya.

Tanah kelahiran mungkin bisa hilang dari dokumen, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari hati.

-Sekian-

Nantikan juga keseruan kisah ini di buku novel "KEZIA SUIFA: Antara Tentara Amerika dan Tanah Air' karya -@potsuM-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar