Filosofi Cecak dan Kucing: Meraih Rezeki dengan Ikhtiar dan Tawakal

 

ketakketikmustopa.com, Pagi itu ruang kelas di kampus terasa tenang. Matahari baru saja naik, cahayanya menembus jendela kelas dan jatuh di papan tulis. Para mahasiswa sudah duduk rapi. Di depan kelas, Pak Mustofa, seorang dosen yang dikenal sederhana, berdiri sambil memegang spidol.

Hari itu suasana kelas sedikit berbeda. Para mahasiswa tampak lebih serius dari biasanya. Mungkin karena banyak dari mereka sedang memikirkan masa depan, tugas kuliah, bahkan persoalan hidup masing-masing.

Pak Mustofa menulis sebuah judul di papan tulis.

“Filosofi Cecak dan Kucing.”

Mahasiswa saling berpandangan. Judul itu terdengar sederhana, tetapi juga misterius.

Pak Mustofa tersenyum.

“Anak-anak, hari ini kita tidak hanya belajar teori. Kita akan belajar dari makhluk kecil yang sering kita lihat di rumah.”

Beberapa mahasiswa tersenyum penasaran.

Tangan Azizah terangkat.

“Pak, maksudnya kita belajar dari hewan?”

Pak Mustofa mengangguk pelan.

“Betul, Azizah. Kadang-kadang pelajaran hidup justru datang dari hal yang paling sederhana.”

Ia kemudian berkata dengan suara tenang.

“Ketika hidup kita sedang bergemuruh karena tagihan yang menumpuk, impian yang belum tercapai, atau masa depan yang terlihat buram, cobalah katakan pada dirimu sendiri:”

Pak Mustofa berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Aku mungkin tidak bisa terbang, tapi bisa saja rezekiku sedang terbang menuju ke arahku. Aku mungkin tidak bisa menyelam, tapi bisa saja rezekiku sedang dibawa arus menuju pelataran rumahku.”

Kelas menjadi sunyi.

Rofi’i mengangkat tangan.

“Pak, kalau begitu apakah kita hanya perlu menunggu rezeki datang?”

Pak Mustofa tersenyum.

“Itulah yang sering disalahpahami.”

Ia berjalan pelan di depan kelas.

“Ketahuilah, kekhawatiran tidak akan mengubah hari esok. Ia hanya akan merampas kedamaianmu hari ini. Maka jangan habiskan energimu untuk mencemaskan apa yang sudah dijamin.”

“Gunakan energimu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Sang Pemilik rezeki.”

Para mahasiswa mengangguk pelan.

Pak Mustofa melanjutkan.

“Karena ketika Tuhan sudah berkehendak, hal yang paling mustahil sekalipun akan menjadi nyata.”

Ia menunjuk ke arah langit-langit kelas.

“Yang terbang akan hinggap. Yang menyelam akan menepi. Semua akan bertemu pada titik yang tepat, di waktu yang indah.”

Tiba-tiba Abdul Karim mengangkat tangan.

“Pak, kalau rezeki sudah dijamin, kenapa kita masih harus berusaha?”

Pak Mustofa menatapnya dengan ramah.

“Pertanyaan yang bagus, Karim.”

Ia lalu menunjuk ke arah dinding kelas.

Di sana seekor cecak sedang diam menempel di dekat lampu.

“Coba kalian lihat cecak itu.”

Mahasiswa mengikuti arah pandang dosen mereka.

“Cecak tidak akan kenyang jika ia hanya mematung tanpa menjulurkan lidahnya.”

Beberapa mahasiswa tersenyum.

“Dan kucing tidak akan mendapatkan ikan jika ia hanya tidur di pojok ruang.”

Abdul Mujib tertawa kecil.

“Benar juga, Pak. Kucing di rumah saya kalau lapar langsung mengeong keras.”

Pak Mustofa ikut tersenyum.

“Nah, di situlah pelajarannya.”

Ia kembali menatap seluruh kelas.

“Tuhan memang menjamin semua makhluk. Tetapi Dia juga mencintai hamba-Nya yang mengayunkan langkah, yang memeras keringat, dan yang tidak lelah mengetuk pintu-pintu ikhtiar.”

Pak Mustofa lalu menunjuk lagi ke arah cecak di dinding.

“Cecak tidak bisa terbang. Tapi perhatikan gerakannya.”

“Dia merayap. Ia berpindah dari satu titik ke titik lain.”

“Ia sabar mengintai. Ia memilih tempat di dekat cahaya lampu, karena di situlah nyamuk berkumpul.”

Azizah terlihat berpikir.

“Berarti cecak juga punya strategi ya, Pak?”

“Betul sekali,” jawab Pak Mustofa.

“Rezeki memang milik Tuhan. Tapi gerak adalah milikmu.”

Ia melanjutkan dengan suara tenang.

“Kamu mungkin tidak punya modal besar. Tapi kamu punya waktu.”

“Kamu mungkin tidak punya koneksi. Tapi kamu punya lisan untuk bertanya dan belajar.”

“Jika kamu hanya diam, nyamuk-nyamuk itu akan beterbangan begitu saja.”

Rofi’i kembali bertanya.

“Kalau filosofi kucing bagaimana, Pak?”

Pak Mustofa tertawa kecil.

“Ah, kucing itu guru kehidupan yang hebat.”

Ia melanjutkan.

“Kucing akan menunggu di dekat meja makan.”

“Ia akan mengeong menarik perhatian.”

“Atau ia berjalan berkilo-kilo meter mencari tempat di mana aroma ikan tercium.”

Kelas mulai terasa hidup.

Pak Mustofa berkata lagi,

“Kucing tidak duduk diam di dalam kardus kosong sambil berharap ikan jatuh dari langit.”

Mahasiswa tertawa pelan.

“Jadi kucing mengajarkan kita keberanian untuk muncul.”

Ia memandang para mahasiswa dengan serius.

“Kadang rezeki datang bukan karena kita menemukannya, tetapi karena kita menempatkan diri di tempat di mana rezeki itu biasa lewat.”

Abdul Karim terlihat semakin tertarik.

“Pak, kalau begitu bagaimana cara kita menempatkan diri?”

Pak Mustofa menjawab perlahan.

“Kamu ingin sukses di bidang tertentu?”

“Datanglah ke bidang itu.”

“Belajarlah.”

“Bergabunglah dengan orang-orang yang ada di sana.”

“Asahlah keahlianmu.”

“Kamu harus terlihat oleh peluang, sebagaimana kucing terlihat oleh pemilik ikan.”

Suasana kelas menjadi sangat hening.

Pak Mustofa kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat yang dalam.

“Bekerja keraslah seolah-olah semuanya bergantung pada usahamu.”

“Namun berdoalah seolah-olah semuanya hanya bergantung kepada Tuhan.”

“Itulah keseimbangan sejati.”

Ia menatap para mahasiswa satu per satu.

“Jangan menjadi cecak yang hanya bermimpi terbang hingga lupa bagaimana cara merayap.”

“Dan jangan menjadi kucing yang hanya berkhayal mendapatkan ikan hingga lupa cara mencari jalan.”

Bel tanda kuliah hampir berbunyi.

Namun sebelum keluar kelas, Azizah berkata pelan.

“Pak… ternyata pelajaran hidup bisa datang dari cecak dan kucing.”

Pak Mustofa tersenyum hangat.

“Karena sesungguhnya,” katanya pelan,

“Tuhan menaruh hikmah di mana saja. Tugas kita hanya membuka mata dan hati untuk melihatnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar