ketakketikmustopa.com, Langit sore di halaman kampus STID Al-Biruni Cirebon tampak berwarna keemasan. Bulan Ramadhan hampir berakhir. Angin lembut berhembus membawa aroma gorengan dari kantin mahasiswa yang mulai menyiapkan takjil.
Di teras perpustakaan, Salsabila Nur Aini duduk sambil menutup mushaf Al-Qur’an yang baru saja ia baca. Wajahnya teduh, namun matanya menyimpan kerinduan yang sulit dijelaskan.
Sudah hampir dua tahun ia menjalani hari-hari tanpa kehadiran seseorang yang dulu selalu menemaninya di kampus.
Seseorang itu bernama Ahmad Faris.
Faris adalah mahasiswa dakwah yang sederhana, dikenal rajin ke masjid dan sering mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Namun setelah lulus, ia memilih merantau jauh ke **Kalimantan untuk mengajar di sebuah pesantren kecil di pedalaman.
Sebelum berangkat, di pelataran masjid kampus, Faris pernah berkata kepada Salsabila.
“Aku tidak ingin hubungan kita menjadi dosa.”
Salsabila menatapnya dengan mata berkaca.
“Aku juga tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya pelan.
Faris tersenyum tenang.
“Kalau kita berjodoh, Allah akan mempertemukan kita lagi dengan cara yang paling indah.”
Sejak hari itu, mereka tidak lagi sering berkomunikasi. Mereka memilih menjaga hati dengan jarak dan doa.
---
Ramadhan di Tanah Seberang
Di sebuah desa kecil di pedalaman Kalimantan, Faris baru saja selesai mengajar anak-anak mengaji selepas tarawih.
Lampu-lampu rumah kayu menyala redup di sepanjang tepian sungai.
Ia duduk di teras asrama sederhana sambil memandang langit malam.
“Sudah hampir lebaran,” gumamnya.
Tiba-tiba ia teringat seseorang di Cirebon.
Salsabila.
Ia teringat bagaimana gadis itu selalu membagikan takjil kepada mahasiswa yang masih berada di kampus. Ia juga ingat senyum Salsabila setiap kali mereka bertemu di perpustakaan.
Faris menghela napas.
“Aku tidak bisa pulang tahun ini…”
Pesantren tempatnya mengajar sedang membangun madrasah kecil, dan ia memilih tetap di sana membantu.
Namun malam itu sebuah ide muncul di benaknya.
“Kalau aku tidak bisa pulang… setidaknya aku bisa mengirimkan sesuatu.”
Keesokan harinya Faris pergi ke kota kecil terdekat. Ia membeli beberapa barang sederhana: Kurma, Kue kering lebaran,bMadu hutan Kalimantan, Tasbih kayu ulin, Sebuah mukena putih.
Semua ia susun rapi dalam sebuah kotak hampers.
Di atasnya ia menaruh sepucuk surat.
---
Paket yang Datang di Ujung Ramadhan
Tiga hari menjelang Idul Fitri, seorang kurir datang ke asrama putri kampus STID Al-Biruni Cirebon.
“Paket untuk Salsabila Nur Aini,” kata kurir itu.
Salsabila terkejut.
“Saya?”
Teman sekamarnya, Nadia Putri, langsung penasaran.
“Siapa yang kirim?”
Salsabila membaca alamat pengirim.
Dari Kalimantan.
Hatinya langsung berdebar.
Dengan tangan sedikit gemetar ia membuka kotak hampers itu.
Di dalamnya tersusun rapi hadiah-hadiah lebaran. Ada: Mukena putih yang lembut, Kurma, Madu hutan, Tasbih kayu.
Di bagian atas terdapat sebuah surat kecil. Salsabila membukanya perlahan:
Gambar surat dari Faris
Dear Salsabila…
Ramadhan tahun ini aku tidak bisa pulang ke Cirebon.
Namun bukan berarti aku lupa pada seseorang yang pernah berjalan bersamaku menuju masjid kampus.
Aku tidak ingin mengganggu hidupmu dengan kata-kata yang terlalu sering.
Tapi aku juga tidak ingin hatimu merasa sendiri.
Karena itu… aku kirimkan hampers lebaran ini.
Semoga setiap kurma yang kau makan menjadi pengingat bahwa di seberang pulau ada seseorang yang sedang belajar menjadi lelaki yang pantas menjemputmu.
Jika Allah mengizinkan…
Suatu hari nanti aku tidak akan mengirim hampers lagi.
Aku akan datang sendiri ke rumahmu membawa lamaran.
Ahmad Faris
Dari Kalimantan
---
Air mata Salsabila jatuh perlahan.
Nadia yang membaca surat itu ikut terdiam.
“MasyaAllah… ini cinta yang dijaga,” bisiknya.
Salsabila memeluk mukena putih dari hampers itu.
“Ini bukan sekadar hadiah,” katanya lirih.
“Ini janji.”
Di luar jendela, bedug maghrib mulai terdengar dari masjid kampus STID Al-Biruni Cirebon.
Salsabila berdiri, mengambil mukena itu, lalu berjalan menuju masjid.
Di dalam hatinya ia berdoa:
"Ya Allah… jika Faris adalah jodohku, pertemukan kami dalam akad yang Engkau ridai."
---
Di Kalimantan, Faris juga sedang berbuka puasa bersama para santri kecil di pesantren.
Ia tersenyum tenang.
Karena ia percaya satu hal: Cinta yang dijaga oleh iman tidak akan kalah oleh jarak.
Dan di antara dua pulau yang berjauhan, ada dua hati yang saling menjaga.
Dengan doa. Dengan kesetiaan.
Dan dengan sebuah hampers lebaran yang dikirimkan dari seberang negeri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar