ketakketikmustopa.com, Setiap Muslim menyimpan kerinduan untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci, menghadap Ka’bah di Makkah, dan menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima. Kerinduan itu juga tumbuh dalam diri Sunan Kalijaga, atau Raden Said—seorang wali yang dikenal bijak dalam berdakwah dan dekat dengan budaya masyarakat Jawa.
Dikisahkan, suatu ketika Sunan Kalijaga berada di Malaka. Ia berniat melanjutkan perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, niat tersebut tidak terwujud. Seorang ulama sepuh, Maulana Maghribi, justru memintanya untuk kembali ke Jawa dan tidak melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.
Larangan itu bukan tanpa sebab. Saat itu, kondisi masyarakat Jawa sedang berada dalam masa transisi. Runtuhnya Majapahit dan munculnya Kesultanan Demak menimbulkan keguncangan sosial dan keagamaan. Keimanan masyarakat masih rapuh, dan dakwah sangat dibutuhkan. Maulana Maghribi khawatir, jika Sunan Kalijaga meninggalkan Jawa, masyarakat akan kehilangan bimbingan dan bisa kembali pada keyakinan lama.¹
Lebih dari itu, Maulana Maghribi menyampaikan pesan yang mendalam: bahwa “Makkah sejati” bukan hanya tempat yang jauh di sana, tetapi juga berada dalam diri manusia. Ka’bah di Makkah adalah simbol tauhid yang agung, namun hakikat haji tidak berhenti pada perjalanan fisik. Haji adalah perjalanan ruhani—menuju penyucian hati dan kedekatan dengan Allah.²
Dalam ajaran yang terekam dalam Suluk Wijil, seseorang dikatakan sampai pada “Makkah sejati” ketika ia mampu menjalani mati sajroning urip—mematikan hawa nafsu dan menghidupkan kesadaran spiritual dalam dirinya.³
Versi lain menyebutkan bahwa yang menghentikan perjalanan Sunan Kalijaga adalah Nabi Khidir. Dalam perjalanan di tengah laut menuju Makkah, Nabi Khidir menasihatinya agar tidak melanjutkan perjalanan jika belum memahami makna ibadah yang akan dijalani. Kisah ini terekam dalam Suluk Linglung.⁴
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga: bahwa dalam kondisi tertentu, kepentingan umat harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi. Sunan Kalijaga memilih kembali ke Jawa untuk menguatkan iman masyarakat dan melanjutkan dakwahnya.
Jika kita refleksikan pada masa kini, persoalan umat tidak hanya soal keimanan, tetapi juga kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan sosial. Maka menjadi tidak bijak jika seseorang berulang kali menunaikan haji atau umrah, namun mengabaikan penderitaan di sekitarnya.
Dalam sebuah kisah, para sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad tentang siapa yang memperoleh haji mabrur. Rasulullah menyebut seseorang yang tidak jadi berangkat haji, karena ia menggunakan bekalnya untuk menolong tetangganya yang sedang sakit.⁵
Kisah ini mengajarkan bahwa nilai ibadah tidak hanya terletak pada ritual, tetapi juga pada kepedulian. Bahwa jalan menuju Allah bisa ditempuh tidak hanya dengan perjalanan ke Tanah Suci, tetapi juga dengan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Wallohu a'lam
Catatan Kaki (Footnote):
¹ Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo (Bandung: Mizan, 2016).
² Simuh, Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa (Yogyakarta: Bentang, 1995).
³ Suluk Wijil, dalam kajian sastra Jawa klasik tentang ajaran spiritual Sunan Kalijaga.
⁴ Suluk Linglung, naskah klasik yang memuat kisah perjalanan spiritual Sunan Kalijaga.
⁵ Hadis tentang keutamaan menolong sesama dan makna haji mabrur, lihat Riyadhus Shalihin (Bab tentang tolong-menolong dan amal kebajikan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar