Dari Teheran ke Palestina: Berakhir di Warung Kopi Al-Biruni


ketakketikmustopa.com,  Cerpen obrolan santai di kampus STID Al-Biruni.

Malam merayap pelan di sudut kampus STID Al-Biruni Cirebon. Warung kopi sederhana di samping gerbang tampak lebih hidup dari biasanya. Lampu kuning redup menggantung, menghangatkan meja kayu yang mulai dipenuhi gelas-gelas kopi hitam.

Husein datang lebih dulu, membawa ponsel di tangannya. Wajahnya tegang.

“Ini bukan pidato biasa…” gumamnya.

Tak lama, Fitriani dan Zizi menyusul. Mereka duduk, memesan kopi, lalu memperhatikan Husein yang tampak gelisah.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Fitriani.

Husein mengangkat ponselnya. “Pidato dari Mojtaba Khamenei… dari Teheran. Viral di mana-mana. Katanya mengguncang dunia Islam.”

Zizi mengernyit. “Mengguncang… atau menggiring?”

Suara langkah pelan mendekat. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tipis dan wajah tenang ikut duduk di kursi kosong. Dialah Dr. Rachman—dosen yang dikenal tajam dalam membaca arah dunia.

“Kalian sedang membicarakan Timur Tengah?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

“Ya, Pak,” jawab Husein cepat. “Tentang pidato itu… apakah benar-benar sebesar yang orang katakan?”

Dr. Rachman tidak langsung menjawab. Ia menatap uap kopi yang perlahan menghilang di udara.

“Kadang,” katanya pelan, “yang mengguncang dunia bukanlah suara yang keras… tapi makna yang dalam.”

Sunyi sejenak. Angin malam menyelinap di antara percakapan mereka.

Fitriani membuka suara, “Saya mendengar bagian ketika dia bicara tentang umat yang satu… tentang air mata yang sama, dari Palestina hingga Iran. Rasanya… menyentuh.”

“Ya,” sahut Dr. Rachman, “itu bahasa emosi. Dan dalam geopolitik, emosi adalah bahan bakar paling kuat.”

Husein mengangguk pelan. “Tapi Pak… apakah itu murni kepedulian, atau ada kepentingan di baliknya?”

Dr. Rachman tersenyum.

“Pertanyaan yang bagus. Dalam dunia nyata, idealisme dan kepentingan sering berjalan beriringan. Tidak selalu mudah membedakannya.”

Zizi menatap lurus ke depan. “Berarti… kita tidak boleh langsung percaya?”

“Bukan tidak percaya,” jawab Dr. Rachman tenang. “Tapi belajar memahami. Setiap narasi punya tujuan. Bahkan yang terdengar paling tulus sekalipun.”

Hening kembali turun. Dari kejauhan, suara motor melintas, memecah kesunyian malam.

Fitriani menatap cangkirnya. “Bagian yang paling mengena bagi saya… ketika dia tidak memaksa orang berperang, tapi meminta doa.”

Dr. Rachman mengangguk.

“Itulah titik temu umat. Tidak semua orang bisa mengangkat senjata. Tapi semua orang bisa menengadahkan tangan.”

Husein menatap langit. “Jadi… apakah perubahan dunia benar-benar bisa dimulai dari hal kecil seperti itu?”

Pak Dr. Rachman menatap mereka satu per satu.

“Perubahan besar,” katanya pelan, “sering dimulai dari kesadaran kecil. Dari obrolan seperti ini. Dari keberanian untuk berpikir… dan tidak sekadar ikut arus.”

Angin malam terasa lebih dingin. Lampu warung sedikit bergetar.

Zizi tersenyum tipis. “Lucu ya… dari Teheran… ke Palestina… akhirnya berakhir di warung kopi ini.”

Pak dosen, Dr. Rachman ikut tersenyum.

“Begitulah dunia,” ujarnya. “Jauh… tapi sebenarnya dekat. Besar… tapi bisa kita renungkan di meja kecil seperti ini.”

Husein menghela napas panjang. “Jadi, apa yang harus kita lakukan, Pak?”

Dr. Rachman mengangkat cangkirnya, lalu berkata pelan:

“Jadilah generasi yang tidak hanya mendengar… tapi memahami. Tidak hanya tergerak… tapi juga berpikir.”

Mereka terdiam.

Di warung kopi kecil itu, di sudut kampus yang sederhana—dunia yang luas seakan menyempit menjadi satu meja. Dari Teheran… ke Palestina… hingga akhirnya berlabuh di secangkir kopi dan percakapan yang mengubah cara mereka memandang segalanya.

Wallohu a'lam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar