ketakketikmustopa.com, Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon pagi itu terasa berbeda. Di bawah rindang pohon-pohon tua yang biasa menjadi tempat diskusi mahasiswa, beberapa mahasiswa terlihat sibuk memasang tenda sederhana.
Bukan tenda pesta yang besar seperti di gedung pernikahan. Hanya tenda putih biasa, karpet hijau, dan beberapa kursi plastik yang ditata rapi.
Namun sebelum semua itu terjadi, sempat muncul perdebatan panjang.
---
Beberapa minggu sebelumnya, di rumah keluarga Fatimah, suasana ruang tamu terasa tegang.
Ayah Fatimah duduk bersandar sambil memegang brosur jasa dekorasi pernikahan.
“Fatimah,” kata ayahnya pelan namun tegas, “ini momen sekali seumur hidup. Masa pesta pernikahanmu hanya pakai tenda biasa?”
Ibunya menimpali,
“Teman-teman ibu semua kalau menikahkan anaknya pakai gedung besar. Dekorasinya bagus, lampunya cantik, makanannya banyak.”
Fatimah menunduk. Ia menghela napas pelan.
“Ayah, Ibu… aku tidak ingin pesta besar.”
Ayahnya terkejut.
“Kenapa?”
Fatimah menatap kedua orang tuanya dengan lembut.
“Karena yang penting bukan pestanya… tapi pernikahannya.”
Ibunya masih belum setuju.
“Tapi orang-orang akan bicara.”
Fatimah tersenyum kecil.
“Orang selalu bicara, Bu. Mau sederhana atau mewah.”
Beberapa saat ruangan itu hening.
Lalu Fatimah berkata lagi,
“Ayah pernah lihat pernikahan G-Z yang viral itu?”
Ayahnya mengernyit.
“Yang mana?”
“Yang viral di media sosial. Pernikahannya sangat sederhana. Tidak ada panggung mewah, tidak ada dekorasi mahal. Tapi semua orang justru terharu karena mereka terlihat bahagia dan tulus.”
Ibunya mulai memperhatikan.
Fatimah melanjutkan,
“Mereka menunjukkan bahwa pernikahan tidak harus mahal untuk menjadi bermakna.”
Ayahnya masih tampak ragu.
“Tapi ayah ingin yang terbaik untukmu.”
Fatimah mendekat dan memegang tangan ayahnya.
“Yang terbaik bukan yang paling mahal, Yah. Yang terbaik adalah yang paling berkah.”
---
Sementara itu di kampus STID Al-Biruni, Ahmad juga sedang berbicara dengan dosennya, Pak Mustopa.
Ahmad terlihat gelisah.
“Pak, saya takut mengecewakan orang tua Fatimah.”
Pak Mustopa tersenyum tenang.
“Kenapa?”
“Mereka ingin pesta besar. Tapi saya dan Fatimah ingin sederhana.”
Pak Mustopa mengangguk pelan.
“Pernikahan memang sering jadi ajang gengsi.”
Ahmad menatap beliau.
“Menurut Bapak bagaimana?”
Pak Mustopa berkata dengan suara lembut,
“Kalau kalian berdua sudah sepakat memilih kesederhanaan, itu keputusan yang baik. Selama tidak melukai orang tua, tetaplah hormati mereka.”
Ahmad mengangguk.
“Yang penting rumah tangga kalian punya arah yang jelas.”
---
Akhirnya setelah beberapa kali diskusi, ayah Fatimah mulai luluh.
Ia melihat kesungguhan anaknya.
“Baiklah,” katanya suatu malam, “kalau itu pilihanmu, ayah setuju.”
Fatimah memeluk ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Yah.”
---
Dan hari itu pun tiba.
Di halaman STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon, akad nikah Ahmad dan Fatimah berlangsung dengan sangat sederhana.
Tidak ada lampu mewah.
Tidak ada dekorasi mahal.
Hanya tenda putih sederhana, bunga seadanya, dan doa-doa dari para mahasiswa serta dosen yang hadir.
Ketika Ahmad mengucapkan ijab kabul dengan lantang, para mahasiswa langsung berseru:
“Sah!”
Suasana menjadi haru.
Fatimah meneteskan air mata bahagia.
Ayah Fatimah yang duduk di barisan depan menatap sekeliling. Ia melihat para mahasiswa membantu melayani tamu, para dosen tersenyum hangat, dan suasana yang penuh keikhlasan.
Ia lalu berkata pelan kepada istrinya,
“Mungkin benar kata Fatimah.”
“Apa?”
“Ternyata kebahagiaan tidak perlu panggung besar.”
Ibunya tersenyum.
“Yang penting anak kita bahagia.”
---
Sore itu tenda sederhana di kampus mulai dibongkar oleh para mahasiswa.
Namun cerita tentang pernikahan sederhana itu menyebar cepat. Banyak yang terinspirasi.
Bukan karena kemewahannya.
Tetapi karena keberanian dua anak muda memilih sesuatu yang lebih penting daripada gengsi dunia.
Yaitu kesederhanaan, keikhlasan, dan arah hidup yang sama menuju ridha Allah.
-------
nb:
Nama pemeran, tokoh, tempat dalam cerita inibukan yang sebenarnya. Hanya faktor kebetulan saja

Tidak ada komentar:
Posting Komentar