ketakketikmustopa.com, Langit pagi di Kampus STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin tampak cerah. Spanduk besar terpampang di depan aula utama:
“Seminar Nasional: Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan 1 Syawal 1447 H”
Mahasiswa berdatangan dengan penuh antusias. Sebagian berbisik-bisik membahas hal yang sama—perbedaan hari raya yang kembali terjadi tahun ini.
Di dalam aula, suasana mulai hangat. Di atas panggung, tampak sosok berwibawa, Dr. Imam Supardi, S.H.I, Ketua STID Al-Biruni, duduk berdampingan dengan beberapa dosen.
Acara dibuka. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Dr. Imam Supardi berdiri, merapikan mikrofon.
Dr. Imam Supardi:
“Bapak-Ibu dosen, dan anak-anakku mahasiswa yang saya banggakan… hari ini kita tidak sekadar berkumpul dalam seminar. Kita sedang belajar menjadi umat yang dewasa.”
Aula hening. Semua mata tertuju kepadanya.
Dr. Imam Supardi melanjutkan:
“Sebagaimana kita ketahui, tahun ini terjadi perbedaan. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H pada hari Jum’at, 20 Maret 2026. Sementara Nahdlatul Ulama menetapkan pada hari Sabtu, 21 Maret 2026.”
Seorang mahasiswa di barisan depan mengangkat tangan. Namanya Husein.
“Pak, kalau boleh jujur… kami kadang bingung. Kenapa sih hal sepenting hari raya bisa berbeda? Bukankah seharusnya umat Islam itu satu?”
Dr. Imam Supardi tersenyum, lalu melangkah perlahan mendekati tepi panggung.
“Pertanyaan yang sangat baik. Justru dari kebingungan itulah ilmu lahir.”
Beberapa mahasiswa tersenyum.
Dr. Imam Supardi:
“Perbedaan ini bukan karena umat Islam tidak satu. Tapi karena cara memahami dalil bisa berbeda. Ada yang menggunakan rukyat, melihat hilal langsung. Ada juga yang menggunakan hisab, perhitungan astronomi.”
Seorang dosen, Pak Mustopa, ikut menimpali dari kursinya.
“Dan keduanya punya dasar. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.’ Tapi dalam perkembangan ilmu, hisab juga menjadi alat bantu yang kuat.”
Mahasiswi bernama Zizi ikut angkat tangan.
“Pak, kalau begitu… mana yang paling benar?”
Suasana menjadi sedikit tegang. Semua menunggu jawaban.
Pak Imam Supardi tersenyum lebih dalam.
“Pertanyaan seperti itu sering muncul. Tapi mungkin kita perlu mengubah cara bertanya. Bukan ‘mana yang paling benar’, tapi ‘bagaimana kita menyikapi perbedaan ini dengan benar’.”
Aula mulai terasa hangat.
Dr. Imam Supardi melanjutkan pembicaraan:
“Allah sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
‘Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.’ (QS. Ali Imran: 103)”
Seorang mahasiswa lain, Rafi, ikut berbicara.
“Berarti… yang salah itu bukan perbedaannya, tapi sikap kita ya, Pak?”
Dr. Imam Supardi:
“MasyaAllah… tepat sekali.”
Pak Mustopa berujar:
“Kalau kita saling menyalahkan hanya karena beda hari lebaran, berarti kita belum lulus dari pelajaran ukhuwah.”
Suasana aula berubah menjadi reflektif.
Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa mulai saling berbisik, namun kini dengan nada yang lebih tenang.
Zizi bertanya:
“Jadi… kalau saya ikut keluarga yang lebaran hari Jum’at, sementara teman saya Sabtu… itu tidak masalah ya?”
Dr. Imam Supardi:
“Tidak masalah. Yang penting, setelah itu kalian tetap saling bermaafan, saling mengunjungi, dan tidak memutus silaturahmi.”
Husein tersenyum:
“Berarti bisa dua kali makan opor, Pak?”
Seluruh aula pecah dalam tawa.
Pak Mustopa sambil tersenyum berujar:
“Kalau niatnya ukhuwah, insyaAllah berkah.”
Dr. Imam menutup dengan suara yang lembut namun penuh makna.
Dr. Imam Supardi:
“Anak-anakku… Idul Fitri bukan hanya tentang tanggal. Tapi tentang hati yang kembali bersih. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan hari raya, tapi lupa menjaga persaudaraan.”
Sejenak hening.
Dr. Imam Supardi dengan suara pelan:
“Karena pada akhirnya… kita semua menuju Allah yang sama.”
Aula dipenuhi keheningan yang dalam. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena setiap hati sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Di luar, angin berhembus pelan. Seolah ikut membawa pesan:
Bahwa perbedaan adalah warna, dan ukhuwah adalah cahaya yang menyatukannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar