ketakketikmustopa.com, Sore itu, Ramadhan menyelimuti Komplek Pesantren Babakan Ciwaringin. Ribuan santri hilir mudik selepas ngaji pasaran sore, berburu takjil di Gress (pasar tumpah dadakan) yang sudah menjadi tradisi bertahun-tahun. Suasananya riuh, penuh cahaya senja dan aroma masakan dan gorengan yang menggoda di mana-mana.
Setelah puas ngabuburit berburu takjil, Pak Budiman, Bu Aisyah, dan puteri mereka, Euis Nurjanah, pun pulang membawa beberapa hidangan berbuka. Kini mereka duduk di meja makan sederhana menunggu adzan Maghrib. Di hadapan mereka, martabak telur hangat mengepul, baru saja dipotong oleh Pak Budiman.
Neng Euis duduk khusyuk, memandangi martabak itu dengan mata berbinar. Bu Aisyah menatap hidangan di meja, lalu bertanya lembut kepada suaminya,
“Bapake… aku selalu penasaran. Kenapa ya martabak itu ada dua macam? Ada yang telur gurih, ada yang manis? Dan kenapa rasanya bisa seenak itu?”
Pak Budiman tersenyum. Matanya berbinar penuh semangat.
“Ah, iya bu… martabak itu bukan sekadar makanan. Ia punya filosofi hidup yang dalam.”
Neng Euis langsung mendongak. Ia tahu, kalau Ayah sudah mulai bicara begitu, pasti akan ada cerita menarik.
Pak Budiman mengambil sepotong martabak dan mengangkatnya perlahan.
“Coba lihat ini, Neng Euis. Awalnya, adonan martabak itu kecil-kecil, lembut, bahkan rapuh. Lalu ia ditekan-tekan, digilas, diulur, bahkan dilempar-lempar.”
Neng Euis membulatkan matanya.
“Dilempar-lempar, Yah?”
“Iya,” jawab Pak Budiman sambil tersenyum. “Seperti hidup kita. Kita sering ditekan oleh masalah, digilas oleh keadaan, bahkan terasa seperti dilempar oleh cobaan. Tapi semua itu bukan untuk menghancurkan.”
Bu Aisyah mengangguk pelan, menikmati penjelasan suaminya.
“Setelah itu,” lanjut Pak Budiman penuh semangat, “adonan yang sudah melebar tadi diberi isian—daging, sayuran, telur, kornet sapi. Hidup juga begitu. Dari yang awalnya sederhana, kita diisi pengalaman, tanggung jawab, ilmu, dan kasih sayang. Semua bercampur, membentuk rasa yang kaya.”
Neng Euis mengunyah pelan martabak di tangannya, sambil terus mendengarkan.
“Lalu martabak itu masuk ke wajan panas,” kata Pak Budiman lagi. “Minyak mendidih, api menyala. Panas itu meresap ke setiap sisi. Tanpa panas, adonan tidak akan matang. Tanpa ujian, manusia tidak akan menjadi dewasa.”
“Berarti cobaan itu seperti minyak panas, Yah?” tanya Neng Euis polos.
Pak Budiman tertawa kecil.
“Betul sekali, Neng. Memang terasa panas dan tidak nyaman. Tapi justru di situlah kita ditempa.”
Bu Aisyah tersenyum hangat. “Lalu bagaimana dengan adonan yang tadi ditekan dan dilempar-lempar?”
Pak Budiman menatap istri dan anaknya bergantian.
“Nah… ketika martabak sudah matang, siap dihidangkan, orang tidak lagi menyebutnya adonan. Ia sudah berubah menjadi martabak yang utuh, lezat, dan bermanfaat. Begitu pula manusia. Setelah melewati tekanan dan ujian, kita tidak lagi dikenal dari masa sulit kita. Kita dikenal dari hasilnya—dari kebaikan dan manfaat yang kita beri.”
Neng Euis menatap ayahnya dengan mata berbinar.
“Jadi… setiap cobaan itu supaya kita jadi ‘lezat’, ya Yah?”
Pak Budiman tersenyum lebar dan menepuk pundak kecil puterinya.
“Iya, Neng. Supaya kita matang, utuh, dan siap membahagiakan orang lain. Hidup itu seperti martabak—ada yang gurih, ada yang manis. Kadang terasa asin, kadang manis. Tapi semuanya menyatu menjadi rasa yang indah.”
Adzan Maghrib pun berkumandang. Mereka saling tersenyum sebelum menyantap hidangan.
Maghrib itu, di meja makan sederhana, martabak bukan hanya mengenyangkan perut. Ia menjadi pelajaran hidup—bahwa tekanan bisa menjadi kekuatan, bahwa panas bisa melahirkan kematangan, dan bahwa setiap ujian pada akhirnya akan mengubah adonan kehidupan menjadi sesuatu yang utuh, gurih, dan manis sekaligus. "Selamat Berbuka Puasa.."
Wallohu a'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar