Bilal Tarawih di Nusantara: Tradisi, Sejarah, dan Ikhtiar Menjaga Ibadah

 

ketakketikmustopa.com, Dalam pelaksanaan sholat Tarawih setiap datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam menjumpai ragam praktik yang berbeda-beda. Ada masjid yang melaksanakan Tarawih dengan langsung berdiri kembali setelah salam, tanpa jeda bacaan apa pun. Namun di banyak masjid—khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama—terdengar suara khas yang mengalun di sela-sela rakaat Tarawih. Suara itu menyerukan niat sholat Tarawih berikutnya dan diikuti dengan sholawat yang dijawab oleh jamaah.

Petugas yang menyerukan bacaan tersebut dikenal dengan sebutan Bilal Tarawih.

Bilal Tarawih adalah orang yang bertugas memandu jamaah sebelum memulai dua rakaat berikutnya, mengingatkan jumlah rakaat, serta menjaga keteraturan pelaksanaan sholat Tarawih yang panjang—sering kali mencapai dua puluh rakaat. Ia bukan imam dan bukan bagian dari rukun sholat, melainkan berfungsi sebagai pengingat dan penyeru.

Istilah “Bilal” secara simbolik merujuk pada sosok Bilal bin Rabah, muazin pertama Islam di masa Nabi Muhammad. Namun perlu ditegaskan bahwa praktik Bilal Tarawih tidak ditemukan pada masa Nabi ﷺ, juga tidak dikenal pada masa para sahabat ketika sholat Tarawih mulai dilembagakan secara berjamaah pada era Umar bin Khattab.1

Antara Bid‘ah dan Kemaslahatan

Sebagian kalangan menilai bahwa pelaksanaan Tarawih dengan Bilal merupakan bid‘ah, dengan alasan praktik tersebut tidak pernah dilakukan di masa Nabi ﷺ. Namun pandangan ini dijawab oleh banyak ulama dengan pendekatan fikih yang lebih kontekstual.

Buya Yahya, misalnya, menjelaskan bahwa Bilal Tarawih bukanlah tambahan dalam sholat, melainkan sarana untuk memudahkan jamaah dalam menjaga keteraturan dan penghitungan rakaat. Karena tidak diyakini sebagai bagian dari ibadah inti dan tidak mengubah rukun sholat, maka praktik ini tidak tergolong bid‘ah tercela.2

Dalam kaidah fikih disebutkan:

Al-wasā’il lahā aḥkām al-maqāṣid

“Sarana mengikuti hukum tujuan.”

Selama tujuannya adalah kemaslahatan dan ketertiban ibadah, maka sarana tersebut dibolehkan.

Bacaan Bilal dan Penyebutan Khulafaur Rasyidin

Dalam praktiknya di Nusantara, Bilal Tarawih sering menyerukan bacaan yang diikuti penyebutan nama empat sahabat utama Nabi ﷺ, yaitu:

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq

2. Umar bin Khattab

3. Utsman bin Affan

4. Ali bin Abi Thalib

Empat tokoh ini dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin, simbol kepemimpinan Islam yang lurus dan berpegang teguh pada ajaran Rasulullah.3

Akar Sejarah di Tanah Jawa

Menurut penjelasan Ustadz Salim A. Fillah—seorang dai dan pegiat budaya Islam Jawa—tradisi Bilal Tarawih di Nusantara memiliki akar sejarah di lingkungan ulama Keraton Mataram.4. Ketika Islam berkembang pesat di tanah Jawa, dakwah dilakukan dengan pendekatan kultural yang bijak, namun tetap menjaga akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dalam tradisi tutur yang berkembang di masyarakat Jawa, diceritakan bahwa pada masa awal Islamisasi Nusantara terdapat berbagai corak ajaran yang ikut masuk. Sebagian di antaranya tidak sepenuhnya sejalan dengan arus utama Sunni yang menaruh kecintaan besar kepada Khulafaur Rasyidin. Oleh karena itu, para ulama Mataram mengkreasi praktik Tarawih dengan menegaskan penyebutan nama empat sahabat tersebut sebagai bentuk peneguhan identitas Sunni.5

Dalam penuturan masyarakat Jawa, bahkan dikenal ungkapan bahwa bacaan Bilal Tarawih menjadi “penyaring kultural”, karena orang-orang yang tidak memiliki kecintaan kepada para sahabat Nabi ﷺ merasa tidak nyaman mendengarnya.

Antara Sejarah dan Tradisi Lisan

Dalam kisah-kisah tersebut sering pula disebut tokoh-tokoh seperti Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging. Namun perlu dicatat bahwa kisah mengenai tokoh-tokoh ini banyak bersumber dari babad, cerita tutur, dan simbolisme budaya Jawa. Para sejarawan sendiri berbeda pandangan mengenai detail ajaran dan peran historis mereka.6

Karena itu, penjelasan tentang Bilal Tarawih sebagai benteng dari pengaruh ajaran tertentu lebih tepat dipahami sebagai memori budaya dan konstruksi sosial-keagamaan, bukan sepenuhnya fakta sejarah yang terdokumentasi secara akademik.

Bilal Tarawih adalah cermin dari cara ulama Nusantara merawat ibadah dengan kearifan lokal. Ia bukan sunnah Nabi, bukan kewajiban, dan bukan bagian dari rukun sholat. Namun ia menjadi sarana yang membantu jamaah menjaga keteraturan, menumbuhkan sholawat, dan memperkuat kecintaan kepada para sahabat Rasulullah ﷺ.

Di sinilah Islam Nusantara menunjukkan wajahnya: berpegang pada prinsip syariat, namun bijak dalam tradisi.

Wallohu a'lam 


Footnote:

1. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṣalāt al-Tarāwīḥ; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn.

2. Penjelasan Buya Yahya dalam berbagai ceramah fikih Ramadhan tentang bid‘ah dan wasilah ibadah.

3. Al-Nawawi, Al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadzdzab, Beirut: Dār al-Fikr.

4. Ustadz Salim A. Fillah, ceramah “Asal-Usul Bilal Tarawih”, kanal YouTube Berbagi Manfaat untuk Sesama.

5. Ricklefs, M.C., Islamisation and Its Opponents in Java, Singapore: NUS Press.

6. Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, Jakarta: Pustaka IIMaN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar