Pramugari

 


ketakketikmuatopa.com, Edisi hari ini akan bertutur cerita pendek (cerpen) yang berjudul Pramugari. Sebut saja namanya Melati—bukan nama sebenarnya. Gadis muda berusia dua puluh tiga tahun itu duduk rapi mengenakan seragam pramugari. Rambutnya disanggul anggun, bibirnya tersenyum tipis. Dari kejauhan, siapa pun akan berkata, “Betapa percaya dirinya…”

Cahaya terang di ruang tunggu bandara memantul lembut di wajahnya, memberi kesan harapan dan keteguhan. Tapi tak seorang pun tahu, bahwa di balik senyum itu ada sesuatu yang berat—seperti koper yang tak pernah bisa diletakkan.

Ia bukan pramugari. Ia hanyalah anak yang terlalu takut melihat orang tuanya kecewa.

Beberapa bulan sebelumnya, rumah kecil di pinggir kota itu penuh tawa. Ayah dan ibunya bekerja keras mengumpulkan tabungan: sebagian dari gaji buruh, sebagian dari hasil jualan kecil-kecilan ibunya. Tiga puluh juta—angka yang bagi banyak orang mungkin biasa, tapi bagi mereka adalah hasil peluh, doa, dan penghematan bertahun-tahun.

Uang itu mereka serahkan untuk biaya “pendaftaran pramugari” kepada seseorang yang menjanjikan masa depan cerah bagi putri semata wayang mereka.

Lalu segalanya lenyap—secepat pesan singkat yang tak lagi dibalas.

Hari itu, Melati melihat ayahnya duduk terdiam lebih lama dari biasanya. Tangannya memegang kuitansi palsu yang mulai kusut. Ibunya menunduk di ruang tamu, matanya kosong, seolah menatap masa depan yang tiba-tiba runtuh. Tidak ada bentakan, tidak ada marah—hanya sunyi yang terasa lebih menyakitkan.

Melati menahan tangis di kamarnya.

“Aku penyebabnya,” pikirnya. “Uang itu untukku… mimpi itu untukku…”

Sejak hari itu, ia memutuskan sesuatu yang gila dan sederhana:

Ia akan pura-pura menjadi pramugari.

Ia membeli seragam bekas dari marketplace, meminjam koper kabin dari tetangga, dan belajar cara tersenyum dari video tutorial. Setiap beberapa minggu ia “berangkat kerja”—padahal ia hanya menuju terminal kota lain, duduk sendirian di ruang tunggu, memotret langit dari balik kaca, lalu pulang membawa oleh-oleh murah sambil berkata riang:

“Alhamdulillah, penerbangan lancar, Bu. Ayah, doakan ya, sebentar lagi resmi tetap.”

Ayah dan ibunya tersenyum—senyum yang penuh rasa bangga, juga rasa lega. Bukan karena uang kembali, tetapi karena mereka merasa jerih payah mereka tidak sia-sia.

Malam-malam setelah itu, ketika lampu kamar dimatikan, barulah Melati menangis pelan. Pipi bantalnya basah. Ia berdoa dengan kalimat patah-patah:

“Ya Allah… aku bohong… tapi aku tidak tahu cara lain. Aku hanya ingin mereka tetap tersenyum.”

Hari itu, di ruang tunggu bandara kecil itu, ia kembali duduk dengan seragamnya. Beberapa penumpang melihatnya sekilas, mengangguk ramah. Ia membalas dengan senyum tipis, senyum yang ia latih di depan cermin. Tangannya meremas ujung rok yang rapi; hatinya bergetar di antara penyesalan dan keberanian.

Tatapannya mengarah ke depan, ke arah landasan tempat pesawat-pesawat benar-benar terbang. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak jatuh.

Seolah-olah ia berkata pada dirinya sendiri:

“Aku akan bangkit… meski harus dengan air mata.”

Dan pada detik itu, ia berjanji diam-diam: suatu hari, entah bagaimana caranya, ia benar-benar akan menjadi pramugari—atau apa pun yang membuat ayah dan ibunya tetap bangga. Bukan karena seragamnya, bukan karena gajinya, tetapi karena ia ingin membayar senyum yang pernah hampir hilang.

Cahaya sore merambat turun, membingkai wajahnya yang lelah namun tegar.

Sementara dunia hanya melihat seorang gadis berseragam. Allah melihat seorang anak yang sedang berjuang sendirian—antara kebenaran dan cinta.

Untuk tahun cerita berikutnya bagaimana nasibnya melati, nantikan buku novel berjudul "Pramugari"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar