Cerpen dakwah, dari kampus biru STID Albiruni
ketakketikmuatopa.com, Aku tidak pernah menyangka, satu kejadian sepele yang sering hanya jadi berita singkat—penjambretan—akan menjelma menjadi peristiwa paling kelam dalam hidupku.
Sore itu di Sleman, aku berjalan pulang dengan tas di bahu dan doa-doa kecil di kepala. Jalanan ramai, seperti biasa. Aku bahkan sempat berpikir untuk membeli gorengan di ujung gang sebelum pulang.
Lalu semuanya pecah.
Tarikan keras menghantam pundakku. Tasku direnggut. Tubuhku terhuyung dan jatuh. Aspal mencium lututku dengan panas yang menyengat.
“Tas… tas saya!” teriakku.
Dua motor melesat pergi. Suara knalpotnya mengoyak telinga dan hatiku sekaligus. Aku terduduk, gemetar. Bukan tas yang kupikirkan, tapi rasa aman yang tiba-tiba hilang. Orang-orang berkerumun. Ada yang menolong, ada yang hanya menonton.
Dan di antara keramaian itu, aku melihat mobil suamiku berhenti mendadak.
Pintu terbuka. Ia berlari ke arahku.
“Kamu kenapa?!”
“Aku dijambret…” suaraku nyaris tak keluar. Tanganku menunjuk ke arah jalan. “Mas… tas…”
Tatapannya mengikuti arah jariku. Wajahnya berubah. Matanya menegang—bukan oleh marah, tapi oleh ketakutan kehilangan.
“Kamu tunggu di sini!”
“Mas, jangan!” Aku meraih lengannya. “Biarkan saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa…”
Ia menatapku sebentar. Terlalu sebentar untuk sebuah perpisahan yang tak kami sadari.
“Aku cuma mau berhentiin mereka.”
Mobil itu melesat. Aku menangis. Doaku tercecer di aspal bersama lututku yang berdarah.
Beberapa menit kemudian, keramaian bergeser ke ujung jalan. Suara sirene memecah udara. Aku bangkit tertatih, mengikuti arus orang-orang.
Dan di sanalah mereka. Dua tubuh tergeletak di jalan. Diam. Helm terpisah dari kepala. Darah merembes perlahan, seperti waktu yang berhenti.
Aku menutup mulutku.
“Mas…”
Suamiku berdiri tak jauh. Tangannya gemetar. Wajahnya kosong, seolah jiwanya tercabut lebih dulu.
“Aku cuma mau nyelametin kamu…” katanya lirih.
“Aku nggak niat… demi Allah, aku nggak niat…”
Aku memeluknya erat. Tubuhnya bergetar.
“Aku tahu. Aku lihat semuanya. Aku yang dijambret. Aku yang takut.”
Tapi niat baik tak selalu cukup di hadapan hukum.
Di kantor polisi, kata bersalah jatuh seperti palu. Dua orang meninggal. Akibatnya nyata. Niat tak tercatat di berita acara.
“Bu, secara hukum suami ibu menyebabkan kematian,” kata petugas itu.
Aku berdiri.
“Pak, secara kenyataan, saya korban. Hati saya dirampas duluan sebelum tas saya.”
Di luar sana, dunia ribut. Media sosial berteriak. Ahli hukum bersilang pendapat. Ada yang membela, ada yang menghujat. Tapi di rumah, suamiku hanya duduk diam, menatap dinding, menanggung beban yang tak pernah ia minta.
“Seandainya aku berhenti…” katanya suatu malam.
Aku menggenggam tangannya.
“Seandainya aku tidak dijambret, Mas. Tapi hidup tidak pernah memberi kita ‘seandainya’.”
Akhirnya, perdamaian dipilih. Keluarga mereka dan keluarga kami sepakat berdamai. Suamiku dibebaskan.
Kami pulang tanpa sorak. Tanpa rasa menang.
Malam itu aku bersujud lama di sajadah.
“Ya Allah… ampuni kami. Ampuni mereka.”
Aku teringat dua nyawa yang pergi. Mereka salah—iya. Tapi mereka juga hamba-Mu. Aku tak tahu doa siapa yang kini terputus karena peristiwa ini.
“Ya Allah, jika sore itu Engkau cabut nyawaku, apakah aku sudah siap?”
Aku sadar, tas tak sebanding dengan nyawa. Tapi rasa takut juga bukan dosa. Dan suamiku hanyalah seorang laki-laki yang ingin menjaga amanah-Mu.
Pagi harinya aku berkata padanya,
“Mas, kita tidak dibebaskan karena kita paling benar. Kita dibebaskan karena Allah masih memberi waktu.”
“Waktu untuk apa?” tanyanya pelan.
“Untuk bertaubat. Untuk lebih hati-hati. Untuk belajar bahwa membela diri pun harus tetap tunduk pada kasih sayang Allah.”
Sejak hari itu, setiap aku melangkah keluar rumah, aku membawa satu doa:
“Ya Allah, lindungi kami dari kezaliman, dan lindungi kami pula dari menjadi zalim—meski dengan alasan membela diri.”
Karena dalam satu peristiwa bernama jambret, tak ada pemenang.
Yang ada hanyalah manusia-manusia rapuh yang diingatkan betapa tipis jarak antara niat baik, musibah, dan takdir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar