Belajar Dari Lalat: Hikmah dari Makhluk Kecil yang Diremehkan

 

ketakketikmustopa.com, Lalat adalah makhluk kecil yang sering kita usir dengan refleks jijik. Kita menganggapnya hina, kotor, tak berguna. Ia hinggap di tempat yang kita jauhi, berdengung di saat kita ingin tenang. Namun anehnya, ia tetap hidup—tenang saja—meski dicela oleh pandangan manusia.¹

Padahal, para arif tidak pernah membatasi pelajaran hanya dari sesuatu yang indah. Mereka belajar dari apa pun yang Allah ciptakan. Sebab hikmah tidak selalu turun dari langit yang bersih, kadang justru lahir dari makhluk yang kita remehkan. Lalat adalah salah satunya.²

Lalat tidak memilih takdirnya. Ia lahir sebagai lalat dan tidak pernah bermimpi menjadi kupu-kupu. Ia tidak iri pada lebah, tidak menyesali sayapnya yang kasar atau suaranya yang mengganggu. Ia menerima dirinya apa adanya, lalu menjalani hidup sesuai kodrat yang Allah tetapkan. Tidak drama. Tidak protes. Tidak membandingkan nasib.³

Di mana ada sisa, di situ ia datang. Di mana ada bau, di situ ia hadir. Bukan karena ia kotor, melainkan karena di sanalah wilayah tugasnya. Apa yang menjijikkan bagi manusia, justru menjadi ladang amanah bagi lalat. Allah membagi peran bukan berdasarkan selera manusia. Yang tampak rendah di mata kita, belum tentu rendah di sisi-Nya.⁴

Dari lalat, kita juga belajar tentang tawakal. Ia tidak menimbun, tidak menyimpan, tidak merancang hari esok. Rezekinya adalah apa yang tersedia hari ini. Jika ada, ia hidup. Jika tidak, ia mati. Tanpa cemas berlebihan. Tanpa ilusi seolah hidup sepenuhnya di bawah kendalinya sendiri. Bukankah ini inti tawakal yang sering kita ucapkan, tetapi jarang benar-benar kita jalani?⁵

Saat lalat hinggap di tanganmu, ia tidak tahu bahwa kamu jijik. Ia tidak mengenal status sosial, tidak paham harga diri, tidak peduli gengsi. Ia hanya tahu satu hal: di sana ada kehidupan. Ironisnya, banyak manusia justru mati batinnya karena terlalu sibuk menjaga martabat semu, sampai lupa menjaga hati.⁶

Lalat hidup dekat dengan tanah, dekat dengan sisa-sisa, dekat dengan yang dibuang. Di situlah ia bertahan. Ia mengajarkan kerendahan hati dengan caranya sendiri. Semakin dekat seseorang dengan tanah, semakin kecil peluangnya untuk sombong. Sebab kesombongan tumbuh pada hati yang merasa tinggi, bukan pada makhluk yang sadar dirinya rendah.⁷

Bahkan dengung lalat pun bukan sekadar kebisingan. Ia seperti dzikir kecil yang tidak pernah minta didengar. Terus berulang tanpa ingin dipuji, tanpa berharap pengakuan. Bandingkan dengan manusia: betapa banyak amal yang rusak karena ingin dilihat, betapa banyak ibadah yang kehilangan ruh karena haus penilaian.⁸

Lalat tidak peduli dicintai atau dibenci. Ia hanya patuh pada kodratnya. Dan justru dalam kepatuhan itulah ia “selamat”—selamat sebagai lalat. Dari sini kita belajar satu hal yang menohok: bisa jadi yang menjauhkan kita dari Allah bukan dosa besar, melainkan rasa suci yang diam-diam tumbuh di dada.⁹

Maka jangan remehkan makhluk Allah, sekecil apa pun. Sebab menolak hikmah hanya karena pembawanya tampak hina, sama saja menutup pintu kebenaran dengan tangan sendiri.¹⁰

Jika suatu hari lalat hinggap di tanganmu, jangan langsung mengusirnya. Diamlah sejenak. Biarkan hatimu bertanya dengan jujur: “Sudahkah aku setulus lalat dalam menerima takdirku, dan setia menjalani peranku tanpa banyak tuntutan kepada Tuhan?”¹¹

Wallohu a'lam 

Catatan Kaki (Footnote)

1. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa seluruh makhluk adalah ayat (tanda) bagi orang yang mau berpikir. Lihat QS. Al-Baqarah [2]: 164.

2. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, menjelaskan bahwa hikmah dapat datang dari apa pun yang diciptakan Allah, termasuk dari hal yang tampak rendah.

3. QS. Al-A’raf [7]: 54, tentang ketundukan seluruh makhluk pada sunnatullah.

4. QS. Al-Hujurat [49]: 13, tentang kemuliaan yang diukur dengan takwa, bukan rupa dan posisi.

5. QS. Ath-Thalaq [65]: 3, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

6. Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin, tentang penyakit hati yang bersumber dari cinta pujian dan takut celaan.

7. HR. Muslim no. 2588, tentang larangan kesombongan meski sebesar biji sawi.

8. HR. Muslim no. 2985, tentang amal yang bernilai berdasarkan niat, bukan penilaian manusia.

9. Al-Ghazali, Bidayat al-Hidayah, bab tentang bahaya ‘ujub dan merasa suci.

10. QS. Luqman [31]: 20, tentang nikmat Allah yang tampak dan tersembunyi pada seluruh ciptaan-Nya.

11. QS. Adz-Dzariyat [51]: 21, “Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar