ketakketikmustopa.com, Buku ini ditulis terinspirasi dari pembangunan masjid ITB Kampus Cirebon Jl. Kebonturi Arjawinangun Cirebon, pembangunannya selesai dan diresmikan tahun 2025 lalu dan diberi nama Masjid Ibnu Firnas.
Siapa Ibnu Firnas? Dalam khazanah sejarah peradaban Islam, nama Ibnu Firnas menempati posisi istimewa sebagai simbol keberanian ilmiah dan kreativitas intelektual. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan representasi dari satu fase emas peradaban Islam ketika iman, akal, dan eksperimen berjalan seiring dalam membangun ilmu pengetahuan.¹
Andalusia: Rahim Kejayaan Ilmu Pengetahuan
Ibnu Firnas hidup pada abad ke-9 M di Andalusia, wilayah Islam di Semenanjung Iberia yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah di Cordoba, kota-kota Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dengan perpustakaan besar, institusi pendidikan, dan tradisi intelektual yang maju.²
Ia lahir sekitar tahun 810 M di Ronda (Takurunna) dan kemudian menetap di Cordoba. Lingkungan sosial dan intelektual Andalusia membentuk Ibnu Firnas sebagai ilmuwan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga berani melakukan eksperimen. Dalam tradisi Islam klasik, ilmu dipahami sebagai bagian dari ibadah, sementara alam dipandang sebagai ayat-ayat kauniyah yang harus diteliti dan direnungkan.³
Ilmuwan Multidisipliner dalam Tradisi Islam
Ibnu Firnas dikenal sebagai ilmuwan multidisipliner. Ia menguasai astronomi, fisika, teknik, musik, dan sastra. Di istana Cordoba, ia dihormati sebagai cendekiawan sekaligus inovator. Karakter ini mencerminkan tipikal ilmuwan Muslim klasik yang tidak memisahkan antara ilmu eksakta, seni, dan spiritualitas.⁴
Baginya, ilmu tidak cukup berhenti pada teks dan diskusi, tetapi harus diuji melalui praktik dan pengamatan langsung. Pendekatan ini menunjukkan bahwa metode empiris telah dikenal dan dipraktikkan dalam peradaban Islam jauh sebelum berkembangnya sains modern di Eropa.⁵
Eksperimen Penerbangan: Terbang Mendahului Zaman
Kontribusi paling monumental Ibnu Firnas adalah eksperimen penerbangan yang ia lakukan sekitar tahun 875 M. Ia merancang alat terbang dari rangka kayu yang dilapisi kain dan bulu burung, menyerupai sayap. Dengan alat tersebut, ia melompat dari ketinggian di wilayah Cordoba.⁶
Catatan sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Firnas berhasil melayang di udara selama beberapa saat sebelum akhirnya jatuh dan mengalami cedera saat mendarat. Namun, kegagalan pendaratan tersebut justru melahirkan analisis ilmiah penting. Ia menyadari bahwa alat terbangnya belum dilengkapi sistem ekor untuk menjaga keseimbangan—sebuah pemahaman aerodinamika yang sangat maju untuk abad ke-9.⁷
Eksperimen ini menjadikan Ibnu Firnas sebagai pelopor awal aeronautika, lebih dari seribu tahun sebelum penerbangan modern dikembangkan di Barat.⁸
Astronomi dan Simulasi Langit
Selain penerbangan, Ibnu Firnas juga berkontribusi besar dalam bidang astronomi. Ia menciptakan model simulasi langit di rumahnya—sejenis planetarium sederhana—yang menggambarkan pergerakan bintang, awan, serta fenomena alam seperti kilat dan guntur.⁹
Karya ini menunjukkan perpaduan antara observasi ilmiah dan imajinasi kreatif. Astronomi bagi Ibnu Firnas bukan sekadar ilmu hitung, melainkan sarana untuk memperdalam kesadaran akan keteraturan kosmos sebagai ciptaan Tuhan.¹⁰
Inovasi Teknologi Kaca dan Dampak Sosial
Ibnu Firnas juga dikenal sebagai pelopor teknologi pembuatan kaca dari pasir di Andalusia. Sebelum inovasi ini, kaca berkualitas tinggi harus diimpor dari wilayah Timur. Dengan temuannya, Andalusia mencapai kemandirian teknologi dan industri.¹¹
Inovasi ini menunjukkan bahwa sains dalam peradaban Islam memiliki dimensi praktis dan sosial. Ilmu pengetahuan tidak hanya untuk kepuasan intelektual, tetapi juga untuk kemaslahatan masyarakat.¹²
Ibnu Firnas sebagai Simbol Kebangkitan Sains Islam
Ibnu Firnas mencerminkan paradigma ilmuwan Muslim klasik: beriman, rasional, dan berani bereksperimen. Ia membuktikan bahwa Islam tidak bertentangan dengan sains, bahkan menjadi landasan etis dan spiritual bagi pengembangan ilmu pengetahuan.¹³
Di era modern, ketika dunia Muslim menghadapi tantangan besar dalam bidang riset dan inovasi, figur Ibnu Firnas kembali relevan. Ia mengajarkan bahwa keberanian mencoba adalah fondasi kemajuan, dan kegagalan adalah bagian sah dari proses ilmiah.¹⁴
Sebagai bentuk pengakuan global, namanya kini diabadikan dalam kawah bulan “Ibn Firnas”—sebuah simbol bahwa warisan intelektualnya melampaui bumi dan dikenang dalam sejarah sains dunia.¹⁵
Penutup: Terbang sebagai Metafora Peradaban
Kisah Ibnu Firnas bukan sekadar cerita tentang manusia yang mencoba terbang, melainkan metafora tentang peradaban yang berani melampaui batas. Ia mengajarkan bahwa sains adalah jalan ibadah, dan eksperimen adalah bentuk ikhtiar memahami sunnatullah.
Jika kebangkitan sains Islam ingin kembali diwujudkan, maka semangat Ibnu Firnas—keberanian berpikir, ketekunan meneliti, dan integrasi iman dengan ilmu—harus dihidupkan kembali. Ia telah membentangkan sayapnya lebih dari seribu tahun lalu; kini giliran generasi Muslim masa kini untuk melanjutkan penerbangan peradaban.
Wallohu a'lam
Footnote:
1. Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge: Harvard University Press, 1968).
2. Philip K. Hitti, History of the Arabs (London: Macmillan, 1970).
3. Al-Qur’an, QS. Ali Imran: 190–191.
4. George Sarton, Introduction to the History of Science, Vol. I (Baltimore: Williams & Wilkins, 1927).
5. Fuat Sezgin, Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill, 1967).
6. Al-Maqqari, Nafh al-Tib min Ghusn al-Andalus al-Ratib.
7. Ahmad Y. al-Hassan & Donald R. Hill, Islamic Technology: An Illustrated History (Cambridge: Cambridge University Press, 1986).
8. Jim Al-Khalili, Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science (London: Penguin Books, 2011).
9. Ibn Sa‘id al-Maghribi, Al-Mughrib fi Hula al-Maghrib.
10. Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (Oxford: Oxford University Press, 1996).
11. Ahmad Y. al-Hassan, “Transfer of Islamic Technology to Europe,” UNESCO.
12. Marshall Hodgson, The Venture of Islam, Vol. 2 (Chicago: University of Chicago Press, 1974).
13. Fuat Sezgin, Islamic Science and Technology (Frankfurt: Institute for the History of Arabic-Islamic Science, 2006).
14. Ziauddin Sardar, Islam, Science and the Challenge of History (London: Zed Books, 1989).
15. International Astronomical Union (IAU), Lunar Nomenclature: Ibn Firnas Crater.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar