Ibnu Batuta: Peziarah Ilmu dan Penjelajah Dunia Islam


ketakketikmustopa.com, Pada pembahasan terdahulu penulis telah membahas para tokoh hebat dunia yang telah melakukan jelajah di atas bumi, diantaranya: Laksamana Cheng Ho (Muslim), Marco Polo, Christopher Columbus. 

Pada tulisan kali ini kita akan kaji perjalanan tokoh penakluk dunia dari kalangan Muslim yaitu Ibnu Batuta. Ibnu Batutah (1304–1377 M) merupakan salah satu penjelajah terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Ia lahir di Tangier, Maroko, dari keluarga ulama mazhab Maliki. Sejak muda, Ibnu Batutah telah menunjukkan ketertarikan besar terhadap ilmu agama dan dunia luar. Pada usia 21 tahun, tepatnya tahun 1325 M, ia meninggalkan kampung halamannya dengan tujuan utama menunaikan ibadah haji ke Makkah sekaligus memperdalam ilmu keislaman di pusat-pusat keilmuan dunia Islam¹.

Perjalanan yang semula direncanakan hanya beberapa tahun itu justru berkembang menjadi pengembaraan panjang selama hampir tiga dekade, hingga tahun 1354 M. Dalam rentang waktu tersebut, Ibnu Batutah menempuh jarak sekitar 117.000 kilometer (73.000 mil), menjadikannya salah satu pelancong dengan jarak tempuh terjauh sebelum era modern². Wilayah yang ia kunjungi kini mencakup lebih dari 44 hingga 50 negara modern di Afrika, Asia, dan sebagian Eropa.

Rute perjalanannya membentang luas dan kompleks. Dari Afrika Utara, ia melintasi Mesir dan wilayah Hijaz, kemudian menjelajah Syam, Irak, Persia, dan Asia Tengah. Ia melanjutkan perjalanannya ke India, di mana ia sempat menjadi qadhi (hakim) di Kesultanan Delhi. Dari sana, Ibnu Batutah menyeberang ke Asia Tenggara, mencapai kepulauan Nusantara, lalu melanjutkan perjalanan hingga ke Tiongkok. Dalam fase akhir perjalanannya, ia juga mengunjungi Andalusia (Spanyol) dan Afrika Barat³.

Kunjungan Ibnu Batutah ke Nusantara memiliki arti penting dalam historiografi Islam Asia Tenggara. Pada tahun 1345–1346 M, ia singgah di Kesultanan Samudera Pasai, Aceh. Dalam catatannya, ia menggambarkan Sultan Malik Az-Zahir sebagai penguasa yang saleh, mencintai ulama, dan menegakkan hukum Islam. Samudera Pasai dilukiskannya sebagai pelabuhan besar yang teratur, aman, dan menjadi pusat perdagangan serta penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara⁴. Catatan ini menjadikan karya Ibnu Batutah sebagai salah satu sumber primer penting tentang Islam awal di Nusantara.

Sekembalinya ke Maroko, atas perintah Sultan Abu Inan dari Dinasti Marinid, Ibnu Batutah mendiktekan seluruh pengalaman perjalanannya kepada seorang penulis bernama Ibnu Juzayy. Hasilnya adalah sebuah karya monumental berjudul Tuhfat an-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Aja’ib al-Asfar (Hadiah bagi para pemerhati keajaiban kota-kota dan perjalanan), yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ar-Rihlah⁵.

Kitab Ar-Rihlah tidak hanya berisi catatan rute perjalanan, tetapi juga memuat deskripsi rinci tentang budaya, adat istiadat, kehidupan sosial, struktur politik, praktik keagamaan, hingga pengamatan terhadap flora dan fauna di berbagai wilayah yang dikunjunginya. Karena kelengkapan dan kedalaman informasinya, karya ini menjadi salah satu rujukan utama dalam kajian sejarah dunia abad pertengahan, khususnya mengenai dunia Islam dan hubungan antarperadaban⁶.

Melalui pengembaraannya, Ibnu Batutah membuktikan bahwa perjalanan bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sarana perluasan ilmu, dialog budaya, dan penguatan spiritual. Warisan intelektualnya tetap hidup hingga kini sebagai saksi bahwa dunia Islam pernah menjadi ruang terbuka bagi ilmu pengetahuan, mobilitas global, dan pertukaran peradaban.

Wallohu a'lam 

Catatan Kaki (Footnote)

1. Ross E. Dunn, The Adventures of Ibn Battuta: A Muslim Traveler of the 14th Century, Berkeley: University of California Press, 2005, hlm. 3–5.

2. Ibid., hlm. 1–2.

3. H.A.R. Gibb, Ibn Battuta: Travels in Asia and Africa 1325–1354, London: Routledge, 1929, hlm. xiii–xv.

4. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Jakarta: Kencana, 2013, hlm. 27–28.

5. Ibn Battuta, Rihla Ibn Battuta, ed. Ibn Juzayy, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992, hlm. 1.

6. Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, Vol. 2, Chicago: University of Chicago Press, 1974, hlm. 344–346.


Daftar Pustaka

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana, 2013.

Dunn, Ross E. The Adventures of Ibn Battuta: A Muslim Traveler of the 14th Century. Berkeley: University of California Press, 2005.

Gibb, H.A.R. Ibn Battuta: Travels in Asia and Africa 1325–1354. London: Routledge, 1929.

Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam, Volume 2: The Expansion of Islam in the Middle Periods. Chicago: University of Chicago Press, 1974.

Ibn Battuta. Rihla Ibn Battuta. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar