ketakketikmustopa.com, Senja mulai turun perlahan di langit . Semburat jingga memantul di ufuk barat, menyatu dengan angin sepoi-sepoi. Seusai mengajar di STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin, Pak Budiman merapikan buku-bukunya di ruang dosen. Hari itu cukup melelahkan, namun hatinya terasa ringan.
Sebelum pulang, ia mengirim pesan kepada istrinya.
"Bu, hari ini nggak usah masak ya. Kita buka puasa Nasi Jamblang saja di RM Bu Nur, di kota."
Tak lama, balasan masuk.
"Siap, Pak. Neng Euis pasti senang."
Pak Budiman tersenyum kecil. Ia tahu, bagi Neng Euis Nurjanah, berbuka di luar bersama ayah dan ibunya adalah momen istimewa.
Menjelang magrib, mereka tiba di RM Bu Nur. Tempat itu tampak sangat ramai. Pengunjung berdatangan silih berganti. Aroma nasi hangat bercampur wangi daun jati memenuhi ruangan. Di meja prasmanan, tumpukan nasi kecil yang dibungkus daun jati tersusun rapi, berdampingan dengan aneka lauk: sambal goreng yang merah menggoda, tahu dan tempe goreng keemasan, perkedel, paru, hingga cumi hitam khas Cirebon yang legendaris.
Neng Euis menggenggam tangan ibunya.
“Ibu, kok banyak banget orangnya?”
Bu Aisyah tersenyum lembut.
“Namanya juga mau buka puasa, Neng. Semua ingin yang enak dan berkah.”
Setelah memilih beberapa bungkus nasi dan lauk favorit, mereka akhirnya duduk. Beberapa nasi berbalut daun jati tergeletak rapi di atas meja kayu.
Pak Budiman membuka satu bungkus nasi perlahan. Uap hangat mengepul tipis. Ia menatap anaknya penuh kasih.
“Neng, tahu nggak kenapa nasinya dibungkus daun jati?”
Neng Euis menggeleng cepat.
“Nggak tahu, Bapak.”
Bu Aisyah ikut menimpali sambil tersenyum,
“Iya Pak, memang kenapa?”
Pak Budiman terkekeh kecil.
“Kalau nggak tahu, nih Bapak mau cerita sejarah Nasi Jamblang.”
“Dulu,” Pak Budiman memulai dengan suara pelan namun berwibawa, “Nasi Jamblang berasal dari daerah Jamblang, masih di wilayah Cirebon. Pada masa pembangunan jalan raya di zaman kolonial, masyarakat menyiapkan nasi untuk para pekerja. Supaya nasi tahan lama dan tidak cepat basi di tengah panasnya udara pesisir, mereka membungkusnya dengan daun jati.”
“Kenapa harus daun jati, Pak?” tanya Neng Euis penasaran.
“Karena daun jati itu lebar, kuat, dan memberi aroma alami yang khas. Selain itu, dulu belum ada plastik. Masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Itu namanya kearifan lokal.”
Bu Aisyah mengangguk-angguk.
“Berarti dari dulu orang Cirebon sudah cinta lingkungan ya, Pak?”
“Betul sekali,” jawab Pak Budiman. “Itulah salah satu filosofi Nasi Jamblang—kesederhanaan yang penuh makna.”
Ia lalu menunjuk lauk-lauk di atas meja.
“Lihat ini. Lauknya banyak pilihan. Ada tahu, tempe, sambal goreng, cumi hitam, dan lain-lain. Itu melambangkan keberagaman. Kita boleh berbeda selera, tapi tetap duduk dalam satu meja yang sama. Seperti masyarakat Cirebon yang beragam budaya—Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa—namun tetap hidup rukun.”
Neng Euis tersenyum lebar.
“Jadi Nasi Jamblang ngajarin kita supaya rukun ya, Pak?”
“Iya, Neng. Dan juga tentang kerja keras. Dulu nasi ini jadi bekal para pekerja jalan. Artinya, setiap perjuangan butuh tenaga dan semangat. Makanan ini menjadi saksi sejarah orang-orang kecil yang berkeringat membangun negeri.”
Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumah makan. Suaranya lembut menembus riuh percakapan pengunjung. Mereka bertiga menundukkan kepala, berdoa, lalu mulai menyantap hidangan.
Neng Euis berkata pelan sambil tersenyum,
“Ternyata Nasi Jamblang bukan cuma enak ya, Pak. Tapi juga punya cerita.”
Pak Budiman mengangguk penuh makna.
“Betul, Neng. Setiap makanan tradisional itu punya sejarah dan filosofi. Tinggal kita mau belajar atau tidak.”
Bu Aisyah memandang suami dan anaknya dengan mata berbinar.
“Alhamdulillah, buka puasa hari ini bukan cuma kenyang perut, tapi juga kenyang ilmu.”
Di tengah keramaian dan suara sendok beradu dengan piring, keluarga kecil itu menikmati Nasi Jamblang bukan sekadar sebagai santapan. Ia menjadi pelajaran hidup—tentang kesederhanaan, kebersamaan, kerja keras, dan cinta pada warisan budaya.
Senja di Cirebon pun terasa semakin syahdu, seolah ikut merestui kebersamaan sederhana yang sarat makna itu.
Wallohu a'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar