ketakketikmuatopa.com, Nama Raden Adjeng Kartini sering kali kita bayangkan dalam balutan kebaya, rambut tersanggul rapi, dan semangat emansipasi perempuan yang menggema dari surat-suratnya. Namun, di balik gambaran itu, ada sisi lain yang jarang disorot: Kartini sebagai seorang pencari ilmu agama—seorang santri yang gelisah.1
Sebelum dunia mengenalnya melalui Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini lebih dulu bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan batin. Ia hidup dalam tradisi Jawa yang membatasi gerak perempuan, tetapi kegelisahan terbesarnya justru datang dari hal yang lebih dalam: hubungannya dengan Al-Qur'an.2
Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan kegundahannya. Ia heran mengapa banyak orang diajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak diajarkan memahami isinya. Baginya, membaca tanpa mengerti adalah kehilangan makna. Ia merasa seperti berjalan dalam gelap—mengikuti sesuatu yang suci, namun tanpa cahaya pemahaman.3
Perubahan besar itu datang ketika ia bertemu dengan Kiai Sholeh Darat di Demak. Dalam sebuah pengajian, sang kiai menjelaskan tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa. Saat itulah Kartini merasakan sesuatu yang berbeda. Ayat-ayat yang sebelumnya hanya dilafalkan, kini terasa hidup dan menyentuh hatinya.4
Dari pertemuan itu, lahirlah keberanian Kartini untuk bertanya dan bahkan menggugat: mengapa ilmu agama tidak dibuka seluas-luasnya untuk umat? Mengapa bahasa menjadi penghalang antara manusia dan petunjuk Tuhannya?5
Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai kegelisahan pribadi. Ia menjadi pemantik perubahan. Meski berada di bawah tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang melarang penerjemahan Al-Qur’an, Kiai Sholeh Darat mencari jalan lain. Ia menulis tafsir dalam aksara Arab Pegon, yang kemudian dikenal sebagai Faidhur-Rohman.6
Kitab itulah yang kemudian menjadi hadiah berharga bagi Kartini saat menikah dengan R.M. Joyodiningrat. Bagi Kartini, hadiah itu bukan sekadar buku, melainkan cahaya—jawaban atas kegelisahan panjangnya.7
Sejak saat itu, pemikirannya berubah. Kalimat “dari gelap menuju terang” bukan lagi sekadar ungkapan puitis, melainkan refleksi perjalanan spiritualnya. Dalam surat-suratnya kepada J.H. Abendanon, ia berkali-kali mengungkapkan makna cahaya sebagai simbol pemahaman dan kebebasan berpikir.8
Kartini pun tumbuh menjadi lebih dari sekadar simbol emansipasi. Ia adalah seorang perempuan yang menyadari bahwa kebebasan sejati lahir dari ilmu—dari memahami, bukan sekadar mengikuti.9
"Selamat Hari Kartini"
Kartini mengajarkan bahwa terang tidak datang begitu saja. Ia harus dicari, dipahami, dan diperjuangkan—hingga akhirnya mampu menerangi jalan bagi banyak orang.
Wallohu a'lam
Footnote:
1. Sitisoemandari Soeroto, Kartini: Sebuah Biografi, Jakarta: Balai Pustaka, 1977.
2. M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c. 1200, Stanford University Press, 2008.
3. R.A. Kartini, Letters of a Javanese Princess, London: Duckworth, 1920.
4. Ahmad Baso, Pesantren Studies 2, Jakarta: Pustaka Afid, 2012.
5. Zainal Abidin Bagir, “Religious Thought of Kartini,” dalam Studia Islamika, Vol. 7, No. 2, 2000.
6. Sholeh Darat, Faidhur-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan, Semarang, abad ke-19.
7. Nur Syam, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS, 2005.
8. Armijn Pane (ed.), Habis Gelap Terbitlah Terang, Jakarta: Balai Pustaka, 1938.
9. Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar