Senja Terakhir Ojol


Cerpen ini diambil dari kisah pilu kemarin sore itu, Kamis 28 Agustus 2025. Cahaya senja menyelinap masuk lewat jendela kecil rumah kontrakan sederhana di bilangan Jatipulo, Jakarta Barat. Affan Kurniawan baru saja menunaikan salat Ashar. Usianya baru 21 tahun, tapi di wajahnya tergambar guratan lelah yang kerap tak sebanding dengan umur mudanya.

Dari dapur, terdengar suara lembut seorang ibu. Suara itu bagai doa yang selalu menjelma menjadi ketenangan.

“Fan, makan dulu, Nak. Jangan buru-buru keluar.”

Affan menoleh, senyumnya merekah, meski langkahnya masih tertahan di ruang tamu. Ia tahu, ibunya hanya ingin memastikan dirinya tidak lupa makan. Dengan suara tenang, ia menjawab:

“Nanti ya, Bu. Affan cuma sebentar keluar. Ada orderan dekat-dekat sini.”

Ibunya menghentikan gerakan tangan yang sedang menyiangi sayur kangkung di atas meja. Tatapannya penuh sayang, tapi terselip kerikil kecil berupa kekhawatiran.

“Fan, Ibu takut kamu kecapekan. Motor kamu itu juga sudah sering mogok. Jangan dipaksakan, Nak.”

Affan mendekat, lalu menunduk dan mencium tangan ibunya yang hangat. “Doain aja, Bu. Rezeki jangan ditolak. Affan janji cepat pulang. InsyaAllah nggak apa-apa.”

Ibunya hanya bisa mengangguk. Ia tahu, anak bungsunya itu bukan hanya pekerja keras, tapi juga keras kepala. Sejak ayahnya berpulang lima tahun lalu, Affan menjadi penopang keluarga. Dua kakaknya sudah berumah tangga dan hidup sederhana di kota lain, sementara Affan memilih tetap tinggal bersama ibu. Katanya, “Biar Affan aja yang jagain Ibu.”

Dengan jaket ojol yang warnanya sudah pudar, ia keluar rumah. Motor tuanya yang sudah berusia hampir sepuluh tahun meraung pelan ketika dinyalakan. Affan merapatkan helmnya, lalu menatap langit Jakarta yang sore itu berwarna jingga bercampur debu. Ia menghela napas, “Ya Allah, lancarkan jalan ini…”

Perjalanan Affan sore itu terasa lebih padat dari biasanya. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan yang mengular panjang. Dari kejauhan, terdengar teriakan massa yang berkumpul di sekitar Gedung DPR/MPR. Suara toa, spanduk, dan nyanyian-nyanyian protes menggema.

Affan melirik ponsel di holder motornya. Peta menunjukkan tujuan pengantaran makanan tidak jauh dari area itu. Ia menggumam lirih, “Lewat mana ya, Allah… jangan sampai orderan ini batal.”

Ketika lampu merah menyala di sebuah persimpangan, seorang pengendara ojol lain menepuk pundaknya. “Fan, jangan lewat sana. Lagi ricuh. Cari jalur lain aja.”

Affan mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya Pak. Tapi orderannya udah mepet ke arah situ. Saya pelan-pelan aja.”

Motor tuanya kembali berjalan. Jalanan yang licin akibat hujan siang tadi membuat ban motornya beberapa kali terpeleset. Sampai akhirnya, di sebuah tikungan sempit, nasib buruk menghampiri. Ban belakangnya terpeleset mengenai kerikil basah, dan dalam sekejap tubuh Affan terhempas jatuh ke aspal.

“Ya Allah!” serunya, mencoba menahan sakit di lutut yang berdarah. Nafasnya terengah. Ia berusaha bangkit, namun rasa perih membuatnya sulit berdiri tegak.

Dan saat itulah, suara deru mesin berat terdengar. Dari kejauhan, sebuah rantis Brimob melaju kencang. Raksasa baja itu datang tanpa kompromi, tanpa memperhatikan kerumunan kecil di depannya.

Orang-orang berteriak panik.

“Ada orang jatuh! Berhenti! Ada ojol di jalan!”

Namun roda besi tak mereda.

Affan menoleh. Waktu seakan melambat. Dalam detik-detik genting itu, wajah ibunya muncul jelas di pelupuk mata—senyumnya di dapur, suara lembutnya barusan, dan pesan yang belum sempat ia jawab.

Air mata mengalir tanpa ia sadari. Dengan bibir gemetar, ia berbisik, “Ya Allah… jaga Ibu…”

Detik berikutnya, pandangannya tertutup bayangan hitam raksasa itu.

Di rumah sakit, para pengendara ojol berlari membawa tubuh Affan yang tak lagi kuat melawan takdir. Lorong rumah sakit terasa dingin, dipenuhi langkah-langkah terburu dan doa-doa yang tersendat.

“Dok, gimana temen kami?” tanya salah satu ojol dengan wajah tegang.

Seorang dokter keluar dengan wajah muram, lalu menggeleng pelan. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Dia sudah pergi.”

Hening. Hanya isak tertahan yang terdengar. Seorang kawan duduk terkulai di kursi ruang tunggu. “Fan… kamu selalu bilang pengin beliin kursi roda buat nenek. Kenapa secepat ini, Bro…”

Malam itu, di rumah duka, suasana hening membeku. Selembar kain putih menutupi wajah anak muda yang semalam masih berpamitan dengan ibunya. Di sudut ruangan, sang ibu duduk di samping jasad putranya. Tangannya gemetar ketika mengusap wajah yang sudah dingin itu.

“Fan… kamu belum sempat makan… kamu belum sempat pulang…” suaranya pecah, tangisnya meledak bagai hujan deras yang tak kunjung reda.

Ia memeluk tubuh kaku itu erat-erat, seakan ingin menahan agar anaknya tak pergi. Para tetangga berusaha menenangkan, tapi air matanya tak terbendung.

Di luar rumah, puluhan ojol berkumpul dengan wajah sembab. Mereka berdiri membisu, sebagian menundukkan kepala, sebagian mengusap air mata. Bagi mereka, Affan bukan hanya rekan kerja. Ia adalah contoh perjuangan, seorang anak muda sederhana yang rela bekerja keras demi ibunya.

Jakarta malam itu tetap berisik—suara klakson, teriakan massa, lampu jalan menyala, asap demonstrasi masih mengepul—namun bagi seorang ibu di rumah duka, dunia telah runtuh.

Beberapa hari kemudian, di pemakaman sederhana, puluhan sahabat ojol mengantarkan Affan ke peristirahatan terakhir. Langit mendung, tanah basah, dan doa-doa lirih mengiringi kepergiannya.

Ibunya berdiri di tepi liang lahat, tubuhnya gemetar. “Fan, Ibu relakan. Semoga Allah menerima semua amalmu, Nak…” Suaranya lirih, namun seluruh orang yang hadir bisa merasakan retakan di dalamnya.

Tangis kembali pecah. Doa-doa dipanjatkan. Seolah seluruh udara hari itu dipenuhi air mata dan kerinduan.

Kini nama Affan Kurniawan tinggal kenangan. Di mata ibunya, ia tetap anak bungsu yang penuh senyum, yang selalu berjanji akan pulang, yang selalu menyempatkan diri mencium tangan sebelum berangkat.

Mungkin, di langit sana, Affan sedang mengantar pesanan terakhirnya: sebuah doa agar ibunya kuat, agar air matanya lekas reda, dan agar negeri ini tak lagi tega memakan anak-anaknya sendiri.

Dan doa itu, akan selalu hidup.

Doa yang sederhana, doa seorang anak untuk ibunya.

Doa yang kini menjadi judul hidupnya:

Rupanya senja itu, terakhir bagi Affan Kurniawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar