ketakketikmustopa.com, Sore itu, langit Kampus STID Al-Biruni Cirebon mulai berwarna jingga. Di pelataran taman kampus, lima mahasiswa duduk melingkar: Aisyah, Tasya, Romi, Ebit, dan Arul. Wajah mereka tampak lesu, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Aku tuh kadang ngerasa… kita ini biasa banget,” keluh Romi sambil menatap kosong ke arah lapangan.
“Iya,” sambung Tasya. “Di luar sana banyak orang hebat, pintar, terkenal. Kita ini apa sih?”
Aisyah menghela napas. “Kadang aku juga mikir, apakah kita bisa jadi orang yang benar-benar berarti?”
Belum sempat percakapan itu berlanjut, terdengar suara langkah pelan mendekat.
“Assalamu’alaikum, anak-anak.”
Mereka menoleh. Ternyata Pak Dr. Ahyani, M.Pd. berdiri di belakang mereka dengan senyum hangat.
“Wa’alaikumussalam, Pak…” jawab mereka serempak.
Pak Ahyani duduk di bangku taman, tepat di hadapan mereka. “Sepertinya ada yang sedang dipikirkan?”
Arul tersenyum kecut. “Kami lagi ngerasa kecil, Pak. Kayaknya belum jadi apa-apa.”
Pak Ahyani mengangguk pelan, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku jas. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dan menunjukkannya.
“Kalian tahu ini apa?”
“Korek api, Pak,” jawab Ebit cepat.
“Betul,” kata Pak Ahyani. “Kecil, murah, sering dianggap remeh. Tapi coba kalian jawab… kapan benda ini paling dicari?”
Saat itu juga, listrik di sekitar taman tiba-tiba padam. Suasana menjadi agak gelap.
“Pas seperti ini, Pak…” jawab Aisyah pelan.
Pak Ahyani tersenyum. Ia menggesek korek api itu. Cret…
Nyala api kecil muncul, menerangi wajah mereka yang kini tampak lebih jelas.
“Nah,” ujar beliau lembut, “inilah pelajaran pertama. Nilai sesuatu tidak terletak pada besar atau kecilnya, tapi pada manfaatnya.”
Mereka terdiam, memperhatikan nyala api kecil itu.
“Banyak orang ingin jadi besar, terkenal, dipuji,” lanjut Pak Ahyani. “Tapi sedikit yang benar-benar ingin jadi bermanfaat.”
Romi menatap api itu dengan serius. “Berarti… lebih penting jadi bermanfaat ya, Pak?”
Pak Ahyani mengangguk. “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.’”
Tasya mulai tersenyum. “Jadi meskipun kita sederhana… tetap bisa berarti?”
“Bukan bisa lagi,” jawab Pak Ahyani, “justru itulah yang dicari.”
Beliau kembali mengangkat korek api itu.
“Dari gesekan kecil, muncul api yang besar manfaatnya. Ini seperti amal kita. Sekecil apa pun kebaikan, jangan diremehkan.”
Ebit mengangguk. “Berarti hal kecil seperti bantu teman, senyum, itu penting ya, Pak?”
“Justru itu yang paling sering dibutuhkan,” jawab Pak Ahyani.
Namun perlahan, api korek itu mulai mengecil.
“Kalian tahu,” lanjut beliau, “untuk menyalakan api ini, korek harus terbakar. Artinya, dalam hidup, kita harus siap berkorban.”
Arul menatap penuh makna. “Seperti waktu, tenaga… bahkan perasaan?”
“Betul,” kata Pak Ahyani. “Tidak ada kebermanfaatan tanpa pengorbanan.”
Tiba-tiba beliau meniup api itu hingga padam.
“Sekarang pelajaran berikutnya,” katanya. “Api ini bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar. Sama seperti lisan kita.”
Aisyah menunduk. “Kadang kata-kata kita bisa menyakitkan ya, Pak…”
“Makanya Rasulullah ﷺ mengingatkan: berkatalah yang baik atau diam.” jawab Pak Ahyani.
Suasana menjadi hening. Kata-kata itu terasa menembus hati.
“Korek api ini,” lanjut beliau, “tidak selalu digunakan. Tapi ketika dibutuhkan, ia selalu siap.”
Romi tersenyum pelan. “Berarti kita juga harus siap hadir saat orang lain butuh ya, Pak?”
“Benar,” jawab Pak Ahyani. “Hidup ini bukan soal selalu terlihat, tapi tentang siap memberi.”
Tasya lalu bertanya pelan, “Pak… kenapa korek api selalu dicari?”
Pak Ahyani tersenyum hangat. “Karena ia dibutuhkan, bukan karena ia terkenal.”
Mereka saling pandang. Seolah menemukan jawaban dari kegelisahan mereka selama ini.
Aisyah mengangguk mantap. “Saya paham sekarang, Pak. Lebih baik jadi orang yang dibutuhkan daripada sekadar dikenal.”
Ebit tersenyum. “Walaupun kecil… asal bermanfaat, itu sudah cukup.”
Pak Ahyani berdiri perlahan. “Itulah filosofi korek api. Jadilah kecil yang menyala, bukan besar yang padam.”
Langit semakin gelap, namun hati mereka justru terasa terang.
Sejak sore itu, mereka tidak lagi sibuk ingin terlihat hebat. Mereka mulai belajar menjadi bermanfaat—dalam diam, dalam kesederhanaan, dalam keikhlasan.
Karena mereka kini sadar, yang paling dicari dalam kehidupan bukanlah yang paling mencolok, melainkan yang paling mampu memberi cahaya.
Wallohu a'lam






