ketakketikmustopa.com, Fitriani menatap langit senja yang mulai memerah. Seperti hari-hari sebelumnya, kesibukan di pondok pesantren Babakan Ciwaringin menyibukkan pikirannya. Namun, di tengah rutinitas yang menenangkan itu, ada perasaan tak tenang yang mulai tumbuh di hatinya. Di Kampus Biru, tempatnya kuliah di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam STID Al-Biruni Cirebon, dunia seolah memberikan tantangan yang lebih dari sekadar tugas-tugas akademik dan peran di pesantren.
Hari itu, bersama tiga sahabatnya, Novi, Tri, dan Zizi, Fitriani menjadi bagian dari panitia acara Maulid Nabi. Seperti biasa, ia melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi. Namun, entah mengapa, ia merasa ada yang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Pandangannya sesekali bertemu dengan tatapan seorang dosen muda yang tak lain adalah Gus Fahmi, putra Kyai tempat ia mondok.
Tatapan itu awalnya hanya sekilas, namun lama-kelamaan terasa semakin dalam dan penuh makna. Fitriani tak bisa menepis rasa gugup yang menyeruak ketika tiba-tiba diminta maju ke depan untuk menjadi dirigen, memandu lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon. Di hadapan banyak orang, terutama di hadapan Gus Fahmi, ia berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar tak karuan.
Gus Fahmi yang berdiri di tengah kerumunan tampak semakin tak kuasa menyembunyikan perasaannya. Wajah Fitriani yang bersahaja, caranya memimpin, suaranya yang merdu, semuanya mengguncang hatinya. Di balik kesan tegas yang selama ini ia tunjukkan sebagai dosen, ada perasaan yang tak bisa lagi ia tahan.
Selepas acara, Fitriani dan teman-temannya pulang berjalan kaki. Hujan turun perlahan, membuat mereka basah kuyup. Di tengah dinginnya rintik hujan, tiba-tiba Gus Fahmi muncul, membawa dua payung di tangannya.
"Fitri, Novi, Tri, Zizi, pakai ini. Jangan sampai kalian sakit," ucap Gus Fahmi seraya menawarkan payungnya.
Namun, Fitriani dan teman-temannya hanya tersenyum kaku. Ada rasa malu yang menguasai mereka, terutama Fitriani. Menerima kebaikan dari Gus Fahmi terasa seperti membuka pintu kepada sesuatu yang lebih dari sekadar basa-basi. Ia tahu, tatapan Gus Fahmi bukan sekadar tatapan seorang dosen pada mahasiswinya.
**
Beberapa hari berlalu, Fitriani tak bisa melupakan pertemuan itu. Apalagi, pesan singkat dari Gus Fahmi membuatnya semakin tak nyaman. "Fitri, aku ingin melamar bulan depan. Bisakah kita bicara?" Isi pesan itu membuat hatinya bergemuruh.
Fitriani menatap layar ponselnya lama. "Melamar?" pikirnya. Bukan hanya terkejut, tetapi juga bingung. Sebagai anak seorang biasa tanpa latar belakang keluarga terpandang, bagaimana mungkin ia bisa menerima lamaran putra Kyai terkenal? Lebih dari itu, ia tahu, Gus Fahmi sudah dijodohkan dengan Ning Anisa, putri dari Kyai Sole, sosok yang memiliki pengaruh besar di lingkungan pesantren.
"Tidak mungkin," batinnya berontak. Ia merasa tak pantas. Bagaimana bisa ia bersaing dengan Ning Anisa yang terhormat, yang segala halnya sempurna? Fitriani hanya seorang santri yang sederhana, tanpa harta, tanpa keturunan mulia.
Namun Gus Fahmi tampaknya tak peduli. "Aku akan bicara pada Abah," tegasnya dalam pesan berikutnya. Fitriani menghela napas panjang. Seberapa keras ia menolak, Gus Fahmi selalu kembali dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
**
Malam itu, Fitriani tak bisa tidur. Pikirannya terus dipenuhi oleh sosok Gus Fahmi, oleh keputusannya yang kian mantap untuk melamarnya. Di sisi lain, bayang-bayang Ning Anisa yang sudah dijodohkan dengan Gus Fahmi membuat hatinya semakin terbelah.
"Bagaimana bisa aku merebut kebahagiaan seseorang yang sudah dipersiapkan untuknya?" Fitriani bertanya-tanya dalam hati.
Hari-hari berlalu, Fitriani terus menghindar dari Gus Fahmi. Namun, setiap kali ia mencoba menjauh, perasaan cinta yang tak pernah diinginkannya justru semakin kuat. Sementara itu, di belakang layar, intrik mulai muncul. Desas-desus mengenai hubungan mereka mulai terdengar di kalangan para santri. Beberapa menganggap Fitriani terlalu berani, sementara yang lain merasa Gus Fahmi seharusnya tetap pada jodoh yang sudah ditentukan.
Pada akhirnya, keputusan bukan hanya ada di tangan Fitriani. Ada tekanan dari keluarga, dari lingkungan pesantren, bahkan dari hatinya sendiri. Di tengah kegalauan itu, ia menyadari bahwa cinta bukan sekadar soal perasaan, tapi juga soal pilihan yang datang dengan tanggung jawab besar.
Dan di suatu sore yang tenang, di bawah sinar matahari yang mulai terbenam, Fitriani berdiri di hadapan Gus Fahmi. Dengan suara gemetar, ia berkata, "Gus, aku tidak bisa. Aku hanya ingin kamu bahagia, meski itu bukan denganku."
Gus Fahmi menatap Fitriani dalam-dalam, seolah mencoba mencari alasan di balik keputusan itu. Namun, ia tahu bahwa cinta tak bisa dipaksakan, apalagi jika harus melukai hati orang lain.
"Jika itu pilihanmu, Fitri, aku akan menghormatinya. Tapi ketahuilah, aku akan tetap memilihmu, apapun yang terjadi," jawab Gus Fahmi pelan, meski hatinya terasa berat.
Fitriani menundukkan kepala. Dalam diam, ia berharap Gus Fahmi menemukan kebahagiaan yang sejati, meski bukan bersamanya. Dan di dalam hati kecilnya, ia menyimpan cinta yang tak pernah ia ungkapkan, sebuah cinta yang akan tetap abadi dalam kenangan.
-Tamat-
Nantikan kelanjutannya dalm bentuk buku novel, lebih seruuuuuu..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar