Manajemen Tabur Gula di Bulan Ramadhan



ketakketikmustopa.com, Ini cerpen kisah kepala desa dan warganya dalam menyambut ramadhan. Kisah ini terinspirasi dari Mata Kuliah "Manajemen Dakwah" di STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon.

Sore Ramadhan itu balai desa terasa lebih hidup dari biasanya. Spanduk “Marhaban Ya Ramadhan” terpasang miring sedikit—hasil kerja Boim yang katanya “yang penting berdiri dulu, Pak.”

Pak Budiman duduk sambil memegang buku catatan. Ibu Ratna datang membawa kolak pisang hangat. Pak Ruli menyusul dengan wajah sedikit tegang. Boim terakhir datang, sambil kipas-kipas karena belum terbiasa puasa tanpa drama.

“Baik,” kata Pak Budiman membuka rapat, “tahun ini kita harus pakai manajemen yang baik.”

Boim langsung nyeletuk,

“Manajemen kolak, Pak?”

Semua tertawa.

“Bukan,” jawab Pak Budiman santai. “Namanya Manajemen Tabur Gula.”

Pak Ruli mengangkat alis.

“Wah, ini teori baru lagi, Pak?”

Ibu Ratna tersenyum.

“Bukan teori baru. Cuma cara lama yang diperjelas. Kolak tanpa gula hambar. Program Ramadhan tanpa kelembutan juga bisa hambar.”

Boim manggut-manggut, walau tampaknya belum sepenuhnya paham.

“Jadi kita harus sering makan manis?”

“Bukan itu, Boim,” Pak Budiman terkekeh. “Maksudnya, dalam mengatur Ramadhan ini, kita perlu empat hal: perencanaan, pembagian tugas, pelaksanaan yang sabar, dan evaluasi. Tapi semuanya harus pakai ‘gula’.”

Perencanaan: Jangan Dadakan, Nanti Bikin Tegang

Pak Budiman membuka buku catatannya.

“Pertama, perencanaan. Jadwal tarawih, pembagian zakat, santunan—semua harus jelas.”

Pak Ruli langsung mengangkat tangan.

“Pak, soal jadwal imam kemarin sudah mulai ada perdebatan.”

“Makanya,” jawab Pak Budiman tenang, “sebelum jadi ribut, kita musyawarah. Itu gula pertama: komunikasi sebelum konflik.”

Boim mengangguk serius.

“Berarti jangan langsung kirim pengumuman di grup WA ya, Pak?”

“Nah, itu dia!” sahut Ibu Ratna cepat. “Kadang masalah bukan di isinya, tapi di caranya.”

Pengorganisasian: Semua Punya Peran

“Sekarang pembagian tugas,” lanjut Pak Budiman.

“Pak Ruli urus kebersihan dan koordinasi warga. Boim jaga keamanan tarawih.”

Boim tersenyum bangga.

“Siap, Pak! Ronda sambil senyum.”

“Jangan cuma senyum,” tambah Pak Budiman. “Sapa warga. Itu juga bagian dari pelayanan.”

Pak Ruli menimpali, “Kadang yang kerja malah jarang diapresiasi, Pak.”

“Nah,” jawab Pak Budiman, “itu gula berikutnya. Ucapan terima kasih itu sederhana, tapi bikin semangat.”

Ibu Ratna menambahkan, “Apalagi ibu-ibu yang masak takjil. Kalau cuma dikritik kurang manis, bisa-bisa besok nggak masak lagi.”

Semua kembali tertawa.

Pelaksanaan: Puasa Jangan Jadi Alasan Emosi

Tiba-tiba Pak Ruli berkata pelan, “Pak, kalau ada warga yang marah-marah karena bantuan belum turun?”

Pak Budiman tersenyum bijak.

“Di sinilah tabur gula paling penting. Orang sedang lapar, emosi mudah naik. Kita jangan ikut panas.”

Boim nyeletuk, “Kalau saya lapar, biasanya sensitif, Pak.”

“Makanya kamu jangan banyak debat sebelum Maghrib,” jawab Pak Budiman ringan.

Ibu Ratna menambahkan, “Ramadhan itu latihan menahan diri. Kalau pemimpinnya sabar, warga ikut tenang.”

Pak Budiman mengangguk.

“Keputusan boleh tegas. Tapi penyampaiannya harus lembut. Itu manajemen rasa.”

---

Evaluasi: Jangan Cari Kambing Hitam

“Terakhir, evaluasi,” kata Pak Budiman.

Boim langsung bercanda, “Kalau ada yang salah, siapa yang disalahkan, Pak?”

Pak Budiman tertawa kecil.

“Bukan cari kambing hitam. Kita cari solusi. Transparansi soal zakat, santunan, semua harus jelas.”

Pak Ruli mengangguk.

“Supaya nggak ada bisik-bisik di belakang.”

“Betul,” jawab Pak Budiman. “Kepercayaan itu dibangun dari keterbukaan.”

Angin sore mulai berembus lembut. Dari masjid terdengar anak-anak mengaji.

Pak Budiman berdiri pelan.

“Ramadhan ini seperti dapur besar desa kita. Kalau kita atur dengan baik dan tabur gula secukupnya, suasana jadi manis.”

Boim menatap kolak di depannya.

“Pak, berarti desa kita harus manis… tapi jangan sampai diabetes.”

Semua tertawa terbahak.

Ibu Ratna menutup pembicaraan, “Yang penting manisnya di hati, bukan cuma di kolak.”

Pak Budiman tersenyum hangat.

“Ramadhan adalah sekolahnya. Manajemen adalah caranya. Tabur gula adalah ruhnya.”

Tak lama kemudian, adzan Maghrib berkumandang.

Mereka pun berbuka bersama—bukan hanya dengan kolak yang manis, tetapi dengan semangat kebersamaan yang terasa lebih manis lagi.

Wallohu a'lam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar