Melabuhkan Cinta pada Allah

 

ketakketikmustopa.com, Sepuluh malam terakhir Ramadhan membuat masjid kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu tetap menyala hingga menjelang subuh. Para mahasiswa beritikaf, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa dengan penuh harap. Suasana hening itu dipenuhi dengan bisikan ayat-ayat suci yang dilantunkan dengan lirih.

Di salah satu sudut masjid, dekat jendela yang terbuka, Aisyah duduk bersila dengan mushaf di pangkuannya. Wajahnya tenang, tetapi di dalam hatinya sedang terjadi perjalanan panjang yang tidak semua orang mengetahuinya.

Dulu Aisyah dikenal sebagai mahasiswi yang sering menjuarai Musabaqah Tilawatil Qur’an. Suaranya merdu dan bacaan tajwidnya hampir sempurna. Namun seiring waktu, kesibukan kuliah, organisasi, dan berbagai urusan dunia sempat membuatnya jauh dari mushaf yang dulu selalu menemaninya.

Ramadhan tahun ini seperti panggilan yang lembut bagi hatinya. Ia kembali datang ke masjid setiap malam, membuka mushafnya perlahan, dan membaca ayat demi ayat dengan hati yang lebih tenang. Ia tidak lagi membaca dengan tergesa-gesa, tetapi mencoba memahami setiap makna yang disampaikan oleh firman Allah.

Ketika ia sedang membaca dengan khusyuk, seseorang duduk beberapa langkah darinya.

“Aisyah.”

Aisyah menoleh dan tersenyum.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Fahri.

Fahri adalah mahasiswa yang dikenal aktif dalam kegiatan dakwah kampus. Hidupnya sederhana, tetapi kecintaannya kepada Al-Qur’an begitu besar. Hampir setiap malam ia berada di masjid, membaca dan merenungi ayat-ayat Allah.

Fahri melihat mushaf yang terbuka di tangan Aisyah.

“Kamu sekarang sering di masjid,” katanya dengan nada lembut.

Aisyah tersenyum.

“Aku sedang belajar pulang.”

Fahri sedikit heran. “Pulang ke mana?”

Aisyah menatap mushafnya sejenak sebelum menjawab.

“Pulang kepada Allah.”

Angin malam masuk melalui jendela masjid. Suasana terasa damai, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.

Beberapa menit mereka membaca Al-Qur’an dalam diam. Suara halaman mushaf yang dibalik terdengar sangat pelan di tengah kesunyian malam.

Kemudian Fahri berkata, “Aisyah, aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa?”

Fahri menatap lantai masjid sejenak sebelum melanjutkan.

“Saat pertama kali melihatmu kembali membaca Al-Qur’an di masjid beberapa minggu lalu, aku tahu kamu sedang berjuang dengan hatimu.”

Aisyah tersenyum kecil.

“Mungkin terlihat jelas ya.”

Fahri tertawa pelan.

“Sedikit. Tapi aku juga melihat sesuatu yang lain.”

“Apa itu?”

“Kecintaanmu kepada Allah sebenarnya sangat besar. Hanya saja sempat tertutup oleh kesibukan dunia.”

Aisyah menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku hampir kehilangan arah waktu itu,” katanya lirih.

Fahri menggeleng perlahan.

“Tidak. Orang yang masih mencari Allah berarti belum benar-benar jauh dari-Nya.”

Kata-kata itu membuat hati Aisyah terasa hangat.

Malam semakin larut. Sebagian mahasiswa yang beritikaf mulai tertidur di sudut-sudut masjid. Namun Aisyah dan Fahri masih duduk dengan mushaf di tangan mereka.

“Aisyah,” kata Fahri perlahan.

“Iya?”

“Aku tidak tahu bagaimana masa depan kita. Aku juga tidak tahu rencana Allah untuk hidup kita.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi aku tahu satu hal.”

Aisyah menatapnya dengan penuh perhatian.

“Aku ingin hidup dengan seseorang yang sama-sama melabuhkan cintanya kepada Allah.”

Aisyah terdiam. Kata-kata itu terasa sangat tulus.

Ia kemudian berkata dengan suara lembut, “Aku juga sedang belajar melakukan itu.”

“Melabuhkan cinta kepada Allah?”

Aisyah mengangguk.

“Karena aku sadar, ketika hati kita benar-benar mencintai Allah, semua yang lain akan menemukan tempatnya.”

Pada saat itu Ustadz Rahman, imam masjid kampus yang dikenal bijaksana, berjalan melewati mereka. Ia melihat keduanya masih membaca mushaf.

Beliau tersenyum lembut.

“MasyaAllah. Malam-malam terakhir Ramadhan memang sering menjadi waktu bagi hati untuk kembali kepada Allah.”

Fahri dan Aisyah menunduk hormat.

Ustadz Rahman melanjutkan, “Jika seseorang melabuhkan cintanya kepada Allah, maka Allah akan menenangkan hatinya. Dan jika dua orang bertemu dalam perjalanan menuju Allah, itu adalah karunia yang sangat besar.”

Kata-kata itu membuat suasana semakin hening dan penuh makna.

Menjelang waktu tahajud, Aisyah menutup mushafnya perlahan.

“Aku bersyukur,” katanya.

“Kenapa?” tanya Fahri.

“Karena Ramadhan tahun ini Allah mengajarkanku sesuatu yang sangat berharga.”

“Apa itu?”

Aisyah tersenyum.

“Bahwa cinta yang paling indah bukanlah cinta kepada manusia, tetapi cinta kepada Allah. Dari situlah semua cinta yang lain akan menemukan arah.”

Fahri mengangguk pelan.

Angin malam Ramadhan berhembus lembut melalui jendela masjid.

Di tempat yang sunyi itu, dua hati sedang belajar melabuhkan cintanya pada satu tujuan yang sama.

Bukan pada dunia. Bukan pada manusia.

Tetapi pada Allah Yang Maha Mencintai hamba-Nya.

2 komentar:

  1. Pulang dari masjid, pas buka halaman ini yang selalu saya tunggu, Subhanallah.., luar biasa, kisah yang sangat menyentuh..., Allah Maha Mencitai hamba-Nya.

    BalasHapus